• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pasal 27 ayat (1) UUD 1945, “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan

C. KETERANGAN DPR RI

I. Fakta Hukum

Bahwa Pihak Terkait merasa perlu terlebih dahulu mengajukan fakta hukum terkait urgensi atau latar belakang mengapa Pihak Terkait perlu terlibat sebagai pihak dalam pemeriksaan pengujian Pasal 58 huruf f dan huruf h Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah juncto Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Bahwa Pihak Terkait I dan Pihak Terkait II yaitu Reskan Effendi dan Rohidin Mersyah,DRH.MMA.DR mengajukan permohonan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun 2008 ke hadapan Mahkamah Konstitusi terhadap Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bengkulu Selatan yang diucapkan pada tanggal 8 Januari 2009. Mahkamah Konstitusi berkesimpulan sebagai berikut dan memberikan putusan yang amar putusannya sebagai berikut:

4.

KONKLUSI

Berdasarkan seluruh penilaian atas fakta dan hukum sebagaimana diuraikan di atas, Mahkamah berkesimpulan sebagai berikut:

[4.1]

Eksepsi Termohon dan Pihak Terkait tidak tepat menurut hukum;

[4.2]

Pihak Terkait H. Dirwan Mahmud terbukti tidak memenuhi syarat sejak awal untuk menjadi Pasangan Calon dalam Pemilukada Kabupaten Bengkulu Selatan karena terbukti secara nyata pernah menjalani hukumannya karena delik pembunuhan, yang diancam dengan hukuman lebih dari 5 (lima) tahun;

[4.3]

Penyelenggara Pemilukada in casu KPU Kabupaten Bengkulu Selatan dan Panwaslu Kabupaten Bengkulu Selatan telah melalaikan tugas karena tidak pernah memproses secara sungguh-sungguh laporan-laporan yang diterima tentang latar belakang dan tidak terpenuhinya syarat Pihak Terkait in casu H.

Dirwan Mahmud, sehingga Pemilukada berjalan dengan cacat hukum sejak awal. Kelalaian tersebut menyebabkan seharusnya Pihak Terkait tidak berhak ikut, dan karenanya keikutsertaannya sejak semula adalah batal demi hukum (void ab initio);

[4.4]

Untuk mengawal konstitusi dan mengawal Pemilukada yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sebagai pelaksanaan demokrasi sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 18 ayat (4) dan Pasal 22E ayat (1) UUD 1945, Mahkamah menilai bahwa perkara a quo adalah sengketa hasil Pemilukada yang menjadi kompetensi dan dapat diadili oleh Mahkamah, karena apabila sejak awal Pihak Terkait H. Dirwan Mahmud tidak menjadi peserta dalam Pemilukada sudah pasti konfigurasi perolehan suara masing-masing Pasangan Calon akan berbeda dengan yang diperoleh pada Pemilukada Putaran I maupun Putaran II;

[4.5]

Sebagian permohonan Pemohon beralasan sehingga dapat dikabulkan dan karenanya Mahkamah membatalkan hasil Pemilukada Kabupaten Bengkulu Selatan secara keseluruhan sehingga harus diulang dengan menyertakan semua calon selain Pihak Terkait (H. Dirwan Mahmud);

5. AMAR PUTUSAN

Mengingat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 junctis Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,

Mengadili, Dalam Eksepsi:

Menyatakan Eksepsi Termohon dan Eksepsi Pihak Terkait tidak dapat diterima.

Dalam Pokok Perkara:

• Mengabulkan permohonan Pemohon untuk sebagian;

• Menyatakan batal demi hukum (void ab initio) Pemilukada Kabupaten Bengkulu Selatan untuk periode 2008-2013;

• Memerintahkan kepada Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bengkulu Selatan untuk menyelenggarakan Pemungutan Suara Ulang yang diikuti oleh seluruh pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah kecuali Pasangan Calon Nomor Urut 7 (H. Dirwan Mahmud dan H.

Hartawan, S.H.) selambat-lambatnya satu tahun sejak putusan ini diucapkan;

• Menolak permohonan Pemohon untuk selain dan selebihnya.

