• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNI EROPA DAN KONFLIK SUB-NASIONAL

Bab ini menjelaskan pendekatan dan mekanisme Uni Eropa dalam menanggapi dan mengatasi masalah dan isu konflik antar negara maupun konflik negara dengan sub-nasional atau yang disebut juga kelompok separatis. Bab ini juga menjelaskan bagaimana peran Uni Eropa sebagai mediator, negosiator dalam sebuah konflik baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain itu, bab ini pula akan menjelaskan instrumen-inetrumen Uni Eropa dalam menyelesaikan konflik.

Wilayah Eropa terdiri dari berbagai macam multi etnis dan bangsa. Beberapa wilayah regional di Eropa memiliki perbedaan sejarah, agama, budaya dan bahasa dari negara induknya. Wilayah-wilayah seperti Basque di Spanyol, Irlandia Utara di Britania Raya, Flander di Belgia memiliki identitas nasional sendiri dan terus berjuang untuk mendapatkan pengakuan khususnya di wilayah Eropa.

Regionalisme dan sub-nasionalisme menjadi masalah yang dihadapi negara-negara Eropa Barat. Uni Eropa pun sebagai lembaga multinasional di Eropa dapat mengakomodasi masalah regionalisme dan sub-nasional dengan cara diplomatis dan politis, tetapi beberapa menimbulkan konflik bersenjata dengan negara induknya. Uni Eropa menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi bagi negara-negara anggotanya. Negara masih menjadi aktor penting di Uni Eropa, sementara wilayah sub-nasional tidak memiliki kapasitas lebih untuk mengontrol setiap

kebijakan dalam lingkup Uni Eropa. Upaya wilayah regional dan sub-nasional untuk memisahkan diri dari negara induknya terkadang menimbulkan konflik bersenjata. Uni Eropa memiliki mekanisme sebagai mediator, negosiator dan fasilitator konflik dalam upaya penyelesaian menuju proses perdamaian. Seperti yang akan dijelaskan dalam sub-bab dibawah ini.

A. Peran Uni Eropa dalam Konflik Negara dan Sub-Nasional

Sebagai lembaga multinasional, Uni Eropa berkomitmen dalam perdamaian, hak asasi manusia dan demokrasi. Uni Eropa banyak memainkan peran penting dalam setiap konflik sub-nasional di dunia. Peran Uni Eropa sebagai Peace Mediation75 di berbagai konflik sub-nasional di dunia seperti di Mali, Serbia-Kosovo membuktikan bahwa organisasi multinasional ini telah memberikan andil besar dalam setiap konflik internasional yang terjadi.

Sebelum diberlakukannya Traktat Lisbon 2009, Uni Eropa memiliki mekanisme penanganan konflik melalui Goteburg Programme for the Prevention of Violent Conflict, Uni Eropa mengadopsi konsep ini untuk memperkuat kapasitas Uni Eropa sebagai tempat mediasi dan dialog. Pendekatan melalui Goteburg Programme dalam pencegahan konflik dilakukan melalui perjanjian. Pendekatan yang dilakukan Uni Eropa lebih luas dan melibatkan beberapa pihak dari pemerintah sampai komunitas lokal.76 Uni Eropa dapat berperan secara langsung maupun tidak langsung dalam proses mediasi melalui dukungan kepada

75

Antje Herrberg with Canan Gunduz and Laura Davis, Engaging the EU in Mediation and Dialogue, Initiative for Peacebuilding Mediation Cluster, 2009.hlm.16

76

Presidency Conclusions, Goteborg European Council 15-16 Juni 2001

38

aktor lain dengan memberikan pengaruh diplomatik, menyediakan dana resmi maupun tak resmi serta memediasi dari akar konflik.77

Setelah diberlakukannya Traktat Lisbon, Uni Eropa memiliki beberapa instrumen atau lembaga khusus yang relevan dalam proses mediasi dan dialog. Uni Eropa memiliki CFSP (Common Foreign and Security Policy) dan ESDP (European Security and Defense Policy). Kedua lembaga tersebut memberi legitimasi kepada Uni Eropa untuk mengeluarkan kebijakan eksternal dalam merespon pelanggaran hukum internasional, hak asasi manusia, dan prinsip-prinsip demokrasi. Peran Uni Eropa menyangkut pencegahan konflik dan manajemen krisis melalui kemampuan militer dan pembangunan masayrakat sipil.78

Pada 10 Desember 2010, CFSP/ESDP membentuk EEAS (European External Action Service). Atas mandat dari Dewan Uni Eropa, Salah satu tujuan dan tugas EEAS adalah upaya pencegahan konflik, upaya peacebuilding dan instrumen mediasi. Aspek pencegahan konflik tetap menjadi tujuan utama dari EEAS,79 namun tidak hanya CFSP/ESDP yang dapat upaya menyelesaikan penyelesaian konflik, Uni Eropa memliki instrumen dan mekanisme lain yang dapat diterapkan sebagai upaya penyelesaian atau pencegahan konflik seperti yang akan dijelaskan pada tabel dibawah ini.

