BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kinerja
2.1.6 Evaluasi Kinerja Keperawatan
Dalam atribut Self assessment Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) versi 2007 (yang menjadi dasar penilaian akreditasi sebelum akhir tahun 2012), Keperawatan memiliki 23 parameter penilaian, lebih banyak dari 18 parameter Pelayanan Medis yang diaplikasikan pada pelayanan dokter. Demikian besar peranan dari para perawat di suatu rumah sakit, sehingga sasaran penelitian ini yaitu seberapa besar tingkat pengaruh dari kompetensi keperawatan terhadap kinerja mereka di unit rawat inap rumah sakit, menjadi sangat penting. Efek dari penerapan kebijakan uji akreditasi, dimana saat perawat di akademi, tidak banyak dipelajari pengetahuan
akreditasi, lalu dibebani dengan beban pelajaran sistem manajemen akreditasi pada masa awal bekerja di rumah sakit adalah satu beban kerja bagi pendatang baru di profesi keperawatan.
Penilaian hasil kerja yang dibandingkan dengan target awal sebelum memulai kegiatan pada satu periode adalah pekerjaan evaluasi. Menurut Nursalam (2007) bahwa penilaian kinerja merupakan alat yang paling penting dapat dipercaya oleh menejer perawat dalam mengontrol sumber daya manusia dan produktivitas (Swanburg, 2000). Proses penilian kinerja dapat digunakan secara efektif dalam mengarahkan perilaku pegawai dalam rangka menghasilkan jasa keperawatan dalam kualitas dan volume yang tinggi. Perawat menejer dapat menggunakan proses operasional kinerja untuk mengatur arah kerja dalam memilih, melatih, membimbing merencanakan karir dan memberikan penghargaan kepada perawat yang berkompeten.
2.1.7. Self Assessment Pokja Keperawatan pada Program Akreditasi 2007 Pada program persiapan uji akreditasi rumah sakit versi 2007, pihak Pokja (Kelompok Kerja) Keperawatan diberi informasi secukupnya serta dilatih bagaimana melaksanakan persiapan uji akreditasi khusus tentang Pokja Keperawatan serta tentang uji akreditasi secara umum di rumah sakit. Untuk kemudahan pada Pokja Keperawatan diberikan satu set pemandu self assessment dalam bentuk dokumen untuk dipakai sebagai pemandu proses kerja.
Self assessment Pokja Keperawatan memiliki 7 Standar, sama dengan yang
(Admin), Pokja Instalasi Gawat Darurat dan Pokja Rekam Medis. Sebagai contoh dari butir pertanyaan pada Standar I Pertanyaan I (S.1.P.1.) : “Ada konsistensi antara misi falsafah dan tujuan keperawatan yang merupakan acuan petugas melaksanakan pelayanan keperawatan.”
Tabel 2.1 Standar Pokja Keperawatan
No Standar Jumlah Parameter
(Butir)
1 Falsafah dan Tujuan 1
2 Administrasi dan Pengelolaan 4
3 Staf dan Pimpinan 8
4 Fasilitas & Peralatan 3
5 Kebijakan & Prosedur 2
6 Pengembangan Staf dan Program Pendidikan 2
7 Evaluasi dan Pengendalian Mutu 3
Jumlah 23
Pedoman Self Assessment adalah pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya dijadikan sebagai nilai apakah suatu Pokja tertentu sudah mencapai nilai layak standar atau belum layak. Batas kelayakan tersebut berada diantara ≥ 70 % dan ≤ 90
% dari nilai sempurna 100 % .
Pelaksanaan setiap Pokja harus mengikut sertakan seluruh anggota keperawatan dengan berbagai tugas yang digariskan oleh pihak pimpinan Pokja.
Setiap anggota Pokja Keperawatan berkoordinasi dengan kelompok kelompok kecil dengan tugas-tugas khusus melaksanakan pemenuhan apa saja yang digariskan menjadi standar di bagian-bagian keperawatan. Jadi adalah suatu kewajiban bahwa setiap anggota perawat di rumah sakit yang telah menjalani uji akreditasi, telah mengkaji ulang apa saja yang harus perawatan lakukan dan kerjakan bila mereka
ingin dikatakan bekerja secara profesional di bagian keperawatan rumah sakit modern dan standar.
