• Tidak ada hasil yang ditemukan

FECR pada perlakuan IVM ½ dosis berkisar -13 sampai 93% (Tabel 2). Nilai FECR yang rendah menunjukkan adanya resistensi. Adanya resistensi pada IVM ½ dosis menjadi peringatan untuk terjadinya resistensi IVM 1 dosis. Menurut Entrocasso et al. (2008), dosis setengah mungkin menandakan kegagalan yang akan datang pada tingkat dosis terapi.

FECR pada perlakuan IVM 1 dosis mencapai 100% sampai pada hari ke-28 (Tabel 2). FECR yang tinggi memperlihatkan adanya efektifitas perlakuan IVM 1 dosis yang mampu memproteksi domba dari reinfeksi nematoda gastrointestinal sampai hari ke-28. Efektifitas IVM diduga karena peternak masih banyak yang belum menggunakan IVM untuk pengendalian nematoda gastrointestinal karena harga IVM di pasaran yang sangat mahal dan pemberian antihelminth secara injeksi yang menyulitkan peternak untuk melakukannya sendiri. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian dari Waller et al. (1989) dan Yacob et al. (2009) bahwa IVM 1 dosis memiliki FECR 100% dan hal ini terkait dengan penggunaan IVM yang belum banyak digunakan untuk mengontrol nematoda gastrointestinal di Indonesia. Selain itu, keefektifan IVM terkait dengan kemampuannya dalam meningkatkan permeabilitas ion klorida (Cl-) membran plasma pada saluran reseptor glutamate-gated chloride channels (GluCl). Saluran ini terhambat pada kondisi ion yang di bawah normal, dengan ion Cl- mengalir ke dalam sel diikuti hiperpolarisasi membran sel dan melumpuhkan neuromuskular dari jaringan target. Hal tersebut menyebabkan penghambatan pemompaan faring dan makan; penghambatan parasit untuk bertelur; atau penghambatan motilitas otot. Faring merupakan satu-satunya organ pencernaan yang berotot yang

9

berperan dalam proses menelan nutrien, ekskresi, dan mengatur tekanan turgor pada parasit. Kelumpuhan pada faring menyebabkan menipisnya cadangan energi parasit (Sangster dan Gill 1999) dan menghambat proses memakan dengan menghalangi pemompaan faring (Geary et al. 1993) sehingga menyebabkan kelaparan. Kelumpuhan otot-otot uterus pada cacing betina, produksi telur dan pelepasan sel telur yang sudah ada dalam rahim dapat ditekan. Kelumpuhan pada otot-otot somatik terjadi pada pertengahan tubuh parasit. Hal tersebut menyebabkan keterbatasan gerak/motilitas parasit sehingga akan dengan mudah dikeluarkan dari saluran intestinal inang (Sangster dan Gill 1999). Dalam kasus parasit gastrointestinal, kelumpuhan akan menyebabkan kematian yang cepat.

FECR perlakuan ABZ ½ dosis pada hari ke-14 adalah 96% (Tabel 2) yang menunjukkan adanya pendugaan terjadinya resistensi. Hari ke-21 sampai 35 memiliki nilai FECR rendah (Tabel 2) yang menunjukkan terjadinya resistensi. Menurut Smith et al. (1999), pemberian antihelminth di bawah dosis yang direkomendasikan memiliki waktu paruh obat yang lebih pendek. Angka kematian parasit disebabkan kerja obat cukup diwakili dengan penurunan seketika di awal pemberian antihelminth. Hal yang sama juga dijelaskan bahwa konsentrasi di bawah dosis memungkinkan lebih banyak cacing yang tahan terhadap pengobatan, meningkatkan perkembangan resistensi, dan mengurangi bioavailabilitas antihelminth (De Graef et al. 2013).

FECR ABZ 1 dosis berkisar -467 sampai 89% (Tabel 2). Nilai FECR yang rendah menunjukkan adanya resistensi. Menurut Sangster et al. (2002), mekanisme resistensi pada nematoda dikaitkan dengan berkurangnya afinitas tubulin dalam mengikat ABZ. Hal ini dikarenakan adanya mutasi pada β tubulin (Kohler 2001). Menurut Ross et al. (1995), populasi Haemonchus yang resisten

ditunjukkan dengan adanya delesi β tubulin isotipe 2. Kasus resistensi terhadap

ABZ di Indonesia dilaporkan oleh Ridwan et al. (2000); Haryuningtyas et al. (2001); dan Beriajaya et al. (2002).

