BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN ASUMSI DASAR
2.1.3 Evaluasi Implementasi Kebijakan
Dunn dalam Nugroho (2012:731) mengembangkan tiga pendekatan evaluasi implementasi kebijakan, yaitu evaluasi semu, evaluasi formal dan evaluasi keputusan teoritis. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.1 sebagai berikut :
Tabel 2.1
Pendekatan-pendekatan dalam evaluasi kebijakan versi Dunn
Pendekatan Tujuan Asumsi Bentuk-bentuk
utama Evaluasi Semu Menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi valid tentang hasil kebijakan. Ukuran manfaat atau nilai terbukti dengan sendirinya atau tidak kontroversial. Eksperimentasi sosial, Akuntansi sistem sosial, Pemeriksaan sosial, Sintesis riset dan praktik. Evaluasi Formal Menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil kebijakan secara formal diumumkan sebagai tujuan program kebijakan. Tujuan dan sasaran pengambil kebijakan dan administrator yang secara resmi diumumkan merupakan ukuran yang tepat dari manfaat atau nilai. Evaluasi perkembangan, Evaluasi eksperimental, Evaluasi proses retrospektif, Evaluasi hasil retrospektif. Evaluasi Keputusan Teoritis Menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil kebijakan yang secara eksplisit diinginkan oleh berbagai pelaku kebijakan. Tujuan dan sasaran dari berbagai pelaku yang diumumkan secara formal ataupun diam-diam merupakan ukuran yang tepat dari manfaat atau nilai.
Penilaian tentang dapat atau tidaknya dievaluasi, Analisis utilitas multiatribut.
Sumber : Nugroho, 2012:731
Berdasarkan pendekatan evaluasi implementasi kebijakan menurut Dunn pada tabel 2.1 dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga pendekatan evaluasi implementasi kebijakan , yaitu evaluasi semu, evaluasi formal, dan evaluasi keputusan teoritis.
Sedangkan Lester dan Steward dalam Nugroho (2012:733) mengelompokkan evaluasi implementasi kebijakan menjadi tiga yaitu :
“Evaluasi proses, yaitu evaluasi yang berkenaan dengan proses implementasi; evaluasi impak, yaitu evaluasi berkenaan dengan hasil dan/atau pengaruh dari implementasi kebijakan; evaluasi kebijakan, yaitu apakah benar hasil yang dicapai mencerminkan tujuan yang dikehendaki; dan evaluasi meta-evaluasi yang berkenaan dengan evaluasi berbagai implementasi kebijakan yang ada untuk menemukan kesamaan-kesamaan tertentu”.
Berdasarkan definisi evaluasi implementasi kebijakan menurut Lester dan Steward dalam Nugroho (2012:733) dapat dipahami bahwa evaluasi proses yaitu berkaitan dengan proses pelaksanaan kebijakan. Evaluasi impak berkaitan dengan pengaruh dari implementasi kebijakan. Evaluasi kebijakan berkaitan dengan hasil implementasi sesuai dengan tujuan. Evaluasi meta-evaluasi berkaitan dengan berbagai implementasi kebijakan untuk mencari kesamaan.
Adapun evaluasi implementasi kebijakan menurut Anderson dalam Nugroho (2012:734) membagi evaluasi implementasi kebijakan menjadi tiga, yaitu :
“Pertama, evaluasi kebijakan publik yang dipahami sebagai kegiatan fungsional yang selalu melekat pada setiap kebijakan publik. Kedua, evaluasi yang memfokuskan pada bekerjanya kebijakan. Ketiga, evaluasi sistematis untuk mengukur kebijakan atau mengukur kebijakan atau mengukur pencapaian dibanding target yang ditetapkan”.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi implementasi kebijakan merupakan kegiatan yang selalu melekat pada kebijakan publik untuk mengukur pencapaian dengan target yang telah ditentukan.
