III. AKUNTABILITAS KINERJA
3.3. Evaluasi Kinerja Untuk Setiap Sasaran Kegiatan (termasuk
Analisis dan evaluasi capaian kinerja tahun 2016 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB dapat dijelaskan sebagai berikut :
Sasaran 1 : Tersedianya teknologi pertanian spesifik lokasi
Untuk mencapai sasaran tersebut, diukur dengan dua indikator kinerja. Adapun pencapaian target dari indikator kinerja dapat digambarkan sebagai berikut:
Indikator Kinerja Target Realisasi %
Jumlah inovasi teknologi spesifik
lokasi(teknologi) 4 6 150
Jumlah teknologi spesifik lokasi
komoditas lainnya 1 1 100
Indikator kinerja sasaran 1 dicapai melalui 2 indikator kinerja. Indikator kinerja yang pertama adalah jumlah teknologi spesifik lokasi dimana target 4 teknologi, dapat terrealisasi sebanyak 6 teknologi atau sebesar 150%. Kegiatan tersebut berasal dari kegiatan pengkajian dalam DIPA 2016. Adapun output dari kegiatan DIPA tersebut adalah :
1). Kajian Peningkatan Efisiensi Pemupukan Melalui Beberapa Metode dalam Upaya Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi Usahatani Jagung.
Kegiatan ini dilakukan di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Barat, dan Kabupaten Lombok Utara, dengan total luas areal yaitu 4,5 ha.
Kegiatan ini menggunakan lima perlakuan pemupukan yaitu analisis Laboratorium, Sofware PuJs, Alat PUTS, BWD dan cara petani).
Teknologi yang dihasilkan dari kegiatan pengkajian ini yaitu teknologi spesifik lokasi pemupukan berdasarkan PUTS dan PuJS.
Rekomendasi pemupukan yang efisien (PUTS dan PuJS) dijadikan sebagai acuan para Penyuluh Lapangan (PPL) dan petani di lokasi pengkajian dan sekitarnya dalam melakukan kegiatan pemupukan pada komoditas jagung.
Hasil kegiatan lainnya adalah diseminasi varietas jagung Bima-20 URI sebagai salah satu VUB jagung hibrida Badan Litbang Pertanian, dimana petani dan penyuluh lapang akan mengembangkan varietas ini pada musim berikutnya. Hasil pengamatan terhadap 5 perlakuan pemupukan
2). Kajian Penerapan Teknologi dalam Pengembangan Budidaya Tanaman Tebu Lahan Kering di Kabupaten Dompu.
Output kegiatan ini yaitu mendapatkan teknologi tumpangsari tebu dengan palawija, dan varietas tebu yang adaptif. Kegiatan pengkajian ini dilaksanakan di Desa Beringin Jaya Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu.
Komponen teknologi yang diterapkan antara lain yaitu: 1) penggunaan bibit berasal dari budchip (mata tunas); 2) pengaturan jarak tanam (juring tunggal) 130 x 50 cm; 3) pemupukan (Urea 200 kg + NPK 600 kg + ZA 400 kg per hektar); 4) pembubunan I dan II; 5) penggemburan tanah dan penyiangan; 6) pengendalian OPT dan klentek. Dari kegiatan tersebut, secara teknis penerapan teknologi mendapat respon sangat baik di tingkat petani untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rumah tangganya.
Teknologi tumpangsari tebu dengan palawija dapat dikembangkan karena petani selama menunggu produksi tebu mampu memperoleh penghasilan dari tanaman palawija. Namun, pada kajian ini terdapat kendala serangan kera, dan babi, sehingga tidak dapat panen.
VUB tebu yang adaptif dengan rendemen tinggi adalah PS851 dan PS862. VUB ini dapat direkomendasikan dilokasi pengembangan.
3). Penerapan Teknologi Gertak Birahi dan Manajemen Pakan Sorgum Batang Manis (Sorghum Bicolor L.Moench) untuk Peningkatan Efisiensi Reproduksi Sapi Bali.
Output kegiatan ini yaitu teknologi pakan menggunakan sorgum untuk induk sapi. Kegiatan pengkajian dilaksanakan di Kabupaten Lombok Timur pada lokasi baru yang potensial untuk pengembangan sorgum.
