Mengenal Tuhan sebagai pengalaman yang paling tinggi tingkatannya dan merupakan masalah yang pa– ling penting yang seharusnya setiap orang melakukan daya upaya dan mengerahkan segenap tenaga guna memperoleh keutamaannya karena pengalaman itu adalah ilmu yang haqq (benar) dan sebagai sumber se– gala pengetahuan yang ada. Persoalannya menjadi sulit untuk dibahas dan diimplementasikan dalam praktik kehidupan sehari-hari karena tidak kasat penginde– raan; dan kadang-kadang menyimpang dari ukuran logika normatif. Hanya Tuhanlah realitas tertinggi yang harus dikenal lebih dahulu sebelum yang lain tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Hal ini menjadi wajar karena realitas tertinggi tidak punya oposisi, se– perti sesuatu yang dikenal melalui lawannya. Penge–
nalan melalui perbandingan seperti: siang karena adanya malam memang akrab bagi kebanyakan orang. Tuhan sebagai realitas tertinggi adalah dzat yang ter– lalu jelas tetapi menyulitkan bagi yang ingin mengenal dan menyapa-Nya. Tuhan mengetahui yang ghaib dan yang nyata dan tidak seorangpun yang dapat menge– nalnya kecuali orang yang dikehendaki-Nya. Orang yang dikehendaki-Nya mendapatkan limpahan cahaya ilmu-Nya sehingga ia bisa mengetahui segalanya ter– masuk sesuatu yang berada di bawahnya.
Pengalaman spiritual adalah abstrak dan bersifat pribadi, yaitu pengalaman yang dicapai tidak disertai penyaksian orang lain atau orang lain tidak dapat disertakan di dalamnya. Kejelasan pengalaman yang diterimakan kepada seseorang sebanding dengan ke– bersihan hatinya. Orang yang mengalaminya me– mungkinkan ia mengambil inferensi objektif darinya. Pada keadaan tertentu pengalaman itu tidak mem– punyai batas logis yang bisa menghubung-hubungkan dengan sesuatu yang biasanya dihubungkan orang, impulsif, tak terkendalikan bertindak berdasarkan im– pul, kadang-kadang meracau (melantur), berprilaku aneh atau ganjil, kehilangan kemampuan menikmati hubungan sosial dan biasanya dibarengi dengan meng– hindari orang lain untuk jangka waktu tertentu.35
35 Karen Amstrong, Sejarah Tuhan, penterj.: Zainul Am, (Bandung: Mizan, 2002),hlm. 245.
Dimensi Spritual Pengembangan Kepribadian
Sesuatu yang dialami dan diketahui secara eksternal melaui aspek fisik dan psikid tidak akan dialami dalam pengalaman spiritual. Barangkali jasad seseorang ter– kekang dan terkungkung dalam dunia tetapi aspek spiritual dapat berziarah dan melanglang ke tempat yang tinggi dan mendapatkan informasi spiritual se– hingga kaya pengalaman dan pengetahuan memper– kaya kepribadiannya.
Pengalaman spiritual yang kuat dapat memba– ngun hubungan dengan alam supranatural tanpa putus hubungan dengan alam material; dan kecepatan men– capai derajat ini sebanding dengan upaya yang dilaku– kan dan karunia-Nya yang dilimpahkan. Seseorang yang memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari berbagai aspek kepribadiannya adalah orang sempurna pengalaman dan pengetahuannya; sehingga ia dapat mengkombinasikan pengalaman intuitif dan pengeta– huan diskursif; bahkan setiap produk-produk berbagai pengetahuan dan pengalamannya dapat diberi inspi– rasi spiritual yang betul-betul dapat membimbingnya untuk menolak dan melawan putusan-putusan dan penyimpulan yang palsu dan atau tidak benar.
Dengan analisis seperti di atas maka menjadi benar bahwa ilmu pengetahuan yang legitimate adalah ilmu pengetahuan yang menghubungkan aspek lahiri– yah dengan aspek batiniyah. Ilmu pengetahuan yang hakiki merupakan esensi dan pusat yang menghu– bungkannya dengan wujud murni. Pandangan ini me–
ngandung makna bahwa telaah terhadap alam tidak semata telaah terhadap fenomena tetapi pada dasarnya telaah terhadap fenomena dalam hubungannya dengan esensinya. Oleh karena itu, perolehan ilmu pengeta– huan tidak hanya bergantung pada kecermatan aspek penginderaan dan kecerdasan penalaran ketika men-cermati atau mengamati aspek luarnya tetapi diper-lukan pencerahan secara intuitif untuk mengenal esensinya dalam hubungannya dengan asal usulnya. Pengalaman dan pengetahuan yang diturunkan dari -Nya mendapatkan makna dan validitasnya dalam si– naran cahaya Ilahi yang terletak di atas ranah peng-inderaan dan penalaran.Secara ringkas bahwa seorang yang mempunyai pengalaman spiritual lebih memung– kinkan untuk memahami kesalingterkaitan antara domein kehidupan masa kini dan di sini dan mencari makna yang ada di dalamnya dengan kehidupan di masa depan (akhirat).
