Bab II Diabetes Mellitus
D. Etiologi
Sebagian besar penyebab kencing manis adalah gaya hidup yang tidak baik, terutama kurang aktivitas fisik dan kontrol pola makan yang tidak baik (Abdulfatai et al., 2012). Diabetes mellitus tipe 2 ditandai dengan kelainan sekresi dan kerja insulin. Pada awalnya akan tampak resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Normalnya, insulin mula-mula akan mengikatkan dirinya pada reseptor-reseptor yang terdapat di permukaan sel tertentu kemudian akan terjadi reaksi intraseluler yang menyebabkan mobilisasi pembawa GLUT 4 glukosa dan meningkatkan transport glukosa menembus membrane sel. Pada
pasien DM tipe 2 terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor yang disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor pada membrane sel yang selnya responsif terhadap insulin atau akibat ketidaknormalan reseptor insulin intrinsik. Akibatnya terjadinya penggabungan abnormal antara kompleks reseptor insulin dengan sistem transport glukosa. Ketidaknormalan postreseptor dapat mengganggu kerja insulin dan pada akhirnya akan timbul kegagalan sel beta yang disertai penurunan jumlah insulin yang beredar dan tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia (Prince & Wilson, 2011).
PB Persadia dalam buku pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes di Indonesia tahun 2019 menjelaskan bahwa faktor risiko terjadinya prediabetes sama dengan faktor risiko DM tipe 2. Faktor risiko tersebut dapat diklasifikasikan menjadi factor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor yang penting adalah obesitas (terutama perut) dan kurangnya aktivitas jasmani. Faktor Risiko yang tidak dapat Dimodifikasi yaitu:
1. Faktor Genetik
Sampai sekarang, gen yang berhubungan dengan risiko terjadinya DM belum dapat diidentifikasi secara pasti. Adanya perbedaan yang nyata kejadian DM antara etnik yang berbeda meskipun hidup di lingkungan yang sama menunjukkan adanya kontribusi gen yang bermakna dalam terjadinya DM.
2. Usia
Prevelensi DM meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Dalam dekade terakhir ini, usia terjadinya DM semakin muda terutama di negara-negara di mana telah terjadi ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran energi.
3. Diabetes Gestasional
Pada diabetes gestasional, toleransi glukosa biasanya kembali normal setelah melahirkan, akan tetapi wanita tersebut memiliki risiko untuk menderita DM di kemudian hari.
Faktor Resiko yang tidak dapat dimodifikasi yaitu:
1. Obesitas
Obesitas adalah faktor risiko yang paling penting. Beberapa penelitian longitudinal menunjukan bahwa obesitas merupakan prediktor yang kuat untuk timbulnya DMT2. Lebih lanjut, intervensi yang bertujuan mengurangi obesitas juga mengurangi insidensi DMT2. Berbagai studi longitudunal juga menunjukan bahwa ukuran lingkar pinggang atau rasio pinggang pinggul yang mencerminkan keadaan lemak viseral, merupakan indikator yang lebih baik dibandingkan indeks masa tubuh sebagai faktor risiko prediabetes. Data tersebut memastikan bahwa distribusi lemak lebih penting dibanding jumlah total lemak.
2. Aktivitas Jasmani
Dalam dekade akhir ini, berkurangnya intensitas aktivitas jasmani di berbagai populasi memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan obesitas di dunia. Berbagai penelitian potong lintang maupun longitudinal menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik merupakan prediktor bebas terjadinya DMT2 pada pria/wanita.
3. Nutrisi
Kalori total yang tinggi, diet rendah serat, beban glikemik yang tinggi dan rasio poly unsaturated fatty acid (PUFA) dibanding lemak jenuh yang rendah merupakan faktor risiko terjadinya DM.
4. Faktor Risiko yang Lain
Meskipun faktor genetik dan gaya hidup menjadi faktor risiko yang paling besar terjadinya DM, beberapa faktor risiko yang mungkin masih
bisa diubah adalah berat badan lahir rendah, paparan terhadap lingkungan diabetes saat dalam rahim, dan beberapa komponen inflamasi
Menurut Hasdianah (2012), etiologi penyakit DM adalah:
1. Kelainan Genetik
DM dapat diwarisi dari orangtua kepada anak. Gen penyebab DM akan dibawa oleh anak jika orangtuanya menderita diabetes melitus.
2. Usia
Usia seseorang setelah >40 tahun akan mengalami penurunan fisiologis.
Penurunan ini yang akan beresiko pada penurunan fungsi endokrin pankreas untuk memproduksi insulin.
3. Pola Hidup dan Pola Makan
Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang dibutuhkan oleh tubuh dapat memicu timbulnya diabetes. Pola hidup juga sangat memengaruhi, jika orang malas berolahraga memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena diabetes, karena olahraga berfungsi untuk membakar kalori yang berlebihan di dalam tubuh.
4. Obesitas
Seseorang dengan berat badan >90 kg cenderung memiliki peluang lebih besar untuk terkena penyakit diabetes mellitus.
5. Stres
Stress akan meningkatkan kerja metabolisme dan meningkatkan kebutuhan akan sumber energi yang berakibat pada kenaikan kerja pankreas sehingga pankreas mudah rusak dan berdampak pada penurunan insulin.
