BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL SAMURAI
2.5 EtikaBushido
Memasuki zaman Meiji, di mana pemerintahan pusat dikembalikan kepada kaisar, maka pemerintahanpun dapat mengendalikan rasa kebangsaaan penduduknya. Pada zaman ini hingga berakhirnya perang dunia kedua, segenap masyarakat Jepang mempunyai hak yang sama dalam urusan bela negara. Namun, karena kebanyakan pemegang kendali pemerintahan
Meiji, Taijo, dan Showa berasal dari keturunan golongan bushi pada zaman feodal, akibatnya nilai-nilai bushido turut diterapkan dalam semua kehidupan masyarakat Jepang, terutama di bidang pendidikan dan militer. Di antara nilai-nilai bushido yang diterapkan tersebut adalah sikap rela mati untuk keagungan Kaisar yang berlaku sebagai kepala pemerintahan yang sekaligus adalah keturunan dewa. Pengendalian sikap politik penduduk Jepang oleh golongan militer pada masa perang Cina-Jepang dan perang Asia Raya menimbulkan dampak negatif bagi sebagian besar pendudukan Jepang sendiri, yaitu terampasnya hak-hak individual untuk menentukan nasibnya sendiri.
Bushido merupakan sistem moral, maka sesungguhnya etika yang terkandung adalah
etika moral. Etika Moral bushido menurut Nitobe (1969:23-93) adalah keberanian, kejujuran, keteguhan hati, kehormatan, kesopanan, ketulusan hati, kebajikan, serta kesetiaan.
1. Keberanian
Keberanian ini dapat dilihat dari sikap orang Jepang dalam mempertahankan kelompoknya. Orang Jepang bahkan sampai berani rela mati demi membela kelompoknya.
Sikap ini sangat terkait dengan nilai-nilai bushido lainnya. Apabila pada suatu ketika di mana orang Jepang merasa tugas yang dijalankannya gagal, maka ia merasa bertanggung jawab dan merasa sangat malu. Sebagi konsekuansinya, ia rela menjalani hukuman mati dengan melakukan seppuku atau harakiri demi menjaga nama baik dirinya dan lembaga tempatnya mengabdi. Ia lebih memilih mati, karena masyarakat Jepang menganggap mati lebih terhormat daripada hidup menanggung malu. Keberanian seorang samurai tidak hanya dengan menggunakan pedang sebagai senjata. Tetapi kepercayaan dirilah yang digunakan.
Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Plato dalam Nitobe (2015:50) bahwa pengetahuan atas segala sesuatu yang harus ditakutkan tidak perlu ditakutkan oleh orang. Tidak perlu menakuti hal yang belum tentu harus ditakuti. Nitobe (2015:52) Orang yang berani adalah orang yang selalu tenang, di tengah ancaman bahaya dan kematian, bisa mempertahankan ketenangan
dirinya. Kemampuan untuk tidak menunjukkan ketakutan dianggap bentuk sempurna dari luasnya pikiran. Para samurai siap dengan resiko apapun termasuk mempertaruhkan nyawa demi memperjuangkan keyakinan.
2. Kejujuran
Kejujuran merupakan keyakinan dalam ajaran kode etik samurai. Di dalam diri samurai tidak ada yang lebih buruk daripada curang dalam pergaulan dan perbuatanyang
tidak jujur. Ajaran bushido mendefinisikan kejujuran sebagai suatu kekuatan. Kejujuran adalah kekuatan pasti pada setiap tingkah laku tanpa keragu-raguan. Samurai siap mati jika dianggap pantas untuk mati dan berhenti menjadi samurai jika dianggap sebagai suatu kebenaran.
Konsep kejujuran dalam bushido adalah dengan pembuatan keputusan dengan alasan yang tepat. Alasanyang tepat ini adalah giri.Giri adalah alasan seseorang untuk memutuskan berbuat sesuatu dan bersikap terhadap orang tua, senior, dan kepada masyarakat. Kejujuran adalah sifat wajib yang dimiliki oleh samurai. Jika seseorang bersikap jujur dan berjalan di atas jalan lurus, dapat dipastikan bahwa dia adalah orang yang berani. Pengertian berani bukan hanya mengacu pada keberanian, tetapi juga keberanian menghadapi cobaan hidup.
Kejujuran di kalangan samurai merupakan suatu etika yang tidak dapat diragukan lagi. Samurai harus tegas kapan harus membunuh dan kapan harus mati, asalkan demi kebenaran yang dianutnya. Keberanian seorang samurai harus sesuai dan didasari oleh kejujuran dan akal sehat, tanpa kecerobohan dan kecurangan.