Sedangkan menurut Effendi dalam Nugroho (2012:741), tujuan evaluasi implementasi kebijakan publik adalah untuk mengetahui variasi dalam indikator-indikator kinerja yang digunakan untuk menjawab tiga pertanyaan pokok, yaitu:
a. Bagaimana kinerja implementasi kebijakan publik ? Jawabannya berkenaan dengan kinerja implementasi publik (variasi dari outcome) terhadap variabel independen tertentu.
b. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan variasi itu? Jawabannya berkenaan dengan faktor kebijakan itu sendiri, organisasi implementasi kebijakan, dan lingkungan implementasi kebijakan yang memengaruhi variasi outcome implementasi kebijakan.
c. Bagaimana strategi meningkatkan kinerja implementasi kebijakan publik? Pertanyaan ini berkenaan dengan “tugas” pengevaluasi untuk memilih variabel-variabel yang dapat diubah.
Namun demikian, ada beberapa hal yang dapat dipergunakan sebagai panduan pokok, yaitu :
1. Terdapat perbedaan tipis antara evaluasi kebijakan dan analisis kebijakan. Namun demikian, terdapat satu perbedaan pokok, yaitu analisis kebijakan biasanya diperuntukkan bagi lingkungan pengambil kebijakan untuk tujuan formulasi atau penyempurnaan kebijakan, sementara evaluasi dapat dilakukan oleh internal ataupun eksternal pengambil kebijakan.
2. Evaluasi kebijakan yang baik harus mempunyai beberapa syarat pokok yaitu :
a. Tujuannya menemukan hal-hal yang strategis untuk meningkatkan kinerja kebijakan.
b. Yang bersangkutan harus mampu mengambil jarak dari pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan, dan target kebijakan.
c. Prosedur evaluasi harus dapat dipertanggungjawabkan secara metodologi.
3. Evaluator haruslah individu atau lembaga yang mempunyai karakter profesional, dalam arti menguasai kecakapan keilmuan, metodologi, dan dalam beretika.
4. Evaluasi dilaksanakan tidak dalam suasana permusuhan atau kebencian.
Berdasarkan definisi di atas, dapat diketahui bahwa tujuan dari evaluasi implementasi kebijakan adalah untuk mengetahui pencapaian berdasar indikator-indikator kinerja yaitu (1) Bagaimana kinerja implementasi kebijakan publik? (2) faktor-faktor apa saja yang menyebabkan variasi itu ? (3) Bagaimana strategi meningkatkan kinerja implementasi kebijakan publik?.
2.1.4 Model Evaluasi Kebijakan
Menurut Dunn dalam Nugroho (2012:728), istilah evaluasi dapat disamakan dengan penaksiran (appraisal), pemberian angka (rating), dan penilaian (assesment). Evaluasi berkenaan dengan produksi informasi mengenai nilai atau manfaat hasil kebijakan. Evaluasi memberi informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai kinerja kebijakan, yaitu seberapa jauh kebutuhan, nilai, dan kesempatan telah dapat dicapai melalui tindakan publik; evaluasi memberi sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari pemilihan tujuan dan target; dan evaluasi memberi sumbangan pada aplikasi metode-metode analisis kebijakan lainnya, termasuk perumusan masalah dan rekomendasi.
Jadi, meskipun berkenaan dengan keseluruhan proses kebijakan, evaluasi kebijakan lebih berkenaan pada kinerja dari kebijakan, khususnya pada implementasi kebijakan publik . evaluasi pada “perumusan” dilakukan pada sisi post-tindakan, yaitu lebih pada “proses” perumusan daripada muatan kebijakan yang biasanya “hanya” menilai apakah prosesnya sudah sesuai dengan prosedur yang sudah disepakati. Secara umum, Dunn menggambarkan kriteria-kriteria evaluasi kebijakan publik sebagai berikut :
Tabel 2.2
Kriteria Evaluasi Kebijakan Menurut Dunn
Tipe Kriteria Pertanyaan
Efektivitas Apakah hasil yang diinginkan telah dicapai?
Efisiensi Seberapa banyak usaha diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan?
Kecukupan Seberapa jauh pancapaian hasil yang diinginkan memecahkan masalah?
Perataan
Apakah biaya manfaat didistribusikan dengan merata kepada kelompok-kelompok yang berbeda?
Responsivitas
Apakah hasil kebijakan memuaskan kebutuhan, preferensi , atau nilai kelompok-kelompok tertentu?
