• Tidak ada hasil yang ditemukan

No. Faktor Eksternal dan Internal BF% ND NBD NRK NBK TNB

I FAKTOR INTERNAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Kekuatan

1. Hasil analisis finansial semua menunjukkan nilai positif. 12,50 4 0,50 x 3 4 3 4 4 4 2 1 0 0 2 1 0 0 1 1 3 5 2,11 26,39 28,50 2. Sarana dan prasarana mendukung 12,50 5 0,63 3 x 0 3 4 4 3 1 0 4 5 0 3 0 5 0 2 1 1 2,17 27,08 29,25 3.

4. Iklim dan sumber daya alam 6,25 3 0,19 3 3 0 x 2 2 2 0 0 0 2 0 0 0 0 1 0 0 1 0,89 5,56 6,44

Jumlah 71,85

Kelemahan

5. Produktifitas rendah 18,75 4 0,75 4 4 0 2 x 5 5 4 0 1 2 2 0 5 2 2 4 3 3 2,67 50,00 52,67 6. Biaya produksi tinggi 12,50 3 0,38 4 4 0 2 5 x 5 4 1 0 2 4 1 0 3 3 0 5 5 2,67 33,33 36,00 7. Pendapatan kecil 12,50 3 0,38 4 3 1 2 5 5 x 3 4 0 1 1 2 0 0 2 4 4 4 2,50 31,25 33,75 8. Investasi bersifat fluktuatif 12,50 2 0,25 2 1 4 0 4 4 3 x 4 0 0 2 3 3 1 2 4 5 5 2,61 32,64 35,25

Jumlah 169,35

II. FAKTOR EKSTERNAL Peluang

10. Jaringan pasar P4S luas. 16,67 4 0,67 0 4 0 0 1 0 0 0 1 x 1 1 4 1 5 2 2 2 2 1,44 24,07 25,52 11. Pengembangan teknologi, kerjasama dengan instansi terkait. 11,11 5 0,56 0 5 0 2 2 2 1 0 1 1 x 1 5 0 4 0 2 4 2 1,78 19,75 21,53 12. Harga jual lebih tinggi. 11,11 3 0,33 2 0 0 0 2 4 1 2 0 1 1 x 0 0 0 2 0 3 4 1,22 13,58 14,80 13. Program pemerintah yang kondusif. 11,11 4 0,44 1 3 1 0 0 1 2 3 3 4 5 0 x 0 5 0 5 5 5 2,39 26,54 28,93 14. Kebutuhan pasar belum terpenuhi. 11,11 3 0,33 0 0 0 0 5 0 0 3 0 1 0 0 0 x 0 2 1 2 0 0,78 8,64 9,42 15. P4S merupakan wadah untuk pengembangan pemberdayaan

masyarakat 5,56 4 0,22 0 5 0 0 2 3 0 1 5 5 4 0 5 0 x 0 1 1 0 1,78 9,88 11,65

Jumlah 111,86

Ancaman

16. Saingan produk lain yang sejenis. 11,11 2 0,22 1 0 0 1 2 3 2 2 0 2 0 2 0 2 0 x 0 0 0 0,94 10,49 11,44 17. Semakin banyak lembaga yang sejenis. 11,11 3 0,33 1 2 1 0 4 0 4 4 3 2 2 0 5 1 1 0 x 1 1 1,78 19,75 21,53 18. Perubahan arah kebijakan pemerintah dalam hal moneter. 5,56 2 0,11 3 1 2 0 3 5 4 5 0 2 4 3 5 2 1 0 1 x 5 2,56 14,20 16,75 19. Iklim ekonomi makro. 5,56 3 0,17 5 1 1 1 3 5 4 5 1 2 2 4 5 0 0 0 1 5 x 2,50 13,89 16,39

Jumlah 66,11 1,06 6,60 7,65 Nilai Keterkaitan 0 1 2 1 0 1 0 0 4 5 0 0 x 0 5 0 0 0 5 0 3 10,07 11,68 1 0 1 1,61 1 1 0 3 4 4 0 0

Ada kecenderungan investasi tidak dapat digulirkan ke anggota yang lain

9.

6,25 1 0,06 1 1 4 0 x 0 Tidak ada tuntutan dari pihak principal untuk mengembalikan

Lanjutan Lampiran 8

b. Aspek Kelembagaan untuk Komunitas P4S.

