• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Gangguan Pendengaran Pada Anak

2.3.4 Etiologi

Gangguan Pendengaran Non Sindrom

Etiologi gangguan pendengaran dapat secara luas dibagi menjadi genetik dan didapat, kemudian dibagi lagi menjadi kongenital (sudah ada sejak lahir) atau progresif. Sekitar 50 - 60% gangguan pendengaran prelingual adalah genetik dan 70% diantaranya merupakan gangguan pendengaran non sindrom. Gangguan pendengaran non sindrom tipe paling umum adalah resesif autosom sebanyak 75 - 80%. Dimana tipe paling umum adalah akibat defek connexin 26 yakni sekitar 50% dari seluruh gangguan pendengaran resesif autosom non sindrom (Grindle, 2014).

Saat ini, telah ada lebih dari 60 lokus gen berbeda yang teridentifikasi menjadi penyebab gangguan pendengaran. Penyebab - penyebab ini diberi nama DFNA (dominan autosomal), DFNB (resesif autosomal), dan DFNX (X-linked). Huruf yang menyertai DFN (A, B, atau X) mengidentifikasi lokus gen. DFNB1, yang menjadi penyebab defek di GJB2 (disebut juga connexin 26), merupakan penyebab gangguan pendengaran non sindrom paling umum. Defek pada GJB2 disebabkan oleh sejumlah mutasi berbeda, yang mana paling umum disebabkan 35delG. Terlepas dari apapun penyebabnya, semua hal di atas menyebabkan abnormalitas fungsi protein gap junction (Grindle, 2014).

Gangguan Pendengaran Sindromik

Berbeda dengan gangguan pendengaran non sindrom yang tidak memiliki tanda dan gejala khusus lainnya, maka gangguan pendengaran sindromik memiliki temuan pemeriksaan fisik yang jelas. Terdapat lebih dari 500 sindrom yang menyertai gangguan pendengaran. Kebanyakan sindrom - sindrom tersebut sangat jarang (Grindle, 2014).

Gangguan Pendengaran Non Genetik

Sebanyak 50% penyebab gangguan pendengaran kongenital, 25%

diantaranya disebabkan oleh faktor non genetik. Gangguan pendengaran kongenital tipe didapat paling sering adalah akibat infeksi sitomegalovirus

(CMV). Infeksi primer pada ibu dan janin menyebabkan serangkaian luaran klinis yang luas, mulai dari asimptomatik hingga berbagai defisit sensorik.

Jika infeksi CMV bersifat simptomatik, maka terdapat 50% kecenderungan anak akan menderita sensorineural hearing loss (SNHL). Dan diantara bayi asimptomatik, masih terdapat 10 - 15% kemungkinan mengalami SNHL.

Gangguan pendengaran ini sering bersifat progresif dan fluktuasi.

Diagnosis infeksi CMV hanya dapat dilakukan dengan baik selama 3 minggu pertama kehidupan dari sampel urin atau pemeriksaan swab pipi.

Infeksi kongentital lain yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran adalah measles, mumps dan rubella (Fowler, 2013).

Infeksi lain seperti meningitis bakterial, khususnya dari Streptococcus pneumoniae dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang biasanya terjadi saat infeksi baru terjadi. Gangguan yang terjadi dapat bersifat ringan hingga sangat berat, dan dapat dicegah atau diperbaiki dengan terapi antibiotik yang sesuai secepat mungkin. Selain itu, terapi dengan deksametason ditemukan secara signifikan mengurangi insidensi gangguan pendengaran pada meningitis bakteri akibat Haemophilus influenzae. Brouwer, 2013. Gangguan pendengaran pada meningitis terjadi pada lebih dari 30% pasien (Kutz, 2006).