3. Ketulusan atau Kebenaran
Seorang ksatri harus paham betul tentang yang benar dan yang salah. Benar atau salahnya karakter seseorang tidak boleh disangkutpautkan dengan keturunannya. Berusaha keras melakukan yang benar dan menghindari yang salah. Dengan cara itulah bushido biasa
hidup. Ketulusan adalah akhir dan awal dari semua hal. Tanpa ketulusan yang dilandasi dengan kebenaran sesuatu hal itu tidak akan ada apa-apanya.
4. Kebajikan
Cinta, kemurahan hati, kasih sayang yang ditunjukkan samurai kepada atasan dan pimpinan , namun juga pada kemanusiaan dan dalam hal ini adalah masyarakat. Simpati dan rasa belas kasihan diakui menjadi unsur tertinggi dalam kebajikan. Kebajikan merupakan semangat dalam membangun pribadi kaum samurai dan mencegah mereka berbuat sewenang-wenang. Menurut Nitobe bahwa rasa kasih sayang yang dimiliki kaum samuraitidak berbeda jauh dengan yang dimiliki rakyat biasa. Tetapi pada samurai harus
didukung oleh sebuah kekuatan untuk membela dan melindungi apa yang harus mereka lindungi.
5. Kesopanan
Menurut Nitobe, etika kesopanan masyarakat Jepang sudah terkenal ke seluruh dunia.
Dan sifat itu merupakan unsur kemanusiaan tertinggi dan hasil terbaik dari hubungan masyarakat. Kesopanan dalam masyarakat Jepang bemula dari tata cara yang bersifat rutinitas. Bagaimana seorang harus tunduk pada teguran orang lain, bagaimana sikap dalam berjalan, duduk, diajar dan mengajar dalam bentuk kepedulian. Nitobe (2015:73) Kesopanan menyiratkan penghargaan terhadap kualitas segala sesuatu, kesopanan juga menyiratkan penghargaan pada posisi sosial, tapi bukan untuk membedakan orang berdasarkan kekayaannya, melainkan membedakan orang dari perbuatannya.
6. Kehormatan
Kehormatan merupakan implikasi dari suatu kesadaran hidup akan martabat individu yang berharga. Menurut Nitobe seorang samurai dibesarkan dengan nilai-nilai kewajiban dan keistimewaan profesi atau kedudukan mereka, bahwa kehormatan baik adalah bagian yang tidak kelihatan dalam diri manusia, tetapi dapat dirasakan. Kalau tidak dijaga reputasi itu bisa
jatuh dan memberikan kesan yang tidak baik pada orang lain, dan kehormatan itu telah ada sejak manusia itu ada dalam kandungan ibunya. Hilangnya kehormatan bagi masyarakat Jepang adalah hal yang sangat buruk dan merupakan hukuman yang sangat dihindari.
Seorang samurai memiliki harga diri yang tinggi. Tidak menggunakan jalan pintas yang melanggar moralitas yang mereka jaga dengan perilaku yang terhormat. Kesadaran akan mempertahankan kehormatan bagi masyarakat Jepang adalah menolak segala bentuk penghinaan. Seppuku atau bunuh diri dengan cara memotong perut sendiri adalah merupakan suatu upacara ritual untuk mempertahankan kehormatan dan keberanian. Dalam etika bushido adalah kehormatan bisa dicapai sejalan dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup dan reputasi. Reputasi ini harus dijaga dengan baik, kerena reputasi yang dibangun selama hidup seorang samurai dapat hilang dengan seketika bila berbuat suatu kesalahan.
7. Kesetiaan
Kesetiaan yang diterapkan dalam ajaran bushido adalah kesetiaan seorang bushi dalam menjalankan tugas yang diberikan oleh tuannya. Dalam menjalankan tugasnya ini mereka dituntut untuk tunduk terhadap aturan-aturan yang dutetapkan oleh tuannya. Ajaran Konfusius menempatkankesetiaan kepada orang tua adalah hal yang paling utama. Di Jepang kesetiaan terhadap atasan adalah hal yang menempati urutan teratas. Makna kesetiaan pertama kali terlihat dari adanya rasa solidaritas yang memunculkan rasa kebersamaan dalam kehidupan sosial untuk mempertahankan wilayah mereka dari ancaman luar.