Ketepatan Apakah hasil (tujuan) yang diinginkan benar-benar berguna atau bernilai? Sumber : Nugroho, 2012:729
Berdasarkan model evaluasi kebijakan menurut Dunn , dapat disimpulkan bahwa evaluasi berkenaan dengan keseluruhan proses kebijakan. Dan evaluasi kebijakan berkenaan dengan kinerja dari sebuah kebijakan. Khususnya pada implementasi kebijakan publik, serta evaluasi kebijakan publik dilakukan untuk menilai pencapaian dari sebuah kebijakan yang telah diimplementasikan.
Sementara itu, House dalam Nugroho (2012:733) membuat taksonomi evaluasi yang cukup berbeda, yang membagi model evaluasi menjadi :
1. Model sistem, dengan indikator utama adalah efisiensi.
2. Model perilaku, dengan indikator utama adalah produktivitas dan akuntabilitas.
3. Model formulasi keputusan, dengan indikator utama adalah keefektifan dan keterjagaan kualitas.
4. Model tujuan-bebas (goal free), dengan indikator utama adalah pilihan pengguna dan manfaat sosial.
5. Model kekritisan seni (art criticism) dengan indikator utama adalah standar yang semakin baik dan kesadaran yang semakin meningkat.
6. Model review profesional, dengan indikator utama adalah penerimaan profesional.
7. Model kuasi-legal (quasi-legal), dengan indikator utama adalah resolusi.
8. Model studi kasus, dengan indikator utama adalah pemahaman atas diversitas.
Ada pula pemilihan evaluasi sesuai dengan teknik evaluasinya, yaitu :
1. Evaluasi komparatif, yaitu membandingkan implementasi kebijakan (proses dan hasilnya) dengan implementasi kebijakan yang sama atau berlainan, di satu tempat yang sama atau berlainan.
2. Evaluasi historikal, yaitu membuat evaluasi kebijakan berdasarkan rentang sejarah munculnya kebijakan-kebijakan tersebut.
3. Evaluasi laboratorium atau eksperimental, yaitu evaluasi namun menggunakan eksperimen yang diletakkan dalam sejenis laboratorium.
4. Evaluasi ad hock, yaitu evaluasi yang dilakukan secara mendadak dalam waktu segera untuk mendapatkan gambar pada saat itu (snap shot).
Sedangkan menurut Anderson dalam Nugroho (2012: 734) membagi evaluasi (implementasi) kebijakan publik menjadi tiga. Tipe pertama, evaluasi kebijakan publik yang dipahami sebagai kegiatan fungsional yang selalu melekat pada setiap kebijakan publik. Kedua, evaluasi yang memfokuskan pada bekerjanya kebijakan. Ketiga, evaluasi sistematis untuk mengukur kebijakan atau mengukur pencapaian dibanding target yang ditetapkan.
Adapun menurut Wibawa,dkk dalam Nugroho (2012:734) bahwa evaluasi kebijakan publik memiliki empat fungsi, yaitu :
1. Eksplanasi
Melalui evaluasi dapat dipotret realitas pelaksanaan program dan dapat dibuat suatu generalisasi tentang pola-pola hubungan antarberbagai dimensi realitas yang diamatinya. Dari evaluasi ini evaluator dapat mengidentifikasi masalah, kondisi, dan aktor yang mendukung keberhasilan atau kegagalan kebijakan.
Melalui evaluasi dapat diketahui apabila tindakan yang dilakukan oleh para pelaku, baik birokrasi maupun pelaku lainnya, sesuai dengan standar dan prosedur yang ditetapkan oleh kebijakan.
3. Audit
Melalui evaluasi dapat diketahui, apakah output benar-benar sampai ke tangan kelompok sasaran kebijkan, atau justru ada kebocoran atau penyimpangan.
4. Akunting
Dengan evaluasi ini dapat diketahui apa akibat sosial-ekonomi dari kebijakan tersebut.