No. Faktor Eksternal dan Internal BF% ND NBD NRK NBK TNB

I FAKTOR INTERNAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kekuatan

1 Mempunyai akses ke petani secara umum 11,54 4 0,46 x 4 5 2 0 1 0 0 2 2 3 3 5 5 2 4 3 3 3 3 2,63 30,37 30,83 2 Mempunyai dukungan dari pemerintah 7,69 4 0,31 4 x 5 4 5 3 2 0 0 1 4 5 4 4 5 5 5 5 5 5 3,74 28,74 29,04 3 Mempunyai akses ke pemerintah 7,69 4 0,31 5 5 x 2 5 5 0 0 0 4 4 5 5 4 5 5 5 5 5 5 3,89 29,95 30,26 4 Keahlian mengajar 7,69 4 0,31 2 4 2 x 0 0 0 3 0 0 5 4 5 4 1 4 1 2 0 0 1,95 14,98 15,28 5 Penelitian teknologi 7,69 3 0,23 0 5 5 0 x 0 0 1 0 0 4 2 2 2 2 3 0 3 0 0 1,53 11,74 11,97

Jumlah 117,38

Kelemahan

6 Terbatasnya hubungan kemitraan pemodalan 11,54 3 0,35 1 3 5 0 0 x 2 3 0 1 2 4 3 3 3 3 3 3 4 2 2,37 27,33 27,68 7 Kecenderungan moral hazard 11,54 3 0,35 0 2 0 0 0 2 x 0 3 4 0 0 1 0 0 0 1 1 1 4 1,00 11,54 11,89 8 Tidak fokus pada usaha jamur 11,54 4 0,46 0 0 0 3 1 3 0 x 0 0 4 4 3 3 2 3 1 0 4 2 1,74 20,04 20,50 9 Kurang koordinasi anggota 7,69 4 0,31 2 0 0 0 0 0 3 0 x 1 0 0 3 3 0 0 0 0 0 2 0,74 5,67 5,97 10 Asimetris informasi karena kemitraan bertingkat 7,69 4 0,31 2 1 4 0 0 1 4 0 1 x 0 1 3 3 0 0 0 3 4 4 1,63 12,55 12,85 11 Orientasi pembelajaran 7,69 5 0,38 3 4 4 5 4 2 0 4 0 0 x 5 5 5 1 4 0 1 2 0 2,58 19,83 20,22

Jumlah 99,11

II FAKTOR EKSTERNAL Peluang

12 Kerjasama program pertanian pedesaan dengan instansi

pemerintah 15,36 4 0,61 3 5 5 4 2 4 0 4 0 1 5 x 3 1 5 5 0 5 5 3 3,16 48,51 49,12 13 Program pembinaan kelompok tani 15,38 4 0,62 5 4 5 5 2 3 1 3 3 3 5 3 x 5 2 4 0 1 3 3 3,16 48,57 49,18 14 Kemitraan kelompok tani 15,38 4 0,62 5 4 4 4 2 3 0 3 3 3 5 1 5 x 2 4 0 1 2 2 2,79 42,90 43,52 15 Promosi melalui media pemerintah 7,69 4 0,31 2 5 5 1 2 3 0 2 0 0 1 5 2 2 x 3 0 4 5 1 2,26 17,40 17,71 16 Kebijakan yang mendukung lembaga P4S 7,69 4 0,31 4 5 5 4 3 3 0 3 0 0 4 5 4 4 3 x 4 4 4 4 3,32 25,50 25,81

Jumlah 185,34

Ancaman

17 Kebijakan pemerintah yang tidak mendukung P4S 15,38 2 0,31 3 5 5 1 0 3 1 1 0 0 0 0 0 0 0 4 x 1 3 3 1,58 24,28 24,59 18 Kecenderungan intervensi pemerintah 7,69 2 0,15 3 5 5 2 3 3 1 0 0 3 1 5 1 1 4 4 1 x 2 4 2,53 19,43 19,58 19 Perubahan program pemerintah 7,69 4 0,31 3 5 5 0 0 4 1 4 0 4 2 5 3 2 5 4 3 2 x 3 2,89 22,26 22,57 20 Asimetris informasi karena perbedaan kepentingan 7,69 4 0,31 3 5 5 0 0 2 4 2 2 4 0 3 3 2 1 4 3 4 3 x 2,63 20,24 20,54

Jumlah 87,29

Lanjutan Lampiran 8

c. Aspek Finansial untuk Komunitas Kertawangi.