77

EU Support to Peace Mediation : Developments and Challanges, EPLO, hlm.2

78

Common Foreign and Security Policy terdapat di http://eeas.europa.eu/cfsp/index_en.htm diakses pada 13 September 2014.

79

EU Support to Peace Mediation, hlm.4

39

TABEL 3.1

Instrumen dan Mekanisme Uni Eropa dalam Penyelesaian Konflik 80

Badan Uni Eropa Mekanisme Contoh Kasus

Dewan Uni Eropa • Mengadopsi kesimpulan dari Dewan Eropa

• Menstimulasi upaya

mediasi melalui pendekatan kebijakan luar negeri dan membantu negara-negara anggota Uni Eropa lainnya yang mempunyai tujuan sama.

• Membatasi posisi negara-negara anggota yang terkena dampak konflik dalam kebijakan luar negeri Uni Eropa.

Kesimpulan Dewan Uni Eropa dalam proses perdamaian di Timur Tengah.

Perwakilan Tinggi Uni Eropa / Wakil Presiden Komisi Eropa untuk Urusan luar negeri dan kebijakan keamanan (CFSP)

• Upaya diplomasi melalui CFSP.

• Memfasilitasi proses dialog khusus.

• Mendukung upaya dan keputusan Dewan Eropa dalam pelaksanaan Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan (CFSP).

• Berpartisipasi dalam Misi Troika.

• Memimpin upaya dialog politik dengan negara ketiga.

Memfasilitasi dialog dalam konflik Serbia-Kosovo.

Duta, Mediator dan Perwakilan Khusus

• Perwakilan khusus Uni Eropa ditunjuk oleh dewan

• Penunjukan

Robert Cooper 80

Data diolah dari berbagai sumber seperti : International Alert and Saferworld, Developing an EU strategy to address fragile states: Priorities for theUK Presidency,2005. Dan Saferworldand the Conflict Prevention Network with Africa Peace Forum and InterAfrica Group, Understanding the EU: A civil society guide to development and conflict prevention policies.

40

Uni Eropa Eropa untuk wilayah dan negara tertentu untuk membantu, memfasilitasi dan berkontribusi dalam proses perdamaian yang masih berlangsung.

• Memimpin misi Uni Eropa dan merekomendasikan tindakan yang harus diambil Uni Eropa dan mendukung proses perdamaian secara finansial maupun teknis. • Dimungkinkan atau tidak

diberi wewenang sebagai mediator.

• Meyakinkan komunikasi terbuka antara pihak-pihak terkait konflik dengan Brusels/negara-negara

anggota Uni Eropa.

• Memainkan peran sebagai pemantau dan diberi mandat untuk bekerjasama dengan Mahkamah Kriminal Internasional. fasilitator dialog teknis dalam konflik Serbia-Kosovo hingga Agustus 2012. • Perwakilan khusus Uni Eropa di konflik Kaukasus Selatan dan krisis di Georgia sebagai Ketua

pembicaraan di Jenewa.

• Perwakilan khusus Uni Eropa sebagai pemantau dalam negosiasi 5+2 konflik Moldove-Transnistria dengan membentuk EUBAM (EU Border Mission to Moldova and Ukraine)

Delegasi Uni Eropa • Kepala Delegasi terlibat dalam dialog tingkat tinggi dengan negara-negara yang terkena dampak konflik. • Menyediakan analisis dan

laporan kepada pihak negara ketiga secara politik dan perkembangan konflik. • Melaksanakan bantuan luar

negeri.

• Menyediakan dukungan logistik misi Uni Eropa dalam kunjungan tingkat tinggi.

• Menjaga jaringan dan kontak dengan negara-negara terkait. Politik, ekonomi dan aktor masyarakat.

