• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. PROFIL PERUSAHAAN

5.1 EVALUASI PENERAPAN CPMB

5.1.1 Kondisi Bangunan

CPMB merupakan suatu persyaratan dasar dan program umum bagi industri pangan untuk menghasilkan produk yang bermutu, layak dan aman secara konsisten. Berdasarkan hasil pengamatan (observasi) dan wawancara yang dilakukan di lapangan tentang penerapan CPMB di PT. X dibandingkan dengan standar (berdasarkan kriteria penilaian yang digunakan BPOM tahun 2002) melalui Checklist CPMB ditemukan 5 penyimpangan; yaitu: 4 penyimpangan minor dan 1 penyimpangan mayor. Oleh karena itu, berdasarkan standar tingkat (rating) kelayakan sarana produksi dari BPOM tersebut, tingkat (rating) CPMB di PT. X masuk dalam tingkat (rating) A, yaitu baik sekali (Lampiran 6).

Hasil identifikasi terhadap 5 penyimpangan tersebut disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Identifikasi Penyimpangan/Ketidaksesuaian dalam Penerapan

CPMB di PT X tahun 2011

No Aspek yang Dinilai Penyimpangan Kategori

1 Bangunan a. Pertemuan antara lantai dan dinding tidak mudah dibersihkan (tidak ada lengkungan)

b. Pertemuan antara dinding dan dinding tidak mudah dibersihkan (tidak ada lengkungan)

c. Konstruksi tidak sesuai persyaratan teknik sanitasi dan higiene (tidak rata, tidak kuat, retak atau licin)

Minor

Minor

Minor

2 Sanitasi lingkungan Sistem pembuangan limbah cair/saluran

disekitar lingkungan pabrik kurang baik Minor 3 Pengendalian Hama Pencegahan serangga, burung, tikus dan

binatang lain tidak efektif. Mayor

Penyimpangan minor pertama sampai dengan keempat, adalah saling terkait dan berhubungan dengan persyaratan bangunan serta berkaitan dengan upaya untuk mencegah adanya kontaminasi silang yang disebabkan oleh lingkungan pabrik yang kurang baik. Menurut Kepmenkes RI, No.23,1978, sebaiknya permukaan bangunan harus halus berwarna terang, tahan lama dan tidak mudah mengelupas, mudah dibersihkan dan sekurang-kurangnya setinggi 2 m dari lantai harus rapat air, tahan terhadap air, garam, basa, asam dan bahan kimia lainnya. Pertemuan antara dinding dengan dinding dan antara dinding dan lantai tidak boleh membentuk sudut mati dan harus melengkung, harus halus, rata, tidak mudah mengelupas serta rapat air. Terkait dengan sanitasi lingkungan, bangunan harus dilengkapi dengan fasilitas sanitasi yang dibuat berdasarkan perencanaan yang memenuhi persyaratan teknik dan higiene. Sarana pembuangan harus dapat mengolah dan membuang buangan

padat, cair dan/atau gas yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan khususnya daerah pembuangan limbah cair.

Penyimpangan kelima, berhubungan dengan aspek CPMB pemeliharaan sarana pengendalian hama, yaitu di gudang tempat penyimpanan produk mi yang dapat dimasukin oleh burung yang dapat sebagai agen pencemar ke produk. Menurut Kepmenkes RI, No.23,1978, untuk mencegah masuknya hama kedalam pabrik perlu dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :

a. Bangunan pabrik harus terjaga dalam keadaan bersih dan terawat b. Menutup lubang-lubang dan saluran yang memungkinkan hama masuk. c. Memasang kawat kasa pada jendela, pintu dan ventilasi.

5.1.2 Pemahaman Karyawan tentang Sanitasi dan Higiene

Mengetahui pemahaman karyawan tentang higiene dan sanitasi dilakukan menggunakan media angket sebanyak 40 buah. Jumlah angket yang kembali sebanyak 36 buah. Hasil pengisian angket disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Pemahaman Karyawan tentang Sanitasi dan Higiene

No Pertanyaan Jumlah

(orang) (%) 1 Mengikuti latihan atau training mengenai sanitasi

a. Tidak pernah 21 58.3 b. Pernah 15 41.7 Jumlah 36 100.0 2 Pendidikan terakhir a. SD 0 0.0 b. SLTP 6 16.7 c. SLTA 30 83.3 d. Sarjana 0 0.0 Jumlah 36 100.0

3 Pengetahuan tentang sanitasi

a. Hal-hal yang bersifat bersih membersihkan 3 8.3 b. Hal-hal yang berkaitan dengan kotoran 0 0.0 c. Mencegah dan memelihara area dari kotoran 33 91.7 d. Mencegah, memelihara dan membersihkan semua bagian dari kotoran 0 0.0

