• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Pembahasan

hasil analisis bivariate didapatkan bahwa ketersediaan air bersih tidak berhubungan dengan perilaku BABS (P-value= 0,208), walaupun tidak adanya pengaruh, tidak tersedianya air bersih merupakan faktor risiko pada kejadian BABS dan terbukti signifikan secara statistik PR= 1,32 (95% CI 0,88-1,97) sehingga memiliki arti bahwa tidak tersedianya air bersih lebih berisiko 1,3 kali untuk berperilaku BABS.

penelitian ini proporsi BABS di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Sabak Timur tahun 2022 sebesar 60,9%

Buang Air Besar Sembarangan erat kaitannya dengan kepemilikan sanitasi layak yaitu jamban sehat. Secara nasional proprorsi keluarga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak (jamban sehat) di Indonesia tahun 2021 adalah 86,1%. Provinsi dengan proporsi tertinggi keluarga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak (jamban sehat) adalah DI Yogyakarta (100%), Sulawesi Selatan (99,4%), dan Jawa Tengah (96,1%). Provinsi dengan proporsi terendah adalah Banten (3,7%), Papua (56,5%), dan Papua Barat (69,9%), sedangkan proporsi keluarga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak (jamban sehat) pada provinsi jambi sebesar 91,4%.62 Kemudian kabupaten Tanjung Jabung Timur merupakan kabupaten di Provinsi Jambi yang memiliki proporsi akses sanitasi yang layak (Jamban Sehat) terendah (62,03%).63

4.2.2. Hubungan Umur dengan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Sabak Timur

Berdasarkan hasil penelitian ini terdapat hubungan yang bermakna antara variabel umur dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS), dimana proporsi responden usia >40 tahun lebih tinggi berperilaku BABS dibandingkan usia <40 tahun. Hasil bivariate didapatkan bahwa variabel umur bersifat protektif terhadap perilaku BABS. Hal ini diperkuat oleh teori Lawrence Green menyatakan bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh faktor pemudah (predisposing Factor), faktor pendukung (Enabling Factor) dan faktor penguat (Reinforcing Factor) dan umur termasuk salah satu faktor predisposing.

Penelitian ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan Purnamayanti E dan Samingan (2021) yang menemukan bahwa umur merupakan faktor risiko yang memiliki hubungan dengan perilaku Buang

Air Besar Sembarangan. Tetapi pada penelitiannya, nilai statistik OR = 4,000 yang mengarah pada responden yang berumur <35 tahun mempunyai peluang untuk melakukan praktik buang air besar menggunakan jamban sehat 4 kali lebih besar dibandingkan responden yang berumur ≥35 tahun.64 Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Indah dkk (2020) yang menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara umur responden dengan kebiasaan BABS (P-value = 0.000). Responden yang berisiko dalam penelitian ialah responden yang berumur >35 tahun. Asumsi peneliti mengatakan bahwa responden di umur tersebut memiliki kebiasaan BABS karena sudah lama menempati rumah dan sesuai dengan teori bahwa kebiasaan merupakan pelaziman dalam kurun waktu lama sehingga diulang berkali-kali untuk hal yang sama.20

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Paladiang R dkk (2020) menemukan bahwa umur tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Semua golongan umur memungkinkan untuk berperilaku BABS dan dapat ditunjang oleh faktor lain seperti ketersediaan jamban dan keadaaan geografis. Umur berkaitan erat dengan tingkat kedewasaan seseorang. Semakin lanjut umur akan meningkatkan pula kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan, mengendalikan emosi, berpikir rasional dan toleransi terhadap pandangan orang lain sehingga berpengaruh juga terhadap peningkatan motivasinya.14

Hasil lapangan juga ditemukan responden berusia >40 tahun lebih banyak tidak mempedulikan lingkungan sehingga berdampak pada keacuhan seseorang terhadap kegiatan BAB. Terbukti dengan analisa lanjut sikap negatif (74,4%) pada responden usia >40 tahun memiliki persentase yang lebih tinggi untuk berperilaku BABS dibandingkan sikap postif (65,3%), sehingga dapat dikatakan pada usia 40 tahun merupakan

fase dimana seseorang sudah tidak peduli dengan pendapat orang mengenai dirinya, perubahan keyakinan hati, dan pemikiran.65

