BAB III AKUNTABILITAS KINERJA
1.2 Evaluasi dan Analisis Kinerja
Penjelasan kriteria penilaian dari tabel diatas sebagai berikut :
Tabel 3 Kriteria Penilaian Monitoring dan Evaluasi Kinerja Triwulanan
NO KATEGORI NILAI ANGKA INTERPRETASI KATEGORI WARNA 1 AA >85 – 100 Memuaskan 2 A >75 – 85 Sangat Baik
3 B >65 – 75 Baik, Perlu sedikit perbaikan 4 CC >50 – 65 Cukup (memadai), perlu banyak
perbaikan yang tidak mendasar 5 C >30 – 50 Kurang, perlu banyak perbaikan,
termasuk perubahan yang mendasar
6 D 0 – 30 Sangat Kurang, perlu banyak sekali perbaikan & perubahan yang sangat mendasar
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pada triwulan pertama, kedua dan ketiga, hampir seluruh indikator kinerja output belum dapat memenuhi target kinerjanya. Walupun pada akhirnya di triwulan keempat sebagian besar indikator kinerja output berhasil memenuhi target kinerjanya, tabel di atas memberikan informasi bahwa Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol perlu memperbaiki pola perencanaan per triwulannya. Untuk perbaikan di masa yang akan datang, Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol akan berupaya untuk menyusun target kinerja per triwulan dengan lebih matang dan rasional agar tidak terjadi deviasi yang besar target kinerja dan realisasi. Pelaksanaan pekerjaan di tahun yang akan datang akan diupayakan untuk selalu mengacu pada target per triwulan yang telah ditetapkan sehingga dapat menghasilkan kinerja yang lebih berkualitas, akuntabel, efektif dan efisien
1.2 Evaluasi dan Analisis Kinerja
Pengukuran Kinerja adalah proses sistematis dan berkesinambungan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, kebijakan, sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi, misi
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 25
PENGUKURAN KINERJA
Unit Kerja Eselon II Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol Tahun Anggaran 2015
SASARAN
PROGRAM INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI %
Menurunnya Waktu Tempuh pada Koridor Utama
Outcome
Waktu Tempuh pada Koridor Utama 2,7
jam /100km 100 100
Output
Jumlah Laporan Kajian dan Evaluasi Penyiapan Pengusahaan Jalan Tol dan Data Informasi Jalan Tol
4 Laporan 4 Laporan 100 Jumlah Dokumen Pengaturan,
Penyiapan, Pelayanan dan
Pengendalian Pengusahaan Jalan Tol
5 Dokumen 5 Dokumen 100 Jumlah Laporan Pengawasan dan
Pemantauan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol
7 Laporan 7 Laporan 100 Tersedianya Dokumen Perjanjian
Layanan Dana Bergulir untuk Pengadaan Tanah Jalan Tol (BLU)
2 Dokumen 2 Dokumen 100 Tersedianya Laporan Monitoring dan
Evaluasi Layanan Dana Bergulir untuk Pengadaan tanah Jalan Tol (BLU)
1 Laporan 1 Laporan 100 Tersedianya Laporan Pengelolaan Dana
Hasil Pengusahaan Jalan Tol (BLU) 1 Laporan 1 Laporan 100
Jumlah Laporan Sistem Pelaporan Secara Elektronik (e-Monitoring) Satker Kemen PU II
28 Laporan 28 Laporan 28
Terpenuhinya Layanan Perkantoran 12 Bulan
Layanan 12 Layanan Bulan 100 Terpenuhinya Layanan Perkantoran
(BLU) 12 Layanan Bulan 12 Layanan Bulan 100 Jumlah Kendaraan Bermotor 3 Unit 0 Unit 0 Jumlah Perangkat Pengolah Data dan
Komunikasi 40 Unit 32 Unit 80
Jumlah Peralatan dan Fasilitas
Perkantoran 115 Unit 15 Unit 15
Jumlah Anggaran : Rp. 64.612.000.000,00 Jumlah Realisasi : Rp. 42.600.473.325,00
Keberhasilan/kegagalan capaian indikator kinerja outcome dan output di Sekretariat Pengatur Jalan Tol dijelaskan sebagai berikut :
1. Kinerja outcome Sekretariat BPJT Tahun 2015 mendukung 1 (indikator) indikator kinerja outcome program Penyelenggaraan Jalan di Direktorat Jenderal Bina Marga yaitu Menurunnya Waktu Tempuh pada Koridor Utama. 2. Rata-rata capaian kinerja output Sekretariat BPJT tahun 2015 adalah 88%.
