• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Kelayakan Perkebunan Kelapa Sawit versus Restorasi Hutan

Dalam dokumen SOSIAL EKONOMI KEHIDUPAN MASYARAKAT (Halaman 46-50)

Pada saat ini, keadaan penerapan teknologi yang ada, harga pasar, kemampuan dan ketrampilan masyarakat dalam budidaya sawit, berubahnya kecendrungan usaha pertanian ke monokultur sawit, dukungan lembaga keuangan, pengembangan kelapa sawit sulit dibatasi baik yang diusahakan oleh perusahaan perkebunan besar, maupun perkebunan rakyat. Analisis finansial studi kelayakan sawit menunjukkan bahwa tingkat pengembalian modal atas investasi (IRR) di atas 30%, benefit cost rasio di atas 2,5, payback period pada tahun ke 12, investor akan bersedia menanamkan modalnya pada sawit. Banjir yang menggenangi kebun sampai 12 hari belum begitu berbahaya bagi tanaman sawit, dibandigkan dengan tanaman pangan atau tanaman kakao. Keunggulan kriteria investasi dan rendahnya risiko serangan hama, penyakit dan banjir, serta harga CPO yang terus meningkat membuat investor besar maupun kecil terus berupaya mencari lahan untuk membuka kebun sawit. Lahan gambut di bawah 3 meter lebih baik diusahkan tanaman kelapa sawit dari pada tanaman lain, secara agroklimat. Bahkan lahan gambut di atas 3 meter, investor masih bersedia mengusahkan sawit, sungguhpun di lapangan secara faktual terlihat banyak pohon sawit yang tumbuh miring akibat dukungan tegakannya tidak kuat, sehingga produksi TBS per pohon berkurang.

Sungguhpun sawit baru berproduksi pada tahun keempat, petani dengan modal tidak besar pun telah bersedia mengusahakan sawit di sekitar perkebunan besar.Mereka bersedia menjadi buruh harian lepas di perusahan untuk memperoleh pendapatan sambil menunggu tanaman sawit menghasilkan. Keinginan masyarakat dan perusahaan untuk mengembangkan sawit tersebut tentu akan mendesak dan melenyapkan keberadaan Ekosistem TPSF.

Penggunaan lahan gambut di atas 3 meter, dalam jangka sangat panjang, misalnya 100 tahun lebih, di mana lapisan gambut akan terus menipis sampai mencapai dasar tanah. Jika lahan gambut tempat pengusahan sawit sekarang tergenang permanen, barulah sawit tidak dapat diusahakan lagi.Keadaan klimaks inilah yang secara finansial, ekonomi, dan prospek pasar dapat mengalahkan investasi sawit. Kalau genangan permanen di kebun sawit ini tidak jadi, maka usaha sawit akan tetap lebih menguntungkan dari pada mengusahakan tanaman lain.

Hasil Kajian 2 mengusulkan hutan diperluas dari 13.447,81 Ha menjadi 30,455.45 Ha, kebun sawit diusulkan pengurangan luas dari 32.484,96 Ha menjadi 20.477,32 Ha, sementara kebun campuran, tanaman pangan dan pemukiman luasnya tetap, yaitu 14,724.51 Ha. Kajian 2 juga menjelaskan bahwa Benefit-Cost ratio dengan pendekatan TEV adalah 143,1 sementara dengan pendekatan DUV menghasilkan Benefit-Cost ratio 0,7.

V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan

Dari hasil kajian sosial ekonomi kehidupan masyarakat di Ekosistem Hutan Rawa Gambut Tripa (TPSF), maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Masyarakat yang menetap di Ekosistem Hutan Rawa Gambut Tripa terdiri dari penduduk asli dan pendatang. Pendatang sebagian besar berasal dari daerah yang berdekatan dengan Ekosistem TPSF, seperti dari dari kecamatan-kecamatan yang di Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan dan Aceh Barat, dan sebagian kecil ada pendatang dari Sumatera Utara dan daerah Jawa. Umumnya mereka datang ke kecamatan dalam Ekosistem TPSF adalah untuk mencari pekerjaan, melakukan perdagangan atau melakukan hubungan perkawinan.

2. Penduduk angkatan kerja di Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Barat Daya relatif lebih banyak, masing-masing 67,34%, dan 57,86%. Sebahagian besar mereka mempunyai mata pencaharian di sektor pertanian dan perkebunan.

3. PDRB Kabupaten Nagan Raya dan Aceh Barat Daya terbesar disumbangkan ole sektor pertanian, masing-masing 45,04% dan 30,20%.

