• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2. Evaluasi Kebijakan Publik

Tahapan akhir dari siklus kebijakan adalah evaluasi kebijakan. Kebijakan yang telah dilaksanakan akan dinilai atau dievaluasi untuk melihat sejauh mana kebijakan tersebut mampu memecahkan masalah. Kebijakan publik pada dasarnya dibuat untuk meraih dampak yang diinginkan, yaitu memperbaiki masalah yang dihadapi perlu di evaluasi dengan ukuran atau kriteria keberhasilan.

Michael Scriven dalam Dunn (2000:607) mengemukakan pengevaluasi adalah penilaian itu sendiri tetapi sekaligus juga merupakan tautology. Karena itu lupakan anggapan bahwa evaluasi merupakan persoalan opini atau selera.

Evaluasi merupakan persoalan fakta atau logika dan lebih penting dari yang lebih penting.

Subarsono (2006:119) mengemukakan bahwa evaluasi adalah “kegiatan untuk menilai tingkat kinerja suatu kebijakan. Evaluasi baru dapat dilakukan kalau kebijakan sudah berjalan cukup waktu. Suatu kebijakan yang akan dievaluasi tidak memiliki batasan waktu yang pasti kapan sebuah kebijakan harus di evaluasi. Semakin strategis suatu kebijakan maka diperlukan waktu yang panjang untuk melakukan evaluasi dan sebaliknya, semakin teknis suatu kebijakan maka evaluasi kebijakan dapat dilakukan dalam kurang waktu relatif cepat semenjak kebijakan tersebut diterapkan.

Thomas R. Dye dalam Parsons (2008:547) mengemukakan bahwa evaluasi kebijakan adalah ‘pembelajaran tentang konsekuensi dari kebijakan publik’.

Evaluasi Kebijakan publik adalah pemeriksaan yang objektif, sistematis dan empiris terhadap efek dari kebijakan dan program publik terhadap targetnya dari segi tujuan yang ingin dicapai.

Hogwood dalam Zainal (2004:219) mengatakan bahwa evaluasi dalam hubungan dengan perubahan masyarakat yang diharapkan terjadi sebagai dampak atau outcomes dari suatu kebijakan. Dampak dari kebijakan tidak selalu sama seperti yang direncanakan semula. Ini berhubungan dengan ketidakpastian lingkungan dan kemampuan administrasi dalam melaksanakan suatu kebijakan.

Dalam praktek selalu ada keterbatasan untuk memahami sesuatu isu secara utuh.

Sementara itu juga perlu disadari bahwa kebijakan pemerintah bukanlah satu-satunya kekuatan, melainkan hanya salah satu dari sekian banyak kekuatan yang mempengaruhi perubahan dalam masyarakat. Sebab itu suatu kebijakan tidak

boleh merasa cukup sekedar berakhir hanya pada selesainya pelaksanaan saja, sebelum ada evaluasi akhir atas dampak yang dihasilkan.

Carlos Weiss dalam Parsons (2008:547) mengatakan bahwa evaluasi dapat dibedakan dari bentuk-bentuk analisis lainnya berdasarkan enam hal adalah:

1. Evaluasi dimaksudkan untuk pembuatan keputusan, dan untuk menganalisa problem seperti didefinisikan oleh pembuat kebijakan bukan oleh periset.

2. Evaluasi adalah penilaian karakter. Riset bertujuan untuk mengevaluasi tujuan program.

3. Evaluasi adalah riset yang dilakukan dalam setting kebijakan, bukan dalam setting akademik.

4. Evaluasi biaya tidak dipublikasikan

5. Evaluasi seringkali melibatkan konflik antara periset dan praktisi.

6. Evaluasi memungkinkan melibatkan periset dalam persoalan kesetiaan kepada agen pemberi dana dan penigkatan perubahan sosial.

Wiliam N. Dunn dalam Nugroho (2009:537) mengemukakan bahwa ada tiga jenis pendekatan terhadap evaluasi implementasi kebijakan, yakni evaluasi semu, evaluasi formal, evaluasi teoritis. Yang dimaksud dengan evaluasi semu adalah pendekatan evaluasi dengan menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan tanpa menanyakan manfaat atau nilai-nilai dari hasil kebijakan tersebut pada individu, kelompok, atau masyarakat. Evaluasi formal adalah pendekatan evaluasi yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang

Lingkungan Kebijakan Kinerja Kebijakan

terpercaya dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan berdasarkan sasaran program kebijakan yang telah ditetapkan secara formal oleh pembuat kebijakan. Evaluasi teoritis adalah pendekatan evaluasi yang menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang dapat dipercaya dan valid mengenai hasil-hasil kebijakan secara eksplisit yang diinginkan oleh steakholder.

