• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LAPORAN KASUS

F. Evaluasi

Setelah dilakukan implementasi selama 3 hari, didapatkan hasil evaluasi selama 3 hari dari tanggal 25-27 April 2013.Pada tanggal 25 April 2012 pukul 13.00 WIB, didapatkan catatan perkembangan sebagai berikut : dari evaluasi subyektif keluarga pasien mengatakan pasien buang air besar 6 kali perhari, konsistensi cair, berwarna kuning. Dari data evaluasi adalah buang air besar pasien tampak konsistensi cair, berwarna kuning, pasien tampak lesu, mukosa bibir agak kering balance cairan -162 cc, masalah belum teratasi saat ini, dan intervensi dilanjutkan yaitu observasi dan catat frekuensi defekasi, jumlah dan

warna feses, pantau tanda-tanda dehidrasi (seperti membran mukosa kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung), monitor dan catat masukan dan pengeluaran cairan, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian atau pemantauan cairan infus.

Pada tanggal 26 April 2013, didapatkan catatan perkembangan sebagai berikut :dari data subyektif keluarga pasien mengatakan pasien buang air besar 8 kali perhari, konsistensi cair, berwarna kuning. Dari data obyektif adalah buang air besar pasien tampak konsistensi cair, berwarna kuning, pasien tampak lesu, mukosa bibir agak kering, balance cairan -262 cc, masalah belum teratasi saat ini, dan intervensi dilanjutkan yaitu observasi dan catat frekuensi defekasi, jumlah dan warna feses, pantau tanda-tanda dehidrasi (seperti membran mukosa kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung), monitor dan catat masukan dan pengeluaran cairan, kolaborasi dengan dokter dalam dalam pemberian atau pemantauan cairan infus.

Pada tanggal 27 April 2013, didapatkan hasil evaluasi sebagai berikut: dari data subyektif keluarga pasien mengatakan pasien buang air besar 4 kali perhari, konsistensi cair, berwarna kuning, pasien juga lesu. Dari data obyektif adalah buang air besar pasien tampak konsistensi cair, berwarna kuning, pasien tampak lesu, mukosa bibir lembab, balance cairan -62 cc, masalah belum teratasi saat ini, dan intervensi dilanjutkan dengan pendelegasian dengan perawat di Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta yaitu observasi dan catat frekuensi

defekasi, jumlah dan warna feses, pantau tanda-tanda dehidrasi (seperti membran mukosa kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung), monitor dan catat masukan dan pengeluaran cairan, mengkolaborasikan dengan dokter dalam dalam pemberian atau pemantauan cairan infus.

BAB III

PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

A. Pembahasan

Pada bab ini penulis akan membahas studi kasus tentang “Asuhan Keperawatan Diare Pada An.N dengan Gastroenteritis di Ruang Bakung RS Panti Waluyo Surakarta”. Prinsip dari pembahasan ini memfokuskan kebutuhan dasar manusia di dalam asuhan keperawatan. Prinsip dari pembahasan ini dengan memperhatikan aspek tahapan proses keperawatan, pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi keperawatan dengan metode wawancara langsung dengan pasien dan keluarga pasien dan metode observasi.

Gastroenteritis adalah radang pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare, dengan atau tanpa disertai muntah, dan sering kali disertai peningkatan suhu tubuh. Diare yang dimaksudkan disini adalah buang air besar berkali-kali (lebih dari empat kali), bentuk feses cair, dan dapat disertai dengan darah atau lendir (Ardiansyah, 2012).

1. Pengkajian

Pengkajian adalah langkah pertama dalam proses keperawatan, proses ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut, pengumpulan data, verifikasi data, organisasi data, interpretasi data, pendokumentasian data. Pengkajian bertujuan

untuk mendapatkan data dasar tentang kesehatan klien baik fisik, psikologis, maupun emosional. Data dasar ini digunakan untuk menetapkan status kesehatan klien, menemukan masalah aktual ataupun potensial, serta sebagai acuan dalam memberi edukasi pada klien (Debora, 2011).

Tanda gejalanya yaitu perut mulas dan gelisah, suhu tubuh meningkat, demam, nafsu makan berkurang, rasa lekas kenyang, mual (kadang-kadang sampai muntah), dan badan terasa lemas, sering buang air besar dengan konsistensi cair atau encer, anus dan sekitarnya lecet karena seringnya defekasi, sementara tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat (Ardiansyah, 2012).

Sesuai dengan teori pengkajian pada An. N didapatkan keluhan utama ibu pasien mengatakan buang air besar cair 6 kali perhari, dengan konsistensi cair berwarna kuning. Data obyektif pasien tampak lesu, buang air besar tampak cair berwarna kuning, bau khas, mukosa bibir agak kering, nadi 104 kali/menit, suhu 37,9ºC, keadaan umum lemah, kesadaran composmentis, balance cairan -162 cc.

