• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV METODELOGI PENELITIAN

H. Analisis Data

I. Etika Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian harus memahami hak dasar manusia dan

menjunjung tinggi kebebasan manusia. Beberapa prinsip yang harus dipahami

antara lain (Hidayat, 2008):

1. Prinsip manfaat

Prinsip beneficience dimana peneliti memastikan bahwa penelitian

bebas dari bahaya dan dapat memberi manfaat.

2. Prinsip menghormati manusia

Prinsip dimana memberi kenyamanan pada partisipan (protection from

discomfort) dengan memberikan kebebasan kepada partisipan

menentukan waktu dan tempat dan kesediaan mengikuti penelitian.

3. Prinsip keadilan

Prinsip ini menjunjung keadilan manusia dengan menghargai hak

secara adil, hak menjaga privasi manusia, dan tidak berpihak dalam

perlakuan terhadap manusia.

Selain itu masalah etika yang harus diperhatikan antara lain sebagai

berikut:

1. Informed Consent

Tujuan dari informed consent adalah memudahkan partisipan dalam

memutuskan ketersediaan mengikuti penelitian. Dalam informed

consent terdapat penjelasan singkat proses penelitian meliputi tujuan,

manfaat, prosedur penelitian, lamanya keterlibatan, dan hak kewajiban

consent jika bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini (Budiarti,

2010; Cedli, 2012)

2. Anonimity

Kerahasiaan identitas responden atau anonimity dijamin tidak akan

dicantumkan nama pada lembar pengumpulan data atau hasil yang

disajikan hanya dalam bentuk inisial nama.

3. Kerahasiaan (confidentially)

Confidentially dimana peneliti wajib menjamin kerahasiaan data atau

47

BAB V

HASIL PENELITIAN

Bab ini akan menjelaskan hasil penelitian tentang hubungan tingkat

pendidikan dengan pengetahuan ibu hamil tentang hubungan seksual saat

kehamilan. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Juni 2014 pada 82 orang ibu

hamil.

A. Gambaran Lokasi Penelitian

Kelurahan Sukabumi Utara merupakan salah satu wilayah yang

berada di Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Di wilayah ini jumlah

penduduk sebesar 32.664 jiwa dengan luas area 153,09 Ha. Kelurahan ini

membawahi 11 RW, 104 RT, dan 6333 KK. Kelurahan ini berbatasan dengan

palmerah di sebelah utara, Kelapa Dua dan kebon jeruk di sebelah barat,

kebayoran lama di sebelah timur, dan Sukabumi Selatan di sebelah selatan.

Fasilitas kesehatan yang terdapat di wilayah Sukabumi Utara yaitu,

Puskesmas Sukabumi Utara yang membawahi 22 posyandu, dengan 5-6 kader

aktif di setiap posyandu. Kegiatan aktif posyandu dilaksanakan setiap 1 bulan

sekali dengan dibantu oleh kader, kegiatannya berupa pemeriksaan ibu hamil,

imunisasi pada anak, pemberantasan nyamuk 3M. Beberapa fasilitas

pelayanan kesehatan yang terdapat di wilayah sukabumi Utara antara lain,

bidan praktik mandiri, balai pengobatan, rumah sakit bersalin, dan praktik

dokter mandiri.

B. Hasil Analisis Univariat

Analisis univariat menjelaskan atau mendeskripsikan tentang

karakteristik responden berupa umur dan usia kehamilan, variabel independen

yaitu tingkat pendidikan ibu hamil, dan variabel dependen yaitu pengetahuan

ibu hamil tentang hubungan seksual.

