Laju Inflasi Kota Mataram 2010-2014 (%)
EVALUASI CAPAIAN SASARAN 6 “Meningkatnya Kesetaraan Gender”
No INDIKATOR KINERJA UTAMA
(IKU) SATU-AN Tahun 2011 CAPAIAN KINERJA 2011 Tahun 2012 CAPAIAN KINERJA 2012 Target Realisasi Target Realisasi
1 Indeks Pemberdayaan
Gender (IPG) % NA NA NA 50 55,77 115,54
2 Angka Melek Huruf
Perempuan % 100 91,02 90,58 100 90,67 90,03
Rata-rata Capaian IKU 86,81 90,93 Kinerja Capaian Sasaran 6 86,81 90,93 No INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) SATU-AN Tahun 2013 CAPAIAN KINERJA 2013 Tahun 2014 CAPAIAN KINERJA 2014
Target Realisasi Target Realisasi 1 Indeks Pemberdayaan
Gender (IPG) % 50 56,69
110,45 50 57,77 115,54 2 Angka Melek Huruf
Perempuan % 100 90,58
90,58 100 90,03 90,03 Rata-rata Capaian IKU (%) 100,52 102,78
Kinerja Capaian Sasaran 6 100,52 102,78 Populasi penduduk perempuan Kota Mataram lebih banyak dibandingkan penduduk laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari nilai sex ratio sebesar 98 (kurang dari 100) yang berarti bahwa dari setiap 100 penduduk perempuan terdapat 98 penduduk laki-laki. Angka Melek Huruf (AMH) Perempuan di Kota Mataram tahun 2014 mencapai 90,03 persen sehingga masih ada 9,97% angka buta huruf perempuan. Besaran angka ini didominasi oleh penduduk usia lanjut yang berjenis kelamin perempuan.
Indeks Pemberdayaan Gender (IPG) sebagai salah satu ukuran untuk melihat peran aktif perempuan dalam pembangunan. Angka IPG sebesar 57,77 jika dibandingkan dengan target RPJMD sebesar 50% maka IPG Kota Mataram telah melampui target. Besaran IPG dipengaruhi oleh implementasi kebijakan gender. Ada beberapa klasifikasi kebijakan gender yang dapat membantu pengambil keputusan untuk menentukan sejauhmana relasi gender dilakukan. Kebijakan yang ditetapkan adalah Kebijakan yang Sadar Gender (Gender-aware Policies), dengan mengakui perempuan adalah aktor pembangunan yang sama dengan laki-laki, keterlibatan perempuan pada dasarnya ditentukan oleh relasi gendernya sehingga keterlibatannya berbeda dan seringkali tidak setara; hal ini untuk menjamin bahwa target dan manfaat dari program sama-sama dinikmati oleh perempuan dan laki-laki dalam menjawab kebutuhan praktis gender mereka,
sehingga kedepan tercipta suatu relasi yang lebih setara antara perempuan dan laki-laki dan menyentuh kebutuhan strategis gender.
Disamping itu, dalam mewujudkan kesetaraan gender telah dilakukan upaya-upaya, antara lain dengan meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pembangunan, terutama dalam aspek perencanaan pembangunan dengan menargetkan proporsi peserta Musrenbang/MPBM sebesar 30 persen adalah peserta dari unsur perempuan, membuka seluas-luasnya informasi yang dapat diakses oleh Ibu, maupun Calon Ibu terhadap kesehatan reproduksi, keluarga berencana dan keluarga sejahtera, meningkatkan pengetahuan dan pengembangan diri perempuan dengan membuka kesempatan pembentukan lembaga-lembaga non formal pemerhati perempuan, ibu dan anak, serta meningkatkan ruang expresi perempuan melalui peningkatan frekuensi acara berbasis gender bernilai kebangsaan seperti Peringatan Hari Ibu, Hari Kartini, dan lain-lain.
Dalam memberikan peluang pemberdayaan perempuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan, dibentuk beberapa organisasi perempuan, antara lain: (1) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), (2) Gerakan Organisasi Wanita (GOW), (3) Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), (4) Forum Peduli Air Susu Ibu (FPASI). Keberadaan organisasi tersebut telah memberikan perkembangan positif bagi meningkatnya peran perempuan dalam mensukseskan program pembangunan daerah. Salah satunya adalah telah ditorehkannya beberapa prestasi yang diraih oleh Tim Penggerak PKK Kota Mataram pada tahun 2014, antara lain dengan terpilihnya Ketua Tim Penggerak PKK Kota Mataram (ibu Suryani Ahyar Abduh) sebagai penerima PENGHARGAAN CITRA KARTINI
INDONESIA sebagai salah seorang tokoh penggerak emansipasi wanita di Kota
Mataram. Sebelumnya pada tahun 2013, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Mataram telah memperoleh penghargaan ANUGERAH WANITA UTAMA INDONESIA dari Lembaga Anugerah Prestasi Insani Indonesia sebagai salah satu perempuan yang berkomitmen dan memiliki kepedulian dalam pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Kota Mataram.
