• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 KERANGKA KONSEPTUAL

2.2 Energi Baru Terbarukan (EBT)

12

Ketahanan energi merupakan salah satu faktor penting ketahanan nasional sehingga wajar jika Lembaga Ketahanan Nasional (atau Lemhannas) memberikan sinyal kepada pemerintah bahwa cadangan bahan bakar minyak Indonesia yang rata-rata hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri selama 20 hari saja rawan akan ketahanan energi. Angka tersebut jauh di bawah cadangan minyak Singapura yang mencapai 120 hari dan Jepang 107 hari. Padahal kita tahu kedua negara maju itu tidak memiliki deposit minyak bumi. Mengapa ketahanan energi sebuah negara yang memiliki deposit minyak bumi bisa lebih rentan daripada negara-negara konsumen? Beberapa faktor dapat menjadi penyebabnya.

Indonesia dianggap sebagai negara yang boros energi. Menurut para pakar ekonomi energi jika Indonesia bisa memakai energi yang lebih murah sebagai pengganti BBM maka dapat dihemat minimal Rp.100 triliun rupiah. Sepuluh tahun yang lalu, BBM untuk transportasi 37,2 miliar liter, rumah tangga 4,7 miliar liter, industri 9,8 miliar liter, listrik 8,9 miliar liter, dan peruntukan TNI sebesar 0,5 miliar liter. Jika kita bisa mengganti 80% transportasi dengan Bahan Bakar Gas (BBG), maka akan dapat dihemat sekitar 2.500 per liter atau setara dengan Rp.74,4 triliun dan jika kita bisa mengganti bahan bakar kompor dengan LPG akan dapat dihemat sekitar 2.500 per liter atau Rp.11,8 triliun. Suatu angka yang fantastik namun sebenarnya akan nyata jika kita benar-benar melakukan gerakan hemat energi.

Berbagai gejala kelangkaan energi yang pernah kita alami dan masih terasa saat ini seperti antrean membeli BBM di SPBU di beberapa wilayah Indonesia dan seringnya pemadaman listrik merupakan indikator bahwa telah terjadi krisis pasokan energi secara tajam. Oleh sebab itu, pengelolaan energi perlu dilakukan misalnya melalui upaya penghematan. Merujuk Geller (2006) bahwa keberhasilan banyak negara maju dalam kebijakan penghematan energi ditentukan oleh keberhasilan mereka dalam melakukan penghematan energi pada sistem infrastruktur energi dan sistem pengawasannya.

Indonesia patut mencontoh keberhasilan ini dengan segera membuat Standard Operational Procedure (SOP) hemat energi bagi bangunan komersial, industri, dan perumahan.

Indonesia belum bersungguh-sungguh mengembangkan EBT adalah faktor yang menyebabkan kerentanan ketahanan energi nasional. Padahal negara kita kaya akan

13

sumber-sumber EBT namun sayangnya selama ini pengembangan EBT terkesan sporadik dan tergantung kepada kepentingan politik sesaat. Manajemen yang buruk dan KKN juga turut memperparah pengembangan EBT di Indonesia. Kompleksitas beberapa faktor ini pada akhirnya mempengaruhi kondisi ketahanan energi di Indonesia. Perlu upaya sungguh-sungguh dan sistematis untuk memperbaiki keadaan ini. Langkah-langkah pembenahan harus segera dimulai, misalnya dengan:

1. Menata ulang sistem pengelolaan ladang minyak nasional dengan meninjau kembali undang-undang dan kontrak-kontrak pengelolaan ladang-ladang minyak kita jika dirasa tidak menguntungkan Indonesia. Kalau perlu, ijin pengelolaan ladang minyak di tangan kontraktor asing tidak diperpanjang lagi setelah masa kontrak mereka habis.