1. Karakteristik Responden a. Umur

Tabel 5.1 :

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Umur di Wilayah Sukabumi Utara Juni 2014 (n=82)

Kategori Hasil N % Remaja Akhir 31 37.8 Dewasa Awal 39 47.6 Dewasa Akhir 12 14.6 Total 82 100.0

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa ibu hamil yang terdapat

di Wilayah Sukabumi Utara paling banyak terdapat pada rentang dewasa awal

yaitu sebanyak 39 orang (47,6%), sedangkan rentang remaja akhir sebanyak

31 orang (37,8%). Dan pada dewasa akhir sebanyak 12 orang (14,6%)

b. Usia Kehamilan

Tabel 5.2 :

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Usia kehamilan di Wilayah Sukabumi UtaraJuni 2014 (n=82) Kategori Hasil N % Trimester 1 22 26.8 Trimester 2 40 48,8 Trimester 3 20 24.4 Total 82 100.0

49

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa ibu hamil yang

menjadi responden paling banyak terdapat di trimester 2 sebanyak 40 orang

(48,8%), sedangkan pada trimester 1 sebanyak 22 orang (26,8%), dan pada

trimester 3 sebanyak 20 orang (24,4%).

2. Tingkat Pendidikan

Tabel 5.3 :

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Tingkat Pendidikan di Wilayah Sukabumi Utara Juni 2014 (n=82)

Kategori Hasil

N %

Tinggi 63 76.8 Rendah 19 23.2 Total 82 100.0

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa ibu hamil yang

terdapat di Wilayah Sukabumi Utara paling banyak berpendidikan tinggi

sebanyak 63 orang (76,8%) dan pendidikan rendah sebanyak 19 orang

(23,2%).

3. Pengetahuan Ibu Hamil

Analisis univariat dalam penelitian ini bertujuan untuk

menggambarkan hasil dari pengambilan data responden. Hal yang dianalisa

dalam penelitian ini yaitu mengenai pengetahuan ibu hamil. Dalam

menentukancut of point pada variabel pengetahuan ibu hamil dilakukan uji

distribusi terlebih dahulu, dimana rumus yang digunakan ialah uji

Kolmogorov Smirnov Z dimana hasil didapatkan yaitu 0,000 dan distribusi

dinyatakan tidak normal sehingga cut of point menggunakan median

Tabel 5.4:

Distribusi Frekuensi Responden Menurut Pengetahuan Ibu Hamil di Wilayah Sukabumi UtaraJuni 2014 (n=82)

Kategori Hasil

N %

Kurang 43 52.4

Baik 39 47.6

Total 82 100.0

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa ibu hamil yang

memiliki pengetahuan kurang sebanyak 43 orang (52,4%) dan yang

memiliki pengetahuan baik sebanyak 39 orang (47,6%).

C. Hasil Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Uji bivariat ini menggunakan uji chi squaredengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0, 05)

1. Hubungan tingkat Pendidikan dengan Pengetahuan Ibu Hamil tentang

Hubungan Seksual Saat Hamil

Untuk mengetahui apakah ada hubungan atau tidak maka diperlukan uji

statistik menggunakan chi square, karena kedua variabel merupakan data

kategorik. Nilai p yang diharapkan bisa lebih kecil dari 0,05 sehingga uji

statistik bermakna.

Tabel 5.5:

Tabulasi Silang Responden Pengetahuan Ibu Hamil Menurut Tingkat Pendidikan di Wilayah Sukabumi Utara Juni 2014 (n=82)

Pengetahuan Tingkat Pendidikan Total Pvalue Tinggi Rendah N % N % n % Kurang Baik 30 36,6 13 15,9 43 52,5 0,112 33 40,2 6 7,3 39 47,5 Total 63 76,8 19 23,2 82 100

51

Syarat melakukan uji chi square ialah sel yang mempunyai nilai

expected lebih kecil dari 5 maksimal 20% dari jumlah sel (Dahlan, 2010).

Sehingga untuk mengetahuinya dilakukan perhitungan nilai expected pada

masing-masing sel.

