BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
B. EVALUASI DAN ANALISIS KINERJA
REALISASI PENERIMAAN DJBC PER 31 Desember 2011 (Juta Rupiah) NO Jenis Penerimaan Target APBN-P Realisasi
Surplus (Defisit) Per 30 Desember
B. EVALUASI DAN ANALISIS KINERJA
SS BC-1 TINGKAT PENGAMANAN HAK-HAK KEUANGAN NEGARA YANG OPTIMAL
Tingkat pengamanan hak-hak keuangan negara yang optimal meliputi pengamanan terhadap 4 (empat) fungsi DJBC yaitu revenue collector, trade facilitator, community protector, industrial assistance. Salah satu fungsi DJBC yang utama yang dapat diukur outcome/hasil-nya adalah penerimaan negara yang optimal yaitu tingkat pencapaian penerimaan bea cukai yang sesuai dengan target sebagaimana tercantum dalam APBN atau APBN-P.
Capaian sasaran strategis tingkat pengamanan hak-hak keuangan negara yang optimal pada tahun 2011 sebesar 113,99%. Capaian tersebut diperoleh dari pencapaian IKU :
BC-1.1 Jumlah Penerimaan Bea Dan Cukai
1. Realisasi Penerimaan DJBC Tahun 2011
Bab III
Akuntabilitas Kinerja
Total realisasi penerimaan Bea Masuk, Cukai dan Bea keluar s.d. 31 Desember 2011 adalah sebesar Rp 131.103,89 milyar (termasuk BM DTP), yang terdiri dari :
Bea Masuk :
Penerimaan Bea Masuk terdiri dari Bea Masuk Riil dan Bea Masuk Ditangung Pemerintah (BM-DTP). Realisasi penerimaan Bea Masuk s.d. 31 Desember 2011 sebesar Rp 25.238,84 milyar (117,39% dari target), terdiri dari Bea Masuk Riil Rp 25.191,49 milyar (119,95% dari target) dan BM-DTP Rp 47,3 milyar (9,47% dari target).
Cukai :
Penerimaan Cukai terdiri dari penerimaan Cukai HT, Cukai MMEA, dan Cukai EA. Realisasi penerimaan Cukai s.d. 31 Desember 2011 sebesar Rp 77.009,46 milyar atau (113,12% dari target APBN-P).
Bea Keluar :
Realisasi penerimaan Bea Keluar s.d. 31 Desember 2011 sebesar Rp 28.855,58 milyar atau (113,43% dari target APBN-P).
Jumlah penerimaan Bea dan Cukai s.d. akhir Desember 2011 di luar BM DTP berdasarkan laporan dari Ditjen. Perbendaharaan sebesar Rp 131.056,53 milyar atau sebesar 114,44% dibandingkan target APBN-P 2011 (Non BM DTP). Perbandingan realisasi penerimaan Bea Masuk, Cukai, dan Bea Keluar tahun 2010 dan 2011 adalah sebagaimana pada tabel di bawah ini :
Tabel 7:
Perbandingan Realisasi Penerimaan Tahun 2010 dan 2011
Realisasi penerimaan DJBC pada tahun 2011 mengalami peningkatan dibandingkan dengan realisasi penerimaan DJBC tahun 2010, terdiri dari kenaikan jenis penerimaan Bea Masuk sebesar Rp 5.431,06 milyar (naik 27,48%), Cukai sebesar Rp 10.844,17 milyar (naik 16,39%), dan Bea Keluar sebesar Rp 19.957,80 milyar (naik 224,30%).
APBN-P Realisasi % APBN-P Realisasi % Nom inal % Bea Masuk 15.106,81 19.760,43 130,80% 21.000,79 25.191,49 119,95% 5.431,06 27,48% Bea Keluar 5.454,56 8.897,78 163,13% 25.439,08 28.855,58 113,43% 19.957,80 224,30%
Cukai 59.265,92 66.165,29 111,64% 68.075,34 77.009,46 113,12% 10.844,17 16,39% Total 79.827,29 94.823,50 118,79% 114.515,21 131.056,53 114,44% 36.233,03 38,21%
Grow th
Ket : Target dan realisasi BM tidak termasuk BM DTP
2010 2011
Mi l ya r Rp
Jenis Penerim aan
Secara keseluruhan penerimaan DJBC pada tahun 2011 mengalami peningkatan 38,2% dibandingkan periode yang sama tahun 2010, karena importasi meningkat 27,8%, kenaikan tarif Cukai HT, dan tingginya tarif BK dan Harga Patokan Ekspor CPO. Penerimaan Bea Keluar merupakan sektor yang meningkat sangat signifikan yaitu sebesar 224,30%, hal ini disebabkan tingginya tarif BK dan HPE sebagai imbas dari tingginya harga CPO Internasional pada tahun 2011.
