• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Landasan Teori

7. Etnolinguistik Melalui Semantik

Kajian etnolinguistik tidak bisa dipisahkan dari kajian semantik karena untuk memperoleh makna di dalam bahasa dapat dilihat dengan teori semantik. Verhaar (2016: 13) mengatakan semantik adalah cabang ilmu linguistik yang membahas arti atau makna. Odgen dan Richards (1923: 186) mengungkapkan bahwa makna adalah suatu perbendaharaan kata yang intrinsik dan hubungan antara ha-hal unik.

Selanjutnya, dalam sebuah kelompok kata, arti ditentukan oleh makna leksikal dan makna gramatikal. Penelitian ini menggunakan empat jenis makna yaitu makna leksikal, makna gramatikal, makna denotatif, dan makna kultural untuk menganalisis temuan data yang ada.

Pertama, Pateda (2010: 19) menyatakan bahwa makna leksikal adalah makna kata ketika kata itu berdiri sendiri, entah dalam bentuk leksem atau bentuk berimbuhan yang maknanya kurang lebih tetap, seperti yang dapat dibaca di dalam kamus bahasa tertentu. Misalnya, makna leksem cѐlleng ‘hitam’ yang secara leksikal menurut kamus bahasa Madura (Pawitra, 2009: 9) merupakan warna dasar serupa dengan arang.

Kedua, Subroto (2011: 33) menyatakan bahwa makna gramatikal adalah makna yang timbul karena relasi satuan gramatikal baik dalam konstruksi morfologi, frasa, klausa, atau kalimat. Dengan kata lain, makna gramatikal merujuk pada makna dari hubungan antarunsur dalam sebuah bahasa. Data yang diperoleh dalam penelitian ini selain merupakan kata yang berasal dari warna utama juga berupa gabungan kata yaitu warna dasar atau nondasar yang mendapatkan atribut.

Gabungan antara warna dasar atau nondasar dengan atribut tersebut akan membentuk sebuah frasa. Selanjutnya, atribut dalam nama warna bisa berasal dari berbagai kelas kata. Setiap atribut dapat memberikan makna yang berbeda dalam penentuan spektrum warna.

Contoh:

1. Warna + atribut adjektiva (TB.01/41)

Konѐng pocet  konѐng + pocet kuning pucat 2. Warna + atribut nomina

(TB.01/35)

Konѐng konyè’ konѐng + konyè’

kuning kunyit

Ketiga, makna denotatif adalah makna dasar, yaitu makna kata yang masih menunjuk pada acuan dasarnya sesuai dengan konvensi masyarakat pemakai bahasa. Menurut Suwandi (2011: 96), makna dasar juga dapat dinyatakan mengenai hubungan antara kata dan pengertiannya secara objektif. Misanya, makna denotatif frasa bherrâs konѐng ‘beras kuning’ (TB.03.02/01) bherrâs konѐng atau beras kuning adalah salah satu perlengkapan yang digunakan saat tari Muwang Sangkal dimainkan. Beras ini nantinya akan ditabur oleh para penari.

Keempat, Subroto (2011: 36) menyatakan bahwa makna kultural adalah arti secara khas yang mengungkapkan unsur-unsur budaya dan keperluan budaya secara khas aspek kebudayaannya. Kemudian, Abdullah (2017: 56) juga menyatakan bahwa makna kultural berfungsi untuk menyoroti kearifan lokal yang berkaitan dengan beraneka ragam corak aktivitas kehidupan bahasa dan budaya masyarakat. Misalnya, makna kultural frasa bherrâs konѐng ‘beras kuning’ (TB.03.02/01) adalah beras kuning ditabur atau dibuang (muwâng) dengan maksud menghalau musibah. Warna kuning bermakna sinar matahari. Musibah yang ada di dalam kehidupan manusia dilambangkan dengan warna gelap (hitam). Oleh sebab itu, dengan membuang beras kuning sama halnya dengan memberikan sinar kepada kegelapan sehingga musibah tidak lagi mendatangi hidup manusia.

a. Metafora

Teori mengenai metafora dalam bidang semantik digunakan untuk mendeskripsikan penamaan warna dalam bahasa Madura.