Nugroho (2009:543) mengemukakan bahwa evaluasi kebijakan adalah

“biasanya bermakna sebagai evaluasi kebijakan dan atau evaluasi kinerja atau hasil kebijakan. Dalam evaluasi kebijakan publik terdapat empat komponen kebijakan yang merupakan dimensi kebijakan publik. Dimensi kebijakan publik sebagai fokus evaluasi kebijakan, yakni perumusan kebijakan, implementasi kebijakan, kinerja kebijakan, lingkungan kebijakan”. Untuk lebih jelasnya mengenai evaluasi kebijakan menurut Nugroho (2009:543) dapat dilihat gambar di bawah ini:

Keempat komponen kebijakan itulah yang menentukan apakah kebijakan akan berhasil guna atau tidak. Namun, dalam konsep evaluasi sendiri selalu terikut konsep kinerja sehingga evaluasi kebijakan pada ketiga wilayah bermakna kegiatan pasca.

Perumusan Kebijakan Implementasi Kebijakan Evaluasi Kebijakan

Evaluasi kebijakan publik mempunyai tiga lingkup makna, yaitu evaluasi formulasi kebijakan, evaluasi implementasi kebijakan, dan evaluasi lingkungan kebijakan Nugroho (2009:545-552). Ketiga komponen tersebut yang menentukan apakah kebijakan akan berhasil guna atau tidak.

Evaluasi formulasi kebijakan mengandung makna bahwa masalah publik yang akan dipecahkan melalui kebijakan harus sesuai model-model formulasi kebijakan. Model formulasi kebijakannya sesuai dengan praktik formulasinya sehingga proses formulasi kebijakan publik tersebut dapat dipertanggungjawabkan terhadap publik. Evaluasi formulasi kebijakan juga mengandung makna bahwa muatan kebijakan relevan dengan masalah yang ingin dipecahkan yang berarti terdapat kesesuaian antara muatan kebijakan dengan masalah serta evaluasi formulasi kebijakan mengandung makna bahwa secara makro, kebijakan yang dibuat sesuai dengan kebijakan yang lebih tinggi. Secara mikro, bentuk kebijakan harus sesuai dengan kebutuhan jenis kebijakan dan secara suku kata, penggunaan kata mewakili maksud gagasan dan sesuai dengan tata bahasa hukum. Makna evaluasi kebijakan tersebut merupakan suatu proses penilaian dalam formulasi kebijakan, apakah formulasi kebijakan dapat dipertanggungjawabkan atau tidak terhadap publik yang menyangkut dengan masalah publik yang akan dipecahkan.

Evaluasi kebijakan menitikberatkan pada implementasi kebijakan karena faktor yang menentukan kebijakan berhasil tidaknya adalah pada implementasinya. Implementasi kebijakan akan memberikan umpan balik bagi perbaikan kebijakan dan peningkatan kinerja kebijakan. Evaluasi implementasi kebijakan harus ada kesesuaian antara jenis kebijakan yang diimplementasikan

dengan metode yang digunakan dalam melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang diimplementasikan.

Evaluasi lingkungan kebijakan menyangkut lingkungan formulasi kebijakan dan lingkungan implementasi kebijakan yang mengandung makna bahwa perumus kebijakan memperhatikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi dalam perumusan kebijakan. Faktor lingkungan menyangkut kepentingan luar yang dapat memberikan pengaruh besar dalam perumusan kebijakan dan kebijakan yang dirumuskan tepat sasaran dengan tujuan yang jelas. Implementasi kebijakan menentukan apakah kebijakan berhasil atau gagal karena dalam mengimplementasikan kebijakan terdapat faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi. Evaluasi terhadap kebijakan yang diimplementasikan dapat mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi kebijakan tersebut berhasil dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi kebijakan tersebut gagal sehingga dapat memberikan langkah perbaikan untuk peningkatan kinerja kebijakan.

Menurut Joko Widodo dalam Luankali (2007:113) mengatakan outcomes dan impact atau dampak tak terpisahkan satu dan yang lain adalah sasaran evaluasi kebijakan publik. Evaluasi kebijakan sendiri, adalah tahapan akhir dari proses kebijakan publik, yaitu suatu proses untuk menilai seberapa jauh suatu kebijakan (tindakan atau aksi, keputusan, kebijakan) dapat membuahkan hasil dengan membandingkan hasil yang diperoleh (output dan outcomes-hasil akhir) dengan tujuan atau target kebijakan yang telah ditentukan. Bukan saja untuk melihat outcomes dan impact, tetapi juga untuk melihat bagaimana suatu proses implementasi kebijakan atau performance suatu kebijakan telah dilaksanakan

sesuai aturan, prosedur, atau guide lines (petunjuk teknis atau petunjuk pelaksananya).

Penilaian Dampak menurut Rossi dan Freeman dalam Parsons (2008:604) adalah “untuk memperkirakan apakah intervensi menghasilkan efek yang diharapkan atau tidak. Perkiraaan seperti ini tidak menghasilkan jawaban yang pasti tapi hanya beberapa jawaban yang mungkin masuk akal”. Tujuan dasar penilaian dampak adalah untuk memperkirakan efek bersih dari sebuah intervensi yakni perkiraan dampak intervensi yang tidak dicampuri oleh pengaruh dari proses dan kejadian lain yang mungkin juga mempengaruhi perilaku atau kondisi yang menjadi sasaran suatu program yang sedang di evaluasi itu.

Dokumen terkait