Seseorang yang melihat sesuatu melalui esensinya maka ia dapat mengetahui pula sesuatu yang dapat diindera dan dinalar dari simbol-simbol tembus pan– dang dari dunia spiritual, seperti yang terjadi pada para nabi yang dapat mengetahui hakikat sesuatu tanpa usaha dan jerih payah tetapi melalui muka>syafah yang sangat singkat. Ada orang yang mampu menge– tahui realitas spiritual dalam keadaan tidur seperti orang mengamati realitas empirik dalam keadaan jaga; dan ada orang yang dapat mengamatinya dalam keadaan jaga sebagaimana orang lain mengamatinya
Dimensi Spritual Pengembangan Kepribadian
dalam keadaan tidur. Orang yang terbuka pintu alam ghaib (muka>syafah) ia mendapatkan segala sesuatu yang
bersifat spiritual sebagai cetak biru segala yang ada dalam alam material.
Dengan pengetahuan dan pengalaman spiritual memungkinkan seseorang mengenal segala realitas dan pengalaman yang dimilikinya menunjukkan kualitas kepribadiannya tentang pemahamannya terhadap di-rinya dan luar didi-rinya yang tak dapat dipisahkan dari keseluruhan karakter, sikap dan perbuatannya. Kua-litas seperti itu memberikan gradasi tertentu sesuai dengan tingkat yang dicapainya di hadapan manusia dan penciptanya.
Pengetahuan yang bersifat empirik sensual mau– pun penalaran walaupun dapat menunjukkan jalan pada level tertentu tetapi pada tahap selanjutnya atau pada tahap yang lebih tinggi -ketika aspek spiritual terlepas dari ketergantungan terhadap aspek material- ia dituntun oleh pengalaman spiritualnya sendiri. Pada beberapa kasus tertentu seringkali antara nalar dan pengalaman spiritual dianggap kontradikif36 walaupun
36 Kadang-kadang pengalaman spiritual tidak dapat dinalar secara baik sebagai akibat posisi dan kualitasnya mengatasi pengalaman empirik sensual dan pengetahuan rasional, seperti seseorang kehilangan orientasi hidup yang normal dalam beberapa saat. Bahkkan Abu> H}ami>d Muh}ammad bin Muh}ammad al Ghaza>li>, memberikan i tibar
seandainya ada seseorang mampu merubah batu menjadi emas dan tongkat menjadi ular, keyakinan terhadap pengalaman spiritual tidak bergiming sedikitpun dari tempatnya. Seperti keyakinan terhadap pengetahuan bahwa sepuluh lebih besar dari tiga. Seandainya ada
hanya terjadi pada permukaan dan permulaannya saja; dan pada fase berikutnya aspek penalaran yang telah mendapatkan siraman petunjuk dan pengaruh dari aspek spiritual dapat menerima semua yang diperoleh apek spiritualnya. Seperti pengetahuan korespondensi mengacu pada adanya keidentikan bentuk dan kemiri– pan isi -unifikasi bentuk formal internal yang bersifat psikis dengan sesuatu yang bersifat eksternal material- tetapi ketika pengetahuan ini dihubungkan dengan objekkesatuan mutlak atau objek ghaib lainnya maka gambarannya menyerupai logika pemahaman transen-dental murni tentang sesuatu objek nalar. Dalam realitasnya pengalaman spiritual bukanlah suatu kua– litas penalaran yang menggunakan referensi sebab akibat. Pengalaman spiritual bukanlah fenomena sensual yang tampil dalam pengalaman empirik dan penalaran filosofis namun dapat dijelaskan dan dibahas dalam alur bahasa yang komunikatif, seperti deskripsi pengalaman empirik sensual dan atau refleksi filoso– fis.37 Pengalaman spiritual meliputi pula pengetahuan orang menyatakan bahwa tiga adalah bilangan lebih besar dari sepuluh dengan berdasarkan bukti bahwa ia dapat merubah tongkat menjadi ular sebagai kenyataan yang sesungguhnya, maka pendirian terhadap yang pertama tidaklah harus berubah. Abu> H}ami>d Muh}ammad bin Muh}ammad al Ghaza>li>, al-Munqidz min al-Dlala>l, ....; hlm. 37.
