BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Penyuluhan
2.3.7 Evaluasi Penyuluhan Pertanian
Menurut Van Den Ban, A. W(1999), evaluasi merupakan alat manajemen yang berorientasi pada tindakan dan proses informasi yang dikumpulkan kemudian dianalisis sehingga relevansi, efek, serta konsekuensinya ditentukan sesistematis dan seobjektif mungkin. Evaluasi merupakan kegiatan memberi nilai terhadap kualitas sesuatu kegiatan yang sedang dilaksanakan atau yang akan sedang dilaksanakan. Evaluasi juga merupakan kegiatan untuk merencanakan, dan menghasilkan alternatif keputusan. Tujuan evaluasi yaitu memperbaiki suatu program yang sedang dilaksanakan atau berjalan maupun umpan balik perihal perbaikan sebuah program yang akan datang. Kegiatan evaluasi penyuluhan pertanian diperlukan karena adanya evaluasi yang “baik” akan sangat bermanfaat, tidak saja bagi kegiatannya sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi pelaksana kegaiatan penyuluhannya, dan aparat atau petugas pelaksana evaluasi penyuluhan.
Menurut Mardikanto (2009: 287), terdapat beberapa pokok pikiran yang terkandung dalam pengertian evaluasi sebagai kegiatan terencana dan sistematis yang meliputi:
a) Pengamatan untuk pengumpulan data atau fakta;
b) Penggunaan pedoman yang telah ditetapkan;
c) Pengukuran atau membandingkan hasil pengamatan dengan pedoman-pedoman yang sudah ditetapkan terlebih dahulu;
d) Pengambilan keputusan atau penilaian.
b. Tujuan Evaluasi
Stufflebeam (1971) mengemukakan bahwa, pada dasarnya tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui seberapa jauh kegiatan kegiatan yang telah dilaksanakan telah sesuai atau menyimpang dari pedoman yang di tetapkan, atau untuk mengetahui tingkat kesenjangan antara keadaan yang telah dicapai dengan keadaan yang dikehendaki atau seharusnya dapat dicapai, sehingga dengan demikian akan dapat diketahui tingkat efektivitas dan efisiensi kegiatan yang telah dilaksankan untuk selanjutnya dapat segera di ambil langkah-langkah guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan seperti uang yang di kehendaki.
Prinsip yang digunakan dalam merumuskan tujuan yaitu “SMART”.
1. Specific (Khusus)
Kegiatan penyuluhan pertanian dilakukan untuk memenuhi kebutuhan khusus ataupun yang dibutuhkan petani sesuai dengan keinginannya. Tujuan yang spesifik ini dapat menghasilkan efisiensi terhadap tujuan yang diinginkan.
2. Measurable (Dapat diukur)
Kegiatan penyuluhan mempunyai tujuan akhir yang dapat diukur. Tujuan akhir yang diukur harus dengan jelas terlihat atau dapat dirasakan, walaupun hasil dari tujuan tersebut bisa dapat bertahan dalam waktu lama ataupun dalam waktu yang singkat.
3. Actionary (Dapat dikerjakan/dilakukan)
Tujuan kegiatan penyuluhan mampu untuk dicapai oleh para petani.Dapat dicapai berarti harus dapat dikerjakan sehingga menghasilkan sesuatu.
4. Realistis
Tujuan yang ingin dicapai harus masuk akal, dan tidak berlebihan, sehingga sesuai dengan kemampuan yang dimiliki petani. Petani akan cenderung untuk mengikuti atau mengadopsi suatu yang dianggap dapat dilakukan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupannya.
5. Time frame (Memiliki batasan waktu untuk mencapai tujuan)
Dalam waktu yang telah ditetapkan, tujuan yang ingin dicapai dari penyelenggaraan penyuluhan harus dapat dipenuhi oleh setiap petani.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan adalah dengan
"ABCD" yaitu:
1. Audience (Mengandung sasaran/partisipan/subjek yang diberdayakan) 2. Behaviour (Perubahan perilaku yang dikehendaki atau yang ingin diubah) 3. Condition (kondisi yang akan dicapai)
4. Degree (derajat kondisi yang akan dicapai dalam penyuluhan).
6. Jenis Evaluasi
Jenis-jenis evaluasi antara lain:
1. Evaluasi Penyuluhan Pertanian
Merupakan alat untuk mengambil keputusan dan menyusun pertimbangan-pertimbangan. Dari hasil evaluasi penyuluhan pertanian dapat diketahui : sejauh mana perubahan perilaku petani, hambatan yang dihadapi petani, efektivitas program penyuluhan pertanian serta seberapa jauh pemahaman masalah dan penyempurnaan kegiatan.