No. Faktor Eksternal dan Internal BF% ND NBD NRK NBK TNB

I FAKTOR INTERNAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Kekuatan

1 Orientasi bisnis 15 5 0,75 x 5 4 5 3 5 5 5 2 2 4 4 5 4 4 4 4 4 5 4,11 61,67 62,42

2 Produktifitas tinggi 10 5 0,50 5 x 5 5 5 4 1 0 2 4 4 5 4 1 2 1 3 4 4 3,18 31,76 32,26

3 Pendapatan tinggi 10 5 0,50 4 5 x 5 5 0 1 3 0 1 1 2 4 1 2 3 3 2 3 2,41 24,12 24,62

4 Hasil analisis positif 10 5 0,50 5 5 5 x 5 0 4 1 1 1 4 5 5 4 4 4 1 1 3 3,12 31,18 31,68

5 Biaya produksi rendah 5 5 0,25 3 5 5 5 x 0 0 0 0 3 0 3 5 1 4 2 1 2 4 2,35 11,76 12,01

Jumlah 162,99

Kelemahan

6 Resiko besar 15 5 0,75 5 4 0 0 0 x 5 5 0 1 1 3 1 0 1 3 3 3 4 2,00 30,00 30,75

7 Adanya pengembalian modal 10 5 0,50 5 1 1 4 0 5 x 4 0 0 0 1 4 0 1 0 0 1 1 1,35 13,53 14,03

8 Modal besar 10 5 0,50 5 0 3 1 0 5 4 x 0 1 0 2 2 0 2 0 0 0 3 1,35 13,53 14,03 9 Akses ke pemerintah 10 3 0,30 2 2 0 1 0 0 0 0 x 2 2 0 2 4 4 1 0 4 4 1,53 15,29 15,59 10 Teknologi tradisional 5 2 0,10 2 4 1 1 3 1 0 1 2 x 0 2 1 0 0 2 0 1 3 1,29 6,47 6,57 Jumlah 80,97 II FAKTOR EKSTERNAL Peluang

11 Permintaan lokal meningkat 17,7 5 0,88 4 4 1 4 0 1 0 0 2 0 x 1 5 4 2 4 1 0 1 1,76 31,15 32,03

12 Komunitas mendukung 17,7 5 0,88 4 5 2 5 3 3 1 2 0 2 1 x 5 4 0 4 2 0 1 2,35 41,53 42,41

13 Investor semakin tertarik 11,8 5 0,59 5 4 4 5 5 1 4 2 2 1 5 5 x 3 3 4 1 1 3 3,12 36,66 37,25

14 Pasar eksport 11,8 3 0,35 4 1 1 4 1 0 0 0 4 0 4 4 3 x 4 4 2 3 4 2,29 26,98 27,33

15 Kebijakan pemerintah dalam hal moneter 5,88 3 0,18 4 2 2 4 4 1 1 2 4 0 2 0 3 4 x 2 2 5 5 2,53 14,87 15,05

Jumlah 154,07

Ancaman

16 Semakin banyak petani yang bergerak di bidang ini 11,8 3 0,35 4 1 3 4 2 3 0 0 1 2 4 4 4 4 2 x 4 2 4 2,59 30,44 30,79

17 Saingan produk lain yang sejenis 11,8 3 0,35 4 3 3 1 1 3 0 0 0 0 1 2 1 2 2 4 x 0 2 1,47 17,29 17,65

18 Perubahan arah kebijakan pemerintah dalam moneter 5,88 2 0,12 4 4 2 1 2 3 1 0 4 1 0 0 1 3 5 2 0 x 5 2,00 11,76 11,88

19 Iklim ekonomi makro 5,88 3 0,18 5 4 3 3 4 4 1 3 4 3 1 1 3 4 5 4 2 5 x 3,18 18,68 18,85

Jumlah 79,17

Lanjutan Lampiran 8

d. Aspek Kelembagaan untuk Komunitas Kertawangi.

No. Faktor Eksternal dan Internal BF% ND NBD NRK NBK TNB

I FAKTOR INTERNAL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Kekuatan

1 Bekerja sama dalam satu komunitas 18,8 5 0,94 x 5 5 3 4 2 3 0 1 4 5 5 2 2 3 3 0 2,94 55,08 56,02

2 Integralitas orientasi 18,8 5 0,94 5 x 4 3 3 4 3 2 4 3 5 5 2 2 3 4 4 3,50 65,63 66,56

3 Manajemen produksi profesional 12,5 4 0,50 5 4 x 4 3 5 4 1 3 2 4 1 0 3 3 4 0 2,88 35,94 36,44

4 Tidak terjadi asimetris informasi investasi 6,25 3 0,19 3 3 4 x 3 5 0 1 0 4 4 0 0 4 0 2 0 2,06 12,89 13,08

5 Tidak terjadi monopoli perdagangan 6,25 3 0,19 4 3 3 3 x 0 4 0 0 4 5 4 3 0 4 4 0 2,56 16,02 16,20

Jumlah 188,30

Kelemahan

6 Moral hazard, petani tidak dapat bekerja dengan baik 12,5 2 0,25 2 4 5 5 0 x 0 0 3 1 4 4 2 0 0 0 0 1,88 23,44 23,69 7 Lemah dalam bargaining position dengan tengkulak 12,5 2 0,25 3 3 4 0 4 0 x 0 0 3 5 3 3 0 5 5 1 2,44 30,47 30,72

8 Akses pemerintah 6,25 3 0,19 0 2 1 1 0 0 0 x 5 5 2 1 5 0 0 3 3 1,75 10,94 11,13

9 Penelitian teknologi 6,25 4 0,25 1 4 3 0 0 3 0 5 x 5 1 3 4 0 0 0 0 1,81 11,33 11,58

Jumlah 77,11

II FAKTOR EKSTERNAL Peluang

10 Kerjasama dengan pihak lain yang terkait 18,2 3 0,55 4 3 2 4 4 1 3 5 5 x 3 4 5 2 3 1 1 3,13 56,81 57,36

11 Tata niaga dapat berkembang menjadi fairness economic 9,09 4 0,36 5 5 4 4 5 4 5 2 1 3 x 5 3 5 5 5 1 3,88 35,22 35,59 12 Sosial, ekonomi dan budaya masyarakat mendukung 9,09 5 0,45 5 5 1 0 4 4 3 1 3 4 5 x 3 0 1 1 1 2,56 23,29 23,75