Penyebab lain gangguan pendengaran didapat adalah trauma, khususnya trauma tulang temporal. Fraktur koklea dan vestibulum dapat menyebabkan gangguan pendengaran berat hingga sangat berat. Fraktur osikulus dapat disartikulasi tulang - tulang ini, menyebabkan conductive hearing loss (CHL) sedang. Trauma akustik juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen. Audiogram pada pasien ini biasanya menunjukkan pola dengan notch frekuensi tinggi pada 4000 Hz. Obat - obatan tertentu juga diketahui bersifat ototoksik, seperti antibiotik aminoglikosida, loop diuretic, dan cisplantin yang harus dihindari jika memungkinkan karena dapat terjadi akumulasi dari cairan perilimfe dan endolimfe. Gangguan pendengaran juga dapat disebabkan oleh otitits media efusi dimana menjadi penyebab gangguan pendengaran anak paling

umum. Efusi telinga tengah sangat sering berhubungan dengan otitis media. Sebanyak 40% dari semua telinga yang telah sembuh dari otitis media akan tetap memilik cairan persisten selama 1 bulan, 20% selama 2 bulan, dan 10% selama 3 bulan (Grindle, 2014).

2.3.5 Pemeriksaan Skrining Gangguan Pendengaran pada Neonatus Pemeriksaan yang tersedia untuk skrining neonatus adalah automated otoacoustic emissions (AOAE) baik menggunakan emisi otoakustik produk transien ataupun distorsi, atau dengan pemeriksaan brainstem evoked response audiometry (BERA). Otoacoustic emission memantulkan aktivitas sel rambut di koklea, sedangkan BERA mengukur respon neuronal dari batang otak. Keduanya tersedia sebagai instrumen skrining yang portable yang bekerja dengan algoritma deteksi otomatis untuk menentukan ada tidaknya respon. Dokter atau operator tidak perlu membuat keputusan atau penilaian atas respon. Kebanyakan program skrining menggunakan dua tahap protokol (yakni OAE diikuti BERA, atau BERA dua tahap). Pemeriksaan OAE bersifat cepat, invasif minimal dan biaya relatif lebih rendah dibandingkan BERA. Kerugiannya ialah pemeriksaan ini dipengaruhi oleh debris atau cairan di telinga luar atau tengah dan juga dapat melewatkan gangguan neuropati auditori neonatus.

Namun demikian, neuropati auditori secara dominan ditemukan pada populasi NICU sehingga pemeriksaan dengan metode BERA merupakan pilihan (Watkinson, 2018).

2.3.5.1 Manfaat Skrining Neonatus

Terdapat banyak penelitian observasional yang melaporkan keuntungan identifikasi dan intervensi dini Permanent Childhood hearing Impairment (PCHI). Penelitian oleh Wessex et.al menunjukkan bahwa selama periode skrining pendengaran neonatus berhubungan dengan konfirmasi ditemukannya PCHI di usia 9 bulan, dan hal ini berhubungan dengan skor kemampuan bahasa reseptif (Kennedy, 2006). Pada 2008,

Universal Neonatus Hearing Screening (UNHS) Task Force menyimpulkan bahwa bayi yang teridentifikasi PCHI melalui UNHS memiliki rujukan, diagnosis, dan terapi yang lebih baik (Nelson, 2008).

2.3.5.2 Penilaian Risiko

Prevalensi gangguan pendengaran pada neonatus dengan indikator risiko memiliki 10 - 20 kali lebih tinggi risiko dibandingkan populasi umum neonatus. Indikator risiko di bawah ini berhubungan dengan gangguan pendengaran kongenital bilateral permanen, termasuk:

• Rawatan inap NICU > 2 hari

• Riwayat keluarga memiliki SNHL saat anak - anak

• Abnormalitas kraniofasial

• Sindrom kongenital atau infeksi tertentu

• Berat badan lahir sangat rendah (< 1500 gram)

• Bayi prematur < 33 minggu

Sekitar 50% neonatus dengan gangguan pendengaran kongenital bilateral tidak memiliki indikator risiko yang diketahui. (Northern J, 1991)

2.3.5.3 Interval Skrining

Semua bayi seharusnya menjalani skrining pendengaran sebelum usia 1 bulan. Bayi yang tidak lolos skrining neonatus harus dilakukan pemeriksaan audiologi sebelum 3 bulan untuk konfirmasi. Hal ini dikarenakan terdapat peningkatan risiko gangguan pendengaran pada bayi dengan indikator risiko, dan para ahli merekomendasikan anak - anak ini harus menjalani monitoring periode selama 3 tahun (Joint Committee on Infant Hearing, 2000).

