Dosis yang diberikan pada masing-masing perlakuan pemupukan dapat dilihat pada Tabel 2 serta desain penanaman di lapangan pada Gambar 2
PENGEMBANGAN SISTEM AGROFORESTRI BERBASIS INDIGENOUS SPESIES DAN KESESUAIAN LAHAN DI WILAYAH KABUPATEN PASURUAN JAWA TIMUR
B. Evaluasi Lahan Untuk Pengembangan Sistem Agroforestri
Berdasarkan hasil pengamatan langsung dan data sekunder dari SIMTARU Kabupaten Pasuruan, evaluasi kesesuaian lahan berdasarkan literatur digunakan untuk menentukan kawasan yang sesuai untuk pengembangan sistem agroforestri dengan tanaman terpilih.
1. Elevasi Lahan
Wilayah yang memenuhi syarat terdapat pada Gambar 1. Diketahui bahwa ketinggian kawasan yang sesuai untuk pengembangan tanaman durian dan melinjo adalah 0-1000 m dpl, sedangkan rumput gajah memiliki range elevasi yang lebih luas yaitu 0-3000 mdpl.Sebagian besar kawasan di Kabupaten Pasuruan memenuhi syarat elevasi untuk tumbuh.
2. Jenis dan Tekstur Tanah
Tanaman durian tumbuh dengan baik jika ditanam pada tanah jenis grumosol dan andosol kelabu (Kemenristek, 2005), sedangkan melinjo dan rumput gajah tidak membutuhkan jenis tanah yang spesifik untuk tumbuh dengan subur. Berdasarkan Gambar 2, kawasan yang sesuai dengan persyaratan jenis tanah hanya pada sebagian kecil Kecamatan di Kabupaten Pasuruan.
Prosiding Seminar Nasional Agroforestri 2013 147 Gambar 3. Area Kabupaten Pasuruan berdasarkan tekstur tanah yang sesuai dengan
syarat tumbuh tanaman durian, melinjo dan rumput gajah
Gambar 4. Area Kabupaten Pasuruan berdasarkan kemiringan tanah yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman durian, melinjo dan rumput gajah.
Tekstur tanah yang sesuai untuk tanaman durian dan rumput gajah adalah lempung, sedangkan melinjo cocok di semua tekstur tanah, baik lempung, liat, pasir maupun kapur. Hasil analisis kesesuaian tekstur tanah ditampilkan pada Gambar 3.
3. Kemiringan dan Kedalaman Efektif
Tanaman durian berpotensi sebagai stabilisator lereng alami berdasar keberadaannya di alam, bentuk kanopi, serta interaksi akarnya dengan tumbuhan lain (Fiqa et al., 2005). Durian tumbuh dengan baik pada kemiringan lahan 0-15°. Sementara melinjo dan rumput gajah toleran pada semua tingkat kemiringan. Kawasan yang memenuhi persyaratan ditampilkan pada Gambar 4.
Kedalaman efektif menjadi salah satu syarat tumbuh yang dijadikan parameter. Sistem perakaran yang dalam pada tanaman durian, menjadikan tanaman tersebut membutuhkan kedalaman sekitar 50-200 cm. Hal ini disebabkan karena jika kedalaman air tanah terlalu dangkal atau dalam, rasa buah akan menjadi tidak manis selain itu tanaman akan kekeringan ataupun
148 Prosiding Seminar Nasional Agroforestri 2013
Gambar 6. Area Kabupaten Pasuruan berdasarkan sistem landuse yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman durian, melinjo dan rumput gajah
akarnya busuk akibat selalu tergenang. Namun, tanaman melinjo dan rumput gajah tidak mensyaratkan kedalaman tertentu untuk dapat tumbuh dengan baik. Area di Kabupaten Pasuruan yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman, ditampilkan pada Gambar 5.
4. Sistem Landuse
Berdasar sistem land use, lahan yang berpotensi untuk pengembangan kawasan agroforestri adalah dalam bentuk sawah, kebun, tegalan dan rumput. Pengembangan sistem agroforestri di kawasan-kawasan ini berkaitan pula dengan potensi durian dan melinjo sebagai tanaman produksi non kayu yang dapat berperan sebagai stabilisator di lereng alami. Berdasarkan Gambar 6, terlihat bahwa sebagian besar kawasan di Kabupaten Pasuruan, memenuhi persyaratan tersebut.
Gambar 5. Area Kabupaten Pasuruan berdasarkan kedalaman efektif tanah yang sesuai dengan syarat tumbuh tanaman durian, melinjo dan rumput gajah
Prosiding Seminar Nasional Agroforestri 2013 149 Gambar 7. Area Kabupaten Pasuruan yang sesuai untuk pengembangan
sistem agroforestri berbasis indigenous species (durian, melinjo dan rumput gajah)
5. Pemetaan Berdasarkan Kesesuaian Lahan
Berdasarkan hasil evaluasi kesesuaian lahan secara elevasi, kemiringan, tekstur tanah, jenis tanah, kedalaman efektif, dan sistem landuse, pengembangan sistem agroforestri berbasis indigenous species, dengan tanaman pokok berupa durian, melinjo dan rumput gajah, di Kabupaten Pasuruan cocok untuk dikembangkan di wilayah Kecamatan Tutur dan Gempol, serta di sebagian kecil wilayah Kecamatan Prigen dan Purwodadi.
