• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

Matriks 4.10 Pernyataan Informan Tentang Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) Tentang Perilaku Seksual Pranikah

5.2.3 Evaluasi Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja

Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi program pelayanan kesehatan peduli remaja terhambat dikarenakan adanya kurang kerjasama dan kurang adanya pelaksaan kegiatan pelayanan kesehatan peduli remaja yang membuat evaluasi tidak berjalan dengan baik.Berdasarkan pernyataan informan :

“Eeh.. bagaimana ya… terhambat karena kurang kerjasama yang baik kadang yes dan no…” (Matriks 4.8;Informan 5)

Berdasarkan pernyataan informan diatas menyatakan bahwa evaluasi program pelayanan kesehatan peduli remaja terhambat dikarenakan kurang kerjasama dikedua belah pihak yang terkait.Pemantauan dalam pelaksanaan

program seharusnya dilakukan secara rutin setiap bulan agar pelaksanaan program tetap berjalan sesuai dengan pedoman program pelayanan kesehatan peduli remaja. Hal ini tidak sesuai dengan penjabaran dari Kemenkes (2014) bahwa pemantauan dan evaluasi dapat memperkecil timbulnya hambatan yang akan terjadi sehingga dapat segera diketahui dan dilakukan tindakan perbaikan.

Pemantauan atas pelaksanaan seluruh kegiatan program pelayanan kesehatan peduli remaja bertujuan untuk menjamin pelaksanaan program pelayanan kesehatan peduli remaja secara efektif yaitu mencapai tujuan yang telah ditentukan (Kemenkes, 2014)

Adapun pernyataan informan lain terhadap evaluasi pelayanan kesehatan peduli remaja adalah sebagai berikut :

“Yang monitoring langsung dari pihak petugas PKPR-nya aja ya, kami tidak ada tertarik ikut campur paling terima laporan kalau ada masalah berat dan baru turun buat rapat sama bagiannya.” (Matriks 4.8;Informan 1)

“Cukup baik.. tidak ada masalah untuk monitoring dan evaluasinya, setelah kami melaksanakan evaluasi kami harus membuat laporannya dan harus ada dokumentasinya” (Matriks 4.8;Informan 2)

Berdasarkan pernyataan diatas, dua informan menyatakan evaluasi dan monitoring pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan peduli remaja yaitu berupa laporan yang dilengkapi dokumentasi kegiatan yang telah dilakukan.Sementara evaluasi pelaksanaan program dilakukan secara rutin setiap tahun bersama dengan program-program lainnya. Berdasarkan pernyataan informan sejalan dengan penjabaran dari Direktorat Bina Kesehatan (2003) bahwa bentuk evaluasi dilakukan dengan melihat laporan bulanan setiap program yang telah direkapitulasi menjadi laporan tahunan. Laporan tahunan setiap program tersebut

disesuaikan dengan target pencapaian program berdasarkan standar dari Dinas Kesehatan. Program puskesmas yang tidak mencapai target akan dilakukan analisis masalah yang terdapat dalam pelaksanaan program dan diberikan solusi kepada petugas pemegang program. Evaluasi dilaksanakan untuk menentukan kelanjutan dari program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). Evaluasi dilaksanakan dari semua tahap persiapan maupun tahapan pelaksanaan.

5.3 Keluaran (Output)

Keluaran yang diharapkan dalam penelitian ini ialah remaja atau siswa-siswa di SMK Negeri 1 Pantai Cermin memiliki perilaku yang baik mengenai pencegahan seksual pranikah.Adapun pernyataan informan mengenai pencegahan perilaku seksual pranikah, yaitu sebagai berikut :

“Suatu hubungan yang tidak harus dilakukan dengan melakukan seks bebas… orangtua harus lebih memperhatikan anaknya lagi dalam memilih teman di sekolah maupun diluaran kak, bahaya perilaku itu bisa membuat rusaknya tubuh, terus hmm.. kecanduan, hamil diluar nikah kak. Kalau untuh mencegahnya menurut aku ya kak… jangan terlalu mengikuti aura malam kayak kibot gitu kak, jangan terlalu mendekatkan diri pada lawan jenis kak”