Delegasi Uni Eropa di Filipina yang mewakili IMT (International Monitoring Team). Memonitoring pelaksanaan kesepakatan perdamaian antara Pemerintah Filipina dengan MILF (Moro Islamic Liberation Front.

Divisi EEAS (European External Action Service) untuk urusan pencegahan konflik, peacebuilding, dan instrumen mediasi. • Menyediakan dukungan dalam upaya dialog dan mediasi. Seperti memberi pelatihan dialog dan mediasi oleh para pakar/ahli dengan materi-materi panduan dan penelitian.

• Melaksanakan Program strategis jangka panjang (pasal 4.3) dalam IfS (Instrument of Stability) atau yang disebut juga PbP (Peace-building

Partnership) yang mendukung upaya pihak-pihak lain seperti PBB, NGOs, negara-negara anggota Uni Eropa.

• Mekanisme dan saran Uni Eropa terhadap proses perdamaian di Myanmar.

• Mengutus para

pakar/ahli mediasi dan dialog dalam proses perdamaian di Madagaskar. ESDP (European Security and Defense Policy) Mission Mendukung kesepakatan perdamaian, gencatan senjata, dan kesepakatan isu perbatasan.

• Misi pemantauan kesepakatan damai di Aceh. • Misi pemantauan di Georgia dalam kesepakatan enam poin antara Georgia dan Ruisa. • Misi pemantauan kesepakatan IBM (Integrated Borders Management) antara Serbia dan Kosovo.

Komisi Eropa melalui instrumen

pembiayaan dari berbagai badan dan lembaga di Uni Eropa.

Menyediakan bantuan finansial kepada Organisasi Internasional maupun Regional, negara atau aktor non-negara. Termasuk upaya mediasi, negosiasi, pelaksanaan pemantauan gencatan senjata dan kesepakatan perdamaian dengan memberi saran kebijakan dan

• Resolusi konflik di Georgia melalui rehabilitasi, pembangunan area konflik, dan program Confidence-Building. • PEACE 42

mediasi. Programme di Irlandia Utara pasca kesepakatan The Good Friday Agreement.

Meskipun instrumen dan mekanisme Uni Eropa dalam penanganan konflik telah diatur, masih terjadi perdebatan dan permasalahan dalam pengambilan kebijakan terkait masalah konflik di internal Uni Eropa. Masing-masing negara anggota Uni Eropa memiliki kepentingan berbeda di setiap wilayah, sehingga perbedaan kepentingan antar negara masih menjadi penghambat dalam upaya mediasi dan proses perdamaian.81

Uni Eropa fokus dalam memainkan peran mediasi dan proses perdamaian di luar negara-negara anggotanya, namun berbanding terbalik dengan konflik yang terjadi di negara anggotanya sendiri. Uni Eropa tidak banyak berperan aktif dalam proses mediasi di konflik sub-nasional negara anggotanya. Seperti yang akan dijelaskan pada sub-bab berikutnya, Uni Eropa menghadapi dilema dalam mengatasi konflik sub-nasional di Basque Country yang telah berlangsung hampir empat puluh tahun. Pemerintah Spanyol dan kelompok separatis Basque ETA belum menemui kesepakatan damai atau gencatan senjata.

B. Uni Eropa dan Konflik di Wilayah Basque Country

Pada konflik internal yang terjadi di negara anggotanya, Uni Eropa lebih memprioritaskan kepentingan negara-negara anggotanya dan kepentingan Uni 81

EU Support to Peace Mediation, hlm.3

43

Eropa sendiri. Di sisi lain Uni Eropa memiliki ketetapan mengenai resolusi konflik dan pencegahannya seperti yang tertuang dalam kesimpulan Dewan Eropa untuk resolusi konflik pada tahun 2011. Salah satu kesimpulannya adalah :

The aim of preserving peace, preventing conflicts from erupting into violence and strengthening international security is an important element of the external action of the European Union as laid down in the Lisbon Treaty. Violent conflicts cost lives, cause human rights abuses, displace people, disrupt livelihoods, set back economic development, exacerbate state fragility, weaken governance and undermine national and regional security. Preventing conflicts and relapses into conflict, in accordance with international law, is therefore a primary objective of the EU’s external action, in which it could take a leading role acting in conjunction with its global, regional, national and local partners.82

“Tujuan memelihara perdamaian, pencegahan konflik yang menimbulkan kekerasan dan memperkuat keamanan internasional merupakan elemen penting dari kebijakan eksternal Uni Eropa sebagaimana tercantum dalam Traktat Lisbon. Konflik mengakibatkan korban jiwa, pelanggaran hak asasi manusia, pengusiran orang, mengganggu mata pencaharian, menghalangi pembangunan ekonomi, memperburuk kerapuhan negara, melemahkan pemerintahan dan merusak keamanan nasional dan regional. Pencegahan konflik yang sesuai dengan hukum internasional, adalah tujuan utama dari tindakan eksternal Uni Eropa, di mana Uni Eropa dapat berperan, bertindak dengan aktor regional, nasional dan lokal.”