Pemeriksaan fisik adalah tinjauan sistem tubuh dari kepala sampai kaki untuk memperoleh informasi obyektif tentang klien, sehingga dapat dilakukan pengkajian klinis (Potter & Perry, 2010). Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada An. N didapatkan hasil, mulut pada mukosa bibir agak kering, anus kemerahan. Pemeriksaan abdomen, inspeksi perut kembung tidak ada

lesi, umbilikus bersih, auskultasi bising usus 33x per menit, perkusi terdengar hiperthympani, palpasi terdapat nyeri tekan dikuadran kanan bawah.

Normalnya udara dan cairan bergerak melalui usus menyebabkan suara bergemuruh/klik pelan yang terjadi ireguler 5-35 kali per menit. Yang mengindikasikan peningkatan motilitas gastrointestinal, radang usus, kegelsahan, diare, perdarahan, laksatif berlebihan, dan reaksi usus terhadap makanan tertentu dapat menyebabkan peningkatan motilitas (Potter&Perrry, 2010).

2. Diagnosa Keperawatan

Dari hasil pengkajian pada An. N didapatkan hasil data subyektif ibu pasien mengatakan buang air besar cair 6 kali perhari, dengan konsistensi cair berwarna kuning. Data obyektif pasien tampak lesu, buang air besar tampak cair berwarna kuning, bau khas, mukosa bibir agak kering, nadi 104 kali/menit, suhu 37,9ºC, balance cairan .-162 cc. Dari hasil pengkajian pasien, penulis merumuskan masalah kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif melalui diare. Kekurangan volume cairan adalah penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraselular. Ini mengacu pada dehidrasi, kehilangan cairan saja tanpa perubahan pada natrium.

Batasan karakteristiknya yaitu penurunan turgor kulit, membran mukosa kering, perubahan pada status mental, perubahan tekanan darah, peningkatan suhu tubuh, peningkatan frekuensi nadi, haus, kelemahan

(Nanda, 2009). Sesuai yang dalami oleh pasien yaitu suhu tubuh meningkat 37,90 C, mukosa bibir kering, peningkatan frekuensi nadi 104 x per menit. 3. Tujuan dan Kriteria Hasil

Tujuan dan kriteria hasil yang dapat dilaksanakan berdasarkan kriteria SMART yaitu S (spesific) dimana tujuan harus spesifik dan tidak menimbulkan arti ganda, M (measurabel) dimana tujuan keperawatan harus dapat diukur, khususnya tentang perilaku klien : dapat dilihat, didengar, diraba, dirasakan, dan dibau. A (achievable) dimana tujuan harus dapat dicapai, R (reasonable) dimana tujuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, T (time) tujuan harus mempunyai batasan waktu yang jelas (Nursalam, 2011).

Sesuai NIC NOC (2006) setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, pasien tidak mengalami buang air besar yang berlebih, dengan kriteria hasil sebagai berikut pola eliminasi dalam rentang yang diharapkan buang air besar kurang dari 3 kali perhari, konsistensi buang air besar tidak cair, mukosa bibir lembab, balance cairan normal ± 100 cc. 4. Intervensi Keperawatan

Intervensi adalah panduan untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari klien, dan atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat, intervensi dilakukan untuk membantu klien mencapai hasil yang diharapkan. Intervensi keperawatan harus spesifik dan dinyatakan dengan jelas. Pengelompokan seperti bagaimana, kapan, di mana, frekuensi, dan besarnya, menunjukkan isi

mandiri (dilakukan oleh perawat) dan kolaboratif (yang dilakukan bersama dengan pemberi perawatan lainnya) (Deswani, 2009). Intervensi yang diterapkan antara lain yaitu observasi dan catat frekuensi defekasi, jumlah dan warna feses, rasionalnya untuk mengidentifikasi beratnya diare, pantau tanda-tanda dehidrasi (seperti membran mukosa kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung), rasionalnya untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda dehidrasi, monitor dan catat masukan dan pengeluaran cairan, rasionalnya untuk mengetahui keseimbangan cairan, kolaborasi dengan dokter dalam peberian obat, rasionalnya untuk mengurangi diare.

5. Implementasi Keperawatan

Implementasi adalah fase ketika perawat mengimplementasikan intervensi keperawatan. Berdasarkan terminologi NIC, implementasi terdiri atas melakukan dan mendokumentasikan tindakan yang merupakan tindakan keperawatan khusus yang diperlukan untuk melaksanakan intervensi (atau program keperawatan). Perawat melaksanakan atau mendelegasikan tindakan keperawatan untuk intervensi yang disusun dalam tahap perencanaan dan kemudian mengakhiri tahap implementasi dengan mencatat tindakan keperawatan dan respon klien terhadap tindakan tersebut (Kozier, 2011).