2. Realisasi Penerimaan PDRI dan PPN HT Tahun 2011
Disamping tugas pokoknya melaksanakan pemungutan terhadap pungutan negara dibidang Kepabeanan dan Cukai, DJBC juga mengemban tugas untuk melaksanakan pemungutan dibidang perpajakan lainnya yaitu pemungutan terhadap Pajak Dalam Rangka Impor (PDRI) yang meliputi PPN Impor, PPnBM Impor dan PPh pasal 22 Impor serta pemungutan terhadap PPN Hasil Tembakau.
Tabel 8:
Penerimaan PDRI Tahun 2010 dan 2011
Selama tahun 2011 DJBC berhasil memungut penerimaan dari PDRI dan PPN Hasil Tembakau sebesar Rp 153.542,47 Milyar atau naik 25,26% dibandingkan tahun 2010.
3. Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Bea dan Cukai a. Bea Masuk
Tercapainya target penerimaan Bea Masuk per 31 Desember 2011, antara lain disebabkan:
1) Nilai tukar rupiah yang mengalami penguatan, mendorong tingkat importasi sehingga meningkatkan dutiable import
Nilai kurs rata-rata s.d. Desember 2011 sebesar Rp 8.775,21 menguat sebesar Rp 324,64 (3,6%) dibanding periode yang sama tahun 2010 dan berada di bawah kurs asumsi makro APBN-P 2011 sebesar Rp 8.700.
Nominal %
1 PPN Impor 82.706,29 107.016,02 24.309,73 29,39%
2 PPn BM Impor 4.790,58 5.374,48 583,90 12,19%
3 PPh psl 22 Impor 23.598,53 28.295,19 4.696,66 19,90% Sub Total PDRI 111.095,40 140.685,69 29.590,29 26,64% 4 PPN Cukai H T 11.485,30 12.856,78 1.371,48 11,94% 122.580,70 153.542,47 30.961,77 25,26% Total Pajak Milyar Rp NO Jenis Penerimaan 2010 2011 Growth
Bab III
Akuntabilitas Kinerja
Devisa impor bayar s.d. Desember sebesar US$ 141,04 Milyar, meningkat 27,8% dibandingkan periode yang sama tahun 2010 sebesar US$ 110,4 Milyar.
2) Tarif efektif rata-rata yang berada diatas tarif yang diasumsikan
Tarif efektif rata-rata, s.d. periode Desember 2011 sebesar 2,04%, naik 3,57% dari periode yang sama tahun 2010 sebesar 1,97%; namun masih berada diatas tarif yang diasumsikan dalam APBN-P pada tahun 2011 sebesar 1,93%.
3) Internal effort DJBC dalam peningkatan pelayanan dan pengawasan di bidang kepabeanan seperti intensifikasi pemeriksaan dokumen dan fisik barang, pemberantasan penyelundupan, temuan hasil audit dll.
b. Cukai
Dapat terlampauinya penerimaan Cukai s.d. 31 Desember 2011, antara lain disebabkan:
1) Dampak kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau mulai Januari 2011
Sebagai antisipasi kenaikan tarif cukai pada Januari 2011 terjadi peningkatan pesanan pita cukai di akhir tahun 2010 yang pelunasannya dilakukan bulan Januari dan Februari 2011.
Penurunan penerimaan cukai pada bulan Maret dikarenakan nilai pesanan pita cukai bulan Januari dan Februari yang pembayarannya jatuh tempo bulan maret relatif sedikit/menurun karena dampak kenaikan tarif cukai di 2011. Namun demikian untuk bulan April, penerimaan cukai kembali normal.
2) Internal effort DJBC dalam pemberantasan rokok illegal, mengintensifkan kegiatan pemantauan kepatuhan pengusaha (a.l: Produksi, Pelekatan, Pencatatan), memaksimalkan penagihan cukai, dan optimalisasi sosialisasi di bidang cukai.
