DI TANGERANG SELATAN)
GAMBARAN UMUM PENELITIAN 1. Penduduk Dan Kondisi Sosial
2. Evaluasi Pendidikan Kecakapan Hidup Perkotaan (PKHP) Oleh
Lembaga Kursus Tata Rias Pengantin di Kota Tangerang Selatan
Dapat diketahui bahwa orang yang meng-ikuti pendidikan di lembaga kursus tata rias pengantin dengan kateori baik yang memi-liki pendidikan kecakapan hidup kurang se-banyak 3 orang atau 18,8% sedangkan yang memiliki pendidikan kecakapan hidup baik sebanyak 13 orang atau 81,2%. Orang yang mengikuti pendidikan di lembaga kursus tata rias pengantin dengan kategori sangat baik dan memiliki pendidikan kecakapan hidup baik sebanyak 44 orang atau 100% dengan tidak ada orang yang memiliki pendidikan kecakapan hidup kurang.
Hasil uji statistik Chi Square antara pen-didikan kecakapan hidup perkotaan (PKHP) oleh lembaga kursus tata rias pengantin di Kota Tangerang Selatan. Uji Chi Square di-gunakan untuk mengamati ada tidaknya hu-bungan antara dua variabel yang terdapat pada baris dan kolom, yang dalam peneliti-an ini adalah variabel tata rias pengpeneliti-antin dpeneliti-an
pendidikan kecakapan hidup. Sehingga hipo-tesis untuk penelitian ini adalah:
• Ho: Tidak ada hubungan antara variabel tata rias pengantin dengan variabel pendi-dikan kecakapan hidup
• H1: Ada hubungan antara variabel tata rias pengantin dengan variabel pendidikan ke-cakapan hidup
Hasil uji Chi Square menunjukkan bah-wa Chi Square hitung diperoleh nilai 8,684 yang jika dibandingkan dengan Chi Square tabel pada α = 0,05 dan df = 1 diperoleh ni-lai 3,84146, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang berarti ada hubungan antara variabel tata rias pengantin dengan variabel pendidikan kecakapan hidup.
Selain dengan menggunakan nilai Chi Square hitung, pengambilan keputusan pada uji Chi Square juga dapat dilihat dari nilai Asymp. Sig. pada tabel 5.6. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig. di-peroleh nilai 0,003 yang berarti dibawah ni-lai probabilitas 0,05 (0,003 < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang berarti ada hubungan antara variabel tata rias pengantin dengan variabel pendidikan keca-kapan hidup.
Hasil uji statistik Chi Square antara pen-didikan kecakapan hidup perkotaan (PKHP) Oleh lembaga kursus tata rias pengantin di Kota Tangerang Selatan menunjukkan ada-nya hubungan yang bermakna secara signi-fikan (p-value = 0,813) dengan nilai OR>1 yang berarti bahwa tata rias pengantin mem-pertinggi terjadinya pendidikan kecakapan hidup perkotaan. Interval Kepercayaan (CI) batas bawah 0,642 dan batas atas 1,028 se-hingga dikatakan bahwa makin kuat dugaan jika tata rias pengantin merupakan faktor ter-jadinya tingkat pendidikan kecakapan hidup perkotaan (PKHP).
PEMBAHASAN
Evaluasi Pendidikan Kecakapan Hidup Perkotaan (PKHP) Studi Terhadap Lembaga Kursus Tata Rias Pengantin di Kota Tange-rang Selatan
Program pendidikan kecakapan hidup adalah salah satu program yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjaga kelangsungan hidup, dan perkem-bangannya di masa datang. Pada implemen-tasinya program tersebut digulirkan kepada salah satunya yaitu kepada program tata rias pengantin yang telah berjalan selama kurun waktu ± 3 tahun di Kota Tangerang selatan, yaitu sejak tahun 2011 (Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, 2015)
Dapat diketahui bahwa orang yang meng-ikuti pendidikan di lembaga kursus tata rias pengantin dengan kateori baik yang memi-liki pendidikan kecakapan hidup kurang se-banyak 3 orang atau 18,8% sedangkan yang memiliki pendidikan kecakapan hidup baik sebanyak 13 orang atau 81,2%. Orang yang mengikuti pendidikan di lembaga kursus tata rias pengantin dengan kategori sangat baik dan memiliki pendidikan kecakapan hidup baik sebanyak 44 orang atau 100% dengan ti-dak ada orang yang memiliki pendidikan ke-cakapan hidup kurang. . Hal ini menunjukkan bahwa jika tata rias pengantin baik, tingkat pendidikan kecakapan hidup perkotaan pasti akan baik. Hal ini didukung oleh Puri Bhak-ti Renatama (2012) yang menyatakan bahwa warga belajar setelah selesai mengikuti kegi-atan pelatihan mengalami perubahan, tingkat pengetahuan tentang rias pengantin, sikap kewirausahaan dalam mengembangkan usa-hanya dibidang rias pengantin, menjadi te-rampil dalam hal merias. Perubahan tersebut
tidak terlepas dari pelaksanaan proses pem-belajaran yang diimplementasikan.