2.4 Pemeriksaan OAE

Otoacoustic emissions (OAE) adalah suara intensitas rendah yang dipancarkan oleh sel rambut luar fungsional koklea. OAE diukur dengan stimulus akustik seperti serangkaian klik yang sangat cepat ke telinga

melalui probe yang dimasukkan ke sepertiga luar kanal telinga. Probe mengandung loudspeaker yang menghasilkan klik dan sebuah mikrofon untuk mengukur OAE yang dihasilkan. Pemeriksaan OAE tidak membutuhkan umpan balik prilaku atau interaktif oleh individu yang diuji.

OAE digunakan sebagai pemeriksaan skrining neonatus. Aplikasi potensial lain termasuk skrining anak - anak atau populasi berisiko, dan mengkarakterisasi sensitivitas, gangguan pendengarn fungsional, dan diferensiasi komponen sensori dari komponen neuronal pada orang dengan gangguan pendengaran.

Alat OAE dapat menggunakan teknologi transient evoked OAE (TEOAE) atau distortion product OAE (DPOAE). Alat TEOAE memancarkan klik singkat yang melingkupi rentang frekuensi luas. Alat DPOAE memancarkan dua tone set singkat pada dua frekuensi yang berbeda. TEOAE digunakan untuk skirining bayi, memvalidasi pemeriksaan lain dan menilai fungsi koklea, sedangkan DPOAE digunakan untuk menilai kerusakan koklea, ototoksisitas dan kerusakan akibat suara. Spontaneuos otoacoustic emission (SOAE) merupakan suara yang dipancarkan tanpa stimulus akustik (secara spontan). Stimulus - frequency otoacoustic emissions (SFOAE) merupakan suara respon terhadap berbagai tone berkesinambungan dan SFOAE tidak secara klinis digunakan (United Healthcare Oxfords, 2012).

2.4.1 Mekanisme Pemeriksaan

OAE merupakan pemeriksaan non invasif yang secara teknik sangat mudah direkam, dan membutuhkan beberapa menit untuk kedua telinga.

Sedasi tidak diindikasikan untuk pengukuran OAE, bahkan pada anak - anak. Tidak ada respon prilaku yang diperlukan sehingga prosedur tidak dipengaruhi oleh motivasi, perhatian, atau status kognitif pasien. Secara singkat, ujung probe sekali pakai secara lembut dimasukkan ke bagian luar meatus akustikus eksternus. Tidak diperlukan penutup kedap udara antara ujung probe dan meatus. Sebuah speaker mini di dalam probe (dua speaker

untuk DPOAE) menghasilkan stimulus suara dengan tingkat intensitas yang sedang. Stimulus menggetarkan membran timpani dan energi mekanik ditransmisikan melalui telinga tengah ke koklea. Gelombang kecil di cairan koklea menggetarkan membran tipis yang mengaktivasi sel rambut luar.

Energi yang berhubungan dengan pergerakan sel rambut luar, dalam regio frekuensi stimulus, dihantarkan kembali melalui sistem telinga tengah dan sebagai suara ke meatus akustiskus eksternus. Sebuah mikrofon mini di dalam probe mendeteksi suara terkait OAE dan suara lain di dalam meatus selama perekaman. Aktivitas OAE dibedakan dari suara fisiologis lain di meatus akustikus dan adanya OAE secara statistik telah dikonfirmasi. Nilai amplitudo OAE kemudian dibandingkan dengan data normal pada alat (Hall, 2012).

Gambar 2.3 Ilustrasi pengukuran distortion product otoacoustic emissions (DPOAE). (Hall, 2012)

2.4.2 Penggunaan Klinis

Karena sensitivitasnya terhadap disfungsi koklea, maka OAE berguna dalam pemeriksaan auditori berbagai pasien di populasi. Salah satu aplikasi yang paling sering adalah untuk skrining individu dengan risiko gangguan pendengaran. Skrining OAE secara umum digambarkan sebagai

“Pass” atau “Refer”. Pass dilaporkan ketika OAE ditemukan (yakni Signal to Noise Ratio > 6 dB di atas suara dasar / floor noise) pada mayoritas frekuensi pemeriksaan. Meskipun adanya OAE tidak selalu

mengindikasikan sensitivitas pendengaran normal, hasil pass mengeksklusi gangguan pendengaran derajat berat. Refer harus diartikan sebagai adanya faktor risiko gangguan pendengaran yang dapat mempengaruhi komunikasi. Pasien yang memiliki hasil “refer” harus dirujuk untuk penilaian pendengaran diagnostik, tatalaksana audiologi atau medis (Hall, 2012).