Kegiatan ini menggunakan brangkasan tanaman sorgum sebagai salah satu pakan ternak yang dilaksanakan oleh kooperator dan petani non kooperator. Pengukuran biomasa segar tanaman sorgum pada umur 55, 65, 75 dan 105 hari.
Kondisi rata-rata induk perlakuan secara umum dalam kondisi fisiologis yang sehat, pemberian pakan tanaman sorgum dapat memperbaiki kondisi fisiologis induk (RBC, HBG, HCT) dan mempercepat munculnya gejala birahi.
Produksi terendah biomas sorgum adalah pada umur panen muda (45 hari) dengan jarak tanam 50 x 20 cm, sedangkan produksi tertinggi pada umur panen 65 hari dengan jarak tanam 50 x 30 cm2
Pemberian pakan tambahan sorgum lebih ekonomis dibanding rumput alam.
4). Pemberian Pakan Tambahan Pada Pedet Prasapih dan Kebutuhan Nutrisi Pedet Sapihan Sapi Bali
Output dari kegiatan ini yaitu teknologi formula pakan tambahan spesifik lokasi untuk pedet prasapih pada sapi Bali.
Kegiatan dilakukan di Kabupaten Lombok Utara pada satu kelompok ternak (Kelompok Ternak Ngiring Datu) dengan melibatkan 26 orang peternak (26 ekor).
Kegiatan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan protein untuk pedet sapihan sapi bali sehingga mampu mendapatkan pertumbuhan optimum sebesar 20 - 22%.
Pemberian pakan tambahan pada periode menyusu meningkatkan pertumbuhan dan berat sapih.
Formulasi pakan tambahan dengan kandungan protein kasar lebih dari 17% tidak memberikan peningkatan PBB lanjutan.
Pakan tambahan dengan kandungan protein kasar 18 dan diberikan sebanyak 1% dari berat badan menghasilkan pertumbuhan optimal pada pedet sapihan.
Penanaman Turi , gamal, Kelor dan Lamtoro Pemberian formula pakan tambahan spesifik lokasi untuk pedet prasapih pada sapi Bali
5). Strategi Meningkatkan Ketersediaan Pakan Ternak Ruminansia Mendukung Pengembangan Kawasan Peternakan di NTB
Output kegiatan ini yaitu model penyediaan pakan ternak ruminansia. Kegiatan dilakukan di 2 kabupaten yaitu Lombok Utara, Lombok Tengah,
Lombok Barat, dan Kabupaten Sumbawa Barat. Tanaman utama sebagai pakan ternak adalah tanaman lamtoro taramba, dan sisa tanaman pangan (jagung) yang di tanaman sebagai tanaman pengisi lorong.
Penanaman Turi pada pematang sawah menghasilkan 203 – 440 gram/ pohon melalui panen 4 cabang setelah Turi berumur 6 bulan.
Penanaman Ubi kayu pada pematang sawah dapat menghasilkan biomas 205 – 325 gr/pohon interval waktu 70 – 90 hari.
Kegiatan penanaman pakan di lahan kering Kabupaten Sumbawa Barat
Kegiatan penanaman pakan di lahan Basah Kabupaten Lombok Barat
Pemisahan kandang sebagai salah satu perlakuan
Penimbangan pedet sapi
6). Model Peningkatan Produktivitas Tanaman Pangan Melalui Konservasi Air Dan Manajemen Pemupukan
Teknologi yang dihasilkan yaitu teknologi irigasi dan pemupukan pada daerah DAS di NTB.
Kegiatan dilaksankan di salah satu DAS terpilih yaitu pada DAS Jurang Sate yang masuk dalam wilayah Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Barat. Adapun komoditas yang dikaji adalah padi dan kacang kedelai.
Perlakuan pengairan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata pada variabel tinggi tanaman, jumlah anakan, persentase anakan produktif, berat biomas kering, dan rasio akar-biomas diatas tanah.
Sistem pengairan basah kering secara nyata menghasilkan berat 1000 bulir gabah lebih tinggi 1.03 gr dibandingkan sistem PTT. Selain itu, indeks panen sistem basah kering (0.38) juga lebih tinggi daripada sistem PTT (0.27). Kedua komponen tersebut diduga berkontribusi pada berat gkp tertinggi pada sistem pengairan basah kering.