Nilaiexpecteddari sel a :

Nilaiexpecteddari sel b :

Nilaiexpecteddari sel c:

Nilaiexpecteddari sel d :

Terlihat bahwa nilai expected dari semua sel lebih dari 5. Hal ini

memenuhi syarat melakukan uji chi square. Setelah dilakukan uji chi square

didapatkan nilai p value= 0,112 dan melebihi nilai p maksimal yakni 0,05

yang berarti hitungan statistik tidak bermakna atau tidak ada hubungan antara

variabel tingkat pendidikan dengan pengetahuan ibu hamil tentang hubungan

BAB VI

PEMBAHASAN

A. Analisis Univariat

a. Gambaran Karakteristik Ibu Hamil

1. Umur

Hasil analisa data terlihat umur responden paling banyak pada

rentang dewasa awal (26-35 tahun) yaitu sebanyak 39 orang.

Penelitian yang dilakukan oleh National Survey of Family Growth

(NSFG) tahun 2006-2010, angka kesuburan wanita adalah antara

15-44 tahun dan kebanyakan wanita mengalami kehamilan khususnya

kehamilan pertama pada usia 20-29 tahun sekitar 45,7%.

Penelitian yang dilakukan oleh Setyowati (2011) di RS Bunda

Medika Sidoarjo Jawa Timur menyatakan bahwa umur ibu hamil

mempengaruhi pengetahuan hubungan seksual selama kehamilan.

Semakin matang umur ibu maka cara berfikir dan pandangan ibu

tentang hubungan seksual juga lebih baik. Diperjelas dengan

penelitian oleh Sukaesih (2012) di Puskesmas Tegal Selatan Jawa

Tengah yang menunjukkan bahwa orang yang lebih muda akan lebih

cepat menerima inovasi baru dibandingkan yang lebih tua. Berbeda

dengan umur yang terlalu muda kurang dari 20 tahun belum

mempunyai kesiapan secara fisik dan psikologis menghadapi

kehamilan, sehingga perawatan selama kehamilan sering terabaikan

karena tidak ada keinginan untuk mencari pengetahuan mengenai

53

kehamilannya. Umur yang lebih tua menganggap kehamilan adalah

sesuatu yang biasa, yang pernah dialami, sehingga tidak ada keinginan

untuk mencari pengetahuan baru.

2. Usia Kehamilan

Berdasarkan analisa data, ibu hamil paling banyak terdapat di

trimester kedua yaitu sebanyak 40 orang (48,8%), dengan tingkat

pengetahuan baik ada pada ibu hamil trimester kedua. Pengetahuan

yang baik ada kaitannya dengan pengaruh pengalaman sendiri atau

orang lain. Pengalaman seseorang mencakup apa yang dialami

sebagai hasil persepsi tentang hal yang terjadi atau yang ada di

lingkungan sekitar yang dihasilkan melalui panca indra

(Notoadmodjo, 2003). Hasil analisa data menyatakan bahwa ibu hamil

yang berada pada trimester menengah sudah merasakan perubahan

yang terjadi di awal kehamilannya dan mempersiapkan akhir

kehamilan sehingga ia banyak tahu tentang apa yang dirasakan saat

kehamilan. Ibu hamil trimester kedua sudah mengetahui dan terpapar

informasi mengenai kehamilan dan perubahan kehamilan yang terjadi

pada tiap trimesternya.

Pengetahuan yang buruk terlihat menonjol pada kehamilan

trimester ketiga, dimana pada trimester ketiga perubahan fisik ibu

mulai terlihat seperti perut yang membesar, ibu merasa sesak nafas,

dan ibu mulai berfokus dengan kelahiran. Perubahan psikologis dan

seksualitas pada trimester ketiga yaitu ibu kesulitan dalam mengatur

seksual kembali menurun, dan kekhawatiran ibu melukai janinnya

saat melakukan hubungan seksual. Hal ini diperkuat dengan penelitian

yang dilakukan oleh Hapsari (2011) dimana dari hasil studi kualitatif

didapatkan responden menyatakan hanya satu kali dalam seminggu

melakukan hubungan seksual saat trimester ketiga, bahkan salah satu

responden mengatakan absen melakukan hubungan seksual mulai

trimester ketiga. Diperkuat dengan penelitian oleh Sagiv (2012)

bahwa pada trimester ketiga hubungan seksual ibu hamil tidak lagi

berarti berbeda dengan 2 trimester sebelumnya, ibu hamil mengalami

penurunan hasrat seksual dan respon orgasme. Pengetahuan kurang

pada trimester ketiga dikarenakan perubahan yang terjadi pada ibu

hamil sehingga ibu sudah tidak memperhatikan masalah hubungan

seksual dan perhatian berfokus pada kelahiran, dan juga mitos yang

salah seputar hubungan seksual trimester ketiga dapat menyebabkan

kelahiran prematur.