Dalam evaluasi dikenal beberapa klasifikasi evaluasi seperti : Evaluasi Formatif dan sumatif, Evaluasi Formal dan Informal, Evaluasi Internal dan Eksternal, Evaluasi Proses dan Produk (out put), Evaluasi Deskriptif dan Inferensial, Evaluasi Holistik (misal CIPP) dan Analitik, Evaluasi on going,
terminal dan ex post evaluation, Evaluasi Teknis dan Ekonomis, Evaluasi Program, Monitoring dan Evaluasi Dampak.
2. Evaluasi Program Penyuluhan
Setiap program kegiatan yang direncanakan seharusnya diakhiri dengan evaluasi dan dimulai dengan hasil evaluasi kegiatan sebelumnya. Evaluasi yang dilakukan dimaksudkan untuk melihat kembali apakah suatu program atau kegiatan telah dapat dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan tujuan yang diharapkan. Dari kegiatan evaluasi tersebut akan diketahui hal-hal yang telah dicapai, apakah suatu program dapat memenuhi kriteria yang telah ditentukan.
Berdasarkan hasil evaluasi itu kemudian diambil keputusan, apakah suatu program akan diteruskan, atau direvisi, atau bahkan diganti sama sekali. Hal ini didasarkan pada pengertian evaluasi, yaitu suatu proses pengumpulan informasi melalui pengumpulan data dengan menggunakan instrumen tertentu untuk mengambil suatu keputusan. Jadi, pada dasarnya evaluasi adalah suatu kegiatan yang menguji atau menilai pelaksanaan suatu program.
Evaluasi program biasanya dilakukan untuk kepentingan pengambilan keputusan dalam rangka menentukan kebijakan selanjutnya. Dengan melalui evaluasi suatu program dapat dilakukan secara sistematis, rinci dan menggunakan prosedur yang sudah diuji secara cermat. Dengan metode tertentu akan diperoleh data yang handal, dapat dipercaya sehingga penentuan kebijakan akan tepat, dengan catatan apabila data yang digunakan sebagai dasar pertimbangan tersebut benar, akurat dan lengkap.
Adapun program itu sendiri diartikan segala sesuatu yang dilakukan dengan harapan akan mendapatkan hasil atau pengaruh. Jadi evaluasi program merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Untuk melihat tercapai atau tidaknya suatu program yang sudah berjalan diperlukan kegiatan evaluasi.
3. Evaluasi Hasil Penyuluhan Pertanian
Tujuan penyuluhan pertanian adalah perubahan perilaku petani (kognitif, afektif, dan psikomotor).
A Kognitif : Kemampuan mengembangkan intelegensia (pengetahuan, pengertian, penerapan, analisis, sintesis)
B Afektif : Sikap, minat, nilai, menanggapi, menilai/tata nilai dan menghayati
C Psikomotor : Gerak motor : kekuatan, kecepatan, kecermatan, ketepatan, ketahanan dan keharmonisan
Jadi evaluasi penyuluhan pertanian adalah mengevaluasi sampai seberapa jauh tingkat pencapaian tujuan, berupa perubahan perilaku petani dan keluarganya.
4. Evaluasi Metode
Evaluasi metode yaitu evaluasi semua kegiatan penyuluhan pertanian yang dilakukan penyuluh pertanian dalam rangka mencapai perubahan perilaku sasaran.
5. Evaluasi Sarana Prasarana
Sarana dan prasarana adalah pendukung penyuluhan pertanian, sangat penting dalam kegiatan penyuluhan pertanian, efektivitas penyuluhan pertanian sebagian tergantung pada alat bantu penyuluh, perlengkapan, peralatan, bahan-bahan sarana prasarana yang digunakan. Evaluasi sarana-prasarana pada dasarnya mengevaluasi kesiapan perangkat sarana-prasarana yang menunjang kegiatan penyuluhan.
6. Evaluasi Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian dan Evaluasi Dampak Penyuluhan
Dalam prakteknya pelaksanaan evaluasi penyuluhan pertanian dapat merupakan kombinasi dari beberapa macam/cara evaluasi, hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, lebih akurat, dan lebih sahih dari pada evaluasi dengan menggunakan cara tunggal.
Evaluasi Pelaksanaan kegiatan Penyuluhan Pertanian merupakan proses yang sistematis, sebagai upaya penilaian atas suatu kegiatan oleh evaluator melalui pengumpulan dan analisis informasi secara sistematik mengenai perencanaan, pelaksanaan, hasil dan dampak kegiatan penyuluhan pertanian. Hasil evaluasi ini untuk menilai relevansi, efektifitas/efisiensi pencapaian/hasil suatu kegiatan, untuk selanjutnya digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan kebijakan pada perencanaan dan pengembangan kegiatan selanjutnya.