FECR kombinasi berkisar 94 sampai 100% (Tabel 2). Nilai FECR yang tinggi pada hari ke-14 dan 21 memperlihatkan efektifitas perlakuan kombinasi. Nilai FECR mulai menurun pada hari ke-28 dan 35. Hal tersebut menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi mampu memproteksi domba dari reinfeksi nematoda gastrointestinal sampai hari ke-21. Perlakuan kombinasi dilakukan didasarkan pada dugaan bahwa nematoda gastrointestinal dimungkinkan memiliki tingkat resisten yang lebih rendah terhadap formulasi beberapa senyawa antihelminth (kelas kimia dan mode aksi yang berbeda) dibandingkan ketika diberi senyawa antihelminth tunggal (Wrigley et al. 2006). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi lebih efektif daripada perlakuan ABZ 1 dosis, tetapi perlakuan kombinasi tidak lebih efektif daripada perlakuan IVM 1 dosis. Hal tersebut diperkuat oleh penelitian Miller dan Craig (1996) yang menyatakan bahwa kombinasi IVM dan ABZ lebih efektif dalam melawan Haemonchus daripada diberikan secara tunggal. Menurut McKenna (1990), pemberian kombinasi antihelminth akan mampu menghambat perkembangan resistensi apabila resistensi tidak terjadi pada masing-masing kelompok antihelminth.

1

Tabel 2 FECR (%) dan efektifitas antihelminth dalam melawan nematoda gastrointestinalpada domba yang dikandangkan

Keterangan: FECR = Faecal Egg Count Reduction, kontrol = tanpa pemberian antihelminth, IVM = ivermectin, ABZ = albendazole, Kombinasi = ivermectin ½ dosis+albendazole ½ dosis, CL = confidence limit

Perlakuan Antihelminth FECRT

Perlakuan Hari

Pre-treatment Post-treatment

Hari ke-0 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Hari ke-35

Kontrol FECR (%) - - - - -

IVM ½ dosis FECR (%) 0 -13 93 87 -7

Upper 95% CL 94 100 99 93

Lower 95% CL 0 0 0 0

Efektifitas Antihelminth Resisten Resisten Resisten Resisten

IVM 1 dosis FECR (%) 0 100 100 100 98

Upper 95% CL 100 100 100 100

Lower 95% CL 100 100 94 64

Efektifitas Antihelminth Berpengaruh Berpengaruh Berpengaruh Diduga resisten

ABZ ½ dosis FECR (%) 0 96 91 18 -18

Upper 95% CL 99 99 82 78

Lower 95% CL 77 22 0 0

Efektifitas Antihelminth Diduga resisten Resisten Resisten Resisten

ABZ 1 dosis FECR (%) 0 -5 -36 -80 -298

Upper 95% CL 83 83 66 -68

Lower 95% CL 0 0 0 0

Efektifitas Antihelminth Resisten Resisten Resisten Resisten

Kombinasi FECR (%) 0 98 100 98 94

Upper 95% CL 98 100 100 97

Lower 95% CL 98 100 84 88

Efektifitas Antihelminth Berpengaruh Berpengaruh Diduga resisten Resisten

2

Tabel 3 FECR (%) dan efektifitas antihelminth dalam melawan nematoda gastrointestinalpada domba yang digembalakan

