BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 27
3.2 Evaluasi dan Analisis Anggaran
Tabel 3.4 Pencapaian Kinerja Keuangan Pusat Pembinaan Usaha dan Kelembagaan TA 2012, Pada Satker Pusat Pembinaan Usaha dan Kelembagaan
Output Kegiatan (Sub-Output) Pagu Penyerapan % Pencapaian Kinerja
(Keuangan)
Pembinaan Manajemen Usaha
Pemberdayaan dan TOT PJT Badan Usaha Jasa Konstruksi Kualifikasi
Kecil 1.960.110.000 1.880.516.000 95.04%
Pemberdayaan PJT Badan Usaha
Jasa Konstruksi Kualifikasi Non Kecil 1.369.181.000 1.287.121.350 92.19%
Kinerja Proyek Konstruksi 747.125.000 704.231.600 94.26%
Pembinaan sarana
pendukung usaha, Forum Pendukungan Usaha Jasa Konstruksi 1.720.018.000 1.591.895.000 92.55% Pembinaan regulasi usaha
dan kelembagaan,
Bimbingan Teknis Percepatan
Penerbitan Perda IUJK 1.835.077.000 1.760.179.300 95.92%
Pengaturan dan Pengawasan Jasa
Konstruksi 1.394.389.000 1.250.526.998 89.68%
Pembinaan perizinan usaha,
Monitoring dan Evaluasi Tertib
Perizinan Usaha Jasa Konstruksi 184.575.000 178.026.200 96.48%
Monitoring Dan Evaluasi Kegiatan
BUJKA 601.907.000 289.417.000 48.08%
SIPJAKI 1.480.166.000 1.424.824.000 96.26%
Pembinaan lembaga dan asosiasi jasa konstruksi
Pusat. Surveilen Unit Sertifikasi
Penghematan
APBN NA NA
Pembinaan lembaga dan asosiasi jasa konstruksi
daerah.
Surveilen Lembaga dan Asosiasi
Daerah 854.186.000 826.917.700 96.81%
Pembinaan tatalaksana
kelembagaan; Forum Jasa Konstruksi Nasional 592.050.000 575.636.000 97.06%
Pembinaan kinerja
kelembagaan; Pelatihan Asesor Badan Usaha 1.502.880.000 1.469.162.700 97.76%
Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pembinaan usaha
dan kelembagaan
Tatalaksana Pembinaan Usaha dan
Kelembagaan 700.518.000 683.762.500 97.61%
NSPK pembinaan dan
kelembagaan Produk kajian, pembinaan
usaha dan kelembagaan Kajian Struktur dan Perilaku Resiko Proyek Konstruksi di Indonesia
1.792.097.000 1.792.097.000 100 %
Studi Struktur Biaya Proyek Konstruksi di Indonesia Studi Produktivitas Kontraktor Nasional dalam Pelaksanaan Proyek
Konstruksi di Indonesia
Tabel 3.5 Pencapaian Kinerja Keuangan Pusat Pembinaan Usaha dan Kelembagaan TA 2012, Pada Satker Kesekretariatan LPJK
Output Kegiatan (Sub-Output) Pagu Penyerapan % Pencapaian Kinerja
(Keuangan)
Pembinaan lembaga dan asosiasi jasa konstruksi
Pusat.
Peningkatan Kompetensi Tenaga IT
LPJKN/LPJKD 394.825.000 390.324.000 98.86%
TOT Admin SIKI.Net BU & TK
LPJKN/LPJKD 353.850.000 339.475.000 95.94%
Penyempurnaan dan Pengembangan
Sistem dan Update IT LPJKN/LPJKD 492.999.000 476.745.000 96.70%
Penyusunan Instrumen Monitoring
dan Evaluasi Lembaga 149.055.000 145.255.000 97.45%
Peningkatan Pemberdayaan SDM
Sekretariat Bapel Nasional/Daerah 665.712.500 664.412.500 99.80%
Fasilitasi Kegiatan MRA, AFAS dan
Asia Construct 228.135.000 228.135.000 100%
Sosialisasi Pembentukan US 443.277.500 412.512.500 93.05%
Workshop Norma-norma LPJKN 1.367.527.000 1.273.182.000 93.10%
Fasilitasi Pembentukan US 542.510.000 446.316.000 82.27%
Pembinaan lembaga dan asosiasi jasa konstruksi
daerah.
Rapat Koordinasi LPJK Nasional dan
Daerah 1.652.116.000 1.643.704.600 99.49%
Fasilitasi Manajemen Operasional
Badan Pelaksana Nasional 6.359.406.000 4.844.419.800 76.17%
Fasilitasi Manajemen Operasional
Badan Pelaksana Daerah 4.956.942.000 4.912.607.310 99.11%
Produk kajian, pembinaan usaha dan kelembagaan
Pemetaan Pendayagunaan Tenaga Kerja Bersertifikat oleh Badan Usaha
Pengukuran Indikator Kepuasan Pelanggan Terhadap Manajemen
Proyek Konstruksi 455.892.000 420.184.000 92.17%
Pemetaan Lingkup dan Kinerja Inovasi Dalam Industri Konstruksi
Nasional 459.492.000 441.726.000 96.13%
Penilaian Kontribusi Industri Konstruksi dalam Penanggulangan
Bencana 485.532.000 443.593.200 91.36%
Pengukuran Kinerja Badan Usaha Jasa Konstruksi dalam Menerapkan
Keselamatan Konstruksi 459.391.000 416.122.200 90.58%
Pencapaian kinerja secara keuangan seluruh kegiatan Pusat Pembinaan Usaha dan Kelembagaan pada TA 2012 adalah sebesar ± 87,33 %.
Pengukuran pencapaian kinerja secara keuangang dilakukan dengan mengukur kinerja penyerapan anggaran pada suatu kegiatan dimana hal ini juga terkait langsung dengan kondisi pelaksanaan pekerjaan di lapangan, seperti jumlah peserta yang hadir, biaya paket meeting, harga tiket pesawat, dan bentuk-bentuk penyerapan dari segi keuangan lainnya. Adapun alokasi dana yang tidak terserap bukan mengindikasikan target sasaran yang tidak tercapai, namun dikarenakan beberapa hal sebagai berikut;
- Penghematan belanja bahan (Optimalisasi penggunaan IKMN) - Penghematan belanja perjalanan dinas (harga tiket dibawah pagu)
- Penghematan belanja barang non operasional (penyelenggaraan kegiatan diadakan di tempat dengan pagu yang lebih rendah)
- Penghematan belanja konsultansi
- Penghematan secara umum (sisa dana yang diblokir dan revisi anggaran untuk pemanfaatan)
ASPEK KEUANGAN
Anggaran yang teralokasi untuk Pusat Pembinaan Usaha dan Kelembagaan pada Tahun Anggaran 2012 berasal dari satu kegiatan DIPA3, Pusat Pembinaan Usaha dan Kelembagaan dengan alokasi dana setelah penghematan APBN-P sebesar Rp. 43.024.358.000,- (Empat Puluh Tiga Milyar Dua Puluh Empat Juta Tiga Ratus Lima Puluh Delapan Ribu Rupiah). Anggaran yang terserap adalah sebesar Rp 37.576.784.357,- (Tiga Puluh Tujuh Milyar Lima Ratus Tujuh Puluh Enam Juta Tujuh Ratus Delapan Puluh Empat Ribu Tiga Ratus Lima Puluh Tujuh Rupiah) atau terserap sebesar ± 87,33%.
3 Nomenklatur DIPA untuk kegiatan adalah kumpulan dari beberapa Mata Anggaran Kegiatan (MAK), di mana
masing-masing MAK ini dijabarkan kembali dalam beberapa paket kegiatan. Hal ini agak berbeda dengan nomenklatur LAKIP yang memberikan pengertian kegiatan sebagai penjabaran dari program. Secara sederhana, istilah kegiatan dalam LAKIP sepadan dengan paket kegiatan dalam DIPA.
Pelaksanaan kegiatan untuk mencapai sasaran Pusat Pembinaan Usaha dan Kelembagaan pada Tahun Anggaran 2012 ini terdapat beberapa kendala yang mengakibatkan anggaran ataupun pencapaian secara fisik tidak maksimal, namun dengan upaya tindak turun tangan serta koordinasi baik dari level pemututs kebijakan hingga ke level pelaksana, kendala tersebut dapat diatasi sehingga hasil yang dicapai pada akhir tahun anggaran dapat mencapai optimal serta dapat dipertanggungjawabkan
Adapun dalam pelaksanaan kegiatan Pusat Pembinaan Usaha dan Kelembagaan TA 2012 terdapat beberapa kendala, diantaraya ;
• Integrasi dan koordinasi antar para pelaku jasa konstruksi masih lemah salah satunya dikarenakan kurangnya informasi terkait dukungan dari supplier material, Peralatan, dukungan perbankan dan Penjaminan
• Mempertemukan antar pihak2 yang berkepentingan untuk mempersatukan visi dan tujuan tidak mudah • Rekrutmen peserta pemberdayaan maupun sosialisasi yang kurang tepat
• Waktu pelaksanaan pemberdayaan maupun sosialisasi yang kurang tepat • Kesiapan dukungan dari daerah
• Terkait kegiatan yang bersifat Survey dan pengumpulan data butuh effort yang cukup tinggi
Menyikapi kendala-kendala yang dihadapi kedepannya Pusat Pembinaan Usaha dan Kelembagaan akan terus berupaya meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait jasa konstruksi, karena pada dasarnya upaya pembinaan jasa konstruksi harus dilakukan oleh dan untuk semua sektor. Adapun upaya yang akan dilakukan kedepan dengan meningkatkan koordinasi dan dukungan baik itu koordinasi dengan Pusat-Pusat di BP Konstruksi, dukungan dari pemerintah daerah , Dukungan dari LPJK Nasional maupun LPJK Provinsi, serta dukungan dari Balai Pusbin KPK yang ada di daerah
3.3 HAL-HAL YANG MEMERLUKAN PERHATIAN UNTUK PENINGKATAN KINERJA