37 Ketuhanan yang tidak terdifirensiasi masuk ke dalam diri seseorang yang spasio temporal ataupun diri yang terserap ke dalam kecemerlangan esensi Ilahiyah. Pencerahan terhadap aspek spiritual secara tidak langsung merupakan pencerahan terhadap aspek yang lain, karena sifat tembus cahaya pencerahan itu. Yang Mahatinggi
Dimensi Spritual Pengembangan Kepribadian
inderawi dan penalaran dalam kualitas dan tahap yang lebih rendah apabila pengalaman itu -setelah diintros– peksi dan diobjektivikasi menjadi pengetahuan yang representasional- termanisfestasi dalam diri subjek.
Seseorang dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman dengan cara belajar, berpikir, dan melalui ilham, seperti dalam mencari hakikat sesuatu dengan jalan berpikir dan dengan jalan musya>hadah. Karena ke– bersihan hatinya seseorang dapat memperoleh ilmu melalui pengalaman dan pengetahuan dari aspek spi– ritualnya; dan karena kecerdasan aspek nalarnya ia memperoleh pengetahuan diskursif; dan dengan keta– jaman inderanya ia memperoleh pengetahuan empirik. Dengan demikian pengetahuan seseorang merupakan akumulasi dari berbagai pengetahuan dan pengalaman dan bahkan yang berserakan dalam berbagai domein– nya dan terekam dari beberapa masa. Kemungkinan bersatunya pengalaman spiritual dengan yang lain sebagai akibat pengetahuan penginderaan dan penala– ran serta pengalaman spiritual -setelah diintrospeksi menjadi pengetahuan yang representasional- bersatu da– lam diri subjek. Bahkan pengetahuan dan pengalaman empirik dan rasionalpun sebenarnya didasarkan kepa– da cahaya dalam kapasitas dan kualitas yang berbeda karena tidak menyandang yang lain selalu bersama seseorang dan ia selalu hadir bersamannya. Seseorang menggapai Yang Mahatinggi dan dialah yang hadir dan selalu berada di hadapan-Nya, maka iapun mengenal-Nya. Mehdi Ha iri Yazdi,Ilmu ...; hlm. 177.
dibandingkan dengan cahaya yang bisa diterima oleh aspek spiritual. Mencapai pengetahuan dan pengala– man yang lebih tinggi adalah lebih mungkin melaui perantaraan pengetahuan dan pengalaman yang terda– hulu karena memperoleh pengetahuan dan penga– laman tertentu memerlukan proses perubahan yang panjang supaya potensi seseorang menjadi matang ketika ia menapaki setiap level pengetahuan dan pe– ngalamannya. Tiap tingkat-tingkat atau tahapan-tahapan yang diperoleh sebagai tahap-tahap belajar adalah sebagai usaha untuk memainkan peran di dalam hubungannya dengan keseluruhan aspek kepri– badian dan kehidupannya guna mencapai seluruh tujuan hidup baik yang bersifat jasmani maupun ruhani. Untuk memulai pendakian spiritual dan men– dapatkan pengalaman di dalamnya seseorang tidak serta merta memasuki arenanya kecuali memetakan pengalaman itu menurut wacana yang dikembangkan secara deskriptif. Rasionalisasi dan konseptualisasinya bahwa pengalaman spiritual dengan cara introspektif masuk dalam kategori pengetahuan fenomenal yang dapat dijadikan sandaran dalam pemahaman dan usaha pendakiannya. Pengalaman spiritual selama ti– dak diintrospeksi dan tidak direnungi ia tetap menjadi pengetahuan dan pengalaman yang tak terkatakan; sedangkan eksternalisasipengalaman itu dalam ben– tuk-bentuk naratif deskriptif menyebabkan terjadinya transformasi pengalaman itu menjadi pengetahuan biasa. Atau penafsiran dan konseptualisasinya secara
Dimensi Spritual Pengembangan Kepribadian
logis menyebabkan ia masuk ke dalam pengetahuan rasional. Ketika menjadi pengetahuan rasional ia bersi– fat dan menjadi pengetahaun seperti pengetahuan na– lar lainnya, yaitu bersifat konseptual dan bisa difahami sehingga bisa dibicarakan dan disampaikan dalam bahasa sehari-hari. Walaupun harus diakui bahwa penyampaiannya pada pihak lain hanyalah dengan analog-analog tertentu sesuai dengan tingkat kemam– puan dan intensitas pengalaman itu. Informasi-infor– masi itu dapat dijadikan rambu-rambu dalam me– nempuh perjalanan spiritual sebagai akibat bahwa argumen-argumen yang dibangun berdasar pengala– man spiritual dapat dikemukakan secara logis sehingga teori-teori yang diangkat darinya banyak yang mirip dengan teori filsafat yang menggunakan analisis logis. Dan harus diakui bahwa kemungkinan analisis secara logis semata hanya menyebabkan pengalaman spiritual tejerumus pada paralogisme yang tidak akan memba– wa pada hasil apa-apa. Perlu kehati-hatian dalam pe– nyampaiannya demi untuk menghindari reduksi mak– na. Penyampaiannya pada pihak lain seyogyanya oleh orang yang merasakannya sendiri; dan komunikasi penyampaian itu lebih mudah tersambung bilamana penerimanya adalah orang pernah mengalaminya.
