BAB II. LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1. Energi dalam Gizi Kerja
a. Gizi Kerja
WHO (1999) menyatakan bahwa gizi adalah pilar utama dari kesehatan dan kesejahteraan sepanjang siklus kehidupan, sejak janin dalam kandungan sampai usia lanjut. Makanan yang memenuhi syarat gizi merupakan kebutuhan utama untuk pertahanan hidup, pertumbuhan fisik, perkembangan mental, prestasi kerja, kesehatan dan kesejahteraan (Soekirman, 2003).
Istilah gizi kerja berarti gizi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan, ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan serta diharapkan dapat memelihara kemampuan bekerja dan produktivitas kerjanya pada tingkat yang optimal bahkan bila mungkin lebih ditingkatkan (Suma’mur, 2009).
Menurut Tarwaka dkk (2004), gizi kerja adalah pemberian gizi yang diterapkan kepada masyarakat pekerja dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan, efisiensi dan produktifitas kerja setinggi-tingginya. Manfaat yang diharapkan dari pemenuhan gizi kerja adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan ketahanan
commit to user
tubuh serta menyeimbangkan kebutuhan gizi dan energi terhadap tuntutan tugas pekerja.
b. Zat Gizi dalam Menu Makanan
Manusia memerlukan zat gizi yang bersumber dari makanan. Bahan makanan yang diperlukan tubuh mengandung unsur utama seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Fungsi dari zat-zat gizi tersebut adalah sebagai sumber tenaga atau energi (Karbohidrat, lemak, dan protein), membangun dan memelihara jaringan tubuh (protein, air, dan mineral) dan mengatur proses tubuh (vitamin dan mineral) (Herlinawati, 2008).
Menurut Almatsier (2009), dalam menyusun menu makanan perlu diingat dan diperhatikan masalah menu berimbang/adekuat untuk perorangan atau kelompok sehingga komposisi :
1) Lemak : 20% dari total energi 2) Protein : 10 - 15 % dari total energi 3) Karbohidrat: 65 - 70% dari total energi
Dalam pemberian makan untuk tenaga kerja di tempat kerja perlu dipikirkan besarnya energi makanan di tempat kerja yang dianjurkan adalah 0,4 dari kebutuhan energi perhari yang diperlukan oleh tenaga kerja. Waktu pemberian makanan ditempat kerja diberikan dua kali yaitu pemberian makanan selingan dan makan di tempat kerja dengan perbandingan 1 : 4. Makanan yang diberikan kepada tenaga kerja harus bersifat ringan mengandung energi yang diperlukan (Suma’mur, 2009).
commit to user
Pengaturan makanan pokok dan selingan seharinya adalah sarapan pagi sekitar jam 7 dengan kandungan 25% kebutuhan energi per hari, makan siang jam 12.00 – 13.00 siang dengan kandungan energi 30% kebutuhan energi per hari, makanan selingan pada jam 16.00 sore dengan kandungan energi 10% kebutuhan energi per hari dan makan malam jam 19.00 dengan kandungan energi 25% dari kebutuhan kalori per hari. Kebanyakan makan siang dapat membebani alat pencernaan sehingga merupakan hambatan untuk dapat segera pulih kembali (Almatsier, 2009).
Masalah lain yang juga perlu diperhatikan dalam penyusunan menu bagi tenaga kerja adalah antara lain pola makan, kepercayaan atau agama, keuangan, daya cerna, mudah dibuat, dan volume yang seimbang.
Pedoman untuk menyusun menu berimbang adalah Empat Sehat Lima Sempurna. Pekerjaan sangat memerlukan tenaga atau energi yang digunakan untuk melakukan aktivitas/tugasnya, dalam hali ini tergantung dari umur, jenis kelamin, keadaan khusus, metabolisme, jenis pekerjaan serta keadaan lingkungan (Suma’mur, 2009).