Perlu diperjelas bahwa setiap perawat dituntut bekerja di rumah sakit menurut uraian tugas yang ditetapkan oleh supervisor. Asuhan keperawatan (pelayanan langsung pada pasien) adalah sentral dari pekerjaan mereka sebagai perawat, tetapi asuhan keperawatan bukan satu-satunya jenis kegiatan para perawat. Di dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang langsung pada pasien, pihak perawat diperlukan mengerjakan porsi pelayanan-pelayanan yang tidak langsung pada pasien tetapi kepada pekerjaan lain.
Pekerjaan-pekerjaan yang lain itu misalnya penanggung jawab pada bagian peralatan di setiap bangsal. Ada juga sebagian perawat yang pada pekerjaan khususnya adalah melakukan tugas-tugas administratif. Jadi setiap perawat tidak selalu memiliki tugas-tugas keperawatan yang serupa. Tugas masing-masing mereka bervariasi diperkaya dengan beberapa tugas pelayanan khusus. Pada akhir dari setiap periode para perawat mengevaluasi bersama dengan suipervisornya masing-masing tentang hasil pekerjaan yang mereka capai selama satu periode. Hasil pekerjaan yang sebelumnya sudah tertulis mendetail di setiap rancangan tugas (job description) yang juga berisi aneka ragam tugas khusus, dinilai berapa persen telah dapat memenuhi target kerja. Rasio dari pencapaian dibandingkan dengan target kerja adalah nilai kinerja yang dapat dicapai oleh setiap perawat dalam setiap periode kerja.
2.2. Akreditasi Rumah Sakit
Akreditasi menurut ensiklopedi nasional adalah suatu bentuk pengakuan yang diberikan oleh pemerintah untuk suatu lembaga atau institusi. Pasal satu Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 417 tahun 2011 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit menyebutkan bahwa Akreditasi rumah sakit adalah pengakuan terhadap rumah sakit yang diberikan oleh lembaga independen yang ditetapkan oleh menteri, setelah dinilai bahwa rumah sakit itu memenuhi standar pelayanan rumah sakit yang berlaku. Untuk sampai kepada pengakuan, rumah sakit melalui suatu proses penilaian yang didasarkan pada standar nasional perumahsakitan (Depkes RI, 1996).
Akreditasi rumah sakit mencakup penilaian terhadap terhadap fisik bangunan, pelayanan kesehatan, perlengkapan, obat-obatan, ketenagaan dan administrasi. Akreditasi dilakukan sekurang-kurangnya setiap tiga tahun sekali dan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Penilaian dilakukan berulang dengan interval yang regular diawali dengan kegiatan kajian mandiri (self assessment) oleh rumah sakit yang dinilai. Survei akreditasi ini dilakukan oleh badan yang terlegitimasi dan di Indonesia adalah komite akreditasi rumah sakit dan sarana kesehatan lainnya (KARS). Sedangkan sertifikasi diberikan oleh dirjen pelayanan medis depkes RI berdasarkan rekomendasi KARS.
2.2.1. Tujuan Akreditasi Rumah Sakit
Menurut Depkes RI (1996), tujuan umum dari akreditasi rumah sakit adalah mendapatkan gambaran seberapa jauh rumah sakit di Indonesia telah memenuhi
berbagai standar yang ditentukan, dengan demikian mutu pelayanan rumah sakit dapat dipertanggungjawabkan.
1. Tujuan umum agar kualitas diintegrasikan dan dibudayakan kedalam sistem pelayanan di rumah sakit
2. Tujuan Khusus
a) Memberikan jaminan mutu, kepuasan dan perlindungan kepada masyarakat;
b) Memberikan pengakuan kepada rumah sakit yang telah menerapkan standar yang ditetapkan;
c) Menciptakan lingkungan internal yang kondusif untuk penyembuhan sesuai standar struktur, proses dan outcomes.