Dari angka rata-rata capaian kinerja ini, kinerja output Sekretariat BPJT dapat dikatakan berhasil. Hal ini dikarenakan dari 11 indikator kinerja output,
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 26
hampir semua indikator kinerja output sesuai dengan target yang telah ditetapkan dalam Dokumen Penetapan Kinerja. Indikator kinerja output yang tidak sesuai dengan dokumen Penetapan Kinerja adalah indikator kinerja output Kendaraan Bermotor, Perangkat Pengolah Data dan Komunikasi, serta Peralatan dan Fasilitas Perkantoran masing-masing capaiannya adalah 0%, 80% dan 15%. Hal yang menyebabkan capaian kinerja output ini tidak sesuai dengan nilai yang ditargetkan adalah karena adanya perubahan prioritas pemenuhan kebutuhan belanja meubelair dan alat komunikasi dan pengolah data sehingga dalam berakibat pada tidak tercapainya pemenuhan target output. Selain itu, masih terdapat kendala dalam hal proses penghapusan barang-barang modal yang dalam kondisi rusak. Untuk belanja kendaraan bermotor, dana untuk belanja tersebut dibintang oleh Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan.
Dalam pelaksanaan dan pencapaian kinerja dari tahun ke tahun, Sekretariat BPJT selalu berupaya melakukan perbaikan. Adapun gambaran perbandingan rata-rata capaian kinerja output Sekretariat BPJT mulai tahun 2011-2015 dapat dilihat dari grafik berikut ini:
Gambar 5 Perbandingan Rata-Rata Capaian Kinerja Output Sekretaris BPJT Tahun 2011-2015
Dari grafik di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja Sekretarariat BPJT cenderung berkisar pada angka 85-100 %. Rata-rata capaian kinerja tersebut fluktuatif karena adanya beberapa penyesuaian terkait kebijakan pemerintah misalnya adanya penghematan anggaran yang mempengaruhi besaran capaian kinerja output. Pada tahun 2013, terdapat penurunan kinerja yang cukup signifikan, yaitu sebesar 5% karena adanya dana bintang di Satker BLU-BP Set BPJT yang jumlahnya cukup signifikan sehingga mengurang progress capaian kinerja satker
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 27
yang pada akhirnya berpengaruh pada capaian output Eselon II Sekretariat BPJT, namun capaian kinerja tersebut telah diperbaiki di tahun 2014. Tahun 2015, capaian output secara keseluruhan di Sekretariat Badan Pengatur Jalan Tol mengalami penurunan karena berbagai faktor yang disebutkan sebelumnya. Namun demikian, penurunan capaian output tidak lantas mengurangi capaian kinerja di organisasi ini.
Tahun 2015 adalah tahun pertama dalam pelaksanaan RENSTRA Direktorat Jenderal Bina Marga 2015-2019 yang mengacu pada RENSTRA Kementerian Pekerjaan Umum 2015-2019. Sekretariat BPJT, telah berupaya semaksimal mungkin untuk memenuhi target RENSTRA sehingga bisa menjadi target acuan untuk pelaksaan RENSTRA di tahun-tahun selanjutnya. Adapun capaian indikator kinerja output Sekretariat BPJT dibandingkan dengan target kinerja yang ditetapkan oleh RENSTRA Direktorat Jenderal Bina Marga 2015-2019 dapat ditunjukan pada tabel berikut ini:
Tabel 4 Perbandingan Capaian Kinerja dengan Target Renstra 2015-2019
No Indikator Kinerja Satuan
Target RENSTRA
2015-2019
Realisasi
2015 Target Sisa Ket.
1 Jumlah Laporan Kajian dan Evaluasi Penyiapan Pengusahaan Jalan Tol dan Data Informasi Jalan Tol
Dok 10 2 8 Sesuai
target 2 Jumlah Dokumen Pengaturan,
Penyiapan, Pelayanan dan
Pengendalian Pengusahaan Jalan Tol
Dok 10 2 8 Sesuai
target 3 Jumlah Laporan Pengawasan dan
Pemantauan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol
Dok 10 2 8 Sesuai
target 4 Tersedianya Dokumen Perjanjian
Layanan Dana Bergulir untuk Pengadaan Tanah Jalan Tol (BLU)
Dok 6 2 4 Sesuai
target 5 Terpenuhinya Layanan Perkantoran Bulan 60 12 48 Sesuai target 6 Terpenuhinya Layanan Perkantoran
(BLU) Bulan 60 12 48 Sesuai target
7 Jumlah Kendaraan Bermotor Unit 3 0 3 Tidak
Sesuai target 8 Jumlah Perangkat Pengolah Data dan
Komunikasi Unit 100 32 68 Sesuai Tidak
target 9 Jumlah Peralatan dan Fasilitas
Perkantoran Unit 150 15 135 Sesuai Tidak
target
BPJT
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 28
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa masih terdapat 3 indikator kinerja output Sekretariat BPJT yang belum memenuhi target yang ditetapkan oleh RENSTRA Direktorat Jenderal Bina Marga 2015-2014. Namun, hal ini tidak begitu saja berarti bahwa kinerja dari indikator kinerja output tersebut dikatakan tidak berhasil. Permasalahan yang terjadi pada dasarnya adalah membandingkan kinerja yang dicapai dengan target yang ditetapkan di RENSTRA bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan karena pola perencanaan 5 tahunan untuk indikator kinerja output yang bersifat non-fisik masih belum cukup matang dan memadai. Sebuah tantangan yang sangat besar yang harus dihadapi pada masa RENSTRA yang baru adalah memperbaiki sistem perencanaan 5 tahunan, khususnya perencanaan 5 tahunan untuk indikator kinerja output yang bersifat non-fisik. Dokumen RENSTRA 2015-2019 yang handal dan akurat diharapkan menjadi alat yang bisa menjadi acuan ukuran indikator kinerja output yang bersifat non-fisik dalam pencapaian rencana lima tahunan yang dapat dijadikan dasar untuk menyusun perencanaan tahunan.
Adapun penjelasan rinci mengenai capaian kinerja Sekretariat BPJT, diuraikan sebagai berikut:
A. Sasaran strategis : Meningkatnya Dukungan Konektivitas Untuk
Penguatan Daya Saing
Indikator kinerja outcome: Menurunnya Waktu Tempuh pada Koridor Utama (Jawa dan Sumatera)
Indikator kinerja Output pada outcome tersebut adalah:
1. Laporan Kajian dan Evaluasi Penyiapan Pengusahaan Jalan Tol dan Data Informasi Jalan Tol terdiri atas paket-paket pekerjaan yang dilaksanakan oleh Bidang Teknik Sekretariat BPJT. Pada indikator kinerja output tersebut, realisasi pegukuran kinerja mencapai 100%. Namun demikian, beberapa kinerja produk masih perlu ditindaklanjuti dan dikembangkan agar lebih berdaya guna dan bisa dimafaatkan secara optimal.
Dukungan paket-paket kegiatan dalam output ini dimaksudkan untuk memberikan pendampingan dalam pemeriksaan DED, revieu desain jalan tol termasuk usulan penambahan fasilitas jalan tol; melakukan monitoring konstruksi jalan tol; melaksanakan laik fungsi jalan tol serta mendukung tugas-tugas dari bidang teknik BPJT terkait proses penyiapan pelelangan pengusahaan jalan tol. Paket kegiatan lainnya pada output tersebuat diatas adalah paket pekerjaan Penyusunan Review FS Rencana Pembangunan Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan yang bertujuan untuk meninjau kembali kelayakan finansial ruas jalan tol tersebut sebagai prasyarat penyelenggaraan lelang pengusahaan jalan tol. Selain itu juga terdapat
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 29
paket kegiatan Evaluasi Perencanaan Teknis Jalan Tol dan Monitoring Pembangunan Jalan Tol yang diarahkan untuk memberikan bantuan teknis bagi BPJT dalam evaluasi basic design dan pemantauan konstruksi ruas jalan tol yang sedang dibangun.
Pelaksanaan paket pekerjaan pada output ini tidak mengalami kendala berarti kecuali yang terkait koordinasi dengan instansi-instansi daerah.