Indikator yang kedua adalahJumlah teknologi spesifik lokasi komoditas lainnya yang ditargetkan sebanyak 1 teknologi dan terealisasi sebanyak 1 teknologi dengan capaian realisasi sebesar 100%. Kegiatan tersebut adalah : 1). Pengelolaan Sumber Daya Genetik Tanaman Pisang Lokal di Pulau Lombok
Teknologi yang dihasilkan yaitu teknologi perbanyakan bibit pisang sehat secara cepat.
Dari beberapa jenis pisang yang digunakan, maka jenis pisang seribu yang memperlihatkan pertumbuhan eksplant menjadi akar dan bagian tanaman lainnya lebih cepat, disusul pisang raja, cavendish dan lainnya.
Sedangkan pisang tembaga tingkat kontaminasinya terhadap jamur adalah paling rendah.
Media aklimatisasi terbaik adalah AS2:K0:T1, yang diindikasikan pertumbuhan bibit paling cepat.
Konservasi insitu dilakukan di dusun Padak Guar desa Senanggalih Lombok Timur, dan merupakan pelestari SDG tanaman pisang.
Tahapan Pertumbuhan Sub Kultur
pertumbuhan Aklimatisasi hingga bibit siap tanam
Sasaran 2 : Tersedianya Model Pengembangan lnovasi Teknologi Pertanian Bioindustri
Untuk mencapai sasaran tersebut, diukur dengan satu indikator kinerja. Adapun pencapaian target dari indikator kinerja dapat digambarkan sebagai berikut:
Indikator Kinerja Target Realisasi %
Jumlah Model Pengembangan lnovasi
Pertanian Bioindustri Spesifik Lokasi 2 model 2 model 100 Indikator kinerja ”jumlah model pengembangan inovasi pertanian Bioindustri Spesifik lokasi” menghasilkan output berupa dua model yang dicapai melalui dua kegiatan yaitu :
1. Sistem Pertanian Bioindustri Berkelanjutan Berbasis Usahatani Jagung Pada Lahan Kering Beriklim Kering Di Nusa Tenggara Barat, menghasilkan satu rancangan model sistem pertanian bioindustri berkelanjutan berbasis usahatani jagung pada lahan kering beriklim kering di Nusa Tenggara Barat. Teknologi/model yang dihasilkan yaitu Model Bioindustri Lahan Kering
Beriklim Kering di NTB.
Kegiatan dilaksanakan di Desa Labangka Kabupaten Sumbawa, dengan melibatkan 2 kelompok tani (jumlah anggota sebanyak 58 orang) dan total luas kawasan sebesar 67 ha, serta Jumlah ternak sapi sebanyak 152 ekor.
Kegiatan yang dilaksanakan diantaranya perbaikan teknologi budidaya jagung yang di relay dengan tanaman kacang-kacangan (kacang hijau dan kacang tanah), pemeliharaan ternak sapi secara intensif dikandangkan dan pemberian pakan legume pohon serta sisa tanaman pangan, pemeliharaan ayam KUB, pengelolaan limbah ternak sapi menjadi pupuk cair bio-urin serta mengaplikasikannya pada tanaman kacang-kacangan dan sayuran.
Hasil pupuk cair biourine, sementara ini belum dikomersialkan oleh petani dikarenakan akan digunakan oleh anggota di 2 kelompok untuk meminimalisir penggunaan pupuk anorganik, dan memperkenalkan pada kelompok lainnya di sekitar lokasi kegiatan.
2. Sistem Pertanian Bioindustri Berbasis Integrasi Tanaman Ternak Di Lombok Tengah, menghasilkan satu rancangan model sistem pertanian bioindustri berbasis kawasan integrasi tanaman ternak.
Teknologi/model yang dihasilkan yaitu Model Bioindustri Berbasis Kawasan Integrasi Tanaman Ternak Di Lombok, NTB.
Kegiatan dilaksanakan di Kabupaten Lombok Tengah. Peningkatan produktivitas padi, dilakukan dengan penerapan jarwo 2:1 pada luasan 100 ha, serta optimalisasi pemanfaatan air pada lahan tadah hujan dengan menggunakan pompa pada luasan 5 ha. Perbenihan padi yang dilaksanakan, menggunakan benih bersertifikat kelas SS Inpari-33 (kerjasama UPBS BPTP NTB).