Pengetahuan yang buruk juga terdapat pada trimester pertama,

masa trimester pertama merupakan masa penyesuaian kehamilan

dimana ibu hamil merasakan perubahan fisiologis akibat pengaruh

hormonal. Perubahan pada trimester pertama menyebabkan ibu hamil

malas melakukan hubungan seksual pada trimester pertama sehingga

hasrat melakukan hubungan seksual mengalami penurunan. Anggapan

yang salah tentang hubungan seksual seperti, hubungan seksual dapat

menyebabkan keguguran dan perdarahan menjadi faktor kecemasan

55

b. Gambaran Tingkat Pendidikan Ibu Hamil

Tingkat pendidikan mempengaruhi kesadaran akan pentingnya arti

kesehatan baik pada diri sendiri maupun pada lingkungannya yang dapat

mendorong kebutuhan pelayanan kesehatan, termasuk pentingnya

informasi mengenai hubungan seksual selama kehamilan. Informasi yang

diperoleh dari pendidikan formal maupun informal dapat memberikan

pengaruh jangka pendek (immediate impact) yang dapat meningkatkan

pengetahuan (Notoatmodjo, 2005)

Hasil analisis didapatkan data responden yang berpendidikan tinggi

sebanyak 63 responden (76,8%). Hal ini didukung oleh penelitian yang

dilakukan Putri (2011) menyatakan bahwa responden paling banyak ialah

yang berpendidikan SMA/sederajat yaitu sebanyak 30 responden (73,4%).

Hal tersebut menunjukkan lebih dari separuh responden yang

berpendidikan tinggi dan berpengaruh pada hasil pengetahuan.

Pendidikan yang tinggi berimplikasi pada pengetahuan dan sikap yang

baik. Di wilayah Sukabumi Utara, ibu hamil dominan berpendidikan

terakhir SMA. Pendidikan SMA dianggap mempunyai pengetahuan yang

lebih baik tentang kehamilan dan ibu hamil dapat mencari informasi yang

luas mengenai kehamilannya.

Pengetahuan saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan

formal, melainkan pendidikan informal bahkan kemudahan mengakses

internet serta sumber bacaan memudahkan seseorang untuk meningkatkan

pengetahuaannya mengenai hubungan seksual selama kehamilan. Oleh

mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pengetahuan

seputar kehamilan, khususnya tentang hubungan seksual saat kehamilan.

c. Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil

Pengetahuan ibu hamil tentang hubungan seksual saat kehamilan

pada penelitian ini masih kurang baik yang ditunjukkan dengan data

bahwa 43 (52,4%) responden memiliki pengetahuan yang kurang. Baik

dan buruknya pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya,

tingkat pendidikan, umur, informasi, pengalaman, status ekonomi, dan

sosial budaya (Notoatmodjo, 2005). Ibu hamil di wilayah Sukabumi Utara

belum pernah mendapat pendidikan kesehatan mengenai seksualitas

selama kehamilan dan saat di pelayanan kesehatan pengkajian dan

pemberian informasi mengenai seksualitas selama kehamilan masih

terbatas.

