BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.4. Epidemiologi Kecelakaan Kerja
a. Distribusi Menurut Orang
Berdasarkan penelitian Novrikasari (2001) dari 82 pekerja yang mengalami kecelakaan kerja di bagian proses produksi PT. Pupuk Sriwidjaja tahun 1990-1999 diperoleh bahwa kecelakaan kerja tertinggi terjadi pada usia 31-40 tahun sebanyak 41 kasus (50%) dan terendah usia >50 tahun yaitu 4 kasus (4,9%).23
Berdasarkan penelitian Hermawanto (2006) menggunakan desain cross
sectional, kecelakaan kerja pada pengrajin sandal karet di Desa Pasir Kidul
Kecamatan Purwokerto Barat Kabupaten Banyumas menunjukkan bahwa kecelakaan kerja paling sering pada umur 40-45 tahun.24
Penelitian Utami tahun 2005 dengan desain penelitian cross sectional pada pekerja yang mengalami kejadian kecelakaan kerja di PT. Purinusa Eka Persada Semarang menunjukkan persentase kecelakaan kerja berdasarkan kelompok umur umur 19-24 tahun (21,75%), umur 25-30 tahun (30,4%), umur 31-36 tahun (8,7%), umur 37-42 tahun (17,4%), umur 43-48 tahun (21,75%). Persentase terbesar yang mengalami kejadian kecelakaan kerja berdasarkan kelompok umur berada pada kelompok umur 25-30 tahun sebesar 30,4% dikarenakan pekerja pada kelompok umur ini bekerja dengan semangat dan tergesa-gesa. Kejadian kecelakaan pada umur 19-24 tahun (21,7%) karena bekerja dengan ceroboh dan umur 43-48 tahun (21,7%) karena konsentrasi mulai menurun.25
Penelitian Riyadina (2007) pekerja industri di kawasan industri Pulo Gadung Jakarta tahun 2006 dengan desain cross sectional terlihat bahwa dari 950 pekerja yang
diteliti, 284 pekerja yang mengalami kecelakaan kerja, pekerja laki-laki 238 orang (83,80%) dan perempuan 46 orang (16,20%). Hal ini dikarenakan pekerja laki-laki menempati mayoritas pekerja di bagian produksi di jenis industri berat atau menggunakan alat-alat yang besar dan berbahaya.26
b. Distribusi Menurut Tempat
Berdasarkan data PT Jamsostek, kasus kecelakaan kerja di Sumatera Utara pada semester I tahun 2009 sebanyak 4.586 kasus dengan FR 1,59 per 1.000.000 jam kerja, Belawan 1.708 kasus (37,24%), Medan 744 kasus (16,22%), Tanjung Morawa 954 kasus (20,80%), Kisaran 489 kasus (10,66%), Pematang Siantar 299 kasus (6,52%), Binjai 321 kasus (7,00%) dan Sibolga 71 kasus (1,55%).27
PT Jamsostek Kota Cimahi tahun 2009 mengeluarkan lebih dari Rp 3,6 milyar untuk menanggung klaim jaminan kecelakaan kerja (JKK) dari 2.304 kasus yang terjadi dengan FR 0,19 per 1.000.000 jam kerja.28
c. Distribusi Menurut Waktu
Di Indonesia pada tahun 2000 jumlah kecelakaan kerja yang terjadi sebanyak 98.902 kasus, tahun 2001 terjadi 104.774 kasus, tahun 2002 terjadi 103.804 kasus, tahun 2003 terjadi 105.846 kasus, tahun 2004 terjadi 95.418 kasus, tahun 2005 terjadi 99.023 kasus, tahun 2006 terjadi 95.624 kasus, dan tahun 2007 terjadi sebanyak 65.474 kasus.10
2.4.2. Determinan Kecelakaan Kerja
Teori Heinrich menyatakan bahwa suatu kecelakaan bukanlah suatu peristiwa tunggal, kecelakaan merupakan hasil dari serangkaian penyebab yang saling
berkaitan. Sebagian besar kecelakaan disebabkan oleh beberapa faktor misalnya manusia atau tindakan tidak aman dari manusia.29
Kondisi berbahaya (unsafe condition) adalah suatu kondisi tidak aman dari mesin, lingkungan, sifat pekerja, dan cara kerja. Kondisi berbahaya ini terjadi antara lain karena alat pelindung tidak efektif, pakaian kerja kurang cocok, bahan-bahan yang berbahaya, penerangan dan ventilasi yang tidak baik, alat yang tidak aman walaupun dibutuhkan, alat atau mesin yang tidak efektif. Perbuatan berbahaya (unsafe act) adalah perbuatan berbahaya dari manusia atau pekerja yang dilatarbelakangi oleh faktor-faktor internal seperti sikap dan tingkah laku yang tidak aman, kurang pengetahuan dan keterampilan, cacat tubuh yang tidak terlihat, keletihan, dan kelesuan.22
Menurut statistik yang dikeluarkan oleh ILO (2005), 80% kecelakaan disebabkan oleh perbuatan berbahaya (unsafe acts) dan 20% yang disebabkan oleh kondisi berbahaya (unsafe condition).30
Ditinjau dari epidemiologi, kecelakaan kerja terjadi karena ketidakserasian antara tenaga kerja (host), pekerjaan (agent), lingkungan kerja (environment).18
a. Host, yaitu pekerja yang melakukan pekerjaan a.1. Umur
Umur mempunyai pengaruh yang penting terhadap kejadian kecelakaan akibat kerja. Golongan umur tua mempunyai kecenderungan yang lebih tinggi untuk mengalami kecelakaan akibat kerja dibandingkan dengan golongan umur muda karena umur muda mempunyai reaksi dan kegesitan yang lebih tinggi. Namun umur
muda pun sering pula mengalami kasus kecelakaan akibat kerja, hal ini mungkin karena kecerobohan dan sikap suka tergesa-gesa.31