Pada model evaluasi yang dipaparkan oleh Wibawa, dkk dapat dipahami bahwa evaluasi kebijakan publik memiliki empat fungsi. Diantaranya eksplanasi yaitu dari evaluasi ini dapat mengidentifikasi masalahserta faktor-faktor pendukung keberhasilan atau kegagalan. Fungsi kepatuhan bahwa apakah tindakan yang dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Fungsi audit yaitu dapat mengetahui hasil dari program/ kebijakan tersebut tepat pada kelompok sasaran atau tidak. Dan terakhir fungsi akunting, bahwa dapat diketahui apa saja dampak sosial-ekonomi dar kebijakan tersebut.
Sementara itu Bingham dan Felbinger dalam Nugroho (2012:735) membagi evaluasi kebijakan menjadi empat jenis, yaitu :
1. Evaluasi proses, yang fokus pada bagaimana proses implementasi suatu kebijakan.
2. Evaluasi impak, yang fokus pada hasil akhir suatu kebijakan.
3. Evaluasi kebijakan, yang menilai hasil kebijakan dengan tujuan yang direncanakan dalam kebijakan pada saat dirumuskan.
4. Meta-evaluasi, yang merupakan evaluasi terhadap berbagai hasil atau temuan dari berbagai kebijakan yang terkait.
Pada model Bingham dan Felbinger ini, dapat dipahami bahwa terdapat empat jenis evaluasi kebijakan. Diantaranya, evaluasi proses yang berkaitan dengan proses implementasi suatu kebijakan. Kemudian evaluasi impak yang hanya dilihat dari hasil akhir (output) suatu kebijakan. Berikutnya evaluasi
kebijakan yang dilakukan dengan membandingkan hasil (ouput) kebijakan dengan tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya, meta-evaluasi berkaitan dengan berbagai hasil dari berbagai kebijakan terkait.
Adapun menurut Howlet an Ramesh dalam Nugroho (2012:735) mengelompokkan evaluasi menjadi tiga, yaitu :
1. Evaluasi administratif, yang berkenaan dengan evaluasi sisi administratif-anggaran, efisiensi, biaya-dari proses kebijakan didalam pemerintah yang berkenaan dengan :
a. Effort evaluation, yang menilai dari sisi input program yang dikembangkan oleh kebijakan.
b. Performance evaluation, yang menilai keluaran (output) dari program yang dikembangkan oleh kebijakan.
c. Adequacy of performance evaluation atau effectiveness evaluation, yang menilai apakah program dijalankan sebagaimana yang sudah ditetapkan.
d. Efficiency evaluation, yang menilai biaya program dan memberikan penilaian tentang keefektifan biaya tersebut.
e. Process evaluations, yang menilai metode yang dipergunkan oleh organisasi untuk melaksanakan program.
2. Evaluasi judisial, yaitu evaluasi yang berkenaan dengan isu keabsahan hukum tempat kebijakan diimplementasikan, termasuk kemungkinan pelanggaran terhadap konstitusi, sistem hukum, etika, aturan administrasi negara, hingga hak asasi manusia.
3. Evaluasi politik, yaitu menilai sejauh mana penerimaan konstituen politik terhadap kebijakan publik yang diimplementasikan.
Pada model Howlet dan Ramesh yang telah dipaparkan di atas, dapat dipahami bahwa terdapat tiga jenis evaluasi. Pertama, evaluasi administratif yaitu yang berkenaan dengan evaluasi sisi administratif-anggaran, efisiensi, biaya-dari proses kebijakan didalam pemerintah. Kedua, evaluasi judisial yang berkenaan dengan isu keabsahan hukum tempat kebijakan diimplementasikan, termasuk kemungkinan pelanggaran terhadap konstitusi, sistem hukum, etika, aturan administrasi negara, hingga hak asasi manusia. Ketiga, evaluasi politik, berkenaan
untuk menilai sejauh mana penerimaan konstituen politik terhadap kebijakan yang diimplementasikan.