Aplikasi bio-urine yang dihasilkan kelompok dilakukan pada luasan 1 ha. Sedangkan perbaikan kandang untuk kesehatan ternak dan sanitasi kandang terintegrasi instalasi limbah pada 13 unit (tahun 2015 sebanyak 9 unit). Kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan limbah antara lain yaitu : Pengawalan pemanfaatan instalasi Biogas pada 16 unit; Prosessing kompos tahun 2016 pada 1 unit instalasi dengan kapasitas 25 t/siklus dan baru mampu berproduksi sebanyak 75 ton.
Study Banding
Pelatihan/FGD
Produk Cen Su Le
Aneka Produk
Uji rasa
Sasaran 3 : Terdiseminasikannya inovasi teknologi pertanian spesifik lokasi
Untuk mencapai sasaran tersebut, diukur dengan 2 (dua) indikator kinerja. Adapun pencapaian target dari indikator kinerja tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Indikator Kinerja Target Realisasi %
Jumlah teknologi komoditas
strategis yang terdiseminasi ke pengguna 5 teknologi 9 teknologi 180 Jumlah teknologi komoditas
lainnya yang terdiseminasi ke
Indikator kinerja sasaran ketiga yang ditargetkan dalam Tahun 2016 yaitu Terdiseminasikannya inovasi teknologi pertanian spesifik lokasi . Sasaran ini dapat tercapai melalui 2 (dua) indikator kinerja yaitu 1). jumlah teknologi komoditas strategis yang terdiseminasi ke pengguna, dan 2). Jumlah teknologi komoditas lainnya yang terdiseminasi ke pengguna. Indikator kinerja sasaran yang pertama adalah “jumlah teknologi komoditas strategis yang terdiseminasi ke pengguna” dicapai melalui sepuluh kegiatan yaitu :
1). Peningkatan Komunikasi, Koordinasi, dan Diseminasi Inovasi Pertanian di Nusa Tenggara Barat
Teknologi yang terdiseminasi ke pengguna yaitu teknologi diseminasi melalui media cetak mendukung peningkatan provitas pada 7 komoditas Strategis.
Kegiatan dilakukan di 3 kabupaten yaitu Lombok Timur, Lombok Barat dan Lombok Utara, dengan total luas areal yaitu 4,5 ha.
Kegiatan Gelar teknologi peningkatan produksi padi dengan sistem tabela jarwo khusus pd lahan irigasi terbatas. Hasilnya sangat direspon petani kooperator dengan provitas 4-7,2 ton GKP/ha (provitas sebelumnya 2,5 - 3,5 ton/ha).
Pemberdayaan BPP pada 2 lokasi yaitu BPP Gerung dan BPP Seteluk serta pembinaan POS Penyuluhan Desa (POSLUHDES) di Desa Gapuk Gerung Dan Desa Seteluk Atas Kecamatan Sateluk KSB. Pada lokasi BPP dilakukan Display 7 varietas padi dan Demplot ayam KUB (BPP Gerung), serta Demplot pemanfaatan lahan pekarangan dan ayam KUB (BPP Seteluk).
Kegiatan Open house menampilkan 7 komoditas strategis nasional dihadiri sekitar 1.700 pengunjung. Mendukung kegiatan tersebut telah diterbitkan 7 judul leaflet (Peningkatan provitas Padi melalui sistem Tabela-Jarwo, PTT Jagung dan Kedelai, Hama Penyakit Padi, Penyakit Cacing pada sapi, Biochar pada Tanaman Bawang Merah, dan Budidaya Ayam KUB).
Kegiatan pertemuan tingkat provinsi dan kabupaten dilaksanakan di 10 Kab./kota dengan peserta masing-masing 75 orang terdiri dari unsur LITKAJIBANGDIKLATLUHRAB. Kegiatan workshop koordinasi/diseminasi dilaksanakan 2 kali.
Mendukung kegiatan diseminasi teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian, telah dilakukan siaran TV sebanyak 4 kali dengan topik ayam KUB, Open house, temu lapang dan panen padi kegiatan UPSUS di Desa Sermong Taliwang, serta temu lapang padi Jarwo Super di Desa Dete Lape Sumbawa. Selain itu, juga dilakukan publikasi melalui koran lokal sebanyak 3 judul.
