E. Langkah-langkah Penelitian
2.1. Desain Model
Dalam model pembelajaran yang dikembangkan ini, desain tetap merupakan hal yang sangat penting. Desain yang dipersiapkan adalah berupa program tahunan, program semester, program mingguan dan program harian, yang sering dikenal dengan Rencana Pembelajaran. Desain yang dipersiapkan tentu saja berpedoman kepada kurikulum yang berlaku yaitu kurikulum 2006, atau disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Analisis terhadap kurikulum untuk menentukan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang akan disampaikan kepada siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan. Perencanaan model selalu berkaitan dengan tujuan, materi, metode, media atau sumber serta evaluasi. Karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti karakteristik siswa, perkembangan mental-spiritual siswa, kedewasaan siswa, kepribadian dan interaksi sosial siswa, karena siswa sebagai subyek belajar yang harus menjadi pusat perhatian guru.
Berbeda dengan pembelajaran pada umumnya, dari sisi tujuan pembelajaran model kooperatif ini tidak hanya memperhatikan aspek kognitif dan psikomotoik, tetapi juga aspek afektif. Yang dikembangkan melalui pengembangan model kooperatif ini adalah hasil belajar siswa. Guru sebagai
desainer pembelajaran sedapat mungkin harus memperhatikan ketiga aspek tujuan pembelajaran tersebut. Salah satu tujuan dari pembelajaran matematika adalah untuk membekali siswa dengan sejumlah konsep matematika, mengetahui dan memahami hubungan satu konsep dan konsep lainnya, serta dapat mengkonstruksikan konsep-konsep tersebut ke dalam kerangka pikirnya, untuk kemudian dapat menggunakan konsep-konsep tersebut di dalam mengatasi masalah-masalah yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Membekali siswa sejumlah konsep matematika yang diperlukan untuk mendalami ilmu matematika pada jenjang pendidikan selanjutnya. Membekali siswa karakteristik dari matematika yaitu seperti : nilai obyektif, sportif, jujur, rasional, sistematis, akurat, akuntabel. Oleh karena itu penggunaan model pembelajaran yang dikembangkandipandang sangat tepat, yakni membiasakan siswa dengan konsep dan keterampilan sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika.
Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa setelah tujuan, materi merupakan aspek yang harus juga menjadi perhatian guru. Materi matematika adalah sarat dengan konsep-konsep/ rumus-rumus/ teorema-teorema yang implementasinya bukan saja dekat dengan masalah sehari-hari, akan tetapi matematika diakui banyak ilmuwan bahwa ia juga berperan penting dalam kaitannya dengan perkembangan disiplin ilmu yang lain, misalnya berkaitan dengan ilmu-ilmu : ekonomi, perbankan, teknologi, astronomi, geologi, geografi, kimia, farmasi, fisika, mekanika, dan lain sebagainya.
Dalam model pembelajaran kooperatif dapat digunakan beberapa metode pembelajaran sekaligus secara bervariasi, seperti : ceramah, diskusi, kerja kelompok, tanya-jawab, dan lain-lain. Dari studi pendahuluan yang dilakukan umumnya siswa menginginkan agar guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar tidak hanya menggunakan salah satu metode saja, tetapi menggunakan variasi dari beberapa metode secara kreatif di setiap pertemuan. Ini dapat dipahami, karena penggunaan salah satu metode tertentu saja oleh guru di setiap pertemuan di kegiatan proses belajar mengajar pasti akan sangat monoton, dan tentu saja bagi siswa keadaan seperti ini menjadikan terjadinya situasi yang membosankan. Dalam hal ini guru dituntut untuk benar-benar kreatif dan tanggap terhadap situasi berlangsungnya proses pembelajaran. Peran guru adalah bagaimana membuat siswa belajar, guru adalah motivator, fasilitator yang juga sebagai manajer sekaligus sebagai perencana/ desainer pembelajaran.
Pada pembelajaran konfensional sering terlihat dominasi guru pada saat berlangsungnya proses pembelajaran. Maka dalam era pendidikan modern sekarang ini harus menjadi perhatian guru mengenai pengembangan model pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif.