Selanjutnya berdasarkan hasil uji Chi Squ-are menunjukkan bahwa Chi SquSqu-are hitung diperoleh nilai 8,684 yang jika dibandingkan dengan Chi Square tabel pada α = 0,05 dan df
= 1 diperoleh nilai 3,84146, maka dapat di-simpulkan bahwa Ho ditolak yang berarti ada hubungan antara variabel tata rias pengantin dengan variabel pendidikan kecakapan hi-dup. Hasil uji statistik Chi Square antara pen-didikan kecakapan hidup perkotaan (PKHP) Oleh lembaga kursus tata rias pengantin di Kota Tangerang Selatan menunjukkan ada-nya hubungan yang bermakna secara signi-fikan (p-value = 0,813) dengan nilai OR>1 yang berarti bahwa tata rias pengantin mem-pertinggi terjadinya pendidikan kecakapan hidup perkotaan. Interval Kepercayaan (CI) batas bawah 0,642 dan batas atas 1,028 se-hingga dikatakan bahwa makin kuat dugaan jika tata rias pengantin merupakan faktor ter-jadinya tingkat pendidikan kecakapan hidup perkotaan (PKHP).
Namun, dengan adanya fakta tersebut ti-dak lepas dari tanggung jawab pemerintah baik koordinator program maupun pengelola program untuk meningkatkan indikator-indi-kator keberhasilan program yang belum ber-hasil. Indikator-indikator tersebut diantara-nya adalah sebagai berikut:
1. Melengkapi Aspek Legal / Usaha Tata Rias Pengantin
2. Proses pembelajaran teori tentang peratur-an perundperatur-ang-undperatur-angperatur-an ketenagakerjaperatur-an 3. Praktik manajemen oleh lembaga tata rias
pengantin sebagai upaya untuk mening-katkan kemampuan kerja
Indikator capaian program tersebut diha-rapkan dapat menjadi pertimbangan kembali bagi pemerintah khususnya pada saat
mem-buat desain rencana pemmem-buatan program-pro-gram sejenis. Dimana capaian proprogram-pro-gram yang diperoleh tentunya tidak terlepas dari adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya.
KESIMPULAN
a. Capaian program PKHP oleh lembaga kursus tata rias pengantin di Kota Tange-rang Selatan adalah menunjukkan capaian kategori baik dengan menunjukkan nilai 95% untuk kota Tangerang Selatan, se-dangkan keberhasilan TRP berdasarkan SKL menunjukkan capaian kategori sa-ngat baik mencapai 73,3%. Selanjutnya berdasarkan uji statistik Chi Square di-dapatkan hasil bahwa Chi Square hitung diperoleh nilai 8,684 yang jika dibanding-kan dengan Chi Square tabel pada α = 0,05 dan df = 1 diperoleh nilai 3,84146, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak yang berarti ada hubungan antara variabel tata rias pengantin dengan variabel pendidik-an kecakappendidik-an hidup. Hasil uji statistik Chi Square antara pendidikan kecakapan hi-dup perkotaan (PKHP) Oleh lembaga kur-sus tata rias pengantin di Kota Tangerang Selatan menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara signifikan (p-value
= 0,813) dengan nilai OR>1 yang berarti bahwa tata rias pengantin mempertinggi terjadinya pendidikan kecakapan hidup perkotaan. Interval Kepercayaan (CI) ba-tas bawah 0,642 dan baba-tas aba-tas 1,028 se-hingga dikatakan bahwa makin kuat du-gaan jika tata rias pengantin merupakan faktor terjadinya tingkat pendidikan keca-kapan hidup perkotaan (PKHP).