Orang-orang muda sering tidak memiliki tanggung jawab sebagaimana orang-orang yang berumur lebih tua dan cenderung untuk tidak berhati-hati. Maka dari itu, pada pekerjaan kehutanan dan perkayuan, usia muda tidak diperbolehkan untuk mengerjakan pekerjaan yang berbahaya seperti mengendalikan mesin-mesin yang dijalankan dengan tenaga listrik, penebangan pohon atau pengolahan zat-zat yang membahayakan.15
Menurut ILO, dari hasil penelitian di Amerika Serikat diungkapkan bahwa pekerja yang berumur muda lebih banyak mengalami kecelakaan dibandingkan dengan pekerja yang lebih tua. Pekerja umur muda biasanya kurang berpengalaman dalam pekerjaanya.31
Menurut penelitian Asim Saha dkk tahun 2000-2004 di India dengan desain
case control menunjukkan kemungkinan umur <30 tahun mengalami kecelakaan
kerja 1,47 kali dibandingkan dengan ≥50 tahun (OR 1,47; 95% CI;0,25-11,23). 32 a.2. Jenis kelamin
Jenis kelamin juga mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Pekerja pria dan wanita memiliki perbedaan fisiologis dan psikologis. Antara pekerja pria dan wanita memiliki perbedaan daya tahan tubuh, ukuran tubuh, dan postur tubuh yang dapat mempengaruhi cara kerja.31
b. Agent, yaitu pekerjaan
b.1. Jenis (Unit) Pekerjaan
Jenis pekerjaan mempunyai pengaruh besar terhadap resiko terjadinya kecelakaan akibat kerja. Jumlah dan macam kecelakaan akibat kerja berbeda-beda di berbagai kesatuan operasi dalam suatu proses.16,31
Menurut penelitian Asim Saha dkk tahun 2000-2004 di India dengan desain
case control menunjukkan kemungkinan bagian produksi mengalami kecelakaan
kerja 1,27 kali dibandingkan dengan bagian perawatan (OR 1,27; 95% CI;0,51-3,28).32
b.2. Peralatan bekerja
Peralatan bekerja yang digunakan dalam pekerjaan hutan adalah alat-alat pemotong seperti kampak-kampak, kampak kecil, parang, gergaji, pencungkil kulit, sabit dan arit. Semua alat-alat ini barus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Banyak kecelakaan dalam hutan disebabkan oleh terlepasnya, patahnya, atau penggunaan tidak tepat alat-alat kerja tersebut. Tidak jarang kecelakaan terjadi karena pegangannya pecah atau kepala alat terlepas atau alat tersebut tidak cocok untuk tenaga kerja. Maka dan itu, semua pegangan alat harus sesuai dengan alat dan memiliki panjang dan bentuk yang tepat bagi orang yang mempergunakannya.15
c. Environment, yaitu lingkungan kerja
Lingkungan kerja merupakan bagian cukup penting dari sebuah perusahaan. Karena lingkungan kerja yang tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan tenaga kerja dapat menimbulkan terjadinya kecelakaan kerja.33
Berdasarkan penelitian Cordiero dan Dias tahun 2005 di Brazil dengan desain
case control menunjukkan kemungkinan masalah lingkungan kerja mengakibatkan
kecelakaan kerja 1,378 kali dibanding dengan masalah lainnya (OR 1,378;CI 95%;1,098–1,730).34
Lingkungan kerja dapat dibedakan atas: c.1. Lingkungan Fisik
Faktor dari lingkungan kerja yang juga dapat menyebabkan kecelakaan kerja pada pekerja adalah keadaan fisik lingkungan kerja seperti kebisingan dan getaran, suhu, tekanan udara serta pencahayaan dan radiasi.35
Lingkungan kerja fisik yang tidak memenuhi syarat seperti kondisi ventilasi yang tidak mampu mengalirkan udara yang segar, serta kondisi penerangan yang mengganggu penglihatan tenaga kerja, dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja terutama kecelakaan kerja di unit-unit produksi.34
Pekerjaan kehutanan dan industri perkayuan merupakan pekerjaan fisik berat yang berada di alam terbuka dengan segala pengaruhnya, misalnya sanitasi dan higene perorangan, perlindungan terhadap bahaya-bahaya, tumbuhan, serangga dan hewan.15
c.1.1. Kebisingan
Kebisingan yang melampaui kira-kira 60 dB sampai 70 dB akan mempengaruhi sistem persyarafan. Tergantung kepada penyebaran frekuensi gelombang-gelombang bunyi, kebisingan yang kuat dapat pada akhirnya berakibat
hilangnya daya dengar atau bahkan ketulian sama sekali. Kebisingan yang ditimbulkan gergaji mesin mencapai 105 dB.15
Menurut penelitian Dias dan Cordiero tahun 2008 di Brazil dengan desain
case control menunjukkan kemungkinan pekerja yang selalu terpapar kebisingan
mengalami gangguan pendengaran 4,955 kali dibandingkan pekerja yang tidak selalu terpapar kebisingan (OR 4,955;CI 95%;2.817-8.716).36
c.1.2. Getaran Mekanis15
Getaran mesin menimbulkan banyak masalah dengan jenis serupa seperti kebisingan. Getaran terdapat pada kendaraan-kendaraan yang bergerak, terutama traktor beroda dua, dan gergaji-geraji listrik dan mesin-mesin lain yang dapat dibawa.
