• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Pembelajaran Training pada Lembaga AT West Outbound Training Semarang

BENDAHARA TRIMINING

4.2 Hasil Penelitian

4.3.3 Evaluasi Pembelajaran Training pada Lembaga AT West Outbound Training Semarang

Evaluasi adalah proses sistematis dan berkesinambungan untuk mengetahui efisiensi kegaiatan belajar dan efektivitas dari pencapaian tujuan instruksi yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan hasil observasi yang

dilakukan, sistem evaluasi kegiatan belajar dalam outbound management training lembaga AT West kepada peserta karyawan PLN dilaksanakan dalam dua jenis, yakni lingkup kecil dan lingkup besar. Lingkup kecil yakni setelah satu sesi pembelajaran game berbentuk diskusi antara fasilitator dengan peserta per tim. Diskusi berisi tentang pendapat peserta mengenai pemahaman terhadap setiap kegiatan belajar berbentuk simulasi game. Sementara lingkup besar atau keseluruhan dilakukan pada sesi akhir pada penutup rangkaian kegiatan pembelajaran yang disebut dengan reflection training. Bentuk evaluasi kegiatan belajar pada sesi reflection training yang dilakukan hampir sama dengan bentuk evaluasi pada sesi lingkup kecil yakni dengan cara berdiskusi, tetapi dalam jumlah besar yakni seluruh peserta. Dalam evaluasi lingkup besar pula fasilitator yang bertugas disebut trainer.

Asesment hasil belajar outbound management training dilakukan dengan melakukan teknik observasi pada seluruh aspek penilaian karakter peserta oleh fasilitator yang bertugas sebagai observer. Observer adalah fasilitator dengan latar belakang pendidikan psikologi sehingga mampu menganalisis segala tindakan peserta selama menerima pembelajaran. Terdapat 12 observer yang bertugas menganalisa dan mengobservasi aspek perkembangan peserta. Aspek tersebut meliputi aspek percaya diri, tanggung jawab, daya tahan, komunikasi, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, kesatuan tujuan, menghargai perbedaan, disiplin, komitmen, saling menolong, saling percaya, dan bekerja secara tim.

Pelaksanaan Reflection training yang dipimpin satu fasilitator trainer bernama Reza. Trainer menjadi pemimpin jalannya kegiatan berdiri di depan mengkondisikan peserta. Prinsip pelaksanaa reflection training lembaga AT West selalu menggunakan pendekatan tahap evaluasi belajar yakni knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis, dan evaluation. Pada level knowledge peserta mengingat dan menceritakan peristiwa yang terjadi sebagai fakta. Selanjutnya pada tahap comprehension peserta melakukan olah pikir untuk memaknai permainan yang dilakukan. Pada tahap application peserta diminta berpikir kreatif untuk melihat manfaat permainan pembelajaran yang dialami terhadap kehidupan sehari-hari. Barulah pada tahap analysis peserta diminta untuk menggabungkan seluruh keterkaitan sesi pembelajaran permainan yang dipecahkan melalui tahap sythesis. Tahap tertinggi berupa evaluation sebagai puncak tahap evaluasi maka peserta diminta mampu mengevaluasi manfaat sebuah gagasan, solusi masalah, dan peristiwa-peristiwa dalam pembelajaran yang dialami.

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa evaluasi dalam pembelajaran outbound management training pada lembaga AT West dilakukan dengan cara informal yakni observasi yang dilakukan oleh tim observer, sehingga tujuan dari evaluasi sendiri bukan untuk menilai hasil dari peserta selama pelatihan, melainkan untuk mengukur sejauh mana kompetensi peserta beserta kharakteristiknya. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan fasilitator Aji Rahmat berikut ini

“Evaluasi dilaksanakan untuk mengambil makna dari apa yang telah dilaksanakan peserta. Untuk mengetahui juga kira-kira karakteristik peserta ini perlu apa untuk menjadi karyawan PDKB dan bisa jadi sebagai salah satu acuan kenaikan pangkat. Jadi ini bukan untuk menunjukan kekuatan antar tim atau siapa pemenangnya. Kalaupun kemenangan itu akan dijelaskan bahwa tim sudah mampu bekerja sama, saling menghargai dan bekerja keras misalnya.”

