• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi 10: menyatakan diri berhutang budi (go on record as incurring a debt, or as not indebting H)

2.1.9 Etika Berbicara didalam Islam

Berbicara adalah salah satu sarana komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam Al-qur’an disebutkan bahwa kemampuan berbicara adalah fitrah manusia.

“Tuhan yang Maha pemurah, yang telah mengajarkan Alqur’an. Dia menciptakan manusia dan mengajarnya pandai berbicara” (QS Ar Rahmaan (55): 1-4).

Dalam berbicara hendaknya diperhatikan beberapa etika yang mendatangkan kebaikan dan keberkahan. Tidak semua orang yang berbicara itu memperhatikan etika dalam menyampaikan pesan melalui pembicaraan. Begitu pula khususnya bagi setiap muslim harus memperhatikan etika berbicara yang juga berkaitan dengan kesantunan berbahasa seorang muslim.

Dalam salah satu hadis disebutkan “muslim yang baik itu adalah muslim yang menyelamatkan muslim lainnya dari gangguan tangan maupun lisannnya” (HR Bukhari). Keyakinan bahwa diri kita tidak boleh menjadi seseorang yang merugikan orang lain, harus lah selalu dihujamkan kedalam hati.Termasuk didalamnya adalah dalam berbicara.

Dalam hal berbicara, Imam Al-Ghazali hanya memperbolehkan satu jenis pembicaraan saja, yaitu pembicaraan yang hanya memiliki manfaat dan tidak mengandung bahaya. Selanjutnya Imam Al- Ghazali menyebutkan “pembicaraan yang banyak mengandung bahaya dan tidak memiliki manfaat jelas harus kita hindari. Pembicaraan seperti itu adalah pembicaraan yang berlebihan”. Beberapa etika berbicara seorang muslim dapat dilihat sebagai berikut.

(1) Hendaknya pembicaraan selalu di dalam kebaikan, sebagaimana firman Allah SWT.

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia." [QS An Nisaa’ (4): 114].

Bagi setiap umat manusia didunia, tidak perduli beragama apapun mengajarkan kebaikan termasuk juga dalam hal berbicara. Topik pembicaraan harus baik, tujuan pembicaraan harus baik dan memberi manfaat kebaikan.

(2) Sebaiknya jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna. Rasulullah SAW bersabda“Termasuk kebaikan Islamnya seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna.” [HR Ahmad dan Ibnu Majah].

Salah satu yang tidak berguna dalam pembicaraan, dan bahkan bisa merugikan diri sendiri yang perlu kita hindari adalah bergunjing (ghibah) dan memfitnah. Bergaul dengan sesama memang baik dalam kaitan silaturahmi, dan orang bijak akan membatasi memasuki suatu kumpulan untuk menghindari ‘mulut yang berbahaya’.

(3) Hendaknya orang yang berbicara tidak membicarakan semua apa yang pernah didengar, sebab bisa jadi semua yang didengar itu menjadi dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang yaitu apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar.” [HR Muslim].

(4) Menghindari perdebatan dan saling membantah, meskipun kita berada di pihak yang benar, dan menjauhi perkataan dusta meskipun bercanda.

Rasulullah SAW bersabda ”Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pertikaian (perdebatan) meskipun ia

benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta meskipun bercanda.” [HR Abu Daud].

(5) Berbicara dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Aisyah RA menuturka

"Sesungguhnya Nabi SAW apabila membicarakan suatu pembicaraan, sekiranya ada orang yang menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya."

Karena jika berbicara dengan tergesa-gesa, maka bisa mengakibatkan salah ucap, pembicaraan menjadi kurang jelas, dan bisa menimbulkan salah paham.

(6) Hindari memotong pembicaraan. Hendaknya kita memberikan kesempatan yang wajar kepada seseorang yang menguraikan sesuatu dengan tuntas. Bila ada hal-hal yang tidak sesuai atau perlu dikoreksi, lakukankah kemudian setelah selesai uraian itu, bukan dengan cara memotong pembicaraan untuk terus berbicara. Memotong pembicaraan adalah salah satu pengejawantahan dari sifat suka banyak bicara dan berpura-pura fasih, yang berarti pula kesombongan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Dan sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih, dan orang-orang yang mutafaihiqun. Para shahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apa arti mutafaihiqun? Rasulullah menjawab: Orang-orang yang sombong." [HR Tirmidzi]. Jadi jika kita ingin mengkoreksi isi pembicaraan seseorang, hendaknya kita lakukanlah koreksi atau menyela pembicaraan dengan cara yang baik dan pada saat yang tepat di sela-sela pembicaraan.

(7) Janganlah berbicara bohong. Cukup banyak kerugian bagi pembohong yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Hadis, antara lain.

● “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta”. [QS An Nahl (16): 105].

● “Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang keterlaluan dan suka berbohong”. [QS Al Ghaafir (40): 28].

● ”Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat." [HR Muslim].

● “Celaka bagi orang yang bercerita kepada satu kaum tentang kisah bohong dengan maksud agar mereka tertawa. Celakalah dia, celaka dia.”

[HR Abu Dawud dan Ahmad].

● "Suatu khianat besar bila kamu berbicara kepada kawanmu dan dia mempercayai kamu sepenuhnya padahal dalam pembicaraan itu kamu berbohong kepadanya." [HR Ahmad dan Abu Dawud].