Mengalami getaran secara lama dan terus-menerus akan mengakibatkan tubuh menjadi lelah. Dalam jangka panjang, getaran dapat berbahaya terhadap sistem syaraf dan sistem syaraf simpatis serta dapat menyebabkan kerusakan sendi-sendi atau arthrosis. Efek membahayakan demikian tergantung tidak hanya kepada waktu tubuh mengalami getaran, tetapi juga kepada frekuensi dan intensitas serta juga kepada bagian-bagian tubuh yang dipengaruhi.
Gergaji mesin yang dapat dibawa mengeluarkan getaran berfrekuensi tinggi yang terpusat kepada tangan dan lengan. Jika getaran-getaran ini sangat kuat, kekakuan terjadi, rasa sakit dirasakan pada jari-jari dan tangan, dan ujung-ujung jari menjadi putih, terutama pada suhu-suhu rendah.
c.2. Lingkungan Kimia
Faktor lingkungan kimia merupakan salah satu faktor lingkungan yang memungkinkan penyebab kecelakaan kerja. Faktor tersebut dapat berupa bahan baku suatu produksi, hasil suatu produksi dari suatu proses, proses produksi sendiri ataupun limbah dari suatu produksi.31
Bahan-bahan beracun yang mudah terbakar umum dipakai pada pekerjaan kehutanan dan perkayuan. Pemberantasan secara kimiawi terhadap serangga, jamur, atau tanaman tak berguna, pengawetan kayu, peledakan selama pembuatan jalan, dan penggunaan-penggunaan mesin pembakaran pada semua jenis kegiatan adalah contoh-contoh khas kegiatan-kegiatan yang menyangkut pemakaian bahan-bahan berbahaya.15
c.2.1. Bahan/zat yang mudah terbakar
Kewaspadaan khusus sangat diperlukan saat menggunakan cairan-cairan yang dapat menyala dengan titik bakar dibawah 90°C. Cairan-cairan yang mudah terbakar dan paling sering dipergunakan pada kegiatan-kegiatan kehutanan dan perkayuan meliputi bensin dengan titik bakar < 40°C, minyak diesel dengan titik bakar > 40°C, minyak tanah dengan titik bakar 40-45°C, minyak bakar dengan titik bakar 40-90°C, kreosot dengan titik bakar 75°C, minyak pelumas dengan titik bakar 150°C.16
c.3. Lingkungan Biologi15,31
Bahaya biologi disebabkan oleh jasad renik, gangguan dari serangga maupun binatang lain yang ada di tempat kerja. Berbagai macam penyakit dapat timbul seperti
infeksi, allergi, dan sengatan serangga maupun gigitan binatang berbisa berbagai penyakit serta bisa menyebabkan kematian.
c.3.1. Penyakit infeksi
Penyakit-penyakit utama pada pekerja kehutanan dan perkayuan adalah penyakit infeksi dan parasit. Penyakit yang mengenai alat pernapasan, oleh karena influenza dan peradangan saluran pemapasan, diperkirakan 30-40% dari seluruh angka sakit. Penyakit saluran pencernaan meliputi 15-20% dari seluruh kasus penyakit, bahkan sering terjadi dalam bentuk wabah-wabah. Penyakit-penyakit yang ditularkan serangga, malaria, demam berdarah dengue, filariasis, dan lainnya.
c.3.2. Tumbuh-tumbuhan berbahaya
Kewaspadan diperlukan terhadap tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan reaksi alergi atau keracunan sesudah menyentuh atau menghirupnya. Beberapa jamur, buah-buah hutan dan lainnya mudah secara salah disangka dapat dimakan. Jika hal tersebut merupakan sumber bahaya, pekerja harus mampu membedakan tumbuh-tumbuhan yang berbahaya dari pada yang tidak membahayakan.
c.3.3. Hewan-hewan
Hewan-hewan yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja pada pekerja kehutanan dan perkayuan seperti binatang liar/buas, binatang yang berbisa, kutu, pinjal, pacet, dan serangga-serangga.