Bahwa Mahkamah Konstitusi telah memeriksa dan memutus serta mengucapkan putusan pada tanggal 24 Maret 2009 terhadap permohonan pengujian Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah [terutama Pasal 12 huruf g dan Pasal 50 ayat (1) huruf g] dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (terutama Pasal 58 huruf f sebagaimana dalam Perkara 4/PUU-VII/2009).

Mahkamah dalam bagian pertimbangan hukum dari Putusan Nomor 4/PUU-VII/2009 menyatakan, ”[3.20] Menimbang bahwa dalam Perkara Nomor 57/PHPU.D-VI/2008 Mahkamah telah memutus pembatalan hasil Pemilukada Kabupaten Bengkulu Selatan karena calon Bupati terpilih ternyata tidak memenuhi syarat yang ditentukan oleh Undang-Undang yakni “tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih” (vide Pasal 58 huruf f UU 32/2004).

Terkait dengan ini Mahkamah perlu menegaskan bahwa sikap Mahkamah untuk perkara a quo tidaklah dapat dipertentangkan, apalagi dianggap tidak konsisten dengan sikap Mahkamah dalam perkara Nomor 57/PHPU.D-VI/2008 tentang pembatalan hasil Pemilukada Bengkulu Selatan. Ada dua alasan yang menjadi

dasar argumen bahwa Mahkamah tetap konsisten dalam kedua perkara tersebut.

Pertama, perkara Nomor 57/PHPU.D-VI/2008 adalah sengketa hasil Pemilukada yang terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa calon Bupati yang terpilih adalah calon yang nyata-nyata sejak awal tidak memenuhi syarat yang ditentukan oleh Undang-Undang yang berlaku yakni “tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih” sehingga Mahkamah mengabulkan perrmohonan Pemohon dan menyatakan batal hasil Pemilukada Bengkulu Selatan karena pemenangnya nyata-nyata tidak memenuhi syarat sejak awal. Kedua, perkara Nomor 4/PUU-VII/2009 adalah perkara pengujian konstitusionalitas norma Undang-Undang terhadap UUD 1945 dan bukan penerapan ketentuan Undang-Undang yang masih berlaku. Oleh karena menurut Mahkamah ketentuan Undang-Undang tentang “syarat tidak pernah dijatuhi pidana” telah melanggar UUD 1945 maka Mahkamah berpendirian bahwa ketentuan Undang-Undang ini merupakan ketentuan yang inkonstitusional bersyarat (conditionally unconstitutional). Dengan demikian putusan Mahkamah atas kedua perkara tersebut tidaklah bertentangan, melainkan berlaku sesuai dengan jenis perkara masing-masing, yakni perkara Nomor 57/PHPU.D-VI/2008 merupakan sengketa tentang penerapan ketentuan Undang-Undang yang masih berlaku, sedangkan perkara Nomor 4/PUU-VII/2009 merupakan perkara pengujian konstitusionalitas norma Undang-Undang terhadap UUD 1945. Oleh karenanya kedua Putusan tersebut tetap berlaku sebagai putusan final sejak diucapkan sesuai dengan ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 dan Pasal 47 UU MK dan Putusan ini tidak dapat dijadikan novum.”

Bahwa sejak Mahkamah Konstitusi memutuskan membatalkan hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Bengkulu Selatan tahun 2008 ke hadapan Mahkamah Konstitusi terhadap Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Bengkulu Selatan, dimana H. Dirwan Mahmud, S.H. sebagai Pihak Terkait dalam Perkara 57/PHPU.D-VI/2008, pada tanggal 8 Januari 2009 hingga Pemohon H. Dirwan Mahmud,S.H. mengajukan permohonan pengujian Undang-Undang terhadap UUD 1945, fakta menunjukkan H. Dirwan Mahmud,S.H., menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan, dimana seharusnya memperlihatkan kesungguhan dan kejujuran untuk melaksanakan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 57/PHPU.D-VI/2008,

dengan memfasilitasi mata anggaran dalam APBD untuk pelaksanaan pemungutan suara ulang yang diikuti oleh seluruh pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah kecuali Pasangan Calon Nomor Urut 7 (H. Dirwan Mahmud, S.H. dan H. Hartawan, S.H.) selambat-lambatnya satu tahun sejak putusan diucapkan atau sekitar bulan Januari 2010. Namun senyatanya, pengesahan APBD Perubahan Kabupaten Bengkulu Selatan yang disahkan pada tanggal 26 Agustus 2009, atau dua hari sebelum H. Dirwan Mahmud, S.H., mengakhiri jabatan sebagai Ketua DPRD Bengkulu Selatan, tidak memasukkan mata anggaran bagi pemungutan suara ulang Pemilukada Kabupaten Bengkulu Selatan (vide Bukti PT-4, dan Bukti PT-5);

