• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.7 Estimasi Pendapatan Responden dari Tanaman Kerjasama

Dalam penelitian ini juga dilakukan penghitungan estimasi pendapatan yang akan diperoleh petani dari bagi hasil (sharing) tanaman kerjasama pada saat panen di akhir daur dengan menggunakan rumus Discount Rate pada tingkat suku bunga 12%. Estimasi pendapatan dari tanaman kerjasama setiap tahunnya dirata-ratakan, kemudian dibagi 8 untuk memperoleh besaran pendapatan per tahun. Selanjutnya hasilnya dikalikan dengan luas lahan milik petani yang masuk dalam petak kerjasama. Dari hasil penghitungan diketahui bahwa jumlah rata-rata yang akan diperoleh petani dari tanaman kerjasama adalah sebesar Rp 912.803,-/Ha/tahun. Jumlah bagi hasil yang diterima petani akan berbeda-beda sesuai dengan luas lahan yang dimiliki. Apabila dihitung secara keseluruhan untuk lahan garapan petani yang masuk dalam petak kerjasama, yaitu seluas 101,85 Ha, maka petani responden akan memperoleh tambahan pendapatan sebesar Rp 92.969.067,-/tahun. Penghitungan estimasi pendapatan tanaman kerjasama dari panen di akhir daur dapat dilihat pada Lampiran 7.

Jika estimasi total pendapatan tanaman kerjasama untuk petani responden yang lahannya masuk dalam petak kerjasama ini dijumlahkan dengan pendapatan sebelumnya yaitu Rp 523.709.000,- maka total pendapatan bertambah menjadi Rp 616.678.067,-/tahun. Meskipun total pendapatan setelah ditambah dengan hasil panen tanaman kerjasama masih lebih rendah daripada total pengeluaran, yaitu Rp 799.474.500,-, tetapi dari hasil estimasi ini diketahui bahwa pendapatan tahunan petani menjadi bertambah dan dapat digunakan untuk untuk membantu

menutupi kekurangan tersebut, sehingga defisit keuangan rumah tangga responden tidak sebesar sebelumnya sebelum ditambah pendapatan dari tanaman kerjasama.

Natalia (2005) dalam penelitiannya yang berjudul kajian kemitraan antara Perum Perhutani dengan petani melalui program pengelolaan hutan bersama masyarakat, pada kasus di Desa Cibeber II, RPH Leuwiliang, BKPH Leuwiliang, KPH Bogor menyimpulkan bahwa Kemitraan melalui program PHBM yang diterapkan di Desa Cibeber II, RPH Leuwiliang memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan anggota Kelompok Tani Hutan Tani Mandiri dengan rata-rata Rp 866.667,-/tahun atau Rp 72.222,25,-/bulan atau 12,8% dari pendapatan total petani.

Permana (2007) juga melakukan penelitian tentang kajian kemitraan antara Perum Perhutani dengan petani melalui program pengelolaan hutan bersama masyarakat di Desa Protomulyo dan Desa Magelung, RPH Mugas, BKPH Mangkang, KPH Kendal, Perum Perhutani Unit 1 Jawa Tengah. Kontribusi PHBM terhadap pendapatan total petani yaitu sebesar Rp 1.289.225,-/tahun atau 16,80%.

Penelitian tentang kemitraan antara petani dengan perusahaan lokal dilakukan oleh Barus (2005) yaitu kemitraan pola PIR antara Petani Mitra dengan PT Toba Pulp Lestari, Tbk di Kabupaten Toba Samosir Sumatera Utara. Petani mitra sebagai plasma menyediakan lahan, mengeluarkan biaya pengadaan alat dan pajak lahan, sedangkan biaya pembangunan HTI PIR menjadi tanggung jawab pihak perusahaan inti. Pihak plasma terbagi menjadi 2, yaitu Plasma A dan Plasma B. Plasma A adalah plasma yang ikut sebagai tenaga kerja harian pada lahannya, sedangkan Plasma B adalah plasma yang tidak ikut sebagai tenaga kerja harian dan menyerahkan pengelolaan HTI PIR sepenuhnya kepada pihak perusahaan inti. Pendapatan bersih Plasma A adalah Rp 6.632.897,80,-/Ha/daur, sedangkan pendapatan bersih Plasma B sebesar Rp 3.491.250,-/Ha/daur dengan asumsi 1 tahun adalah 10 bulan dan 1 daur 7 tahun. Petani plasma yang ikut mengerjakan lahan PIRnya akan memperoleh keuntungan lebih besar daripada petani plasma yang tidak ikut mengelola lahannya.