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi capai-an program Pendidikcapai-an Kecakapcapai-an Hidup Perkotaan oleh lembaga kursus tata rias pengantin di Kota Tangerang Selatan
anta-ra lain meliputi SKL (Standar Kompetensi Lulusan) Tata Rias Pengantin Yunior dan proses belajar mengajar Pendidikan Non-formal oleh Pendidikan Kecakapan Hidup Perkotaan yang meliputi: teori, praktik dan pendidikan karakter. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk meningkat-kan nilai indikator keberhasilan program Pendidikan Kecakapan Hidup Perkotaan oleh Tata Rias Pengantin di Kota Tange-rang Selatan antara lain adalah: sebagian besar responden perlu untuk belajar me-ngenai melengkapi aspek legal / usaha tata rias pengantin, proses pembelajaran teori tentang peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan dan praktik manajemen oleh lembaga tata rias pengantin sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan kerja.
Atas uraian diatas peneliti memberikan rekomendasi kepada koordinatorprogram da-lam hal ini adalah Direktorat Pembinaan Kur-sus dan Pelatihan maupunperencana program pemberdayaan secara umum sebagai berikut:
1. Koordinator program hendaknya beker-jasama dengan pengelola program untuk memasukkan materi tentang aspek legal usaha tata rias pengantin dan mengajarkan kepada peserta kursus tata rias pengantin bagaimana cara untuk menyiapkan per-syaratan yang dibutuhkan ke instansi yang berwewenang dan membayar pajak sesuai prosedur.
2. Koordinator program hendaknya beker-jasama dengan Dinas tenaga kerja dan STAN dalam penyempurnaan materi Per-undang-undangan tentang ketenagakerja-an dketenagakerja-an peraturketenagakerja-an perpajakketenagakerja-an.
3. Direktorat Pembinaan Kursus dan Pela-tihan hendaknya memberikan materi ten-tang proses pembelajaran teori tentang
peraturan perundang-undangan ketena-gakerjaan dan praktik manajemen oleh lembaga tata rias pengantin sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan kerja.
Sehingga, peserta kursus tata rias pengan-tin tidak hanya handal di bidang keteram-pilan tata rias, namun juga handal dalam teori pajak dan manajemen.
4. Dinas Pendidikan berkerjasama dengan Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatih-an dapat mengembPelatih-angPelatih-an SPelatih-anggar Kegia-tan Belajar untuk membuat model-model Pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masayarakat yang secara Berkesinambun-gan (sustainable) yang diperlukan oleh masayarkat dalam perkembangan Ilmu pengatahuan teknologi secara terus me-nerus dalam peningkatan Pendidikan Ke-cakapan Hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA
Adi, I. R. (2013). Intervensi komunitas; pe-ngembangan masyarakat sebagai upa-ya pemberdaupa-yaan masupa-yarakat (Edisi Revisi 2012) . Jakarta: Rajawali.
Anwar. (2004). Pendidikan Kecakapan Hi-dup. Bandung: Aphabeta.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan. (2012). Ana-lisis Pembangunan Manusia Kota Tangerang Selatan 2012. Tangerang Selatan : Bapeda Kota Tangerang Se-latan.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan. (2013). In-dikator Ekonomi Daerah Kota Tang-erang Selatan. TangTang-erang Selatan : Badan Perencanaan Pembangunan Da-erah Kota Tangerang Selatan.
Depdiknas. (2003). Kecakapan Hidup – Pen-didikan Kecakapan Hidup. Jakarta:
Depdiknas.
Dinsosnakertrans Kota Tangerang Selatan, 2015). Program padat karya 7 keca-matan penanggulangan pengangguran Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan.
(2012). Petunjuk teknis penyelengga-raan dan tata cara memperoleh dana bantuan operasional program pendi-dikan kecakapan hidup (PKH). Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebu-dayaan.
Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan Kementerian Pendidiakan dan kebuda-yaan, menyebutkan bahwa Kursus di-definisikan dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah, Pe-muda, dan Olahraga (Kepdirjen Dik-lusepora) Nomor: KEP-105/E/L/1990, Jakarta
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (PAU-DINI), tahun 2011 Jakarta :Kementeri-an Pendidik:Kementeri-an d:Kementeri-an Nasional.
Direktor Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaag,(2010), tentang le-vel/jenjang Kompetensi Lulusan. De-partemen Pendidikan Nasional
Ife, J. (2006). Community development; com-munity based alternatif in age of glo-balisation (3rd ed). NSW: New Pear-Midgley, J. (1995). Sosial development: the son.
development perspective in sosial wel-fare. London: Sage Publikation Ltd.
