• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORETIS

A. Ruang Lingkup Teori Respon

4. Etika Pers dalam Islam

Dalam sejarah Islam, sebetulnya dasar-dasar praktek jurnalistik sudah dilaksanakan sejak zaman Rasul, Rasulullah sendiri pernah berdakwah lewat tulisan. Diantaranya dikirimkan kepada Kaisar Romawi Timur (Hiracles), raja Parsi Abrawi, Raja Habsyi Najzasyi, Raja Mesir Mauqauqis, dan masih banyak lagi.46

Berikut ini penulis akan menguraikan aspek-aspek komunikasi yang dibutuhkan oleh insan pers dalam mengimplementasikan prinsip komunikasi yang berlandaskan kebenaran, yang dikutip dari buku Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam karya Mafri Amir sebagai berikut:

A. Fairness

Istilah fairness dalam ilmu komunikasi, khususnya yang menyangkut dengan komunikasi massa meliputi beberapa aspek etis, misalnya menetapkan etika kejujuran atau obyektifitas beradasarkan fakta, berlaku adil atau tidak memihak dengan menulis berita secara berimbang, serta menterapkan etika kepatuhan atau kewajaran.47

1. Kejujuran Komunikasi

Aspek kejujuran atau obyektifitas dalam komunikasi merupakan etika yang didasarkan kepada data dan fakta. Faktualitas menjadi kunci dari etika dari kejujuran. Menulis dan melaporkan dilakukan secara jujur, tidak memutar balikkan fakta yang ada. Dalam Al-Qur’an kejujuran diistilahkan dengan amanah, ghair al- takdzib, shidq, al-haq. Dengan dasar itulah maka seorang pekerja

46

Sutirman Eka Ardhana, Jurnalistik Dakwah, (Yogyakarta: Pustaka Fajar, 1995), h. 27 47

komunikasi massa dalam pandangan Al-Qur’an tidak akan berkomunikasi secara dusta. Istilah law al-hadits dapat diterjemahkan dengan kebohongan cerita atau cerita palsu. Sementara kata al-ifk mengandung pengertian mengada-ada, berita palsu, gossip (istilah yang populer dalam media massa).48

a. Amina (Amuna)

Percaya dalam Al-Qur’an biasa diungkapkan dengan kata amana. Kata-kata ini dalam berbagai bentuk jadiannya di dalam Al-Qur’an cukup banyak: yakni 834 buah, termasuk didalamnya istilah amanat.49

Sementara kata amanah itu sendiri terambil dari kata amuna-ya’munu-amanata. Secara harfiyah dapat diterjemahkan dengan tidak menipu atau tidak membelot. Sifat terpercaya adalah sifat Rasul. Nabi Muhammad SAW disifati dengan sifat amanah.50 Sifat tersebut harus dijadikan panutan oleh siapa saja, termasuk seorang komunikator atau wartawan yang bergerak dalam bidang komunikasi.

Sebagai orang yang harus bersifat jujur, maka wartawan haruslah menunaikan amanah yang dipikulkan kepadanya terhadap orang yang berhak, yakni masyarakat pemabaca atau pendengar, sesuai dengan kandungan ayat Q.S al-

Nisa’: 58 yang berbunyi:

48

Ibid, h. 66 49

Muhammad Fuadi ‘abd al-Baqiy, Al-Mu’jam Mufahras li Alfaz Qur’an Karim, Dar al-fikr, 1992, h. 103

50

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah maha mendengar lagi maha melihat.”(Qs. An-Nisa : 58)51

Harus disadari oleh seorang komunikator atau wartawan, mereka mempunyai potensial untuk membentuk opini publik yang sangat besar pengaruhnya di tengah masyarakat. Maka itu etika kejujuran mutlak diperlukan untuk menghindari publikasi yang menyesatkan, karena kejujuran atau objektivitas penting dalam menyebarluaskan informasi.

b. Shidq

Sifat jujur dalam Al-Qur’an diungkapkan juga dengan kata shidq. Secara harfiah artinya benar atau jujur. Kata ini dalam banyak ayat sering dikontradiksi dengan kidzb.52 Perkataan al-shidq dalam ayat juga antara lain mengacu kepada pengertian jujur dan benar dalam berkomunikasi (al-qawl), baik lisan maupun tulisan.53

c. Ghair al-Kidzb

Melakukan etika kejujuran dalam Al-Qur’an bisa juga dilihat dari sejumlah ayat yang melarang dengan tegas untuk tidak melakukan dusta (

51

Tim Penyusun, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an, 1986/1987), h. 128

52

Al-Munjid al-Lughat wa al-I’lam, Dar al-Masyriq, Beirut, 1994, h. 420 53

kidzb). Secara etimologis, kata al-kidzb dipahami sebagai lawan (al-shidq). Ungkapan tentang berdusta dalam ayat-ayat sering ditujukan kepada orang kafir, karena ia tidak membenarkan wahyu Allah.

