a. Pendahuluan
Pengembangan profesional guru merupakan prioritas sistem pendidikan dalam usaha memperbarui keterampilan dan basis pengetahuannya. Guru perlu belajar dalam pengembangan profesionalnya seperti mengikuti workshop, pendampingan, dan pelatihan untuk mendukung perannya (Tanang dan Abu, 2014).
Beberapa tinjauan telah menunjukkan bahwa program pengembangan profesional guru bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan pedagogis, kepercayaan diri, dan juga mengembangkan sikap positif dalam mengajar (Radford, 1998; Stein et al., 1999).
Inti program profesional pengembangan bagi guru adalah tentang bagaimana pola belajar, belajar bagaimana mengajar, dan mentransformasikan pengetahuannya ke praktik untuk kepentingan pertumbuhan peserta didik (Avalos, 2011). Oleh karenanya, penyiapan guru yang profesional dan memesona menjadi tantangan bagi pemerintah dan LPTK penyelenggara, khususnya di masa pandemi yang sudah berlangsung satu tahun lebih.
Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah (BDR) Sekjen Kemendikbud Nomor 15 Tahun 2020 telah mengubah mindset guru tentang pembelajaran, mulai tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Problematika pelaksanaan pembelajaran BDR ini dirasakan hampir semua guru, bukan hanya terkait hal teknis, semisal sinyal dan ketersediaan gawai, tetapi juga tentang rancangan yang kuat dan fleksibel untuk pelaksanaan pembelajarannya.
Keterampilan merancang pembelajaran daring yang kemungkinan dalam pelaksanaannya
berbeda dengan rancangan, menjadi tantangan dan sekaligus kendala bagi guru. Hal ini mengemuka pada para mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan PGSD.
Semenjak dimulainya masa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), para mahasiswa mencoba mengidentifikasi kebutuhan rencana pembelajaran yang sesuai dengan kondisi lingkungan (sekolah) tempat PPL. Kondisi sekolah tempat praktik hampir semua terkendala sinyal. Oleh karena itu, variasi moda WAG, Google Meet, dan bahkan home visit menjadi solusi yang cukup efektif.
b. Inovasi PPG Prajabatan
1) Tantangan PPG yang Dihadapi
PPL bagi mahasiswa PPG Prajabatan merupakan kegiatan strategis untuk penguatan penguasaan empat kompetensi guru dalam mewujudkan calon guru profesional sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Kegiatan PPL ini melibatkan Guru Pamong dan Dosen. Peran keduanya menjadi bagian penting proses PPL.
Tujuan PPL mengedepankan pembiasaan dan pembuktian kompetensi mengajar para mahasiswa dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21. Oleh karena itu, Anis Baswedan, saat menjabat Mendikbud, menyampaikan bahwa kompetensi yang dituntut generasi abad 21 adalah kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif (https://www.
kemdikbud.go.id/).
UNY telah mempunyai strategi agar pelaksanaan PPL dapat berjalan dengan baik menyesuaikan dengan kondisi pandemi. Pelaksanaan PPL di UNY dimulai dengan identifikasi kondisi kelas masing-masing mahasiswa.
Berikut hasil identifikasi yang dilakukan mahasiswa bimbingan penulis. Jumlah mahasiswa yang didampingi penulis sebagai pembimbing PPL adalah 7 orang. Problematika terkait pembelajaran dalam jaringan (daring) di tempat praktikan sangat bervariasi, diantaranya adalah sebagai berikut; Perangkat gawai adalah milik orang tua siswa. Tidak semua siswa
dapat mengikuti pembelajaran karena para orang tua bekerja. Permasalahan lain yaitu siswa memiliki gawai dengan paket data, namun sinyal tidak mendukung. Ada pula siswa yang memiliki fasilitas pendukung, tetapi enggan belajar. Selain siswa, ada guru yang mengalami permasalahan sejenis yaitu tidak stabilnya sinyal. Proses pembelajaran daring lebih banyak menggunakan WAG. Selama pembelajaran, sebagian besar siswa kurang responsif. Kondisi demikian menjadi tantangan bagi mahasiswa untuk dapat mengembangkan pembelajaran berkualitas dalam keterbatasan fasilitas.