13 Program pemerintah yang mendukung petani 9,09 3 0,27 2 2 0 0 3 2 3 5 4 5 3 3 x 0 0 3 3 2,38 21,59 21,86

Jumlah 138,55

Ancaman

14 Moral hazard dalam sharing profit 18,2 3 0,55 2 2 3 4 0 0 0 0 0 2 5 0 0 x 0 0 0 1,13 20,45 21,00

15 Terjadi moral hazard pedagang tengkulak 18,2 4 0,73 3 3 3 0 4 0 5 0 0 3 5 1 0 0 x 4 0 1,94 35,22 35,95

16 Terjadi asimetris informasi kondisi pasar 9,09 4 0,36 3 4 4 2 4 0 5 3 0 1 5 1 3 0 4 x 1 2,50 22,73 23,09 17 Kebijakan pemerintah yang tidak mendukung petani jamur 9,09 1 0,09 0 4 0 0 0 0 1 3 0 1 1 1 3 0 0 1 x 0,94 8,522 8,61

Jumlah 88,65

INDUSTRI PENGGERGAJIAN

KUSTIN BINTANI MEIGANATI

ILMU PENGETAHUAN KEHUTANAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

ABSTRAK

KUSTIN BINTANI MEIGANATI. Analisis Finansial dan Kelembagaan Usaha Jamur Tiram Putih Untuk Pemanfaatan Limbah Industri Penggergajian. Dibimbing oleh ACHMAD, BRAMASTO NUGROHO dan NURHENI WIJAYANTO.

Budidaya jamur tiram putih merupakan salah satu pemanfaatan limbah industri penggergajian kayu yang dampaknya dapat dirasakan oleh rakyat. Usaha ini dapat memperbaiki tingkat ekonomi rakyat karena berbasis ekonomi rakyat dengan modal kecil dan dapat dikerjakan dengan melibatkan keluarga dan tetangga terdekat. Dalam penelitian ini dianalisis usaha budidaya jamur tiram putih dari aspek finansial dan kelembagaan dengan pendekatan kemitraan pemodalan dan kemitraan pemasaran.

Penelitian dilakukan di Kelompok Wanita Tani (KWT) Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Nusa Indah Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. P4S tersebut merupakan salah satu P4S unggulan yang masih aktif memproduksi jamur tiram putih. Sebagai pembanding yang dapat dijadikan sebagai

cerita sukses (success story) adalah komunitas petani jamur tiram putih Desa

Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung.

Hasil analisis finansial dari dua komunitas ini menunjukkan hasil yang

positif, yaitu Internal Rate Return (IRR) > r, Benefit Cost Ratio (BCR) > 1 dan hasil

analisis sensitivitas juga menunjukkan hasil yang positif. Hasil analisis SWOT untuk

aspek finansial dua komunitas ini menunjukkan kuadran yang berbeda, pada komunitas P4S berada pada kuadran III sedangkan komunitas Kertawangi pada

kuadran I. Kuadran III menunjukkan strategi turn around, yaitu perusahaan

menghadapi peluang yang besar tetapi di lain pihak ia menghadapi

kendala/kelemahan. Kuadran I berarti strategi yang dapat digunakan adalah agresif,

yaitu perusahaan memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada. Analisis SWOT aspek kelembagaan menunjukkan hasil yang sama, yaitu pada kuadran I, yang berarti perusahaan memiliki kekuatan dan peluang. Hasil SWOT diatas menunjukkan bahwa komunitas P4S memiliki peluang dan kekuatan di aspek kelembagaan tetapi di aspek finansial memiliki peluang dan kelemahan. Oleh karena itu, strategi yang disusun haruslah mampu menggunakan peluang dan kekuatan kelembagaan untuk menutupi kelemahan finansial dan mampu memenuhi peluangnya. Strategi tersebut diantaranya adalah membentuk forum komunikasi untuk melancarkan kerjasama antar anggota dan tercipta suatu kinerja komunitas yang diharapkan akan mampu meningkatkan produktifitas sebagai kelemahan yang paling tinggi agar mampu menjawab peluang pasar.

Strategi di atas menggambarkan bahwa aspek kelembagaan dapat mempengaruhi aspek finansial. Mekanisme kelembagaan dalam sebuah perusahaan

dapat menentukan performance finansial yang ada di dalam perusahaan tersebut.

Kelembagaan yang kokoh dan semua kebutuhan anggota lembaga tersebut dapat dikomunikasikan dengan lancar dan terkoordinasi akan menjadi kelembagaan yang kondusif untuk dapat memperoleh kondisi finansial yang menguntungkan. Kerja sama antar anggota dalam satu komunitas dapat meningkatkan kapasitas investasi,

sehingga dapat meningkatkan produktifitas dan income anggotanya. Sedangkan, usaha pertanian yang dibina secara individu tanpa membangun komunikasi antar anggota masyarakat akan menjadi penghambat mekanisme pemecahan masalah yang efektif di tingkat anggota.

