• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada hakekatnya tujuan pembangunan adalah untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat baik perorangan, keluarga, kelompok maupun masyarakat dalam rangka peningkatan harkat, martabat dan kualitas hidupnya, sehingga mampu memenuhi kebutuhan dasar dan memecahkan berbagai permasalahan sosial yang timbul, dengan mengedepankan prakarsa dan kreatifitas masyarakat melalui pemanfaatan potensi dan sumber daya yang ada dan dalam prosesnya melibatkan semua unsur. Akan tetapi kenyataannya masih terdapat sebagian masyarakat yang tidak dapat berpartisipasi dalam pembangunan karena keterbatasannya.

Program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Pembuatan Batu Bata

KUBE idealnya dibentuk atas dasar dari, oleh, dan untuk anggota.

Sebagaimana KUBE yang telah terbentuk di desa Mantaren II merupakan KUBE yang dibentuk dari, oleh, dan untuk anggota. Adapun yang menjadi anggota KUBE tersebut adalah keluarga miskin yang secara bersama-sama memiliki keinginan yang sama untuk melakukan usaha secara kelompok. Dalam proses pembentukan KUBE tersebut keterlibatan Karang Taruna adalah sebagai fasilitator dalam proses pembentukan kelompok dimaksud. Secara kebetulan salah satu dari program dan kegiatan Karang Taruna adalah berperan dalam upaya pengentasan kemiskinan. Dalam moment yang bersamaan tersebut ternyata antara program Karang Taruna dan keinginan warga miskin sejalan, dan membentuk KUBE dengan mengelola kegiatan usaha pembuatan batu bata.

Usaha pembuatan Batu Bata merupakan industri kecil rumah tangga dan merupakan pilihan yang tepat bagi masyarakat desa Mantaren II. Usaha tersebut dimulai sejak tahun 2001 yang lalu sebagai usaha alternatif, mengingat Kabupaten Pulang Pisau merupakan Kabupaten Pemekaran, tentunya memerlukan banyak bahan bangunan seperti batu bata, karena pada saat sekarang bahan bangunan dari kayu sudah mulai sulit diperoleh dan harga sudah tinggi. Usaha pembuatan batu bata menjadi pilihan mereka dengan pertimbangan bahwa usaha tersebut belum dilakukan oleh masyarakat dari desa

54

atau wilayah lain sedang bahan bangunan tersebut sangat diperlukan oleh masyarakat desa maupun Kabupaten.

Kelompok Usaha Bersama pembuatan batu bata dibentuk dalam rangka menerobos kesempatan dan peluang usaha. Hal ini mengingat bahwa usaha pertanian bagi warga kurang meningkatkan taraf perekonomian karena kondisi lahan yang kurang mendukung karena mengandung gambut yang cukup tinggi serta sering terjadi pasang surut. Oleh karena itu tujuan membentuk KUBE tersebut adalah untuk meningkatkan taraf hidup dengan menekuni usaha pembuatan batu bata. Di samping itu dengan membentuk kelompok maka akan lebih mendukung dalam hal saling pertukaran pengalaman dan pengetahuan sesama anggota. Sampai dengan tahun 2005 telah terbentuk sebanyak empat kelompok usaha bersama (KUBE) pembuatan batu bata yang setiap kelompoknya terdiri dari antara lima sampai tujuh anggota, di mana anggota kelompok tersebut adalah keluarga-keluarga miskin.

Dalam melakukan usaha pembuatan batu bata tersebut, sebagai modal awal berasal dari modal pribadi, karena untuk memproduksi batu bata tersebut tidak banyak memerlukan beaya dan bahan yang harus dibeli. Keinginan untuk menambah modal memang muncul dari beberapa anggota kelompok dengan tujuan untuk dapat menambah tenaga kerja, namun tidak ada keberanian untuk mengajukan pinjaman modal ke pihak luar, karena persyaratan yang mereka miliki kurang memenuhi syarat, disamping itu rasa takut usaha tersebut tidak berkembang sehinga tidak dapat mengembalikan pinjaman tersebut.

Yang menjadi harapan bagi para pengrajin batu bata tersebut adalah ada pihak yang mau menampung hasil produk yang mereka hasilkan. Karena dengan ada penampung, maka usaha akan menjadi lancar, tidak sekedar menunggu pesanan atau untuk mengurangi hasil produk menumpuk di kelompok. Keadaan yang ada pada saat sekarang adalah sepanjang barang masih banyak menumpuk, maka kegiatan produksi biasanya untuk sementara istirahat sambil menunggu barang tersebut laku dijual.