2. Meningkatkan penguasaan IPTEK yang bertumpu kepada ketersediaan SDA dan SDM karena IPTEK adalah kunci keberhasilan penguatan ketahanan energi. Melalui teknologi nilai tambah setiap produk energi dapat ditingkatkan, memberi prioritas kepada teknologi energi yang urgen, memperbaiki iklim investasi yang kondusif dan meningkatkan kapabilitas dalam teknologi, infrastruktur, riset, SDM dan permodalan.

3. Meningkatkan komitmen mengembangkan EBT yang ramah lingkungan sebagai pengganti bahan bakar fosil karena ke depan cadangan energi fosil semakin berkurang.

Kebijakan energi Indonesia ke depan tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) menggantikan Peraturan Presiden Nomor 05 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional. Kebijakan pengelolaan energi didasarkan pada prinsip keadilan, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan guna terciptanya kemandirian energi dan ketahanan energi nasional. KEN disusun sebagai pedoman untuk memberi arah pengelolaan energi nasional guna mewujudkan kemandirian energi dan ketahanan energi nasional untuk mendukung pembangunan nasional berkelanjutan. Beberapa arah kebijakan terkait energi adalah sebagai berikut:

14

1. Mengubah paradigma energi yang semula sebagai komoditi menjadi modal pembangunan,

2. Memprioritaskan penggunaan energi baru terbarukan serta meminimalkan penggunaan minyak bumi dengan mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi dan mengandalkan batu bara sebagai pasokan energi nasional,

3. Mengurangi ekspor energi fosil secara bertahap terutama gas dan batu bara, dan menetapkan batas waktu untuk memulai menghentikan ekspor,

4. Mengurangi subsidi BBM dan listrik secara bertahap sampai dengan kemampuan daya beli masyarakat tercapai serta mengalihkan subsidi untuk energi terbarukan, 5. Mewajibkan Pemerintah untuk menyediakan Cadangan Penyangga Energi (CPE) dan cadangan strategis energi, di samping memastikan ketersediaan cadangan operasional oleh badan usaha.

Kebijakan atas ketahanan energi memproyeksikan penyediaan energi primer mencapai 400 million tonnes of oil equivalent (Mtoe) pada tahun 2025, 480 Mtoe tahun 2030, dan 1.000 Mtoe pada tahun 2050. Pelbagai kebijakan yang ada saat ini diarahkan untuk mendorong pengurangan penggunaan minyak dengan cara meningkatkan produksi batu bara dan energi baru terbarukan (EBT), sedangkan produksi gas alam diharapkan akan meningkat menjadi 88 Mtoe tahun 2025 dan pada tahun 2050 diharapkan bisa dihasilkan 240 Mtoe. Pada tahun 2025 dan 2030 batu bara diproyeksikan menjadi sumber energi utama dengan share 30% tetapi kemudian ketergantungan energi fosil akan dikurangi, sebagai gantinya pada tahun 2050 energi baru terbarukan diharapkan menjadi sumber energi utama dengan porsi mencapai 31%.

Target bauran energi merupakan sasaran penyediaan dan pemanfaatan energi primer serta sebagai arah pengelolaan energi nasional. Langkah-langkah pencapaian target bauran KEN akan dijabarkan dalam Rencana Umum Energi Nasional yang kini sedang disiapkan oleh Pemerintah. Bauran energi atau TPES (Total Primary Energy Supply) merupakan komposisi per jenis energi primer (energi fosil dan non-fosil) yang dikonsumsi dalam suatu negara yang dapat merepresentasikan tingkat sustainabilitas energi. Dengan penggunaan energi fosil yang mendominasi bauran energi, yang notabenenya mengalami deklinasi dan tidak terbarukan, maka tingkat keberlanjutan energi dalam jangka panjang

15

akan semakin rendah. Lain halnya apabila porsi EBT yang semakin meningkat, selain mencerminkan sustainabilitas energi yang lebih bagus juga faktor kepedulian lingkungan yang semakin baik.