Untuk mempertahankan hidup dan dapat melakukan pekerjaan setiap orang membutuhkan tenaga. Tenaga tersebut diperoleh dari pembakaran zat makanan yang dikonsumsi dengan oksigen. Bila banyaknya makanan yang dikonsumsi setiap hari tidak seimbang dengan tenaga yang dikeluarkan maka tubuh akan
commit to user
mengalami gangguan kesehatan. Masalah yang timbul akibat ketidak seimbangan antara makanan yang dikonsumsi dengan tenaga yang dikeluarkan sangat beragam. Jika makanan yang dimakan berlebih dibanding tenaga yang dikeluarkan maka tubuh akan menjadi gemuk. Kegemukan dapat menyebabkan gangguan dalam fungsi tubuh dan merupakan risiko untuk menderita penyakit kronis seperti
Diabetes Millitus, Hipertensi, penyakit jantung koroner, penyakit
kanker dan dapat memperpendek harapan hidup. Tubuh akan kurus jika makanan yang dimakan kurang. Kedua masalah ini akan mempengaruhi derajat kesehatan seseorang dan akhirnya akan berpengaruh pada efisiensi dan produktivitas kerja.
Oleh karena itu sedapat mungkin diusahakan agar jumlah makanan yang dikonsumsi baik dalam kualitas dan kuantitas sesuai dengan kebutuhan khususnya terhadap tenaga kerja yang dikeluarkan (Tarwaka dkk, 2004).
c. Kecukupan Energi
Energi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan, dilepaskan dalam tubuh pada proses pembakaran zat-zat makanan. Hasil pembakaran zat-zat makanan disebut Kebutuhan Energi dalam satuan Kalori (Suma’mur, 2009).
Besar energi yang dibutuhkan untuk masing-masing pekerjaan tidak sama. Semakin berat suatu pekerjaan, maka semakin besar energi yag dibutuhkan oleh tenaga kerja (Alimah, 2008).
commit to user
Kriteria berat-ringannya suatu pekerjaan akan menjadi salah satu faktor koreksi dalam penentuan besarnya energi yang dibutuhkan. Di dalam tubuh selalu ada kegiatan sel yang disebut metabolisme. Semakin meningkat kegiatan tubuh, semakin meningkat pula metabolisme yang terjadi.
Menurut Almatsier (2009), jika energi yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan (output) tidak tercukupi dari bahan makanan yang masuk, maka kebutuhan energi akan dipenuhi dengan mengambil zat-zat makanan yang ada di dalam tubuh. Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan berat badan. Sebaliknya apabila terjadi kenaikan berat badan akan menunjukkan kelebihan zat makanan terutama zat makanan yang dapat memberikan energi sehingga kelebihan tersebut terpaksa disimpan dalam lemak cadangan yang mengakibatkan naiknya berat badan. Energi intake yang didapat dari makanan berimbang seperti karbohidrat, protein dan lemak digunakan oleh tubuh dalam bentuk :
1) Metabolisme basal yaitu sejumlah tenaga yang diperlukan oleh tubuh dalam keadaan istirahat.
Angka Metabolisme Basal (AMB) dapat diukur dengan kalorimetri langsung dan kalorimetri tidak langsung. Kalorimetri langsung dilakukan dalam ruangan pernafasan, dengan mengukur sejumlah air yang diketahui volumenya dan dialirkan melalui pipa pada bagian atas dinding-dinding ruangan, dapat diukur jumlah panas yang dikeluarkan seseorang. Dalam praktek
commit to user
pembuatan dan penggunaan ruangan ini adalah sukar dan hanya dapat digunakan untuk keperluan eksperimen ketelitian.
Kalorimetri tidak langsung lebih sederhana dan murah. Teori digunakan bawa bila makanan dioksidasi dan menghasilkan panas di dalam tubuh, proporsi jumlah oksigen yang digunakan dan karbondioksida yang dihasilkan sebanding dengan jumlah panas yang dikeluarkan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan alat pernafasan telah dikembangkan cara menaksir Angka Metabolisme Basal (AMB) dengan perhitungan. Dengan memperhitungkan berat badan, tinggi badan dan umur, Harris dan Benedict pada tahun 1990 menentukan rumus untuk menghitung kebutuhan energi basal sebagai berikut :
AMB Laki-laki : 66,5 + 13,7 BB+ 5,0 TB- 6,8 U AMB Perempuan : 65,5 + 9,6 BB+1,8 TB – 4,7 U (BB : Berat Badan, TB : Tinggi Badan, U : Umur)
Dalam penelitian yang dilakukan ternyata indeks paling berpengaruh terhadap AMB adalah berat badan menurut umur. Dengan menggunakan rumus regresi linier, FAO/WHO/UNU/1985 telah mengeluarkan rumus untuk menaksir nilai AMB dari berat badan seperti pada Tabel 1.