2.2.2. Manfaat Akreditasi Rumah Sakit
1) Peningkatan pelayanan (diukur dengan clinical indicator);
2) Peningkatan administrasi dan perencanaan;
3) Peningkatan koordinasi asuhan pasien;
4) Peningkatan koordinasi pelayanan;
5) Peningkatan koordinasi antar staf;
6) Minimalisasi risiko;
7) Penggunaan sumber daya yang lebih efisien;
8) Penurunan keluhan (pasien dan staf);
9) Meningkatnya kesadaran pegawai akantanggungjawabnya;
10) Peningkatan kerjasama dari semua bagian organisasi.
2.2.3. Dasar Hukum Akreditasi Rumah Sakit
1. Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan, 2. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.
3. SK Menkes Nomor 436/93 menyatakan berlakunya Standar Pelayanan Rumah Sakit dan Standar Pelayanan Medis.
4. SK Dirjen Yanmed Nomor YM.02.03.3.5.2626 Tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit dan Sarana Kesehatan Lainnya.
2.3. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2012).
Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah ada dan tersedia, sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan bukan sesuatu yang dapat dipindahkan dari pikiran seseorang yang telah mempunyai pengetahuan kepada pikiran orang lain yang belum memiliki pengetahuan tersebut dan manusia juga dapat mengetahui sesuatu dengan menggunakan inderanya (Budiningsih, 2005).
Pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Pengetahuan adalah merupakan penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya
seperti mata, hidung, telinga, dan lain sebagainya (Taufik, 2007). Berdasarkan beberapa definisi diatas bisa diambil kesimpulan bahwa pengetahuan adalah aktivitas manusia berupa pengalaman mendengar dan membaca.
Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil tau setelah seseorang melakukan penginderaan suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, indera penciuman, pendengaran, rasa dan raba.
Sebagian besar pengetahuan diperoleh dari mata dan telinga dan pengetahuan merupakan domain kognitif dalam melakukan tindakan (Notoatmodjo, 2012).
Kraiger (1993) membagi knowledge menjadi dua bagian yang saling berhubungan, yaitu:
1) Theoritical Knowledge
Pengetahuan dasar yang dimiliki karyawan seperti prosedur bekerja, moto dan misi perusahaan serta tugas dan tanggung jawab, informasi-informasi lainnya yang diperlukan dan yang diperoleh baik secara formal (sekolah, universitas) maupun dari non formal (pengalaman-pengalaman).
2) Practical Knowledge
Pengetahuan yang diberikan kepada karyawan dengan tujuan untuk memahami bagaimana dan kapan karyawan bersikap dan bertindak dalam menghadapi berbagai masalah dan penerapan prosedur kerja berdasarkan dari pengetahuan secara teori maupun dari pengalaman-pengalaman yang terjadi.
Menurut Notoatmodjo (2012) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, jadi “tahu” adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur apakah orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami dapat diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi, harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi atau yang sebenarnya. Aplikasi ini bisa diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain.
d. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjalankan materi obyek ke dalam komponen tetapi masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja dengan menggunakan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokan dan sebagainya.
e. Sintesis (Synthetis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan dan menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formula baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori-teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian terhadap suatu evaluasi didasari suatu kinerja yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Menurut Meliono (2007), pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a. Pendidikan
Pendidikan adalah sebuah proses perubahan sikap dan tata laku seseorang dan juga kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya
b. Media
Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Contoh dari media masa kini adalah televisi, radio, koran, dan majalah.
c. Keterpaparan Informasi
Pengertian informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. Ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. Selain itu arti informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu tehnik untuk menyiapkan, mengumpulkan, menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisa dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. Informasi sendiri mencakup data, teks, image, suara, kode, program computer, data bases.Perubahan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible), sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yang diperoleh dari data dan observasi terhadap dunia sekitar kita, serta diteruskan melalui komunikasi.
d. Pengalaman
Seseorang itu berperilaku tertentu salah satunya disebabkan karena adanya pemikiran dan perasaan dalam diri seseorang yang terbentuk dalam pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan-kepercayaan dan penilaian-penilaian seseorang terhadap objek tertentu, seseorang dapat memperoleh pengetahuan baik dari pengalaman pribadi maupun pengalaman orang lain.
e. Lingkungan
Belajar berbagai pengetahuan, keterampilan, sikap atau norma-norma tertentu dari lingkungan sekitar, lingkungan tersebut-disebut sebagai sumber-sumber belajar, karena dengan lingkungan tersebut memungkinkan seseorang berubah menjadi tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak terampil menjadi terampil.