2). Diseminasi/Advokasi Inovasi Pertanian.
Teknologi yang terdiseminasi ke pengguna yaitu teknologi budidaya ayam KUB.
Kegiatan budidaya ayam KUB yang dilaksanakan di visitor plot BPTP NTB
Koordinasi UPSUS dan Workshop Diseminasi Hasil Pengkajian BPTP NTB di Kabupaten/Kota
Kabupaten/Kota. Visitor plot ternak pada BPTP NTB dijadikan sebagai tempat konsultasi dan memperoleh informasi teknologi, study banding beberapa PPL dan tempat magang para siswa-siswi.
Pembuatan lieflet dan media cetak lainnya terkait budidaya ayam KUB dilakukan sebagai pendukung dalam mempercepat transfer teknologi kepada pengunjung dan peserta magang/study banding. Selain itu juga dilakukan publikasi dalam bentuk siaran TV mengenai budidaya ayam KUB.
Kegiatan pengembangan ayam KUB pada visitor plot aneka ternak
Siaran TV yang merupakan salah satu dari kegiatan
publikasi BPTP NTB
Selain itu BPTP mengikuti sejumlah pameran pembanguan pertanian yang diselenggarakan baik tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Beberapa pameran yang diikuti: Pameran Kementerian pertanian di Denpasar, Pameran Gebyar Perbenihan di Puyung Lombok Tengah, Pameran Kementerian Pertanian di Mataram, Pameran Open House BPTP NTB, Pameran Temu lapang, Pameran Dies Natalis Unram di Mataram, Pameran Pekan Daerah, Pameran Hari Pangan Sedunia di Kabupaten Sumbawa Barat, pameran HPS Nasional di Boyolali.
3). Pengembangan Taman Agro Inovasi dan Agri Mart di NTB.
Teknologi yang terdiseminasi ke pengguna yaitu teknologi spesifik lokasi pemanfaatan lahan pekarangan.
Taman Agro Inovasi berada di Kebun Narmada, dan AgriMart berada di halaman Kantor BPTP NTB. Taman Agroinovasi menampilkan teknologi dengan konsep pemanfaatan pekarangan yang didisain dalam bentuk taman, dengan berbagai tanaman sayuran.
Taman Agroinovasi sudah berjalan cukup baik sebagai tempat belajar dan konsultasi. Dari sekitar 1.500 orang pengunjung, sekitar 150 orang diantaranya datang untuk belajar/konsultasi dan latihan di taman agro. Pengunjung berasal dari siswa SD, SLTP, SLTA, Mahasiswa (dalam dan luar daerah NTB), penyuluh lapangan (PPL) se NTB, TNI dan POLRI, swasta, dan petani.
Untuk Agri Mart, sekitar 10 - 15 macam produk olahan yang didisplay, termasuk produk sayuran segar yang dihasilkan di Taman Agro Inovasi. Produk olahan yang didisplay berasal dari Kelompok tani Binaan BPTP, atau dari hasil Litkaji yang sedang berlangsung. Jumlah pengunjung yang datang ke Agri Mart sekitar 5 - 10 orang/hari.
4). Pendampingan Kawasan Pertanian Nasional Tanaman Pangan. Padi
Pendampingan Kawasan Padi di NTB tahun 2016 telah dilaksanakan di Kabupaten Sumbawa (Kecamatan Lape dan Lopok) dan Kabupaten lombok Tengah (kecamatan Pringgarata) yang tersebar di 8 desa dan melibatkan 84 kelompoktani pada areal seluas 2.507 ha.
Kegiatan Demfarm PTT di Desa Dete, Langam, Berora (Kab. Sumbawa), dan Desa Murbaya (Lombok Tengah) memberikan contoh nyata penerapan teknologi PTT yang ditunjukkan dengan produktivitas rata-rata mencapai 7,94 t/ha sedangkan hasil dari petani pembanding rata-rata 6,50 t/ha (kenaikan hasil 12,59 %).
Adopsi 12 komponen teknologi PTT sebagai indikator keberhasilan pendampingan meningkat dari 44,9% sebelum pendampingan menjadi 67,2% setelah pendampingan (meningkat 22,3%). Hal ini menunjukkan bahwa pendampingan telah berhasil meningkatkan adopsi komponen teknologi.