Sejauh ini kebijakan Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau belum mengarah dan berpihak kepada upaya pemberdayaan KUBE yang ada di desa Mantaren II. Hal ini ditunjukkan belum adanya pembinaan terhadap KUBE tersebut baik secara permodalan maupun motivasi kegiatan. Dengan belum tersentuhnya perhatian Pemerintah Kabupaten tersebut, maka KUBE sampai saat sekarang masih mengalami banyak kendala seperti kurangnya permodalan,

kurang berjalannya kepengurusan, serta belum terjalinnya hubungan dengan pihak-pihak terkait dan berwenang di Kabupaten. Di samping itu masih terkendala pada masalah pemasaran, yaitu belum terwujudnya mitra kerja sehingga pemasaran masih bersifat menunggu datangnya pembeli, dan belum ada penyalur atau penampung hasil produksi KUBE.

Dari sisi permodalan, selama ini KUBE bergerak dengan menggunakan modal sendiri yang dihimpun secara iuran kelompok. Melihat kegiatan usaha KUBE tersebut dianggap lancar dan kemungkinan dapat berkelanjutan, maka Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Kesejahteraan Sosial berupaya memberikan bantuan modal yang disalurkan dari dana pembinaan Karang Taruna sebesar Rp. 50.000.000,-. KUBE di desa yang merupakan binaan karang taruna, maka bantuan dana tersebut oleh karang taruna disalurkan kepada KUBE sebagai penambahan modal usaha, di mana setiap anggota KUBE memperoleh bantuan modal sebesar Rp. 1.500.000,-

Kebijakan dan program pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan selama ini masih terkesan dengan menerapkan pendekatan sentralistik. Hal ini dibuktikan bahwa Pemerintah melalui Dinas atau Kantor Sosial dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui KUBE masih sebatas mengejar target program, tetapi belum bersifat menggerakkan masyarakat secara partisipatif dalam upaya pemberdayaan keluarga miskin. Akibat kebijakan seperti ini maka kreatifitas keluarga miskin juga lemah sehingga mereka selalu mengharap bantuan dari Pemerintah, sedangkan pemerintah tidak selalu mengerti kebutuhan yang sebenarnya diperlukan oleh masyarakat atau keluarga miskin . Hal ini karena dalam pengambilan keputusan dan kebijakan dalam proses pemberdayaan tidak melibatkan masyarakat, sehingga hasil yang dicapai juga sesuai yang diharapkan.

Program pemerintah Kabupaten Pulang Pisau dalam rangka penanggulangan kemiskinan melalui program KUBE, masih terbatas pembentukan-pembentukan kelompok yang telah ditargetkan oleh Dinas Kesejahteraan Sosial Propinsi, sepanjang adanya dana dekonsentrasi dari pusat, itu juga masih dalam jumlah yang sangat terbatas. Sejak berdirinya Kabupaten Pulang Pisau pada tahun 2002, pembentukan KUBE bagi keluarga miskin baru mencapai sebanyak 36 kelompok. Dari jumlah tersebut tersebar di delapan kecamatan sehingga program tersebut masih sangat minim dalam upaya memberdayakan keluarga miskin dengan melalui KUBE. Untuk mendukung

56

perkembangan KUBE tersebut disediakan dana dekonsentrasi yang dikelola oleh Dinas Kessos Propinsi, sedangkan Kantor Sosial Kabupaten masih sebatas menyediakan dan membentuk KUBE saja.

Untuk program pengentasan kemiskinan sebagaimana program KUBE belum teranggarkan secara khusus pada Kantor Sosial dan PMD Kabupaten Pulang Pisau. Namun demikian agar KUBE-KUBE yang telah ada di wilayah Kabupaten Pulang Pisau menjadi sarana yang strategis dalam penanggulangan kemiskinan, diharapkan adanya sharing dana bahwa di Kabipaten dapat menyediakan dana pendampingan. Atas dasar kondisi di lapangan yang masih serba terbatas ini mengakibatkan KUBE-KUBE yang ada termasuk KUBE keluarga miskin di desa Mantaren II kurang mendapat perhatian dari pemerintah atau stakeholders terkait lainnya.