4. Kondisi prasarana dan sarana di lokasi penelitian relatif baik. Jalan sudah dapat dilalui dengan kenderaan roda 4, dan jenis jalan aspal beton lebih sedikit dibandingkan dengan jenis jalan tanah yang diperkeras. Prasarana komunikasi sudah ada warung telekomunikasi, semua desa telah dapat dihubungi dengan HP. Jaringan PLN telah tersambung ke semua desa untuk memenuhi penerangan di rumah tangga. Prasarana dan sarana kesehatan sudah tersedia yang terdiri dari Puskesman, Puskesmas Pembantu, Poliklinik, Balai Pengobatan, Praktek Dokter, dan Bidan serta Posyandu. Air minum minum masyarakat sebagian besar berasal dari sumur dan sebagian kecil sudah ada perusahaan air minum/air isi ulang. Bahan bakar yang digunakan rumah tangga untuk memasak sebagian besar menggunakan kayu bakar, diikuti oleh penggunaan gas dan minyak tanah. Umumnya penanganan sampah rumah tangga dibuang di tanah pekarangan.Untuk kepentingan pendidikan, sekolah dasar tersedia hampir setiap desa. 5. Penggunaan lahan di Ekosistem TPSF terluas adalah lahan kering/tegalan, kemudian

diikuti untuk penggunaan pemukiman dan sawah. Tinggi dan stabilnya harga sawit ditambah dengan masuknya perusahaan besar yang mengusahakan tanaman kelapa sawit sudah mendesak penggunaan lahan pertanian lainnya, seperti sawah, perkebunan kakao dan karet.

6. Komoditas unggulan dari kelompok perkebunan adalah kelapa sawit, diikuti karet dan kakao. Komoditas unggulan dari kelompok tanaman pangan adalah padi, diikuti oleh kedelai dan jagung di Kecamatan Darul Makmur dan Tripa Makmur, sementara di Kecamatan Babah Rot adalah padi, kacang tanah dan kacang hijau. Untuk kelompok tanaman sayur, komoditas unggulannya adalah kacang panjang, dan kelompok buah-buahan, komoditas unggulan adalah mangga dan durian. Komoditas unggulan dari kelompok peternakan adalah sapi, diikuti oleh kambing/domba dan kerbau.Komoditas unggulan dari kelompok perikanan didominasi oleh perikanan tangkap.Lele alam sebagai produk unggulan dari kelompok perikanan darat di Ekosistem TPSF menurun

drastis sehubungan dengan pesatnya perluasan kebun kelapa sawit.Produk ikutan dari kelompok kehutanan, seperti madu alam dan rotan tidak terdapat lagi sehubungan alih fungsi lahan dari hutan ke perkebunan sawit.

7. Pola Interaksi masyarakat dan perusahaan perkebunan sawit di daerah penelitian umumnya bersifat pola interaksi diasosiatif, yang diindikasikan oleh adanya konflik penguasaan lahan antara PT. Kalista Alam dengan masyarakat sekitarnya, termasuk lahan yang disengketakan dan dicabut izin pemanfaatannya seluas sekitar 1600 ha oleh Pemerintah Aceh di Ekosistem TPSF. Sementara jarang terjadi kasus konflik atau kecemburuan sosial antara penduduk pribumi dan tenaga kerja pendatang. Penduduk asli berpendapat bahwa mereka tidak ada masalah dan terbuka dengan kedatangan tenaga kerja profesional dari luar, mereka menyadari kelemahan SDM lokal untuk menduduki posisi penting di perusahaan perkebunan. Namun mereka berharap seharusnya pihak perusahaan perkebunan bersedia melepaskan lahan-lahan di sekitar perkampungan untuk mendukung peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat minimal 2 ha per Kepala Keluarga. Dengan demikian mereka dapat hidup berdampingan, saling mendukung dan saling menguntungkan dengan perusahaan perkebunan besar.

8. Pola hubungan antara masyarakat dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit juga berbentuk asimetris (tidak seimbang) yang diindikasikan dengan perusahaan perkebunan berada pada pihak yang kuat mengabaikan hak dan kepentingan ekonomi masyarakat setempat. Akibatnya muncul perilaku anarkis masyarakat terhadap fasilitas yang dimiliki pihak perkebunan.Persoalan utama yang dikeluhkan masyarakat sekitar HGU adalah HGU yang diberikan pemerintah kepada perusahaan perkebunan besar kurang mempertimbangkan nilai-nilai sosial dan ekonomi dari masyarakat sekitarnya sehingga muncul konflik sosial yang merugikan pembangunan ekonomi daerah dan masyarakat.

9. Persepsi masyarakat terhadap kehadiran perusahaan perkebunan kelapa sawit di daerah penelitian ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif. Persepsi positif umumnya diungkapkan oleh mereka yang merasa adanya keuntungan akibat kehadiran perusahaan perkebunan sawit, diterimanya sebagai karyawan, pekerja lepas, dan kemudahan akses ekonomi lainnya. Sementara itu, persepsi negatif terhadap perusahaan perkebunan sawit umumnya diungkapkan oleh mereka tanahnya berdekatan dengan HGU dan berkonflik dengan perusahaan, kurang puas terhadap ganti rugi atas tanah dan tanam tumbuh yang ada di atasnya. Kegiatan pertanian tanaman pangan terganggu oleh serangan hama babi dan hama lainnya. Persepsi masyarakat adanya gangguan hama ini disebabkan oleh kerusakan Ekosistem TPSF, sehigga hama tersebut masuk lahan pertanian masyarakat.