Evaluasi pelaksanaan atau evaluasi proses (on going evaluation) ini dilaksanakan pada saat kegiatan sedang dilaksanakan. Fokus utama evaluasi ini menyangkut proses pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan:
1. Tingkat efisiensi dan efektivitas pelaksanaan
2. Kemungkinan keberhasilan kegiatan sebagaimana yang direncanakan 3. Sejauhmana hasil yang diperoleh dapat memberi sumbangan kepada
tujuan pembangunan
4. Tindakan korektif yang diperlukan untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas pelaksanaan
5. Tindakan-tindakanlain yang diperlukan sebagai pelengkap kegiatan yang telah direncanakan.
Hasil dari evaluasi pelaksanaan kegiatan penyuluhan biasanya digunakan untuk membantu pengambilan keputusan/penentu kebijakan dalam mengatasi permasalahan, dan tindakan penyesuaian/perbaikan atas pelaksanaan kegiatan.
7. Metode Evaluasi
Menurut Sudijono (2011), dalam pengantar evaluasi metode pelaksanaan evaluasi adalah:
1. Pengamatan (observasi)
Observasi sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah-laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.
2. Wawancara (Interview)
Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan Tanya jawab lisan secara sepihak berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.
3. Angket (Quistionnaire)
Angket (Quistionnaire) juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil kegiatan.
4. Pemeriksaan Dokumen (Documentary Analysis)
Kegiatan mempelajari data yang telah di ambil lewat angket dan wawancara, dengan jalan memperkaya dan menambah hasil evaluasi yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
8. Instrumen Evalausi
Instrumen adalah berbagai alat ukur yang digunakan secara sistematis untuk mengumpulkan data seperti tes,kuisioner dan pedoman wawancara.
(Sugiyono, 2015) Setelah instrumen dibuat maka hal yang harus dilakukan adalah menguji instrumen tersebut. Menurut Mardikanto (2009) uji yang dilakukan sebagi berikut :
1. Uji ketepatan atau uji validitas instrumen
Uji ketepatan atau uji validitas instrumen adalah telaah atau kajian terhadap instrumen yang disiapkan,agar instrumen tersebut dapat memperoleh data yang
bener-bener diperlukan untuk mengukur kegiatan atau peristiwa yang seharusnya di ukur.
2. Uji Reliabilitas atau ketelitian instrumen
Uji Reliabilitas atau ketelitian instrument adalah kajian tentang ketelitian instrumen dalam arti jika diterapkan untuk kelompok responden yang memiliki karakteristik yang hampir sama akan menghasilkan data yang sama pula.
9. Skala Pengukuran Guttman
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunkan sebagai acuan untuk menentukan Panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur sehingga alatukur tersebut bisa digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.(Sugiono, 2015). Skala guttman dilakukan apabila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalah yang ditanyakan.
10. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dibagi menjadi dua, metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif merupakan teknik pengumpulan data dalam kajian kuantitatif dapat dilakukan dengan tes, kuisioner, wawancara dan observasi tersruktur. Sedangkan metode kualitatif teknik pengumpulan data dalam metode kualitatif dapat dilakukan dalam setting, berbagi sumber,dan berbagi cara(Sugiyono, 2015).
11. Teknik Pengambilan Sampel
Menurut sugiyono (2015) teknik pengambilan sampel di bagi menjadi 2 yaitu sebagai berikut :
1. Probability Sampling
Probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi anggota
sampel. Teknik ini meliputi, simple random sampling, proportionate stratified sampling , disproportionate stratified sampling, sampling area (cluster)
2. Nonprobability Sampling
Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang / kesempatan bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik ini meliputi sampling sistematis, kuota, oksidental, purposive, jenuh dan snowball.
12.Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono (2015), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan diterik kesimpulannya.
Sedangkan Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
13.Analisis Data
Munurut sugiyono (2015), Analisis data kuantitatif adalah kegiatan setelah data dari seluruh obyek/responden lain terkumpul. Kegiatan analisis data ini adalah mengelompokkan data berdasarkan variable yang ditelilti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah di ajukan. Sedangkan analisis data kuantitatif adalah data yang diperoleh oleh dari berbagai sumber dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi) dan dilakukan terus menerus sampai datanya jenuh dan terakhir, analisis data kombinasi dilakukan, bila metode kajian menggunakan metode kombinasi.