Dari sisi produksi HT s.d. Desember 2011 dihasilkan produksi Hasil Tembakau sebesar 319,6 milyar batang atau mengalami kenaikan sebesar 7,98% dibandingkan dengan produksi HT pada periode yang sama tahun 2010 sebanyak 295,9 milyar batang. Kenaikan produksi HT tersebut lebih disebabkan adanya internal effort DJBC dalam pemberantasan peredaran rokok illegal. c. Bea Keluar
Tercapainya penerimaan Bea Keluar s.d. 31 Desember 2011 disebabkan antara lain:
1) Tingginya tarif BK dan Harga Patokan Ekspor CPO
Pengenaan BK atas ekspor beberapa komoditi seperti CPO, Rotan, Kayu, Kulit, dan Kakao sangat tergantung pada kebijakan pemerintah terkait dengan penetapan Harga Referensi yang menentukan tarif dan HPE.
Sejak bulan September 2010 harga Referensi CPO meningkat seiring naiknya harga minyak mentah dunia.
Memasuki awal tahun 2011, tarif Bea Keluar CPO bulan Januari menjadi 20%, bulan Februari dan Maret kembali meningkat menjadi 25% karena harga referensi yang sudah berada diatas US$ 1.250/ton, sedangkan untuk tarif Bea Keluar Kakao masih 10%.
Penerimaan Bea Keluar bulan Agustus 2011 kembali meningkat di banding bulan sebelumnya, karena volume ekspor CPO yang tinggi dan tarif BK bulan Agustus menjadi 15%.
2) Internal effort DJBC
Dengan meningkatnya harga minyak dunia, harga CPO dan turunannya yang menjadi komoditi substitusi minyak menjadi naik. Tingginya harga CPO dipasaran internasional mendorong tingginya tingkat eksportasi sehingga menghasilkan Bea Keluar yang cukup tinggi. DJBC diminta untuk meningkatkan pengawasan yang lebih efektif terhadap lalu lintas komoditi CPO dan turunannya, berkaitan hal tersebut telah dikeluarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor SE-2/BC/2011 tanggal 21 Maret 2011 tentang Optimalisasi Pengawasan Pengangkutan Ekspor dan/atau Antar Pulau, Kelapa Sawit, CPO, dan Produk Turunannya.
4. Kendala dan Risiko Fiskal dalam Pencapaian Target Penerimaan Tahun 2011 a. Sektor Bea Masuk
1) Konsekuensi Kerjasama Perdagangan Internasional melalui skema FTA (IJ-EPA, China, Korea, India, AANZ).
2) Fasilitas Pembebasan dan Keringanan BM.
3) Tarif umum BM (MFN) cenderung menurunkan tarif efektif rata-rata BM.
4) Kebijakan non tarif yang berorientasi pada pengendalian barang impor dan penggunaan produksi dalam negeri.
b. Sektor Cukai
1) Konsisten dengan Road Map Industri Hasil Tembakau. 2) Rencana pemberlakuan PP Pengendalian Tembakau.
3) Antisipasi Ratifikasi FCTC (Framework Convention on Tobacco Control). 4) Antisipasi Pemberlakuan Pajak Rokok.
c. Sektor Bea Keluar
1) Bea Keluar bukan merupakan instrumen penerimaan negara, karena tujuan penerapan BK adalah untuk mengantisipasi lonjakan harga yang tinggi,
Bab III
Akuntabilitas Kinerja
ketersediaan bahan baku dalam negeri, kelestarian SDA, dan menjaga kestabilan harga komoditas dalam negeri (Pasal 2A UU Kepabeanan).
2) Harga internasional CPO cenderung fluktuatif, yang berpengaruh pada penerimaan BK.
5. Strategi dalam Pencapaian Target Penerimaan Tahun 2011 a. Optimalisasi di Bidang Kepabeanan
1) Peningkatan akurasi penelitian nilai pabean dan klasifikasi barang impor dan peningkatan efektivitas pemeriksaan fisik barang.
2) Optimalisasi fungsi unit pengawasan melalui peningkatan patroli darat dan laut dan peningkatan pengawasan di daerah perbatasan terutama jalur rawan penyelundupan dan post audit.
b. Optimalisasi di Bidang Cukai
1) Kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau. 2) Optimalisasi pengawasan peredaran BKC.
