• Tidak ada hasil yang ditemukan

Estimasi air yang tersedia dan kebutuhan

dari hujan di hulu , intensitas 0,01388 m/ hari -hujan

Estimasi air yang tersedia dan kebutuhan

Seandainya air hujan itu bisa di tampung pada waktu hujan yang Daerah aliran Jatiluhur dan Sungai Cisadane melalui Bendung Pasar Baru dengan membeli air baku di kedua wilayah tersebut untuk keperluan pelayanan masyarakatnya, padahal potensi sumber air dari 13 sungai yang melewati wilayahnya dibiarkan terbuang kelaut waktu musim hujan karena untuk mengendalikan banjir, kejadian ini yang seharusnya tidak boleh terjadi karena sudah diberikan rahmat di wilayahnya tetapi belum bisa mensyukuri rahmatnya akirnya belum diberikan petunjuk untuk penyelesaiaanya masalah banjir yang sudah terjadi selama hampir 40 tahun lamanya, bahkan makin parah cara penanganannya yaitu menghalau awan ke tengah laut atau ke daerah lain se olah olah menolak awan yang telah dibawa oleh Allah SWT.

Insya Allah tulisan saya ini bisa meng inspirasi kepada yang membuat kebijakan di Negara yang kita cintai ini, karena Indonesia secara geografi letaknya sangat baik untuk kehidupan makhluk di bumi ini sebab oxsigennya berlebihan karena hutannya terluas di bumi ini dan begitu juga dengan curah hujannya cukup banyak serta sinar matahari yang begitu ideal siang dan malam dengan waktu yang sama lamanya yaitu 12 jam, karena posisinya yang berada di garis katulistiwa.

Kesimpulan dari solusi Pengendalian Banjir di DKI adalah.

1.Perbaikan tanah resapan di DAS dan DKI aplikasikan hasil studi Depatemen Kehutanan judul RENCANA DETIL PENANGANAN BANJIR JABODETABEKJUR

2.Pembutan Waduk di hilir atau di laut untuk menampung air hujan serta normalisasi seluruh sungai dan drainase di DKI.

Untuk Penanggulangan Banjir secara umum atau mencegah banjir adalah harus kembali ke filosofi inti ditunrunkannya hujan tersebut itu adalah pokok persoalannya karena, itu hukum dari Allah SWT yang Maha benar dengan firmannya :

Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber di bumi kemudian ditumbuhkannya-Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu Kami melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal”. (QS.Az-Zumar,:21).

Saya sebagai penulis mengucapkan terima kasih atas data data dari sumber para pakar yang telah memberikan datanya melalui penampilannya di internet tanpa data data dari nara sumber tersebut saya tidak bisa memberikan kesimpulan tersebut sebab itu data dan fakta apa yang terjadi selama hampir 40 tahun terakhir ini, dan insya Allh tulisan saya ini bermanfaat bagi yang membacanya, amiiin.

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan pembangunan Waduk Ciawi di hulu Sungai Ciliwung tersendat karena kebutuhan dana untuk pembangunannya terlalu besar

dibandingkan manfaat pendirian waduk itu. Pembangunan waduk yang rencananya bertempat di Ciawi, Jawa Barat itu diperkirakan akan menelan dana Rp 3,5 triliun.

»Bandingkan, harga pembangunan Waduk Jatigede dengan kapasitas air hampir 1 miliar kubik, hampir sama dengan Waduk Ciawi yang hanya dapat menampung 33 juta kubik air,” kata Djoko saat ditemui di sela-sela kunjungan ke Kanal Banjir Barat Jumat, 18 Januari 2013.

Hal senada juga dikatakan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Muhammad Hasan. Ia menjelaskan, pertimbangan dana pembangunan tersebutlah yang membuat pemerintah mempertimbangkan untuk mengehntikan pembangunan.

Gubernur DKI Jakarta Jokowi sempat minta tolong Wakil Presiden Boediono untuk mempercepat

pembangunan Waduk Ciawi. Jokowi yakin waduk itu bisa mengurangi debit air Ciliwung yang masuk ke Ibu Kota.

»Pembangunan Waduk Ciawi termasuk mahal,” kata Hasan pada kesempatan yang sama. Mahalnya pembangunan waduk dikarenakan waduk harus melalui proses review geologi. Review ini penting karena kondisi lahan waduk dinilai mengkhawatirkan sehingga perlu penataan geologi ulang untuk mengetahui dengan pasti seluruh kondisi tanah yang ada.

Akibat tanah yang dinilai lebih labil dan sulit dibangun, harga konstruksi pembangunan waduk pun juga menjadi lebih besar daripada pembangunan Waduk Jatigede. Kementerian Pekerjaan Umum tidak ingin pembangunan waduk yang sangat mahal itu hanya sia-sia karena air dalam waduk malah merembes dan tidak bisa menampung aliran air di hulu sungai.

Selain itu, pembangunan waduk tersebut dinilai hanya dapat mengurangi resiko banjir di di hilir, yaitu Jakarta, sekitar 10-15 persen saja.

"Karena semua pertimbangan itu, desain teknik dan kajian ulang geologi tanah pembangunan waduk terus dilakukan dengan hati-hati," kata Djoko Kirmanto. Setelah desain teknik jadi, Kementerian Pekerjaan

Umum akan meminta persetujuan DPR sebelum melanjutkan proyek ini. »Jadi pembangunan Waduk Ciawi manfaatnya tidak seberapa,” kata Djoko.

RAFIKA AULIA

Kamis, 23 Januari 2014 | 01:50

Waduk Ciawi dan Sukamahi Hanya Bisa Kurangi 10% Banjir Jakarta

Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto bicara soal banjir di Jabodetabek. (sumber:

Beritasatu.com)

Jakarta - Waduk Ciawi dan Sukamahi yang rencananya mulai dibangun tahun 2015 dan selesai tahun 2018, hanya bisa mengurangi banjir masuk ke Jakarta sekitar 10%. Waduk Sukamahi disebut hanya bisa menampung air 2,4 juta meter kubik (m3), sementara Waduk Ciawi cuma bisa menampung air 11,8 juta m3.

Hal tersebut sebagaimana dikatakan oleh Menteri Pekerjaan Umum (PU), Djoko Kirmanto, di kantornya, Rabu (22/1). Dijelaskan Djoko, Waduk Sukamahi akan dibangun di atas lahan seluas 46 hektare (ha), sedangkan Waduk Ciawi akan dibangun di atas lahan seluas 104 ha.

Djoko pun mengatakan, dua waduk yang terletak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat itu, dapat mulai

dibangun pada tahun 2015, dengan catatan pengadaan tanah yang dilakukan pemerintah daerah dapat selesai. Konstruksinya direncanakan akan berlangsung selama 2-3 tahun.

"Bisa dibangun pada tahun 2015. Saat ini detail engineering design sedang disempurnakan. Dapat selesai pada 2018, namun tergantung pembebasan lahan," kata Djoko.

Djoko pun mengatakan bahwa dana untuk membangun dua waduk itu disediakan sebesar Rp1,8 triliun, di

mana semuanya berasal dari anggaran Kementerian PU.

Penulis: E-8/SIT

Dokumen terkait