Gambar 6 Evaluasi Laik fungsi Jalan Tol Gempol-Pandaan
2. Dokumen Pengaturan, Penyiapan, Pelayanan dan Pengendalian Pengusahaan Jalan Tol, kinerja produk diarahkan dalam rangka mendukung pelaksanaan fungsi penyiapan, pelayanan dan pengendalian pengusahaan jalan tol (investasi jalan tol). Realisasi pengukuran kinerja adalah 6 dokumen sesuai dengan target awal penetapan kinerja sebanyak 5 dokumen sehingga prosentasi pencapaian output adalah sebesar 100%. Dalam rangka pelaksanaan tupoksinya, Sekretariat BPJT memerlukan pendampingan untuk melakukan evaluasi pelaksanaan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol (PPJT) untuk jalan tol operasi dan non operasi. Pendampingan tersebut dilaksanakan melalui paket kegiatan Dukungan Manajemen Evaluasi Kinerja Pengusahaan jalan Tol. Selain itu, dilaksanakan juga paket-paket kegiatan yang berupa kajian dalam rangka mendukung kinerja persiapan, pelayanan dan pengendalian investasi dan pelaksanaan pelelangan pengusahaan jalan tol yang diarahkan untuk percepatan pengembangan dan pembangunan jalan tol di Indonesia.
3. Pengukuran Kinerja pada output Laporan Pengawasan dan Pemantauan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol mencapai 100%. Kinerja produk pada
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 30
output ini diharapkan mampu mendukung fungsi pengawasan dan pemantauan jalan tol, yaitu dilaksanakan salah satunya melalui pekerjaan evaluasi pemenuhan SPM (Standar Pelayanan Minimum) jalan tol. Jalan tol yang memenuhi SPM diharapkan bisa memberikan layanan yang optimal dan bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi pengguna jalan serta bagi para pihak yang berkepentingan. Saat ini total jumlah ruas jalan tol yang sudah beroperasi adalah 33 ruas jalan tol dengan total panjang mencapai 949 km. Mengingat keterbatasan jumlah sumber daya manusia di BPJT dalam rangka manajemen pengawasan yang rutin dan komprehensif terhadap seluruh ruas jalan tol dan dalam rangka melaksanakan salah satu kewajiban BPJT, dipandang perlu bantuan dari pihak ketiga untuk membantu pelaksanaan tugas pokok dan fungsi pengawasan dan pemantauan tersebut. Dampak positif yang diharapakan dari pelaksanan keguatan ini adalah semakin meningkatnya kinerja layanan operator jalan tol dan terpenuhinya kepuasan pengguna jalan tol.
Gambar 7 Ruas Jalan Tol yang sudah Operasi
4. Output Dokumen Perjanjian Layanan Dana Bergulir untuk Pengadaan Tanah Jalan tol (BLU) mencapai realisasi pengukuran kinerja sebesar 100% atau 2 dokumen dari target awal sebanyak 2 dokumen. Manfaat kegiatan tersebut adalah Terdukungnya pelaksanaan pengelolaan dana bergulir
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 31
pengadaan tanah jalan tol. Pada tahun ini, kinerja output ini tidak berjalan maksimal karena realisasi dana bergulir yang disalurkan untuk pengadaan tanah jalan tol cukup sedikit. Tahun ini adalah tahun transisi terkait adanya UU Pengadaan Tanah yang sudah mulai diimplementasikan pada tahun 2015.
5. Output Laporan Monitoring dan Evaluasi layanan Dana Bergulir untuk Pengadaan Tanah jalan tol (BLU) realisasi pengukuran kinerjanya mencapai 100 % yaitu 1 laporan. Kinerja produk output ini bermanfaat dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyaluran dana bergulir untuk pengadaan tanah jalan tol. Capaian Output Konsisten dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu 100%.
6. Output Laporan Pengelolaan Dana Hasil Pengusahaan Jalan Tol (BLU) realisasi capaian kinerja outputnya mencapai 100 % yaitu 1 laporan. Kinerja produk output ini bermanfaat dalam rangka mendukung pengusahaan jalan tol terutama yang terkait dengan tugas pokok fungsi bisnis operasional BLU-Bidang Pendanaan Sekretariat BPJT. Dalam output ini, terdapat beberapa sub paket yang tidak dilaksanakan yaitu pada komponen Peningkatan Kapasitas (pelatihan) Pegawai BLU dikarenakan pertimbangan pemenuhan skala prioritas. Prosentase capaian kinerja pada indikator kinerja output Laporan Pengelolaan Dana Hasil Pengusahaan Jalan Tol konsisten selalu mencapai angka 100% dari tahun 2011-2015. Hal ini dapat diartikan bahwa capaian kinerja indikator kinerja output ini selalu mencapai angka target kinerja yang ditetapkan pada Dokumen Penetapan Kinerja.