3) Pembinaan kepatuhan pengguna jasa terhadap ketentuan di bidang cukai. 4) Penerapan manajemen risiko dalam pelayanan dan pengawasan di bidang
cukai.
c. Peningkatan Sektor Pelayanan
1) Penyempurnaan implementasi Indonesia National Single Windows (INSW), dalam rangka menyongsong ASEAN Single Windows (ASW).
2) Pelayanan kepabeanan 24 Jam sehari 7 hari seminggu di pelabuhan-pelabuhan utama.
3) Pengembangan otomatisasi pelayanan di bidang kepabeanan dan cukai.
4) Transformasi kelembagaan dalam bentuk penetapan Kantor Modern (2009/2010: 28 Kantor, 2011: 11 Kantor).
SS BC-2 TINGKAT KEPATUHAN YANG TINGGI DARI PENGGUNA JASA KEPABEANAN DAN CUKAI
Tingkat kepatuhan yang tinggi dari pengguna jasa kepabeanan dan cukai adalah kepatuhan dari pengguna jasa dalam menaati setiap peraturan di bidang kepabeanan dan cukai yang telah ditetapkan. Capaian sasaran strategis tingkat kepatuhan yang tinggi dari pengguna jasa kepabeanan dan cukai pada tahun 2011 sebesar 116,68%. Capaian tersebut diperoleh dari pencapaian 2 (dua) IKU yaitu :
BC-2.1 Persentase Cukai Yang Dibayar Tepat Waktu Dibandingkan Dengan Jumlah Cukai Yang Mendapat Penangguhan Pembayaran
Jumlah cukai yang dibayar tepat waktu adalah jumlah cukai yang harus dibayar pengusaha pabrik cukai yang diberikan penangguhan pembayaran cukai sebelum batas waktu penangguhan. Batas waktu penangguhan yaitu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal pengajuan dokumen CK-1.
Jumlah penundaan pembayaran cukai hasil tembakau yang jatuh tempo sepanjang tahun 2011 hampir seluruhnya telah dilunasi tepat pada waktunya sehingga presentase capaian pelunasan nilai cukai yang diberikan penundaan untuk tahun 2011 hampir mendekati 100% yaitu sebesar 99,99%. Pada tahun 2011 jumlah cukai yang diberikan penundaan adalah Rp 67.407,96 milyar dan sebesar Rp 67.405,49 milyar dibayar tepat waktu.
Bab III
Akuntabilitas Kinerja
Tabel 9 :
Realisasi Pelunasan Cukai Yang Mendapat Fasilitas Penangguhan Pembayaran
No Bulan
Jumlah cukai yang diberi fasilitas penangguhan
pembayaran
Jumlah cukai yang
dilunasi tepat waktu % Capaian
1 Januari Rp5.039.299.610.680 Rp5.038.393.610.680 99,98% 2 Februari 7.803.464.735.610 7.802.960.735.610 99,99% 3 Maret 2.891.835.095.280 2.891.682.995.280 99,99% 4 April 4.584.024.188.980 4.583.813.588.980 99,99% 5 Mei 5.448.801.746.860 5.448.801.746.860 100% 6 Juni 5.076.974.140.300 5.076.974.140.300 100% 7 Juli 6.085.462.087.700 6.085.462.087.700 100% 8 Agustus 6.613.802.463.410 6.613.802.463.410 100% 9 September 6.476.049.002.880 6.475.347.002.880 99,99% 10 Oktober 5.348.961.954.740 5.348.961.954.740 100% 11 November 5.478.673.144.800 5.478.673.144.800 100% 12 Desember 6.560.612.627.480 6.560.612.627.480 100% Total 67.407.960.798.720 67.405.486.098.720 99,99%
Sumber Data: Laporan Pemberian Penundaan Pembayaran Cukai Atas Pemesanan Pita Cukai Hasil Tembakau (SE-11/BC/2008 tgl 13 Februari 2008) dari KPPBC
Capaian pada tahun 2011 sebesar 99,99% mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2010 sebesar 99,98%. Perbandingan capaian IKU dari tahun 2009 s.d. 2011 adalah sebagaimana pada tabel di bawah ini:
Tabel 10 :
Perbandingan Realisasi Pelunasan Cukai Yang Mendapat Fasilitas Penangguhan Pembayaran 3 Tahun Terakhir
Tahun
Jumlah cukai yang diberi fasilitas penangguhan
pembayaran
Jumlah cukai yang dilunasi tepat waktu
%
Realisasi % Target
2009 50,964,847,076,114 50,948,632,693,164 99,96% 99,99%
2010 57.134.151.344.297 57.125.116.094.297 99,98% 98%
2011 67.407.960.798.720 67.405.486.098.720 99,99% 99%
Upaya yang dilakukan untuk memenuhi pencapaian target tahun 2011 antara lain dengan memberikan penegasan kepada Kepala KPPBC untuk lebih meningkatkan ketelitian dalam pemberian penundaan dan pengawasan dalam pelunasan cukai dari pengusaha hasil tembakau.