Jumlah 36 100.0

4 Pendapat tentang pemakaian sarung tangan

a. Tidak perlu cukup dengan membersihkan tangan saja 0 0.0 b. Tidak perlu, karena mengganggu kelancaran bekerja 0 0.0 c. Tidak perlu karena membuat tangan bau dan berkeringat 0 0.0

d. Perlu untuk keseragaman pekerja 0 0.0

e. Perlu bagi pekerja yang tangannya kotor 0 0.0 f. Perlu agar produk mi yang kontak tidak kotor 36 100.0

Jumlah 36 100.0

5 Pengetahuan mengenai hairnet/topi/kerudung

a. Tidak perlu jika rambutnya pendek 0 0.0 b. Tidak perlu jika rambutnya sudah dicuci 0 0.0

c. Perlu agar seragam 0 0.0

d. Perlu agar rambut yang rontok atau cemaran rambut tidak mengenai

bahan 36 100.0

23

Tabel 5. (Lanjutan)

No Pertanyaan Jumlah

(orang) (%) 6 Pengetahuan mengenai penggunaan masker selama bekerja

a. Tidak perlu, karena pemakaiannya kurang nyaman 0 0.0 b. Perlu agar tidak ditegur pengawas 0 0.0 c. Perlu, agar cemaran-cemaran yang bersal dari hidung maupun mulut

tidak mengenai bahan 36 100.0

Jumlah 36 100.0

7 Pengetahuan tentang perlunya mencuci tangan dengan sabun setelah dari toilet a. Perlu agar mentaati peraturan dari perusahaan 0 0.0

b. Perlu agar mentaati peraturan dari QC/QA 0 0.0 c. Perlu, agar tidak terkena teguran dari atasan 0 0.0 d. Perlu agar produk yang keluar dari perusahaan tetap terjamin 36 100.0

Jumlah 36 100.0

8 Pendapat tentang peraturan yang melarang pemakaian perhiasan bagi pekerja a. Tidak perlu, karena tidak ada kaitannya dengan produksi 0 0.0

b. Tidak perlu, kalau yakin perhiasannya tidak jatuh 0 0.0 c. Tidak perlu, jika perhiasannya bersih 0 0.0 d. Perlu, agar tidak terjadi kesenjangan sosial 0 0.0 e. Perlu, agar perhiasan tidak mengotori bahan atau produk 36 100.0

Jumlah 36 100.0

9 Apa yang dilakukan jika mengalami penyakit kulit, atau flu selama berada di pabrik

a. Berobat ke dokter dan mengobati flu 10 27.8

b. Berobat ke dokter dan istirahat 26 72.2

Jumlah 36 100.0

10 Pendapat tentang pelaksanaan sanitasi pabrik, baik untuk pekerja, peralatan dan ruangan

a. Sangat buruk 0 0.0 b. Buruk 11 30.6 c. Sedang-sedang saja 7 19.4 d. Baik 17 47.2 e. Baik sekali 1 2.8 Jumlah 36 100.0

11 Salah satu cara agar semua pekerja memahami pentingnya sanitasi

a. Peraturan yang tegas 1 2.8

b. Pemberian hukuman jika melanggar 0 0.0

c. Diberikan pendidikan,/pelatihan terhadap sanitasi 35 97.2

d. Contoh dari pengawas 0 0.0

Jumlah 36 100.0

Hasil evaluasi pemahaman karyawan tentang sanitasi dan higiene menunjukkan bahwa karyawan yang pernah mengikuti pelatihan tentang sanitasi dan higiene lebih sedikit, yaitu sebanyak 41,7% dibandingkan dengan yang tidak pernah mengikuti pelatihan, yaitu sebanyak 58,3%. Pelatihan dilaksanakan di lingkungan kantor pabrik dengan intensitas waktu 2-3 jam.

Pelatihan tentang sanitasi dan higiene diikuti oleh karyawan (dari tingkat line operator, supervisor/kepala regu, kepala bagian) dan manajemen perusahaan dan dilakukan dengan cara inhouse training di PT X Ciawi, Bogor 6 bulan sekali. Materi yang diajarkan dalam pelatihan ini terdiri dari 3

(tiga) topik, yaitu pengantar sistem pengendalian keamanan pangan, sanitasi dan higiene dalam industri pangan dan prinsip-prinsip CPMB. Pelaksanaan inhouse training dilaksanakan secara periodik oleh pihak HRD dengan mengundang narasumber dari IPB.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pimpinan perusahaan tingkat pengertian dan pemahaman peserta setelah mengikuti pelatihan menunjukkan tingkat pengertian dan pemahamannya sangat baik. Dengan demikian dapat dikatakan ada dampak positif terhadap sumber daya manusia pada perusahaan di PT X Ciawi, Bogor. Hal ini mendukung hasil penelitian/kajian yang dilakukan oleh Manning (1994) dan Howes et al. (1996) yang menyatakan bahwa salah satu dampak positif adanya pelatihan sistem keamanan pangan adalah meningkatnya tingkat pengetahuan, pengertian dan pemahaman SDM yang terlibat dalam sistem industri pangan.

