BAB II ANALISIS PERILAKU NASABAH BANK SYARIAH
B. Etika Konsumsi Islam
Secara umum, etika dapat didefinisikan sebagai suatu usaha sistematis dengan menggunakan akal untuk memaknai individu atau sosial, pengalaman moral, dimana dengan cara itu dapat menentukan peran yang akan mengatur tindakan manusia, dan nilai yang bermanfaat dalam kehidupan.35 Sedangkan Beekun36 mendefiniskan etika sebagai seperangkat prinsip moral yang membedakan yang baik dari yang buruk. Etika adalah bidang ilmu yang bersifat normatif karena ia berperan menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh seorang individu.
Seringkali istilah etika dan moral dipergunakan secara bergantian untuk maksud yang sama. Hal ini dapat dipahami karena sebenarnya keduanya berasal dari dua asal kata yang berbeda, tetapi mempunyai arti yang sama. Etika
dari kata “ethos” berasal dari bahasa Yunani yang
mempunyai pengertian adat istiadat, kebiasaan sikap, dan cara berpikir. Sedangkan moral berasal dari bahasa latin
35 Taha Jabir al-Alwani, Bisnis Islam, terj. Suharsono, (Yogyakarta: AK Group, 2005), hlm. 4.
36 Rafik Issa Beekun, Islamic Business Ethics (Herndon Virginia U.S.A: International Institute of Islamic Thought, 1997), hlm. 2.
SPIRITUAL MOTIVATION ON SYARIAH MARKETING
“moralis” yang berarti kebiasaan dan adat (custom atau mores).
Sementara itu, dalam Islam istilah yang paling dekat berhubungan dengan istilah etika di dalam al Qur’an adalah
khuluq. Al-Qur’an juga mempergunakan sejumlah istilah lain
untuk menggambarkan konsep tentang kebaikan yaitu khayr (kebaikan), birr (kebenaran), qist (persamaan), ‘adl
(kesetaraan dan keadilan), haqq (kebenaran dan kebaikan),
ma’ruf (mengetahui dan menyetujui), dan taqwa (ketaqwaan). Tindakan yang terpuji disebut sebagai salihat dan tindakan yang tercela disebut sebagai sayyi’at. 37
Ekonom Muslim yang banyak membicarakan mengenai norma dan etika konsumsi Islam, diantaranya adalah Yusuf Qardhawi dan Mannan. Yusuf al-Qardhawi, seorang ulama Mesir memaparkan beberapa norma dan etika konsumsi dalam Islam, yang menjadi perilaku konsumsi Islami, diantaranya adalah:38
1. Membelanjakan harta dalam kebaikan dan menjauhi sifat kikir.
Memproduksi barang yang baik dan memiliki harta adalah hak sah menurut Islam. Namun, pemilikan harta itu bukanlah tujuan, tetapi sarana untuk menikmati karunia Allah dan sarana untuk mewujudkan kemaslahatan manusia. Pemanfaatan harta manusia harus mengikuti ketentuan yang
telah digariskan Allah melalui syari’at Islam, yang dapat
dikelompokkan menjadi dua sasaran, yaitu pemanfaatan
37Rahmani Timorita Yulianti, ”Kerangka Aksioma Etik Ekonomi Islam”, dalam M. Rusydi (ed), Filsafat Ekonomi Islam (Yogyakarta: FSEI PPs UIN SUKA, 2008), hlm. 117.
38 Yusuf Qardhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm. 138-166.
ANALISIS PERILAKU NASABAH BANK SYARIAH
harta untuk kepentingan ibadah dan pemanfaatan harta untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga. 39
Pemanfaatan harta untuk kepentingan ibadah menjadi salah satu tolok ukur ketaqwaan kepada Allah. Pemanfaatan harta untuk ibadah ini meliputi jenis belanja yang demikian luas sehingga kita tidak boleh kikir, namun juga tidak boleh berlebihan atau melampaui batas.40 Hal ini berarti memanfaatkan harta untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga juga merupakan kewajiban bagi seorang Muslim.