Terdapat 7 komponen teknologi PTT padi yang diadopsi petani secara meluas sebagai hasil pendampingan yaitu: pengolahan tanah >7 hari, penggunaan benih bermutu; penanaman bibit muda; penanaman bibit 1-tiga batang/rumpun, penataan tanaman dengan jajar legowo; pengendalian hama sesuai anjuran, dan panen tepat waktu.
Dari 12 komponen teknologi PTT tercatat 5 komponen teknologi yang perlu menjadi prioritas sebagai materi penyuluhan pada pendampingan pengembangan kawasan padi selanjutnya karena tingkat adopsi yang masih rendah tetapi sangat berpengaruh terhadap hasil padi yaitu: penggunaan pupuk organik; pemupukan berdasarkan rekomendasi, pengendalian penyakit, dan pengelolaan air.
Pendampingan cukup efektif meningkatkan adopsi komponen teknologi PTT yang tercermin pada hasil panen, hal ini nampak dari adopsi komponen teknologi setelah pendampingan mencapai 67,2% dengan hasil rata-rata padi sebesar 6,38 t/ha, sedangkan adopsi komponen teknologi sebelum pendampingan sebesar 44,9% hasil padi rata-rata hanya mencapai 5,77 t/ha atau terjadi kenaikan hasil sebesar 10,57%, dan 13,9% dibanding petani non kawasan pada musim yang sama, jauh lebih tinggi dibandingkan target hasil rata-rata padi NTB sebesar 5,0%.
Pelaksanaan kegiatan pelatihan telah dilaksanakan sebanyak 4 kali, sedangkan kegiatan lainnya sebagai narasumber pada pertemuan tingkat
Provinsi dan Kabupaten dilaksanakan sebanyak 6 kali. Kegiatan diseminasi berupa temu lapang telah dilaksanakan sebanyak 1 kali dan media informasi yang dihasilkan antara lain buku (500 eksemplar) dan leaflet 2 judul (1.000 eksemplar).
Kegiatan sosialisasi dan pendampingan kawasan padi
Jagung
Teknologi yang terdiseminasi ke pengguna yaitu teknologi spesifik lokasi budidaya jagung dengan pendekatan PTT.
Kegiatan dilakukan di Kecamatan Empang Kabupaten Sumbawa. Kegiatan yang dilaksanakan yaitu Demfarm jagung seluas 10 ha, dan Display VUB jagung seluas 5 ha. Kegiatan Display VUB memperkenalkan varietas Bima-19 dan Bima-20 URI.
Kegiatan diseminasi teknologi dilakukan melalui pelatihan pada setiap tahapan pendampingan teknologi, temu lapang, dan narasumber pada pertemuan tingkat Provinsi dan Kabupaten. Selain itu dilakukan pula melalui penyebaran informasi media cetak sebanyak 2 judul.
Keberhasilan yang dicapai yaitu respon yang baik dari petani mengenai Teknologi budidaya jagung dengan pendekatan PTT. Selain itu, VUB jagung varietas Bima-19 dan Bima-20 cukup diminati petani di lokasi kegiatan dan sekitarnya. Ini terlihat dengan adanya komitmen dari petani di Kecamatan Empang untuk melakukan penanaman jagung varietas Bima-19 dan Bima-20 URI pada MH 2016/2017.
Pendampingan Kawasan Jagung dan Temu Lapang
Kedelai
Teknologi yang terdiseminasi ke pengguna yaitu teknologi spesifik lokasi budidaya kedelai dengan pendekatan PTT.
Kegiatan dilakukan di 3 kabupaten yaitu Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu, dan Kabupaten Lombok Tengah. Kegiatan yang dilaksanakan yaitu Demfarm di Kabupaten Dompu (8,9 ha), dan Kabupaten Lombok Tengah (3,5 ha), serta kegiatan Display VUB yang dilaksanakan di Kabupaten Bima (2,2 ha).
Kegiatan Demfarm menggunakan varietas Anjasmoro dengan rata-rata produktivitas sebesar 1,84 t/ha. Sedangkan kegiatan Dispaly VUB menggunakan varietas DEGA (2,26 t/ha), Burangrang (2,42 t/ha), Anjasmoro (1,83 t/ha), dan Dena-1 (1,81 t/ha).