Sungguhpun pengalaman spiritual menempati level tertinggi dari semua pengalaman namun demi– kian prinsip setiap orang berbeda dalam menatap ke– benaran pengetahuan dan pengalamannya. Sebagian telah merasa cukup pada tataran empirik dan rasional.
Bagi yang puas dengan persepsi demikian ia merasa cukup bilamana pengenalannya (keimanannya) terha– dap Tuhan misalnya; sudah sesuai dengan berita yang diterimanya karena ia lebih mementingkan berita atau konsep dan bukan suatu realitas yang diberitakan. Hal ini sebagai akibat bahwa setiap orang mempunyai ke– bebasan untuk memilih dan memberikan makna terha– dap pengetahuan dan pengalamannya maka setiap keadaan yang menimpanya sangat bergantung pada bagaimana ia menyikapinya. Di pihak lain seseorang tidak berhenti sebatas yang bisa dicapai oleh sekedar berita atau penyaksian oleh penginderaan dan penala– ran tetapi melaju terus sampai mencapai musya>hadah.
Untuk itu diperlukan penglihatan yang melampaui kemampuan inderawi pemahaman nalar. Penalaran itu tidak dapat menangkap hakikat yang sama sekali abs– trak kecuali dengan dzawq yang menyebabkan segala hakikat itu dimengerti tetapi juga dihayati, dirasakan keberadaannya. Kedalaman pengenalan tentang Tuhan hanya bila dilihat dan diketahui melalui spirit ketuha– nan. Walaupun Tuhan berada di luar jangkauan pe– ngetahuan penginderaan dan penalarannya namun Tuhan dapat memanifestasikan melalui pengenalan terhadap makhluknya.
Kemampuan aspek spiritual harus dikembangkan sedemikian rupa agar aspek ini tidak hanya menjadi kendaraan aspek jasmani untuk keperluan pemuasan kepentingan-kepentingan yang bersifat fisikal. Dalam pengembangan kesadaran spiritual pemetaan semua
Dimensi Spritual Pengembangan Kepribadian
pengetahuan dan pengalaman seseorang diperlukan untuk mengidentifikasikan dan menentukan bagian-bagiannya yang perlu direkomendasikan untuk me– nahapi setiap etape yang dialaminya dalam perjalanan spiritualnya agar aspek fisikal tidak menjadi hambatan bagi kemampuan penglihatan spiritual (bashirah).
I. Pengembangan Wawasan Empirik dan
Rasional
1. Wawasan Empirik
Sungguhpun alam material dan spiritual itu terpi– sah; dan pengetahuan serta pengalaman seseorang dari kedua alam itu berbeda namun dapat ditarik hubungan apabila memang diperlukan. Pertimba– ngan kepalsuan dan kebenaran informasi yang di-dapat dari penginderaan di-dapat ditangguhkan sampai datangnya bukti-bukti pengalaman dan pengetahuan yang langsung diterimanya dari level yang lebih tinggi yang bersifat nalar dan spiritual. Pengalalaman melalui penginderaan beserta pe– rangkat-perangkatnya semata tidak mampu meng– antarkan pengenalan terhadap Tuhan; dan apabila seseorang mampu mengenali ketidakmampuan itu seharusnya ia berpindah ke jalur yang lain yang sesuai dengan kondisi yang diperlukan. Dengan visi spiritual yang tajam menyebabkan seseorang mampu mengidentifikasi objek-objek material, na–
lar, dan spiritual karena memang ada isyarat-isyarat spiritual yang berhubungan dengan alam material dan nalar.