Masa usia pertengahan (40 – 60 tahun) bertanggung jawab penuh secara sosial membantu anak dan remaja belajar menjadi dewasa, sehingga seseorang mengetahui mana yang benar dan mana yang salah yang akan mewujudkan perilaku yang sehat. Selain hal tersebut pada usia pertengahan diiringi dengan menurunnya kondisi fisik dan psikologis, akan tetapi pada beberapa orang terjadi kegagalan tanggung jawab terkait perkembangan seseorang karena berbagai faktor. Faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan kematangan perkembangan adalah tidak adanya kesempatan belajar, tidak adanya bimbingan, tidak adanya motivasi, kesehatan yang memburuk dan tingkat kecerdasan yang rendah.52 Terbukti dengan analisa lanjut bahwa pengetahuan kurang baik pada responden usia

>40 tahun lebih tinggi (77,8%) dibandingkan pengetahuan baik (66,2%).

4.2.3. Hubungan Pekerjaan dengan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Sabak Timur

Hasil penelitian ini terdapat hubungan antara pekerjaan dengan perilaku BABS. Hasil bivariate didapatkan bahwa variabel pekerjaan bukan merupakan faktor risiko berperilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Menurut hasil ditempat penelitian, mayoritas responden telah memiliki pekerjaan. Responden yang memiliki pekerjaan melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Dibuktikan dengan hasil distribusi bahwa responden yang bekerja melakukan praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS) sebesar 61,8%. Menurut hasil wawancara responden yang memiliki pekerjaan, banyak dari mereka melakukan BAB di parit karena mayoritas pekerjaan di Wilayah Kecamatan Sabak Timur adalah petani atau berladang. Hal tersebut didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Alhidayati dkk (2017) bahwa peneliti menemukan

pekerjaan tidak formal seperti petani memiliki risiko 3,64 kali untuk berperilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS).15

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Amalinda dkk (2016) yang membuktikan bahwa faktor pekerjaan terdapat hubungan dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dengan p-value sebesar 0,002. Perilaku kurang baik lebih banyak terdapat pada kepala keluarga yang tidak bekerja dibandingkan pada kepala keluarga yang bekerja. Sebaliknya kepala keluarga yang berperilaku baik lebih banyak terdapat pada kepala keluarga yang bekerja dibandingkan pada kepala keluarga yang tidak bekerja.18

Penelitian ini didukung oleh teori Lawrence green dimana faktor pekerjaan merupakan salah satu faktor predisposisi untuk terbentuknya suatu perilaku. Dalam penelitian ini, responden yang bekerja lebih banyak melakukan BABS. Hal itu didasari oleh pengetahuan seseorang, karena salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan ialah pekerjaan, dimana pekerjaan berhubungan dengan faktor interaksi sosial dan kebudayaan dengan kata lain adanya proses pertukaran informasi serta kegiatan yang dilakukan secara berulang ulang.66 Didapatkan analisa lanjut bahwa lebih tinggi persentase pengetahuan kurang baik responden yang bekerja (77,8%) terkait perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dibandingkan pengetahuan baiknya (72,3%).