commit to user
Tabel 1. Rumus untuk Menaksir Nilai AMB dari Berat Badan
Kelompok Umur (Tahun) AMB (Kkal/hari) Laki-laki Perempuan 0 – 3 3 – 10 10 – 15 18 – 30 30 – 60 > 60 60,9 B – 54 22,7 B + 495 17,5 B + 651 15,3 B + 679 11,6 B + 879 13,5 B + 487 61,0 B + 51 22,5 B + 499 12,2 B + 746 14, 7 B + 496 8, 7 B + 829 10,5 B + 596 (Sumber : Almatsier, 2009)
Guna menaksir kebutuhan suatu energi penduduk, aktivitas fisik dikelompokkan menurut berat ringannya aktivitas yaitu ringan, sedang dan berat yang dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Angka Kecukupan Energi untuk Tiga Tingkat Aktivitas
Kelompok Aktivitas (x AMB)
Faktor
Aktivitas Jenis Kegiatan
1. Ringan a. Laki-laki b. Perempuan 2. Sedang a. Laki-laki b. Perempuan 3. Berat a. Laki-laki b. Perempuan 1,56 1,55 1,76 1,70 2,10 2,00
75 % waktu digunakan untuk duduk atau berdiri, 25% untuk berdiri atau bergerak.
25% waktu untuk duduk atau berdiri, 75% untuk aktivitas pekerjaan tertentu.
40% waktu untuk duduk atau berdiri, 60% waktu untuk aktivitas pekerjaan tertentu. (Sumber : Almatsier, 2009)
2) Pengaruh makanan atas kegiatan tubuh, kira-kira 10% dari metabolisme basal.
3) Aktivitas otot
Aktivitas otot memiliki peranan penting dalam menentukan kebutuhan energi diatas kebutuhan metabolisme basal.
commit to user
Kebutuhan akan energi dan zat-zat gizi bergantung pada berbagai faktor seperti umur, gender, berat badan, iklim, dan aktivitas fisik.
Melalui berbagai macam penelitian dan perhitungan maka dapat ditentukan kecukupan gizi tenaga kerja berdasarkan data yang mutakhir menurut Soekirman (2003) antara lain adalah :
1) Energi
Energi dihasilkan oleh tiga (3) sumber energi utama yaitu, karbohidrat, lemak dan protein. Untuk menentukan kecukupan energi tenaga kerja dapat dilihat pada tabel 6 (enam). Untuk jam kerja di perusahaan, perlu disediakan makan dan minum paling sedikit 2/5 (40 %) dari kecukupan energi selama 24 jam atau (30% makan lengkap + 10 % makan selingan) tergantung kemampuan dan kesepakatan perusahaan.
Berdasarkan Kepmenaker No. 608/Men/1989 untuk perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerjanya sembilan jam kerja per hari, perusahaan wajib menyediakan makan dan minum 1400 kalori.
2) Hidrat Arang (Karbohidrat)
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi manusia. Kira-kira 80% dari energi yang didapat oleh tubuh manusia berasal dari karbohidrat. Jumlah karbohidrat yang dibutuhkan manusia untuk berbagai usia dan pekerjaan tidaklah sama. Untuk orang dewasa yang bekerja tidak terlalu berat,
commit to user
kebutuhan rata-rata akan karbohidrat ialah antara 8 sampai dengan 10 gram untuk tiap kilogram berat badannya setiap hari. Dalam tubuh manusia, karbohidrat digunakan untuk mendapatkan energi, membuat cadangan tenaga dalam badan, memberikan rasa kenyang. Karbohidrat terutama terdapat dalam tumbuh-tumbuhan seperti beras, gandum, dan umbi-umbian. 3) Protein
Protein merupakan suatu zat yang dalam susunan kimianya mengandung unsur-unsur O2, CO, H2N, N2 dan kadang-kadang mengandung pada unsur-unsur lain seperti Sulfur dan Fosfor. Protein merupakan unsur yang terpenting yang terdapat dalam semua sel makhluk yang hidup. Tanpa adanya protein tidaklah dapat dibentuk sel. Fungsi protein bagi tubuh manusia adalah membangun sel-sel jaringan tubuh manusia, mengganti sel-sel tubuh yang rusak, membuat air susu, enzim-enzim dan hormon-hormon, membuat protein darah, menjaga keseimbangan asam basa dari cairan tubuh, sebagai pemberi energi.