Komunikasi di alam spiritual penuh dengan lam– bang atau simbol yang berbeda dengan simbol bahasa yang biasa dipergunakan seseorang dalam komunikasinya dengan sesamanya. Lambang itu adalah tahapan yang lebih dasar dari seluruh pengalaman spiritual. Hanya ungkapan yang berupa simbol tidak selalu memberikan makna yang jelas. Maka perlu didiskusikan lebih jauh dan lebih detail dengan berbagai pihak supaya mem– berikan kejernihan makna dan tidak salah tafsir. Asumsi yang mendasarinya bahwa suatu simbol berarti mewakili sesuatu yang tidak hadir: dan pemaknaannya sangat bergantung dari pengala– man-pengalaman yang pernah datang sebelumnya; dalam arti pengalamannya sendirilah yang me– nuntun terhadap pemahaman dan pemaknaan se– suatu yang datang dari suatu visi spiritual itu. Walaupun kadang-kadang juga pemaknaannya didasarkan dari suatu kreativitas baru dalam mengapresiasi yang datang kepadanya.
Masing-masing simbol yang didapat dalam perja– lanan sipritual mempunyai implikasi yang berbeda terhadap kepribadian seseorang. Ada simbol yang perlu dihindari perjumpaannya –ditolak sebagai pengalaman sipritual yang benar- karena dianggap
Dimensi Spritual Pengembangan Kepribadian
hanya sebagai penghalang perjalanan selanjutnya. Dan pengalaman sipritual yang lain menunjukkan kelurusan jalan yang diperolehnya karena terbukti telah membawa peningkatan perasaan takwa. De-ngan demikian gambaran religius -seperti penga– laman spiritual- menjadi benar karena ternyata memainkan peranan yang berguna dalam penga– laman empirik seseorang.
Kekuatan suatu simbol dari pengalaman spiritual mampu menghubungkan realitas yang penuh mis– teri dengan kesadaran eksistensial seseorang. Ka– dang-kadang pengalaman itu berkorelasi dengan pengalaman empirik serta validitasnya ditunjuk– kan oleh kebenaran empirik sehingga dapat me– ningkatkan kemantapan keyakinan terhadap kebe– naran pengalamannya. Ketika seseorang dapat tenggelam dalam kesadaran spiritual -kalau Tuhan menghendaki- ia bisa mendapatkan petunjuk ten– tang sisi eksternal dan internal setiap persoalan yang sedang dihadapi. Adalah suatu kewajaran bila seseorang harus melakukan pertimbangan ter– tentu melalui visi spiritualnya agar permasalahan yang dihadapinya dapat dilihat dari berbagai aspek (empirik, nalar, dan spiritual). Dengan de– mikian pengalaman spiritual dapat menguatkan – atau sebaliknya- pengalaman dan pengetahuan dari suatu aspek tertentu sehingga dapat menam– bah validitas pengetahuan dan pengalaman yang didapat dari aspek lainnya. Suatu masalah yang
didekati dari berbagai aspek lebih mungkin dipe– cahkan secara simultan dan konprehensif.