Pengetahuan ibu hamil mengenai seksualitas selama kehamilan

yang masih kurang disebabkan oleh informasi yang didapatkan tentang

hubungan seksual saat kehamilan sedikit dan terkadang ibu hamil

mendengar informasi yang salah dari orang lain. Ibu hamil juga jarang

menanyakan masalah seksual ke petugas kesehatan dan tidak mencari

pengetahuan seperti dari buku, majalah, televisi, atau internet. Mayoritas

ibu hamil juga mempunyai pengetahuan kurang (76,79%) sesuai

penelitian yang dilakukan oleh Setyowati (2011) di RS Bunda Medika

Sidoarjo. Penelitian yang sama dilakukan oleh Putri (2011) di PKD

57

kehamilan dalam kategori cukup sebanyak 73,3%. Secara umum dapat

disimpulkan pengetahuan tentang hubungan seksual pada ibu hamil bisa

dikatakan masih kurang.

Pemahaman tentang hubungan seksual saat kehamilan seperti apa

itu hubungan seksual, apa saja perubahannya, frekuensi berhubungan

seksual menjadi penting karena berdampak pada pola hubungan seksual

itu sendiri. Pengetahuan dan pemahaman yang kurang pada penelitian ini

terdapat pada aspek tentang frekuensi hubungan seksual, posisi hubungan

seksual, dan perubahan hubungan seksual. Pernyataan tentang frekuensi

hubungan seksual yaitu hubungan seksual tidak dibatasi sebanyak 46

orang (56,1%) menjawab salah. Penelitian yang dilakukan oleh Lee, et.al

(2010) menyatakan bahwa frekuensi hubungan seksual bukan aspek

penting pada kepuasan seksual ibu hamil, melainkan proses orgasme.

Penelitian yang lain yang dilakukan oleh Naim (2000) menyatakan bahwa

frekuensi hubungan seksual tidak ada batasan namun beberapa ibu hamil

mengakui adanya penurunan frekuensi selama kehamilan.

Pernyataaan tentang perubahan hubungan seksual , yaitu

hubungan seksual antara suami istri mengalami peningkatan sampai usia

6 bulan kehamilan menjawab salah sebanyak 51 orang (62,2%). Masa

trimester kedua merupakan masa adaptasi kehamilan, dimana ibu hamil

mulai menyesuaikan diri terhadap perubahan yang ada dan siklus seksual

kembali normal. Sesuai dengan penelitian oleh Sagiv (2012) menyatakan

bahwa beberapa wanita mengalami peningkatan hasrat seksual khususnya

Pernyataan tentang posisi hubungan seksual, yaitu selama

kehamilan posisi saaat berhubungan seksual tidak mengalami perubahan

sebanyak 51 orang (62,2) menjawab salah dan pada pernyataan posisi

duduk tidak diperbolehkan selama hubungan seksual menjawab salah

sebanyak 41 orang (50). Penelitian yang dilakukan oleh Lee,et.al (2010)

menyatakan bahwa kesulitan untuk menemukan posisi yang nyaman

dalam berhubungan seksual berkontribusi terhadap berkurangnya

keinginan dan kepuasan melakukan hubungan seksual ketika hamil.

Untuk menghindari hal tersebut, maka pasangan suami istri harus

merubah posisi hubungan seksual mereka. Posisi dalam kehamilan

diperbolehkan selama ibu hamil dan pasangannya nyaman melakukan.

Pernyataan tentang perubahan seksual, yaitu puncak kenikmatan

saat hubungan seksual tidak berubah sebanyak 52 orang (63,4%)

menjawab salah. Berdasarkan teori yang ada, setiap wanita mengalami

puncak kenikmatan yang berbeda saat hamil dan sebelum kehamilan,

bahkan beberapa wanita baru mengalami puncak kenikmatan seksual

pertama kali saat hamil (Bobak, 2004). Hal ini berbeda dengan penelitian

yang dilakukan oleh Sagiv (2012) dimana dalam penelitian ditemukan

perubahan hubungan seksual tidak berpengaruh selama kehamilan karena

59

B. Analisis Bivariat.

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan ibu hamil berpendidikan

tinggi yang mempunyai pengetahuan baik sebanyak 33 orang (40,2%)

sedangkan ibu hamil berpendidikan tinggi yang mempunyai pengetahuan

buruk sebanyak 30 orang (36,6%). Tidak ada perbedaan yang signifikan

diantara kedua variabel sehingga, setelah dilakukan ujichi squaredidapatkan

kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan

pengetahuan ibu hamil tentang hubungan seksual saat hamil.