Keterangan tabel mengacu pada keterangan Tabel 2 Perlakuan Antihelminth FECRT

Perlakuan Hari

Pre-treatment Post-treatment

Hari ke-0 Hari ke-14 Hari ke-21 Hari ke-28 Hari ke-35

Kontrol FECR (%) - - - - -

IVM ½ dosis FECR (%) 0 85 93 -19 -263

Upper 95% CL 99 98 73 -8

Lower 95% CL 0 76 0 0

Efektifitas Antihelminth Resisten Resisten Resisten Resisten

IVM 1 dosis FECR (%) 0 100 100 -28 27

Upper 95% CL 100 100 80 96

Lower 95% CL 100 100 0 0

Efektifitas Antihelminth Berpengaruh Berpengaruh Resisten Resisten

ABZ ½ dosis FECR (%) 0 73 63 11 83

Upper 95% CL 97 90 76 95

Lower 95% CL 0 0 0 39

Efektifitas Antihelminth Resisten Resisten Resisten Resisten

ABZ 1 dosis FECR (%) 0 92 -13 31 92

Upper 95% CL 99 76 73 96

Lower 95% CL 36 0 0 85

Efektifitas Antihelminth Resisten Resisten Resisten Resisten

Kombinasi FECR (%) 0 100 98 6 42

Upper 95% CL 100 100 45 82

Lower 95% CL 100 84 0 0

Efektifitas Antihelminth Berpengaruh Diduga resisten Resisten Resisten

12

3.2.2 FECR Domba yang Digembalakan

FECR pada perlakuan IVM ½ dosis berkisar -263 sampai 93% (Tabel 3). Nilai FECR yang rendah menunjukkan adanya resistensi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Hughes et al. (2005) yang menyatakan bahwa telah terjadi resistensi nematoda gastrointestinal terhadap IVM ½ dosis. Resistensi yang terjadi pada IVM ½ dosis menjadi peringatan terjadinya resistensi untuk IVM 1 dosis. Menurut Hughes et al. (2005), dosis setengah digunakan sebagai peringatan dini terjadinya resistensi.

FECR pada perlakuan IVM 1 dosis mencapai 100% sampai hari ke-21 (Tabel 3). FECR yang tinggi memperlihatkan adanya efektifitas perlakuan IVM 1 dosis yang mampu memproteksi domba dari reinfeksi nematoda gastrointestinal sampai hari ke-21. Hal ini diduga karena di peternakan Unit Pendidikan dan Penelitian Peternakan Jonggol (UP3J) tidak menggunakan IVM sebagai kontrol nematoda gastrointestinal. Menurut hasil penelitian Uppal et al (1992), efektifitas IVM disebabkan karena penggunaannya yang kurang intensif untuk kontrol nematoda gastrointestinal. Frekuensi penggunaan antihelminth faktor penting yang mempengaruhi perkembangan resistensi antihelminth (Prichard et al. 1980).

FECR pada perlakuan ABZ ½ dosis berkisar 11 sampai 83% (Tabel 3). Nilai FECR yang rendah menunjukkan terjadinya resistensi. Hal ini diduga karena rendahnya konsentrasi ABZ yang menyebabkan antihelminth tidak efektif dalam melawan nematoda gastrointestinal. Menurut Lanusse dan Prichard (1993), keefektifan ABZ tergantung pada kemampuan zat aktif untuk mencapai dan mempertahankan konsentrasi di lokasi parasit pada inang.

FECR pada perlakuan ABZ 1 dosis berkisar -13 sampai 92% (Tabel 3). Nilai FECR yang rendah menunjukkan adanya resistensi. Resistensi terhadap ABZ 1 dosis diduga dikarenakan peternakan di UP3J intensif menggunakan ABZ selama beberapa tahun untuk pengendalian nematoda gastrointestinal. ABZ merupakan antihelminth yang paling banyak digunakan peternak karena selain harganya yang terjangkau, cara pemberian antihelminth secara oral lebih mudah dilakukan oleh peternak sendiri. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa nematoda gastrointestinal yang resisten terhadap ABZ 1 dosis disebabkan karena intensifnya pengunaan ABZ (Requejo-Fernandez et al. (1997); Torres-Acosta et al. (2003); dan Cezar et al. (2010)). Menurut Prichard et al. (1980), frekuensi penggunaan antihelminth merupakan faktor penting yang mempengaruhi perkembangan resistensi antihelminth. Hal ini diperkuat oleh Waller (1987) yang menyatakan bahwa semakin sering dan intensif pemberian antihelminth akan mengakibatkan parasit yang resisten semakin berkembang.