Pengembangan Ekonomi Masyarakat Melalui KUBE

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa usaha pembuatan batu bata merupakan salah satu terobosan baru sebagai usaha masayarakat dalam menambah penghasilan keluarga. Di samping itu untuk memenuhi kebutuhan akan bahan bangunan di kabupaten Pulang Pisau yang merupakan Kabupaten Pemekaran. Dengan Kabupaten Pemekaran tersebut tentunya sangat dibutuhkan bahan bangunan yang cukup banyak. Oleh karena adanya kesempatan tersebut maka usaha pembuatan batu bata merupakan terobosan yang strategis sebagai usaha peningkatan ekonomi dan sekaligus penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat. Untuk menjamin agar di antara masyarakat tidak terjadi kesenjangan maupun persaingan yang kurang sehat maka atas inisiatif para tokoh masyarakat dan Karang Taruna, komunitas keluarga miskin tersebut diorganisir dalam wadah Kelompok Usaha Bersama (KUBE).

Dari sisi ketenagakerjaan, bahwa KUBE tersebut juga terbuka peluang bagi warga masyarakat yang memiliki waktu luang termasuk anak-anak yang putus sekolah memanfaatkan peluang tersebut dengan ikut bekerja sebagai buruh upahan dalam pembuatan batu bata dengan bergabung dalam kelompok-kelompok tersebut. Upah per biji batu bata sebesar Rp. 80,- dan rata-rata sehari para buruh dapat memproduksi sebanyak 250 sampai 300 biji bata, sedang pemilik usaha menjual per biji bata seharga Rp.250 ,-Dengan demikian maka Kelompok Usaha Bersama (KUBE) pembuatan batu bata tersebut telah banyak

menampung tenaga kerja yang berarti telah berpartisipasi dalam upaya penanggulangan kemiskinan.

Dalam produksi batu bata sebenarnya tidak banyak memerlukan modal finansial, hal ini karena sebagai bahan baku berupa tanah lihat diperoleh dari pekarangan mereka yang mengandung tanah lihat. Hanya saja kayu bakar sebagai pembakar batu batau setengah matang terpaksa harus dibeli dari warga yang lain seharga 35.000 per kubik, di samping itu terkait dengan untuk memproduksi batu bata lebih banyak diperlukan tenaga kerja yang banyak juga, sehingga diperlukan modal untuk upah tenaga kerja. Namun sejauh ini baik secara pribadi maupun melalui kelompok belum berani megajukan pinjaman modal karena masih merasa takut apabila mengalami kendala dalam produksi dan pengembalian modal pinjaman tersebut.

Dalam upaya pemasaran hasil produksi, sejauh ini belum dilakukan dengan menjalin jejaring maupun dikelola dengan sistem penampungan hasil produksi. Para pengrajin atau pengusaha batu bata tersebut masih bersifat menunggu pesanan atau pembeli yang datang ke tempat memproduksi batu bata tersebut. Harapan mereka bahwa hasil produksi batu bata tersebut ada pihak-pihak yang dapat dan mau mempromosikan hasil produksinya seperti Dinas perindagkop maupun para pengusaha dan rekanan termasuk developer sehingga produksi dapat terus berlangsung tanpa henti sehingga dapat menjadi pekerjaan tetap bagi masyarakat baik pemilik usaha maupun para buruhnya.

Pengembangan Modal Sosial dalam KUBE

Modal Sosial menurut Fukuyama (2000) yang dikutip Tonny (2005) diartikan sebagai seperangkat nilai – nilai internal atau norma-norma yang disebarkan di antara anggota-anggota suatu kelompok yang mengijinkan mereka untuk bekerjasama antara satu dengan yang lainnya. Ia menambahkan bahwa prasarat penting untuk munculnya modal sosial adalah adanya kepercayaan (trust), kejujuran (honesty), dan timbal baik (resiprosity).

Selanjutnya Fukuyama juga mengatakan bahwa modal sosial itu sendiri memeliki empat dimensi sosial, Pertama ; adanya ikatan yang kuat antara anggota keluarga dan keluarga dengan tetangga sekitarnya yang didasari ikatan-ikatan kekerabatan, etnik, dan agama. Kedua; adanya pertalian yaitu ikatan-ikatan dengan komunitas lain di luar komunitas asal seperti terbentuknya jejaring atau asosiai-asosiasi. Ketiga ; Adanya integritas organisasional yaitu keefektifan dan

58

kemampuan institusi negara yang menjalankan fungsinya termasuk menciptakan kepastian hukum dan menegakkan peraturan. Keempat ; adanya sinergi yaitu relasi antar pemimpin dan institusi pemerintahan dengan komunitas.