Pemerintahan yang berkuasa pertama kali adalah kaisar Jinmu (abad 6 SM). Makna kesetiaan yang muncul pada pemerintahan kaisar ini adalah di samping makna solidaritas dan juga sikap patuh dan taat terhadap kaisar sebagai seorang yang memiliki derajat kesucian yang tinggi sebagai anak cucu dewa Matahari. Kesetiaan terhadap kaisar ini tidak hanya dalam hal keduniawian tetapi juga dalam hal keabadian. Pemenuhan kewajiban yang dapat diartikan dari sifat religius dilakukan dengan bertindak setaat mungkin terhadap nilai-nilai
kemasyarakatan dengan cara mengabdi sepenuhnya terhadap atasan., Hal ini dianggap sebagai cara terbaik untuk mendapatkan berkah lindungan dari para leluhur dan para dewa untuk mencapai kondisi yang harmonis.
BAB III
ETIKA BUSHIDO DALAM NOVEL SAMURAI JEMBATAN MUSIM GUGUR 3.1 Sinopsis Cerita
Novel Samurai “Jembatan Musim Gugur” diawali dengan pertemuan antara Lord Kiyori yang merupakan kakek Genji dengan Lady Shizuka yang merupakan nenek moyang klan Okumishi 500 tahun yang lalu. Keduanya dipertemukan karena kemampuan Lady Shizuka yang dapat melihat masa depan dan kemampuan Lord Kiyori yang dapat bertemu dengan para leluhur di masa lalu. Keduanya bertemu di menara Kastel Awan Burung Gereja dan membicarakan mengenai masa depan Genji dan klan Okumichi. Dalam novel ini, klan Okumichi merupakan salah satu klan Tozama Daimyo yang bermusuhan dengan keshogunan yang menjadi penguasa pada saat itu. Klan ini juga terkenal mempunya samurai-samurai hebat dan sangat ditakuti.
Lord Genji, seorang pemimpin yang tampan, berfikiran terbuka, dan baik hati adalah tokoh utama pada novel ini. Genji bukanlah seorang samurai yang ahli bermain pedang dan bertempur pada peperangan. Tetapi dia mempunyai kharisma, wibawa, kecerdasan, dan samurai-samurai tangguh yang setia pada dirinya. Genji yang cerdas juga memiliki
kelembutan hati. Kecerdasan dan kelembutan hatinya ia gunakan untuk membuka fikiran para samurai dan masyarakat untuk membuka diri dengan bangsa asing.
Menurut Genji bangsanya tidak dapat terus hidup dalam tempurung jika hendak berdiri sejajar dengan bangsa asing di dunia. Sehingga ia sebagai seorang daimyo mengadopsi pemikiran barat dan berusaha memasukkan pemikiran tersebut ke pengikutnya, tetapi tidak mengurangi sedikitpun etika yang sudah dimiliki oleh bangsa Jepang.
Genji mampu melihat masa depan, mengetahui kapan dan bagaimana kematiannya.
Genji juga menyukai seorang wanita asing bernama Emily Gibson, seorang penerjemah
perkamen atau catatan-catatan masa depan yang dilihat oleh leluhur-leluhur Genji. Ia datang ke Jepang demi mengetahui sejarah Jepang terutama klan Okumichi. Hubungan yang dimiliki oleh Genji dan Emily mengalami penolakan dari pengikut Genji. Karena menurut mereka seorang bangsawan haruslah menikahi wanita Jepang yang mengerti akan seluk beluk etika bangsa Jepang. Selain itu Genji juga mendapatkan beberapa kritikan dari taman dan pengikutnya karena beberapa hal. Yaitu, Cara Genji dalam berpakaian yang sudah mulai terpengaruh dengan budaya barat, beberapa ruangan dan perabotan khas barat yang sudah dia terapkan di rumahnya, yang menurut pengikutnya nilai-nilai tradisi Jepang telah luntur di dalam diri Genji.Selain itu, Genji juga mendapat beberapa komentar sinis dari beberapa samurai karena ia memerintahkan pengikutnya untuk mempelajari teknik berperang
menggunakans senjata api. Menurut samurai yang mengkritiknya tersebut, seorang petarung sejati adalah seseorang yang berani berperang dengan jarak dekat menghadapi langsung lawannya, bukan dengan cara licik bersembunyi di suatu tempat yang tak terlihat dan membunuh musuhnya dari jauh seperti yang dilakukan oleh orang Barat yang mereka sebut dengan bangsa bar-bar.