2) Inovasi yang dikembangkan
Pola PPL dan pendampingan yang dilakukan oleh penulis mengadaptasi pola reflective based teaching dari UNY yang dioperasionalkan menjadi REAKSI dan NYANTRIK. Pola ini dipilih dalam rangka menjawab problematika pelaksanaan PPG seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi. REAKSI dilakukan oleh DPL dan GP dalam perannya sebagai pembimbing dan pendamping, sedangkan NYANTRIK dilakukan oleh mahasiswa saat didampingi. REAKSI-NYANTRIK merupakan adapatasi DIOR (Desain-Implementasi-Observasi-Refleksi) yang dikembangkan oleh Tanoto Foundation.
Penulis sebagai dosen pembimbing lapangan (DPL) dan guru pamong (GP) PPL mengembangkan dan menerapkan pola Collaboration Learning (CL) dalam melakukan pendampingan dan pembimbingan mahasiswa. CL mengakomodasi langkah persiapan sampai refleksi yang dilakukan secara kolaboratif. CL terdiri dari tahapan planning, co-teaching, coaching, dan consulting. Pelaksanaan CL melibatkan mahasiswa, GP, DPL, dan pihak sekolah terkait termasuk wali murid (Fried & Cook, 2007; NAGC,2014). Berikut ini model pendampingannya.
Gambar 4.14 Model pendampingan dengan Collaboration Learning
a) Perencanaan (co-planning)
Perencanaan melibatkan kerjasama antara mahasiswa, GP, dan DPL dalam menyusun dan mengembangkan kebutuhan pendampingan dan pembimbingan PPL (Mofield & Phelps, 2020). Pola tersebut dilakukan penulis secara berkala, yaitu mulai dari setiap minggu, menjadi dua mingguan, dan akhirnya menjadi empat mingguan. Alasan dilaksanakan pola ini yaitu untuk menyesuaikan kebutuhan para mahasiswa.
Mahasiswa menyiapkan segala kebutuhan yang akan digunakan pada pelaksanaan PPL bersama GP dan DPL. DPL dan GP juga merencanakan cara mengamati dengan menggunakan LK yang telah disepakati di universitas. LK ini menjadi pedoman cepat bagi GP dan DPL dalam mengidentifikasi kebutuhan pelaksanaan pembelajaran setiap mahasiswa. Khusus untuk proses pembelajaran praktik 1 dan 2, komponen amatan lebih difokuskan pada ketepatan rencana dan pengelolaan kelas. Hal ini sengaja dilakukan sebagai upaya awal untuk melihat kondisi awal kelas dan kesiapan mahasiswa.
Gambar 4.15 LK Pengamatan Praktik Mengajar
GP dan DPL juga mendiskusikan rencana observasi terkait penyesuaian jadwal. Ini menjadi perhatian bagi GP dan DPL untuk berbagi tugas apabila ada jadwal yang bersamaan.
Rekaman praktik akan menjadi dokumentasi yang dapat dilihat kembali sebagai bahan pencermatan dan refleksi. Kegiatan yang dilakukan oleh GP dan DPL dengan menyiapkan piranti pada perencanaan dapat menjadi informasi untuk mahasiswa tatkala mereka akan melakukan perencaaan untuk menyiapkan pembelajaran di kelas masing-masing.
b) Pelaksanaan (Co-Teaching)
Co-teaching dimaknai sebagai belajar bersama dalam pembimbingan dan pendampingan.
Pada tahap pelaksanaan, ada dua kegiatan. GP dan DPL melaksanakan dampingan dan bimbingan pada mahasiswa, sementara mahasiswa melakukan praktik dalam menyiapkan kebutuhan PPL.
Dalam pembimbingan, di-setting adanya pembagian tugas GP dan DPL saat memberikan respons perangkat pembelajaran. Sebagai contoh: GP akan memberikan masukan tentang media dan bahan ajar-LKPD, DPL akan memberikan masukan tentang IPK, metode, dan penilaian pembelajaran. Setelahnya jika masih ada masukan lain maka GP dan DPL saling melengkapi. Cara ini ternyata cukup efektif untuk meminimalkan repetisi pembahasan.