Sesuai target dalam Kebijakan Energi Nasional bahwa arah pengelolaan energi ke depan dengan meningkatkan EBT sekaligus mengurangi porsi minyak bumi. Diharapkan setidaknya pada tahun 2025 tercapai bauran energi dengan porsi EBT minimal 23%, dan penggunaan minyak bumi maksimal 25%. Minyak mendominasi suplai energi primer di Indonesia, tetapi persentasenya terus mengalami penurunan. Tahun 2012 porsi minyak bumi masih 46,4%, batu bara 30,9%, gas 20,2% dan EBT 4,04%, sedangkan tahun 2013 porsi minyak bumi 46,1%, batu bara 30,9%, gas 18,3% dan EBT 4,76% (di luar tradisional biomass) dalam energi mix. Tahun 2013 energi final paling besar dikonsumsi oleh industri 42,12%, kemudian transportasi 38,80%, rumah tangga 11,56%, komersial 4,25% dan lainnya 3,26%.

Konsumsi energi meningkat setiap tahun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk.

Masih minimnya pengembangan EBT karena faktor utama masih mahalnya biaya investasi energi tersebut sehingga biaya penyediaannya dan harga penjualan yang relatif lebih tinggi jika dibandingkan energi fosil (BBM). Beberapa potensi EBT yang cukup besar dan dikembangkan secara masif antara lain panas bumi dan BBN (bahan bakar nabati).

Namun biaya ekplorasi panas bumi yang cukup tinggi menyebabkan pengembangan panas bumi tersendat, di samping mengalami permasalahan tumpang tindih lahan dengan kawasan hutan. Sedangkan untuk BBN, dengan tren turunnya harga minyak mentah dan gas bumi global menyebabkan pengembangan BBN menjadi lebih sulit bersaing sehingga memerlukan campur tangan pemerintah terkait dengan pengaturan harga BBN dan pengembangan investasi sumber energi tersebut.

Penemuan cadangan terbukti dipengaruhi oleh kegiatan pengeboran, baik pengeboran eksplorasi, deliniasi dan pengeboran produksi. Pengeboran eksplorasi bertujuan untuk mengetahui keberadaan minyak/gas pada suatu cekungan. Pengeboran deliniasi berfungsi untuk mencari batas-batas reservoir, memastikan besaran cadangan dan sebagai acuan menentukan titik pengeboran produksi. Pengeboran produksi berfungsi untuk membuat sumur produksi sebagai tempat lewat minyak/gas menuju permukaan.

Pada tahun 2016 success ratio pengeboran eksplorasi sebesar 45%, kemudian mengalami penurunan sebesar 10% di tahun 2018 yaitu sebesar 35%.

16

Sementara itu, reserve replacement ratio yang merupakan rasio penambahan penemuan cadangan terbukti minyak/gas bumi dibandingkan dengan produksi pada tahun yang sama mengalami penurunan 5,4% dari tahun 2018 sebesar 52%, sedangkan tahun 2020 sebesar 46,6%. Gas bumi juga mengalami penurunan reserve replacement ratio cukup besar yaitu 36,7%, tahun 2012 sebesar 127%, dan tahun 2013 turun menjadi 90,3%.

Jika dilihat dari penurunan reserve replacement ratio, maka cadangan terbukti Indonesia akan semakin berkurang dalam 2 tahun terakhir. Untuk mempertahankan besar cadangan minimal reserve replacement ratio sebesar 100%, di mana jumlah cadangan baru yang ditemukan sama dengan jumlah minyak/gas bumi yang diproduksikan.

Sedangkan Herfindahl-Hirschman Index (HHI) adalah suatu metode penilaian yang digunakan untuk melihat persaingan di antara sesama kompetitor. Indeks HHI memperhitungkan besaran volume dan jumlah negara/perusahaan yang saling bersaing.

Dalam konteks impor minyak mentah, HHI memberikan penilaian terhadap Indonesia berdasarkan volume impor dari masing-masing negara dan jumlah negara asal impor minyak mentah. Pada tahun 2012, indeks HHI impor minyak mentah Indonesia adalah 0,253 dari 9 negara, sedangkan tahun 2013 indeks HHI semakin baik menjadi 0,232 dari 13 negara. Semakin banyak negara sumber impor minyak mentah dengan besaran volume yang merata akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap negara tertentu.