Implementasi yang dilakukan selama 3 hari pada An.N di ruang Bakung RS Panti Waluyo Surakarta berdasarkan intervensi yang sudah ditulis. Penulis melakukan tindakan keperawatan diantaranya mengobservasi

dan mencatat frekuensi defekasi, jumlah dan warna feses tujuannya untuk mengidentifikasi beratnya diare yang diderita oleh pasien dan untuk menentukan intervensi selanjutnya yang akan dilakukan oleh perawat (Ardiansyah, 2012).

Memantau tanda-tanda dehidrasi (seperti membran mukosa kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung), tujuannnya untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda dehidrasi. Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak daripada pemasukan ait (input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare (Wilkinson, 2013).

Memonitor dan mencatat masukan dan pengeluaran cairan yakni urine dan feses, makan minum dan lain- lain. Tujuannya untuk memberikan informasi tentang keseimbangan cairan dan merupakan pedoman untuk penggantian cairan juga digunakan untuk menghitung balance cairan (Ardiansyah, 2012).

Perhitungan balance cairan pada anak input dikurangi output, input mencakup makanan, minuman, air metabolisme, infus, output mencakup urine, buang air besar dan IWL. Untuk perhitungan IWL pada anak yang mengalami demam maka (30- dalam tahun) bb/kg +200 (suhu tubuh-36,80 C).

Mengkolaborasikan dengan dokter dalam pemberian atau memantau caran infus, tujuannya untuk mempertahankan rehidrasi. Cairan IV RL 60 cc per jam fungsinya mengembalikan keseimbangan elektrolit pada dehidrasi (ISO, 2010).

6. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang digunakan untuk menentukan seberapa baik respon pasien atau keluarga pasien. Berikut ini adalah pembahasan evaluasi. Pada tanggal 25 April 2012, data subyektif keluarga pasien mengatakan pasien buang air besar 6 kali perhari, konsistensi cair, berwarna kuning, data obyektif buang air besar pasien tampak konsistensi cair, berwarna kuning, pasien tampak lesu, mukosa bibir agak kering, balance cairan -162 cc, masalah belum teratasi saat ini dan intervensi dilanjutkan yaitu observasi dan catat frekuensi defekasi, jumlah dan warna feses, pantau tanda-tanda dehidrasi (seperti membran mukosa kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung), monitor dan catat masukan dan pengeluaran cairan, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian atau pemantauan cairan infus..

Pada tanggal 26 April 2013, data subyektif keluarga pasien mengatakan pasien buang air besar 8 kali perhari, konsistensi cair, berwarna kuning, data obyektif buang air besar pasien tampak konsistensi cair, berwarna kuning, pasien tampak lesu, mukosa bibir agak kering, balance cairan -262 cc, masalah belum teratasi saat ini, dan intervensi dilanjutkan yaitu observasi dan catat frekuensi defekasi, jumlah dan warna feses, pantau tanda-tanda dehidrasi (seperti membran mukosa kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung), monitor dan catat masukan dan pengeluaran cairan, kolaborasi dengan dokter dalam dalam pemberian atau pemantauan cairan infus.

Pada tanggal 27 April 2013, data subyektif keluarga pasien mengatakan pasien buang air besar 4 kali perhari, konsistensi cair, berwarna kuning, pasien juga lesu, data obyektif buang air besar pasien tampak konsistensi cair, berwarna kuning, pasien tampak lesu, mukosa lembab, balance cairan -62 cc, masalah belum teratasi saat ini, dan intervensi dilanjutkan dengan pendelegasian dengan perawat di Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta yaitu observasi dan catat frekuensi defekasi, jumlah dan warna feses, pantau tanda-tanda dehidrasi (seperti membran mukosa kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung), monitor dan catat masukan dan pengeluaran cairan, mengkolaborasikan dengan dokter dalam dalam pemberian atau pemantauan cairan infus.

B. Simpulan dan Saran 1. Kesimpulan

Dari hasil penulisan dalam bab pembahasan, maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

a. Pengkajian yang dilakukan penulis pada An. N dengan diagnosa kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif melalui diare, ditemukan data subjektif : Ibu pasien menyatakan buang air besar cair 6 kali perhari, dengan konsistensi cair berwarna kuning. Data obyektif pasien tampak lesu, buang air besar tampak cair

berwarna kuning, bau khas, nadi 104 kali/menit, suhu 37,9ºC, mukosa bibir agak kering, balance cairan -162 cc.

b. Diagnosa keperawatan utama yang muncul saat dilakukan pengkajian pada An.N adalah kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilngan cairan aktif melalui diare.