Dan tidak ada satu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, melainkan mereka selalu berpaling dari padanya (mendustkannya). Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al-Qur’an) tatkala sampai

kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) cerita-berita yang selalu mereka perolok-olokkan.” (Qs. Al-Anam : 4 -5).54

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidah-mu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (Qs. An-Nahl: 116).55

Dalam kontek komunikasi massa, maka berbohong merupakan sifat tercela, karena sangat berbahaya. Kebohongan dalam komunikasi massa akan menyesatkan masyarakat disebabkan telah menyerap informasi yang salah. Tentu komunikasi seperti ini menyalai etika komunikasi dan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an.

54

Tim Penyusun, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 186 55

d. Law al-Hadits wa Ifk

Di dalam Al-Qur’an, surat Luqman ayat 6 Allah berfirman:

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”.56

Law al-hadits dalam ayat ini ditafsirkan sebagai orang yang mempergunakan kejahatan akan kebaikan dengan nilai uang.57 Dari ungkapan tersebut dapat dipahami bahwa sifat sebahagian orang tersebut dalam ayat adalah sifat mereka yang suka memilih cerita fiktif atau berita kosong demi keuntungan material. Akibat dari pilihannya itu, maka banyak orang menderita kesesatan.

Dalam konteks komunikasi massa, ayat ini dijadikan petunjuk betapa bahayanya jika informasi disebarluaskan tanpa dasar-dasar kebenaran yang bertujuan menyesatkan publik.

Sedangkan ifk dalam Al-Qur’an adalah mendeteksi kepalsuan informasi, yang artinya mengada-ngada, berpaling dan menyuap.58

e. Izh-har al-Haq

Seorang wartawan dituntut untuk menyampaikan informasi berdasarkan fakta yang terjadi. Artinya berasaskan kepada kebenaran. Al-Qur’an mengajarkan

56

Ibid, h. 653 57

Abi Ja’far bin Muhammad bin Jarir Al-Thabariy, Jami’ul Bayan, Juz V, Mushtafa, Mesir, 1968, h. 60

58

Edward William Lane, Arabic-English Lexicon, (Beirut : Librairie du Liban, 1968), h. 69. John Penrice, op. cit., h. 7

kita berkata benar. Dan tidak boleh menyembunyikan kebenaran atau mencampur-adukkan antara yang benar dengan hal yang bathil.59

Kebenaran fakta dalam informasi yang disampaikan kepada publik terkandung dalan tuntutan lafadz Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 70-71 Allah berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataaan yang benar,

Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”.60

Menurut Jalaluddin Rakhmat, prinsip ini sesuai dengan pengoperasionalisasian dalam kode etik Sigma Delta Chi, the Society of professional Journalism, yang mengatakan bahwa the duty of journalist is to serve the truth. Untuk itu para jurnalis harus bertindak berdasarkan intelligence, objectivity, accuracy, and fairness. Ia harus menghindari dusta, distorsi pesan, fitnah, prasangka atau kesengajaan untuk menutupi fakta sehingga memberikan makna yang menyesatkan.61

59

Mafri Amir, Etika Komunikai Massa dalam Pandangan Islam, h. 78 60

Tim Penyusun, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 680 61

Jalaluddin Rakhmat, Etika Komunikasi : Perspektif Religi”, Makalah Seminar, Perpustakaan Nasional, Jakarta, 18 Mei 1996.