Bahan makanan sumber protein dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu bahan makanan sumber protein hewan dan bahan makanan sumber protein tumbuh-tumbuhan. Nilai protein yang berasal dari hewan jauh lebih tinggi daripada nilai protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
commit to user
Kebutuhan protein sangat tergantung kepada berat badan tenaga kerja dan nilai biologi dari protein yang dimakan. Rata-rata diperlukan 1 gram tiap kg berat badan untuk protein yang berasal dari hewan dan 1,2 gam tiap kg berat badan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dalam bentuk makanan campuran. Kebutuhan energi yang berasal dari protein kurang lebih 10% - 15% dari total energi perhari.
4) Lemak
Lemak adalah bahan-bahan mengandung asam lemak, baik dalam bentuk cair maupun padat, hampir setiap bahan mengandung lemak, contoh lemak yaitu minyak kelapa, mentega dan bahan lainnya. Lemak yang berasal dari bahan makanan digunakan tubuh untuk hal-hal :
a) Pemberi energi.
b) Melarutkan vitamin sehingga dapat diserap oleh dinding usus.
c) Memberikan asam-asam lemak esensial.
Kebutuhan lemak sangat tergantung dari kebutuhan energi, kurang lebih 20% - 25% dari total energi per hari atau minimal 15% dan maksimal 30%.
5) Vitamin dan Mineral
Vitamin adalah zat gizi yang berfungsi mengatur dan melindungi proses dalam tubuh, pembentukan enzim dan hormon, tulang dan jaringan tubuh, mengatir dan mewujudkan
commit to user
fungsi otot serta syaraf yang normal dan mencapai vitalitas jaringan yang prima. Vitamin dan mineral diperlukan cukup, penggunaan bahan makanan yang tinggi Vit. B1, zat besi dan asam folat perlu diperhatikan. Zat-zat ini diperlukan untuk kerja otot dan penting untuk mempertahankan produktivitas kerja yang optimal. Garam-garam Natrium, Kalium perlu diperhitungkan dalam mencapai keseimbangan cairan tubuh. 6) Air
Air berfungsi sebagai pelarut mengatur sistem keseimbangan dalam proses tubuh manusia dan merupakan salah satu unsur yang sangat diperlukan oleh tubuh dalam jaringan besar, kurang lebih 60% berat badan manusia adalah air.
Tubuh manusia lebih tahan kekurangan makanan daripada kekurangan air. Oleh karena itu penyediaan air minum penting pula diperhatikan disamping makanan, terutama tenaga kerja yang bekerja di lingkungan kerja yang panas dan tenaga kerja bekerja berat perlu disediakan minimal 2,8 liter dan bekerja ringan 1,9 liter air mineral.
Besarnya jumlah kebutuhan energi dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menentukan berat ringannya beban kerja. Berkaitan hal tersebut, Menteri Tenaga Kerja melalui Keputusan Nomor 51 (1999) menetapkan kategori beban kerja menurut kebutuhan energi sebagai berikut :
commit to user
1) Beban kerja ringan : 100 – 200 Kilokalori/jam 2) Beban kerja sedang : > 200 – 350 Kilokalori/jam 3) Beban kerja berat : > 350 – 500 Kilokalori/jam
Menurut Almatsier (2009), berkaitan dengan kebutuhan energi selama 8 jam yang dibutuhkan pekerja sesuai dengan kategori beban kerja adalah sebagai berikut :
1) Beban Kerja Ringan : 2600 kilokalori 2) Beban Kerja Sedang : 2800 kilokalori 3) Beban Kerja Berat : 3000 kilokalori