Disamping penguatan peran perempuan, upaya perlindungan terhadap anak terus menerus dilakukan dengan memberikan akses dan ruang ekpresi anak. Keberadaan Taman-taman Kota yang juga menjadi Kawasan Hijau Kota Mataram, dijadikan sebagai salah satu ruang apresiasi dan media ekpresi anak. Penguatan karakter anak yang beriman, bertaqwa dan berbudi pekerti luhur sebagai salah satu basis pendidikan anak usia dini menjadi fokus pembelajaran pada lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) atau Taman Kanak-Kanak (TK) di wilayah Kota Mataram. Berkembangnya jumlah PAUD dan TK serta meningkatnya
jumlah siswa PAUD dan TK setiap tahunnya memberikan gambaran bahwa masyarakat telah memberikan perhatian serius terhadap pendidikan anak.
Dari sisi kebijakan, Pemerintah telah menjadikan perlindungan anak menjadi urusan wajib di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, sebagaimana diatur dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Kabupaten/Kota. Sejalan dengan hal tersebut, pada tahun 2013 telah dicanangkan Kota Mataram menuju Kota Layak Anak. Langkah utama dalam Pengembangan Kebijakan Kota Layak Anak adalah menyusun Rencana Aksi Daerah Kota Layak Anak (RAD-KLA) yang memuat 31 indikator yang merujuk pada 5 klaster Konvensi Hak Anak untuk mendorong setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Mataram menjadikan kepentingan terbaik bagi anak sebagai dasar dalam penyusunan program, kegiatan dan anggaran.
Permasalahan dan Solusi
Permasalahan yang dihadapi dalam evaluasi capaian sasaran meningkatnya kesetaraan gender selama tahun 2011- 2014 adalah sebagai berikut:
1. Kota Mataram yang plural dan didiami masyarakat dari berbagai suku, mempunyai permasalahan sosial yang sangat kompleks, termasuk masalah anak, antara lain masih adanya anak jalanan, anak telantar dan anak yang putus sekolah. Upaya yang dilakukan melalui optimalisasi penanganan dan pembinaan dengan pembentukan satuan tugas sosial.
2. Permasalahan perempuan yang berkaitan dengan isu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Kota Mataram sebagai sebuah kota yang mempunyai daya tarik tersendiri dan memiliki karakteristik urban dengan dinamika permasalahan perempuan dan anak yang makin beragam. Upaya yang dilakukan dengan membuka seluas-luasnya informasi yang dapat diakses oleh Ibu, maupun Calon Ibu terhadap kesehatan reproduksi, keluarga berencana dan keluarga sejahtera, Meningkatkan pengetahuan dan pengembangan diri perempuan dengan membuka kesempatan pembentukan lembaga-lembaga non formal pemerhati perempuan, ibu dan anak
3. Meningkatnya jumlah penduduk setiap tahunnya membutuhkan ketersediaan Ruang Ekspresi dan Ruang Publik yang memadai dan proporsional, dimana saat ini masih terbatas dimiliki oleh Kota Mataram. Ketersediaan sarana ruang publik yang memadai tersebut dalam rangka pemenuhan akses dan ruang ekspresi bagi kebutuhan anak. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut dengan meningkatkan ruang expresi perempuan dan anak, serta peningkatan frekuensi event/acara berbasis gender bernilai kebangsaan,
seperti Peringatan Hari Ibu, Hari Kartini, Hari Anak Nasional (HAN), dan lain-lain.
VII. EVALUASI CAPAIAN SASARAN 7
Tabel 7.1
EVALUASI CAPAIAN SASARAN 7
“Meningkatnya Kualitas Keluarga”
No INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) SATU-AN Tahun 2011 CAPAIAN KINERJA 2011 Tahun 2012 CAPAIAN KINERJA 2012 Target Realisasi Target Realisasi
1 Jumlah Keluarga
Sejahtera Jiwa 110.175 76.820 70,92 110.175 77.335 71,94 2 Cakupan Peserta KB
Aktif Jiwa 65.763 40.333 61,34 65.763 42.104 64,02
Rata-rata Capaian IKU 66.13 68,48 Kinerja Capaian Sasaran 7 66.13 67,48
No INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) SATU-AN Tahun 2013 CAPAIAN KINERJA 2013 Tahun 2014 CAPAIAN KINERJA 2014 Target Realisasi Target Realisasi
1 Jumlah Keluarga Sejahtera
jiwa. 110.175 78.141 74,92 111.288 78.950 72,90
2 Cakupan Layanan PUS ber-KB Aktif
Jiwa 65.763 49.645 73,34 65.763 67.605 105,04 Rata-rata Capaian IKU (%) 74.13 88,97
Kinerja Capaian Sasaran 7 74.13 88,97
Sumber: BPPKB Kota Mataram, 2014
Grafik 7.1.
Peningkatan Jumlah Keluarga Sejahtera dan Cakupan Layanan PUS ber-KB di Kota Mataram Tahun 2011-2014
76820 77335 78141 78950 75000 76000 77000 78000 79000 80000 2011 2012 2013 2014 Jml Kel. Sejahtera 40333 42104 49645 67605 0 20000 40000 60000 80000 2011 2012 2013 2014
Jumlah PUS ber-KB
Data target jumlah keluarga sejahtera adalah data seluruh keluarga atau rumah tangga yang ada di Kota Mataram, yaitu pada tahun 2011 sebanyak 76.820 meningkat sebanyak 2.130 keluarga pada tahun 2014 menjadi 78.950 keluarga/rumah tangga, dengan rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar 1,01 persen maka tata-rata jumlah anggota keluarga berkisar antara 3,3 sampai dengan 3,7 jiwa. Progress positif dalam peningkatan jumlah keluarga sejahtera di Kota Mataram sebagai dampak meningkatkan pendapatan masyarakat. Disamping itu, untuk meningkatkan kesejahteraan bagi keluarga-keluarga prasejahtera dan
KS I, telah dilakukan pemberian bantuan modal, pembinaan kepada kelompok UPPKS, Bina Keluarga Balita, Bina Keluarga Remaja, dan Bina Keluarga Lansia. Dalam rangka meningkatkan kualitas keluarga dalam upaya Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) telah dilakukan berbagai kegiatan antara lain konseling KRR bagi remaja yang dilaksanakan di pondok pesantren, SLTA/SLTP, dan melakukan penyuluhan di setiap kelurahan.
Bentuk apresiasi Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Kota Mataram dalam pelaksanaan program KB, Kota Mataram ditetapkan menjadi tuan rumah untuk acara puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) XXIX pada tanggal 28-30 Juni 2012. Dalam acara tersebut, Walikota Mataram atas nama Pemerintah Daerah menerima Penghargaan MANGGALA KARYA KENCANA dari Badan Kesejahteraan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), atas prestasi mengelola program Keluarga Berencana (KB) di Kota Mataram. Penghargaan ini didasarkan pada Hasil Susenas Tahun 2010 yang menyebutkan bahwa total
Fertility Rate di Kota Mataram mencapai sebesar 1,9. Artinya bahwa setiap Pasangan Usia Subur (PUS) yang sudah berkeluarga mempunyai anak 1-2 orang. Hasil ini memberikan gambaran bahwa rata-rata masyarakat yang termasuk dalam PUS telah melaksanakan program KB dengan baik.
Jika melihat lebih rinci terkait data cakupan layanan Pasangan Usia Subur (PUS) ber-KB diketahui bahwa terdapat peningkatan positif dari 40.333 PUS pada tahun 2011 menjadi 67.605 PUS pada tahun 2014 atau terjadi peningkatan sebesar 27.272 PUS. Angka tersebut menunjukkan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program KB. Guna memaksimalkan program KB dilakukan advokasi kepada masyarakat sehingga dapat meningkatkan pencapaian program KB.
Permasalahan dan Solusi
Permasalahan yang dihadapi dalam Evaluasi Capaian Meningkatnya Kualitas Keluarga selama tahun 2011-2014 antara lain:
1. Pencapaian peserta KB baru non hormonal masih relatif rendah, serta masih rendahnya pengetahuan/pemahaman para keluarga tentang perlunya memelihara dan meningkatkan kesehatan. Upaya dalam mengatasi adalam melalui peningkatan Gerak Kader dalam mencari Akseptor KB baru, serta mengingkatkan frekuensi, pelatihan-/sosialisasi/orientasi program KB-KS. 2. Masih minimnya frekuensi pertemuan Kelompok Bina Keluarga Balita (BKB),
Bina Keluarga Remaja (BKR), dan Bina Keluarga Lansia (BKL), serta peran institusi masyarakat dalam pelaksanaan KB masih rendah. Upaya yang dilakukan antara lain meningkatkan frekuensi pertemuan kelompok BKB, BKR
dan BKL, melaksanakan orientasi/sosialisasi bagi pengurus dan anggota kelompok BKB,BKR dan BKL, serta melakukan pembinaan dan Temu Kader.
VIII. EVALUASI CAPAIAN SASARAN 8
Tabel 8.1
EVALUASI CAPAIAN SASARAN 8