2.3 Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat

Pada bagian ini turut dijelaskan tugas dan fungsi dari Badan Kesatuan bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Bawat. Merujuk pada statuta, Tugas Kesbangpol Provinsi Jawa Barat adalah: “Menyelenggarakan fungsi penunjang urusan pemerintahan bidang kesatuan bangsa dan politik.” Di mana turunan dari tugas tersebut termaktub dalam fungsinya, yang terdiri dari:

1. Penyusunan program Badan;

2. Perumusan kebijakan teknis dan pembinaan urusan bina ideologi, wawasan kebangsaan, karakter bangsa, politik dalam negeri, ketahanan ekonomi, sosial, budaya, agama, organisasi kemasyarakatan, penanganan konflik, dan kewaspadaan nasional;

17

3. Pelaksanaan fasilitasi dan koordinasi penyelenggaraan urusan bina ideologi, wawasan kebangsaan, karakter bangsa, politik dalam negeri, ketahanan ekonomi, sosial, budaya, agama, organisasi kemasyarakatan, penanganan konflik, dan kewaspadaan nasional;

4. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan kebijakan bidang bina ideologi, wawasan kebangsaan, karakter bangsa, politik dalam negeri, ketahanan ekonomi, sosial, budaya, agama, organisasi kemasyarakatan, penanganan konflik, dan kewaspadaan nasional;

5. Penyelenggaraan kegiatan kesekretariatan;

6. Penyusunan laporan pelaksanaan tugas Badan; dan

7. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan tugas dan fungsi Badan.

Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Barat memiliki tiga bidang, yakni: (i) Bidang Bina Ideologi dan Kewaspadaan Nasional, (ii) Bidang Ketahanan Seni, Budaya, Dan Ekonomi, dan (iii) Bidang Politik Dalam Negeri. Berikut tugas dan fungsi masing-masing bidang.

2.3.1 Bidang Bina Ideologi dan Kewaspadaan Nasional A. Tugas

Bidang Bina Ideologi dan Kewaspadaan Nasional mempunyai tugas melaksanakan pembinaan ideologi, kehidupan beragama, wawasan kebangsaan, dan kewaspadaan nasional untuk meningkatkan nilai indeks ketahanan nasional gatra ideologi.

B. Fungsi

Bidang Bina Ideologi dan Kewaspadaan Nasional mempunyai fungsi:

1. Penyusunan program kerja Bidang Bina Ideologi dan Kewaspadaan Nasional;

2. Penyiapan bahan rumusan kebijakan teknis bidang bina ideologi dan kewaspadaan nasional;

3. Penetapan kebijakan teknis di bidang ideologi negara, kehidupan beragama, kehidupan demokrasi, kearifan lokal, pendidikan karakter bangsa, wawasan kebangsaan, dan kewaspadaan nasional;

18

4. Pelaksanaan dan fasilitasi kegiatan di bidang ideologi negara, kehidupan beragama, kehidupan demokrasi, kearifan lokal, pendidikan karakter bangsa, wawasan kebangsaan, dan kewaspadaan nasional;

5. Pelaksanaan program pembinaan ideologi dan kewaspadaan nasional;

6. Pengawasan/pemantauan penyelenggaraan pemerintahan di bidang ideologi negara, kehidupan beragama, kehidupan demokrasi, kearifan lokal, pendidikan karakter bangsa, wawasan kebangsaan, dan kewaspadaan nasional;

7. Pelaksanaan fasilitasi dan peningkatan kapasitas aparatur kesatuan bangsa dan politik di bidang ideologi negara, kehidupan beragama, kehidupan demokrasi, kearifan lokal, pendidikan karakter bangsa, wawasan kebangsaan, dan kewaspadaan nasional;

8. pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan;

9. pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan program Bidang Bina Ideologi dan Kewaspadaan Nasional; dan

10. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas dan fungsi Badan.