(Matriks 4.11:Informan 7)

“Perilaku jahat, bandel, terlalu bebas perjalanannya yang melakukan hal yang tidak dilakukan oleh remaja… bisa kena penyakit, buat malu orang tua.. kita harus membatasi pertemuan dengan pacar kak.” (Matriks 4.11:Informan 11)

Berdasarkan pernyataan informan diatas diketahui bahwa pengetahuan informan mengenai pencegahan perilaku seksual pranikah belum baik.Semua informan diatas menyatakan bahwa dalam hal pencegahan perilaku seksual hanya sebatas harus membatasi pertemuan dengan pacar, orang tua harus lebih memperhatikan anaknya lagi dalam memilih teman di sekolah maupun diluar. Hal

ini tidak sejalan dengan penjabaran dariMartharina (2013) bahwa cara menghindari perilaku seksual pranikah terutama di kalangan remaja antara lain sebagai berikut : 1) Beribadah mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengikuti kegiatan keagamaan di sekolah maupun di luar sekolah, 2) Melakukan kegiatan yang bermanfaat seperti berolahraga, mengikuti kegiatan organisasi di lingkungan masyarakat atau sekolah, 3) Mencari teman yang baik dan bergaul dengan lingkungan (masyarakat) yang baik, dan 4) Menyibukkan diri dengan hal-hal yang berguna seperti membantu pekerjaan orang tua di rumah, ikut kursus keterampilan, dan lain-lain.

Maksud dari pernyataan informan yang menyatakan bahwa perilaku jahat merupakan perilaku seperti menonton video porno dan pergaulan bebas.

Sedangkan pernyataan informan mengenai sikap informan dalam hal mencegah perilaku seksual pranikah yaitu, sebagai berikut :

“perilaku itu bahaya kak karena tidak patut dicontoh.” (Matriks 4.11;

Informan 6)

Berdasarkan pernyataan informan diatas diketahui bahwa sikap informan belum baik dalam hal pencegah perilaku seksual pranikah. Informan diatas menyatakan bahwa perilaku seksual pranikah merupakan perilaku yang berbahaya karena perilaku tersebut tidak patut untuk dicontoh. Hal ini tidak sejalan dengan penjabaran dari Sarwono (2011) bahwa perilaku seksual pranikah dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada remaja, diantaranya sebagai berikut :1) Dampak psikologis diantaranya perasaan marah, takut, cemas, depresi, rendah diri, bersalah dan berdosa, 2) Dampak fisiologis diantaranya dapat menimbulkan

kehamilan yang tidak di inginkan dan aborsi, 3) Dampak sosial antar lain dikucilkan, putus sekolah pada remaja perempuan yang hamil, dan perubahan peran menjadi ibu. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan menolak keadaan tersebut, dan 4) Dampak fisik adalah berkembangnya penyakit menular seksual di kalangan remaja, dengan frekuensi penderita penyakit menular seksual (PMS) yang tertinggi antara usia 15-24 tahun. Infeksi penyakit menular seksual dapat menyebabkan kemandulan dan rasa sakit kronis serta meningkatkan risiko.

Dilihat berdasarkan tindakan informan dikutip dari pernyataan informan dibawah mengenai pencegahan perilaku seksual pranikah bahwa tindakan informan belum baik dan tidak sesuai dengan pengetahuan dan sikap yang dimilikinya. Berdasarkan informan 11 menyatakan:

“kita harus membatasi pertemuan dengan pacar kak” (Matriks 4.10;informan 11)

Saat di konfirmasi dengan pertanyaan dengan gaya pacaran yang dilakukannya informan 11 menyatakan bahwa :

“gaya pacarannya ke barat-baratan, terus suka nonton kibot dan jalan”

Tindakan informan tersebut tidak sejalan dengan pengetahuan informan mengenai cara pencegahan perilaku seksual pranikah. (maksud pernyataan informan mengenai pacaran gaya kebarat-baratan seperti ciuman, berhubungan seks).

BAB VI

Dokumen terkait