2. Adil dan Tidak Memihak

Dalam praktek jurnalistik berlaku prinsip etis adil dan berimbang. Artinya tulisan harus disajikan secara tidak memihak. Menyajikan berita yang bersumber dari berbagai pihak yang mempunyai kepentingan, penilaian atau sudut pandang masing-masing terhadap suatu kasus berdasarkan prinsip berimbang dan adil. Berlaku adil adalah ajaran Islam. Kata al-adl dalam istilah Islam berarti memberikan sesuatu yang menjadi hak seseorang, atau mengambil sesuatu dari seseorang yang menjadi kewajibannya. Adil juga berarti sama dan seimbang dalam memberi balasan, atau sama dalam menimbang, menakar dan menghitung.62

Keadilan akan dapat memperbaiki kondisi umat dan perorangan. Keadilan merupakan salah satu sendi dalam pembangunan dan sebagai asas utama dalam urusan sosial. Karena itu tidak boleh bagi seorang mukmin untuk membedakan seseorang, meskipun ia kerabat atau famili terdekat. Jadi keadilan itu harus diperlakukan sama pada semua bentuk kegiatan seperti memberikan pertimbangan dan pengukuran dalam hal yang berhubungan dengan perkataan atau komunikasi.63

Dari apa yang dikemukakan Al-Maraghiy diatas, terlihat bahwa etika keadilan berlaku pada semua sektor perilaku umat Islam. Selain sebagai sendi utama dalam pembangunan juga sebagai dasar utama mengurus sosial kemasyarakatan. Bila dalam komunikasi massa, misalnya dalam penyajian tulisan atau berita media cetak atau elektronik sempat tejadi ketidakadilan, memihak dan tidak berimbang, tentu akan mengundang kegagalan dan kehancuran dalam

62

Mafri Amir, Etika Komunikai Massa dalam Pandangan Islam, h. 80-81 63

pembangunan, termasuk pembangunan komunikasi etis. Berita yang tidak seimbang akan merugikan orang lain. Ini berarti perbuatan dzalim sebagai lawan sifat adil.64

Dalam prakteknya, sebagian wartawan atau sebagian institusi media massa masih sering menyajikan tulisan atau berita secara tidak berimbang yang disebabkan adanya faktor kebencian terhadap seseorang atau organisasi dan serta ada nepotisme serta primordial. Artinya masih berpihak pada kepentingan pribadi atau kelompok mereka sendiri demi meraih keuntungan semata. Akhirnya berita atau tulisan pada media massa disajikan sepihak.65

3. Kewajaran dan Kepatuhan

Dalam komunikasi massa, wartawan wajib mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan berita, tulisan atau gambar dengan tolak ukur yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara dan bangsa. Dalam hal ini, misalnya tidak boleh menyiarkan berita rahasia militer atau negara. Atau berita yang dapat menyinggung perasaan umat beragama, suku, ras, dan golongan tertentu. “Wartawan Indonesia tidak menyiarkan berita, tulisan atau gambar yang menyesatkan, memutar balikkan fakta, bersifat fitnah, cabul, sadis dan sensasi berlebihan”. Dalam al-Qur’an juga kita temui tuntunan yang cukup bagus dalam etika komunikasi ini. Berbagai istilah yang ditemui adalah qawlan ma’rufan, qawlan sadidan, qawlan balighan, qawlan kariman, qawlan maysuran, dan qawlan layyinan.66

64

Mafri Amir, Etika Komunikai Massa dalam Pandangan Islam, h. 82 65

Ibid, h. 84 66

a. Qawlan Ma’rufan

Qawlan Ma’rufan dapat diterjemahkan dengan ungkapan yang pantas. Salah satu pengertian ma’rufan secara etimologis adalah al-khair atau al-ihsan, yang berarti baik-baik. Jadi qawlan Ma’rufan mengandung pengertian atau ungkapan yang baik dan pantas. Di dalam Al-Qur’an ungkapan qawlan Ma’rufan ditemukan pada 4 tempat : al-Baqoroh/ 2:235, al-Nisa/ 4:5 dan 8, serta al-ahdzab/ 23:32. Dalam surat al-Nisa ayat 5, qawlan ma’rufan berkonotasi kepada pengertian pembicaraan yang pantas bagi seorang yang belum dewasa (cukup) akalnya atau orang dewasa tetapi tergolong bodoh. Sedangkan pada ayat 8 surat yang sama lebih mengandung arti bagaimana menenggang perasaan famili, anak yatim dan orang miskin yang hadir sewaktu membagi-bagi harta warisan.67

Jalaluddin Rakhmat menjelaskan bahwa qawlan ma’rufan berarti perkataan yang baik. Tuhan menggunakan frasa ini ketika berbicara tentang kewajiban orang-orang kaya atau orang kuat terhadap orang-orang yang miskin atau lemah. Qawlan ma’rufan berarti pembicaraan yang bermanfaat, memberikan pengetahuan, mencerahkan pemikiran, menunjukkan pemecahan kesulitan kepada orang lemah, bila kita tidak dapat membantu secara material, kita harus memberikan bantuan psikologis.68

b. Qawlan Kariman

67

Ibid, h. 85 68

Qawlan Kariman, menyiratkan satu prinsip uatama dalam etika komunikasi Islam : perhormatan. Komunikasi dalam Islam harus memperlakukan orang lain dengan penuh rasa hormat.69