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Zakirman (2011) di RS KIA Kota Bandung yang menyatakan bahwa ada

hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu hamil dengan

pengetahuan hubungan seksual saat kehamilan trimester III. Hasil analisa

diatas, peneliti mengasumsikan bahwa pengetahuan yang kurang pada ibu

hamil di wilayah Sukabumi Utara tidak hanya berdasarkan rendahnya tingkat

pendidikan, melainkan faktor-faktor lain seperti tersedianya sumber informasi

yang cukup tentang hubungan seksual saat kehamilan, pengalaman kehamilan

sebelumnya yang mendukung seseorang melakukan hubungan seksual yang

aman saat hamil. Lingkungan juga mempunyai peranan penting, eratnya

keakraban antara satu warga dengan warga lain dan sering diadakannya

pertemuan warga setiap bulannya memungkinkan pertukaran informasi

tentang pengetahuan seputar kehamilan.

Penelitian yang dilakukan oleh Sandy dan Sari (2012) menyatakan

kurang. ibu hamil memiliki pengetahuan yang baik kemungkinan mendapat

informasi dari berbagai sumber misalnya majalah, koran, orang terdekat

(keluarga), atau dari pengalaman yang terdahulu baik dari diri sendiri atau

orang lain yang menceritakan pengalamannya.

Pengetahuan tidak hanya dipengaruhi pendidikan, tapi juga

dipengaruhi hal lain salah satunya yaitu pengalaman sebelumnya dan

kebutuhan individu (Swansburg, Russel, 2001). Ibu dengan paritas

primigravida belum mempunyai pengalaman dengan kehamilan termasuk

hubungan seksualitas selama kehamilan, sehingga ibu takut melakukan

hubungan seksual karena pengalaman mereka tentang hubungan seksualitas

selama kehamilan kurang. Mitos-mitos yang beredar juga menjadi pemicu

ketakutan ibu untuk melakukan hubungan seksual seperti membahayakan

janin, terjadinya keguguran dan kelahiran prematur, dan terjadinya

perdarahan.

Penelitian yang dilakukan oleh Prassana (2012) menyatakan bahwa

kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh ibu karena ibu jarang mencari

informasi tentang hubungan seksual selama kehamilan. Pengetahuan yang

kurang dari ibu dapat diperbaiki dengan cara bertanya ke tenaga kesehatan

atau membaca buku. Pengetahuan ibu hamil tentang hubungan seksualitas

kurang maka ibu tidak melakukan hubungan seksual selama kehamilan. Ibu

tidak tahu bahwa sebenarnya hubungan seksual selama kehamilan

61

tersebut kemudian muncul ketakutan dan kekhawatiran untuk melakukan

hubungan seksual.

Pengetahuan tentang seksual selama kehamilan diperoleh dari

lingkungan sekitar yang berpengaruh besar terhadap proses masuknya

pengetahuan. Hal ini terjadi karena ada interaksi timbal balik antar individu

dalam merespon pengetahuan yang diterimanya sehingga sumber informasi

baik dari pendidikan formal maupun nonformal berpengaruh untuk

meningkatkan pengetahuan (Notoatmodjo, 2005). Pengaruh lingkungan

memberikan andil yang cukup besar bagi ibu hamil dalam menerima benar

tidaknya informasi yang disampaikan, dalam penelitian ini didapatkan banyak

ibu hamil yang merasa khawatir melakukan hubungan seksual karena

salahnya informasi yang diterima dari lingkungan sekitar, seperti dari

orangtua. Selain itu, unsur sosial budaya dan agama juga berperan dalam

membentuk pengetahuan ibu hamil,

Notoatmodjo (2005) menjelaskan bahwa tahu yaitu mengingat suatu

materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk mengingat kembali atau