ABSTRACT

KUSTIN BINTANI MEIGANATI. The Financial and Institution Analysis of Oyster Mushroom Cultivation, for Utilizing Sawmill Industry Sawdust. Under the direction of ACHMAD, BRAMASTO NUGROHO, and NURHENI WIJAYANTO.

Oyster mushroom cultivation is an alternative for utilizing sawmill industry sawdust. While able to improve people economic by small investment, family and community financial empowering. This research carried out from June 2005 to May 2006 using financial and institution analysis.

The object of the research was Kelompok Wanita Tani (KWT) Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Nusa Indah, District Tamansari, Bogor, one of superior institutions on oyster mushroom cultivation. For bench marking purposes, the study also analyzing financial and institution performance of oyster mushroom cultivation in Kertawangi community, District Lembang, Bandung, who has success story in the cultivation.

The study shows that both P4S and Kertawangi community have a good financial performance, in which resulting Internal Rate of Return (IRR) > bank interest rate (r) and Benefit and Cost Ratio (BCR) > 1. SWOT (Strength, Weakness, Opportunity and Threats) analysis for P4S community on financial aspect resulting turn around strategy, mean while for institution aspect resulting growth oriented strategy. On other had for Kertawangi community the strategy for financial and institution aspect are growth oriented strategy. Effective strategy for P4S community is building communication forum to accelerating relationship among the members for increasing production capacity and fullfiling demand market. The study also concludes that institution arrangement financial performance.

Keywords

ANALISIS FINANSIAL DAN KELEMBAGAAN USAHA

JAMUR TIRAM PUTIH UNTUK PEMANFAATAN LIMBAH

INDUSTRI PENGGERGAJIAN

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan

KUSTIN BINTANI MEIGANATI

ILMU PENGETAHUAN KEHUTANAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Judul Tesis : Analisis Finansial dan Kelembagaan Usaha Jamur Tiram Putih

Untuk Pemanfaatan Limbah Industri Penggergajian.

Nama : Kustin Bintani Meiganati

NRP : E 051030271

Program Studi : IPK

Menyetujui, 1. Komisi Pembimbing

Dr. Achmad , M.S Ketua

Dr. Bramasto Nugroho, M.S Dr. Nurheni Wijayanto, M.S

Anggota Anggota

Mengetahui,

2. Ketua Program Studi IPK 3. Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, M.Sc.F Prof.Dr. Ir. Khairil A Notodiputro, M.S

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Madiun pada tanggal 11 Mei 1973 dari ayah Kustomo (alm) dan ibu Sutinah. Penulis merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Penulis telah menikah dengan seorang pria kelahiran Bengkulu bernama Ifan Fardian dan dikaruniai 4 orang anak, yaitu Atikah Sayyidatunnisa (8 th), Hafshoh Nadilatushofwah (7 th), ‘Aisyah Nidaulhaq (6 th) dan Abdullah Azzam (4 th).

Pendidikan sarjana ditempuh di Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti, Bandung, lulus tahun 1996. Pada tahun 2003 penulis diterima di Program Magister Sains Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan Sekolah Pascasarjana IPB, dengan beasiswa dari Yayasan Winaya Mukti.

Penulis bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti dari tahun 1996 sampai sekarang. Penulis juga bekerja di LSM yang bergerak di bidang pelatihan budidaya jamur tiram putih, dari tahun 1999 sampai sekarang. Selama mengikuti kuliah Magister penulis melakukan pelatihan di beberapa wilayah di Indonesia, diantaranya di Bogor, Karawang dan Jambi.

PRAKATA

Alhamdulillahi robbil ‘alamin, segala puji hanya bagi Allah, sujud syukur hanya pantas bagi-Nya, penguasa alam semesta. Karena kasih sayang-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis ini, setelah tiga tahun menuntut ilmu dan satu setengah tahun mengerjakan penelitian ini.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ketiga pembimbing, yaitu bapak Dr. ACHMAD M.S, selaku ketua komisi pembimbing dan bapak Dr. BRAMASTO NUGROHO, M.S, serta bapak Dr. NURHENI WIJAYANTO, M.S, selaku anggota komisi pembimbing. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Cucu Komalasari, dik Nurhadi, bapak Ir. Rahayu Supriyadi, M.Sc , bapak Dedhi Suharto, Ak, Ir. Elis Nina H, M.Sc, bapak Heru Subagyo, SE, MM, Ira Taskirawati, S.Hut, M.S., serta bapak Dr. Hariadi Kartodiharjo, M.S dan bapak Dr. Imam Santoso, M.S yang telah membantu secara moril maupun materiil. Terima kasih tidak lupa penulis sampaikan kepada sponsor yang membiayai kuliah penulis yaitu Yayasan Winaya Mukti dan WAMY.