Berbeda dengan Suchman dalam Nugroho (2012:734) di sisi lain lebih masuk ke sisi praktis dengan mengemukakan enam langkah dalam evaluasi kebijakan, yaitu :
1. Mengidentifikasi tujuan program yang akan dievaluasi. 2. Analisis terhadap masalah.
3. Deskripsi dan standarisasi kegiatan.
4. Pengukuran terhadap tingkatan perubahan yang terjadi.
5. Menentukan apakah perubahan yang diamati merupakan akibat dari kegiatan tersebut atau karena penyebab lain.
6. Beberapa indikator untuk menentukan keberadaan suatu dampak. Berdasarkan model evaluasi Suchman , dapat dipahami bahwa untuk melakukan evaluasi dari suatu kebijakan harus melalui beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut ialah pertama, tujuan dari suatu kebijakan/program tersebut harus diidentifikasi masalah-masalahnya, kemudian dilakukan analisis, selanjutnya dilakukan deskripsi dan standarisasi kegiatan, berikutnya dilakukan pengukuran apakah ada perubahan yang terjadi, dan menentukan apakah perubahan yang rejadi, merupakan akibat dari program/kebijakan tersebut atau karena penyebab lainnya. Dan yang terakhir dibutuhkan beberapa indikator untuk menentukan keberadaan suatu dampak.
Dalam penelitian yang berjudul Evaluasi Program KTP-el (Kartu Tanda Penduduk Elektronik) di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Cilegon Tahun 2015, penulis menggunakan teori Dunn, dengan enam kriteria dalam evaluasi kebijakan yaitu efektivitas, efisiensi, kecukupan, perataan, responsivitas serta ketepatan. Alasan penulis menggunakan teori tersebut, karena dari beberapa
permasalahan yang telah dipaparkan pada latar belakang masalah. Masalah-masalah tersebut sesuai dengan indikator-indikator tahapan evaluasi kebijakan menurut Dunn.
2.1.5 Konsep e-Government
Inisiatif Pelaksanaan e-government di Indonesia yang diperkenalkan melalui Instruksi Presiden No.6 Tahun 2001 tentang telematika (Telekomunikasi, Media, dan Informatika) yang menyatakan bahwa aparat pemerintah harus menggunakan teknologi untuk mendukung Good Governance dan percepatan proses demokrasi. Melalui proses tersebut, pemerintah dapat mengoptimalkan sekat-sekat organisasi dan birokrasi. Serta membentuk jaringan sistem manajemen dan proses kerja yang memungkinkan instansi-instansi pemerintah bekerja secara terpadu untuk menyederhanakan akses ke semua informasi dan layanan publik yang harus disediakan oleh pemerintah.
Dalam Inpres No.3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government , e-Government tersebut merupakan upaya untuk mengembangkan penyelenggaraan kepemerintahan yang berbasis (menggunakan) elektronika dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien. Pengertian umum e-Government (electronic government) adalah “Penyelenggaraan pemerintah berbasis elektronik (teknologi informasi dan komunikasi) untuk meningkatkan kinerja pemerintah dalam hubungannya dengan masyarakat, komunitas bisnis, dan kelompok terkait lainnya menuju good governance”.
Menurut Heeks dan Djunaedi (2002:49), e-Government diartikan sebagai pemanfaatan ICT untuk mendukung pemerintahan yang baik (good governnce). Lebih lanjut dijelaskan bahwa e-Government mencakup :
1. e-Administration : untuk memperbaiki proses pemerintahan dengan menghemat biaya, dengan mengelola kinerja, dengan membangun koneksi strategis dalam pemerintahan sendiri, dan dengan menciptakan pemberdayaan;
2. e-Citizen & e-Service : menghubungkan warga masyarakat dengan pemerintah, dengan cara berbicara dengan warga dan mendukung demokrasi, dan dengan meningkatkan layanan publik;
3. e-Society : membangun interaksi di luar pemerintah dengan bekerja secara baik dengan pihak bisnis, dengan mengembangkan masyarakat, dengan membangun kerjasama dengan pemerintah, dan dengan membangun masyarakat madani.