FECR pada perlakuan kombinasi mencapai 100% pada hari ke-14 (Tabel 3). Hari ke-21 sampai 35 memiliki nilai FECR rendah yang menunjukkan terjadinya resistensi. Perlakuan kombinasi mampu memproteksi domba dari reinfeksi nematoda gastrointestinal sampai hari ke-14. Hal ini diduga terjadi karena adanya interaksi sinergis antar antihelminth. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Mwamachi et al. (1995) bahwa kombinasi IVM dan fenbendazole (sekelas dengan ABZ) lebih efektif melawan nematoda gastrointestinal daripada pemberian IVM dan fenbendazole secara tunggal. Menurut Entrocasso et al. (2008), perlakuan kombinasi dinyatakan memiliki efek sinergis apabila efektifitas kombinasi lebih tinggi daripada efektifitas obat yang diberikan secara terpisah. IVM mampu menghambat saluran GluCl sehingga menyebabkan kelumpuhan,

13

sedangkan ABZ mampu menghambat dimerisasi mikrotubulus. Perbedaan mekanisme aksi antara IVM dan ABZ memungkinkan adanya interaksi sinergis untuk melawan nematoda gastrointestinal (Bennet et al. 1980).

4 SIMPULAN

IVM 1 dosis efektif dalam melawan nematoda gastrointestinal baik pada domba yang dikandangkan maupun yang digembalakan. Perlakuan kombinasi lebih efektif melawan nematoda gastrointestinal dibandingkan dengan pemberian ABZ 1 dosis baik pada domba yang dikandangkan maupun yang digembalakan.

DAFTAR PUSTAKA

Alvarez LI, Imperiale FA, Sanchez SF, Murno GA, Lanusse CE. 2000. Uptake of albendazole dan albendazole sulphoxide by Haemonchus contortus and Fasciola hepatica in sheep. Vett Parasitol. 94 (1-2): 75-89.

Anderson RC. 2000. Nematode Parasites of Vertebrates: Their Development and Transmission. New York (US): CABI Publishing.

Bartram DJ, Leathwick DM, Taylor MA, Geurden T, Maeder SJ. 2012. The role of combination anthelmintic formulations in the sustainable control of sheep nematodes. Vet Parasitol. 186 (3-4): 151-158.

Bekele T, Woldeab T, Lahlou-Kassi A, Sherington J. 1992. Factors affecting morbidity and motility on-farm and on-station in the Ethiopian highland sheep. Acta Tropica. 52 (2-3): 99-109.

Bennet EM, Behm C, Bryant C, Chevis RAF. 1980. Synergistic action of menbendazole and levamisole in the treatment of a benzimidazole-resistant Haemonchus contortus in sheep. Vet Parasitol. 7 (3): 207-214.

Beriajaya. 2005. Nematodiasis in sheep and goats kept under traditional farming practice in Batujajar, Cigudeg, Bogor. JITV. 10 (3): 190-199.

Beriajaya, Haryuningtyas D, Gray GD. 2002. Kejadian resistensi terhadap antelmintika pada domba dan kambing di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Ciawi-Bogor, 30 September-1 Oktober 2002. Puslitbang Peternakan, Bogor. 403-407.

Bowman DD. 2009. Georgis’ Parasitology of Veterinarians. Ed-9. New York (US): Sauders.

Campbell WC. 1990. Benzimidazoles: veterinary uses. Parasitol Today. 6 (4): 130–133.

Campbell WC, Benz GW. 1984. Ivermectin: a review of efficacy and safety. J vet Pharmacol Therap. 7 (1): 1-16.

Campbell WC, Fisher MH, Stapley EO, Albers-Schonberg G, Jacob TA. 1983. Ivermectin: A Potent New Antiparasitic Agent. Science. 221 (4613): 823-828.

14

Canga AG, Prieto AMS, Liebana MJD, Martinez NF, Vega MS, Vieitez JJG. 2009. The pharmacokinetics and metabolism of ivermectin in domestic animal species. Vet J. 179 (1): 25-37.

Cezar AS, Toscan G, Camillo G, Sangioni LA, Ribas HO, Vogel FSF. 2010. Multiple resistance of gastrointestinal nematodes to nine different drugs in a sheep flock in southern Brazil. Vet Parasitol. 173 (1-2): 157-160.

Coles GC. 2005. Anthelminthic Resistance – Looking to the Future: a UK Perspective. Res Vet Sci. 78 (2): 99-108.

Coles GC, Bauer C, Borgsteede FH, Geerts S, Klei TR, Tylor MA, Waller PJ. 1992. World Association for the Advancement of Veterinary Parasitology (WAAVP) methods for the detection of anthelmintic resistance in nematodes of veterinary importance. Veterinary Parasitology. 44 (1-2): 35-44.