2.3.2 Bidang Ketahanan Seni, Budaya, Dan Ekonomi A. Tugas

Bidang Ketahanan Sosial, Budaya, dan Ekonomi mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan ketahanan sosial, budaya, dan ekonomi untuk meningkatkan nilai indeks ketahanan sosial gatra sosial, budaya, dan ekonomi.

B. Fungsi

Bidang Ketahanan Seni, Budaya, dan Ekonomi mempunyai fungsi:

1. Penyusunan program kerja Bidang Ketahanan Sosial, Budaya, dan Ekonomi;

2. Penyiapan bahan rumusan kebijakan teknis bidang ketahanan sosial, budaya, dan ekonomi;

3. Pelaksanaan kegiatan di bidang ketahanan sosial, budaya, dan ekonomi;

4. Pelaksanaan fasilitasi dan pembinaan lembaga adat bidang kesatuan bangsa;

5. Pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan;

19

6. Pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan program Bidang Ketahanan Sosial, Budaya, dan Ekonomi;

7. Pelaksanaan tugas Iain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas dan fungsi Badan.

2.3.3 Bidang Politik Dalam Negeri A. Tugas

Bidang Politik Dalam Negeri mempunyai tugas melaksanakan pembinaan politik dalam negeri dan organisasi kemasyarakatan untuk meningkatkan nilai indeks ketahanan nasional gatra politik.

B. Fungsi

Bidang Politik Dalam Negeri mempunyai fungsi:

1. Penyusunan program kerja Bidang politik Dalam Negeri;

2. Penyiapan bahan rumusan kebijakan teknis bidang politik dalam negeri;

3. Pelaksanaan koordinasi penetapan kebijakan teknis di bidang politik dalam negeri;

4. Pelaksanaan kegiatan di bidang politik dalam negeri;

5. Pelaksanaan program kerja politik dalam negeri;

6. Pelaksanaan koordinasi dan fasilitasi pembinaan penyelenggaraan pemerintahan di bidang politik dalam negeri;

7. Pembinaan dan pengawasan organisasi kemasyarakatan;

8. Pengawasan/pemantauan penyelenggaraan pemerintahan bidang pendidikan politik;

9. Pelaksanaan fasilitasi dan peningkatan kapasitas aparatur di bidang pendidikan politik;

10. Pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan;

11. Pemantauan, evaluasi, dan penyusunan laporan program Bidang Politik Dalam Negeri; dan

12. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas dan fungsi Badan.

20 Bab 3

METODE PENELITIAN

3.1 Desain dan Fokus Penelitian

Metode penelitian adalah serangkaian cara atau prosedur ilmiah berisikan langkah-langkah atau tahapan yang sistematis untuk menyelidiki suatu permasalahan dengan tujuan mendapatkan informasi untuk menyelesaikan atau sebagai solusi dari permasalahan itu sendiri. Kajian mengenai ketahanan sumber daya alam dan energi di Jawa Barat sendiri bertujuan untuk: (i) Menghasilkan bahan kajian yang dapat digunakan untuk memahami ketahanan sumber daya alam dan energi di Provinsi Jawa Barat pada masa Pandemi Covid-19, (ii) Menghasilkan bahan kajian memberikan informasi mengenai kelemahan dan kekuatan ketahanan sumber daya alam dan energi di Provinsi Jawa Barat pada masa Pandemi Covid-19, dan (iii) Menghasilkan rekomendasi kebijakan dan program terkait ketahanan sumber daya alam dan energi di Provinsi Jawa Barat. Untuk itulah, maka Tim Peneliti perlu melakukan pembangunan desain penelitian agar menghasilkan tujuan penelitian yang diharapkan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods. Menurut Crewell & Clark (2018) menjelaskan bahwa mixed methods dapat menjadi kombinasi terbaik dalam penelitian karena menggabungkan antara metode kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan mixed methods menggunakan teknik pengumpulan data, baik data kualitatif dan data kuantitatif, sehingga hasilnya dapat dikatakan lebih komprehensif. Penggunaan dua data tersebut bukan tanpa alasan, tetapi terkadang rumusan masalah yang diajukan dalam research questions kerap membutuhkan data berperspektif kualitatif dan juga terkadang membutuhkan data kuantitatif (Creswell & Creswell, 2018)). Data kuantitatif diupayakan untuk mendukung argumentasi kualitatif sementara data kualitatif dimanfaatkan untuk menjelaskan argumen data kuantitatif. Oleh karena itu, teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh Tim Peneliti bukan hanya dengan cara wawancara (Focus Gorup Discussions (FGD) dan indepth interview); studi literatur dari berbagai artikel, berita, laporan; dan observasi; tetapi juga memanfaatkan data statistik.