Adapun peneliti menemukan bahwa pada penelitian Yulizar dkk (2022) yang tidak sejalan dengan penelitian ini membuktikan bahwa pekerjaan merupakan bukan faktor risiko seseorang tidak memiliki jamban, dimana kepemilikkan jamban sangat erat kaitannya dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Menurut asumsi Yulizar dkk yakni ada tidaknya seseorang memiliki jamban di dalam sebuah rumah tidak hanya ditentukan dari status pekerjaan, melainkan berkaitan dengan faktor

kesadaran perilaku serta pemahaman mengenai pentingnya memiliki jamban dalam sebuah rumah. 67

4.2.4. Hubungan Pendidikan dengan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Sabak Timur

Hasil penelitian ini terdapat hubungan antara pendidikan dengan perilaku BABS. Hasil bivariate didapatkan bahwa variabel pendidikan merupakan faktor risiko berperilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ganda Suryo dan Ria Risti (2020) menjelaskan bahwa pendidikan berhubungan dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

Didapatkan hasil p-value sebesar 0,012 (p-value < 0,05) dan didapatkan Nilai Prevalance Ratio (PR) sebesar 3,164 (PR > 1). Maka pendidikan merupakan faktor resiko dan seseorang berpendidikan rendah 3,164 kali lebih berisiko Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dibandingkan seseorang yang berpendidikan tinggi.45

Penelitian ini sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Adam Setya (2019) menemukan bahwa pendidikan berhubungan dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dan didapatkan nilai RP sebesar 1,824 sehingga memiliki arti bahwa Pendidikan rendah lebih berisiko 1,8 kali untuk berperilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Pendidikan kesehatan adalah suatu upaya atau kegiatan untuk menciptakan perilaku masyarakat yang kondusif untuk kesehatan, artinya, pendidikan kesehatan berupaya agar masyarakat atau mencegah hal-hal yang merugikan mereka.49

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan masyarakat yang sangat berperan meningkatkan kualitas hidup dalam mengupayakan pembangunan kesehatan secara optimal. Secara umum semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat, maka akan semakin baik

kualitas sumber dayanya. Hal itupun didukung oleh teori Lawrence green bahwa faktor pendidikan merupakan faktor predisposisi yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Pengaruh pendidikan terhadap buang air besar sembarangan adalah bahwa rumah tangga dengan kepala keluarga yang berpendidikan dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih tinggi untuk tidak buang air besar di tempat terbuka dibandingkan dengan rumah tangga dengan kepala keluarga yang tidak berpendidikan.

Namun di penelitian yang dilakukan Rinto (2021) menyebutkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pendidikan dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dan didapatkan nilai p-value 0,913. Hal ini mengingat peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh dari pendidikan formal saja, tetapi dapat diperoleh melalui pendidikan non formal dan pengalaman sendiri.42 Praktek buang air besar dikaitkan juga dengan budaya dan kepercayaan tradisional, memahami motivasi buang air besar sembarangan dapat membantu kampanye sanitasi di masa depan untuk membantu mempromosikan jamban di tingkat masyarakat.

Masyarakat memilih buang air besar sembarangan sebagai bentuk sosialisasi, kegiatan yang memberikan rasa otonomi, kebiasaan, dan pilihan yang nyaman. Keyakinan agama dan masalah kebersihan juga menjadi alasan untuk memilih buang air besar sembarangan.68

Pendidikan pun berkaitan dengan pengetahuan, dimana seseorang berpendidikan rendah akan berpeluang memiliki pengetahuan kurang baik.

Jadi, pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan.66 Menurut analisa lanjut, di penelitian ini didapatkan pendidikan rendah memiliki persentase lebih tinggi terkait pengetahuan kurang baik (85,2%) dibandingkan pengetahuan baik (60%). Pengetahuan dalam hal ini ialah pengetahuan pentingnya tidak buang air besar sembarangan dan mengetahui penyakit-penyakit ditularkan dari kegiatan buang air besar sembarangan.

4.2.5. Hubungan Pendapatan dengan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Sabak Timur

Hasil penelitian ini tidak terdapat hubungan antara pendapatan dengan perilaku BABS, tetapi hasil bivariate didapatkan bahwa variabel pendapatan merupakan faktor risiko berperilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dengan nilai Prevalence Rate (PR) sebesar 1,754.