Coles GC, Jackson F, Pomroy WE, Prichard RK, von Samson-Himmelstjerna G, Silvestre A, Taylor MA, Vercruysse J. 2006. The detection of anthelmintic resistance in nematodes of veterinary importance. Vet Parasitol. 136 (3-4): 167-185.

Dash KM. 1986. Multiple anthelmintic resistance in Trichostrongylus colubriformis. Aust Vet J. 63 (2): 45-47.

De Graef J, Claerebout E, Geldhof P. 2013. Anthelmintic resistance of gastrointestinal cattle nematodes. Vlaams Diergeneeskundig Tijdschrift. 82: 113-123.

El-Abdellati A, Charlier J, Geldhof P, Levecke B, Demeler J, von Samson-Himmelstjerna G, Claerebout E, Vercruysse J. 2010. The use of simplified feacel egg count reduction test for assessing anthelmintic efficacy on Belgian and German cattle farms. Vet Parasitol. 169 (3-4): 352-357.

Entrocasso C, Alvarez L, Manazza J, Lifschitz A, Borda B, Virkel G, Mottier L, Lanusse C. 2008. Clinical efficacy assessment of the albendazole-ivermectin combination in lambs parasitized with resistant nematodes. Vet Parasitol. 155 (3-4): 249-256.

Foreyt WJ. 2001. Veterinary Parasitology Reference Manual. Amerika Serikat (US): Blackwell Publishing.

Geary, TG, Sims, SM, Thomas, EM, Vanover L, Davis, JP, Winterrowd, CA, Klein, RD, Ho, NFH, Thompson, DP. 1993. Haemonchus contortus: Ivermectin-induced paralysis of the pharynx. Experimental Parasitology. 77 (1): 88-96.

Gibson TE. 1983. The influence of nutrition on the relationship between gastrointestinal parasites and their hosts. Proceedings of the Nutrition Society. 22: 15-20.

Hanafiah M, Winaruddin, Rusli. 2002. Studi infeksi nematoda gastrointestinal pada kambing dan domba di rumah potong hewan Banda Aceh. J Sain Vet. 20 (1): 15-19.

Hansen J, Perry B. 1994. The epidemiology, diagnosis, and control of helminth parasites of ruminants. ILRAD: Nairobi, Kenya.

Haryuningtyas D, Beriajaya, Gray DG. 2001. Resistensi antelmintika golongan benzimidazole pada domba dan kambing di Indonesia. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 17-18 September 2001. Puslitbang Peternakan, Bogor. 509-518.

15

Hughes PL, McKenna PB, Dowling AF. 2005. A survey of the prevalence of emerging macrocyclic lactone resistance and of benzimidaazole resistance in sheep nematodes in the lower North Island of New Zealand. N Z Vet J. 53 (1): 87-90.

Keyyu JD, Mahingika HM, Magwisha HB, Kassuku AA. 2002. Efficacy of albendazole and levamisole against gastrointestinal nematodes of sheep and goats in Morogoro, Tanzania. Trop Anim Health Product. 34 (2): 115-120. Kohler P. 2001. The biochemical basis of anthelmintic action and resistance. Int J

Parasitol. 31 (4): 336-345.

Lanusse CE, Prichard RK. 1993. Clinical pharmacokinetics and metabolism of benzimidazole anthelmintics in ruminants. Drug Metabolism Reviews. 25 (3): 235-279.

Leathwick DM, Hosking BC, Bisset SA, McKay CH. 2009. Managing Anthelmintic Resistance: Is It Feasible in New Zealand to Delay The Emergence of Resistance to a New Anthelmintic Class?. N Z Vet J. 57 (4): 181–192.

Lyod S, Soulsby EJL. 1987. Immunobiology of gastrointestinal nematodes of ruminants. Immune Response in Parasitic Infections: Immunology, Immunopathology, and Immunoprophylaxis. Vol 1 (Editor: Soulsby EJL). Florida (US): CRC Press Inc.

Maciel S, Gimenez AM, Gaona C, Waller PJ, Hansen JW. 1996. The prevalence of anthelmintic resistance in nematode parasites of sheep in Southern Latin America: Paraguay. Vet Parasitol. 62 (3-4): 207-212.