21

Fokus kajian Ketahanan Sosial dan Ketahanan Sumber Daya Alam di Jawa Barat pada isu ketahanan sosial dan ketahanan sumber daya alam. Fokus ini tentu dapat berkembang setelah Tim Peneliti turun ke lapangan.

3.2 Tahapan Penyusunan Data Dasar

Penyusunan Data Dasar dalam Kajian Ketahanan Sumber Daya Alam dan Energi Provinsi Jawa Barat Tahun 2021 disusun ke dalam beberapa tahapan, yakni sebagai berikut:

1) Pertama, Tahap Instrumentasi, berbentuk diskusi internal Tim Peneliti dalam rangka menghasilkan kerangka penelitian, kerangka kerja, hingga desain penelitian yang tepat sekaligus membangun kesepahaman bersama mengenai isu ketahanan sosial dan ketahanan sumber daya alam di Jawa Barat. Pada tahap ini, Tim Peneliti juga menyiapkan pelbagai kebutuhan data dasar yang mesti diperoleh selama penelitian ini berlangsung.

2) Kedua, Pengumpulan Lapangan, meliputi data primer dan data sekunder yang dilakukan melalui teknik wawancara, FGD, studi literatur, observasi, maupun uji statistik untuk mendapatkan gambaran mengenai fenomena ketahanan sumber daya alam dan energi di Jawa Barat yang terjadi pada beberapa tahun ke belakang.

3) Ketiga, Analisis, meliputi pengamatan ulang atas data, reduksi data, hingga pendalaman serta eksplorasi data dari sudut pandang Tim Peneliti. Setelah itu, dilakukan interpretasi atas temuan-temuan yang diperoleh sehingga menghasilkan informasi yang relevan guna memberikan rekomendasi ataupun saran tidak bagi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Barat.

4) Keempat, Tahap Penyusunan Laporan.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang utama adalah dengan teknik wawancara (FGD dan indepth interview), observasi, studi literatur, dan uji statistik. Untuk menjawab rumusan masalah pada penelitian ini, Tim Peneliti menggunakan teknik wawancara untuk menggali seluruh informasi dari informan di mana setiap pernyataan yang disampaikan menjadi data yang Tim Peneliti analisis menjadi sebuah temuan

22

penelitian. Teknik observasi juga memiliki peran yang penting dalam penelitian ini;

kemudian teknik studi literatur, peneliti gunakan untuk memperoleh data yang dapat memperkuat informasi dari informan atau narasumber melalui berbagai literatur seperti sumber berita, artikel, serta buku-buku yang memuat berbagai teori. Secara sederhana penjelasan ketiga adalah sebagai berikut:

1) Wawancara

Teknik pengumpulan data melalui teknik wawancara dalam penelitian kualitatif ini yaitu wawancara bersifat mendalam (in-depth-Interview) maupun terfokus dalam kelompok (Focus Group Discussions) dengan jenis wawancara semi-terstruktur yaitu mengajukan pertanyaan pertanyaan kepada narasumber dengan menyesuaikan keadaan dan ciri unik dari informan itu sendiri. Wawancara serta FGD dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berpedoman dengan kisi-kisi wawancara yang telah dilampirkan, kemudian tanya jawab mengalir begitu saja seperti percakapan sehari-hari.

