• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

11. Channa striata/ Ikan Gabus (Bloch, 1793)

4.5 Faktor Abiotik Lingkungan

Pengukuran faktor fisik kimia di Sungai Bah Bolon dari hasil penelitian dilapangan dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini:

Tabel 6. Data pengukuran faktor fisik-kimia perairan Sungai Bah Bolon pada setiap

Setiap mahluk hidup memiliki ciri-ciri tertentu, salah satunya menerima dan menanggapi rangsang. Ketika terjadi perubahan terhadap kondisi lingkungan, maka mahluk hidup akan melakukan penyesuaian diri atau adaptasi untuk merasa lebih nyaman dan bisa beraktivitas dengan normal. Ketika mahluk hidup tersebut tak mampu untuk menyesuaikan diri, maka ia akan mengalami kematian atau terkana seleksi alam (Amdah, 2011).

a. Suhu

Dari tabel 6 di atas diperoleh bahwa nilai suhu di setiap stasiun penelitian berada pada kisaran 22,7-26,80C. Suhu tertinggi diperoleh pada stasiun 2 yaitu 26,80C dan suhu terendah pada stasiun 1 yaitu 22,70C. Menurut Boyd (1990), suhu yang baik untuk kehidupan ikan di Indonesia khususnya daerah tropis berkisar antara 250 C-320C, namun kadang-kadang suhu permukaan dapat mencapai 350C atau lebih sehingga berada diluar batas optimal yang bisa digunakan untuk kehidupan ikan.

Kisaran suhu di kawasan perairan Sungai Bah Bolon tergolong baik untuk pertumbuhan dan perkembangan ikan, meskipun pada stasiun 1 nilai suhu terbilang

lebih rendah dari kisaran suhu yang baik untuk ikan di sungai. Hal ini disebabkan oleh faktor lain seperti kecepatan arus, oksigen terlarut dan suhu dari udara.

Menurut Yuliani dan Rahardjo (2012), Suhu air dipengaruhi oleh suhu udara.

Tinggi rendah suhu juga berpengaruh terhadap aktivitas ikan. Tingginya suhu air akan mengurangi kadar oksigen terlarut. Keadaan suhu air dan DO akan mempengaruhi aktivitas ikan. Suhu air sangat berkaitan erat dengan konsentrasi oksigen terlarut dan laju konsumsi oksigen hewan air.

b. Kecepatan Arus

Nilai kecepatan arus perairan pada stasiun penelitian berkisar antara 0,93-0,81 m/detik. Stasiun 1 memiliki nilai kecepatan arus tertinggi yaitu 0,93 m/detik disebabkan karena stasiun 1 merupakan stasiun yang paling dekat ke hulu sungai dan substrat batu besar dan pasir, sehingga kecepatan arus stasiun 1 lebih besar dibandingkan dengan stasiun penelitian yang lain. Stasiun 3 dan 4 memiliki nilai kecepatan arus yang sama dan lebih rendah dari kedua stasiun yang lainnya yaitu 0,81 m/detik.

Arus sangat penting sebagai faktor pembatas, terutama pada aliran air.

Pengaruh arus terhadap organisme aquatik adalah ancaman bagi organisme tersebut dihanyutkan oleh arus yang deras. Oleh karena itu organisme mempunyai adaptasi morfologis yang spesifik untuk dapat bertahan hidup. Berbagai jenis ikan juga mempunyai adaptasi morfologis yang khas untuk bertahan pada habitat yang berarus deras. Selain itu adaptasi yang dilakukan oleh organisme akuatik terhadap arus deras adalah melakukan kompensasi terhadap hanyut dengan melakukan gerakan melawan arus. Pada prinsipnya organisme akuatik akan berusaha mencari perlindungan untuk menghindarkan diri dari ancaman hanyut, terutama pada substrat batu-batuan besar yang terlindung dari arus air yang deras (Odum, 1994)

Arus air sangat membantu pertukaran air, membersihkan timbunan sisa metabolisme ikan dan membawa oksigen terlarut yang sangat dibutuhkan ikan.