Dari poin di atas dapat disimpulkan, Uni Eropa memiliki legitimasi sebagai institusi atau lembaga fasilitator dan mediator konflik. Meskipun Dewan Eropa menerapkan resolusi konflik untuk kebijakan eksternal di luar anggota Uni Eropa, namun tidak menutup kemungkinan bahwa konflik yang terjadi di negara-negara anggota, Uni Eropa berperan dan mengeluarkan kebijakan terkait konflik tersebut. Konflik di Irlandia Utara menjadi contoh, dukungan untuk Peace

82

Council Conclusions on Conflict Prevention, 3101st Foreign Affairs Council Meeting, Luxemburg, 20 Juni 2011

44

Programme di Irlandia Utara83 (saat ini memasuki tahap ketiga) dapat terlaksana tanpa hambatan. Kasus Irlandia Utara dapat menjadi komponen penting dan kemajuan dalam sebuah konflik yang kompleks terjadi di negara anggota Uni Eropa sendiri.

Uni Eropa memberikan dukungan diplomasi pada konflik di Irlandia Utara melalui proses dialog trek II dan trek III.84 Uni Eropa menyediakan dana dan mengeluarkan kebijakan yang independen dari Pemerintah Britania Raya dan Republik Irlandia.85 Kasus Irlandia Utara menciptakan prospek politik internal Uni Eropa dalam menanggapi konflik yang menyangkut kedaulatan, otonomi, dan identitas. Uni Eropa dapat menerapkan kebijakannya yang independen.

Uni Eropa menghadapi situasi dan posisi sulit untuk mengakomodasi isu sub-nasional dan etnis minoritas di Basque Country. Uni Eropa memiliki banyak pertimbangan dalam menanggapi isu konflik sub-nasionalisme di Basque Country. Kekerasan dan teror ETA dalam memperjuangkan kemerdekaan menjadi salah satu pertimbangan Uni Eropa sulit merealisasikan proses perdamaian di Basque Country. Sikap ETA justru membuat Uni Eropa menetapkan kelompok ini sebagai organisasi teroris, diputuskan sepuluh hari pasca kejadian 9/11 melalui 83

SEUBP Peace Programme III terdapat di http://www.seupb.eu/programmes2007-2013/peaceiiiprogramme/overview.aspx diakses pada 15 September 2014

84

Diplomasi Trek II : dialog informal dengan aktifitas pemecahan masalah bertujuan untuk membangun hubungan dan memberi saran atas ide-ide baru yang dapat dijadikan rujukan pada dialog formal, melibatkan akademisi, tokoh agama, NGO, dan masyarakat sipil yang saling berinteraksi secara independen.

Diplomasi Trek III : diplomasi People-to-people oleh individu maupun kelompok swasta dengan menyarankan interaksi dan kesepahaman antara kelompok yang berkonflik dan memberdayakan komunitas tersebut. Biasanya fokus pada akar dari konflik. Ciri dari diplomasi ini sering mengadakan pertemuan dan konferensi, media, dan advokasi politik resmi. Data diolah dari USIP (United States Institute for Peace).

85

N.Fitzduff dan S.Williams, How did Northern Ireland moved towards Peace?, Cumulative Impact study, 2007 hlm.12

45

Kerangka Kerja dalam Menghadapi Terorisme.86 Spanyol menjadi inisiator bersama Jerman dan Italia dalam kerjasama ini. Usaha perdamaian dengan melibatkan ETA sulit terwujud selama kelompok ini masih ditetapkan sebagai organisasi teroris.