Pada minggu 1, pendampingan dimulai dari Pengantar Praktik Pembelajaran yang dilakukan menggunakan moda GMeet. Setiap mahasiswa mempresentasikan perangkat pembelajaran untuk minggu 1 (praktik 1 dan 2). GP dan DPL memberi respons terkait perangkat pembelajaran tersebut dengan mencermati beberapa hal penting, misalnya (1) ketepatan penyusunan indikator, (2) ketepatan pemilihan metode dan tahapan kegiatan belajar, (3) ketepatan pemilihan media pembelajaran, (4) kesesuaian penyusunan LKPD dan bahan ajar, serta (5) ketepatan dan kesesuaian penilaian pembelajaran. Diskusi dilakukan pada saat yang sama. Mahasiswa diminta untuk menyiapkan rencana alternatif apabila terjadi ketidaksesuaian rencana dengan pelaksanaan praktik pembelajaran.
Pendampingan penulis salah satunya adalah melakukan pencermatan terhadap perangkat
yang telah disiapkan oleh mahasiswa. Pencermatan tidak hanya melalui ruang GMeet, tetapi juga menggunakan Google Drive dan atau LMS sebagai tempat penyimpanan semua file yang sewaktu dapat dibaca dan dicermati secara asinkronus. Seperti tampak dalam gambar berikut.
Setelah itu mahasiwa memberikan jadwal praktik mengajar pada tiap minggu beserta pemilihan moda mengajar. Pemilihan moda bervariasi tergantung kesepakatan mahasiswa dan orang tua. Ada yang secara penuh menggunakan ruang virtual meeting, ada yang menggunakan WAG, dan ada juga yang menggabungkan keduanya. Bahkan ada yang dilakukan secara luring setiap kelompok kecil, dengan lokasi di rumah salah satu siswa.
Variasi moda ini telah dirancang sejak awal oleh mahasiswa sebagai antisipasi kejadian tak terduga.
Pendampingan GP dan DPL kepada mahasiswa menjadi role model bagi mahasiswa dalam melakukan pembelajaran di kelasnya. Sebagai contoh, saat mereka meminta siswa untuk berdiskusi atau mengerjakan LKPD, guru mendampingi para siswa, memberikan umpan balik deskriptif agar proses dapat berjalan dengan baik. Kegiatan ini menjadi ajang melatih mahasiswa menjadi guru baik secara terbimbing maupun mandiri. Testimoni mahasiswa terkait pola pendampingan yang dilakukan penulis cukup memuaskan. Mahasiswa menyampaikan manfaat yang sangat baik ketika ada masukan dan saran tentang penyiapan perangkat dan pelaksanaan praktik sehingga mereka dapat menyiapkan rencana tindak lanjut berdasarkan refleksi bukan angan-angan.
Pada tahapan co-teaching ini, DPL dan GP mengamati aktivitas-aktivitas yang dilakukan mahasiswa PPG, termasuk saat mahasiswa melakukan aktivitas PPL secara virtual atau melalui platform lain.
Gambar 4.16 Contoh tautan Google Drive perangkat pembelajaran
Gambar 4.17 Pelaksanaan mengajar menggunakan Google Meet
Menggunakan moda WAG Menggunakan moda GCR
Gambar 4.18 Pembelajaran menggunakan moda WhatsApp Group dan Google Classroom Saat mengajar menggunakan GMeet
Pada saat mahasiswa mengajar inilah mahasiswa melakukan pembuktian diri terkait kemampuannya dalam mengajar. Sementara GP dan DPL melakukan amatan secara intensif dengan mencatat hal-hal yang sekiranya menjadi temuan unik dan menarik, misalnya saat mahasiswa terpaksa mengubah cara dikarenakan kondisi sinyal tidak stabil, yang tadinya menggunakan virtual class, berganti menggunakan WAG. Pengamatan juga dilakukan pada pengelolaan kelas. Kelancaran pelaksanaan PPL menjadi tujuan, selain tersampaikannya materi dan keaktifan-keterpahamanan siswa.
Adapun pelaksanaan mengajar yang dilakukan dengan cara home visit. Berjalan cukup efektif.