Artinya, tingkat pendapatan dibawah UMR lebih berisiko 1,7 kali berperilaku BABS dibandingkan pendapatan diatas UMR.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zurni Seprina (dkk). Hasil uji statistiknya diperoleh p-value 0,651 dapat disimpulkan tidak ada hubungan yang signifikan antara status ekonomi dengan perilaku buang air besar sembarangan. Status ekonomi dapat dihitung berdasarkan pendapatan keluarga. Upah Minimum Keluarga di Kabupaten Bengkalis tahun 2020 yaitu sebesar Rp.3.261.357. Menurut asumsinya, banyaknya responden yang memiliki status ekonomi dapat dipengaruhi oleh ibu rumah tangga yang menjadi responden, sedangkan pendapatan keluarga hanya diperoleh dari suami atau kepala keluarga.16

Penelitian ini didukung penelitian lain yang dilakukan oleh Wiwiet SA (2022) bahwa tidak terdapat hubungan antara pendapat dengan perilaku BABS. Pendapatan merupakan pendapatan yang diterima oleh rumah tangga bersangkutan baik yang berasal dari pendapatan kepala rumah tangga maupun pendapatan anggota-anggota rumah tangga.69 Namun, pada penelitian yang dilakukan oleh Sherly Vermita dkk (2020) tidak sesuai dengan hasil penelitian ini. Hasil analisisnya menunjukkan hubungan yang signifikan. Pendapatan rendah lebih berisiko 3,739 kali untuk berperilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dibandingkan dengan masyarakat berpendapatan tinggi. Menurutnya, tingkat pendapatan berhubungan dengan partisipasi masyarakat dalam pengadaan jamban keluarga, yaitu

pendapatan diatas rata-rata atau dibawah rata-rata akan cenderung mempengaruhi partisipasi masyarakat.70

Tidak sesuai juga penelitian ini dengan teori Lawrence green bahwa penghasilan merupakan faktor predisposisi seseorang membentuk perilaku.

Menurut asumsi peneliti, ibu rumah tangga juga menjadi responden dalam penelitian ini, dimana ibu rumah tangga tidak memiliki penghasilan. Selain itu, menurut hasil wawancara walaupun lebih banyak responden dengan pendapatan dibawah UMP tidak membuat responden berperilaku BABS dan enggan mendirikan jamban. Masih banyak yang peduli akan kepemilikkan jamban. Menurut beberapa responden, tidak mendirikan jamban hanya akan mempermalukan keluarga jika kedatangan tamu yang ingin Buang Air Besar (BAB) di dalam rumah. Semua kembali kepada pengetahuan dan sikap seseorang dalam berperilaku.

Status ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.66 Berdasarkan analisa lanjut, pengetahuan kurang baik pada responden yang pendapatan dibawah UMP memiliki proporsi lebih tinggi yaitu sebesar 96,3%

dibandingkan responden dengan pengetahuan baik (76,9%). Melihat nilai proporsi pada variabel pendapatan memiliki risiko untuk masyarakat berperilaku BABS. Perlu diwaspadai untuk orang-orang dengan pendapatan dibawah UMP yang belum memiliki jamban sehat. Dalam hal itu, peran tokoh masyarakat disini sangat penting untuk memberikan dana bantuan kepada masyarakat yang memiliki jamban tidak layak.

4.2.6. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Sabak Timur

Hasil penelitian ini terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan perilaku BABS. Analisis bivariate menunjukkan

bahwa variabel pengetahuan merupakan faktor risiko masyarakat berperilaku BABS. Didapatkan nilai Prevalence Ratio (PR) sebesar 1,558 yang memiliki arti bahwa pengetahuan kurang baik lebih berisiko 1,5 kali berperilaku BABS dibandingkan dengan responden pengetahuan baik.

Hasil observasi dilapangan mengetahui bahwa masih banyaknya responden yang belum mengetahui konsep dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Beberapa responden masih ada yang menjawab jika BAB dapat dilakukan dimana saja karena BAB tidak bisa ditahan dan tidak mengetahui pemutusan rantai penularan penyakit, belum mengetahui jamban keluarga yang dianjurkan dalam kesehatan atau jamban sehat seperti lantainya kedap air, tidak memiliki atap, tidak memiliki dinding yang kuat, lantai jamban kedap air dan tidak licin dan memilki SPAL (Saluran Pembuangan Air Limbah) dan juga jarak septic tank dengan sumber air.