recall sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau

rangsangan yang telah diterima, oleh karena itu tahu ini merupakan tingkat

pengetahuan yang paling rendah. Salah satu program pemerintah untuk

meningkatkan pengetahuan ibu hamil yaitu dengan pembentukan kelas ibu

hamil, dimana merupakan sarana belajar mengenai kesehatan ibu hamil untuk

meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai kehamilan (Depkes,

tepat serta menggali masalah yang ada pada ibu hamil, sehingga ibu hamil

lebih terbuka tentang seksualitas selama kehamilan. Hal penting lain untuk

meningkatkan pengetahuan yang baik dan menghindari kesalahpahaman yaitu

komunikasi terbuka antara ibu dan pasangannya untuk membicarakan

perubahan yang terjadi selama kehamilan khususnya tentang hubungan

seksual, sehingga ketika terdapat permasalahan tentang hubungan seksual

seputar kehamilan ibu hamil dapat berkonsultasi dengan petugas kesehatan.

C. Keterbatasan Penelitian

Peneliti menyadari adanya keterbatasan dalam pelaksanaan penelitian

ini. Keterbatasan penelitian tersebut yaitu banyaknya jumlah populasi ibu

hamil sehingga terdapat persebaran yang tidak merata di tiap usia kehamilan

63

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Seksualitas selama hamil merupakan suatu komponen integral dari

kehidupan seorang wanita normal, dimana hubungan seksual pada masa

kehamilan merupakan salah satu faktor yang berperan penting dan

mempengaruhi quality of relationship pada pasangan. Hubungan seksual

merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan dan didiskusikan di kalangan

petugas kesehatan maupun ibu hamil. Pegetahuan ibu hamil menjadi sesuatu

yang penting yang dapat mempengaruhi hubungan seksual saat hamil.

Sesuai dengan penelitian yang dilakukan, pengetahuan ibu hamil

dikategorikan menjadi baik dan kurang tentang hubungan seksual saat hamil

dan dibedakan menurut tingkat pendidikan ibu. Setelah dilakukan penelitian

pada 82 responden ibu hamil dapat ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan ibu

hamil berpendidikan tinggi sebanyak 63 orang (76,8%) namun pengetahuan

ibu hamil tentang hubungan seksual saat kehamilan dikategorikan kurang

sebanyak 43 orang (52,4%). Pendidikan yang tinggi namun pengetahuan

kurang dapat disebabkan beberapa faktor yaitu pengaruh lingkungan yang

memberikan informasi yang kurang tepat, pengalaman ibu seputar kehamilan,

kekhawatiran dan mitos yang beredar di masyarakat. Sehingga, hasil

penelitian disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat

pendidikan dengan pengetahuan ibu hamil tentang hubungan seksual saat

kehamilan ditunjukkan dengan hasil p-value 0,112.

B. Saran

1. Pelayanan Kesehatan

Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai dasar strategi promosi

kesehatan mengenai seksualitas pada masa kehamilan, dimana tenaga

kesehatan dapat menjelaskan pola seksualitas, perubahan dalam hasrat

seksual tiap trimesternya, memberitahukan dampak seks pada kehamilan,

mendiskusikan kapan sebaiknya membatasi hubungan seksual saat

kehamilan, dan menganjurkan posisi hubungan seksual yang dapat

dilakukan.

2. Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian dapat dijadikan acuan dan bahan pembelajaran

serta pengembangan kurikulum keperawatan khususnya keperawatan

maternitas mengenai pengembangan instrumen-instrumen pengkajian

kesehatan seksualitas selama kehamilan.

3. Peneliti Selanjutnya

Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian lebih

mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan seksual

saat kehamilan serta lebih mengembangkan instrument penelitian yang

digunakan. Peneliti selanjutnya juga diharapkan tidak hanya mengkaji

pengetahuan ibu namun pengetahuan serta pengalaman suami menghadapi

kehamilan ibu dapat dikaji sehingga penelitian akan berkembang dan lebih

A Health Handbook For Women With Disabilities. (2007). Diunduh dari

Dokumen terkait