Penggunaan OAE pada Anak:

• Skrining pendengaran bayi

• Skrining pendengaran anak usia pre - sekolah

• Skrining anak usia sekolah

• Monitoring kemungkinan ototoksisitas

• Diagnosis gangguan pendengaran pediatrik

2.5. Pemeriksaan BERA

Brainstem Evoked Response Auditory (BERA) merupakan pemeriksaan pendengaran yang bersifat objektif dan dapat dipercaya.

Pemeriksaan ini merupakan rekaman secara elektrofisiologis respons yang berasal dari aktivasi jaras pendengaran terhadap stimulus suara, mulai dari koklea sampai sepanjang batang otak, menunjukkan integritas singkronisasi saraf. Pemeriksaan ini noninvasif dan mempunyai nilai objektif yang cukup tinggi. Karena sifat tersebut, maka BERA sering digunakan di klinik. Melalui elektroda di permukaan kulit kepala atau telinga yang cukup jauh dari sumber generator neural, tes BERA dapat merekam perubahan potensial listrik di sepanjang jalur pendengaran perifer yang timbul setelah pemberian rangsangan suara. Hasil rekaman tersebut melalui proses amplifikasi komputer dapat menghasilkan suatu seri gelombang yang menggambarkan aktivitas saraf auditorius dan area sepanjang jalur pendengaran mulai dari koklea sampai sepanjang saraf auditorius di batang otak (Hall JW, 2014; Robert B, 2009).

BERA adalah bentuk gelombang yang memperlihatkan fungsi elektrofisiologik sebagai suatu respons terhadap stimulus suara yang terjadi dalam waktu 10 detik setelah pemberian stimulus. Jewett dan Williston

membagi gelombang yang terjadi dalam 10 detik tersebut menjadi 7 (tujuh) gelombang dengan memberi angka Romawi untuk masing - masing puncak gelombang tersebut. Setiap gelombang menunjukkan integritas saraf di area tertentu di sepanjang jaras pendengaran; gelombang I menunjukkan aktivitas dari bagian distal N.VIII, gelombang II menunjukkan aktivitas dari bagian proksimal N.VIII, gelombang III menunjukkan aktivitas setinggi nukleus koklearis, gelombang IV memperlihatkan aktivitas dari kompleks olivari superior, serta kemungkinan juga ada kontribusi dari nukleus koklearis dan lemniskus lateral, gelombang V memperlihatkan aktivitas dari lemniskus lateral dan kolikulus inferior, gelombang VI dan VII didominasi oleh aktivitas dari kolikulus inferior. Gelombang IV dan V kadang bergabung membentuk kompleks IV - V. Komponen amplitudo bervariasi antara setiap subjek, namun puncak masa laten gelombang I, III, dan V relatif tetap pada semua subjek. Gelombang V adalah gelombang yang paling stabil, mudah untuk dinilai bahkan sampai pada stimulus suara intensitas rendah dan bermakna secara klinis, oleh karena itu penilaian potensial BERA predominan berdasarkan pada masa laten (interval waktu antara onset stimulus dan puncak gelombang) puncak absolut (Robert B, 2009; Moller, 2006).

2.5.1 Persiapan pasien

Pemeriksaan brain evoked response auditory (BERA) idealnya dilakuakan di ruangan kedap suara atau lingkungan yang memenuhi standard yang sama seperti yang digunakan pada audiometri nada murni.

Standar minimum adalah lingkungan harus memiliki konduksi udara terendah dan kadar stimulus konduksi tulang yang digunakan (biasanya 15 dBnHlL) dapat secara jelas didengar oleh pendengaran dewasa normal.