Lestari (2011) dalam penelitiannya tentang analisis pola dan kelayakan kemitraan antara petani hutan rakyat dengan PT Bina Kayu Lestari Group di Tasikmalaya Jawa Barat menyimpulkan bahwa pendapatan rumah tangga petani dari hutan rakyat berasal dari penjualan kayu sengon dan tumpang sari. Penelitian dilakukan di tiga desa/kelurahan, yaitu Desa Mekarjaya, Kelurahan Urug dan Desa Leuwibudah. Pendapatan dari hutan rakyat untuk petani di Desa Mekarjaya adalah Rp 598. 087,-/tahun, petani di Kelurahan Urug sebesar Rp 1.587.507,- /tahun, sedangkan pendapatan petani di Desa Leuwibudah adalah sebesar Rp 3. 854.996,-/tahun. Pendapatan responden di Desa Leuwibudah lebih tinggi karena umumnya mereka mempunyai lahan yang lebih luas dibandingkan kedua desa lainnya dan merupakan lahan milik pribadi.

Suryono (2004) meneliti sistem pengelolaan hutan rakyat pola kemitraan di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen. Petani hutan rakyat bermitra dengan Koperasi Industri Kecil (KOPIK). Pendapatan petani dari hutan rakyat saat penelitian dilakukan hanya diperoleh dari tanaman pengisi yang ditanam secara tumpang sari, yaitu Rp 100.000,-/tahun untuk petani strata 1 (< 0,5 Ha), Rp 171.177,-/tahun untuk petani strata II (0,5 – 1 Ha) dan Rp 137.778,- /tahun untuk petani strata III (> 1 Ha) atau dengan rata-rata sebesar Rp 317.103,- /tahun. Kontribusi hutan rakyat dari tanaman pokok berupa kayu Jati (Tectona grandis) dihitung dengan menggunakan pendekatan Net Present Value (NPV) pada tingkat suku bunga 12%. Hasil perhitungan menunjukkan proyeksi kontribusi tanaman jati sebesar Rp 623.894,-/tahun untuk petani strata 1 (< 0,5 Ha), Rp 1.710.705,-/tahun untuk petani strata II (0,5 – 1 Ha) dan Rp 4.115.756,- /tahun untuk petani strata III (> 1 Ha).

Petani umumnya hanya memiliki aset sumberdaya alam (lahan) dan selalu dihadapkan pada berbagai kendala keterbatasan, khususnya keterbatasan skala usaha, manajemen usaha, modal, teknologi, keterampilan usaha, dan pemasaran produksi. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang telah dipaparkan maka dapat diambil kesimpulan bahwa adanya suatu kemitraan memberikan dampak besar, khususnya kepada petani mitra. Pada kasus kemitraan antara Perum Perhutani, PT KIFC dan Masyarakat Desa Hutan, meskipun hasilnya belum dapat menutupi pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari rumah

tangga petani, namun sejauh ini kemitraan sudah memberikan dampak yang besar bagi petani, mengingat dalam pelaksanaan kemitraan petani tidak mengeluarkan biaya maupun menanggung resiko usaha, melainkan hanya ikut berpartisipasi dalam kegiatan penanaman dan pemeliharaaan, itu pun dengan diberikan upah harian. PT KIFC dan Perum Perhutani memiliki rencana untuk melanjutkan kemitraan apabila hasilnya menguntungkan bagi masing-masing pihak, begitu pula dengan petani, sebagian besar responden menyatakan mereka tidak keberatan untuk melanjutkan kemitraan asalkan mereka masih diperbolehkan tinggal dan menggarap lahan milik Perum Perhutani. Solusi yang mungkin diberikan agar petani lebih merasakan manfaat kemitraan adalah dengan meningkatkan proporsi bagi hasil untuk petani dan memperbaiki sarana aksesibilitas menuju petak kerjasama agar hasil tumpang sari petani dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi.

Dokumen terkait