Menurut Knowles dan Moon (2006: 2), metafora adalah penggunaan bahasa untuk merujuk kepada hal lain yang memiliki kesamaan atau hubungan antara objek yang ditunjuk dan yang menjadi penunjuk. Selaras dengan itu, Subroto (2011: 116) menyatakan jika pada dasarnya metafora diciptakan berdasarkan persamaan (similarity) antara dua satuan atau antara dua term.

Persamaan tersebut terdapat dalam beberapa aspek saja, bukan keseluruhan. Misalnya, persamaan terhadap wujud fisik, karakter, atau daya tangkap. Di antara beberapa persamaan yang digunakan dalam metafora, persamaan terhadap wujud fisik biasanya dapat diamati secara nyata dan paling mudah ditangkap. Subroto (2011:

126-127) mengungkapkan bahwa metafora sendiri berfungsi untuk (1) mengatasi kekurangan atau keterbatasan leksikon, (2) memberikan daya ekpresif, dan (3) mengurangi ketunggal-nadaan.

Penggunaan metafora dalam kehidupan sehari-hari dapat mencerminkan kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Duranti (1997: 38) bahwa metafora dianggap sebagai situasi ketika suatu budaya dibawa dalam bentuk linguistik dan digunakan dalam komunikasi.

Palmer (1999: 223) membagi metafora dalam 3 unsur, yaitu (1) tenor, merupakan objek yang dikiaskan atau disebut pebanding, (2) vehicle, merupakan konsep yang digunakan untuk melambangkan tenor atau disebut pembanding, dan (3) ground, merupakan persamaan yang muncul antara tenor dan vehicle.

Sebagai contoh, dalam data (TB.1/46) konѐng matta ‘kuning mentah’. Unsur tenor dalam frasa tersebut adalah konѐng ‘kuning’.

Dengan demikian, warna konѐng merupakan objek yang kiaskan.

Matta ‘mentah’ merupakan unsur vehicle karena menjadi unsur pembanding, sedangkan unsur ground merupakan interaksi

persamaan di antara kedua unsur tersebut yaitu warna kuning disandingkan dengan adjektiva ‘mentah’ yang mana kata ‘mentah’

bermakna belum matang. Istilah konѐng matta digunakan untuk menyebut warna kuning keputihan. Warna tersebut seperti pada daging buah yang belum matang betul. Selanjutnya, penamaan warna secara metaforik tersebut dapat dijelaskan lebih mendalam melalui dimensi makrolinguistik untuk mengetahui faktor-faktor pembentuk penamaan warnanya.

b. Hubungan Semantik dan Semiotik

Menurut Ratih (2016: 2), kata semiotik berasal dari bahasa Yunani yaitu semion yang berarti tanda. Subroto (2011: 3) menyatakan jika semantik merupakan bagian dari semiotik dan semiotik mengkaji sistem penciptaan juga pengidentifikasian tanda beserta lika-likunya. Selanjutnya, bagi Pateda (2010: 29), masyarakat yang berwujud manusia dikelilingi oleh tanda, diatur oleh tanda, ditentukan oleh tanda, bahkan dipengaruhi oleh tanda sehingga dengan demikian terdapat kelompok semiotik. Tanda-tanda yang berada di sekeliling manusia tersebut akan ditelaah maknanya dalam bidang semantik. Jadi, Hidayat (2004: 78) menyimpulkan bahwa semiotik adalah teori dan analisis berbagai tanda (sign) dan pemaknaan (signification).

Ferdinand de Saussure (1959: 67) menyatakan bahwa konsep tanda tergolong ke dalam model tanda diadik, yaitu signifier

‘penanda’ untuk sound-image ‘citra-bunyi’ dan signified ‘petanda’

untuk konsep. Berbeda dengan hal itu, Pierce (1998: 272-278) menggambarkan tanda dalam tiga komponen atau biasa disebut triadik Pierce, yaitu (1) representamen, (2) object, dan (3) interpretant. Representamen adalah sesuatu yang berhubungan dengan object, object adalah tanda yang berada di sekeliling manusia, sedangkan interpretant merupakan tafsiran makna dari hubungan antara representamen dan object.