Diharapkan dengan adanya pengembangan sistem agroforestri berbasis indigenous species, masyarakat akan mendapatkan keuntungan ekonomis yang besar dari ketiga tanaman terpilih. Selain itu, sistem agroforestri ini juga akan menjaga peran dan fungsi hutan sebagai catchment area dengan sistem stratifikasi dan pilihan tanaman yang serupa hutan alami.
IV. KESIMPULAN
Tanaman yang cocok dikembangkan sebagai tanaman agroforestri di kawasan Kabupaten Pasuruan adalah durian, melinjo dan rumput gajah. Hal ini disesuaikan dengan keadaan daerah serta potensi yang dimiliki tanaman tersebut untuk dibudidaya dan dimanfaatkan secara optimal. Jenis-jenis tersebut memenuhi persyaratan sebagai tanaman yang bernilai ekonomis tinggi dan mampu memberikan ecological services yang baik bagi lingkungan di sekitarnya. Pengembangan kawasan agroforestri berbasis indigenous species di Kabupaten Pasuruan, cocok dikembangkan di daerah Kecamatan Tutur, Gempol serta sebagian kecil Kecamatan Prigen dan Purwodadi. Berdasarkan analisis elevasi, kedalaman, kemiringan, tekstur dan jenis tanah serta landuse.
DAFTAR PUSTAKA
Bappeda Pasuruan, 2011. Produksi Durian Pasuruan Anjlok 12.454 Ton. Website:http://bappeda.jatimprov.go.id/2011/05/24/produksi-durian-pasuruan-anjlok-12-454-ton/. Diakses tanggal 1 April 2013.
150 Prosiding Seminar Nasional Agroforestri 2013
BPBD Kab. Pasuruan. 2011. Banjir Menggenang di Winongan, Grati dan Rejoso. Website:http://bpbd.pasuruankab.go.id/content-574-banjir-menggenang-di-winongan-grati-dan-rejoso.html. Diakses tanggal 4 April 2013.
Fiqa, A.P., L. Astari, E. Arisoesilaningsih, Soejono, S. Isniningsih. 2005. Arsitektur Flora Lokal Berpotensi dalam Konservasi Mata Air dan Stabilisasi Lereng Alami di DAS Brantas. Disampaikan pada Seminar Nasional dan Kongres Biologi XIII. Fakultas Biologi UGM Yogyakarta. 16-17 September 2005.
Hasyim, Sri Sulastri, dan Soemarno. 2009. Model Kawasan Agroforestri Melinjo di Wilayah Kabupaten Malang. Agritek 17 (3):592-607.
Kemenristek, 2005. TTG-Budidaya Pertanian Durian (Bombacaceae). Website: http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=2&doc=2a6. Diakses tanggal 4 April 2013.
Porey, D.A. 2000. Ethnobiology and Ethnoecology in The Contex of National Laws & International Agreement Affecting Indigenous and Local Knowledge, Traditional Resources and Intellectual Property Rights. Dalam R. Ellen, P. Parkes, A. Bicker (Eds.). Indigenous Environmental Knowledge and its Transformations Critical Anthropological Perspectives. Harwood Academic Publishers. Singapore. pp. 35-54.
Sardjono, M.A., T. Djogo, H.S.Arifin, dan N. Wijayanto. 2003. Klasifikasi dan Pola Kombinasi Komponen Agroferestri. ICRAF. Bogor.
Subhadrabandhu, S., J.P.M. Schneemann and E.W.M. Verheij. 1991. Durio zibethinus Murray. In Verheij, E.W.M. and R.E. Coronel. (eds) PROSEA No. 2. Edible Fruits and Nuts. Pudoc Scientific Publishers, Wageningen. pp. 157-161.
Subkhi, M. 2012. Alih Fungsi Hutan Diduga Ulah Oknum Perhutani. Website:
http://www.beritajatim.com/detailnews.php/8/Peristiwa/2012-08-28/144784/Alih_Fungsi_Hutan_Diduga_Ulah_Oknum_Perhutani. Diakses tanggal 4 April 2013.
Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Penerbit Andi. Yogyakarta. pp. 102-107. 't Mannetje, L. 1992. Pennisetum purpureum Schumach. In: 't Mannetje, L. and R.M. Jones, (Eds.).
PROSEA No. 4. Forages. Pudoc Scientific Publishers, Wageningen. pp. 191-192.
Verheij, E.W.M. and Sukendar. 1991. Gnetum gnemon L. In Verheij, E.W.M. and R.E. Coronel. (eds) PROSEA No. 2. Edible Fruits and Nuts. Pudoc Scientific Publishers, Wageningen. pp. 182-184.
Prosiding Seminar Nasional Agroforestri 2013 151 PENINGKATAN PRODUKTIFITAS KOMPONEN AGROFORESTRI MELALUI PENGGUNAAN PUPUK
ORGANIK GUNA MENUNJANG KEBERHASILAN REHABILITASI LAHAN KRITIS