Kita mengkspresikan kehangatan yang tidak posesif terhadap orang lain. Orang lain dinilai dari harga dan integritasnya sebagai manusia. Hak orang lain diakui individualitas dan pandangan pribadinya. Pengakuan ini melibatkan keinginan kita membantu orang lain meningkatkan potensinya untuk menjadi siapa atau apapun. Semangat saling mempercayai ditingkatkan. Kita mengokohkan orang lain sebagai pribadi yang unik tanpa harus menyetujui perilaku atau pandangan mereka.70

c. Qawlan Maysuran

Dalam komunikasi massa dianjurkan untuk menyajikan tulisan atau bahasa yang mudah dicerna. Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang mudah, ringkas dan tepat. Dalam Al-Qur’an ditemukan istilah qawlan maysuran yang merupakan tuntunan untuk melakukan komunikasi dengan mempergunakan bahasa yang mudah dimengerti dan melegakan perasaan.71

Menurut Jalaluddin qawlan maysuran sebenarnya lebih tepat diartikan ucapan yang menyenangkan, lawannya adalah ucapan yang menyulitkan. qawlan maysuran berisi hal-hal yang menggembirakan.72

Demikianlah bentuk komunikasi yang hangat di dalam Islam sehingga penolakan permintaan tidak boleh menyinggung perasaan orang lain, suatu

69

Mafri Amir, Etika Komunikai Massa dalam Pandangan Islam, h. 88 70

Ibid, h. 88-89 71

Mafri Amir, Etika Komunikai Massa dalam Pandangan Islam, h. 89 72

komunikasi yang sangat indah dalam memelihara keharmonisan dalam tata pergaulan ummat. Meskipun komunikasi di atas lebih berkonotasi dalam suasana tatap muka, namun kehangatan komunikasi serta ungkapan lemah lembut, mudah dimengerti juga berlaku pada daratan komunikasi massa.73

d. Qawlan Balighan

Qawlan Balighan dapat diterjemahkan ke dalam komunikasi yang efektif. Asal balighan adalah balagha yang artinya sampai atau fasih. Jadi untuk orang munafik tersebut diperlukan komunikasi efektif yang bisa menggugah jiwanya. Bahasa yang akan dipakai adalah bahasa yang akan mengesankan atau membekas pada hatinya. Sebab di hatinya banyak dusta, khianat dan ingkar janji. Kalau hatinya tidak tersentuh sulit untuk menundukkannya. Karena itu, qawlan balighan tersebut adalah gaya komunikasi yang harus menyentuh ke sasaran seperti itu.74

Jalaluddin Rakhmat merinci pengertian qawlan balighan tersebut menjadi dua. Pertama, qawlan balighan terjadi bila komunikator menyesuaikan pembicaraannya dengan sifat-sifat khalayak yang dihadapinya. Kedua qawlan balighan terjadi bila komunikator menyentuh khalayaknya pada hati dan otaknya sekaligus.75

Al-Qur’an mengatakan dalam surat Ibrahim ayat 4 yang berbunyi:

73

Mafri Amir, Etika Komunikai Massa dalam Pandangan Islam, h. 91 74

Mafri Amir, Etika Komunikai Massa dalam Pandangan Islam, h. 92-93 75

Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan, siapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki. Dan dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”.76

Bisa disimpulkan bahwa kewajaran dalam komunikasi adalah jika bahasa yang dipakai disesuaikan dengan pembaca, pendengar dan pemirsa, sehingga berhasil merubah tingkah laku khalayak, termasuk orang munafik yang perkataannya suka berubah-ubah atau plin-plan.77

e. Qawlan Layyinan

Panduan Al-Qur’an dalam soal komunikasi juga ada dalam istilah qawlan layyinan. Secara harfiyah berarti komunikasi yang lemah lembut. Berkomunikasi harus dilakukan dengan lemah lembut, tanpa emosi, apa lagi mencaci maki orang yang ingin dibawa ke jalan orang yang benar. Karena dengan cara seperti ini bisa lebih cepat dipahami dan diyakini oleh lawan dialog.78

Dokumen terkait