Menurut teori semiotik Pierce (1998: 5), tanda dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) likeness or icons ‘ikon’, (2) indications

‘indeks’, dan (3) symbols ‘simbol’. Likeness or icons ‘ikon’

merupakan tanda yang terkait dengan objek berdasarkan kemiripannya, seperti gambar, potret, atau patung. Indications

‘indeks’ merupakan tanda yang penanda dan petandanya menunjukkan adanya hubungan alamiah yang bersifat kausalitas, misalnya asap menandai api, mendung menandai hujan. Symbols

‘simbol’ merupakan tanda yang penanda dan petandanya tidak menunjukkan adanya hubungan alamiah; hubungannya arbiter (semau-maunya) berdasarkan konvensi, misalnya kata “ibu”

digunakan untuk menandai orang yang melahirkan kita. Warna sendiri merupakan jenis tanda berupa simbol.

Selain teori diadik Saussure dan triadik Pierce di atas, tanda juga digambarkan dalam segitiga semantik Odgen dan Richards (1923: 11). Teori tanda Richards dan Odgen dirasa paling tepat digunakan dalam analisis tanda karena hubungan antara tiga komponen dalam segitiga semantik tersebut memiliki urutan penafsiran tanda yang lebih jelas, lengkap, dan mudah dibedakan daripada teori triadik Pierce dan diadik Saussure. Dalam triadik Pierce, komponen representamen dan object merupakan dua hal yang samar dan kadang sulit dibedakan. Menurut Nazaruddin (2015: 12), representamen merupakan tanda yang dipersepsi oleh orang. Hal tersebut akan tumpang tindih dengan keberadaan object.

Selanjutnya, teori diadik Saussure memaknai object sebagai referent dan menyebutkannya hanya sebagai unsur tambahan dalam proses penandaan. Dengan kata lain, tanda menurut Saussure (1959: 66) adalah kombinasi dari sebuah konsep dan sebuah sound-image ‘citra-bunyi’. Berbeda dengan segitiga semantik Odgen dan Richards yang memaparkan 3 unsur penting dalam sebuah tanda dan tidak hanya berhenti pada konsep thought saja.

Berdasarkan bagan di atas, A merupakan simbol (bunyi) yang dinyatakan dengan garis lurus B, sedangkan B merupakan konsep dalam pikiran. Hubungan antara A dan B bersifat kausatif yang artinya terdapat hubungan sebab-akibat, yaitu konsep yang muncul dalam pikiran manusia disebabkan karena adanya faktor sosial dan psikologis dari penggunanya ketika mendengar A. Jadi, konsep pikiran atau referensi satu individu dengan yang lain tidak bisa disamakan. Selanjutnya, B memiliki hubungan dengan C yang merupakan referen. Hubungan B dan C ini ibarat sebuah rantai panjang yang bisa memiliki hubungan maupun tidak. Dengan kata lain, dalam penggunaan bahasa, benda-benda sekitar dapat diabstraksikan atau memiliki ciri-ciri. Lalu, hubungan A dan C dinyatakan dengan tanpa garis karena tidak ada hubungan yang relevan atau merupakan hubungan tidak langsung.

Sebagai contoh, kata konѐng merupakan simbol atau bentuk kata (A) yang memiliki hubungan kausatif dengan (B) yaitu merupakan salah satu warna dalam bahasa Madura yang menyerupai bagian dalam dari kunyit. Secara kultural bagi masyarakat Madura warna konѐng ‘kuning’ bisa bermakna sinar matahari khususnya dalam domain kesenian tari Muwang Sangkal yaitu atribut bherrâs konѐng ‘beras kuning’ karena mampu menghalau musibah yang dilambangkan dengan warna gelap.

Bagan 2. Segitiga Semantik Odgen dan Richards (1923: 11)

Selanjutnya, konsep (B) memiliki hubungan dengan referent (C)

yaitu konsep yang sudah dijelaskan tersebut mengacu pada referent . . Hubungan antara referent (C) dengan bentuk kata (A)

bersifat tidak langsung. Hal ini dikarenakan tanda tersebut merupakan simbol yang tidak memiliki hubungan alamiah.

Menurut Pateda (2010: 29-30), sekurang-kurangnya ada 9 macam semiotik. Penelitian ini menerapkan semiotik kultural.

Semiotik kultural adalah semiotik yang khusus menelaah sistem tanda yang berlaku dalam kebudayaan masyarakat tertentu. Hal ini dikarenakan tanda (warna) yang akan diteliti makna kulturalnya merupakan warna-warna yang terekspresikan dalam kehidupan dan kebudayaan masyarakat Madura di Kab. Sumenep.