2. Wawasan Nalar
Berpikir adalah kegiatan mental untuk menghasil– kan keputusan dan pengetahuan. Kegiatan berpi– kir dapat terarah kepada bidang eksternal –objek empirik- dan berpikir internal yang diarahkan ke– pada pikiran itu sendiri disamping kepada objek esoterik dengan kontemplasi dan meditasi. Berpi– kir adalah sarana untuk mendapatkan salah satu atau beberapa pengetahuan dan pengalaman yang berasal dari luar dan atau dari dalam dirinya. Karena itu latihan berpikir menjadi salah satu kegiatan untuk tujuan eksternal maupun internal dalam bentuk pendidikan logika, matematika sam– pai latihan kontemplasi maupun meditasi. Berpikir secara eksternal kebenarannya dituntun oleh kese– suaian antara isi pikiran dan objek yang dipikir– kan; hasilnya adalah pengetahuan dan ilmu serta teori-teori yang berlaku umum; baik melalui pena– laran deduktif maupun induktif. Sedangkan secara internal kebenarannya dituntun oleh pemahaman secara logis terhadap proses dan hasil pemikiran. Persoalan yang melampaui nalar seharusnya di– selesaikan dengan cara lain. Ini bukan berarti ke– mampuan nalar tidak diperlukan melainkan seba– gai upaya untuk menempuh berbagai cara dan
ja-Dimensi Spritual Pengembangan Kepribadian
lan untuk mendapatkan pemecahan masalah. Ke– tika sesuatu dikonsultasikan dan dikonfimasikan dengan visi spiritual maka terdapat dimensi baru terhadap pemecahan suatu masalah yang sedang dihadapi seseorang. Ketika pemecahan suatu per– soalan itu mengalami deadlock (buntu) dan tak da– pat dipecahkan secara rasional seharusnya sese-orang menyerah kepada keadaan; dan menyelami dirinya yang paling dalam guna mendapat petun– juk secara spiritual dengan mengakui ketidak– mampuan penginderaan empirik dan nalarnya. Banyak persoalan agama yang dipandang secara kontradiktif38 sulit dipecahkan secara nalar tetapi pemecahannya dapat dilakukan langsung melalui pengalaman spiritual. Oleh karena itu seharusnya setiap orang mau menerima konsekwensi apapun yang terjadi pada dirinya menurut penyelesaian secara spiritual. Validitas kebenarannya bukan di– tunjukkan oleh kecanggihan argumentasi melain– kan pembuktian secara spiritual.
Illustrasi di bawah ini dapat dijadikan i tibar bahwa di satu pihak seseorang beranggapan Tu–
38 Masalah qadla> dan qadar (ketentuan dan penetapan Tuhan terhadap makhluknya)- hanya sekedar hipotesis belaka dengan mencoba memacu kekuatan nalar dan memecahkannya secara rasional. Per–
soalan seperti tersebut di atas tidak pernah selesai selama dalam basik analisisnya dalam mencari alternatif pemecahannya berdasar pada spekulasi filosofis. Akibatnya dapat diduga bahwa pemecahanya menjadi gamang seperti orang yang tidak mempunyai sayap untuk terbang akibatnya membahayakan.
han sangat berkuasa terhadap segala sesuatu sehingga seseorang hanya merupakan banyangan yang harus mengikuti kehendak-Nya. Orang yang beranggapan demikian menyebabkan manusia ti– dak dapat dimintai petanggunganjawaban terha– dap perbuatan apapun yang dilakukannya. Di lain pihak ada anggapan bahwa seseorang mempunyai kehendak yang ikut menentukan nasibnya dengan konsekwensi bahwa orang yang berbuat baik men– dapatkan pahala; sebaliknya yang berbuat jahat akan mendapatkan siksa. Dengan cara pikir yang demikian berarti kehendak dan kebebasan Tuhan dibatasi oleh perbuatan seseorang; dan Tuhan tidak bisa berbuat sekehendaknya menurut kuasa mutlaknya. Hanya seseorang kadang-kadang me– nuntut kedudukan agar semua akibat diperhitung– kan menurut sebabnya. Pilihan rasionalitas mana– pun dari pemecahan masalah ini selalu berakhir dengan ketidakrasionalan (irrasional) karena pe– ngenalan kepada Tuhan dan sifat-sifat-Nya pada dasarnya bukan atas dasar asumsi-asumsi rasional melainkan sejauhmana seseorang dapat mendekati dan mengenalnya dengan penglihatan batin. Pen– dekatan dan pengenalan itu tidak bertumpu pada rasionalitas bahkan terjadi ketika leyapnya rasio– nalitas dari pikiran seseorang. Ketika seseorang merasa lenyap maka semuanya dalam kendali Tu– han sebagai akibat tidak berfungsinya semua instrumen-instrumen lahir. Hanya Tuhan yang ada
Dimensi Spritual Pengembangan Kepribadian
dan menguasai segalanya. Sedangkan instrumen-instrumen sebagaimana disebutkan hanya ber– fungsi ketika seseorang belum atau masih jauh dari pengenalan kepada-Nya. Seseorang tidak akan pernah tahu dan mengerti tentang kekuasan mut– lak-Nya tanpa menyelami inti persoalannya secara spiritual. Ketika seseorang berada dalam keadaan lenyap ia benar-benar tajabbur ( رف ست /berada dalam keadaan terpaksa) dalam kehendak-Nya; dan ha– nya ketika ia dalam keadaan kesadaran biasanya ia memikirkan kehendak dirinya dan kehendak-Nya.