Sebagian besar responden dengan latarbelakang pendidikan SLTA, yaitu sebanyak 83,3% dan SLTP sebanyak 16,7%. Sebanyak 83,3%, menyatakan memiliki tanggung jawab terhadap sanitasi di Pabrik secara keseluruhan meliputi; Pekerja, Mandor, Pengawas, Kepala Pabrik, Bagian QC/QA, Bagian kebersihan, Pengawas dan Kepala Pabrik.

Sebanyak 91,7%, menyatakan pengertian sanitasi adalah mencegah dan memelihara bagian dari kotoran. Seluruh responden menyatakan pemakaian sarung perlu, agar produk mi yang kontak tidak kotor begitu juga dengan penggunaan hairnet/topi/kerudung menurut responden perlu, agar rambut yang rontok atau cemaran rambut tidak mengenai bahan.

Seluruh responden menyatakan; (a) mengetahui penggunaan masker selama bekerja perlu, agar cemaran-cemaran yang berasal dari hidung maupun mulut tidak mengenai produk, (b) mengetahui perlunya mencuci tangan dengan sabun setelah dari toilet, agar produk yang keluar dari perusahaan tetap terjamin, dan (c) mengetahui peraturan yang melarang pemakaian perhiasan bagi pekerja, agar perhiasan tidak mengotori bahan atau produk.

Sebanyak 72,2% menyatakan jika mengalami penyakit kulit, atau flu selama berada di pabrik maka yang dilakukan berobat ke dokter dan istirahat. Sebanyak 47,3% menyatakan tentang pelaksanaan sanitasi pabrik, baik untuk pekerja, peralatan dan ruangan pada kategori baik serta sebanyak 97,2% menyatakan agar semua pekerja memahami pentingnya sanitasi dan higiene maka perlu diberikan pendidikan,/pelatihan tentang sanitasi dan higiene.

Hasil wawancara berdasarkan persentase pemahaman karyawan tentang higiene dan sanitasi ditunjukkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Persentase Pemahaman Karyawan tentang Sanitase dan Higiene

No Aspek yang dinilai Persentase

≥ 50% < 50%

1 Pelatihan tentang sanitasi dan higiene √

2 Bertanggung jawab terhadap sanitasi di Pabrik √

3 Memahami manfaat sanitasi √

4 Mengetahui perlunya pemakaian sarung tangan √ 5 Mengetahui penggunaan hairnet/topi/kerudung, penggunaan masker

selama bekerja, perlunya mencuci tangan dengan sabun, mengetahui peraturan yang melarang pemakaian perhiasan, dan

6 Pencegahan yang dilakukan bila mengalami penyakit serta pentingnya

memahami sanitasi dan hygiene

Secara umum pemahaman karyawan tentang higiene dan sanitasi sebagian besar sudah baik, hal ini terkait dengan tingkat pendidikan karyawan, yaitu sebanyak 83,3% dengan latar belakang pendidikan SLTA, sehingga tingkat kesadaran dan perilaku dalam bekerja untuk memahami

25

pentingnya higiene dan sanitasi sesuai dengan yang ditetapkan oleh perusahaan, namun belum semuanya karyawan mengikuti pelatihan higiene dan sanitasi.

Menurut Minarni (1995) higiene pekerja yang menangani makanan sangat penting peranannya di dalam mencegah perpindahan penyakit ke dalam makanan. Persyaratan bagi pekerja agar mendukung higiene pekerja adalah kesehatan yang baik dan pengetahuan mengenai sanitasi. Hasil penelitian Sudibyo (2008) mengungkapkan terjadinya kontaminasi pada produksi mi kering salah satu bersumber dari karyawan. Hal ini kemungkinan disebabkan faktor berikut: (a) tidak ada pengawasan dalam hal sanitasi pencucian tangan sebelum masuk ke ruang pengolahan dan setelah keluar dari toilet, (b) fasilitas klinik tidak digunakan untuk check up rutin seluruh karyawan, khususnya di bagian produksi, (c) manajemen unit pengolahan tidak memiliki tindakan efektif untuk mencegah karyawan yang diketahui mengidap penyakit yang dapat mengkontaminasi produk, (d) kebersihan karyawan tidak terjaga dengan baik dan kurang memperhatikan aspek sanitasi dan higiene (misalnya pakaian seragam celemek ada yang kotor, dan kebiasaan minum di ruang produksi).

Karyawan atau personel yang langsung menangani pengolahan pangan dapat mencemari bahan pangan atau pangan tersebut, baik berupa cemaran fisik, kimia maupun biologis. Oleh karena itu, higiene karyawan merupakan salah satu hal yang penting yang harus diperhatikan oleh industri pangan agar produk panganya bermutu dan aman untuk dikonsumsi. Upaya yang dapat dilakukan adalah memupuk kebiasaan karyawan yang baik dan melatih karyawan untuk meninggalkan kebiasaan yang buruk (Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2009).

5.2 EVALUASI SUMBER-SUMBER REKONTAMINASI DARI

Dokumen terkait