c. Intervensi atau rencana keperawatan pada An. N dengan diagnosa kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilngan cairan aktif melalui diare yaitu observasi dan catat frekuensi defekasi, jumlah dan warna feses, pantau tanda-tanda dehidrasi (seperti membran mukosa kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung), monitor dan catat masukan dan pengeluaran cairan, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian atau memantau cairan.

d. Implementasi yang sudah dilakukan dalam 3 hari pada An. N dengan diagnosa kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilngan cairan aktif melalui diare antara lain observasi dan catat frekuensi defekasi, jumlah dan warna feses, pantau tanda-tanda dehidrasi (seperti membran mukosa kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung), monitor dan catat masukan dan pengeluaran cairan, kolaborasi dengan dokter dalam peberian obat,kolaborasi dengan dokter dalam pemberian atau memantau cairan.

e. Evaluasi yang dilakukan oleh penulis dalam 3 hari pada An. N dengan diagnosa kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilngan cairan aktif melalui diare yaitu keluarga pasien mengatakan pasien buang air besar 4 kali perhari, konsistensi cair, berwarna kuning, pasien juga lesu, data obyektif buang air besar pasien tampak konsistensi cair, berwarna kuning, pasien tampak lesu, mukosa lembab, balance cairan -62 cc belum teratasi saat ini, dan intervensi dilanjutkan observasi dan catat frekuensi defekasi, jumlah dan warna feses, pantau tanda-tanda dehidrasi (seperti membran mukosa kering, penurunan turgor kulit, bola mata cekung), monitor dan catat masukan dan pengeluaran cairan, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian atau memantau cairan, dengan pendelegasian dengan perawat di Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta.

f. Analisa kondisi pada An. N dengan masalah keperawatan kekurangan volume cairan yaitu diperoleh data masalah teratasi, balance cairan -62 cc, suhu 36,90 C, mukosa bibir lembab.

2. Saran

Dengan memperhatikan kesimpulan diatas, penulis memberikan saran sebagai berikut:

a. Bagi Rumah Sakit

Diharapkan dapat memberikan pelayanan kepada pasien seoptimal mungkin dan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.

b. Bagi Institusi Pendidikan

Memberikan kemudahan dalam pemakaian sarana dan prasarana yang merupakan fasilitas bagi mahasiswa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilannya melalui praktek klinik dan pembuatan laporan.

c. Bagi Penulis Selanjutnya

Diharapkan penulis selanjutnya dapat menerapkan ilmu keperawatan yang telah dipelajari dan memanfaatkan waktu seefektif mungkin, sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan pada klien secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiansyah Muhamad. (2012). Medikal Bedah Untuk Mahasiswa. DIVA Press: Jogjakarta.

Debora Oda. (2011). Proses Keperawatan dan Pemeriksaan Fisik. Salemba Medika: Jakarta.

Daniel Ronald. (2013). Cairan Tubuh. http://file.upi.edu. Diakses tanggal 17 Juni 2013 pukul 11.14 WIB.

Deswani. (2009). Proses Keperawatan dan Berpikir Kritis. Salemba Medika: Jakarta.

Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. (2010). Informasi Spesialite Obat (ISO) Indonesia. PT.ISFI: Jakarta.

Kozier Barbara, Erb Glenora, dkk. (2011). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik. Edisi 7 Volume 1. EGC : Jakarta.

NANDA Internasional. (2009). Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. EGC: Jakarta

Nursalam. (2005). Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Salemba Medika: Jakarta.

Nursalam. (2011). Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik. Edisi 2. Salemba Medika: Jakarta.

Potter&Perrry. (2005).Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktik. Edisi 4. Volume 1. EGC : Jakarta.

Potter&Perrry. (2009). Fundamental Keperawatan. Edisi 7. Buku 1. Salemba Medika: Jakarta.

Potter&Perrry. (2010). Fundamental Keperawatan. Edisi 7. Buku 2. Salemba Medika: Jakarta.

Riskesdas. (2007). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). www.Litbang.depkes.go.id/Riskesdas. Diakses tanggal 10 Mei 2013 pukul 18.34 WIB.

Sodikin. (2011). Asuhan Keperawatan Anak: Gangguan Sistem Gastrointestinal dan Hepatobilier. Salemba Medika: Jakarta.

Suraatmaja, Sudaryat. (2007). Gastroenterologi. Sagung Seto: Jakarta.

Tjitrosantoso Heedy, Korompis Fras, dkk. (2013). Studi Penggunaan Obat Pada Penderita DiareAkut Di Instalasi Rawat Inap BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode Januari – Juni 2012. http://ejournal.unisrat.ac.id. Diakses tanggal 10 Mei 2013 pukul 13.18 WIB.

Wilkinson. M Judith, (2013), Buku Saku; Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. EGC: Jakarta.

Dokumen terkait