7. Output Layanan Perkantoran memenuhi target 100 % sesuai perjanjian kinerja. Semua komponen dalam output dapat dilaksanakan. Catatan untuk output ini adalah capaian realisasi keuangan yang tidak bisa maksimal karena adanya beberapa kekurangan dalam perencanaan yang terkait dengan kebijakan Honorarium Kepala dan Anggota BPJT, cadangan belanja tunjangan kinerja pegawai dan pembayaran belanja lembur pegawai. 8. Pelaksanaan Output Layanan Perkantoran (BLU) mencapai target 100 %
sesuai perjanjian kinerja. Output ini melaksanakan fungsi pemenuhan belanja operasional dan pemeliharaan di lingkungan Satuan Kerja BLU-Bidang Pendanaan. Pada output ini, terdapat komponen belanja gaji pegawai BLU yang belum bias dilaksanakan karena proses pembayaran tunjangan (remunerasi) untuk pegawai BLU belum disetujui.
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 32
9. Output Jumlah Kendaraan Bermotor tidak memenuhi target penetapan kinerja dengan pencapain output sebesar 0%. Anggaran untuk pengadaan kendaraan dinas bermotor untuk Satuan Kerja BLU tidak disetujui dan masih dibintang oleh Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan. 10. Output Jumlah Perangkat Pengolah Data dan Komunikasi mencapai 80% dari target awal. Pemenuhan output ini belum maksimal karena mempertimbangkan prioritas kebutuhan organisasi terkait sarana dan prasarana alat pengolah data dan komunikasi. Selain itu, penghapusan peralatan dan mesin di Satuan Kerja Sekretariat Pengatur Jalan Tol sedang diproses sehingga belanja modal terkait hal tersebut ditunda pelaksanaannya.
11. Output Jumlah Peralatan dan Fasilitas Perkantoran pencapaiannya adalah 10% dari target awal. Hal ini dikarenakan adanya proses penghapusan BMN untuk peralatan dan fasilitas pekantoran yang rusak belum selesai sehingga proses pembelian untuk meubelair ditunda pelaksaannya.
Pelaksanaan kegiatan Sekretariat BPJT pada tahun 2015 menunjukkan adanya peningkatan kinerja dibandingakan pelaksanaan kegiatan tahun sebelumnya. Tingkat realisasi dan penyerapan anggaran pada setiap output pada kegiatan di Sekretariat BPJT menunjukkan kenaikan. Pencapaian indikator kinerja output, pencapaian kinerja Satker Sekretariat Pengatur Jalan Tol sudah cukup bagus dengan prosentase output yang hampir semuanya mencapai angka 100.
Terhadap target kinerja lima tahunan (Renstra), pencapaian Sekretariat BPJT dikategorikan berhasil memenuhi target capain untuk tahun berjalan. Menginjak usia yang ke sepuluh, Sekretariat BPJT sebagai bagian dari entitas Badan Pengatur Jalan Tol telah melaksanakan target capaian indikator kinerja output Renstra dalam kategori berhasil.
Pada tahun anggaran 2015 ini, capaian dari Badan Pengatur Jalan Tol dalam hal pembangunan jalan tol adalah peresmian ruas-ruas jalan tol baru epanjang 132,35 km. Ruas-ruas jalan tol yang tahun ini diresmikan adalah ruas jalan tol Porong-Gempol Seksi Kejapanan-Porong-Gempol sepanjang 3.55 km, jalan tol Porong-Gempol-Pandaan sepanjang 12.05 km dan jalan tol Cikopo-Palimanan sepanjang 116,75 km.
BPJT
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 33
Tabel 5 Progres Pembangunan Jalan Tol Tahun 2015
Jalan tol Cikopo-Palimanan dengan panjang 116,75 kilometer ini merupakan jalan tol terpanjang di Indonesia dan merupakan bagian dari sistem jalan tol Trans Jawa. Jalan Tol Cikopo-Palimanan melintasi 5 kabupaten di Jawa Barat yaitu Kabupaten Purwakarta, Subang, Indramayu, Majalengka dan Cirebon.
Presiden Joko Widodo meresmikan beroperasinya Jalan Tol Cikopo-Palimanan pada Sabtu, 13 Juni 2015.