Tujuan evaluasi dalam pembelajaran outbound management training yang diberikan pada karyawan PDKB PLN tidak hanya mengacu pada hasil, melainkan juga pada prosesnya. Proses yang dimaksud adalah keseluruhan aspek yang nampak pada diri peserta selama kegiatan pembelajaran dalam data observasi tiap observer, diskusi peserta dan fasilitator, serta evaluasi yang terjadi untuk diri peserta sendiri ataupun terhadap temannya. Dengan demikian seluruh rangkaian yang terjadi selama proses evaluasi dapat disimpulkan bahwa assessmen evaluasi yang digunakan menggunakan assessmen informal. Seperti

dalam penjelasaan Rifa‟i (2007:25) bahwa assessment ini biasanya dilakukan dengan cara yang lebih terbuka, seperti kegiatan assessmen yang dilaksanakan melalui observasi, inventori, partisipasi, evaluasi diri dan teman sebaya dan diskusi.

Di luar teknik dan jenis evaluasi yang digunakan, pelaksanaan reflection training berupa tahapan pertanyaan kepada peserta kegiatan yang terjadi dilapangan menujukan data baru. Sesuai dalam penjabaran Ancok (2003:12) tentang taxonomy yang diajukan oleh Bloom tentang level belajar yakni knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis, dan evaluation. Dengan demikian Lembaga AT West outbound management training terbukti

sebagai lembaga yang memiliki idealisme prinsip selama pelaksanaan outbound management training.

BAB V PENUTUP

5.1 SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Analisis tahapan pembelajaran training pada lembaga AT West outboundtraining Semarang dapat disimpulkan sebagai berikut:

5.1.1. Assessment kebutuhan belajar

Pelaksanaan Assessment kebutuhan belajar oleh lembaga AT West dilaksanakan dengan teknik wawancara terhadap key person yakni manager diklat PDKB PLN Semarang berupa: (1) pemahaman latar belakang karyawan perusahaan;(2) persiapan materi;(3) persiapan game-game;(4) persiapan lokasi;(5) persiapan alat;(6) persiapan fasilitator dan trainer. Seluruh komponen sistem proses assessment kebutuhan belajar pada lembaga AT West yang telah memenuhi komponen perencanaan pembelajaran yakni raw input, instrumental input dan enviropmental input.

Kelebihan lembaga AT West saat kegiatan assessment kebutuhan belajar adalah waktu yang digunakan dapat seminimal mungkin dalam menggali kharakteristik peserta karena tidak perlu mengumpulkan seluruh karyawan calon peserta yang tersebar di berbagai tempat. Namun, disamping kelebihan tersebut disimpulkan juga beberapa kekurangan saat assessment yakni terdapat beberapa ketidaksesuaian antara informasi key person dengan fakta kharakteristik peserta di lapangan.

5.1.2. Bentuk dan Jenis Kegiatan Belajar

Bentuk dan jenis kegiatan belajar training pada lembaga AT West dikemas dalam bentuk dan jenis pembelajaran berupa permainan outbound: radiasi, waterfall, pingpong chaser, save the quin, throw and over, dan the wall. Pelaksanaan bentuk dan jenis kegiatan belajar outbound management training pada lembaga AT West adalah implementasi metode dalam pelatihan off the job training yakni: ceramah, tanya-jawab, peragaan, diskusi dan tantangan game.

Selama pelaksanaan, kegiatan pembelajaran off the job training dengan outbound management training ditemukan berbagai kelebihan yakni kepraktisan training, peserta dapat terlibat belajar secara langsung tanpa terkecuali dan terwakilkan, menyegarkan dan peserta terlihat percaya diri dan memiliki kerja sama yang baik.