2.4. Karakteristik Individu
Mathis dan Jackson (2002) menyatakan bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja dari individu, yaitu kemampuan mereka, motivasi, dukungan yang diterima, keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan dan hubungan mereka dengan organisasi. Kinerja perawat dipengaruhi oleh karakteristik individu berupa pengetahuan, keterampilan, kapabilitas, sikap dan perilaku
Makmuri (2004) menyebutkan bahwa manusia berperilaku baik ataupun buruk ditentukan oleh 4 (empat) variabel yaitu: karakteristik biografik, kemampuan, kepribadian dan proses belajar. Karakteristik biografik pada diri individu dapat berupa: umur, jenis kelamin, status perkawinan, jumlah anggota dalam keluarga, pendapatan dan senioritas. Pernyataan ini didukung oleh Hughes (dalam Atkinson, 2004) yang menemukan bahwa faktor karakteristik manusia berupa umur dan jenis kelamin serta lama kerja mempengaruhi aktivitas bekerja seseorang
Pendapat lain yang dikemukakan Rakhmat (2004), salah satu faktor situasional yang mempengaruhi perilaku manusia adalah faktor - faktor sosial yang di
dalamnya adalah karakteristik individu dalam populasi berupa usia, kecerdasan, dan karakteristik biologis. Pendapat ini di dukung oleh Darma (2005), bahwa faktor-faktor karakteristik individu yang mempengaruhi kinerja meliputi: umur, jenis kelamin, pendidikan, lama kerja, penempatan kerja.
2.5. Keperawatan
2.5.1. Pengertian Keperawatan
Definisi keperawatan yang diberikan International Council Of Nurse (1965):
” The nurse is a person who has a complete a programe of a basic nursing education and is a qualified an authorized in her country to supply the most responsible nservice of nursing for the promotion of health, prevention of illness, and the care of the sick” ( Kumar, 2002).
Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan baik didalam maupun diluar negeri yang diakui oleh pemerintah RI sesuai dengan peraturan perundangan dan telah disiapkan untuk memiliki kompetensi yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia serta teregistrsi. Perawat di rumah sakit sebagai perawat pelaksana yaitu pemberi asuhan keperawatan sehingga apabila kita akan melihat kinerja perawat maka yang dilihat adalah hasil yang dicapai oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Hasil kerja perawat di rumah sakit dapat dinilai melalui pengamatan langsung yaitu proses pemberian asuhan keperawatan atau laporan dan catatan pasien (dokumentasi) asuhan keperawatan yang telah di berikan (hasil asuhan keperawatan) (PPNI, 2002). Dengan demikian
pencapaian standar praktik keperawatan yang tinggi atau kinerja perawat yang tinggi dalam pelayanan keperawatan akan memengaruhi tingkat kualitas dalam keperawatan. Asuhan keperawatan yang optimal merupakan salah satu indikator dari kinerja perawat, dimana untuk mewujudkan sangat diperlukan dukungan tenaga keperawatan yang berdasarkan kaidah-kaidah profesinya yang berlaku (Gillies, 2006).
2.5.2. Pelayanan Keperawatan
Perawat adalah para profesional yang bekerja mengabdikan profesinya pada pekerjaan merawat kesehatan di institusi ataupun rumah sakit yang menugaskannya.
Menurut Henderson (1980) yang dikutip oleh Ali (2002) bahwa pelayanan keperawatan (nursing service) adalah upaya untuk membantu individu baik sakit maupun sehat, dari lahir sampai meninggal dunia dalam bentuk peningkatan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki sehingga individu yang dilayani tersebut dapat secara optimal melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dan professional.