Menurut Indrajit (2005:18) paling tidak ada 6 (enam) komponen penting yang harus diperhatikan dalam Pelaksanaan e-Government , diantaranya :
1. Content Development, menyangkut pengembangan aplikasi (perangkat lunak), pemilihan standar teknis, penggunaan bahasa pemrograman, spesifikasi sistem basis data, kesepakatan user interface, dan lain sebagainya;
2. Competency Building, menyangkut pengadaan SDM pelatihan dan
pengembangan kompetensi maupun keahlian seluruh jajaran sumber daya manusia di berbagai lini pemerintahan;
3. Connectivity , menyangkut ketersediaan infrastruktur komunikasi dan teknologi di lokasi e-Government diterapkan;
4. Cyber Laws, menyangkut keberadaan kerangka dan perangkat hukum yang yang telah diberlakukan terkait dengan seluk beluk aktivitas e-Government; 5. Citizen interfaces, menyangkut pengadaan SDM dan pengembangan berbagai
kanal akses (multi acces chanel) yang dapat dipergunakan oleh seluruh masyarakat atau stakeholder e-Government dimana saja dan kapan saja mereka inginkan.
6. Capital, menyangkut permodalan proyek e-Government terutama yang berkaitan dengan biaya setelah proyek selesai dilakukan seperti untuk keperluan pemeliharaan dan perkembangan, disini tim harus memikirkan jenis-jenis pendapatan yang mungkin untuk diterapkan di pemerintahan.
Berdasarkan Keputusan Menteri dan Informatika bahwa objek layanan aplikasi e-Government dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu :
1. Government to Government (Pemerintah untuk Pemerintah)
Aplikasi e-Government dalam kategori ini menangani masalah dalam layanan antar instansi pemerintah dan/ antar negara. Berbagai layanan dapat diberikan oleh satu instansi pemerintah pada instansi oemerintah yang lain sesuai dengan tugas dan fungsi instansi tersebut atau sesuai dengan kebutuhan koordinasi antar instansi. Pada umumnya aplikasi jenis Government to Government bekerja di atas satu jaringan data yang disebut sebagai internet yaitu jaringan data yang digunakan untuk keperluan internal instansi pemerintah. Beberapa contoh aplikasi Government to Government antara lain:
a. Koordinasi dan konsolidasi anggaran; b. Koordinasi kepegawaian;
c. Koordinasi kegiatan bidang ekonomi ;
d. Koordinasi kegiatan bidang politik dan keamanan. 2. Government to Citizen (Pemerintah untuk Masyarakat)
Aplikasi e-Government dalam kategori ini menangani masalah yang berkaitan dengan layanan masyarakat luas, baik warga negara Indonesia maupun warga negara asing. Beberapa contoh aplikasi Government to Citizen antara lain :
a. Kependudukan; b. Keimigrasian; c. Akta nikah.
3. Government to Business (Pemerintah untuk Pihak Bisnis)
Aplikasi e-Government dalam kategori ini menangani masalah yang berkaitan dengan layanan pada sektor usaha. Sektor usaha pada umumnya dapat berupa berbagai jenis dan bentuk usaha komersial baik nasional maupun asing. Beberapa contoh aplikasi Government to Business diantaranya :
a. Pembayaran pajak; b. Perijinan usaha;
c. Pengadaan barang dan jasa (e-procerement).
Dari beberapa definisi e-Government di atas, maka e-Government merupaka pemanfaatan dan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi secara online dengan menggunakan internet atau perangkat lainnya yang dikelola oleh pemerintah untuk menginformasikan kepada masyarakat, pihak bisnis, dan
semua pihak-pihak pemerintah lainnya untuk meningkatkan efiseinsi, efektifitas, transparansi, dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.
2.1.6 Konsep Administrasi Kependudukan
Peristiwa kependudukan, antara lain perubahan alamat, pindah datang, serta perubahan status orang asing tinggal terbatas menjadi tinggal tetap dan peristiwa penting, antara lain kelahiran, kematian, perkawinan dan perceraian, termasuk pengangkatan, pengakuan dan pengesahan anak, serta perubahan status kewarganegaraan, dan peristiwa penting lainnya yang dialami oleh seseorang harus dilaporkan. Untuk itu, setiap peristiwa kependudukan dan peristiwa penting memerlukan bukti sah untuk dilakukan pengadministrasian dan pencatatan sesuai dengan ketentuan undang-undang.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.23 Tahun 2006 bahwa Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalampenerbitan dokumen dan data kependudukan melalui pendaftaran penduduk, pencatatan sipil, pelayanan informasi penduduk, pendayagunaan hasil untuk pelayanan publik dan sektor lain. Administrasi kependudukan yang berintikan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil pada hakikatnya merupakan pengakuan negara terhadap hak penduduk dalam dimensi publik dan perdata.