BC-2.2 Persentase Penyelesaian Piutang
Piutang adalah piutang yang timbul atas kegiatan di bidang kepabeanan dan cukai yang dapat berupa Bea Masuk, Bea Keluar, Cukai, Denda Administrasi, Bunga, PPN, PPnBM, dan PPh Ps 22. Mekanisme penyelesaian piutang dapat berupa :
1) pembayaran/pelunasan;
2) pengalihan piutang pajak ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP); 3) penggunaan kompensasi cukai;
4) penggunaan kompensasi PPN;
5) keputusan Direktur Jenderal atas keberatan; 6) pengajuan banding ke Pengadilan Pajak;
7) pembatalan surat penetapan tagihan karena adanya persetujuan Direktur Jenderal untuk menambah, mengurangi dan menghapus tagihan dalam surat penetapan; atau
8) pembatalan surat penetapan tagihan karena adanya persetujuan Direktur Jenderal untuk mengurangi atau menghapus sanksi administrasi berupa denda.
Untuk tahun 2011, capaian IKU dihitung dengan membandingkan antara jumlah piutang yang diselesaikan dengan jumlah piutang outstanding (piutang yang belum dilunasi sampai dengan tanggal Laporan Keuangan) dengan umur kurang atau sama dengan 3 tahun.
Piutang outstanding (piutang yang belum dilunasi sampai dengan tanggal Laporan Keuangan) dengan umur lebih dari 3 tahun akan dikeluarkan dari akun piutang dan dimasukan sebagai akun penyisihan piutang tidak tertagih dengan kategori piutang macet dengan nilai piutang yang disisihkan sebesar 100% dari total piutang setelah dikurangi dengan nilai agunan atau nilai barang sitaan.
Pada tahun 2011 telah diselesaikan piutang sebanyak Rp 79.380,66 milyar dari jumlah piutang yang berumur kurang dari 3 tahun sebanyak Rp 99.944,87 milyar sehingga capaian tahun 2011 sebesar 79,42% melebihi target yang ditetapkan sebesar 60%.
Bab III
Akuntabilitas Kinerja
Tabel 11 :
Realisasi Penyelesaian Piutang
No S.d. Bulan Σ Piutang < 3 Tahun Σ Penyelesaian
Piutang Target % Capaian 1 Januari 17.985.398.714.804 5.001.017.043.030 10% 27,81% 2 Februari 23.335.967.451.968 13.099.623.131.568 15% 56,13% 3 Maret 30.035.543.967.124 16.475.185.302.550 17% 54,85% 4 April 35.019.621.892.574 21.151.072.509.623 20% 60,40% 5 Mei 41.894.701.850.866 27.879.594.833.623 24% 66,55% 6 Juni 48.888.021.091.969 33.411.645.623.825 28% 68,34% 7 Juli 56.881.653.717.562 40.921.050.824.735 33% 71,94% 8 Agustus 63.366.438.821.361 48.294.909.704.946 38% 76,22% 9 September 73.419.632.393.041 58.604.759.513.983 44% 79,82% 10 Oktober 80.567.958.991.797 64.911.709.329.438 48% 80,57% 11 November 87.860.935.666.104 70.903.231.059.279 53% 80,70% 12 Desember 99.944.876.935.694 79.380.661.587.021 60% 79,42%
Perbandingan capaian IKU dari tahun 2009 s.d. 2011 adalah sebagaimana pada tabel di bawah ini:
Tabel 12:
Perbandingan Realisasi Penyelesaian Piutang 3 Tahun Terakhir
Tahun Σ Tagihan yang diterbitkan Σ Tagihan yang diselesaikan % Capaian Target
2009 4.035.511.252.611,59 2.534.476.223.806,16 62,80% 50%
2010 4.519.763.584.690,28 2.656.096.185.537,49 58,77% 55%
2011* 99.944.876.935.694,00 79.380.661.587.021,00 79,42% 60%
* Ket : Jumlah piutang dan penyelesaian tahun 2011 meliputi piutang cukai
Meskipun pada tahun 2011 penyelesaian piutang melebihi target yang telah ditetapkan, ada beberapa faktor penghambat yang dapat mempengaruhi kinerja penyelesaian piutang, antara lain:
a. Terkait dengan penatausahaan piutang di tingkat Kantor Pelayanan maupun Kantor Wilayah, belum dilaksanakan rekonsiliasi baik internal maupun eksternal secara optimal guna memperoleh data piutang yang valid dan reliable;
b. Terkait proses penagihan aktif terdapat alamat perusahaan dan penanggung bea cukai yang tidak ditemukan;
c. Terkait dengan piutang yang tidak dapat ditagih, hingga saat ini belum diatur mekanisme penghapusan piutang dalam hal pailit atau penguasaan asset yang tidak dapat memenuhi piutang yang harus diselesaikan oleh penanggung bea cukai;
d. Terkait dengan sumber daya manusia dalam pelaksanan pelaporan data piutang baik di Kantor Pelayanan maupun Kantor Wilayah perlu dilakukan pelatihan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam penatausahaan piutang;
e. Terkait dengan penerapan Sistim Aplikasi Piutang dan Pengembalian (SAPP) untuk pelaksanaan pelaporan data piutang belum dapat diterapkan ke seluruh Kantor Pelayanan dan Kantor Wilayah, hingga saat ini masih dalam tahap uji coba pada Kantor Pelayanan Utama Tanjung Priok.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam rangka mengoptimalkan kinerja penyelesaian piutang antara lain :
a. Diberlakukannya Peraturan Direktur Jenderal Nomor P-47/BC/2011 tentang Pedoman Penatausahaan Piutang di DJBCdan Surat Edaran Direktur Jenderal Nomor SE-01/BC/2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penatausahaan Piutang; b. Dalam rangka pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud huruf a di atas telah
dibentuk Tim Piutang berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor KEP-37/BC/2011 yang memiliki tugas utama untuk melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan penatausahaan piutang di DJBC guna memperoleh kualitas data piutang yang valid dan reliable;
c. Bahwa salah satu fungsi Tim Piutang sebagaimana dimaksud huruf b di atas adalah melakukan evaluasi atas penggunaan aplikasi dalam rangka otomasi prosedur penatausahaan piutang, dimana pengembangan aplikasi oleh DIt. IKC dengan membuat SAPP yang saat ini sudah dalam tahap uji coba implementasi di KPUBC Tipe A Tanjung Priok dan selanjutnya akan diterapkan secara bertahap ke beberapa unit satker sesuai program kerja Dit. IKC dalam tahun 2011.
SS BC-3 TINGKAT KEPUASAN PELAYANAN YANG TINGGI DARI PENGGUNA JASA KEPABEANAN DAN CUKAI
Tingkat kepuasan pelayanan yang tinggi dari pengguna jasa di bidang kepabeanan dan cukai adalah kepuasan pengguna jasa terhadap peningkatan pelayanan di bidang kepabeanan dan cukai yang diberikan sehingga diharapkan dapat mendorong tercapainya pendapatan yang optimal.
Bab III
Akuntabilitas Kinerja
Capaian sasaran strategis tingkat kepuasan pelayanan yang tinggi dari pengguna jasa di bidang kepabeanan dan cukai pada tahun 2011 sebesar 96,05%. Capaian tersebut diperoleh dari pencapaian IKU :
BC-3.1 Indeks Kepuasan Pengguna Layanan
Tingkat kepuasan pengguna jasa atas pelayanan yang diberikan oleh DJBC diukur melalui Indeks Kepuasan Pengguna Layanan. Indeks diperoleh melalui survey yang dilakukan oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan terhadap pengguna jasa di tiap unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan dengan memakai jasa konsultan dari pihak eksternal. Untuk tahun 2011 survei dilakukan oleh Sekretariat Jenderal Kementerian Keuangan dengan menggunakan jasa konsultan dari IPB.