Bertitik tolak dari pendapat di atas maka dalam kegiatan evaluasi terhadap kegiatan KUBE , dengan merujuk pada konsep modal sosial dapat dikatakan bahwa :

a. Kelompok usaha bersama (KUBE) merupakan serangkaian norma dan jaringan yang dapat menggerakkan orang miskin di pedesaan baik sebagai perseorangan maupun keluarga untuk melakukan tindakan yang secara bersama dalam wadah kelompok usaha bersama, baik dalam kegiatan ekonomi, sosial maupun kegiatan lainnya.

b. Bahwa dalam kegiatan usaha bersama dalam wadah Kelompok Usaha Bersama (KUBE) pembuatan batu bata, di antara anggota didasari atas kepercayaan (trust), kejujuran, sehingga dapat membentuk kelembagaan/institusi yang cukup kuat sehingga dapat dijasdikan sebagai wadah dalam pemecahan masalah bersama termasuk dalam upaya penanggulangan kemiskinan anggotanya.

c. Bahwa dalam KUBE terjalin ikatan yang kuat di antara anggota kelompok sehingga mereka dapat bekerjasama dengan baik termasuk dalam kesepakatan harga jual batu bata, sehingga tidak terdapat persaingan yang tidak sehat. Hal ini juga didasari oleh kekerabatan yang tinngi serta etnik yang sama.

d. Program KUBE merupakan program pemberdayaan yang berupaya untuk mengembangkan aspek lokalitas dan menjembatani upaya penanggulangan kemiskinan di antara institusi yang terkait seperti pemerintah, swasta, pasar, maupun stakeholder yang lain sehingga tercipta sinergi dalam mewujudkan tujuan bersama dalam meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat.

Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) pembuatan batu bata tersebut merupakan sebuah gerakan sosial (Social Movement) dalam rangka upaya menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan taraf kesejahteraan sosial. KUBE dibentuk dan dibangun berangkat dari gejala kemiskinan dan pengharapan yang meningkat sehingga dengan terbentuknya KUBE tersebut memberikan momentum kemudahan dalam situasional, sehingga merupakan sebuah gerakan upaya memerangi kemisinan.

Ditinjau dari aspek psikologi dan gerakan sosial, bahwa dalam pelaksanaan program KUBE dapat dijelaskan melalui perspektif konvergensi yaitu bahwa perilaku anggota KUBE dapat difahami dari dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal, bahwa Akibat tekanan ekonomi yang menghimpit kehidupan mereka mendorong untuk melakukan sesuatu yaitu muncul semangat berusaha yang tinggi dengan bergabung ke dalam kelompok usaha bersama untuk meningkatkan taraf ekonominya. Sedangkan faktor eksternal bahwa dengan melihat peluang ke masa depan bahwa usaha pembuatan batu bata merupakan alternatif usaha yang cukup bagus dan menjadi peluang usaha selain usaha pokok sebagai petani.

Sebagai saran untuk perbaikan bahwa dalam usaha tersebut, pertama

;perlunya perbaikan sistem pengorganisasian yang baik dan peningkatan jejaring sehingga dengan demikian eksistensi usaha lebih dapat dikembangkan dan dipertahankan. Kedua; menguatkan kapasitas kelompok dengan memperkuat kepengurusan dan kelembagaan karena dengan demikian akan lebih memberikan kepercayaan terhadap pihak luar yang berkaitan dengan usaha sehingga akan memberikan kemudahan dalam berusaha secara berkelanjutan.

Setelah melakukan evaluasi terhadap program KUBE dari aspek pengembangan ekonomi lokal, modal sosial dan gerakan sosial dalam upaya pengembangan masyarakat maka dapat diambil kesimpulan umum terhadap program KUBE dalam pengembangan masyarakat antara lain sebagai berikut : a. Belum adanya kerjasama dan dukungan nyata dari pihak-pihak terkait

seperti Pemerintah Daerah, pengusaha, kelompok0kelompok peduli seperti LSM, Perguruan Tinggi, dan sebagainya sehingga belum terwujud suatu kerjasama yang baik dalam upaya penanggulangan kemiskinan.

b. Secara lembaga, KUBE tersebut belum terakomodir secara baik karena kurang berfungsinya pengurus sehingga menimbulkan kurangnya kerjasama antar anggota, pelanggaran kesepakatan bersama seperti masalah keseragaman harga jual batu bata. Karena keterbatasan modal usaha maka volume usaha sulit untuk berkembang. Apabila kegiatan KUBE tersebut didukung dengan permodalan baik modal fisik berupa peralatan atau teknologi dan modal finansial maka usaha batu bata akan menjadi usaha yang dapat diandalkan dan berkelanjutan dan diharapkan dapat mengatasi masalah kemiskinan.