Menurut Sudjarwo (2004:24) bahwa pelayanan administrasi kependudukan adalah pelayanan dibidang kependudukan yang diberikan oleh aparat pemerintah
dan non pemerintah dari tingkat pusat sampai ketingkat desa atau kelurahan, RW, RT. Misalnya pengurusan izin nikah, KTP, KK serta surat keterangan.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 bahwa pemerintah Kabupaten/Kota berkewajiban dan bertanggung jawab menyelenggarakan administrasi kependudukan antara lain pengelolaan dan penyajian data kependudukan skala kabupaten/kota yang dilakukan bupati/walikota. Dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kabupaten/kota berkewajiban antara lain memberikan pelayanan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil, dan menerbitkan dokumen kependudukan. Adapun tujuan dari administrasi kependudukan yaitu :
1. Tertib dalam database kependudukan
a. Terbangunnya database kependudukan yang akurat ditingkat kabupaten/kota, provinsi dan pusat.
b. Database kependudukan kabupaten/kota tersambung online dengan provinsi dan pusat menggunakan SIAK (Sistem Informasi Administrasi Kependudukan)
2. Tertib dalam penerbitan NIK
3. Tertibnya dokumen kependudukan (KK, KTP, Akta Catatan Sipil, dll)
Administrasi kependudukan sebagai suatu sistem diharapkan dapat diselenggarakan sebagai bagian dari penyelenggaraan administrasi negara. Dari sisi kepentingan penduduk, administrasi kependudukan memberikan pemenuhan hak-hak administratif, seperti pelayanan publik serta perlindungan yang berkenaan dengan dokumen kependudukan, tanpa adanya perlakuan diskriminatif. Administrasi kependudukan diarahkan untuk :
1. Memenuhi hak asasi setiap orang dibidang administrasi kependudukan tanpa adanya diskriminasi dengan dengan pelayanan publik yang profesional;
2. Meningkatkan kesadaran penduduk akan kewajibannya untuk berperan serta dalam pelaksanaan administrasi kependudukan;
3. Memenuhi data statistik secara nasional mengenai peristiwa kependudukan dan peristiwa penting;
4. Mendukung perumusan kebijakan dan perencanaan pembangunan secara nasional, regional, serta lokal;
5. Perumusan kebijakan dan perencanaan mendukung pembangunan sistem administrasi kependudukan.
2.1.7 Konsep KTP Elektronik (KTP-el)
KTP Elektronik (KTP-el) adalah Kartu Tanda Penduduk yang dibuat secara elektronik, dalam artian baik dari segi fisik maupun penggunaannya berfungsi secara komputerisasi. KTP-el atau KTP Elektronik adalah dokumen kependudukan yang memuat sistem keamanan pengendalian baik dari sisi administrasi ataupun teknologi informasi dengan berbasis pada database kependudukan nasional. Penduduk hanya diperbolehkan memiliki 1 (satu) KTP yang tercantum Nomor Induk Kependudukan (NIK). NIK merupakan identitas tunggal setiap penduduk dan berlaku seumur hidup.
Nomor NIK yang ada di KTP-el nantinya akan dijadikan dasar dalam penerbitan Paspor, Surat Izin Mengemudi (SIM), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Polis Asuransi, Sertifikat atas Hak Tanah dan penerbitan dokumen identitas lainnya (Pasal 13 UU No. 23 Tahun 2006 tentang Adminduk.
Autentikasi Kartu Identitas (e-ID) biasanya menggunakan biometrik yaitu verifikasi dan validasi sistem melalui pengenalan karakteristik fisik atau tingkah laku manusia. Ada banyak jenis pengamanan dengan cara ini, antara lain sidik jari (fingerprint), retina mata, DNA, bentuk wajah, dan bentuk gigi. Pada KTP-el, yang digunakan adalah sidik jari.
Struktur KTP-el terdiri dari sembilan layer yang akan meningkatkan