2. Tidak melakukan kemubaziran.
Islam mewajibkan setiap orang untuk membelanjakan harta miliknya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga serta menafkahkannya di jalan Allah. Dengan kata lain, Islam adalah agama yang memerangi kekikiran dan kebakhilan. Dasar pijakan kedua tuntunan yang adil ini adalah larangan bertindak mubazir karena Islam mengajarkan agar konsumen bersikap sederhana. Sikap ini dilandasi oleh keyakinan bahwa manusia harus mempertanggungjawabkan hartanya di hadapan Allah. Beberapa sikap lain yang harus diperhatikan adalah: a) menjauhi berhutang; b) menjaga asset yang pokok dan mapan; c) tidak hidup mewah; dan d) tidak boros dan menghambur-hamburkan harta.41
39Ibid., hlm. 139.
40 Batas ini adalah besarnya belanja untuk kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Lihat, M.B. Hendrie Anto, Pengantar Ekonomika Mikro Islami., hlm. 139-140.
SPIRITUAL MOTIVATION ON SYARIAH MARKETING
3. Sikap sederhana
Sikap hidup sederhana sangat dianjurkan oleh Islam. Membelanjakan harta pada kuantitas dan kualitas secukupnya adalah sikap terpuji, bahkan penghematan merupakan salah satu langkah yang sangat dianjurkan pada saat krisis ekonomi terjadi. Dalam situasi ini sikap sederhana juga dilakukan untuk menjaga kemaslahatan masyarakat luas, sebagaimana yang pernah dilakukan khalifah Umar bin Khattab ketika melarang rakyatnya mengkonsumsi daging selama 2 hari berturut-turut karena persediaan daging tidak mencukupi untuk seluruh Madinah.42
Mannan, ekonom Muslim terkemuka dari Pakistan juga membahas lima prinsip nilai yang harus menjadi pedoman nilai dan etika dalam perilaku konsumsi dalam Islam, diantaranya adalah: 1) prinsip keadilan; 2) prinsip kebersihan; 3) prinsip kesederhanaan; 4) prinsip kemurahan hati; dan 5) prinsip moralitas.43
Prinsip keadilan mengandung arti bahwa dalam berkonsumsi tidak boleh menimbulkan kezaliman, tetap berada dalam aturan hukum agama serta menjunjung tinggi kebaikan (halalan toyyiban). Islam memiliki berbagai aturan tentang benda ekonomi yang boleh dikonsumsi dan yang tidak boleh atau dilarang dikonsumsi. Di samping itu, Islam juga menjunjung tinggi kebersihan, bahkan kebersihan merupakan sebagian dari iman.
Sikap berlebih-lebihan sangat dibenci oleh Allah. Sikap berlebih-lebihan ini mengandung arti melebihi dari
42 Ibid., hlm. 167; M.B. Hendrie Anto, Pengantar Ekonomika Mikro Islami., hlm. 142.
43 Muhammad Abdul Mannan, Islamic Economics, Theory and Practice, terj. M. Nastangin (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995), hlm. 45.
ANALISIS PERILAKU NASABAH BANK SYARIAH
kebutuhan yang wajar dan cenderung memperturutkan hawa nafsu atau sebaliknya, terlampau kikir sehingga justru menyiksa diri sendiri. Islam menghendaki suatu kuantitas dan kualitas konsumsi yang wajar bagi kebutuhan manusia sehingga tercipta pola konsumsi yang efisien dan efektif secara individu dan social. Dengan menaati ajaran Islam, maka tidak ada bahaya atau dosa ketika mengkonsumsi benda-benda ekonomi yang halal yang disediakan Allah karena kemurahan hati-Nya. Dan pada akhirnya, konsumsi seorang Muslim secara keseluruhan harus dibingkai oleh moralitas yang dikandung dalam Islam sehingga tidak semata-mata memenuhi segala kebutuhan.44
C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku