• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi dan Analisis Capaian Sasaran Strategis

BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA

3.3. Evaluasi dan Analisis Capaian Sasaran Strategis

3.3.1. Peningkatkan Produksi Pakan Ternak

Sasaran kinerja ini merupakan sasaran kinerja baru yang diamanahkan pada BBVet Wates pada tahun 2015 sesuai dengan tugas dan fungsi BBVet Wates yang ke-12 yakni Pelaksanaan pengujian toksikologi veteriner dan keamanan pangan serta upaya untuk mencapai tujuan kedua BBVet Wates yakni meningkatkan pelayanan dibidang pengujian veteriner dan produk hewan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengawasi kualitas pakan ternak yang banyak digunakan oleh peternak di Indonesia terhadap racun, agen penyakit, senyawa kimia berbahaya, residu dan logam berat yang dapat membahayakan bagi ternak dan konsumen produk ternak, sehingga diperoleh pakan yang baik dan aman yang dapat mempercepat pertumbuhan berat badan, meningkatkan produksi dan reproduksi ternak, serta mampu menekan kemungkinan terjadinya penyakit ternak. Hal tersebut sesuai dengan Permentan Nomor: 65/ Permentan/ OT.140/ 9/ 2007 tanggal 28 September 2007 tentang Pedoman Pengawasan Mutu Pakan. Peningkatan Produksi Pakan Ternak didukung oleh Kegiatan Surveillans Keamanan Pakan dan Bahan Pakan. Capaian sasaran kegiatan ini adalah 122,98% (sangat berhasil).

Tabel 6. Capaian Sasaran Peningkatan Produksi Pakan Ternak

No Sasaran Program/ Kegiatan

Indikator Kinerja Target Realisasi %

1 Peningkatan Produksi Pakan Ternak

Terlaksananya surveilans keamanan pakan/ bahan pakan

900 Sampel

1,106 122.89

Hasil uji racun Aflatoksin pada Pakan sebanyak 9,65% sampel diatas standart SNI (diatas 50 ppb), 54,77% sampel positif (kurang dari 50 ppb) dan 37,85 negatif Aflatoksin. Positif

Aflatoksin diperoleh dari 9 Kabupaten dari 18 Kabupaten yang disurvei yakni : Kabupaten

Kulon Progo, Kabupaten Bantul, Kabupaten Sragen, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Jombang. Iklim tropis di Indonesia menyebabkan tingginya kelembaban udara sehingga dapat memicu tumbuhnya jamur penghasil Aflatoksin. Adanya Aflatoksin dalam pakan hewan dapat menyebabkan keracunan, sehingga perlu adanya pengawasan dan penyuluhan oleh dinas yang berwenang, terutama kaitannya dengan cara penyimpanan, kondisi kelembaban tempat penyimpanan apabila pakan disimpan dalam waktu yang lama.

LAKIN BBVET WATES T.A 2015

II 25 of 89 Uji pakan terhadap cemaran Salmonella diperoleh hasil sebanyak 0,55% (2/363) positif tercemar Salmonella. Hasil positif diperoleh dari 2 Kabupaten dari 18 lokasi survei yakni Kab. Karanganyar dan Kab. Malang. Hasil positif Salmonella tersebut didapatkan dari sampel pakan jadi pabrikan yang dijual di poultry shop secara eceran. Bakteri Salmonella merupakan indikator keamanan pangan. Pakan yang mengandung Salmonella tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi karena Salmonella memiliki banyak serotipe yang bersifat patogen dan dapat menyebabkan keracunan jika dikonsumsi baik oleh hewan maupun manusia.

Uji terhadap residu antibiotik Tetrasiklin didapat 9,52% (32/336) positif. Hasil positif diperoleh dari 14 Kabupaten dari 18 Kabupaten target sampling. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian antibiotik khususnya Tetrasiklin sudah banyak dilakukan dan perlu adanya kajian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Antibiotik yang dicampurkan di pakan ternak akan menjadi residu di bahan pangan asal hewan yang akan menyebabkan efek berupa resistensi antibiotik baik pada ternak yang mengkonsumsi maupun residu dalam daging ternak sehingga akan membahayakan bagi masyarakat yang mengkonsumsinya. Oleh sebab itu, penggunaan antibiotik dalam pakan sebisa mungkin dihindari dan perlu pengawasan secara rutin dari pihak berwenang.

Uji Meat Bone Meal (MBM) diperoleh hasil 0,92% (1/108) pakan mengandung MBM yang didapatkan dari pabrik pakan skala kecil di Kabupaten Magelang. Penggunaan pakan unggas untuk sapi biasanya ditujukan untuk mempercepat penggemukkan, namun hal ini tidak diperbolehkan karena dapat beresiko menimbulkan penyakit sapi gila (Mad Cow/BSE) dari kemungkinan adanya Prion Sapi Gila pada MBM yang terkandung dalam pakan unggas.

Capaian sasaran kinerja terlaksananya surveilans keamanan pakan/bahan pakan telah berhasil memetakan kasus keamanan pakan di 18 Kabupaten di wilayah kerja BBVet Wates, sehingga memberi kontribusi dalam Peningkatan Produksi Pakan Ternak melalui pemberian saran dan rekomendasi teknis tentang keamanan pakan bagi stakeholder baik peternak, produsen, pengambil kebijakan ditingkat pemerintah daerah maupun pusat. Keberhasilan dalam capaian target sampel juga didukung oleh pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, koordinasi yang baik antara Tim Lapangan dengan Dinas yang membidangi fungsi Peternakan khususnya Bidang Budidaya yang menyelenggarakan Pengawasan Mutu Pakan Ternak, serta produsen/ distributor pakan/ poultry shop atau pedagang pakan lainnya yang sangat kooperatif sehingga kegiatan sampling pakan/ bahan

LAKIN BBVET WATES T.A 2015

II 26 of 89 pakan dapat terlaksana secara optimal. Realisasi anggaran dari kegiatan ini mencapai 97,69% (244.215.500/250.000.000).

Kendala dalam kegiatan pengujian di laboratorium adalah ketersediaan kit uji yang terbatas sehingga pengujian terlambat dilaksanakan. Adanya penawaran kit uji dalam jumlah banyak namun dengan masa kadaluarsa yang pendek sehingga user (personil laboratorium) hanya mengambil dalam jumlah sedikit namun hal ini tidak diikuti dengan kemampuan distributor untuk memesankan kembali kit uji dengan masa kadaluarsa yang lebih lama sehingga ketersediaan kit uji impor tersebut tidak akan terpenuhi dalam waktu yang singkat. Beberapa faktor yang menjadi kendala kegiatan di lapangan antara lain :

1. Petugas dinas belum mempunyai akses ke perusahaan skala besar di beberapa Kabupaten/Kota sehingga survei lebih banyak dilakukan di perusahaan pakan skala kecil, poultry shop, KUD, pengumpul, pengecer, peternak pengguna pakan.

2. Petugas pengawas mutu pakan masih terbatas jumlah dan aktivitasnya sehingga peredaran pakan kurang pengawasannya.

3. Dalam pengujian MBM hanya untuk memeriksa keberadaan MBM dalam campuran pakan ruminan tetapi tidak langsung mendeteks keberadaan Prion karena BBVet Wates belum mempunyai metoda untuk menguji/mendeteksi Prion yang terdapat pada pakan dan bahan pakan.

3.3.2. Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan Menular Strategis dan Penyakit Zoonosis

Tabel 7. Capaian Sasaran Pengendalian dan Penanggulangan PHMSZ

No Sasaran Program/

Kegiatan

Indikator Kinerja Target Realisasi %

2 Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Hewan Menular Strategis dan Penyakit Zoonosis Penyidikan dan pengujian penyakit hewan 31.600 Sampel 48,453 153.33 Penyusunan peta penyakit hewan di 3 Provinsi; yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY

3 Peta 3 Peta penyakit 100.00

Pengembangan metode diagnosa dan pengujian penyakit Hewan : PCR Para TB, PCR Trypanosoma evansi, CATT Trypanosoma 3 Metode 3 Pengembangan Metode 100.00

LAKIN BBVET WATES T.A 2015

II 27 of 89 Bimbingan Lab. Tipe B

dan Lab Tipe C sebanyak 12 unit 12 Unit 19 158.33 Bimbingan Teknis Puskeswan 75 Unit 126 168.00 Penanggulangan gangguan reproduksi pada sapi/ Kerbau

203.850 Dosis

207,721 101.90

3.3.2.1. Penyidikan dan Pengujian Penyakit Hewan

Kegiatan Penyidikan dan Pengujian Penyakit Hewan merupakan kegiatan utama yang melatarbelakangi berdirinya BBVet Wates. Hal ini menjadikan kinerja tersebut selain menjadi tugas dan fungsi utama, juga menjadi indikator utama keberhasilan kinerja BBVet Wates. Capaian sasaran kinerja kegiatan Tahun 2015 sebesar 153,33% (48.453/31.600) (sangat berhasil). Jumlah sampel tersebut berasal dari 11 kegiatan Pengendalian dan Penanggulangan PHMSZ BBVet Wates T.A. 2015 termasuk didalamnya 24 sub-kegiatan Surveilans dan Monitoring. Tercapainya kinerja melebihi target yang ditentukan, didukung oleh pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan jadwal yang ketat, koordinasi yang baik antara Tim Lapangan dengan Dinas yang membidangi fungsi Peternakan khususnya Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) serta merupakan kegiatan reguler yang telah rutin dilaksanakan setiap tahun.

Peranan BBVet Wates dalam mendukung pencegahan dan pemberantasan Penyakit Hewan Menular dapat ditunjukkan dengan hasil surveillance dan monitoring khususnya penyakit BSE, Hog Cholera dan SE yang menunjukkan hasil negatif untuk BSE dan prevalensi kejadian penyakit Hog Cholera dan SE yang rendah. Hasil survei penyakit Rabies tahun 2015 negatif, menandakan bahwa BBVet Wates masih bisa mempertahankan status bebas Rabies di wilayah kerja hingga sekarang. Meskipun demikian, BBVet Wates tetap melaksanakan monitoring guna kewaspadaan dini terhadap masuknya Rabies dari daerah lainnya yang belum bebas, seperti Jawa Barat maupun Bali dan Rabies merupakan PHMSZ prioritas. Untuk penyakit Anthrax yang pernah terjadi di Kabupaten Blitar pada tahun 2014, pada surveillance tahun 2015 tidakditemukan lagi hasil yang positif. Untuk penyakit parasiter terjadi penurunan kasus antara lain: Nematodosis (5,13%), Fasciolosis (5,68%), Tripanosomiasis (1,73%),

Anaplasmosis (0,13%), Mikrofilariasis (0,71%), akan tetapi terjadi peningkatan 0,34%

untuk kasus Koksidiosis. Hasil survei seroepidemiologi terhadap IBR dan BVD menunjukkan penurunan hasil uji positif antibodi namun hal ini belum dapat dipastikan apakah penurunan tersebut mengindikasikan berkurangnya kejadian penyakit atau tidak,

LAKIN BBVET WATES T.A 2015

II 28 of 89 karena tidak ada gejala klinis mengarah BVD maupun IBR di lapangan, sedangkan pada kenyataannya tidak ada riwayat vaksinasi BVD dan IBR sebelumnya. Penurunan seroprevalensi virus AI juga terjadi di tahun 2015 (2,75%) jika dibandingkan dengan tahun 2013 (3,2%) dan tahun 2014 (5,4%). Untuk kegiatan tindak lanjut kasus penyakit yang dilaporkan dari Peternak dan/atau Dinas terjadi penurunan kasus yang ditunjukkan oleh lebih sedikitnya kegiatan tindak lanjut kasus Penyakit Hewan di Tahun 2015 (7 kasus penyakit), dibandingkan tahun 2014 (20 kasus penyakit/kematian hewan). Namun demikian, hal tersebut belum dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan penurunan kasus penyakit yang utama karena ada kemungkinan kejadian kasus penyakit masih ada yang belum dilaporkan oleh Peternak dan/atau Dinas.

Selain beberapa kasus penyakit hewan diatas, penyakit bakterial seperti Salmonellosis,

Campylobacteriosis dan Brucellosis juga masih banyak terdeteksi di wilyah kerja BBVet

Wates pada tahun 2015. Hingga saat ini Kasus Brucellosis belum juga berkurang di wilayah kerja BBVet Wates, terutama di daerah-daerah padat sapi perah, menunjukkan bahwa pembebasan Brucellosis pada sapi perah belum dapat dilaksanakan secara optimal. Hal tersebut antara lain dikarenakan kompensasi yang diberikan oleh pemerintah jika Brucellosis terjadi pada peternakan rakyat dengan jumlah sapi yang sedikit masih belum mencukupi. Hal ini perlu dikaji lebih lanjut dan alokasi dana kompensasi harus segera disesuaikan dengan road map pembebasan bertahap

Brucellosis oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan target Indonesia

bebas Brucellosis tahun 2025.

Keberhasilan BBVet Wates tahun 2015 juga ditunjukkan oleh tercapainya Pulau Madura bebas Brucellosis sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 237/Kpts/PD.650/4/2015 tentang Pernyataan Pulau Madura Provinsi Jawa Timur Bebas dari Penyakit Hewan Keluron Menular (Brucellosis) pada Sapi. Dalam hal ini, peran BBVet Wates sebagai laboratorium uji terakreditasi, bertugas mendampingi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Timur dalam hal melakukan surveilans dan pengujian laboratorik terhadap Brucellosis secara intensif dan sistematik sejak tahun 2009 hingga 2014.

LAKIN BBVET WATES T.A 2015

II 29 of 89 Gambar 2. Piagam Penghargaan Pelaksanaan Surveillans Pembebasan

Brucellosis di Pulau Madura Provinsi Jawa Timur.

Capaian kinerja tahun 2015 meskipun melebihi target akan tetapi secara keseluruhan masih lebih rendah 31,77% dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2014. Hal ini disebabkan karena penghitungan kinerja tahun 2015 bersatu dengan Kegiatan Penanggulangan Gangguan Reproduksi yang bersumber dari APBN-P dengan target dan volume output yang sangat tinggi. Target Kegiatan Penanggulangan Gangrep yang sangat tinggi tersebut memerlukan koordinasi yang sangat intensif dengan Dinas Kabupaten/Kota pelaksana kegiatan, sehingga membutuhkan pendampingan dan koordinasi internal BBVet Wates dengan intensitas tinggi pula. Kegiatan ini melibatkan 69 Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi fungsi Kesehatan Hewan (Keswan) di wilayah kerja BBVet Wates, sehingga SDM BBVet Wates harus dibagi dan diatur dalam jadwal kegiatan pendampingan yang ketat yang melibatkan kegiatan Reguler dan APBN -P tersebut.

Selama kurun waktu 2011 hingga 2015 terjadi perubahan yang fluktuatif dari capaian target indikator kinerja Penyidikan dan Pengujian Penyakit Hewan. Target yang terlalu rendah ditahun 2011 menyebabkan capaian kinerja sangat tinggi sehingga disikapi dengan penambahan target capaian pada tahun-tahun berikutnya. Tahun 2012 target ditentukan dalam jumlah lebih banyak dibandingkan tahun 2013-2015, hal ini sesuai dengan anggaran yang lebih tinggi dibanding tahun 2013-2015.

LAKIN BBVET WATES T.A 2015

II 30 of 89 Gambar 3. Capaian Kinerja Penyidikan dan Pengujian Penyakit Hewan 2011 – 2015

Dari diagram tampak bahwa target capaian semakin meningkat sejak tahun 2012, namun capaian kinerja semakin menurun dari tahun 2013 hingga tahun 2015. Penurunan capaian kinerja tersebut disebabkan oleh adanya penghematan anggaran namun dengan target capaian yang tidak berubah di tahun 2014 dan penambahan kegiatan APBN-P di tahun 2015 dengan anggaran dan target capaian 3 kali lebih besar dari tahun sebelumnya. Jumlah sub-kegiatan surveilans dan monitoring pendukung Penyidikan dan Pengujian Penyakit Hewan juga semakin menurun sejak tahun 2013. Tahun 2013 didukung oleh 33 Surveilans dan Monitoring PHMSZ, Tahun 2014 didukung 25 kegiatan dan tahun 2015 oleh 24 kegiatan.

3.3.2.2. Penyusunan Peta Penyakit Hewan

Target penyusunan Peta Penyakit dalam PK tahun 2015 adalah tersusunnya peta penyakit di 3 Propinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI. Yogyakarta yang merupakan wilayah kerja BBVet Wates. Capaian kinerja kegiatan ini 100% (berhasil) seperti tahun sebelumnya, namun jumlah kabupaten/kota tempat Surveilans dan Monitoring dilaksanakan, semakin meningkat. Pada tahun 2014 sebanyak 88,46% kabupaten/kota, sedangkan tahun 2015 sebanyak 93,59% kabupaten/kota dari 78 kabupaten/kota di wilayah kerja BBVet Wates. Peta Penyakit disusun dari sampel yang diuji di BBVet Wates baik berupa sampel pelayanan aktif yakni sampel yang diperoleh dari kegiatan monitoring dan surveilans, serta sampel pelayanan pasif (kiriman dinas, perorangan, maupun swasta). Peta penyakit BBVet Wates juga sudah dapat diakses di website BBVet Wates, http://bbvetwates.ditjennak.pertanian.go.id/ sejak tahun 2015. Untuk lebih meningkatkan kualitas maka dikembangkan aplikasi website yang dapat menyajikan data kasus PHMS secara real time.

LAKIN BBVET WATES T.A 2015

II 31 of 89 Hasil rapat koordinasi persiapan penyusunan Keputusan Menteri Pertanian tentang rencana Penetapan Status Situasi dan Peta Penyakit Hewan Menular Strategis pada tanggal 2-4 September 2015 di Denpasar dan 20-21 November 2015 di Jakarta membahas bahwa penyusunan peta penyakit yang akan datang hanya menyajikan kasus PHMS serta hasil uji dengan diagnosa definitif yang telah melalui uji gold standar. PHMS yang belum ada dan sudah ada di Indonesia berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4026/Kpts/OT.140/4/2013 tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular Strategis berjumlah 25 PHMS.

3.3.2.3. Pengembangan Metode Diagnosa dan Pengujian Penyakit Hewan

Capaian kinerja Pengembangan Metode (PM) telah terlaksana 100% (berhasil). Ketiga PM tersebut juga sudah diaplikasikan pada sampel uji baik dari hasil survei/monitoring maupun yang dikirim ke BBVet Wates melalui pelayanan aktif. Capaian tersebut didukung oleh peran aktif penanggung jawab program, personil laboratorium Bioteknologi, laboratorium Bakteriologi dan laboratorium Parasitologi serta adanya pengaturan jadwal yang tertib, disamping jadwal kegiatan Balai lainnya.

Capaian lainnya adalah telah dilaksanakannya Desiminasi Teknis Pengembangan Metode Uji pada tanggal 12-13 November 2015 di BBVet Wates dengan mengundang personil Laboratorium Tipe B Pamekasan, Laboratorium Tipe B Tuban, Laboratorium Tipe B Malang, Laboratorium Tipe B Purwokerto, Laboratorium Tipe B Solo, Laboratorium Tipe B Semarang, Laboratorium Tipe B (BDK) Bantul, Laboratorium Keswan Tipe C Pati, Laboratorium Keswan Boyolali serta BBPTU&HPT Baturraden dan BBIB Singosari sebagai UPT Perbibitan di wilayah kerja BBVet Wates. Materi PM yang didesiminasikan adalah :

1. Teori dan Aplikasi Bioteknologi dalam Kesehatan Hewan

2. Desain dan Modifikasi Teknik Biomolekuler untuk Deteksi Virus AI terkini 3. Deteksi Molekuler Agen Penyakit Paratuberkulosis

4. Identifikasi Trypanosoma sp. dengan Teknik PCR

5. Deteksi Antibodi Trypanosoma evansi pada serum dengan komersial KIT CATT (Card Aglutination Test)

6. Uji RT-PCR AI subtype H5 Clade 2.3.2

7. Deteksi Cemaran Salmonella sp. Dalam Produk Peternakan dengan Teknik PCR konvensional, dan

LAKIN BBVET WATES T.A 2015

II 32 of 89 8. Deteksi dan Identifikasi Agen Penyakit Anthrax dari Kejadian Wabah di

Lapangan.

Kegiatan ini dapat terlaksana pada tahun 2015 meskipun kegiatan PM telah ada sejak tahun 2013. Dengan alokasi anggaran yang ada, kegiatan desiminasi baru dapat dilakukan utuk pengujian lingkup Kesehatan Hewan (Keswan) dan belum mengakomodir pengujian lingkup Kesmavet karena jumlah peserta harus dibatasi sesuai dengan ketersediaan anggaran.

Gambar 4. Pertemuan Diseminasi Pengembangan Metode Uji Laboratorium BBVet Wates Tahun 2015

Pada tahun 2014 terjadi kendala dan permasalahan yakni keterlambatan pengadaan alat dan bahan uji, serta kontrol standar yang harus didatangkan dari luar negeri. Untuk mengatasi masalah suplai bahan tersebut, disiasati dengan pemesanan alat dan bahan lebih awal. Kendala lainnya yakni pelaksanaan validasi dan verifikasi metode uji melalui uji banding dengan pengiriman sampel ke laboratorium rujukan di luar negeri, menghadapi hambatan dalam masalah perijinan dan pengiriman material biologik. Dari pengalaman tahun 2014 dilakukan perbaikan sehingga untuk tahun 2015 alat dan bahan uji yang digunakan dalam pengembangan metode tersedia tepat waktu dan PM dapat dilaksanakan sesuai jadwal yang ditentukan.

Berdasarkan rekomendasi hasil Audit Kinerja Tim Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian, bahwa pengadaan bahan pengujian BBVet Wates harus dilaksanakan secara lelang. Setelah dilakukan kajian terhadap kemungkinan pelaksanaan lelang untuk pengadaan bahan pengujian ternyata cara lelang tidak memungkinkan untuk

LAKIN BBVET WATES T.A 2015

II 33 of 89 dilaksanakan karena masa kadaluarsa bahan pengujian tersebut pada umumnya sangat pendek sehingga pengadaan tidak dapat dilakukan sekaligus akan tetapi secara bertahap dalam satu tahun dan harus mengikuti nilai kurs dolar yang dapat berubah sepanjang tahun. Selain itu terjadi permasalahan pada kesanggupan supplier yang bergerak dalam bidang bahan laboratorium untuk memenuhi seluruh berbagai jenis bahan laboratorium yang keagenannya telah dipegang oleh supplier lainnya mengingat pada saat lelang diperlukan surat dukungan agen.

3.3.2.4. Bimbingan Teknis Laboratorium Tipe B dan Tipe C

Capaian kinerja kegiatan Bimtek Laboratorium BBVet Wates Tahun 2015 adalah 158,33% (19/12) (sangat berhasil). Bimtek laboratorium telah dilakukan di 6 laboratorium Tipe B dan 13 laboratorium Tipe C di wilayah kerja. Capaian ini meningkat 31,06% dibanding capaian kinerja tahun 2014 (14/11). Capaian kinerja bimtek laboratorium tipe B dan laboratorium tipe C di wilayah kerja BBVet Wates dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Capaian Kinerja Bimtek Laboratorium di Wilayah Kerja T.A. 2015 :

No. Nama Laboratorium Materi Bimbingan teknis

1. Lab. Tipe B Boyolali, Jawa Tengah

(16 April 2015)

Bimbingan Teknis berupa : tata cara pembiakan dan Identifikasi kuman standar Escherichia coli dan

Salmonella sp.

2. Lab. Tipe B Semarang, Jawa Tengah

(11 – 14 Mei 2015)

Bimbingan teknis berupa :

- Uji serologi metode HA/HI pada itik dan

Pullorum test

- Uji Bakteriologi berupa RBT, pewarnaan giemsa untuk uji anthrax dan kultur anthrax

3. Lab. Tipe B Yogyakarta

(11 – 15 Mei 2015)

Bimbingan teknis berupa :

- Uji HI Avian Influenza dan New Castle

Disease

- Aglutinasi cepat RBT - Aglutinasi cepat Pullorum - TPC

4. Lab. Tipe B Tuban, Jawa Timur

(08 – 12 November 2015)

Bimbingan Teknis berupa : - Uji HA/HI

- Uji Rose Bengal Test (RBT) Brucella - Pemeriksaan parasit darah yang meliputi

Trypanosoma, Theileria, Babesia dan Anaplasma

LAKIN BBVET WATES T.A 2015

II 34 of 89 5. Lab. Tipe B Malang,

Jawa Timur

(08 – 12 November 2015)

Bimbingan Teknis berupa : - Uji HA/HI

- Uji Rose Bengal Test (RBT) Brucella - Pemeriksaan parasit darah yang meliputi

Trypanosoma, Theileria, Babesia dan Anaplasma 6. Lab. Tipe B. Pamekasan Jawa Timur (08 – 12 November 2015)

Bimbingan Teknis berupa : - Uji HA/HI

- Uji Rose Bengal Test (RBT) Brucella - Pemeriksaan parasit darah yang meliputi

Trypanosoma, Theileria, Babesia dan Anaplasma 7. Lab. Tipe C Dinas Kab. Trenggalek Jawa Timur (23 – 27 Maret 2015)

Bimbingan Teknis berupa:

- Pemeriksaan parasit gastrointestinal - Pemeriksaan parasit darah

- Pengujian RBT Brucella

- Sosialisasi ISO/IEC SNI 17025:2008

8 Lab. Tipe C Dinas Kab.

Karanganyar Jawa Tengah

(23 – 27 Maret 2015)

Bimbingan Teknis berupa:

- Pemeriksaan parasit gastrointestinal - Pemeriksaan parasit darah

- Pengujian RBT Brucella

- Sosialisasi ISO/IEC SNI 17025:2008

9. Lab. Tipe C

Dinas Kab. Wonogiri Jawa Tengah

(31 Maret – 02 April 2015)

Bimbingan Teknis berupa: - Uji HA/HI AI dan ND

- Uji durantee pada daging ayam - Uji formalin pada daging ayam

10. Lab. Tipe C Dinas Kab. Gresik Jawa Timur (7 – 9 April 2015)

Bimbingan teknis berupa pelatihan petugas surveilans pasar dan profiling pasar

11. Lab. Tipe C Dinas Kota Malang Jawa Timur

(7-9 April 2015)

Bimbingan teknis berupa pelatihan petugas surveilans pasar dan profiling pasar

12. Lab. Tipe C Dinas Kota Blitar Jawa Timur (7 – 9 April 2015)

Bimbingan teknis berupa pelatihan petugas surveilans pasar dan profiling pasar

13. Lab. Tipe C Dinas Kota Yogyakarta (7 – 9 April 2015)

Bimbingan teknis berupa pelatihan petugas surveilans pasar dan profiling pasar

14. Lab. Tipe C Dinas Kab. Banyumas (7 – 9 April 2015)

Bimbingan teknis berupa pelatihan petugas surveilans pasar dan profiling pasar

15. Lab. Tipe C Dinas Kota Pekalongan (7 – 9 April 2015)

Bimbingan teknis berupa pelatihan petugas surveilans pasar dan profiling pasar

LAKIN BBVET WATES T.A 2015

II 35 of 89 16. Lab. Tipe C

Dinas Kota Semarang

(7 – 9 April 2015)

Bimbingan teknis berupa pelatihan petugas surveilans pasar dan profiling pasar

17. Lab. Tipe C Dinas Kab. Pati (7 – 9 April 2015)

Bimbingan teknis berupa pelatihan petugas surveilans pasar dan profiling pasar

18. Lab. Tipe C Kab. Batang Jawa Tengah (13 – 17 April 2015)

Bimbingan Teknis berupa :

- Pemeriksaan parasit gastrointestinal - Pemeriksaan parasit darah

19. Lab. Tipe C Kab. Kendal Jawa Tengah (13 – 17 April 2015)

Bimbingan Teknis berupa :

- Pemeriksaan parasit gastrointestinal - Pemeriksaan parasit darah

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 629/Kpts/OT.140/12/2003 tanggal 30 Desember 2005 selanjutnya disempurnakan dengan Permentan nomor 54/Permentan/OT.140/5/2013 BBVet Wates memiliki 5 tambahan tusi dari 17 menjadi 22, diantaranya adalah fungsi pemberian bimbingan teknis laboratorium veteriner, pusat kesehatan hewan dan kesejahteraan hewan. Penentuan target capaian sasaran kinerja tusi tersebut baru dilaksanakan tahun 2013, namun demikian, BBVet Wates sudah melaksanakan beberapa kegiatan berupa bimbingan teknis pada Medik dan Paramedik maupun petugas Dinas yang membidangi fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan kaitannya dengan teknis lapangan pengambilan sampel maupun teknis pengambilan, pengemasan dan pengujian sampel di laboratorium setiap tahunnya. Perbandingan target dan realisasi jumlah laboratorium baik tipe B maupun tipe C dalam kegiatan bimtek laboratorium di wilayah kerja BBVet Wates disajikan dalam Gb. 5.

Gambar 5. Perbandingan Target dan Realisasi Jumlah Laboratorium pada Bimtek Laboratorium

LAKIN BBVET WATES T.A 2015

II 36 of 89 Kegiatan bimtek laboratorium tahun 2015 tidak diperoleh kendala apapun sehingga capaian kegiatan ini dapat melebihi target yang ditentukan. Keberhasilan capaian kinerja ini ditunjukkan oleh feedback positif dari laboratorium tipe B yang telah mengajukan Akreditasi ISO 17025:2008 seperti Laboratorium Tipe B Purwokerto,

Dokumen terkait