Tabel 13:
Indeks Kepuasan Pengguna Layanan DJBC
Tahun Indeks Kepuasan Target IKU Pelaksana Survey
2011 3,65 3,8 IPB (skala 1-5) 2010 3,72 (skala 1-5) IPB 64,48 62 Haygroup (skala 1-100) 2009 61,5 60 Haygroup (skala 1-100)
Indeks kepuasan pengguna layanan DJBC pada tahun 2011 sebesar 3,65 dari target yang ditetapkan sebesar 3,8 (skala 1-5). Capaian tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan indeks kepuasan pengguna layanan yang diperoleh DJBC pada tahun 2010 sebesar 3,72. Terkait dengan capaian tersebut, hasil survey pada tahun 2011 akan dijadikan masukan bagi DJBC dalam peningkatan dan penyempurnaan kualitas layanan yang diberikan kepada pengguna jasa.
SS BC-4 KAJIAN DAN RUMUSAN KEBIJAKAN YANG SELARAS DENGAN KEPENTINGAN NASIONAL, STANDAR INTERNASIONAL, DAN PROSES BISNIS DI BIDANG KEPABEANAN DAN CUKAI
Rumusan kebijakan adalah hasil dari proses penelaahan permasalahan di bidang kepabeanan dan cukai yang didasari pertimbangan kepentingan nasional dan keselarasan dengan standar internasional. Harmonisasi adalah suatu proses kegiatan menyelaraskan peraturan/prosedur di bidang kepabeanan dan cukai agar menghasilkan rumusan kebijakan yang tidak overlapping.
Capaian sasaran strategis kajian dan rumusan kebijakan yang selaras dengan kepentingan nasional, standar internasional, dan proses bisnis di bidang kepabeanan dan cukai pada tahun 2011 sebesar 161,09%. Capaian tersebut diperoleh dari pencapaian 3 (tiga) IKU yaitu :
BC-4.1 Persentase Kajian/Telaahan Yang Diselesaikan
Kajian adalah hasil penelaahan atas permasalahan di bidang kepabeanan dan
cukai. Permasalahan di lingkungan DJBC dikategorikan ke dalam: 1) Bidang pelayanan dan penerimaan kepabeanan dan cukai 2) Bidang pengawasan dan penegakan hukum kepabeanan dan cukai 3) Bidang pengembangan kapasitas dan kinerja organisasi.
Capaian IKU ini dihitung dengan membandingkan antara jumlah kajian/telaahan yang diselesaikan dengan jumlah kajian/telaahan yang direncanakan. Jumlah kajian/telaahan yang diselesaikan merupakan jumlah kajian/telaahan yang telah dihasilkan dalam bentuk surat, nota dinas, atau laporan hasil kajian/telaahan dengan memperhitungkan bobot tahapan penyelesaiannya sebagai berikut :
1) Penyampaian Topik : 15%
2) Pembuatan Outline : 10%
3) Proses Kajian : 60%
4) Penyelesaian dan Penyampaian Kajian : 15%.
Sedangkan jumlah kajian/telaahan yang direncanakan merupakan jumlah kajian/telaahan yang merupakan rencana program kerja dari para Tenaga Pengkaji di lingkungan DJBC dalam tahun berjalan.
Bab III
Akuntabilitas Kinerja
Target pada tahun 2011 adalah 83,3% dari total 12 kajian atau sekitar 10 kajian. Pada tahun 2011 telah diselesaikan 8 (delapan) kajian (bobot penyelesaian 100%) dan dilaporkan 5 (lima) judul kajian (bobot penyelesaian 85%) sehingga capaian pada tahun 2011 sebesar 102,08%. Capaian tersebut meningkat jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2010 dengan jumlah kajian sebanyak 10 kajian dari 12 kajian yang ditargetkan (83,3%). Rincian kajian pada tahun 2011 sebagai berikut : Tenaga Pengkaji Bidang Pengembangan Kapasitas dan Kinerja Organisasi
1. “Strategi optimalisasi peran pimpinan unit dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia untuk Percepatan Transformasi Kelembagaan” (selesai)
2. "Evaluasi Efektivitas Pelayanan Kepabeanan 24 Jam per hari dan 7 Hari per minggu di KPU Tipe A Tanjung Priok, KPPBC Tipe Madya Pabean Tg. Perak, Belawan, dan Makassar“ (selesai)
3. "Assessment Budaya Organisasi dengan Menggunakan Metode Competing Value Framework-Studi Kasus KPPBC Tipe A3 Mataram, KPM Tangerang, dan PSO Tg. Priok" (selesai)
4. “Hubungan antara Budaya Organisasi, Kepuasan Pegawai, Komitmen dan Kinerja Pegawai dan/atau Kinerja Organisasi dengan Metode Partial Least Square Path Modelling” (selesai).