Para perawat Indonesia Profesional adalah mereka yang telah diakui memiliki masa pendidikan profesi dari SPR (Sekolah Pengatur Rawat) di masa sebelum tahun 2000 sampai mereka yang berpendidikan minimal D3 keperawatan ataupun kebidanan, jenjang S1 dan S2 keperawatan. Sebelum direkrut bekerja di suatu institusi atau rumah sakit bahwa para perawat sudah melalui masa pelatihan yang terstruktur dan sistematis yang distandarisasi oleh Kementereian Kesehatan di masing-masing institusi akademi dan universitas yang juga telah diakreditasi.
dalam masalah kompetensi, diberi Sertifikat Tanda Registrasi (STR) dan SIP (Surat Izin Praktek) keperawatan. Pihak rumah sakit yang merekrut selalu melakukan masa percobaan kerja (minimal 3 bulan) sebelum para perawat direkrut dan disyahkan menjadi perawat yang bekerja.
Mutu pelayanan rumah sakit banyak dipengaruhi oleh kinerja para perawat yang jumlah ketenagaan mereka selalu lebih banyak dibandingkan dengan kelompok profesi lain. Pada masa uji akreditasi terdahulu sebelum tahun 2012, Kelompok Kerja Keperawatan (Pokja Keperawatan) selalu menjadi anggota dari 5 kelompok kerja dasar yang diutamakan untuk uji akreditasi setiap rumah sakit. Hal ini menggambarkan bahwa prioritas keberadaan pelayanan keperawatan adalah salah satu yang paling penting di rumah sakit.
Penugasan para perawat juga terdistribusi ke semua bagian pelayanan, selain di unit rawat inap, sebagai fakta bahwa ada beberapa anggota keperawatan dialih tugaskan ke bagian manajemen pelayanan lain karena keahlian mereka. Ada beberapa tenaga senior keperawatan dialih-tugaskan kebagian manajemen rekam medis misalnya, karena pengenalan mereka mengindentifikasi tulisan para dokter yang memang sering sulit dibaca.
Perawat dengan jumlah terbanyak memerlukan suatu sistem pengaturan manajemen tersendiri dalam struktur organisasi keperawatan dan dalam pengawasan kepanitian (Komite) keperawatan. Pihak keperawatan sendiri memiliki kepanitian-kepanitian (task force) atau komite. Komite-komite itu seperti komite kode etik, disiplin keperawatan, Gugus Kendali Mutu (GKM), Pengendalian Nosokomial,
keselamatan pasien di rumah sakit. Komite Diklat mengurusi tentang kebutuhan pelatihan keterampilan keperawatan ataupun pendidikan berkelanjutan untuk peningkatan mutu pelayanan keperawatan. Pihak pengembangan sumber daya manusia memiliki akses yang bermakna terhadap pengembangan sumber daya manusia kelompok keperawatan.
2.6. Rumah Sakit dan Pelayanan Kesehatan 2.6.1. Rumah Sakit Umum
Rumah Sakit Umum adalah sebutan untuk rumah-sakit, tempat kegiatan terutama untuk melayani keperluan masyarakat terkait kesehatan ataupun kesakitan, yang dikelola sepenuhnya untuk pelayanan yang bersifat umum. Arti bersifat umum adalah tidak hanya melayani penyakit-penyakit kelompok spesialis tertentu saja.
Klasifikasi rumah sakit diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No, 340/Menkes/Per/III/2010 menurut kekhususan lingkup pelayanan. Rumah sakit umum (general hospital) menyediakan pelayanan diseluruh bidang dan penyakit.
Rumah sakit khusus (specialized hospital) meliputi semua pelayanan khusus pada suatu bidang spesialisasi, kelompok umur ataupun kelompok pelayanan kesehatan / penyakit. Semua rumah sakit tersebut kemudian distratifikasi menjadi beberapa kelas berbasis pada kelengkapan pelayanan,peralatan, fasilitas, infrastruktur, administrasi dan sistem manajemen.
2.6.2. Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan adalah pelayanan yang diberikan rumah sakit.
