Pada Pokok permohonannya, Para Pemohon mengajukan perluasan tindak pidana perzinaan (Pasal 284 KUHP) untuk berlaku bagi semua orang tanpa dibatasi salah satu pel akunya dalam ikatan perkawinan.
Argumentasi pertama yang dipaparkan oleh para pemohon adalah perilaku zina di luar perkawinan akan berdampak besar dalam pembentukan kualitas keluarga. Sebagaimana dikutip dari perbaikan permohonan sebagai berikut
Bah a pe ilaku pe zi aa e aja ke udia e ke a g e jadi se aki se ius ketika dewasa. Dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, meningkatmenjadi lebih dari duapuluh persen pada tahun 2000-an.Kisaran angka tersebut, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Dokumentasi 40 Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di Palu, Sulawesi Tengah.Bahwa kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau Mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pe ta a “MP pe aika pe oho a
Terhadap data argumentasi tersebut, perlu kami sampaikan bahwa menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2012 data memperlihatkan bahwa secara umum, sangat sedikit responden wanita yang menyatakan pernah berhubungan seksual (kurang dari 1 persen), sedangkan pria cenderung lebih banyak yaitu 8 persen (SDKI 2012, remaja). Oleh karena itu, data yang disampaikan oleh pemohon tidak dapat menjadi acuan dan gambaran nasional perilaku seksual remaja. Lebih lanjut data SDKI menunjukkan bahwa pendidikan berkorelasi sangat tinggi dengan perilaku seksual remaja terutama perempuan. Perempuan dengan pendidikan tidak/belum tamat SD cenderung empat kali lebih berpengalaman dalam berhubungan seksual dibandingkan dengan wanita berpendidikan lebih tinggi66(SDKI 2012).
Argumentasi lain yang diajukan oleh pemohon adal ah terkait dengan peningkatan angka perzinaan berkaitan erat dengan angka aborsi ilegal yang sering berujung pada kematian perempuan.
Bah a ti ggi ya a gka hu u ga seks p a ikah di kala ga e aja e at kaita ya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnnya pengetahuan remaja akan kesehatan reproduksi. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja ( perbaikan permohonan hal)
Selama kurun waktu 14 tahun, PKBI melakukan pencatatan kasus Kehamilan Tidak di Inginkan di 10 kota di Indonesia. Data kasus yang kami terima sejak tahun 2000 - 2014 adalah sebanyak 118.756 kasus. Berarti, dalam 14 tahun terakhir, rata-rata terdapat 23 perempuan/hari yang mengalami KTD. Namun, asumsi yang menyatakan bahwa mayoritas pengakses layanan aborsi adalah remaja, tidak terbukti di dalam dokumentasi kami. Data menunjukkan bahwa mayoritas KTD terjadi pada perempuan yang menikah dengan presentase antara 73% hingga 86 % dengan alasan cukup anak dan gagal KB. Sementara bagi perempuan yang belum menikah, bila terjadi KTD, mayoritas akan melanjutkan kehamilan dengan menikah.
Dokumentasi kami sejalan dengan temuan SDKI 2012, yang memperlihatkan bahwa ketika kehamilan tidak diharapkan terjadi, mayoritas responden remaja yang belum menikah akan menyarankan temannya untuk melanjutkan kehamilan ( menikah).
66
74
Berdasarkan data-data tersebut, dapat disimpulkan bahwa kekuatiran pemohon terhadap maraknya seks sebelum menikah di antara remaja dan hubungannya dengan aborsi tidak aman tidak dapat dibuktikan secara langsung.