60

ANALISIS KELEMBAGAAN KUBE

Untuk meminimalisai kekeliruan dalam menganalisis kelembagaan KUBE, diperlukan data dan informasi secara lengkap. Adapun data dan informasi yang diperlukan mengenai manfaat KUBE, masalah yang dialami, harapan yang diinginkan, serta faktor pendukung dan penghambat perkembangan KUBE. Dalam memperoleh data dan informasi tersebut dilakukan melalui wawancara terhadap anggota KUBE, masyarakat bukan anggota KUBE, serta pihak luar yang terkait serta melalui observasi lapangan, dokumentasi,

serta diskusi-diskusi tentang keberadaan KUBE.

Performa KUBE

Berdasarkan hasil kajian lapangan yang dilakukan dengan melalui beberapa tahapan mulai dari wawancara kepada anggota kelompok, wawancara kepada masyarakat bukan anggota kelompok, pemerintah desa sampai dengan pemerintah kabupaten serta para tokoh masyarakat, maka diperoleh data dan informasi bahwa dalam rangka upaya pemberdayaan keluarga miskin dinilai sangat baik apabila dilakukan dengan melalui KUBE. Oleh karena itu untuk mewujudkan kesejahteraan bagi keluarga miskin harus terlebih dahulu dilakukan upaya pemberdayaan KUBE sebagai wadah usaha ekonomi secara kelompok.

Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang keadaan KUBE di desa Mantaren II, maka dalam kajian ini akan melihat dari berbagai aspek sebagai berikut :

Keorganisasian

Performa pengurus merupakan kondisi dinamis yang dimiliki pengurus KUBE yang ditunjukkan dengan dengan tinggi rendahnya tingkat pendidikan dan tinggi rendahnya kemampuan mengelola atau mamajemen yang dimiliki. Hasil kajian di lapangan bahwa pengurus KUBE di desa Mantaren II berpendidikan SMA. Pada waktu berdirinya KUBE yaitu pada tahun 2001 telah ditetapkan kepengurusan yang meliputi ketua, sekretaris, dan dan bendahara. Pengurus tersebut dipilih berdasarkan tingkat pendidikan dengan harapan dapat dan mampu mengelola manajemen dalam KUBE. Di samping itu rata-rata pengurus

telah memiliki usaha pembuatan batu bata dengan harapan dapat berperan sebagai penggerak bagi anggota dalam berusaha.

Namun demikian dari hasil kajian di lapangan ternyata manajemen mereka masih tergolong rendah, yaitu ditunjukkan dengan peran ketua yang tidak optimal dalam memimpin kelompoknya, yaitu bahwa kegiatan KUBE masih terkesan sendiri-sendiri, serta tidak pernah melakukan pertemuan secara rutin.

Hal ini dimungkinkan karena pengurus KUBE belum memiliki pengalaman dalam bidang manajemen usaha. Di samping itu sebagai pengurus belum mampu melakukan usaha menjalin hubungan dengan pihak luar dengan menjalin hubungan kerja atau permodalan. Dengan demikian Organisasi atau kelompok KUBE tersebut dapat dikatakan tidak berfungsi. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab kurang berkembangnya KUBE.

Keanggotaan

Anggota KUBE merupakan warga desa yang rata-rata dalam kondisi perekonomian yang lemah atau dikategorikan miskindan tingakt pendidikan rendah yaitu rata-rata berpendidikan SD dan SMP. Tingkat ekonomi dan pendidikan yang rendah ternyata berpengaruh terhadap tingkat partisipasi. Oleh karena itu menjadi kesulitan bagi pengurus untuk untuk mengakomodir anggota dalam kegiatan. Tidak mudah bagi pengurus untuk melakukan sosialisasi tentang manfaat dan tujuan usaha secara kelompok. Oleh karena itu ada beberapa orang anggota KUBE yang tidak patuh dengan aturan main yang diterapkan dalam kelompoknya seperti masalah pemasaran, tidak secara kompak sesuai kesepakatan dalam kelompok.