Sikap dari Pemerintah Spanyol pun menjadi penghalang dalam upaya penyelesaian konflik oleh Uni Eropa di Basque Country. Spanyol tidak ingin isu mengenai kemerdekaan Basque dibahas di level Uni Eropa. Diplomat-diplomat Spanyol di Uni Eropa pun menghindari pembahasan mengenai kemerdekaan Basque. Seperti, pada Mei 2001, diplomat Spanyol Javier Solana dari CFSP, dalam lawatannya ke Makedonia menolak membicarakan isu kemerdekaan Basque. Ia berpendapat bahwa isu kemerdekaan dan konflik Basque sebaiknya diselesaikan oleh Pemerintah Spanyol sendiri. Uni Eropa tidak ingin mencampuri masalah internal negara anggotanya.87

Pada 14 Februari 2002, Spanyol yang memegang kursi Presiden Dewan Uni Eropa mendesak Parlemen Eropa untuk menolak usulan Juan Jose Ibarretxe Presiden BAC (Basque Autonomous Community) agar Basque diberikan satu kursi di Parlemen Eropa. Ketua Komisi Eropa, Romano Prodi pun menyerahkan menyerahkan isu Basque kepada internal Spanyol.88 Penolakan usulan Ibarretxe membuat adanya himbauan dari juru bicara Herri Batasuna-Jose Alvarez terhadap

86

Stefanie Pleschinger, Allied Against Terror: Transatlantic Intelligence Cooperation, Journal of Yale University, 2006,hlm.55

87

EU Chief Solana Avoids Basque Issues terdapat di

http://www.realitymacedonia.org.mk/web/news_page.asp?nid+2440 diakses pada 10 September 2014

88

Basque Tax Madrid on EU Representation dalam Sembiring, Kekerasan dan Kebebasan, hlm.93

46

warga Basque untuk menolak segala hal yang berbau Uni Eropa, termasuk memboikot Referendum Konstitusi Eropa. Uni Eropa dipandang mengabaikan realita yang terjadi di Basque dan di dalam konstitusi tersebut hanya mementingkan kepentingan Eropa dan negara-negara anggotanya, tetapi Uni Eropa tidak membebaskan wilayah regional untuk menentukan nasib sendiri.89

Uni Eropa tidak mudah mengatasi konflik di Basque Country seperti halnya di Irlandia Utara. Menurut anggota Parlemen Eropa dari Partai Aralar yang tergabung dalam European Free Alliance-Inaki Irazabalbeitia90, penyelesaian konflik di Basque Country bukanlah kompetensi Uni Eropa. Uni Eropa akan mengambil langkah tergantung pada sikap Pemerintah Spanyol.91 Uni Eropa memilih berkompromi dengan kelompok moderat Basque seperti PNV dan BAC (Basque Nationalist Party), sedangkan dengan ETA, Spanyol dan Uni Eropa masih melarang segala macam aktifitas politik.

Uni Eropa memercayai Spanyol sebagai negara yang demokratis dan dapat mengatasi masalah di Basque Country. Upaya penyelesaian konflik di Basque Country dapat terselesaikan dengan cara-cara politis. Faktanya saat ini, di Basque Country tidak hanya dihuni oleh etnis Basque. Dalam beberapa dekade terakhir, warga Basque Country mengalami peningkatan signifikan dari orang-orang non-89

Situs berita eubusiness.com EU Vote Has Regional Powerhouses Devided in Spain terdapat di http://www.eubusiness.com/Institutions/050215024125.ktzvwj5 diakses pada 14 September 2014

90

European Free Alliance dibentuk di Brusel tahun 1981 da resmi menjadi kelompok parlemen resmi thun 1999 adalah kelompok yang dibentuk oleh beberapa anggota Parlemen Eropa yang mewakili region, minoritas, stateless-nations dari Catalunya, Corsica,

Galicia,Flanders, Latvia, Skotlandia, Wales dan Basque Country. The European Free Alliance Group in the European Parliament

91

Balasan email interview penelitian ini via [email protected] pada tanggal 4 September 2014

47

etnis Basque yang justru menolak memisahkan diri dari Spanyol.92 Akan tetapi, rakyat Basque saat ini menginginkan otonomi yang lebih luas dibandingkan upaya untuk merdeka.93

Bagi Uni Eropa sendiri, kemerdekaan Basque Country bukanlah hal merugikan bagi Uni Eropa. Basque Country akan secara otomatis menjadi anggota Uni Eropa jika merdeka dari Spanyol. Wilayah regional dan sub-nasional di Eropa seperti Basque Country tidak anti-Uni Eropa. Basque Country hanya menolak pengendalian oleh pemerintah pusat. Spanyol sangat menghindari kemerdekaan Basque Country yang selama ini menjadi penyokong ekonomi Spanyol. Tetapi kehadiran kelompok radikal ETA yang menjadi bahan pertimbangan Uni Eropa dalam mendukung kemerdekaan Basque Country.