Marriner SE, McKinnon I, Bogan JA. 1987. The pharmacokinetics of ivermectin after oral and subcutaneous administration to sheep and horses. J vet Pharmacol Therap. 10 (2): 175-197.

McKenna, PB. 1990. The use of benzimidazole-levamisole mixtures for the control and prevention of anthelmintic resistance in sheep nematodes: an assessment of their likely effects. N Z Vet J. 38 (2): 45-49.

Mehlhorn H. 2008. Encyclopedia of Parasitology. 3rd Edition. New York (US): Springer-Verlag Berlin Heidelberg.

Miller DK, Craig TM. 1996. Use of anthelmintic combinations against multiple resistant Haemonchus contortus in Angora goats. Small Ruminant Research. 19 (3): 281-283.

Monnig HO. 1950. Veterinary Helminthology and Entomology: The Diseases of Domesticated Animals Caused by Helminth and Arthropod Parasites. UK: Baltimore The Williams and Wilkins Company.

Mwamachi, DM, Audho JO, Thorpe W, Baker RL. 1995. Evidence for multiple anthelmintic resistance in sheep and goats reared under the same management in coastal Kenya. Vet Parasitol. 60 (3-4): 303-313.

Palmer DG, Besier RB, Lyon J. 2000. Anthelmintic resistance in WesternAustralia: a point of crisis?. In: Proceedings of the Australian Sheep Veterinary Society. AVA Conference Perth, Australia.

Pomroy WE, Whelan N, Alexander AM, West DW, Stafford K, Adlington BA, Calder SM. 1992. Multiple resistance in goat-derived Ostertugia and the effkacy of moxidectin and combinations of other anthelmintics. N Z Vet J. 40 (2): 76-78.

16

Prichard RK, Hall CA, Kelly JD, Martin ICA, Donald DA. 1980. The problem of anthelmintic resistance in nematodes. Aus Vet J. 56 (5): 239-250.

Requejo-Fernandez JA, Martinez A, Meana A, Rojo-Vazquez FA, Osoro K, Ortega-Mora LM. 1997. Anthelmintic resistance in nematode parasites from goats in Spain. Vet Parasitol. 73 (1-2): 83-88.

Ridwan Y, Satrija F, Retnani EB, Tiuria R. 2000. Heamonchus contortus resistant to albendazole on sheep farm in Bogor. International Conference on Soil Transmitted Helminth Control and Workshop on Indonesian Association of Parasitic Disease Control. Bali, 21-24 February 2000.

Roos MH, Kwa MSG, Grant WN. 1995. New genetic and practical implications of selection for anthelmintic resistance in parasitic nematodes. Parasitol Today. 11 (4): 148-150.

Sangster NC, Gill J. 1999. Pharmacology of anthelminthic resistance. Parasitol Today. 15 (4): 141-146.

Sangster N, Betterham P, David Chapman H, Duraisingh M, Le Jambre L, Shirley M, Upcroft P. 2002. Resistance to antiparasitic drugs: the role of molecular diagnosis. Int J Parasitol. 32 (5): 637-653.

Smith G, Grenfell BT, Isham V, Cornell S. 1999. Anthelmintic resistance revisited: under-dosing, chemoprophylactic strategies, and mating probabilities. Int J Parasitol. 29 (1): 77-91.

Southwell j, Fisk C, Sallur N. 2008. Internal Parasite Control in Sheep. Queensland (AU): Deborah Maxwell.

Suhardono, Beriajaya, Yulistiani D. 2002. Infeksi cacing nematoda saluran pencernaan pada domba yang digembalakan secara ekstensif di daerah padat ternak di Jawa Barat. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. 370-375. Tembely S, Lahlou-kassi A, Rege JEO, Sovani S, Diedhiou ML, Baker RL. 1997.

The epidemiology of nematode infections in sheep in a cool tropical environment. Vet Parasitol. 70 (1-3): 129-141.

Torres-Acosta JFJ, Dzul-Canche U, Aguilar-Caballero AJ, Rodriguez-Vivas RI. 2003. Prevalence of benzimidazole resistant nematodes in sheep flocks in Yucatan, Mexico. Vet Parasitol. 114 (1): 33-42.