Pada Pasal 292 KUHP, Para Pemohon menilai adanya gerakan sistematis yang secara masif berupaya melegalkan hubungan sesama jenis dengan alasan bahwa konsep hubungan sesama jenis merupakan konsep yang tidak diakui dan tidak dapat diterima dalam budaya keluarga Indonesia. Dalam argumentasinya, pemohon mengutip data dari Human Rights Campaign sebagai berikut :
Bahwa Human Rights Campaign (GRC) melalui rilisnya pada : http://www.hrc.org/resources/hrc-issue-brief-hiv-aids-and-the-lgbt-community)
menyampaikan bahwa dari 50.000 kasus infeksi HIV baru tiap tahunnya 2/3 (63%) nya adalah gay dan biseksual. Selain itu, perempuan transgender memiliki kemungkinan 34 kali lebih besar mengidap HIV dari perempuan lainnya. Lebih dari itu dalam International Journal of Epidemiology melalui rilisnya pada http://ije.oxfordjournals.org/content/26/3/657.short. menyampaikan bahwa menurut CDC (2012), insiden HIV pada homoseksual sebanyak 12% sejak 2008-2010. Di Amerika, dari 1.1 juta penduduk yang terinfeksi HIV, 52% nya adalah kaum homoseksual. Di mana HIV pada homoseksual bertanggung jawab menyumbangkan 2/3 dari total kasus baru HIV pada homoseksual. Hal ini menunjukkan betapa tingginya resiko terinfeksi HIV pada kaum homoseksual. Penelitian Purcel et.al. (2010) menunjukkan bahwa pada 100.000 pasangan homoseksual, 692 dipastikan menderita HIV. Ini menunjukkan bahwa hubungan antar laki laki 60 kali lebih rentan diinfeksi virus. (Sumber: Abdul Ghafir dan Rofida Lathifah, AIDS dan Homoseksual, Jurnal Islamia Republika Desember 2013);
Terkait data yang dikutip tersebut, kami menyayangkan Para Pemohon mengutip data dari luar Indonesia, dalam hal ini Amerika, dimana karakteristik penularan HIV-nya tidak sama. Hal ini dapat dilihat dari data kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang menyatakan bahwa kelompok terbanyak yang menderita HIV di Indonesia dalam kategori pekerjaan adalah kelompok Ibu rumah tangga.
Laporan data kumulatif HIV-AIDS sepanjang tahun 1987 sampai dengan September 2015 menjelaskan bahwa Ibu Rumah Tangga menempati urutan terbesar orang dengan HIV-AIDS ODHA, menurut kelompok mata pencahariannya, sebanyak 9.096. Sementara urutan kedua yaitu karyawan 8.287, sementara yang tidak diketahui profesinya mencapai 21.434 orang.
Data lain dari Kementerian Kesehatan secara konsisten menunjukkan bahwa penularan AIDS paling banyak terjadi melalui seks heteroseksual. Dengan gambaran sebagai berikut :
75
Gambar 9.1 Presentase Kasus AIDS di Indonesia
Pada gambar di atas nampak bahwa hubungan heteroseksual masih merupakan cara penularan dengan persentase tertinggi pada kasus AIDS yaitu sebesar 78%, kemudian meningkat sebesar 81,3 %. Sedangkan penularan homoseksual sebesar 4,3 % - 5,1%. Sedangkan pengguna narkoba suntik (penasun) yang biasanya cara penularan tertinggi kedua, pada tahun 2014 turun secara signifikan menjadi 3,3% dibandingkan tahun 2013 yang sebesar 9,3%67.
Data lain juga menunjukkan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) yang dilakukan Kemenkes pada 2012 lalu, memperlihatkan bahwa pada kurun waktu 2007-2011, bahwa 81,8 persen penularan HIV/AIDS melalui transmisi seksual. Dari jumlah tersebut 72,4 persennya dialami oleh pelaku heteroseksual, yang tertular melalui seks berisiko68.
Presentase kasus berdasarkan faktor resiko di atas menunjukkan bahwa, pertama, siapa saja berisiko terkena HIV/AIDS. Kedua, mematahkan anggapan, bahwa HIV/AIDS hanya rentan kepada para pekerja seks, kaum homoseksual atau pengguna narkoba suntik saja. Artinya, data di atas mengindikasikan adanya perubahan pola penyebaran HIV/AIDS ini, dari kelompok berisiko tinggi ke masyarakat umum. Dari kelompok masyarakat umum ini, Ibu-ibu rumah tangga (IRT) memiliki proporsi cukup besar terjangkit HIV/AIDS ini.
Pengetahuan pria mengenai HIV AIDS relatif lebih tinggi dibanding wanita Sebanyak 37,3% wanita dan 49,1% pria kawin mengetahui cara mengurangi risiko penularan HIV AIDS dengan menggunakan kondom dan membatasi seks hanya dengan satu partner (pasangan). Pengetahuan tentang cara mengurangi risiko terkena HIV-AIDS (menggunakan kondom dan membatasi berhubungan seks hanya dengan satu pasangan) lebih tinggi di perkotaan dibandingkan di perdesaan baik pada wanita maupun pria kawin. Pengetahuan mengenai HIV AIDS meningkat sejalan dengan tingkat pendidikan wanita69.
67
Profil Kesehatan Indonesia 2014 diakses di http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil - kesehatan-indonesia/profil -kesehatan-indonesia-2014.pdf
68
http://www.theindonesianinstitute.com/irt-dengan-hivaids/ 69
Profil Kesehatan Indonesia 2013 diakses di http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil - kesehatan-indonesia/profil -kesehatan-indonesia-2013.pdf pada 1 September 2016
76