Bahwa tidak benar pernyataan sepiahk atau klaim dari Pemohon H. Dirwan Mahmud, S.H., sebagaimana dinyatakan dlaam halaman 6 pemrohonan Pemohon bahwa perbuatan pidana yang Pemohon lakukan pad atahun 1986 adalah perkelahian yang mengakibatkan kematian lawan tandingnya, maka kedengarannya peristiwa tersebut merupakan suatu kecelakaan biasa yang tidak direncanakan. Namun, berdasarkan keterangan para saksi dari Pihak Pemohon dalam Perkara 57/PHPU.D-VI/2008 bahwa Pemohon H.Dirwan Mahmud,S.H., dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan kemudian hanya menjalani 7 tahun penjara di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang Jakarta Timur. Vonis 10 tahun penjara jelaslah bukan hukuman untuk suatu perkelahian satu lawan satu dengan persepsi tindak pidana karena ketidaksengajaan seperti yang diklaim Pemohon H.Dirwan Mahmud, S.H., melainkan suatu tindak pidana pembunuhan berkualifikasi berencana. Pernyataan Pemohon H.Dirwan Mahmud,S.H., tersebut patut dipertanyakan kebenaran dan kejujurannya;

Bahwa sesungguhnya Mahkamah Konstitusi telah memberi putusan terhadap permohonan pengujian Pasal 58 huruf f Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sehingga harus dipertanyakan kepentingan hukum apa yang hendak dicapai oleh H.Dirwan Mahmud,S.H. atau setidak-tidaknya harus dinyatakan sebagai perbuatan berlebih-lebihan. Juga dengan adanya Putusan Mahkamah a quo maka H.Dirwan Mahmud,S.H. harus menyadarai bahwa ia tidak dapat lagi ikut sebagai peserta dalam pemungutan suara ulang dalam Pemilukada Kabupaten Bengkulu Selatan sebagaimana diperintahkan Mahkamah Konstitusi selambat-lambatnya tanggal 8 Januari 2010;

Bahwa oleh karena itu, upaya Pemohon H. Dirwan Mahmud, S.H., mengajukan permohonan pengujian Pasal 58 huruf f dan huruf h Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dapat ditafsirkan sebagai manuver agar dapat mengikuti kembali pemungutan suara ulang dalam Pemilukada Kabupaten Bengkulu Selatan sebagaimana diperintahkan oleh Mahkamah Konstitusi, jika Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan Pemohon karena telah dihapuskan kendala syarat administratif pernah menjalani hukuman penjara dengan ancaman lebih 5 (lima) tahun penjara. Oleh karena itu Pihak Terkait memohon kepada Mahakmah Konstitusi untuk menolak permohonan pengujian Undang-Undang a quo atau setidak-tidaknya menyatakan tidak dapat menerima permohonan pengujian undang-undang a quo.

Bahwa sangat tidak konsisten antara tuntutan Pemohon H. Dirwan Mahmud, S.H. yang ingin turut serta dalam Pemilukada Kabupaten Bengkulu Selatan sebagaimana diperintahkan Mahkamah Konstitusi dengan sikap politik H. Dirwan Mahmud,S.H., yang sesungguhnya tidak menghendaki Pemilukada Ulang (vide Bukti PT-6 dan Bukti PT-7) dan bersikeras tetap sebagai Bupati Bengkulu Selatan Terpilih (Bukti PT-8) serta mendesak untuk segera dilantik (Bukti PT-9, Bukti PT-10, dan Bukti PT-11), dimana kemudian manuver politik Pemohon H. Dirwan Mahmud, S.H., tersebut membuat sulit pelaksanaan Pemilukada Ulang Bengkulu Selatan (vide Bukti PT-12, Bukti PT-13, dan Bukti PT-14) seklaipun tetap ada keinginan politik DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkulu Selatan (Bukti PT-15, Bukti PT-16, dan Bukti PT17).