Pengetahuan merupakan hal yang sangat memengaruhi terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan yang baik akan menentukan perilaku seseorang dalam melakukan tindakan dalam buang air besar, jika seseorang memilki pengetahuan kurang, maka seseorang akan lebih melakukan tindakan yang buruk seperti melakukan buang air besar sembarangan.

Pemahaman pengetahuan masyarakat yang kurang baik dapat dilihat dari tingkat pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Sabak Timur.

Sehingga masyarakat yang pendidikannya rendah tidak mengetahui bahaya perilaku Buang Air Besar Sembarang (BABS) menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit berbasis lingkungan yang diakibatkan oleh Buang Air Besar Sembarang (BABS).

Penelitian ini sesuai dengan teori Lawrence green bahwa faktor pengetahuan merupakan faktor predisposisi untuk seseorang membentuk perilakunya dan penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurfatia dkk (2022) menunjukkan bahwa hasil penelitiannya terdapat

hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dan didapatkan nilai POR = 3,091, artinya pengetahuan rendah lebih berisiko 3 kali beperilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dibandingkan pengetahuan tinggi. Hasil analisanya yaitu responden yang mempunyai pengetahuan kurang baik tentang manfaat jamban, melakukan praktik buang air besar di sembarang tempat seperti buang air besar di sungai dikarenakan belum mempunyai fasilitas yang mendukung.40

Penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Zurni Seprina dkk (2020) menjelaskan bahwa pengetahuan berhubungan dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Pengetahuan cukup lebih berisiko 19,5 kali untuk berperilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan atau perilaku seseorang, dengan kata lain apabila seseorang memiliki pengetahuan yang baik maka orang tersebut cenderung akan berperilaku baik.16

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Desvita Anzelina dkk (2022) bahwa membuktikan tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BAB). Nilai uji statistik yang ditemukan ialah p-value = 0,155 dan menunjukkan pengetahuan bukan merupakan faktor risiko perilaku BABS.

Baik atau tidak pengetahuan disebabkan tidak adanya keinginan dari kepala keluarga untuk mendapatkan informasi terkait pentingnya memiliki jamban sehat bagi keluarga dan dampak penyakit yang ditimbulkan akibat buang air besar di sembarang tempat atau sebagian masyarakat sudah mengetahui pentingnya memiliki jamban sehat namun hanya sebatas tahu, tetapi belum mampu mengaplikasikannya.71

4.2.7. Hubungan Sikap dengan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Sabak Timur

Hasil penelitian ini terdapat hubungan antara sikap dengan perilaku BABS. Analisis bivariate didapatkan bahwa sikap merupakan faktor risiko berperilaku BABS. Sikap negatif lebih berisiko 1,89 kali dibandingkan responden dengan sikap positif. Penelitian ini sesuai dengan teori Lawrence green bahwa sikap merupakan faktor predisposisi untuk membentuk perilaku seseorang. Didapatkan hasil analisa lanjut bahwa responden dengan sikap negatif memiliki persentase lebih tinggi pengetahuan kurang baik, karena didasari pengetahuan yang kurang baik, seseorang hanya akan memikirkan hal-hal yang membuat dirinya nyaman terkait kegiatan BAB tanpa mempedulikan dampak bagi kesehatan dirinya dan orang sekitar.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hadiati Sukma dkk (2018) membuktikan bahwa sikap mempunyai hubungan dengan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) yaitu pada status ODF (Open Defecation Free), hasil yang diperoleh nilai PR yaitu 2,00. Artinya, sikap memiliki risiko 2 kali untuk desa berstatus ODF (Open Defecation Free). Sikap seseorang mempengaruhi tingkat pemanfaatan jamban dengan baik. Pembentukan sikap dipengaruhi oleh pengetahuan dan tindakan. Oleh sebab itu apabila peningkatan sikap tidak diimbangi dengan tindakan nyata, maka akan memberikan peluang besar untuk merugikan kesehatan pribadi maupun lingkungan yang di akibatkan oleh perilaku masyarakat yang masih sering buang air besar sembarangan dan masih banyak masyarakat yang tidak memanfaatkan jamban dengan baik, oleh karena itu masyarakat harus membiasakan untuk BABS di jamban.72