Namun, terdapat pula keraguan setelah kegiatan pembelajaran pelatihan di luar tempat kerja dengan outbound management training selesai. Hal ini ditunjukan dengan adanya kesulitan mengukur efektivitas dan ketika kegiatan tidak rutin dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu maka peserta akan lupa. 5.1.3. Evaluasi Kegiatan Belajar

Dalam proses evaluasi digunakan teknik observasi berbagai aspek kepribadian masing-masing individu berupa gerak-gerik dan pembicaraan yang terjadi pada diri peserta selama pelatihan.

Berbagai kekurangan proses evaluasi dengan teknik observasi adalah ketika beberapa observer pemula yang belum berpengalaman kurang mampu mengobservasi dengan baik apa yang dilihat kedalam lembar observasi.

Disimpulkan bahwa evaluasi kegiatan belajar outbound management training pada lembaga AT West menggunakan assessmen informal meliputi kegiatan observasi dari observer kepada peserta, diskusi peserta dan fasilitator, serta evaluasi yang terjadi untuk diri peserta sendiri ataupun terhadap temannya.

5.2 SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang didapatkan, maka disampaikan beberapa saran mengenai pembelajaran outbound management training pada lembaga AT West outboundtraining:

5.2.1. Berdasarkan pengamatan yang terjadi ketika kegiatan assessment kebutuhan pembelajaran training yang hanya mengambil data melalui wawancara kepada key person. Maka, kepada pihak pimpinan lembaga AT West meskipun memiliki prinsip kepuasaan klien adalah segalanya, tetapi ada baiknya lembaga tetap memilki data karakteristik peserta pelatihan yang didapat secara langsung dengan teknik angket yang diberikan kepada seluruh peserta. Sehingga ketika data dari key person atau klien disandingkan dengan data langsung dari peserta dan dihasilkan suatu dasar pembelajaran yang lebih baik.

5.2.2. Berdasarkan pengamatan yang terjadi ketika kegiatan penyusunan silabus dan materi pembelajaran training yang hanya melibatkan beberapa trainer senior. Maka, hendaknya pimpinan lembaga tidak hanya melibatkan beberapa fasilitator saja, tetapi seluruh fasilitator. Hal ini karena masing-masing fasilitator memiliki peran dalam keberhasilan pelaksananaan

pembelajaran. Fasilitator dapat dengan detail mengetahui kharakteristik peserta maupun pembelajaran yang akan dilakukan. Dengan demikian proses belajar antara fasilitator junior dengan fasilitator senior dapat berlangsung dengan baik dan regenerasi dapat berjalan.

5.2.3. Berdasarkan pengamatan yang terjadi pada kegiatan pemenuhan kebutuhan fasilitator untuk pembelajaran training yang hanya dlakukan secara tertutup dan pribadi. Maka, kepada pihak Lembaga AT West outbound training dalam proses perekrutan fasilitator hendaknya lebih terbuka, sehingga kualifikasi fasilitator tidak bersifat subyektif melalui rekomendasi relasi pimpinan lembaga. Perekrutan yang bersifat terbuka akan lebih mendukung proses pembelajaran, karena fasilitator benar-benar memiliki kualifikasi yang dinilai dengan lebih obyektif. Sehingga berbagai kesalahan proses pembelajaran seperti observer pemula yang ternyata kurang mampu mengobservasi selama proses pembelajaran dapat diminimalisir.

5.2.4. Berdasarkan pengamatan terhadap keseluruhan kegiatan pemenuhan kebutuhan hingga evaluasi. Maka, kepada pihak pimpinan lembaga AT West hendaknya melakukan proses evaluasi dan refresh lembaga beberapa kali dalam satu tahun agar pelatihan yang diberikan dapat diketahui mana yang harus ditingkatkan dan mana yang tidak lagi dipakai.