Jalan Tol Cikopo-Palimanan merupakan proyek pembangunan jalan tol dengan pembiayaan terbesar hingga saat ini dengan total investasi mencapai Rp. 12,5 Trilliun. Investasi ini melibatkan konsorsium perbankan beranggotakan 22 bank. Pekerjaan konstruksi untuk ruas jalan tol ini telah dimulai sejak 1 Februari 2013. Konstruksi ini dibagi dalam enam seksi dengan total panjang mencapai 116
TOL (KM) TANAH KONSTRUKSI
1. Gempol-Pandaan 12,05 99,81 100 12 Juni 2015 2 Porong-Gempol (Kejapanan-Gempol) 3,55 100 100 6 Mei 2015 3 Cikopo-Palimanan 116,75 100 100 13 Juni 2015 TOTAL 132,35
BPJT
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 34
kilometer dan dibangun secara bersamaan. Pekerjaan tersebut dapat diselesaikan lebih cepat sehingga Jalan Tol Cikopo-Palimanan dapat dioperasikan lebih awal dari rencana semula yaitu Agustus 2015.
Pengoperasian Jalan Tol Cikopo-Palimanan sangat penting dalam mendukung pembangunan ekonomi lokal dan nasional, karena dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam dunia usaha. Dengan infrastruktur yang memadai, biaya produksi, transportasi, komunikasi, dan logistik semakin efisien. Pengoperasian jalan tol ini juga akan mengurangi arus kepadatan lalu lintas melalui jalur Pantura antara 40%-60%.
Pada hari Jumat, 12 Juni 2015, Panjang jalan tol di Indonesia telah bertambah dengan dioperasikannya Jalan Tol Gempol – Pandaan sepanjang 12,05 km oleh Presiden RI. Secara keseluruhan, Jalan Tol Gempol – Pandaan mempunyai panjang 13,61 km dengan total biaya investasi sebesar Rp. 1,472 trilyun. Tahap II dari jalan tol ini akan dioperasikan bersamaan dengan pengoperasian Jalan Tol Pandaan – Malang, yang saat ini masih dalam tahap pengadaan tanah.
Gambar Peresmian Jalan Tol Gempol-Pandaan
Selain terhubung dengan Jalan Tol Pandaan – Malang, Jalan Tol Gempol – Pandaan juga terkoneksi dengan Jalan Tol Gempol – Pasuruan untuk ke arah timur dan Jalan Tol Porong – Gempol untuk ke arah utara. Jalan Tol Porong – Gempol
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 35
Dengan dioperasikannya jalan tol ini, maka waktu tempuh dari Surabaya menuju Malang/Pasuruan atau sebaliknya dapat lebih cepat karena sebagian simpul kemacetan yang ada di jalan eksisting Surabaya-Malang telah terurai.
Kemudian, pada tanggal 6 Mei 2015, juga diresmikan operasional Jalan Tol Porong-Gempol. Jalan Tol Porong-Gempol adalah ruas jalan tol sepanjang 10 kilometer yang menghubungkan daerah Porong, Sidoarjo dengan Gempol, Pasuruan. Jalan tol ini merupakan bagian dari jalan tol yang menghubungkan antar kota utama di Jawa Timur yaitu Surabaya-Pasuruan-Malang. Tol Porong-Gempol ini merupakan relokasi dari tol Surabaya-Porong-Gempol ruas Porong-Porong-Gempol yang ditutup sejak akhir tahun 2006 akibat peristiwa luapan Lumpur Lapindo. Pembangunan tol relokasi proyek Porong-Gempol dibagi menjadi dua seksi yang terdiri dari Seksi Kejapanan-Gempol (3,55 km) dan Seksi Porong-Kejapanan (6,45 km). Untuk seksi Porong-Kejapanan saat ini belum dibangun karena kapasitas Jalan Arteri Baru Porong masih dapat menampung beban lalu lintas kendaraan dari dan menuju Surabaya.
Diharapkan, dengan dioperasikannya Seksi Kejapanan-Gempol ini akan mempersingkat waktu tempuh masyarakat yang sebelumnya harus menempuh waktu 30 menit bila melewati jalan arteri, menjadi 10 menit dengan melewati jalan tol ini.
Gambar 8 Ruas Jalan Tol Cikopo-Palimanan
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 36
Gambar 9 Ruas Jalan Tol Porong-Gempol
Gambar 10 Ruas Jalan Tol Gempol-Pandaan
Laporan Kinerja Instasi Pemerintah | 37