Suara kipas angin dari alat dapat menyebabkan gangguan stimuli pada level stimulus rendah, maka alat harus diletakkan menjauh dari subjek pemeriksaan. Selain itu, tingkat interferensi elektrik (misal 50 Hz) harus cukup rendah sehingga sinyal dasar tidak dipengaruhi. Ruangan tempat

pemeriksaan tidak boleh dekat dengan sumber potensi gangguan seperti peralatan utama, transformer atau peralatan pabrik bertenaga tinggi (British Society Audiology, 2019).

2.5.2 Peletakan Elektroda AC dan BC

Sebuah kanal perekam direkomendasikan untuk AC dan BC dengan elektroda yang ditempatkan: (British Society Audiology, 2019).

• Elektroda positif: dahi atas sedekat mungkin dengan Cz dan garis tengah. Fontanel harus dihindari namun elektroda harus ditempatkan sedekat mungkin dengannya atau jika tidak respon BERA dapat berkurang.

• Elektroda negatif: ipsilateral terhadap mastoid. Harus terdapat ruang yang cukup untuk vibrator tulang ditempatkan di mastoid tanpa mengganggu elektroda.

• Elektroda umum: kontralateral terhadap mastoid

Cz adalah posisi standar yang digunakan pada dewasa, yakni sistem 10 - 20 elektroda pada elektroensefalografi (EEG). Untuk tujuan ini, titik di sepanjang garis tengah kulit kepala hingga antara jembatan hidung (nasion) dan awal mula tengkorak di bagian depan kepala (inion) (British Society Audiology, 2019).

(a) (b)

Gambar 2.4 Diagram Peletakan Elektroda (a) Tampilan Depan, (b) Tampilan Lateral Kiri. (British Society Audiology, 2019)

2.5.3 Stimulus

Nilai rekomendasi untuk parameter stimulus ini untuk memastikan perekaman kompleks III/V-SN10 yang krusial pada pemeriksaan ambang batas anak-anak. Stimulus harus dari polaritas bolak-balik untuk meminimalisir artefak. Pulsasi elektrik 100μs harus digunakan untuk click BERA dan 2 siklus naik / turun dan satu siklus plateu untuk tone pip BERA.

Narrow band (pip-like) chirps (Nbchirp) juga dapat digunakan (British Society Audiology, 2019).

2.5.4 Hasil Pemeriksaan BERA

Prinsip pemeriksaan BERA adalah menilai perubahan potensial listrik di otak setelah pemberian rangsangan sensoris berupa bunyi.

Rangsangan bunyi yang diberikan melalui head phone atau insert probe akan menempuh perjalanan melalui koklea (gelombang I), nukleus koklearis (gelombang II), nukleus olivarius superior (gelombang III), lemnikus lateralis (gelombang IV), kolikulus inferior (gelombang V) kemudian menuju ke korteks auditorius di lobus temporalis otak (Rundjan, 2016).

Penilaian gelombang BERA tersebut terdiri atas identifikasi gelombang I sampai V, masa laten absolut, masa laten antara gelombang, perbedaan masa laten antara kedua telinga, rasio amplitudo gelombang V dan I, dan fungsi intensitas stimulus terhadap masa laten. Terdapat perbedaan yang berhubungan dengan perkembangan terhadap morfologi gelombang, amplitude, dan masa laten gelombang BERA. Pada awal kehidupan, hanya gelombang I, III, dan V yang muncul dengan masa laten yang panjang, amplitudo gelombang I lebih besar daripada gelombang V, dengan berjalannya waktu, terjadi perubahan, berupa semakin jelasnya gelombang V dibandingkan dengan gelombang lainnya (Robert B, 2009;

Moller, 2006).

BERA konvensional merupakan click evoked BERA air conduction, dan frekuensi yang diberikan sebesar 2000 - 4000Hz, dengan intensitas

dapat mencapai 105 dB. BERA membutuhkan waktu yang lebih lama dan tenaga terlatih dalam mengoperasikan alat maupun menginterpretasikan hasil (Rundjan, 2016).

