• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Prosedur Awal

4.2 Kultivasi C.acetobutylicum B-527 dan C.beijerinckii B-597 dengan Prosedur

4.2.2 Evaluasi Prosedur Awal

Evaluasi prosedur kultivasi dilakukan untuk memprediksi letak kegagalan prosedur awal. Evaluasi prosedur awal diarahkan untuk menentukan titik masuknya mikroorganisme kontaminan serta menganalisis kemungkinan prosedur pengerjaan yang kurang tepat. Evaluasi prosedur awal yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 4.6.

54 B1.1314.B.1 Sterilisasi menggunakan

autoklaf Sterilisasi menggunakan

autoklaf

Pembagian medium ke dalam botol serum steril @50 ml menggunakan syringe dalam biosafety cabinet

Pembagian medium ke dalam botol serum steril @50 ml menggunakan syringe dalam biosafety cabinet

Purging medium dengan nitrogen non-high purity dengan jarum syringe

5 ml selama 3 menit

Purging medium dengan nitrogen non-high purity dengan jarum syringe

5 ml selama 3 menit

Oksigen dalam medium dikeluarkan dengan jarum syringe 1 ml selama

purging berlangsung

Oksigen dalam medium dikeluarkan dengan jarum syringe 1 ml selama

purging berlangsung

Nitrogen untuk purging disaring menggunakan saringan kapas dan

filter 45µm

Nitrogen untuk purging disaring menggunakan saringan kapas dan

filter 45µm

Sterilisasi anaerobik chamber menggunakan etanol 70%

Sterilisasi anaerobik chamber menggunakan etanol 70%

Pengaliran nitrogen ke dalam anaerobik chamber yang telah disaring dengan saringan kapas steril

Pengaliran nitrogen ke dalam anaerobik chamber yang telah disaring dengan saringan kapas steril

Inokulasi liofilisasi dengan memasukkan 1 ml cairan ke dalam

tabung liofilisasi kemudian memasukannya ke dalam medium 50

ml medium menggunakan syringe

Inokulasi liofilisasi dengan memasukkan 1 ml cairan ke dalam

tabung liofilisasi kemudian memasukannya ke dalam medium 50

ml medium menggunakan syringe

Penutupan botol serum berisi medium menggunakan karet butil dan

crimper

Penutupan botol serum berisi medium menggunakan karet butil dan

crimper

Inkubasi kultur starter dalam inkubator bersuhu 37oC selama 15-

20 jam

Inkubasi kultur starter dalam inkubator bersuhu 37oC selama 15-

20 jam

Pemindahan 50 ml kultur ke dalam 500 ml medium fermentasi (CRM) di

dalam anerobik chamber menggunakan syringe

Pemindahan 50 ml kultur ke dalam 500 ml medium fermentasi (CRM) di

dalam anerobik chamber menggunakan syringe

Inkubasi kultur dalam inkubator bersuhi 37oC selama ±3 hari

Inkubasi kultur dalam inkubator bersuhi 37oC selama ±3 hari

Pengambilan sampel di udara terbuka menggunakan syringe yang jarumnya telah dibakar. Sampel diambil dengan menjungkir balikkan botol kultur.

Pengambilan sampel dilakukan di dekat api bunsen

Pengambilan sampel di udara terbuka menggunakan syringe yang jarumnya telah dibakar. Sampel diambil dengan menjungkir balikkan botol kultur.

Pengambilan sampel dilakukan di dekat api bunsen

Pembersihan tutup butyl rubber menggunakan alkohol dan pembakaran jarum syringe 5 ml untuk preparasi pengambilan sampel

Pembersihan tutup butyl rubber menggunakan alkohol dan pembakaran jarum syringe 5 ml untuk preparasi pengambilan sampel

Pelepasan CO2 di dalam medium

dilakukan secara berkala tanpa menginjeksikan nitrogen kembali

Pelepasan CO2 di dalam medium

dilakukan secara berkala tanpa menginjeksikan nitrogen kembali

Glukosa non-glukosaKomponen

Medium DLB dan RCM @ 1 L

Purging medium dengan nitrogen non-high purity menggunakan jarum

syringe 5 ml selama 3 menit

Purging medium dengan nitrogen non-high purity menggunakan jarum

syringe 5 ml selama 3 menit

KETERANGAN

Titik kemungkinan kontaminasi masuk Kemungkinan prosedur yang kurang tepat

Gambar 4.6 Evaluasi prosedur awal

Berdasarkan Gambar 4.6, titik-titik yang diduga merupakan tempat masuknya mikroorganisme kontaminan dan kemungkinan prosedur yang kurang tepat dipaparkan sebagai berikut:

1. Medium glukosa dan non-glukosa pada prosedur awal disterilisasi secara

terpisah untuk menghindari reaksi karamelisasi antara glukosa dengan komponen bernitrogen. Akan tetapi, proses pencampuran kedua medium

B1.1314.B.1 55 dilakukan dengan membuka tutup medium steril sehingga memungkinkan masuknya mikroorganisme kontaminan. Meski pencampuran medium glukosa

dan non-glukosa dilakukan dalam biosafety ca binet yang telah disterilisasi,

kontaminasi masih dapat terjadi apabila ternyata proses sterilisasi tidak efektif untuk membunuh kontaminan di dalam kabinet. Oleh karena itu, risiko kontaminasi ini perlu direduksi dengan mengautoklaf glukosa dan non-glukosa pada satu wadah. Alternatif pengerjaan ini dapat meminimalisir risiko kontaminasi dengan tidak membuka tutup medium yang sudah disterilisasi.