(8) Hindari berbicara yang bernuansa penghinaan, ucapan apapun yang bersifat merendahkan, mengejek dan menghina seseorang atau kelompoknya dalam bentuk apapun, baik tentang kepribadian, postur tubuh, maupun keadaan ekonomi-sosialnya. Tidak ada masalah yang bisa diselesaikan dengan melakukan celaan apalagi dengan sikap penghinaan, dan merendahkan orang lain. Akibat yang muncul dari perbuatan ini adalah sakit hati dan dendam.

Untuk itu, berusahalah menahan diri dari untuk tidak memberikan komentar

atau bersikap sembarangan yang bisa membuat orang lain merasa direndahkan.

(9) Hindari ikut campur urusan pribadi orang lain, apalagi kalau memang kita tidak berkepentingan dan tidak memberikan manfaat. Setiap orang pasti mempunyai masalah pribadi yang sensitif. Jika kita usik batas pribadi orang lain, bisa menimbulkan ketidaksenangan terhadap kita. Maka janganlah kita usil, menanyakan tentang hutang, aib, masa lalu, kekurangan orangtua atau masalah-masalah lain yang berhubungan dengan pribadi orang lain.

(10) Jangan mengungkit masa lalu tentang kesalahan, aib atau kekurangan seseorang. Siapa tahu kelamnya masa lalu itu sudah terhapus melalui taubatan nasuha-nya. Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kesalahan, aib, atau kekurangan, yang ingin disembunyikannya, dan kitapun memiliknya. Maka, janganlah pernah ada keinginan untuk mengungkit masa lalu, apalagi menyebarkan luaskannya. Hal ini sama halnya dengan mengajak bermusuhan karena mencemarkan kekurangannya. Belajarlah untuk bersama-sama memulai lembaran-lembaran baru yang lebih putih bersih dan bersemangat untuk mengisi lembaran baru tersebut dengan kebaikan

(11) Jangan membela musuh seseorang. Setiap orang mempunyai kawan yang disukai. Jika membela musuhnya, kita bisa dianggap bergabung dengan musuhnya itu, dan sebaliknya janganlah mencaci kawannya, bisa diartikan kita juga sedang mencaci dirinya. Karena itu hendaknya kita berhati-hati berbicara dengan seseorang antara lain dengan mencoba mengetahui terlebih

dahulu siapa kawan atau musuhnya, dan bersikaplah netral sepanjang kita menghendaki kebaikan bagi semua pihak dan sadar bahwa untuk berubah kita harus siap menjalani proses dan tahapan. Dalam bergaul, yang harus kita prioritaskan adalah memperbanyak teman, bukan memperbanyak musuh.

(12) Jangan merusak kegembiraan orang lain atau orang yang sedang bersuka-cita.

Misalnya ada seseorang yang merasa gembira mendapat hadiah barang bagus dari luar negeri, padahal kita tahu bahwa hadiah tersebut buatan Indonesia yang dijual di pasaran dunia, maka tidak perlu kita sampaikan fakta tersebut hanya karena ingin bicara. Biarkan dia bergembira dengan hadiah tersebut (13) Hindari membandingkan, baik berupa jasa, kebaikan, penampilan, harta dan

kedudukan seseorang dengan orang lain, yang jika mendengarnya, akan menyebabkan dia merasa tidak berharga atau diremehkan, menjadi rendah diri dan terhina. Termasuk apabila seseorang itu sudah berumahtangga, janganlah sekali-kali membandingkan isteri / suami dengan perempuan / laki-laki lain.

(14) Pandai-pandailah dalam mengendalikan amarah. Bila kita marah, maka waspadalah. Kemarahan yang tidak terkendali biasanya menghasilkan kata-kata dan perlaku keji yang bisa melukai orang lain. Tentu perbuatan ini akan menghancurkan hubungan di lingkungan manapun. Maka, sudah seharusnya kita melatih diri untuk mengendalikan amarah sekuat upaya. Jika kemarahan itu tetap terjadi, pilihlah kata-kata yang paling tidak melukai.

Sederhanakanlah kata-kata itu. Persingkat kemarahan dan jangan malu untuk

meminta maaf jika ada ucapan yang kita lontarkan terasa mungkin menyakitkan hati orang lain atau berlebihan.

(15) Jangan menertawakan. Sikap menertawakan biasanya muncul karena kita menyangsikan kekurangan orang lain. Sikap, penampilan dan rupa seseorang, kadang membuat kita tertawa karena terlihat lucu. Ingatlah, tertawa yang tidak pada tempatnya (berlebihan) akan mengundang rasa sakit hati.

Itulah beberapa etika berbicara seorang muslim. Adapun yang harus

diperhatikan didalam penelitian ini bahwa ada kesejajaran persepsi ataupun sudut pandang dari penulis bahwa penelitian ini ingin mencari adakah kesamaan pandangan antara strategi kesantunan berbahasa Brown dan Levinson dengan etika / kesantunan berbicara seorang muslim didalam acara debat Kontoversi SKB Ahmadiyah di TV One.

Hal ini dijadikan permasalahan didalam penelitian ini dengan alasan bahwa topik debat tentang Islam, kemudian para pelaku diketahui pula merupakan muslim yang juga kompeten untuk berbicara Islam. Oleh karena itu adalah sangat menarik untuk menggabungkan pendapat-pendapat para ahli alim ulama tentang etika berbicara seorang muslim dengan fenomena debat khususnya bila dikaitkan dengan pelaku debat itu sendiri. Melalui tesis ini di harapkan juga dapat membuka wacana ber bahasa santun bagi pelaku debat muslim.

Dokumen terkait