Menurut Genji, hal-hal yang ia lakukan tidak salah. Karena ia tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi Jepang di dalam dirinya. Cara berpakaian dan perabotan rumah yang ia padukan dengan khas Jepang menurutnya tidak berarti hal tersebut merusak khas Jepang itu sendiri. Ia berfikiran bahwa perpaduan dua tradisi yang berbeda akan menciptakan sesuatu yang baru. Untuk masalah persenjataan dan teknik berperang menurutnya itu adalah cara yang baik untuk mengurangi kemungkinan banyaknya pasukannya yang terbunuh dalam perang. Alasan itu semua tidak serta merta dikatakannya kepada orang-orang yang mengkritik caranya tersebut. Dia ingin agar orang-orang yang mengkritiknya tersebut bisa mencari tahu sendiri alasannya dengan cara Genji memperlihatkan bagaimana cara ia hidup
dengan tetap memperlihatkan bahwa hal-hal yang ia lakukan tidak merusak tradisi bangsanya sendiri.
Novel ini juga memperlihatkan bagaimana kisah percintaan yang dialami oleh tokoh utama yang memiliki banyak penolakan dari para pengikutnya karena mencintai seseorang yang berkebangsaan lain. Genji mampu menyampaikan rasa cintanya kepada Emily dengan memberikan mawar tanpa nama pengirim setiap paginya tanpa diketahui oleh siapapun. Genji dan Emily kedua tokoh ini sama-sama saling mencintai, tetapi keduanya saling menutupi.
Genji menutupinya dikarenakan ia takut perasaan yang dimilikinya akan menjadi penghambat dan menyulitkan keberadaan Emily. Sedangkan Emily beralasan takut bahwa perasaan yang dimilikinya akan merusak citra Genji seorang bangsawan Agung. Tetapi pada akhirnya Genji berhasil meyakinkan Emily bahwa menikah dengan dirinya tidak akan membuat martabat seorang Genji menjadi rusak.
Namun karena mempertahankan hubungannya dengan Emily, Genji harus kehilangan Taro yang meninggalkannya karena hasutan pihak yang membencinya serta harus merelakan kematian Hanako yang melindungi Emily pada saat Taro berniat untuk membunuh Emily.
Selain penolakan dari para pengikut, Genji juga selalu mendapatkan pertanda bahwa pasangan yang akan menikah dengannya nanti akan mengalami kematian disaat melahirkan.
Seperti halnya kekasih Genji terdahulu Lady Heiko yang mati pada saat melahirkan anak dari Genji. Walaupun pada akhirnya Genji dan Emily bersatu, Genji tetap tidak bisa melawan takdirnya, pasangan yang dicintainya tetap meninggal setelah memberikan Genji seorang keturunan..
Pada akhir cerita dalam novel ini diperlihatkan pertemuan anak Genji dari Heiko yang bernama Makoto dengan putrinya bersama Emily yang ia beri nama Shizuka. Makoto memiliki dendam pribadi kepada Genji. Ia berfikir bahwa Genji membuang ibunya Heiko ke San Fransisco. Tetapi pada kenyataannya Genji mengirim Heiko pergi adalah dengan alasan
ia tidak ingin Heiko mengalami kematian jika berada dekat dengan Genji. Menurut Genji, Heiko tidak akan meninggal persis seperti apa yang ada di dalam mimpinya jika ia dan Heiko berada di tempat yang berjauhan. Pada saat Genji mengirim Heiko, Genji tidak mengetahui ternyata pada saat itu Heiko sedang hamil. Heiko melahirkan di tengah perjalanan menuju San Fransisco dan meninggal setelah kematian.
Pada saat Genji menyampaikan pidatonya di depan Mahkamah Nasional dengan penampilan kumis dan cambang ala jenderal Prancis, mantel pagi politisi Inggris dan wajah layu bangsawan Jepang pada usia paruh baya, itu adalah hari yang telah dilihatnya dalam pertanda bertahun-tahun lalu. Hari pembunuhannya. Hampir semasa hidupnya, dia telah tahu kapan, di mana, dan bagaimana dia mati. Terkadang pengetahuan itu membuatnya lalai, pada saat seharusnya ia waspada, dan terkadang ia memberinya keberanian pada saat dia dilumpuhkan rasa takut. Genji menemui ajalnya dengan sangat bangga karena terlahir dengan darah bangsawan.