2.6 Kerangka Teori

Gambar 2.5. Kerangka Teori

Anak Obat ototoksik Status infeksi

Dalam kehamilan

Tuli sensorineural Tuli konduktif

BBLR

Prematur

Serat saraf auditori Sel rambut luar koklea Akumulasi

endolimfe, perilimfe

secara progresif Malformasi sistem

2.7 Kerangka konsep

Gambar 2.6 Kerangka konsep Usia

Jenis kelamin

Berat badan lahir

Usia kehamilan ibu

OAE

BERA

Jenis persalinan

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif retrospektif dengan mengambil data sekunder dari catatan medis pasien dengan skrining pendengaran yang berkunjung ke poliklinik THT - KL RSUP Haji Adam Malik Medan dari tahun 2017 - 2019 untuk melakukan pemeriksaan OAE dan BERA click.

3.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan.

Waktu penelitian dilaksanakan Oktober - November 2020.

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1. Populasi Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien yang menjalani pemeriksaan OAE dan BERA click yang berkunjung ke poliklinik THT - KL RSUP Haji Adam Malik Medan dari tahun 2017 - 2019.

3.3.2. Sampel Penelitian

Sampel penelitian adalah sebagian pasien yang menjalani pemeriksan OAE dan BERA click yang berkunjung ke poliklinik THT - KL RSUP Haji Adam Malik Medan dari tahun 2017 - 2019 sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi.

3.4. Kriteria Inklusi dan Eksklusi Kriteria inklusi:

1. Data rekam medis pasien yang melakukan skrining pendengaran ke Poliklinik THT - KL di RSUP Haji Adam Malik Medan mulai tahun 2017 – 2019.

Kriteria eksklusi:

1. Data rekam medis tidak lengkap.

2. Pasien yang tidak dilakukan pemeriksaan pendengaran dengan lengkap.

3.5 Besar Sampel

Untuk besaran sampel, pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan rumus Slovin:

𝑛𝑛 = 𝑁𝑁 1 + (𝑁𝑁. 𝑒𝑒2 ) Keterangan:

n : Jumlah sampel minimal N : Jumlah populasi

e2 : Nilai kritis yang diinginkan (10% = 0.1) 𝑛𝑛 = 532

1 + (532. 0.12 ) 𝑛𝑛 = 532

1 + 5,3 𝑛𝑛 = 532

6,3 𝑛𝑛 = 84

Jumlah sampel yang diambil dari penelitian ini adalah 84 sampel, dengan tingkat kesalahan yang digunakan adalah 10%. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik non probability sampling dengan consecuticve sampling yang memenuhi kreterian inklusi penelitian.

3.6. Alur Penelitian

Kriteria Inklusi

Pencatatan data berupa usia, jenis kelamin, berat badan lahir, usia kehamilan ibu, jenis persalinan dan hasil pemeriksaan OAE dan BERA click pada pasien

Sampel yang memenuhi kriteria inklusi penelitian

Deskripsi Gambaran Pemeriksaan OAE dan BERA click di RSUP

Haji Adam Malik Medan

Pengumpulan data rekam medis pasien dengan skrining pendengaran

Gambar 3.1 Alur Penelitian Sampling

Teknik non probability sampling, metode consecutive sampling Kriteria Eksklusi

3.7 Cara Kerja

Peneliti mengumpulkan data rekam medis pada pasien dengan skrining pendengaran yang datang ke Poliklinik THT - KL RSUP Haji Adam Malik Medan dan menjalani pemeriksaan OAE dan BERA click sejak tahun 2017 – 2019. Pengambilan data berupa usia, jenis kelamin, berat badan lahir, usia kehamilan ibu, jenis persalinan serta hasil pemeriksaan OAE dan BERA click pada pasien. Hasil penelitian diolah dan ditampilkan dalam bentuk tabel.

3.7.1 Pemeriksaan OAE

OAE yang timbul dapat dicatat secara sederhana dengan memasang probe (sumbat) dari bahan spons berisi mikrofon mini ke dalam liang telinga untuk memberi stimulus akustik dan untuk menerima emisi yang dihasilkan koklea tersebut. Bila terdapat gangguan pada saat suara dihantarkan dari telinga luar seperti debris / serumen, gangguan pada telinga tengah seperti otitis media maupun kekakuan membran timpani, maka stimulus akustik yang sampai ke koklea akan terganggu dan akibatnya emisi yang dibangkitkan dari koklea juga akan berkurang. Alat OAE didisain secara otomatis mendeteksi adanya emisi (pass / lulus) atau bila emisi tidak ada/berkurang (refer / rujuk), sehingga tidak membutuhkan tenaga terlatih untuk menjalankan alat maupun menginterpretasikan hasil (Rundjan, 2016).