Tesis yang berjudul “Analisis Finansial dan Kelembagaan Usaha Jamur Tiram Putih Untuk Pemanfaatan Limbah Industri Penggergajian” bukanlah akhir dari pembelajaran, karena dengan tesis ini justru merupakan pintu terbukanya satu ilmu pengetahuan yang baru bagi penulis. Masih banyak kekurangan dari tesis ini yang harus disempurnakan, oleh karena itu penulis membuka tangan terhadap kritik dan saran yang bersifat konstruktif.

Satu harapan penulis, tesis yang disusun ini semoga ada manfaatnya bagi ilmu pengetahuan dan tentunya bagi pihak lain yang membutuhkannya. Terima kasih. Wassalam.

Bogor, Februari 2007 Kustin Bintani Meiganati

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL .……… vi DAFTAR GAMBAR ………... vii DAFTAR LAMPIRAN ……….. viii PENDAHULUAN Latar Belakang ……… 12 Perumusan Masalah ………. 16 Hipotesis ……….. 18 Tujuan Penelitian ………. 18 TINJAUAN PUSTAKA

Jamur Tiram Putih ………. 19 Analisis Finansial ……….. 21 Analisis Kelembagaan ……… 21

Program Pembangunan Masyarakat (Community Development) …….. 25

Analisis SWOT ……….. 28

METODE PENELITIAN

Waktu dan Lokasi ………. 34 Pengumpulan Data ……… 37 Metode Penelitian ………. 39 Uji Hipotesis ……… 43

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum Lokasi ………. 45 Analisis Finansial ……….. 49 Analisis Kelembagaan ……….. 59 Analisis SWOT ………. 65

SIMPULAN DAN SARAN ………. 76 DAFTAR PUSTAKA ………. 78 LAMPIRAN ……… 81

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Kelompok Data Bentuk Kemitraan Usaha Tani Jamur Tiram Putih 38

2. Contoh Matriks Urgensi Faktor Internal dan Eksternal ……….. 42

3. Komposisi Penduduk Menurut Usia Th 2005 ……….. 46

4. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan ………. 47

5. Unit Usaha di P4S Nusa Indah Tamansari, Bogor, Tahun 2002 ……. 48

6. Biaya Produksi Jamur Tiram Putih ……….…….. 49

7. Penerimaan Pendapatan Petani Jamur Tiram Putih Per Tahun (Juni 2005 –

Mei 2006) ……… 53

8. Analisis Finansial Usaha Jamur Tiram Putih ……… 56

9. Kelebihan dan Kekurangan Kelembagaan Kemitraan ………. 63

10. Faktor Internal dan Eksternal Aspek Finansial ……… 67

11. Faktor Internal dan Eksternal Aspek Kelembagaan ……… 67

12. Matriks Urgensi Faktor Internal dan Eksternal Untuk Aspek Finansial di

Komunitas P4S ……… 66

13. Matriks Urgensi Faktor Internal dan Eksternal Untuk Aspek Kelembagaan

di Komunitas P4S ………. 68

14. Matriks Urgensi Faktor Internal dan Eksternal Untuk Aspek Finansial di

Komunitas Kertawangi ……… 69

15. Matriks Urgensi Faktor Internal dan Eksternal Untuk Aspek Kelembagaan

di Komunitas Kertawangi ……….……. 70

16. Daftar Total Nilai Bobot (TNB) Aspek Finansial ……… 71

17. Daftar Total Nilai Bobot (TNB) Aspek Kelembagaan .……… 72

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Kandungan Selulosa Dalam Dinding Sel ……… 20

2. Peta Kekuatan Organisasi ……… 32

3. Beberapa Fasilitas Produksi Jamur Tiram Putih di Komunitas P4S Nusa Indah,

Tamansari ………. 36

4. Fasilitas Produksi Jamur Tiram Putih di Komunitas Kertawangi, Cisarua…. 37

5. Hubungan Kemitraan Tingkat Pertama ………... 39

6. Hubungan Kemitraan Tingkat Kedua .. ……….. 39

7. Diagram lingkaran Komposisi Wilayah Kecamatan Tamansari Tahun 2005.. 45

8. Grafik Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia ………... 46

9. Susunan Pengurus Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Nusa

Indah Kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor ……….. 48

10. Siklus Panen Jamur Segar Tiram Putih ………... 52

11. Diagram Alur Pemasaran Dengan Melalui Pedagang Perantara ………. 64

12. Alur Pemasaran Dengan Terminal Agribisnis ……… 64

13. Peta Kekuatan Organisasi Aspek Finansial ………. 72

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Asumsi Dalam Analisis Finansial ……… 81