Uppal RP, Yadav CL, Godara P, Rana ZS. 1992. Multiple anthelmintic resistance in a field strain of Haemonchus contortus in goats. Vet Res Comm. 16 (3): 195-198.

Waller PJ. 1987. Anthelmintic resistance and the future for roundworm control. Vet Parasitol. 25 (2): 177-191.

Waller PJ, Donald AD, Dobson RJ, Lacey E, Hennessy DR, Allerton GR, Prichard RK. 1989. Changes in anthelmintic resistance status of Haemonchus contortus and Trichostrongylus colubriformis exposed to different anthelmintic selection pressures in grazing sheep. Int J Parasitol. 19 (1): 99-110.

Waller PJ, Rudby-Martin L, Ljungstrom BL, Rydzik A. 2004. The epidemiology of abomasal nematodes of sheep in Sweden, with particular reference to over-winter survival strategies. Vet Parasitol. 122 (3): 207-220.

Wanyangu SW, Bain RK. 1994. The impact of helminth infection on small ruminant production in tropical Africa. The Kenya Veterinarian. 18 (2): 104-106.

17

Wolstenholme AJ. 2011. Ion channels and receptor as targets for the control of parasitic nematodes. Int J Parasitol. 1 (1): 2-13.

Wrigley J, McArthur M, McKenna PB, Mariadass B. 2006. Resistance to a triple combination of broad-spectrum anthelmintics in naturally-acquired Ostertagia circumcincta infections in sheep. N Z Vet J. 54 (1): 47-49.

Yacob HT, Mistre Ch, Adem AH, Basu AK. 2009. Parasitology and clinical responses of lambs experimentally infected with Haemonchus contortus (L3) with and without ivermectin treatment. Vet Parasitol. 166 (1-2): 119-123.

Yates DM, Portillo V, Wolstenholme AJ. 2003. The avermectin receptors of Haemonchus contortus and Caenorhabditis elegans. Int J Parasitol. 33 (11): 1183–1193.

Zainalabidin FA, Raimy N, Yaacob MH, Musbah A, Bathmanaban P, Ismail EA, Mamat ZC, Zahari Z, Ismail MI, Panchadcharam C. 2014. The prevalence of parasitic infestation of small ruminant farms in Perak, Malaysia. Tropical Life Science Research. 25 (2).

Zajac AM, Conboy GA. 2012. Veterinary Clinical Parasitology. Ed-8. Amerika Serikat (US): Wiley-Blackwell.

18

Lampiran 1a Hewan eksperimen domba yang dikandangkan

19

Lampiran 2 (a) tagging hewan eksperimen, (b) penimbangan bobot badan hewan eksperimen, (c) pemberian ivermectin secara injeksi subkutan, (d) pemberian albendazole secara oral, (e) dan (f) pengambilan sampel feses (b) (d) (f) (a) (c) (e)

20

Lampiran 3 Antihelminth berspektrum luas (a) ivermectin, (b) albendazole

21

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Wonogiri pada tanggal 17 Juni 1988 sebagai putri pertama dari dua bersaudara dari Bapak Pandoyo dan Ibu Diah Sri Jayanti. Pendidikan sarjana ditempuh di Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta dan lulus pada tahun 2011. Pada tahun 2012, penulis diterima di Program Studi Biosains Hewan Pascasarjana IPB. Beasiswa pendidikan pascasarjana diperoleh dari Beasiswa Unggulan Dikti 2012.

Selama mengikuti program S2, penulis pernah menjadi pemakalah pada Kongres ke-15 dan Seminar Nasional ke-22 Perhimpunan Biologi Indonesia tahun 2013 yang diselenggarakan di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto dengan judul “Profil Hematologi pada Reptil dan Amfibi”. Pada tahun 2014, penulis mengikuti workshop pelatihan program DELTA pada 3rd Marine Biodiversity and Molecular Ecology Course yang diadakan oleh Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Penulis pernah aktif sebagai bendahara Gita Swara Pascasarjana IPB periode 2013-2014. Penulis

juga menyusun artikel yang berjudul “Efficacy of Ivermectin and Albendazole

againts Haemonchus contortus in Sheep in Bogor, Indonesia” sebagai bahan terbitan di Tropical Life Science Research.

Dokumen terkait