Moel pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkanhasil belajar ini adalah model pembelajaran kooperatif. Sukmadinata (2004:204-207), ada tiga tehnik dari mode kooperatif yang bersifat umum dan dapat digunakan untuk mengajarkan mengajarkan ilmu-ilmu eksak termasuk mata peajaran matematika. Yaitu tipe STAD, TGT dan jigsaw. Lie (2008:60-69), juga
merekomendasikan beberapa tehnik pekerjaan kooperatif seperti jigsaw, bercerita berpasangan, lingkaran kecil, lingkaran besar, kepala bernomor dan lain-lain. Ibrahim dkk(2000:29), ada empat pendekatan dalam pembelajaran kooperatif yaitu, STAD, jigsau, kelopok penyelidikan dan pendekatan setruktur. Dari berbagai jenis model pembelajaran kooperatif ini dapat dignakan untuk semua mata pelajaran termasuk untuk mata pelajaran matematika dan cocok utuk semua kelas. Dipilihnya dengan mata pelajaran kooperatif tipe STAD karena model ini dianggap sederhana dan dapat dilaksanakan. Juga model pembelajaran dengan pendekatan siswa dan pendekatan guru, tetapi dalam pelaksanaannya siswalah yang berperan banyak. Untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran, pada pembelajaran model yang dikembangkan ini guru dituntut untuk dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia di SMP baik yang menyangkut media maupun sumber pelajaran. Dari studi pendahuluan yang peneliti lakukan umumnya setiap SMP mempunyai ruang kelas dengan fasilitas standard dan didukung perpustakaan yang menyediakan buku-buku utama sumber pelajaran. Dibeberapa sekolah bahkan siswa memiliki beberapa buku pegangan dan didukung oleh kegiatan siswa yang sangat membantu dalam pelaksanaan pembelajaran yang dikembangkan ini.
Berkaitan dengan evaluasi, peneliti fokus utamanya adalah dengan melihat dari sisi hasil belajar siswa, yang didapakan dari pelaksanaan model pelajaran kooperatif berlangsung. Pelaksanaan pembelajaran dengan kerja sama dalam kelompok heterogen, akan membiasakan siswa untuk meningkatkan
keterampilan berkomunikasi dengan saling mengharai dan berbagi peran serta keterampilan-keterampilan lainnya yang sangat dibutuhkan siswa dalam kehidupan masyarakat. Selama proses pembelajaran, selain menjadi fasilitator dan motifator yang selalu siap memberikan bimbingan dan bantuan terhadap siswa terutama siswa yang mengalami kesulitan, guru melakukan penilaian terhadap kamanpuan siswa dengan mengadakan kegiatan preses dan postes dengan soal bntuk objektif yang telah disiapkan oleh guru sebelumnya. Penilaian juga dilakukan melalui lembar observasi atau pengamatan oleh guru saat pelaksanaan model pembelajaran kooperatif berlangsng.
Draft desain pembelajaran yang dikembangkan pada penelitian ini adalah: a) Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Kompetensi Dasar
sesuai dengan apa yang terdapat di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan mata pelajaran matematika kelas VIII semester genap.
b) Merumuskan Tujuan Pembelajaran. Dengan informasi dan membaca buku siswa dapat mendiskripsikan, mengidentifikasi, menjelaskan dan mengolah informasi.
c) Merumuskan Materi Pelajaran. Materi pelajaran ditentukan berdasarkan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
d) Media Pembelajaran. Media pembelajaran merupakan media yang akan digunakan dalam proses pembelajaran, dengan tujuan untuk mempermudah penyampaian materi dan juga untuk memperjelas pembelajaran.
e) Metode Pembelajaran. Metode yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran ini akan lebih dominan dengan kerja kelompok, di mana siswa
secara berkelompok menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, dan mencermati solusi setiap permasalahan yang muncul. Selain itu juga menggunakan metode ceramah, variasi tanya-jawab serta metode demonstrasi.
f) Evaluasi Pembelajaran. Sebelum guru meyampaikan materi pelajaran matematika melalui model pembelajaran kooperatif, terlebih dahulu diadakan pre-tes. Saat pembelajaran berlangsung ada penilaian proses, baik terhadap kelompok maupun individu. Selanjutnya diadakan lagi pos-tes dalam bentuk butir soal setelah pembelajaran dilakukan.