2. Rincian Biaya Tahunan ……… 82

3. Analisis Pendapatan ……… 84

4. Analisis Finansial ……… 85

5. Analisis Sensitivitas Kenaikan Biaya Produksi 20% ……….. 89

6. Analisis Sensitivitas Penurunan Pendapatan 10% ….……….. 93

7. Matriks Urgensi ……… 97

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Bidang pertanian di Indonesia merupakan bidang yang memiliki sisi yang

luas. Disamping merupakan fondasi ekonomi negara bidang ini juga merupakan suatu

sisi sosial yang berdimensi kompleks. Untuk itu pembangunan di bidang pertanian

tidak mungkin ditinggalkan oleh bangsa ini walaupun sudah semodern dan secanggih

apapun teknologi yang dikuasai oleh bangsa ini. Bangsa Indonesia seharusnya belajar

dari krisis ekonomi yang mendera selama lima tahun terakhir ini. Ada dua hal yang

menjadi catatan bagi kita menurut Krisnamurthi (2002), yaitu : 1) pembangunan

ekonomi yang tidak berbasis pada kekuatan sendiri, tetapi berbasis pada hutang dan

impor, ternyata sangat rentan terhadap perubahan faktor eksternal dan dapat

membawa masyarakat, bangsa dan negara ke dalam krisis yang berkepanjangan,

2) pendekatan pembangunan yang serba sentralistik, serba seragam dan hanya

berpusat pada pemerintah ternyata tidak menghasilkan struktur sosial ekonomi

bangsa yang memiliki fondasi kokoh, bahkan cenderung menghasilkan kondisi

perekonomian dengan kinerja yang seolah-olah kuat tetapi sebenarnya sangat rapuh.

Menurut Krisnamurthi (2002) ada beberapa alternatif strategi dalam

pembangunan di Indonesia, yaitu: a) strategi pembangunan berbasis sektor ekonomi,

b) strategi pembangunan ekonomi wilayah, c) strategi pembangunan pengembangan

masyarakat secara partisipatif, d) strategi pembangunan ekonomi lokal.

Kita ambil contoh sektor pertanian, karena negara kita adalah negara agraris,

negara kita. Menurut Krisnamurthi (2002) dalam pembangunan pertanian ada

beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah :

1. Pembangunan pertanian di daerah perlu memperhatikan sumber daya lokal (local

resources), sehingga tidak akan menelantarkan sumber daya yang ada di daerah.

2. Pembangunan pertanian juga harus memperhatikan kondisi khusus daerahnya

(local specific), agar dapat didukung oleh kondisi lingkungan sekitarnya.

3. Pembangunan pertanian membutuhkan perencanaan dan kreatifitas agar dapat

berkembang dengan baik. Kegiatan yang akan dilaksanakan dapat merupakan

kegiatan produksi atau semi produksi, artinya perlu adanya suatu integralitas di

dalam mengembangkannya. Bisa dilakukan sendiri atau dilakukan secara bersama

dengan anggota masyarakat yang lain.

4. Untuk itu pembangunan pertanian dapat juga berupa jaringan kerja (network job)

sehingga kesejahteraan bisa dirasakan oleh anggota masyarakat lebih banyak lagi.

Menurut Hayami (1987) dalam Soeharjo (1989) ada tiga corak agroindustri di

pedesaan yaitu: 1) industri rumah tangga (home processing) yang dilakukan oleh

anggota rumah tangga petani penghasil bahan baku, 2) industri di pekarangan rumah

dengan bahan baku berasal dari pasar dan menggunakan tenaga kerja dari keluarga

terdekat dan 3) industri dengan skala kecil, sedang atau besar yang menggunakan

buruh upahan dan modal yang lebih intensif dibanding industri rumah tangga.

Skala usaha ketiga macam industri pengolahan ini dapat diukur dari volume

bahan baku yang diolah per hari. Manajemen dan teknologi yang digunakan

merentang dari yang tradisional hingga moderen. Demikian juga investasi pasarnya,

mulai dari pasar domestik sampai ke ekspor. Namun ketiganya mempunyai

pedesaan, b) tenaga kerja yang digunakan sebagian besar berasal dari pedesaan, c)

berlokasi di pedesaan untuk mendekati bahan baku sehingga mengurangi biaya

produksi (Hayami, 1987 dalam Soeharjo, 1989).

Perkembangan sekarang memperlihatkan kecenderungan bahwa produktifitas

di bidang pertanian belum berhasil karena kemampuan untuk menyerap tenaga kerja

di bidang ini semakin menurun dari tahun ke tahun. Penurunan tersebut dapat dilihat

pada tahun 2006 tenaga kerja di bidang pertanian sebesar 42,32 juta pada bulan

Februari 2006 menjadi 40,14 juta pada bulan Agustus 2006 (BPS, 2006).