Menurut Tarwaka (2010), menjelaskan bahwa penilaian beban kerja kerja dapat dilakukan dengan pengukuran denyut nadi. Pengukuran denyut nadi dilakukan selama kerja merupakan suatu metode untuk menilai cardiovasculer strain. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menghitung secara manual memakai stopwatch dengan metode 10 denyut. Dengan metode tersebut dapat dihitung denyut nadi kerja sebagai berikut :
Menurut Tarwaka (2010), menjelaskan bahwa kategori beban kerja berat, sedang maupun ringan berdasarkan denyut nadi adalah sebagai berikut :
Denyut Nadi (Denyut/menit) = 10 denyut x 60 Waktu Perhitungan
commit to user
Tabel 3. Kategori Beban Kerja Berdasarkan Denyut Nadi
Kategori Beban Kerja Denyut Nadi (Denyut/menit)
Ringan 75 – 100
Sedang 100 – 125
Berat 125 – 150
Sangat Berat 150 – 175
Sangat Berat Sekali > 175
(Sumber : Tarwaka, 2010)
Jumlah energi yang diperlukan, jadi yang harus digunakan dalam tubuh, menurut kegiatan dapat ditentukan secara tidak langsung dengan mengukur pemakaian O2 oleh tubuh untuk melaksanakan aktivitas tersebut. Dari penelitian ditemukan, bahwa pemakaian 1 (satu) liter O2 menghasilkan rata-rata 4,825 Kilokalori untuk konsumsi makanan berimbang. Adapun penentuan jumlah energi yang diperlukan untuk menjalankan suatu aktivitas dengan cara kalorimetri langsung dapat dilaksanakan pada laboratorium yang peralatannya lengkap. Energi yang dibutuhkan untuk melakukan suatu kegiatan tidak lain daripada banyaknya energi yang harus dikerahkan oleh tubuh per satuan waktu untuk menjamin berlangsungnya kegiatan yang dimaksud (Suma’mur, 2009).
Pengerahan energi per jam per orang standar dengan berat badan 70 kg dan per kg berat badan pada berbagai jenis kegiatan (Tabel 4) disajikan menurut hasil penelitian luar negeri yang kiranya mungkin masih perlu koreksi sesuai dengan adanya berbagai faktor perbedaan latar belakang kondisi tenaga kerja pada suatu negara. Namun begitu, data tersebut selama ini berlaku tanpa adanya koreksi atas dasar variabilitas sosio-demografis. (Suma’mur, 2009)
commit to user
Tabel 4. Kebutuhan Energi Per Jam yang Dianjurkan Menurut Jenis Kegiatan
Jenis Kegiatan BB 70 kg Kilokalori Per Jam Per Kg BB
Tidur
Bangun sambil tiduran tenang Duduk Istirahat
Membaca keras
Berdiri dalam keadaan tenang Menjahit dengan tangan Berdiri dengan suatu perhatian
Menyulam (kecepatan 23 sulaman/menit Memakai dan membuka pakaian
Menyanyi
Menjahit dengan mesin Mengetik cepat
Menyetrika (berat setrika 2,5 kg)
Cuci piring (piring, cangkir dan lainnya) Menyapu lantai terbuka (38 x per menit) Menjilid buku
Latihan enteng Membuat sepatu
Jalan perlahan (3,9 km per jam)
Pekerjaan kayu,logam dan pengecatan industri Latihan aktif
Jalanan agak cepat (5,6 km per jam) Jalan turun tangga
Pekerjaan tukang batu Latihan berat
Menggergaji kayu Berenang
Lari (8 km per jam) Latihan sangat berat
65 77 100 105 105 111 115 116 118 122 135 140 144 144 169 170 170 180 200 240 290 300 364 400 450 480 500 570 600 0,95 1,10 1,43 1,50 1,50 1,59 1,63 1,66 1,69 1,74 1,93 2,00 2,06 2,06 2,41 2,43 2,43 2,57 2,86 3,43 4,14 4,28 5,20 5,71 6,43 6,86 7,14 8,14 8,57 Bersambung Sambungan