10. Lahan sebagai salah satu faktor produksi yang penting untuk mendukung penghidupan, masyarakat memperolehnya dengan cara membuka lahan berdasarkan surat adat, adanya bantuan pemerintah untuk membangkit ekonomi masyarakat, melalui harta warisan, dan membeli lahan dari sesama anggota masyarakat.

11. Kesediaan melepaskan lahan untuk merestorasi hutan di Ekosistem TPSF, sebagian mereka setuju kalau ada lahan pengganti sebagai tempat penghidupan, dan mereka berpartisipasi langsung dalam program restorasi.

12. Analisis finansial studi kelayakan sawit pada Ekosistem TPSF menunjukkan bahwa tingkat pengembalian modal atas investasi (IRR) di atas 30%, benefit cost rasio di atas 2,5, payback period pada tahun ke 12, investor lebih bersedia menanamkan modalnya pada perkebunan kelapa sawit. Harga CPO yang cenderung terus meningkat membuat pengusahaan tanaman kelapa sawit lebih menguntungkan daripada pengusahaan tanaman lainnya. Penggunaan lahan gambut di atas 3 meter, dalam jangka waktu sangat panjang, misalnya 100 tahun lebih atau setelah 3 periode pemberian izin HGU untuk kelapa sawit, di mana lapisan gambut akan terus menipis sampai mencapai dasar tanah. Sewaktu lahan gambut tempat pengusahaan tanaman kelapa sawit sekarang tergenang permanen, barulah sawit tidak dapat diusahakan lagi, dan mulai saat itu tidak ada lagi nilai ekonomi dari lahan tersebut.

13. Dalam skenario memperluas areal hutan, perbandiangan manfaat-biaya dengan pendekatan TEV adalah 143,1 dan pendekatan DUV adalah 0,7

B. Rekomendasi

1. Aspek ekonomi, ekologi dan sosial perlu dilakukan pengelolaan secara integratif dengan mempertimbangkan komponen sumberdaya lokal pada ekosistem setempat, agar pengembangan perkebunan kelapa sawit pada berbagai lahan yang ada dapat dilakukan secara berkelanjutan, tanpa merusak kelestarian lingkungan dan menggangu pengusahaan pertanian pangan rakyat setempat.

2. Pemberian atau perpanjangan HGU kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit ke depan harus mempertimbangkan hak-hak adat dan nilai teritorial daerah yang berdekatan dengan pemukimam dan perkampungan untuk membangun pola interaksi yang positif/asosiatif antara perusahaan dan masyarakat. Sangat dianjurkan pelakasanaan pembangunan kebun plasma masyarakat seperti yang diisyaratkan oleh Peraturan Menteri Kehutanan RI Nomor P. 39/Menhut-II/2013 tentang Pemberdayaan Masyarakat setempat Melalui Kemitraan Kehutanan.Untuk itu, perlu dilakukan sosialisasi dan advokasi kepada stakeholder sehingga pemberdayaan masyarakat setempat sesuai Peraturan Menteri Kehutanan RI tersebut.

3. Upaya konservasi lahan Gambut Rawa Tripa harus melibatkan ketiga komponen utama secara simetris (seimbang), yaitu Pemerintah Daerah Nagan Raya; Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit yang beroperasi di daerah penelitian; dan masyarakat lokal. Kemudian membentuk lembaga mitra pengawasan bersama untuk memastikan bahwa upaya konservasi dapat diimplementasikan dan dipatuhi oleh semua pihak terkait. 4. Perlu dilakukan penguatan dan pembinaan terhadap lembaga lokal “Pawang Uteun”

sebagai lembaga fungsional adat lokal dan “Lembaga Mitra (LSM) terpilih” berdasarkan indikator yang disepakati untuk memastikan bahwa pelaksanaan kesepakatan pemerintah daerah, perusahaan perkebunan sawit, dan masyarakat lokal dalam konservasi lahan Gambut Rawa Tripa dapat diimplementasikan secara optimal.

5. Pembangunan perkebunan kelapa sawit pada lahan gambut di atas 3 meter harus mempertimbangkan nilai ekonomi lahan dalam jangka waktu yang sangat panjang, yaitu di atas 100 tahun, atau setelah 3 periode pemberian HGU tanaman kelapa sawit. Karena mengembalikan lahan tersebut ke keadaan semula atau mengalihkan lahan tersebut ke usaha lain sudah tidak memungkinkan lagi (irreversible).

Dalam dokumen SOSIAL EKONOMI KEHIDUPAN MASYARAKAT (Halaman 46-50)

Dokumen terkait