Evaluasi terhadap program pengembangan masyarakat bertujuan melihat sejauh-mana program-program ini mampu mengikutsertakan masyarakat dalam rangka memberdayakan masyarakat, pengembangan kemampuan dan kapasitas, dalam upaya meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Program -program yang ada di Desa Tangsi Mekar, pengkaji angkat meliputi (1) program Raksa Desa yang dilaksanakan APBD propinsi Jawa Barat, (2) program pemberdayaan kesejahteraan keluarga yang dilaksanakan Departemen Dalam Negeri. Program-program yang dievaluasi merupakan Program-program-Program-program yang saat ini masih berjalan, ditujukan untuk membantu individu anggota masyarakat mengatasi kesulitan-kesulitan hidup dan, sebagai program pemberdayaan dalam rangka pengembangan masyarakat. Lebih jelasnya masing-masing program tersebut akan diuraikan berikut:
5.6.1. Tinjauan Pelaksanaan Raksa Desa
Pelaksanaan Program Raksa Desa di Desa Tangsi Mekar diarahkan untuk meningkatkan derajat ekonomi masyarakatnya. Program ini dilaksanakan di Desa Tangsi Mekar pada tahun 2002 dengan dana bantuan yang diterima pada waktu itu sebesar Rp. 60.000.000,- Penanggung jawab pelaksanan program berada pada sebuah Organisasi Satuan Pelaksana Desa.
Berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi oleh para pengrajin benang, kegiatannya berada dibawah koordinasi Bidang Ekonomi. Dana bantuan yang diberikan berupa pemberian pinjaman modal bergulir dengan bunga yang disepakati sebesar 2 % pertahun. Pemberian bantuan kredit diserahkan langsung kepada kelompok maupun perorangan dengan besar dana bantuan yang diberikan tidak ada ketentuannya. Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Desa sendiri bahwa :
“Pemberian bantuan dilakukan secara bervariasi ada yang hanya diberikan cuma Rp. 100.000,- atau paling besar Rp. 150.000,-perorang secara berkelompok tergantung usaha yang akan dijalankan. Sedangkan untuk mereka yang mempunyai usaha yang sudah lancar diberikan dana bantuan paling sedikit Rp. 1.000.000,- sampai dengan Rp.11.000.000,- perorang.”
Adanya pemberian bantuan redit yang bervariasi tersebut lebih dikarenakan pelaksanaannya dilapangan tidak menunjukan hasil yang memuaskan seperti yang diungkapkan oleh Bendahara Bapak AD bahwa :
“Bantuan yang bersifat pemberian modal ke warga masyarakat tidak berjalan lancar, hal ini dapat terlihat dengan banyaknya yang macet dalam pengembalian dana bergulir tersebut terlebih mereka yang usahanya kecil, banyak dari mereka menganggap bantuan tersebut merupakan hibah dan tidak perlu dikembalikan. “
Sedangkan menurut tokoh masyarakat Pak HR, menurut pengamatannya bahwa:
“Bantuan tersebut kurang efektif dikarenakan pemberian bantuan yang salah sasaran juga tidak adanya kejelasan persyaratan untuk mendapatkan dana tersebut. “
Merujuk pada pernyataan tersebut bahwa kegiatan pengembangan ekonomi dengan pemberian bantuan pinjaman modal, tidak menunjukan hasil yang signifikan atau tidak menyentuh sasaran yang sesungguhnya. Berdasarkan wawancara terhadap anggota masyarakat miskin, terutama para pengrajin yang kekurangan modal, tentang dana bergulir ini banyak yang menyatakan tidak mengetahui adanya program ini. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sosialisasi program yang dilakukan oleh Satuan Pelaksana Desa. Salah seorang pengrajin, Pak As, menyatakan bahwa:
”Program tersebut tidak berpihak pada kepentingan mereka untuk meningkatkan pendapatannya. Hal ini terlihat dari kecilnya dana bantuan yang diberikan dan informasi yang terkesan kurang dibuka untuk masy arakat secara luas. Beberapa orang pengrajin yang sempat mendapatkan bantuan modal dari program tersebut menyatakan hal yang sama, bahwa besarnya dana bantuan tersebut kurang memadai untuk skala usaha seperti yang sudah dijalani oleh para pengrajin di Desa Tangsi Mekar.”