commit to user Berjalan sangat cepat (8 km per jam) Jalan naik tangga
650 1100
9,28 15,80 (Sumber : Suma’mur, 2009)
Tabel 5. Pemakaian Energi Per Jam pada Tenaga Kerja Laki-laki dan Perempuan
Jenis Kelamin Berat Badan (Kg) Energi (Kkal)
Laki-laki Perempuan 65 (ideal) 60 55 55 (ideal) 50 45 3000 2780 2540 2600 2360 2130 (Sumber : Suma’mur, 2009)
Tabel tersebut dikoreksikan dengan postur rerata (laki-laki 165 cm dan perempuan 155 cm) menurut berat badan sama dengan atau kurang dari berat badan ideal
Menurut Suma’mur, 2009, standar kebutuhan energi untuk tenaga kerja perorangan masih perlu dikoreksi dengan faktor sebagai berikut :
1) Faktor usia menurut persentasi dinyatakan dalam Tabel 6. Tabel 6. Penyesuaian Kebutuhan Energi Menurut Usia Pekerja
Usia (Tahun) Persentasi (%)
20 – 30 30 – 40 40 – 50 50 – 60 60 – 70 >70 100,0 97,0 94,0 86,5 79,0 69,0 (Sumber : Almatsier, 2009)
commit to user
2) Tingkat aktivitas (termasuk pekerjaan) yang untuk orang standar rinciannya meliputi :
Tabel 7. Kegiatan Standar Manusia
Kegiatan Laki-laki Wanita
Istirahat di tempat tidur Bekerja (aktivitas ringan) Berjalan
Aktivitas ringan pribadi Duduk Rekreasi 8 jam 8 jam 1,5 jam 4 jam 1,5 jam 1 jam 8 jam 8 jam 1 jam 5 jam 1 jam 1 jam (Sumber : Suma’mur, 2009)
Tabel 8. Penyesuaian Kebutuhan energi
Berat Badan (kg) Tingkat 0 (dikurangi) Tingkat I (Orang Standar)
Tingkat II Tingkat III
41 – 50 51 – 60 60 - 70 71 – 8 0 Aktivitas - 530 - 610 - 690 - 760 Hanya pemeliharaan tubuh (istirahat basal) 0 0 0 0 administrasi rumah, mengemudi, mengetik + 360 + 390 + 400 + 410 Tukang, petani berkeahlian + 810 + 870 + 900 + 930 Pekerja buruh kasar (Sumber : Suma’mur, 2009)
3) Keadaan hamil dan menyusui bagi wanita, kebutuhan energi ditambah 10 %.
Terdapat rumus tertentu dalam menentukan besarnya kebutuhan energi pekerja dengan berdasarkan koreksi pada tabel
commit to user
yang telah tersebut diatas. Penggunaan rumus-rumus tersebut dapat dilihat pada lampiran 1.
Secara garis besar, kita dapat melihat kebutuhan energi yang dianjurkan untuk tenaga kerja yang diambil dari sumber Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi, 1983 seperti pada tabel berikut : Tabel 9. Kebutuhan Energi Tenaga Kerja yang Dianjurkan
Jenis Kegiatan Laki-laki Wanita
Ringan Sedang Berat 2380 2650 3400 1800 2150 2600
Menurut Grandjean dalam Tarwaka (2010), bahwa kebutuhan energi seorang pekerja selama 24 jam sehari ditentukan oleh tiga (3) hal :
1) Kebutuhan energi untuk metabolisme basal. Dimana seorang laki-laki dewasa memerlukan energi untuk metabolisme 100 Kilo Joule (23,87 Kilo Kalori) per 24 jam per kg-BB. Sedangkan wanita dewasa memerlukan energi untuk metabolisme basal 98 Kilo Joule (23,39 Kilo Kalori) per 24 jam per kg-BB. Sebagai contoh, seorang laki-laki dewasa dengan berat badan 60 kg akan memerlukan energi untuk metabolisme basal sebesar 6000 Kilo Joule (1432 Kilokalori) per 24 jam. 2) Kebutuhan energi untuk aktivitas atau kerja. Kebutuhan energi
kerja sangat ditentukan dengan jenis aktivitas kerja yang dilakukan atau berat ringannya pekerjaan.