2) Observasi/Pengamatan

Observasi atau pengamatan merupakan teknik pengumpulan data dengan mengamati secara langsung sasaran atau obyek penelitian dan merekam peristiwa dan perilaku secara wajar dan rinci. Pada penelitian ini, Tim Peneliti menggunakan teknik observasi non-partisipatif karena tidak memungkinkannya dilakukan keterlibatan secara langsung atau partisipasi langsung peneliti terhadap kehidupan orang-orang yang diobservasi sehingga secara terpisah berkedudukan selaku pengamat. Adapun objek yang diamati adalah individu maupun kelompok dalam konteks kajian ketahanan sosial dan ketahanan sumber daya alam.

3) Studi Literatur

Studi Literatur menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam pengumpulan data penelitian mixed methods. Studi literatur menjadi langkah awal atau penelitian terdahulu yang harus dikerjakan dalam mengumpulkan dan mengkaji data-data

23

yang ditemukan guna mengetahui permasalahan yang ada di lapangan. Studi literatur merupakan kegiatan mengumpulkan bahan-bahan tertulis seperti jurnal ilmiah, berita media online, notulensi-notulensi rapat, majalah, hasil penelitian dan sumber-sumber lainnya. Tidak hanya itu, studi literatur juga peneliti gunakan untuk memperkuat data yang diperoleh secara kuantitatif dengan menganalisisnya dengan teori-teori yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya.

Sementara data yang dikumpulkan terdiri dari dua jenis yaitu:

3.3.1 Data Primer

Data Primer disusun dan dikumpulkan melalui Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam kepada expertise yang ahli dalam bidang-bidang isu ketahanan sosial dan ketahanan sumber daya alam untuk memberikan informasi dan data yang data diolah dan dianalisis oleh Tim Peneliti hingga menjadi penemuan di dalam kajian ini. Data yang didapat melalui wawancara serta FGD dapat digunakan dalam mendukung argumentasi peneliti dalam kajian ini. FGD dilakukan secara virtual melalui Zoom.

Sedangkan wawancara mendalam dilakukan secara virtual maupun langsung. Pedoman wawancara serta FGD dibuat ke dalam format diskusi disusul dengan pemaparan serta tanggapan dari masing-masing narasumber terkait dengan isu ketahanan sosial dan ketahanan sumber daya alam.

3.3.2 Data Sekunder

Data sekunder berperan sebagai data pendukung serta basis data penelitian terkait dengan ketahanan sosial dan ketahanan sumber daya alam di Provinsi Jawa Barat yang berguna untuk menjelaskan data lainnya. Data sekunder tersebut meliputi data Badan Pusat Statistik (BPS), penelitian sebelumnya, jurnal-jurnal ilmiah, buku-buku, serta media online lainnya.

3.4 Teknik Analisis Data

Creswell & Crewell (2018) menerangkan bahwa analisis data dalam pendekatan mixed methods dapat dimulai dari menganalisis data kuantitatif menggunakan metode kuantitatif

24

ataupun dimulai dengan menganalisis data kualitatif menggunakan metode kualitatif. Ada beberapa tahap dalam melakukan teknik analisis data:

1) Data Collection (Pengumpulan Data)

Pengumpulan data dilakukan ketika observasi, wawancara, FGD, atau studi literatur atau gabungan dari semuanya. Data yang diperoleh oleh Tim Peneliti didokumentasi dengan menggunakan catatan-catatan dan rekaman ketika melakukan wawancara serta dokumentasi dalam bentuk foto untuk temuan-temuan observasi yang ada di sekitar lingkungan objek penelitian.

2) Data Reduction (Reduksi Data)

Reduksi data berarti merangkum, memilih hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang penting, dicari pola dan temanya. Pada tahap ini, segala bentuk data yang

Reduksi data berarti merangkum, memilih hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang penting, dicari pola dan temanya. Pada tahap ini, segala bentuk data yang

Dokumen terkait