Pelayanan ini di Indonesia terdiri dari 4 komponen jenis pelayanan yaitu:
(1) Promosi, (2) Pencegahan, (3) Kuratif dan (5) Rehabilitatif. Pelayanan kuratif secara umum dan khusus dilakukan di rumah sakit melalui 3 pos pelayanan utama yaitu :
1) Pelayanan gawat darurat, 2) Pelayanan rawat jalan, 3) Pelayanan rawat inap
Pelayanan diagnostic, dan penunjang lain seperti pelayanan gizi dan lain-lain adalah pelayanan penunjang yang tidak diperhitungkan sebagai pintu masuk utama bagi akses pasien ke pelayanan rumah sakit. Registrasi pertama selalu dilakukan di bagian Rekam Medis (RM) baik di pos registrasi RM ataupun di pos Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Pelayanan yang paling lengkap di rumah sakit didominasi oleh pelayanan keperawatan terutama pelayanan di unit rawat inap. Di unit rawat inap para perawat secara bergantian dalam 3 shift bekerja sepanjang hari dan sepanjang minggu dari waktu kewaktu. Jadi tepat bila usaha mencermati kinerja keperawatan, maka pencermatan tersebut dilakukan di lingkungan unit rawat inap keperawatan.
Keperawatan adalah suatu profesi yang distandarisasi oleh pihak Departemen Kesehatan dalam melakukan pelayanan keperawatan menurut tingkat kompetensi setiap perawat. Hal ini diterangkan melalui SK Direktur rumah sakit, Surat Tanda
Registrasi dan Surat Ijin Peraktek oleh pihak Dinas Kesehatan setempat seperti yang diterangkan pada buku Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Rumah Sakit (2012).
Setiap perawat bekerja di dalam struktur organisasi di mana ia ditempatkan dan wajib melaksanakan kode etik asosiasi keperawatan serta melaksanakan pelayanan yang merujuk pada Standar Prosedur Operasional Keperawatan yang disyahkan dan berlaku di rumah sakit.
2.7. Landasan Teori
Kinerja perawat dalam penelitian ini mengacu kepada tindakan keperawatan dalam memeberikan pelayanan. Menurut Gibson et al. (2003) ada tiga variabel yang mempengaruhi perilaku dan kinerja seseorang yaitu: variabel individu, yang meliputi kemampuan, keterampilan mental, fisik, dan latar belakang keluarga, tingkat sosial, pengalaman pekerjaan, demografis, umur, etnis. Variabel organisasi meliputi sumberdaya, kepemimpinan, insentif, struktur dan disain kerja. Sedangkan variabel psikologis meliputi persepsi, sikap, keperibadian, belajar dan motivasi. Ketiga variabel tersebut mempengaruhi perilaku kerja yang akhirnya akan berpengaruh pada kinerja personel.
Mathis dan Jackson (2002) menyatakan bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja dari individu yaitu kemampuan mereka, motivasi, dukungan yang diterima, keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan dan hubungan mereka dengan organisasi. Kinerja perawat dipengaruhi oleh karakteristik individu berupa pengetahuan, keterampilan, kapabilitas, sikap dan perilaku
2.7. Kerangka Konsep Penelitian
Berdasarkan landasan teori maka sebagai kerangka konsep penelitian adalah sebagai berikut:
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian Pengetahuan tentang
Akreditasi a. Falsafah dan tujuan b. Administrasi dan
pengelolaan c. Staf dan pimpinan d. Fasilitas dan peralatan e. Kebijakan dan prosedur f. Pengembangan staf dan
program pendidikan g. Evaluasi dan pengendalian
Mutu
Karakteristik Individu a. Jenis kelamin
b. Umur c. Pendidikan d. Status keluarga e. Lama kerja
Kinerja Perawat
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian cross sectional dengan tipe explanatory, bertujuan untuk menjelaskan hubungan pengetahuan perawat tentang akreditasi rumah sakit dan karakteristik individu dengan kinerja perawat di rumah sakit.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Mitra Sejati di Pangkalan
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Mitra Sejati di Pangkalan