3.7.2 Pemeriksaan BERA

Hasil pemeriksaan OAE, dilanjutkan dengan pemeriksaan BERA untuk mengetahui kondisi saraf - saraf pengengaran dan derajat pendengaran pasien. Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) merupakan suatu pemeriksaan untuk menilai fungsi nervus VIII dan jalur pendengaran di batang otak. Caranya dengan merekam potensial listrik yang dikeluarkan oleh sel koklea selama menempuh perjalanan mulai telinga dalam hingga nukleus tertentu dibatang otak. Pemeriksaan

dilakukan dengan menggunakan elektroda permukaan yang dilekatkan pada kulit kepala atau dahi dan prosesus mastoid atau lobulus telinga.

Prinsip pemeriksaan BERA adalah menilai perubahan potensial listrik di otak setelah pemberian rangsangan sensoris berupa bunyi. Rangsangan bunyi yang diberikan melalui head phone atau insert probe akan menempuh perjalanan melalui koklea (gelombang I), nukleus koklearis (gelombang II), nukleus olivarius superior (gelombang III), lemnikus lateralis (gelombang IV), kolikulus inferior (gelombang V) kemudian menuju ke korteks auditorius di lobus temporalis otak. Yang penting dicatat adalah gelombang I, III dan V. BERA konvensional merupakan click evoked BERA air conduction, dan frekuensi yang diberikan sebesar 2000 – 4000 Hz, dengan intensitas dapat mencapai 105 dB. BERA membutuhkan waktu yang lebih lama dan tenaga terlatih dalam mengoperasikan alat maupun menginterpretasikan hasil.

Pada bayi berusia < 3 bulan tidak diperlukan sedatif, sedangkan pada anak

> 3 bulan diperlukan sedatif (Rundjan, 2016).

3.8. Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel Penelitian Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel Definisi Cara Pengukuran Skala Usia Lama hidup pasien

dari lahir sampai saat penelitian yang dilihat dari penampilan luar.

Usia

Berat badan yang di ukur saat bayi baru lahir.

Jenis

Data yang sudah dikumpulkan, diolah, dan dianalisis secara deskriptif untuk melihat distribusi frekuensi dan persentase variabel yang di teliti.

BAB IV HASIL PENELITAN

4.1 Gambaran umum lokasi penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif retrospektif dengan mengambil data sekunder dari catatan medis pasien dengan skrining pendengaran di poliklinik THT - KL RSUP Haji Adam Malik Medan. Sampel penelitiannya adalah pasien yang menjalani pemeriksan OAE dan BERA click di RSUP Haji Adam Malik Medan dari tahun 2017 - 2019 dengan jumlah 84 pasien yang akan dijelaskan dibawah ini.

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Distribusi Frekuensi Usia

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Usia Usia Anak Jumlah Persentase

(%)

< 1 tahun 26 31.0

1 - 3 tahun 32 38.1

> 3 - 5 tahun 17 20.2

> 5 tahun 9 10.7

Total 84 100.0

Berdasarkan tabel 4.1 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas anak yang melakukan pemeriksaan skrining pendengaran adalah berusia 1 - 3 tahun berjumlah 32 orang (38.1%) dan minoritas berusia > 5 tahun berjumlah 9 orang (10.7%), sedangkan usia < 1 tahun berjumlah 26 orang (31%) dan Usia > 3 - 5 tahun berjumlah 17 orang (10.7%).

4.2.2 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Jenis kelamin Jumlah Persentase

(%)

Laki - laki 45 53.6

Perempuan 39 46.6

Total 84 100.0

Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas anak yang melakukan pemeriksaan skrining pendengaran adalah berjenis kelamin laki - laki yaitu sebanyak 45 orang (53.6%) dan perempuan berjumlah 39 orang (46.6%).

Berdasarkan tabel 4.2 diatas dapat dilihat bahwa mayoritas anak yang melakukan pemeriksaan skrining pendengaran adalah berjenis kelamin laki - laki yaitu sebanyak 45 orang (53.6%) dan perempuan berjumlah 39 orang (46.6%).

Dokumen terkait