Penelitian ini sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Zurni Seprina dkk (2020) yang membuktikan bahwa sikap mempunyai hubungan dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dengan

nilai p-value 0,004 (p-value < 0,05). Berdasarkan hasil statistik diketahui responden yang memiliki sikap negatif beresiko 19,000 kali melakukan perilaku buang air besar sembarangan dibandingkan dengan responden yang memiliki sikap positif.16 Namun, pada penelitian yang dilakukan oleh Indah Yuni dkk (2020) menjelaskan bahwa sikap tidak ada hubungannya dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Hubungan sikap dengan kebiasaan BABS menghasilkan nilai p-value sebesar 0.452). Sikap masyarakat yang kurang baik bisa menjadi perilaku yang baik apabila ada fasilitas seperti jamban yang dilengkapi dengan septictank ataupun dukungan yang berasal dari keluarga, tetangga atau tokoh masyarakat untuk membangun jamban yang sehat. Karena dengan buang air besar di jamban berarti masyarakat sudah menjaga kebersihan lingkungan di sekitarnya.16

Untuk mengatasi sikap negatif perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan sikap ke arah yang baik dengan contoh menggunakan jamban yang benar agar masyarakat merespon secara positif mulai dari lingkungan kecil seperti keluarga hingga lingkungan desa. Perubahan sikap dapat didukung oleh peningkatan pengetahuan yang baik dengan pemberian informasi yang diperlukan mengenai pentingnya buang air besar di jamban sehat. Selain itu, perlu adanya pemicuan kembali supaya masyarakat dapat merasakan rasa ketidaknyamanan BAB di ruang terbuka, seperti timbulnya bau kotoran dan banyaknya lalat, sehingga diharapkan masyarakat dapat memiliki sikap yang lebih baik untuk buang air besar di jamban.

4.2.8. Hubungan Peran Tenaga Kesehatan dengan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Sabak Timur

Hasil penelitian ini tidak terdapat hubungan antara peran tenaga kesehatan dengan perilaku BABS. Hasil observasi peneliti menemukan di

beberapa responden bahwa petugas kesehatan pernah melakukan penyuluhan mengenai pemanfaatan jamban dan melakukan identifikasi masalah rendahnya penggunaan jamban, tetapi hampir semua responden menjawab bahwa petugas kesehatan tidak pernah melakukan pemantauan ke tiap rumah setahun terakhir dan tidak memberikan dorongan kepada keluarga untuk memiliki jamban pribadi. Perilaku BABS lebih banyak ditemukan pada kelompok responden dengan petugas kesehatan yang kurang berperan dibandingkan kelompok responden dengan petugas kesehatan yang berperan.

Hasil diatas didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Aria Gusti dkk (2021) bahwa tidak terdapat hubungan antara peran tenaga kesehatan dengan perilaku BABS dan didapatkan nilai p-value sebesar 0,160. Selain peran tenaga kesehatan, tokoh masyarakat juga harus bersinergi. Tokoh masyarakat merupakan faktor penggerak perubahan perilaku masyarakat dan menjadi panutan bagi masyarakat sekitar, sehingga diharapkan berperan dalam promosi kesehatan.73 Karena itu, mendukung penelitian yang dilakukan oleh Alfan Aulia dkk (2021) dan nilai yang diperoleh p-value sebesar 0,468 (p>0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan antara peran petugas kesehatan dengan perilaku BABS responden.21

Penelitian tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Barliansyah dkk (2019) menyebutkan bahwa peran tenaga kesehatan mempunyai pengaruh dalam stop buang air besar sembarangan.