Tenaga Pengkaji Bidang Pengawasan dan Penegakan Hukum Kepabeanan dan Cukai 1. Kajian mengenai "Reviu Fasilitas Kawasan Berikat pada Industri Sawit" (selesai) 2. Kajian mengenai "Analisis Posisi Indonesia Terkait Free Trade Agreement“
(selesai)
3. Topik Kajian mengenai “Pencegahan Penyalahgunaan Jalur Hijau”
4. Topik Kajian mengenai “Pengamanan identitas importir jalur hijau dari penyalahgunaan identitas oleh pengguna yang tidak bertanggung jawab”
5. Topik Kajian mengenai “Integrasi profiling pengguna usaha sebagai modal utama penerapan pelayanan berbasis risiko”.
Tenaga Pengkaji Bidang Pelayanan dan Penerimaan Kepabeanan dan Cukai
1. Kajian mengenai “Pelayanan dan Pengawasan Lalu Lintas Barang Melalui Perbatasan Darat. Studi Kasus: Perbatasan Darat Nanga Badau”(selesai)
2. Kajian mengenai “Pajak Rokok, Cukai, dan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau” (selesai)
3. Topik Kajian mengenai “Sistem monitoring penerimaan DJBC”
4. Topik Kajian mengenai “Optimalisasi Pemeriksaan Pabean Melalui Efisiensi dan Efektivitas Pemeriksaan Fisik”.
BC-4.2 Persentase Penyelesaian Perancangan Dan Legalisasi Peraturan Pelaksanaan UU Kepabeanan dan UU Cukai
Persentase penyelesaian perancangan dan legalisasi peraturan pelaksanaan UU Kepabeanan dan UU Cukai adalah perbandingan antara jumlah penyelesaian rancangan dan legalisasi peraturan pelaksanaan UU Kepabeanan dan UU Cukai yang selesai dibuat dibandingkan dengan target yang direncanakan. Rancangan adalah konsep peraturan yang telah final pembahasannya di DJBC dan telah diajukan ke Kementerian Keuangan untuk diproses lebih lanjut. Sedangkan legalisasi adalah peraturan yang telah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang baik Direktur Jenderal, Menteri Keuangan atau Pejabat lain yang berwenang.
Target pada tahun 2011 direncanakan akan diselesaikan sebanyak 31 rancangan dan legalisasi peraturan. Pada tahun 2011 telah diselesaikan sebanyak 43 peraturan dan rancangan peraturan (1 Peraturan Menteri Keuangan, 10 Rancangan Peraturan Menteri Keuangan, 10 Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, 10 Rancangan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, 4 Keputusan Direktur Jenderal Bea dan Cukai, 2 Instruksi Direktur Jenderal Bea dan Cukai, dan 6 Surat Edaran Direktur Jenderal Bea dan Cukai) dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 14:
Data Rancangan dan Legalisasi Peraturan
No Periode Realisasi
1 Januari dan Februari
a. RPDJBC tentang Tata laksana pemberitahuan manifest kedatangan sarana pengangkut & manifest keberangkatan sarana pengangkut dalam rangka
pengangkutan barang impor dan barang ekspor ke dan dari kawasan pabean atau kawasan pelayanan pabean terpadu
b. RPDJBC tentang Pengelolaan Jaminan Dalam Rangka Kepabeanan
c. RPDJBC tentang Tatalaksana Pemberian PPNDTP atas impor barang untuk barang usaha hulu eksplorasi minyak dan gas bumi serta kegiatan usaha eksplorasi panas