Pelaksanaan program ini tidak menunjukan keberpihakan terhadap kaum miskin sehingga untuk mengatasi keadaan tersebut perlunya pemantauan dan evaluasi. Pemantauan dilakukan untuk memastikan bahwa pelaksanaan suatu upaya berjalan sesuai rencana. Pemantauan dilakukan selama upaya tersebut dilaksanakan. Evaluasi dilakukan untuk menyempurnakan upaya atau kegiatan -kegiatan yang sedang berjalan, membantu perencanaan penyusunan upaya atau kegiatan dan pengambilan keputusan di masa depan. Evaluasi dapat dilakukan
pada saat pelaksanaan, saat berakhir suatu upaya atau beberapa tahun setelah suatu upaya selesai.
Pelaksanaan Program Raksa Desa di Desa Tangsi Mekar dilakukan oleh sebuah organisasi yang dibentuk oleh Kepala Desa. Secara operasional organisasi bertanggung jawab kepada Kepala Desa selaku penerima tugas pembantuan dari Pemerintah Propinsi. Dari susunan pengurus yang ada pada Satlak Desa, penulis menilai bahwa hal itu kurang sehat secara organisasi. Organisasi yang dibentuk oleh Kepala Desa untuk melaksanakan tugas pembantuan diketuai Kepala Desa, sedangkan pengurus lainnya adalah para pamong atau perangkat desa.
Berdasarkan informasi dari beberapa tokoh masyarakat bahwa sejak pembentukannya organisasi ini tidak memiliki job description yang jelas dari masing-masing seksi. Tugas yang jelas hanyalah pada Ketua, Bendahara selaku pemegang dan penyalur dana, dan Sekretaris yang mengurusi surat menyurat. Sedangkan seksi-seksi yang lain tidak memiliki tugas yang jelas. Penentuan tentang besarnya dan a yang dapat dipinjamkan dilihat dari jenis dan besarnya usaha. Untuk usaha kecil-kecilan seperti warung besarnya pinjaman yang dapat diberiknan hanya sebesar Rp. 100.000,- sampai Rp. 200.000,- Sedangkan untuk usaha yang berskala besar bantuan yang diberik an bisa mencapai lebih dari Rp. 2.000.000,- Namun pada pelaksanaannya besarnya bantuan pinjaman yang dapat diterima tidak hanya ditentukan oleh besarnya dan jenis usaha, tetapi ditentukan juga oleh keberhasilan dalam melakukan pendekatan kepada Kepala Desa yang sekaligus merupakan ketua Satlak Raksa Desa.
Kondisi ini menyebabkan adanya kecemburuan sosial diantara sesama anggota masyarakat. Kecemburuan sosial inilah yang akhirnya merupakan penyebab menurunnya kepercayaan masyarakat kepada Pemerintah Desa dan Satlak Raksa Desa, sehingga masyarakat kurang memanfaatkan program tersebut untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.
Menurut beberapa pengrajin, mereka tidak mengetahui tentang adanya program yang dapat memberikan pinjaman modal untuk usaha mereka. Beberapa orang pengrajin yang pernah mencoba untuk menggunakan fasilitas pinjaman ini merasakan kurangnya manfaat yang diterimanya. Kurangnya manfaat ini disamping karena kecilnya jumlah yang dapat mereka pinjam juga karena
bunganya yang dianggap besar. Hal ini menyebabkan mereka merasa bahwa program tersebut tidak berpihak pada kepentingan rakyat kecil, sehingga mereka membutuhkan suatu upaya yang benar-benar dapat mengatasi permasalahan yang mereka hadapi.