Produktifitas pertanian juga lebih rendah dibandingkan dengan bidang non-pertanian,

hal ini ditunjukkan dengan penurunan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Pada tahun 2004 PDB nasional meningkat sebesar 3,54 % dibandingkan PDB tahun

2003, pertumbuhan PDB tersebut paling tinggi adalah sektor pertanian , sektor

perdagangan-hotel-restoran, sektor industri pengolahan, sektor keuangan, sektor-

sektor jasa dan sektor pengangkutan-komunikasi (BPS, 2006). Sedangkan, PDB

tahun 2005 pertumbuhannya sebesar 5,60 %, dimana pertumbuhan tertinggi pada

sektor pengangkutan-komunikasi sebesar 12,97% diikuti sektor perdagangan, hotel

dan restoran sebesar 8,59 % dan sektor bangunan 7,34% (BPS, 2006). Sedangkan,

sektor pertanian tidak termasuk sektor yang memberikan kontribusi dominan pada

PDB tahun tersebut dan tahun-tahun berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor

agraris belum mampu memberikan kontribusi pembangunan ekonomi di negara ini.

Upaya peningkatan produktifitas di bidang pertanian sangat diperlukan,

apalagi Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan tanahnya yang sangat

subur sehingga memungkinkan adanya peningkatan produktifitas tersebut. Salah satu

mengembangkan komoditas yang diminati masyarakat dunia, misalnya adalah

komoditas jamur.

Jamur akhir-akhir ini menjadi komoditas yang prospektif karena

pertumbuhan permintaan yang meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan catatan

dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan Indonesia permintaan jamur masih

sangat besar di dunia. Indonesia menjadi pengekspor jamur ke Amerika Serikat lebih

tinggi dibandingkan negara India dan negara Asia lainnya. PT. Dieng Djaya di

Wonosobo pernah mengirim jamur yang dikalengkan ke AS mencapai lebih dari 70

ton per hari. Ini menunjukkan bahwa komoditas jamur masih memiliki peluang yang

cukup besar di pasar dunia (Trubus, 1999). Catatan di lapangan pada penelitian awal

(bulan Maret-Mei 2005), produksi petani jamur di komunitas Kertawangi, Cisarua,

Bandung, per hari sebesar 300 kg dapat diserap di pasar Cisarua dan Lembang.

Sementara, permintaan dari Jakarta sebesar 500 kg perhari dan Cirebon sebesar 200

kg per hari belum dapat dipenuhi oleh mereka.

Di bidang kehutanan jamur menduduki posisi yang penting, yaitu sebagai

dekomposer. Pada teknologi pengolahan kayu, jamur mulai dimanfaatkan,

diantaranya sebagai perombak limbah gergajian baik serbuk maupun sebetan atau

serutan. Dalam teknologi pulping juga dikenal istilah biopulping, yaitu pemutihan

pulp kertas dengan jamur putih sehingga akan terjadi bleaching dengan adanya

degradasi lignin secara alami oleh jamur. Hasilnya tidak banyak selulosa yang rusak

karena jamur ini khusus mendegradasi lignin, dan kekuatan kertas yang dihasilkan

juga lebih baik. Oleh karena itu jamur yang ditanam pada serbuk limbah

bermanfaat untuk mengurangi dampak negatif dari limbah serbuk tersebut dan juga

dapat menjadi suatu bidang usaha bagi masyarakat.

Perumusan Masalah

Penelitian awal di lapangan menunjukkan bahwa usaha petani jamur akhir-

akhir ini mengalami banyak kemunduran, bahkan di daerah Cisarua, kelompok tani

Kaliwung Kalimuncar yang dibina oleh Bina Usaha Tani Dinas Pertanian, terhenti

karena naiknya biaya operasional. Di Desa Cihideung Ilir, Kecamatan Ciampea,

usaha jamur rakyat atas swadaya masyarakat terhenti karena kurangnya SDM yang

mampu bekerja pada budidaya jamur. Dan masih banyak lagi lainnya usaha tani

jamur yang terhenti karena faktor teknis maupun faktor finansial.

Usaha jamur tiram putih ini mempunyai peluang pasar yang masih terbuka

dan peluang pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam pembangunan ekonomi

negara, sehingga berhentinya usaha tani jamur menjadi kendala dalam pemberdayaan

masyarakat. Oleh karena itu perlu dipikirkan suatu strategi untuk membangkitkan

kembali usaha petani jamur yang mengalami kemunduran.

Penyebab berhentinya usaha tani jamur tiram putih perlu dilihat agar

solusinya dapat efisien. Metode yang dapat digunakan diantaranya dengan analisis

faktor internal dan eksternal yang mempengaruhinya,

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membangkitkan kembali usaha

tani jamur adalah dengan pembangunan komunitas (Community Development).

Dengan pembangunan komunitas ini, bukan saja masyarakat dibangun di sisi teknis

namun juga akan dibangun keragaan kelembagaan sehingga dapat memunculkan

community development ini merupakan program untuk memitrakan lembaga tertentu

dengan masyarakat di sekitarnya agar terjadi pemerataan kesempatan berusaha dan

kesempatan memperbaiki taraf hidup. Hal ini sangat relevan dengan kebijakan

pemerintah dalam surat Menteri BUMN No. S-366/M-MBU/2002 tanggal 6 Mei

2002 tentang program kemitraan dan bina lingkungan dan SK Menteri BUMN No.

Kep. 236/MBU/2003 tanggal 17 Juni 2003 tentang program kemitraan BUMN dan

Dokumen terkait