3.2 Etika Buhsido dalam Novel Samurai “Jembatan Musim Gugur” Karya Takashi Matsuoka
Berikut akan dibahas mengenai unsur-unsur etika bushido yang terdapat dalam novel Samurai “Jembatan Musim Gugur” berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Nitobe Inazo.
Cuplikan Halaman 27
“Kau sudah melayaniku dengan sangat baik, Hanako. Orang tuamu pasti bangga denganmu.” Kiyori, tentu saja tidak meminta maaf atau
memberikan penjelasan karena mengirimnya pergi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
“Ya, Tuan. Saya akan melakukan sebaik mungkin”.
Sepeninggal Hanako, Kiyori berkata, “Mengapa aku mengirimnya ke Istana Bangau yang tenang?”
“Aku mengirim Hanako kepada cucuku karena sekarang dia melaksanakan sebagian besar tugas resmi bangsawan Agung wilayah kita, dia lebih membutuhkan pelayan yang bisa diandalkan daripada aku. Apalagi karena akan ada tiga misionaris Kristen yang dijadwalkan tiba di Edo hari-hari ini, dan mereka akan tinggal di Jepang dalam perlindungan kami.
Kehadiran mereka akan memicu krisis yang akan menentukan masa depan masyarakat dan klan kita.”
“Betapa konsistennya Anda, Tuanku. Pemikiran yang jernih selalu.”
“Karena masa depan akan membawa kekacauan , karakter jauh lebih penting ketimbang status.”
“Betapa bijaknya,” kata Shizuka. “betapa merdekanya dari batasan-batasan buatan tradisi sosial, dengan mengikuti perubahan zaman.”
Analisis
“Aku mengirim Hanako kepada cucuku karena sekarang dia melaksanakan sebagian besar tugas resmi bangsawan Agung wilayah kita, dia lebih membutuhkan pelayan yang bisa diandalkan daripada aku. Apalagi karena ada tiga orang misionaris Kristen yang akan dijadwalkan tiba di Edo hari-hari ini, dan mereka akan tinggal di Jepang dalam perlindungan kami. Kehadiran mereka akan memicu krisis yang akan menentukan masa depan masyarakat dan klan kita.” “Karena masa depan akan membawa kekacauan, karakter lebih penting
ketimbang status.” Cuplikan ini memperlihatkan seorang bangsawan yang mengirimkan pelayannya yang memiliki keberanian serta karakter yang baik untuk melayani cucunya yang melaksanakan sebagian besar tugas resmi bangsawan. Masa depan klan dan masyarakat yang berkarakter menurutnya jauh lebih penting ketimbang status. Sikap ini memperliatkan sifat peduli dan kasih sayang yang ditunjukkan samurai kepada rakyat. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Nitobe (2015:59) bahwa kebajikan tidak hanya ditujukan pada atasan dan pimpinan namun juga pada kemanusiaan dan dalam hal ini adalah masyarakat.
Cuplikan halaman 78
“Masamune!” Gengyo, bangsawan penguasa wilayah Hakata, terkejut melihat salah seorang musuh besarnya yang tiba dengan bala bantuan.
Masamune membungkuk, senyum lebar tampak di wajahnya. Ketidak berdayaan Gengyo saja sudah cukup membayar kesulitan perjalanan mereka “Kami datang bukan untuk berperang, tetapi untuk membantu Anda mengusir penjajah sombong itu.”
Analisis
Masamune membungkuk, senyum lebar tampak di wajahnya. Dalam cuplikan ini memperlihatkan sikap sopan kepada orang yang dijumpainya walaupun orang tersebut adalah musuhnya. Hal ini sesuai dengan yang diugkapkan oleh Nitobe (2015:73) sikap sopan santun tidak saja ditunjukkan pada pimpinan dan orang tua, namun kepada tamu atau siapapun yang ditemui.
Cuplikan halaman 96
“Kita sebaiknya menemui Lord Saemon,” kata Genji kepada Hide.
“Kita harus bertindak cepat untuk mencegah situasi semakin tidak terkendali. Para samurai beranggapan itu mungkin memutuskan sekarang adalah waktu yang tepat untuk memulai perang terhadap bangsa asing.”
“Baik, Tuan. Saya akan mengumpulkan pengawal.”
“Tidak perlu. Sudah cukup jika kau menemaniku.”
“Tuan” Hide memprotes, tetapi Genji menghentikannya.
“Kita harus menunjukkan kepercayaan diri. Pada masa kini, tidak adanya kepercayaan diri lebih berbahaya daripada tidak ada pengawal.”