6. Penyakit Infeksi pada Pankreas
Mikroorganisme seperti bakteri dan virus dapat menginfeksi pankreas menyebabkan sel β pada pankreas tidak bekerja secara optimal dalam mensekresi insulin sehingga menimbulkan radang pankreas. Hal ini
menyebabkan sel β pada pankreas tidak bekerja secara optimal dalam mensekresi insulin.
7. Obat-obatan yang Dapat Merusak
Bahan kimiawati tertentu dapat mengiritasi pankreas yang menyebabkan radang pankreas. Peradangan pada pankreas dapat menyebabkan pankreas tidak berfungsi secara optimal dalam mensekresikan hormon yang diperlukan unutk metabolisme tubuh termasuk hormon insulin.
Menurut Padilla (2012), etiologi penyakit DM adalah:
1. Diabetes tipe 1:
a. Faktor Genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b. Faktor-faktor Imunologi
Adanya respon autoimun yang merupakan respon abnormal di mana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing, yaitu autoantibodi terhadap sel-sel langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor Lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.
2. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui.
Penyebab resistensi insulin pada diabetes sebenarnya tidak begitu jelas, tetapi faktor yang berperan antara lain sebagai berikut.
a. Kelainan Genetik
Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
b. Usia
Umumnya manusia mengalami penurunan fisiologis yang secara dramatis menurun dengan cepat pada usia setelah 40 tahun.
Penurunan ini yang akan berisiko pada penurunan fungsi endokrin pankreas untuk memproduksi insulin.
c. Gaya Hidup dan Stres
Stress kronis cenderung membuat seseorang mencari makanan yang cepat saji, kaya akan pengawer, lemak dan gula. Makanan ini berpengaruh besar terhadap kerja pankreas. Stress juga akan meningkatkan kerja metabolisme dan meningkatkan kebutuhan akan sumber energi yang berakibat pada kenaikan kerja pankreas. Beban yang tinggi membuat pankreas mudah rusak hingga berdampak pada penurunan insulin.
d. Pola Makan yang Salah
Kurang gizi atau kelebihan berat badan sama-sama menignkatkan risiko terkena diabetes.
e. Obesitas (Terutama pada Abdomen)
Obesitas mengakibatka sel-sel β pankreas mengalami hipertrofi sehingga akan berpengaruh terhadap penurunan produksi insulin.
Pada obesitas juga terjadi penurunan adinopektin. Adinopektin adlaah hormon yang dihasilkan adiposit yang berfungsi untuk memperbaiki sensitivitas insulin dengan cara menstimulasi penignkatan penggunaan glukosa dan oksidasi asam lemak otot dan hati sehingga kadar trigliserida turun. Penurunan adinopektin
menyebabkan resistensi insulin. Adinopektin berkorelasi positif dengan HDL dan berkorelasi negatif dengan LDL.
f. Infeksi
Masuknya bakteri atau virus ke dalam pankreas akan berakibat rusaknya sel-sel pankreas. Kerusakan ini berakibat pada penurunan fungsi pankreas.
Menurut Mansjoer Arif (2009) klasifikasi etiologi diabetes mellitus dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.1. Klasifikasi etiologi Diabetes Mellitus
Jenis Diabetes Mellitus Etiologi 2. Defek negatif pada kerja insulin 3. Penyakit eksokrin pankreas 4. Endokrinopati
5. Pengaruh obat dan zat kimia 6. Infeksi
7. Imunologi yang jarang 8. Sindorm genetik lain Diabetes gestasional Diabetes Kehamilan 3. Diabetes Gestational (Kehamilan)
Menurut Mufdlillah dkk (2019) faktor resiko terjadinya gestational diabetes mellitus (GDM) dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Ras atau Etnis
Perempuan keturuan Asia-Amerika, penduduk asli Hawaii, penduduk kepulauan Pasifik, Hispaik dan keturuan Afrika-Amerika memiliki risiko tinggi menderita GDM daripada wanita kulit putih non
Hispanik. Hal ini dikarenakan Lifestyle yang berakibat pada terjadinya obesitas.
b. Usia ≥ 35 Tahun
Ibu hamil di atas usia 35 tahun memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan yang hamil di usia lebih muda. Ibu yang berusia ≥ 35 tahun cenderung memiliki kadar gula darah tinggi karena kadar insulin yang diproduksi oleh tubuh semakin berkurang.
c. Obesitas (IMT > 30)
Obesitas merupakan kondisi tubuh dengan kadar lemak yang terlalu tinggi yang menyebabkan berbagai masalah kesehatan, salah satunya adalah GDM. Pada penderita GDM, pancreas menghasilkan insulin dalam jumlah yang cukup, namun insulin tersebut tidak dapat bekerja maksimal dalam membantu sel-sel tubuh menyerap glukosa dikarenakan kadar lemak dalam darah yang tinggi terutama kolesterol dan trigliserida (lemak dalam darah).
d. Riwayat Hipertensi/Tekanan Darah Tinggi
Hubungan diabetes dengan hipertensi dapat terjadi bersamaan karena keduanya memiliki keterkaitan yang cukup erat, yaitu memungkinkan penyakit lain terjadi seperti penyakit jantung dan gagal ginjal.
American Diabetes Association merekomendasikan tekanan darah penderita DMG harus dibawah 140/90 mmHg. Bila ada gangguan ginjal dianjurkan tekanan darah lebih rendah lagi.
e. Faktor resiko lain yaitu: riwayat melahirkan bayi besar, riwayat bayi lahir mati dan mengalami kecacatan, riwayat penyakit jantung, riwayat glukosuria.