Dari keempat KUBE, jumlah anggota antar lima sampai tujuh orang anggota kelompok. Pada umumnya, anggota KUBE tersebut bermata pencaharian pokok sebagai petani dan rata-rata memiliki tanggungan antara tiga sampai empat orang anak. Mereka melakukan kegiatan usaha secara sendiri-sendiri karena usaha pembuatan batu bata kiranya sulit dilakukan secara kelompok. Namun dalam pengelolaan kegiatan termasuk aturan-aturan telah ditetapkan oleh kelompok. hal ini disebabkan bahwa sebagai bahan baku pembuatan batu bata dimiliki oleh setiap anggota seperti tanah lihat. Selama kurang lebih lima tahun, keanggotaan KUBE tidak mengalami peningkatan yaitu tetap sebanyak 24 orang anggota. Namun demikian telah banyak warga yang ikut terlibat dalam kegiatan KUBE yaitu sebagai buruh kerja pada KUBE.

62

Permodalan

Modal merupakan faktor yang sangat berperan dalam kegiatan usaha KUBE pembuatan batau- bata. Pada awal kegiatannya, KUBE menggunakan modal secara swadaya. Para anggota KUBE memiliki modal berupa bahan baku yang dapat dikatan melimpah. Bahan baku untuk pembuatan batu bata sebenarnya sangat sederhana, yaitu berupa tanah lihat yang didapatkan dari lahan pekarangan mereka. Sedangkan peralatan yang dibutuhkan terdiri dari cangkul dan alat pencetak batu bata yang terbuat dari kayu dan dapat dibuat sendiri oleh mereka. Sedangkan bahan lain yang harus dibeli seperti sekam dan kayu bakar.

Kemudian, karang taruna memperoleh bantuan dana pembinaan karang taruna dari dinas sosial propinsi, yang kemudian dana tersebut digunakan untuk meningkatkan usaha KUBE dengan diberikan kepada anggota KUBE yang masing-masing memperoleh Rp. 1.500.000,-. Dengan tambahan modal tersebut para anggota KUBE dapat mempekerjakan buruh dengan memberi upah sebesar Rp. 80,- untuk satu biji batu bata. Dengan bertambahnya tenaga kerja tersebut maka produksi meningkat. Namun demikian sejalan dengan perkembangannya, ternyata modal saat sekarang dirasakan kurang karena permintaan batu bata terus bertambah sedang produksi tidak mengalami perkembangan. Jika memiliki modal yang lebih besar mereka berharap ingin berusaha dengan teknologi yang lebih maju seperti alat pengaduk tanah lihat dan alat pencetak. Dengan demikian produksi akan meningkat dan akan diperoleh mutu yang baik sehingga mampu bersaing dipasaran.

Perkembangan Usaha

Usaha pembuatan batu bata merupakan usaha alternatif yang dilakukan oleh KUBE dengan pertimbangan bahwa bahan bangunan tersebut sangat diminati oleh masyarakat. Di samping itu dengan tersedianya bahan baku pokok seperti tanah lihat. Kondisi bahan baku tersebut cukup melimpah karena tanah lihat tersedia di pekarangan dan sawah yang tidak dimanfaatkan. Di samping itu terdapatnya peluang pasar yang luas. Oleh karena itu mereka optimis bahwa usaha pembuatan batu bata ini adalah usaha jangka panjang. Kendala yang dialami dari aspek jenis usaha ini antara lain masalah pemasaran, karena belum terciptanya jalinan kerja dengan pihak lain, dan masih kalah persaingan dengan produk dari luar daerah.

Dengan kondisi KUBE yang ada saat sekarang ini maka untuk mencapai KUBE yang semakin berkembang, maju, atau mandiri ke depan diperlukan pembenahan-pembenahan baik dari segi organisasi atau kepengurusan, pemasaran, serta peningkatan permodalan. Pada dasarnya upaya pengembangan KUBE muncul ketika anggota KUBE menghadapi permasalahan dan menyadari bahwa KUBE tersebut sebenarnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Namun demikian dalam upaya pengembangan KUBE tersebut akibat dari kelemahan pengetahuan dari

Dengan kondisi KUBE yang ada saat sekarang ini maka untuk mencapai KUBE yang semakin berkembang, maju, atau mandiri ke depan diperlukan pembenahan-pembenahan baik dari segi organisasi atau kepengurusan, pemasaran, serta peningkatan permodalan. Pada dasarnya upaya pengembangan KUBE muncul ketika anggota KUBE menghadapi permasalahan dan menyadari bahwa KUBE tersebut sebenarnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Namun demikian dalam upaya pengembangan KUBE tersebut akibat dari kelemahan pengetahuan dari

Dokumen terkait