Ini dilakukan dengan alasan moda daring tidak bisa dilaksanakan. Home visit dilakukan dengan mengumpulkan siswa-siswa dengan lokasi saling berdekatan. Guru mengumpulkan para siswa di salah satu rumah.
Gambar 4.19 Pelaksanaan home visit
Dampak baiknya adalah anak termotivasi untuk belajar. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Dwita, dkk (2018). Model ini mempunyai kelebihan dan tantangan tersendiri menurut para mahasiswa. Kelebihannya adalah siswa senang dan lebih memahami materi, sedangkan tantanganya adalah praktikan harus mengulang materi yang sama, bahkan ada yang membawa proyektor untuk dapat menyampaikan materi dengan file PPT.
Ada kala, antar sesama pratikan mengikuti kelas teman lain, agar memperoleh pengalaman yang bervariasi sehingga dapat saling memberikan masukan. Pada kegiatan ini pula,
mahasiswa melakukan interaksi dan komunikasi antar mahasiwa, dengan GP dan DPL tentang hasil pelaksanaan yang telah mereka lakukan.
c) Refleksi (Consultation dan Coaching)
Konsultasi adalah upaya kolaboratif antara mahasiswa dengan GP dan DPL (sebagai konsultan) untuk memberikan saran kepada mitra kolaborasi. Agar konsultasi benar-benar merupakan upaya kolaboratif, penting agar konsultan tidak mendominasi percakapan (Buettner, 2010). Pada tahap ini pembinaan (coaching) dilakukan oleh GP dan DPL yang bertujuan membantu guru memperjelas tujuan, memantau kemajuan, memecahkan masalah, dan membantu guru mencapai tujuan melalui strategi dan dukungan sampai tujuan tercapai (Knight, 2007).
Kegiatan konsultasi dan pembinaan dilakukan dengan cara refleksi yang melihat kembali capaian, kendala, dan upaya solutif yang praktikan/mahasiswa lakukan selama PPL. Praktikan/
mahasiswa akan menceritakan ketiga hal tersebut sebagai upaya melakukan introspeksi, interaksi, dan komunikasi dan juga telah diwujudkan dalan jurnal reflektif. GP dan DPL melengkapi serta memberikan penguatan, sekaligus mengindentifikasi apa yang mungkin diperbaiki atau diperbarui untuk pendampingan berikutnya. Setelahnya diadakan diskusi secara aktif, berbagi pengalaman yang mungkin akan menjadi modal solusi bagi teman lain.
Selain itu, DPL dan GP juga berdiskusi dengan mahasiswa tentang cara pendampingan yang mungkin dapat diperbaharui.
Gambar 4.20 Pelaksanaan Refleksi
c. Penutup
Tahapan REAKSI di atas telah melibatkan aktivitas NYANTRIK para praktikan. Di setiap tahapan, keterlibatan aktif mahasiswa bukan hanya menyampaikan rencana dan pelaksanaan PPL masing-masing, tetapi juga turut memberikan masukan dan pendapat bagi para mahasiswa lain, yang pada akhirnya mahasiswa mampu melakukan continuing professional development. Dalam proses NYANTRIK, mahasiswa mendapatkan banyak hal dan bercermin dari tahapan yang dilakukan GP dan DPL, mulai dari merencanakan, melaksanakan, mencatat yang telah dilakukan (kelebihan dan kekurangan), dan melakukan refleksi untuk menyusun rencana tindak lanjut untuk peningkatan kualitas pembelajaran dan non pembelajaran.
REAKSI-NYANTRIK akan menjadi pembiasaan bagi GP, DPL, dan Praktikan. Bagi praktikan, mereka akan menjadi terbiasa secara kritis dan berkelanjutan melakukan siklus rencana, pelaksanaan, amatan, dan refleksi secara mandiri dan bermuara pada kebutuhan bahwa siklus tersebut akan dilakukan pada setiap PBM dilakukan, peningkatan menjadi hal wajib yang akan mereka lakukan secara mandiri dan berkelanjutan. Sementara bagi GP dan DPL, proses ini akan menjadi stimulus untuk selalu fleksibel menyikapi pendampingan PPL sehingga yang ideal akan selalu diperbaharui.