Analisis
Dalam cuplikan ini Genji mengatakan bahwa pada masa kini, tidak adanya kepercayaan diri lebih berbahaya daripada tidak ada pengawal. Menunjukkan bahwa keberanian seorang samurai tidak hanya dengan menggunakan pedang sebagai senjata.
Tetapi kepercayaan dirilah yang digunakan. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Plato dalam Nitobe (2015:50) bahwa pengetahuan atas segala sesuatu yang harus ditakutkan tidak perlu ditakutkan oleh orang. Tidak perlu menakuti hal yang belum tentu harus ditakuti.
Dalam cuplikan ini rasa takut Hide akan penyerangann dari Lord Saemon yang belum pasti.
Cuplikan Halaman 111
Hanako menjepit kebelakang lengan kiri kimononya yang kosong agar tidak menghalangi gerakannya. Dia tidak pernah melakukan itu dihadapan orang lain karena dia merasa itu akan mengundang perhatian berlebihan pada lengan kirinya. Meskipun baru enam tahun berlalun sejak pertempuran besar di
kuil Mushindo. Hanako, Hide, Lord Genji, dan Lady Emily termasuk diantara beberapa gelintir orang saja yang bertahan hidup dalam penyergapan enam ratus prajurit musuh bersenapan, dan memenangkan pertempuran yang berat sebelah. Dan Hanako sendiri, di luar kehendaknya, telah memperoleh kemasyhuran berkat keberanian yang membuatnya kehilangan satu tangan dalam pertempuran. Karena itu, gerakan apapun yang mengingatkan orang akan kehilangan tangannya, sekalipun tidak disengaja, tampak baginya sebagai pamer diri.
Analisis
Cuplikan gerakan apapun yang mengingatkan orang akan kehilangan tangannya, sekalipun tampak baginya sebagai pamer diri. Dari cuplikan ini Hanako berusaha untuk tidak menarik perhatian orang yang memancing rasa perhatian lebih pada dirinya dan dia tidak berusaha meraih kehormatan dari hal tersebut. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Nitobe (2015:98) bahwa seorang samurai memiliki harga diri yang tinggi. Tidak menggunakan jalan pintas yang melanggar moralitas yang mereka jaga dengan perilaku yang terhormat.
Cuplikan halaman 115
“Aku perlu bantuanmu Hanako.”
Hanako bimbang. “Dengan senang hati, aku akan melakukan semua yang aku bisa.” Emily mengulurkan perkamen di tangannya kepada Hanako.
“Yang ini bukan perkamen yang tidak boleh kau baca.”
Hanako membungkuk lagi, tetapi tidak menerimanya. “Aku tidak bisa untuk menerimanya. Ini berarti melanggar peraturan dasar klan.”
Analisis
Hanako membungkuk lagi, tetapi tidak menerimanya. “Aku tidak bisa untuk menerimanya. Ini berarti melanggar peraturan dasar klan.” Dalam cuplikan ini Hanako membungkuk memperlihatkan kesopanan dalam menolak sesuatu tanpa melukai perasaan orang lain. Sesuai yang dikatakan oleh Nitobe (2015:73) mempertahankan perasaan lembut melahirkan sikap peduli. Ditambah dengan menghargai perasaan orang lain merupakan akar dari kesopanan.
Cuplikan Halaman 125
“Benda itu akan ditemukan,” kata Shizuka, “Pada saatnya harus ditemukan, dan dengan cara yang sesuai dengan tujuannya.” Dia dapat melihat bahwa Ayame ingin menanyakan tujuan itu, tetapi tidak jadi. Memang, sebaiknya dia tidak bertanya. Shizuka memercayainya dan akan menjawab apapun yang ditanyakannya, tetapi Ayame tidak akanmemahami jawabannya.
Ayame membungkuk dan menyandang statusnya. “ Dengan izin anda saya akan kembali ke pos saya, Nyonya.”
Analisis
Dalam cuplikan tersebut terlihat Ayame membungkuk memperlihatkan kesopanannya kepada Shizuka. Sesuai yang dikatakan oleh Nitobe (2015:73) mempertahankan perasaan lembut melahirkan sikap peduli. Ditambah dengan menghargai perasaan orang lain
Dalam cuplikan tersebut terlihat Ayame membungkuk memperlihatkan kesopanannya kepada Shizuka. Sesuai yang dikatakan oleh Nitobe (2015:73) mempertahankan perasaan lembut melahirkan sikap peduli. Ditambah dengan menghargai perasaan orang lain