commit to user
3) Kebutuhan energi untuk pencernaan dan aktivitas-aktivitas lain diluar jam kerja. Rerata kebutuhan energi untuk pencernaan dan aktivitas diluar jam kerja adalah 2400 Kilo Joule (573 Kilokalori) untuk laki-laki dewasa dan sebesar 2000 – 2400 Kilo Joule (477 – 525 KiloKalori) per hari untuk wanita dewasa. d. Tingkat Kecukupan Zat Gizi
Untuk menilai tingkat konsumsi makanan diperlukan suatu standar kecukupan yang dianjurkan seperti Angka kecukupan gizi (AKG). Angka kecukupan gizi (AKG) adalah banyaknya masing-masing zat gizi esensial yang harus dipenuhi dari makanan mancakup hampir semua orang sehat untuk mencegah defisiensi zat gizi. AKG dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, berat badan dan tinggi badan. Angka kecukupan gizi (energi dan protein) rata-rata yang dianjurkan dapat dilihat pada Lampiran 2 (Almatsier, 2009). e. Status Gizi
Menurut Supariasa (2002), status gizi adalah suatu keadaan seseorang sebagai akibat dari keseimbangan antara zat-zat gizi yang masuk ke dalam tubuh dan penggunaan zat-zat tersebut oleh tubuh untuk pertambahan produksi energi dan proses tubuh. Status gizi optimal akan tercapai apabila kebutuhan zat gizi optimal terpenuhi.
Keadaan gizi dapat berupa gizi kurang, gizi baik atau normal maupun gizi lebih. Kekurangan salah satu zat gizi dapat menimbulkan konsekuensi berupa penyakit defisiensi. Bila kekurangan dalam batas marginal dapat menimbulkan gangguan
commit to user
yang sifatnya lebih ringan atau menurunkan kemampuan fungsional, misalnya kekurang vitamin B1 dapat menyebabkan badan cepat merasa lelah. Kekurangan zat besi dapat menurunkan prestasi kerja dan prestasi belajar, selain turunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi. Karena itu untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal mutlak diperlukan sejumlah zat gizi yang harus didapatkan dari makanan dalam jumlah sesuai dengan yang dianjurkan setiap hari. Untuk dapat memenuhi kebutuhan akan zat gizi, diperlukan konsumsi makanan yang seimbang baik jumlah maupun kualitasnya. Faktor gaya hidup dan pola makan yang terlanjur salah merupakan penyebab defisiensi unsur gizi tertentu yang sering terjadi. Selain itu, polusi, stres berkepanjangan, sakit keras, baru sembuh dari sakit dan minuman keras adalah faktor lain yang memepengaruhi penyerapan zat gizi dalam tubuh (Almatsier, 2009).
Masalah kekurangan dan kelebihan gizi merupakan masalah penting karena selain mempunyai risiko terjadinya penyakit tertentu, juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Oleh karena itu, pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu caranya adalah dengan memperhatikan berat badan yang ideal atau normal. Laporan FAO/WHO/UNU tahun 1985 menyatakan bahwa batasan berat badan normal dewasa ditentukan berdasarkan nilai Body Mass Index (BMI). Di Indonesia istilah Body Mass Index diterjemahkan menjadi
commit to user
memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, sehingga mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang (Supariasa, 2002). Rumus perhitungan IMT adalah sebagai berikut :
IMT = Berat Badan (Kg)__________ Tinggi Badan (m) x Tinggi Badan (m)
Tabel 10. Status Gizi Berdasarkan Kategori Indeks Massa Tubuh (IMT)
Kategori IMT Keterangan
Kurus < 17,0 Kekurangan berat badan tingkat berat 17,0 – 18,4 Kekurangan berat badan tingkat ringan Normal 18,5 – 25
Gemuk > 25,0 – 27,0 Kelebihan berat badan tingkat ringan > 27,0 Kelebihan berat badan tingkat berat (Sumber : Almatsier, 2009)
f. Faktor yang Menentukan Kebutuhan Gizi Tenaga Kerja
Menurut Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Balitbang Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian Pusat Pengembangan Keselamatan Kerja dan Hiperkes (2002), beberapa faktor yang menentukan kebutuhan gizi seseorang adalah sebagai berikut :
1) Ukuran tubuh (tinggi dan berat badan)
Makin besar ukuran tubuh seseorang, makin besar pula kebutuhan energi dan zat gizi lainnya, walaupun jenis kelamin maupun kegiatan yang dilakukan serta usianya sama. Sebaliknya makin kecil ukuran tubuhnya makin rendah pula kebutuhan
commit to user
energinya. Kebutuhan energi yang ditentukan oleh ukuran tubuh ini disebut kebutuhan dasar.
2) Usia
Makin tua usia seseorang, makin berkurang kebutuhan energi dan zat-zat gizi lainnya, mencapai puncak dalam usia pertengahan 20 tahun dan kemudian menurun dengan