Uni Eropa akan menghadapi konsekuensi jika Basque Country memisahkan diri dari Spanyol, maka warga non-etnis Basque yang tinggal dan bekerja di Basque Country selama beberapa generasi akan menghadapi resiko diskriminasi dari kelompok radikal ETA yang selama ini memperjuangkan kemerdekaan Basque.94 Diskriminasi akan menimbulkan potensi pelanggaran pasal 27 Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik yang menyatakan :95

“In those States in which ethnic, religious or linguistic minorities exist, persons belonging to such minorities shall not be denied the right, in community

92

Lindsay Murphy, EU Membership and an Independence Basque State, Peace International Law Review, Vol.19, Iss.2, Art.7, 2007, hlm.345

93

Balasan email interview penelitian ini via [email protected] pada tanggal 4 September 2014

94

Murphy, EU Membership, hlm.345

95

International Covenant on Civil and Political Rights file pdf terdapat di http://ec.europa.eu/justice/policies/privacy/docs/16-12-1996_en.pdf

48

with the other members of their group, to enjoy their own culture, to profess and practise their own religion, or to use their own language”

“Negara-negara dengan etnis, agama atau bahasa minoritas, kelompok minoritas tersebut tidak boleh diingkari haknya , di masyarakat, dengan anggota lain dari kelompok mereka, menikmati budaya mereka sendiri, menganut dan menjalankan agama mereka sendiri, atau menggunakan bahasa mereka sendiri.”

Alasan tersebut disimpulkan dari Uni Eropa yang menilai bahwa ETA telah melakukan pelanggaran HAM dalam konflik di Basque Country. Pelanggaran HAM tersebut seperti, aksi penculikan, serangan, pembunuhan, pemerasan dan ancaman terhadap warga sipil yang tidak mendukung penuh kemerdekaan Basque.96 Uni Eropa mendukung penuh Spanyol untuk memerangi dan menumpas kelompok separatis ETA.

Terdapat dua faktor ketidakhadiran Uni Eropa dalam proses mediasi dan dialog konflik di Basque Country. Pertama, sejak runtuhnya rezim diktator Franco, Spanyol telah memenuhi syarat mutlak menjadi anggota Uni Eropa menjadi negara demokrasi yang stabil, modernisasi sistem sosial dan perlindungan kaum minoritas.97 Uni Eropa memandang Spanyol mampu mengakomodasi wilayah-wilayah regionalnya dengan memberikan otonomi yang begitu luas terutama di wilayah Basque sejak diberlakukannya Statuta Guernika tahun 1979. Hal tersebut98

96

Murphy, EU Membership, hlm.344

97

Sekilas Uni Eropa terdapat di http://eeas.europe.eu/delegations/indonesia diakses pada 15 September 2014

98

Gaurko Gaiak, Basque Participation in Decision-Making by the European Union Council of Ministers Would Be Possible if There Was Political Will on the Part of Madrid,

49

Kedua, pada tahun 1986, Spanyol bergabung dengan EEC (European Economic Community) atau Masyarakat Ekonomi Eropa. Lawrence Wilde mengemukakan bahwa Uni Eropa adalah sebuah kelompok kapitalis yang membawa agenda-agenda neo-liberal,99 setelah diberlakukannya Single European Act pada tahun 1986, bertepatan dengan aksesi Uni Eropa di Spanyol. 100 Sebagai sebuah kelompok kapitalis, Uni Eropa berkepentingan melindungi aset modal investasinya di Spanyol. Konflik akan menjadi batu sandungan bagi kepentingan Uni Eropa di negara-negara anggotanya, sehingga Uni Eropa lebih mendukung kelas atau kelompok yang lebih dominan dan berideologi sejalan. Uni Eropa memandang konflik antara Pemerintah Spanyol dan ETA yang berhaluan kiri akan mengganggu proses integrasi ekonomi Uni Eropa di Spanyol, sehingga Uni Eropa lebih memilih mendukung Spanyol, karena besarnya investasi mereka di Spanyol.

Meskipun demikian, Uni Eropa mencoba bersikap demokratis dalam menyikapi isu separatisme di Basque Country. Uni Eropa mengijinkan BAC (Basque Autonomous Community) memiliki perwakilan di Brussel markas Uni Eropa sesuai dengan keputusan Mahkamah Konstitusi Spanyol pada tahun 1988,

Dokumen terkait