Direktorat Kursus dan Pelatihan,(2012) ten-tang Paduan Pendidikan Kecakapan Hidup, 2012, Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta.
Patton, Michael Quinn. (1997). Utilization--focused , 3rd edition. United States of America: SAGE Publications.
Patton. (1991), How tu Use Qualitative Met-hods in Evaluation, Thousand Oaks California: Sage Publication,
PP No 73/1991 Kementerian Pendidikan dan Kebudaya,Tentang Tujuan Pendidikan Nonformal, 1991. Jakarta.
Philip Coombs dan Manzoor A., P.H. (1985) dalam bukunya The World Crisis In Education
Pranarka A.M.W. dan Prijono Onny S.
(1996). Pemberdayaan: Konsep, Ke-bijakan dan Implementasi. Jakarta:
CSIS.
Payne (1997:266) dalam Bukunya. Modern Social Theory.second edition. Lon-don:Macmillas PressLtd
SAKERNAS.(2011,42). Analisis Pemba-ngunann Manusia Kota Tangerang Selatan : Badan Perencanaan Pem-bangunan Daerah Pemerintah Kota Tangerang Selatan.
Santoso, R.A. (1956). Pendidikan Masyara-kat I, II, III. Bandung : Ganaco,NV Santoso S. Hamijoyo. 1972. Pendidikan,
Pe-rencanaan, Bandung : IKIP Bandung.
Shardlow, Steven,1998, “Values,Ethics and Social Work” dalam Adams,Robert, Lena Dominelli dan Malcolm Payne (eds). Social Work:Theme, Issues and Critical Debates. London: Mac Millan Press Ltd
Sihombing, U. (2001). Pendidikan luar se-kolah : masalah, tantangan, dan pelu-ang. Jakarta : Wirakarsa.
Sihombing, U. (2001). Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Yog-yakarta: Adecitra Karya Nusa.
Slamet, PH. (2002). Pendidikan Kecakapan Hidup: Konsep Dasar. Jurnal Pendi-dikan dan Kebudayaan. Tahun ke-8.
Nomor 037, Juli 2002.
Soetrisno, L. (1995). Menuju masyarakat partisipatif. Yogyakarta: Kanisius.
Soetomo. (2011). Pemberdayaan Masyara-kat, Jakarta: Pustaka Pelajar.
Sub Bidang Data dan Statistik Bidang Statis-tik dan Pelaporan. (2013). Profil Kota Tangerang Selatan. Tangerang Selat-an: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tangerang Selatan.
Sugiyono (2007), Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta Bandung
Sugiono. (2009). Metode Penelitian Kuan-titatif dan Kualitatif dan R&D. Ban-dung: Alfabeta.
Sugiyono. (2009). Statistika Untuk Peneliti-an. Bandung: CV Alfabeta.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuali-tatif, Kuantitatif dan R&D. Bandung:
CV Alfabeta.
Suharto, E. (2009). Membangun masyarakat memberdayakan masyarakat. Ban-dung: Refika Aditama.
Sumarno. (2001). Konsep dasar Kebijakan Pendidikan Kecakapan Hidup, Jurnal Dinamika Pendidikan No. 02/TH IX.
November 2002 FIP UNY Yogyakarta.
Suryono,Yoyon. (2008). Evaluasi Program Pendidikan Nonformal Berbasis Pen-didikan Kecakapan Hidup Dalam Mengatasi Kemiskinan Di Indonesia.
Yogyakarta: FIP UNY.
Tohani, Entoh. (2011). Pendidikan nonfor-mal dan pengurangan kemiskinan di pedesaan. Jurnal Walisongo. Nomor 2, November 2011.
Tilaar, H. A. R. 2000. Paradigma Baru Pen-didikan Nasional. Jakarta : Rineka Cipta.
Undang Nomor 6 tahun 1974 tentang keten-tuan-ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial.
United Nationals Development Programme.
Humen Development Report 2006 Yunus (2004,3). Pendidikan Berbasis
Reali-tas Sosial-Paulo Freire & YB Mangun Wijaya, Yogyakarta: Logung Pustaka Yudha Hermawan (2010). Strategi Bersaing
lembaga pendidikan Nonformal (studi Kasus:Intensive english
course--Harapan Indah)
Zanten, Wim Van (2008). Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan In-tervensi Komunitas, Depok: Universi-tas Indonesia