Upaya yang selama ini ditempuh oleh para pengrajin benang untuk mengatasi permasalahan mereka dalam memenuhi kebutuhan bahan baku adalah dengan menghimpun diri atau berkelompok. Kelompok yang mereka bentuk sifatnya semu dengan anggota yang tidak menetap dan tanpa adanya pembagian tugas dan wewenang yang jelas. Kelompok ini hanya berbentuk sekumpulan orang yang bertujuan untuk mendapatkan pinjaman modal kepada salah seorang saudagar kaya atau untuk mendapatkan bahan baku berupa limbah industri tekstil dari salah seorang pemborong yang membeli langsung ke pabrik.
Kelompok ini akan terbentuk dengan sendirinya manakala mereka menghadapi masalah yang sama. Kelompok akan segera bubar ketika masalah tersebut sudah terpecahkan atau kebutuhan telah terpenuhi. Untuk membentuk suatu kelompok yang permanen sangat mungkin dilakukan, namun permasalahan yang mereka hadapi adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan tentang manajemen kelompok yang baik.
5.6.2. Tinjauan Pelaksanaan Program PKK
Kegiatan PKK Desa Tangsi Mekar merupakan kegiatan yang menjalankan berbagai aspek kehidupan, keterampilan dan peningkatan ekonomi keluarga. Kegiatan ekonomi dilakukan oleh POKJA III, berupa kegiatan pelatihan kewirausahaan yang berpotensi besar mengentaskan kemiskinan. Salah satu keterampilan yang pernah diajarkan yaitu pelatihan keterampilan membuat sumbu kompor dari benang bekas. Pelatihan ini sangat membantu para petani dalam upaya peningkatan pendapatan melalui penganekaragaman jenis pekerjaan. Pekerjaan sebagai pembuat sumbu kompor saat ini menjadi pekerjaan sampingan yang sangat membantu penghasilan para petani. Benang-benang untuk pembuatan sumbu kompor diambil dari salah satu anggota PKK sebagai koordinator sekaligus pemilik modal. Penghasilan yang diperoleh dari usaha kerajinan benang ditentukan oleh jumlah sumbu yang dihasilkan setiap harinya.
Kegiatan pelatihan keterampilan lainnya yang pernah dilakukan seperti pembuatan bunga plastik dari sedotan dan keterampilan pengolahan makanan (tata boga) kurang menunjukan hasil yang cukup berarti untuk peningkatan ekonomi keluarga miskin. Kedua kegiatan ini memerlukan modal yang cukup besar untuk pengadaan bahan baku dan pemasarannyapun kalah bersaing dengan produk- produk lainnya. Hal ini menyebabkan kegiatan ini hanya bersifat kegiatan musiman dan untuk memenuhi kebutuhan sendiri.
Kegiatan pelatihan keterampilan yang dilakukan oleh PKK dirasakan sangat membantu keluarga miskin untuk menambah penghasilannya disamping bertani. Namun demikian kegiatan ini belum dapat menjangkau seluruh warga miskin yang ada di Desa Tangsi Mekar sehubungan dengan kurangnya informasi tentang manfaat kegiatan ini. Selain ada sebagian warga yang menyatakan merasa malu mengikuti kegiatan ini. Mereka beranggapan bahwa kegiatan ini hanya untuk orang-orang tertentu.
“saya mau mengikuti kegiatan PKK, tetapi malu karena yang ikut kegiatan tersebut hanya orang itu -itu juga”. (Ibu oyoh, pengrajin benang, 48 tahun)
Kegiatan usaha yang dilakukan ibu-ibu PKK ini termasuk sektor informal berbasis rumah tangga (home based workers) . Sektor ini sangat penting terhadap penurunan dan pengetasan kemiskinan yang didasarkan kepada kemampuan potensi lokal. Namun Program pengembangan masyarakat tersebut pada pelaksanaannya belum sepenuhnya melibatkan masyarakat miskin, dimana masyarakat miskin belum seluruhnya dilibatkan secara aktif dalam perencanaan maupun pelaksanaan kegiatan sehingga imflikasinya terhadap penduduk miskin belum optimal.
5.7. Ikhtisar: Keragaan Program Pengembangan Masyarakat