Adopsi teknologi budidaya kedelai dengan pendekatan PTT diadopsi sebanyak 59 % oleh petani kawasan, dan 39,9% oleh petani non kawasan.
Informasi teknologi disampaikan melalui pelatihan petani dan petugas, kegiatan temu lapang, sebagai narasumber di tingkat Provinsi dan
Kabupaten, serta melalui media informasi berupa leaflet sebanyak 2.000 eksemplar.
Kegiatan pendampingan di kawasan Kedelai
5). Pendampingan dan Dukungan Teknologi UPSUS Komoditas Strategis Kementan.
Teknologi yang terdiseminasi ke pengguna yaitu teknologi budidaya padi, jagung, kedelai dengan pendekatan PTT.
Kegiatan dilakukan di 10 Kabupaten/Kota di NTB.
Kegiatan yang dilaksanakan antara lain Demfarm dan Display VUB mendukung pendampingan teknologi PTT pada komoditas padi, jagung, dan kedelai.
Kegiatan pendampingan yang dilakukan di seluruh lokasi melibatkan babinsa dan keterlibatan penyuluh terkait dengan penyebaran inovasi teknologi.
Rapat Koordinasi Dan Sinkronisasi Data Luas Tambah Tanam (LTT) Padi di Kabupaten Lombok Timur
Panen dan temu lapang di lokasi demfarm PTT padi mendukung UPSUS PJK 6). Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Hortikultura
Komoditas Cabai, Bawang Merah.
Teknologi yang terdiseminasi ke pengguna yaitu teknologi budidaya bawang merah dan cabe dengan pendekatan PTT.
Demplot untuk upaya peningkatan produksi bawang merah melalui PTT di Kec. Woha seluas 5 ha dan melibatkan 15 petani kooperator, dengan produktivitas rata-rata 14,2 t/ha meskipun ada 1 petani yang hanya mendapatkan 6,8 t/ha karena kebanjiran.
Demplot untuk upaya peningkatan produksi cabai merah melalui PTT yang semula direncanakan di Desa Kerongkong dipindahkan di Desa Sembalun Bumbung seluas 0,5 ha yang ditindak lanjuti pelatihan dan praktek oleh petani di lokasi demplot khususnya praktek pengendalian OPT.
Dari hasil yang diperoleh, terjadi penurunan biaya pengendalian pestisida sebesar 15% bagi petani cabai disekitarnya melalui perbaikan pemilihan pestisida, cara aplikasi dan perbaikan menggunakan lapangan. Kondisi
tanaman cukup seragam dan sehat, sudah dilakukan panen dua kali dengan rata-rata produktifitas sebesar 0,71 kg/tan atau produktivitas 14,2 t/ha dari target 22 t/ha.
Temu Lapang dan Panen Bawang Merah di Kabupaten Lombok Timur 7). Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Nasional Peternakan.
Teknologi yang terdiseminasi ke pengguna yaitu teknologi terpadu pembiakan, penggemukan berbasis legume pohon.
Kegiatan dilakukan di 4 kabupaten yaitu Lombok Timur, Sumbawa Barat, Sumbawa, dan Kabupaten Dompu.
Kegiatan yang dilaksanakan yaitu perbaikan, penerapan dan demonstrasi paket teknologi terpadu penggemukan berbasis legume pohon, serta pengembangan pakan legume pohon. Kegiatan pendampingan penerapan dan perbaikan teknologi penggemukan sapi mendapat respon positif dari seluruh peternak dan pemda kab/prov.
Dalam pelaksanaan kegiatan, terdapat beberapa kendala diantaranya yaitu: 1) Tingkat kecepatan penerapan dan demonstrasi sangat bervariasi antar daerah; 2) Kemampuan peternak melakukan persemaian lamtoro terbatas pada musim kering karena air tidak tersedia.
Pengembangan pakan legume pohon
8). Pendampingan Pengembangan Kawasan Pertanian Komoditas Perkebunan. Teknologi yang terdiseminasi ke pengguna yaitu teknologi pemangkasan
tanaman mete.
Kegiatan dilaksanakan di 2 lokasi yaitu Desa Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima. Kegiatan melibatkan penyuluh dalam kegiatan pendampingan harian terhadap petani.
Kegiatan ini mendapat respon baik di kalangan petani. Sebagian besar kooperator telah melakukan pemangkasan terhadap tanamannya