2. Prosedur kultivasi solventogenic clostridia dengan volume sebesar 30 mL dan

tahap penyiapan inokulum selama 15-20 jam kemungkinan besar belum tepat. Menurut Lemme dkk. (1985), bakteri liofilisasi baru dapat tumbuh dalam 24-48 jam pada kondisi kultivasi yang baik dan sesuai. Kemungkinan besar, waktu penyiapan inokulum yang digunakan pada prosedur awal tidak cukup untuk

mengaktifkan C. acetobutylicum B-527 dan C. beijerinckii B-597. Menurut Das

(2014), fasa lag dari kultur C.acetobutylicum berlangsung selama 18-20 jam.

Dengan demikian, diperkirakan pada jam ke 15-20, kultur C. acetobutylicum B- 527 dan C. beijerinckii B-597 masih berada dalam fasa lag.

Berdasarkan Talip (2010) dan Das (2014), diperkirakan solventogenic clostridia

mulai tumbuh pada jam ke-72 – 78 dari bentuk liofilisasi awalnya. Setelah

tumbuh, Clostridium mencapai fasa lag selama 18 – 20 jam. Dengan demikian,

waktu total untuk pengembangan inokulum dalam volume tertentu adalah

selama 90 – 96 jam atau sekitar 4 hari.

3. Volume inokulum yang digunakan pada prosedur awal adalah 30 mL dan

langsung diinokulasikan ke dalam medium fermentasi bervolume 300 mL. Padahal menurut Norris dan Ribbons (1972), volume kultivasi harus ditingkatkan secara bertahap untuk menjaga tingginya konsentrasi sel di dalam medium. Konsentrasi sel yang tinggi di dalam medium dapat mempersingkat

56 B1.1314.B.1 memiliki fasa lag lebih panjang dari bakteri aerobik. Fasa lag yang singkat dapat mengurangi kemungkinan dominasi medium oleh agen kontaminan.

4. Pada pengerjaan prosedur awal, tidak dilakukan pengecekan nilai optical density

(OD) pada akhir tahap penyiapan inokulum. Padahal menurut Talip (2010), proses fermentasi baru dapat dilakukan hanya apabila OD inokulum telah melebihi 0,7.

Berdasarkan analisis di atas, dirumuskanlah suatu formulasi metodologi baru yang akan

digunakan untuk menumbuhkan strain solventogenic clostridia lainnya. Prosedur

pengerjaan ini disebut sebagai prosedur generasi II seperti yang terlampir pada Gambar 4.7.

B1.1314.B.1 57

Pembuatan medium RCM

Pembuatan medium RCM

Pembagian 5 dan 9,5 ml medium ke dalam tabung reaksi bertutup serta 40 dan 50 ml medium ke dalam botol

serum bertutup

Pembagian 5 dan 9,5 ml medium ke dalam tabung reaksi bertutup serta 40 dan 50 ml medium ke dalam botol

serum bertutup

Sterilisasi medium menggunakan autoklaf pada T=121oC

Sterilisasi medium menggunakan autoklaf pada T=121oC

Inokulasi kultur C. butyricum dari kultur cair/agar ke medium bervolume 5 mL dengan jarum ose.

Penusukan dilakukan di dekat api sembari mengalirkan N2 atau CO2 ke

dalam medium

Inokulasi kultur C. butyricum dari kultur cair/agar ke medium bervolume 5 mL dengan jarum ose.

Penusukan dilakukan di dekat api sembari mengalirkan N2 atau CO2 ke

dalam medium

Purging medium 5 mL berisi kultur C. butyricum selama 1 menit

Purging medium 5 mL berisi kultur C. butyricum selama 1 menit

Inkubasi kultur pada inkubator bersuhu 37oC selama 4 hari

Inkubasi kultur pada inkubator bersuhu 37oC selama 4 hari

Purging gas N2 atau CO2 disaring

menggunakan saringan kapas selama ±1 menit

Purging gas N2 atau CO2 disaring

menggunakan saringan kapas selama ±1 menit

Pemindahan 0,5 ml kultur ke dalam 9,5 ml medium. Pemindahan dilakukan sembari mengalirkan gas N2

atau CO2 ke dalam kultur dan

medium

Pemindahan 0,5 ml kultur ke dalam 9,5 ml medium. Pemindahan dilakukan sembari mengalirkan gas N2

atau CO2 ke dalam kultur dan

medium

Purging medium berisi kultur C. butyricum selama 1 menit

Purging medium berisi kultur C. butyricum selama 1 menit

Inkubasi kultur pada inkubator bersuhu 37oC selama 4 hari

Inkubasi kultur pada inkubator bersuhu 37oC selama 4 hari

Pemindahan 10 ml kultur ke dalam 40 ml medium. Pemindahan dilakukan sembari mengalirkan gas N2 atau CO2

ke dalam kultur dan medium

Pemindahan 10 ml kultur ke dalam 40 ml medium. Pemindahan dilakukan sembari mengalirkan gas N2 atau CO2

ke dalam kultur dan medium

Pengecekan morfologi kultur di bawah mikroskop

Pengecekan morfologi kultur di bawah mikroskop

Purging medium berisi kultur C. butyricum selama 1 menit

Purging medium berisi kultur C. butyricum selama 1 menit

Glukosa Nutrien

Medium RCM 1 L

Pengecekan morfologi kultur di bawah mikroskop

Pengecekan morfologi kultur di bawah mikroskop

Inkubasi kultur pada inkubator bersuhu 37oC selama 4 hari

Inkubasi kultur pada inkubator bersuhu 37oC selama 4 hari

Pengecekan morfologi kultur di bawah mikroskop

Pengecekan morfologi kultur di bawah mikroskop 10 ml kultur

5 ml kultur

50 ml kultur

Gambar 4.7 Prosedur generasi II

Dokumen terkait