Didapatkannya nilai Exp (B) sebesar 4,318, berarti masyarakat mendapat dukungan dari tenaga kesehatan cenderung 4,3 kali stop BABS daripada tidak mendapat dukungan. Pelayanan kesehatan yang diberikan dilapangan harus efektif dan efisien sehingga mampu memuaskan pelanggan, klien dan masyarakat. Begitu pun kaitannya tentang penyediaan layanan masalah

perilaku BABS, perlu adanya peran petugas kesehatan dalam meningkatkan kesadaran melalui penyuluhan.74

Faktor peran tenaga kesehatan di penelitian ini tidak sesuai dengan teori Lawrence Green yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2010) bahwa perilaku dipengaruhi oleh salah satu faktor pendukung yaitu kelompok yang bertugas menyadarkan masyarakat untuk mencapai perilaku masyarakat yang baik yakni tenaga kesehatan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh tenaga kesehatan ialah masyarakat yang masih belum berperilaku hidup bersih dan sehat, kebiasaan BAB sembarangan di sungai dan di kebun dianggap hal biasa, serta kurangnya motivasi dan dan untuk membangun jamban sehat di rumah.

Berdasarkan hasil diatas, meskipun pada penelitian ini peran tenaga kesehatan tidak ada hubungannya, proporsi tidak adanya peran tenaga kesehatan tetap lebih tinggi untuk seseorang berperilaku BABS karena didasari pengetahuan masyarakat yang kurang baik dan berharap kepada petugas kesehatan setempat agar meningkatkan perannya dalam mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya. Tenaga kesehatan sudah seharusnya memberikan dorongan kepada masyarakat untuk berperilaku BAB yang baik. Dorongan seperti memberikan pendidikan kesehatan pada masyarakat, perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan, serta dapat dilakukannya pemberdayaan dari sektor ekonomi seperti sistem koperasi.

Pendekatan keluarga dapat dijadikan pemecahan masalah yang dilakukan oleh petugas kesehatan guna meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan atau meningkatkan akses pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi keluarga. Keluarga sebagai fokus dalam pendekatan pelaksanaan program Indonesia Sehat. Dalam rangka pelaksanaaan program indonesia sehat telah disepakati adanya 12 indikator utama untuk penanda status kesehatan sebuah keluarga. Adanya 12

indikator ialah salah satunya keluarga menggunakan jamban sehat. Jamban sehat berkaitan erat dengan perilaku BABS.75

4.2.9. Hubungan Dukungan Tokoh Masyarakat dengan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Sabak Timur

Hasil penelitian ini tidak terdapat hubungan antara dukungan tokoh masyarakat dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dibuktikan dengan hasil analisis bivariate, tetapi dukungan tokoh masyarakat merupakan faktor risiko masyarakat berperilaku BABS.

Didapatkan nilai Prevalance Ratio (PR) sebesar 1,451 sehingga dapat dikatakan tidak adanya dukungan tokoh masyarakat lebih berisiko 1,45 kali untuk masyarakat berperilaku BABS daripada adanya dukungan tokoh masyarakat.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Barliansyah dkk (2019) menyebutkan bahwa penelitiannya terkait faktor dukungan tokoh masyarakat tidak ada hubungannya dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Nilai p-value yang diperoleh sebesar 0,125. Menurutnya, adanya faktor-faktor lain yang mendorong masyarakat melakukan praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS).74 Penelitian ini didukung dengan penelitian Desvita Anzelinan dkk (2022) bahwa tidak adanya hubungan antara dukungan tokoh masyarakat dengam perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Dukungan tokoh masyarakat dianggap masyarakat tidak mempengaruhi keputusan dalam melakukan praktik BABS dikarenakan tidak ada pengawasan terkait praktik BABS. Dukungan tokoh masyarakat ada hanya sebatas saat ada program saja, pada saat keberlangsungan program selanjutnya tidak diawasi.71

Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Seprina Z dkk (2020) yang menyebutkan bahwa dukungan tokoh

masyarakat terdapat hubungan dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Didapatkan hasil statistik nilai POR yaitu 14,385, artinya dukungan tokoh masyarakat yang rendah lebih berisiko 14,3 kali untuk berperilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) dibandingkan adanya dukungan tinggi dari tokoh masyarakat setempat. Tokoh masyarakat yang seharusnya menjadi penggerak atau motivator masyarakat belum dapat dilaksanakan, padahal jika dukungan tokoh masyarakat tinggi, maka masyarakat akan mengikutinya karena masyarakat masih menganggap tokoh masyarakat adalah orang yang berpengaruh.16 Penelitian ini tidak sejalan juga dengan teori Lawrence green. Teori tersebut menjelaskan bahwa dukungan tokoh masyarakat merupakan faktor pendorong untuk perubahan perilaku seseorang.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1987, tokoh masyarakat ialah seseorang yang karena kedudukan sosialnya menerima kehormatan dari masyarakat dan/atau pemerintah76, dengan kata lain tokoh masyarakat merupakan contoh dari adanya sifat-sifat kepemimpinan yang menjadi acuan bagi masyarakat dalam mewujudkan harapan serta keinginan-keinginan masyarakat. Akan tetapi, pengaruh pemimpin bersifat sementara sehingga tidak menjamin bagi terbentuknya suatu bangsa-negara.77

Hasil observasi peneliti dilapangan menemukan bahwa banyak responden yang mengatakan tokoh masyarakat melakukan dukungan mengenai pemanfaatan jamban adalah responden yang berperilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Responden yang Buang Air Besar Sembarangan (BABS) adalah responden yang memiliki jamban tidak sehat ataupun yang tidak memiliki jamban dirumah dan hanya ada sedikit responden yang diberikan bantuan oleh tokoh masyarakat setempat. Maka, peneliti berasumsi bahwa kurangnya bantuan yang diberikan oleh tokoh masyarakat setempat sehingga faktor kepemilikkan jamban sangat

berpengaruh terhadap perilaku BABS di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Sabak Timur dan memilih untuk BAB ditempat yang ada.

Pemecahan masalah pada tidak adanya dukungan tokoh masyarakat dengan didapati tingginya proporsi responden yang berperilaku BABS ialah para tokoh masyarakat melakukan berbagai pembinaan, adapun bentuk dari pembinaan itu sendiri dilakukan dengan cara pendekatan antara tokoh masyarakat dengan kepala keluarga dan pembinaan dengan memberikan berbagai materi mengenai praktik BABS dan pemanfaatan jamban. Pendekatan itu sendiri dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan pendekatan individu dan pendekatan kelompok.78 Keterlibatan serta dukungan tokoh masyarakat adalah unsur yang sangat penting dalam membangun kesadaran masyarakat.

4.2.10. Hubungan Kepemilikan Jamban dengan Perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Sabak Timur

Hasil penelitian ini terdapat hubungan antara kepemilikkan jamban dengan perilaku BABS. Analisis bivariate didapatkan bahwa variabel kepemilikkan jamban merupakan faktor risiko berperilaku BABS, lebih berisiko 2,114 kali responden yang tidak memiliki jamban berperilaku BABS. Alasan responden tidak memiliki jamban yang layak yaitu tidak adanya tempat pembuangan tinja (Septictank) karena faktor biaya. Adapun rumah-rumah yang berada dipinggir sungai memiliki jamban yang tidak sehat, namun berdasarkan hasil wawancara bantuan untuk membangun jamban sudah mulai diberikan ke warga yang membutuhkan, tetapi masih belum merata dan masih tahap proses pembangunan.

Kepemilikan jamban atau sering disebut WC dalam penelitian ini ialah sarana yang dibangun dan dipergunakan oleh keluarga untuk membuang tinja atau kotoran manusia yang memenuhi syarat kesehatan.

Berdasarkan konsep dan definisi MDGs, sanitasi layak yaitu dengan

Dokumen terkait