Namun, harus dicegah arus yang terlalu berlebihan karena menyebabkan ikan stress, energi banyak yang terbuang dan selera makan berkurang, kecepatan arus yang ideal sekitar 0,5-1,5 meter/detik (Kordi, 2004).

Ikan bereaksi secara langsung terhadap perubahan lingkungan yang dipengaruhi oleh arus yaitu dengan mengarahkan dirinya secara langsung pada arus. Arus tampak jelas dalam organ mechanoreceptor yaitu garis mendatar pada tubuh ikan. Mechanoreceptor adalah reseptor yang ada pada organisme yang mampu memberikan informasi perubahan mekanis dalam lingkungan seperti gerakan, tegangan atau tekanan. Biasanya gerakan ikan selalu mengarah menuju arus (Reddy, 1993). Hasil penelitian menunjukkan kecepatan arus di sungai Bah Bolon berkisar antara 0,81-0,93 m/detik tergolong ideal bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.

c. Intensitas Cahaya

Berdasarkan tabel 6, nilai intensitas cahaya di sungai Bah Bolon berada pada kisaran 1344-504 Candela. Pengukuran intensitas cahaya dilakukan pada waktu pagi hingga menjelang siang. Hasil pengukuran intensitas tertinggi terdapat pada stasiun 1 yaitu 1344 candela, disebabkan pada saat pengukuran cuaca sangat cerah.

Sedangkan nilai intensitas cahaya terendah terdapat pada stasiun 3 yaitu 504 candela disebabkan pada saat pengukuran cuaca mendung. Namun kisaran intenstas cahaya di Sungai Bah Bolon masih tergolong baik untuk kelangsungan hidup ikan.

Intensitas cahaya merupakan faktor yang mempengaruhi penyebaran ikan.

Intensitas cahaya bagi organisme akuatik berfungsi sebagai alat orientasi yang akan mendukung kehidupan organisme tersebut dalam habitatnya. Apabila intensitas berkurang maka proses fotosintesis akan terlambat sehingga oksigen dalam air makin berkurang, dimana oksigen dibutuhkan organisme untuk metabolismenya (Barus, 1996).

Cahaya merupakan unsur yang paling penting dalam kehidupan ikan.

Cahaya dibutuhkan ikan untuk mengejar mangsa, menghindarkan diri dari predator, membantu dalam pengelihatan, proses metabolisme dan pematangan gonad. Secara tidak langsung peranan cahaya matahari bagi kehidupan ikan adalah melalui rantai makanan (Rifai et al, 1983).

d. Penetrasi Cahaya

Hasil pengukuran pada stasiun penelitian nilai penetrasi cahaya berkisar antara 30-100.5cm. Nilai penetrasi cahaya tertinggi terdapat pada stasiun 1 yaitu 100,5 cm hal ini disebabkan stasiun 1 memiliki air yang lebih jernih dibandingkan dengan ketiga stasiun penelitian yang memiliki nilai kekeruhan yang paling rendah (dapat dilihat pada tabel 6). Sedangkan nilai penetrasi cahaya terendah terdapat pada stasiun 3 yaitu 30 cm, disebabkan oleh kondisi perairan yang paling keruh dibandingkan dengan semua stasiun penelitian yang lain. Penetrasi cahaya di sungai Bah Bolon masih tergolong baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.

Tinggi rendahnya penetrasi cahaya pada keempat stasiun disebabkan adanya bahan-bahan terlarut seperti buangan limbah dan juga akibat curah hujan yang menyebabkan warna air menjadi keruh sehingga menghambat cahaya yang dating.

Kemampuan penetrasi cahaya matahari kedalam perairan sangat ditentukan oleh warna perairan, kandungan bahan organic maupun anorganik tersuspensi di perairan dan kepadatan plankton (Wardoyo, 1981)

Nilai kecerahan yang baik untuk kehidupan ikan adalah lebih dari 45 cm atau lebih, karena bila kecerahan kurang dari 45cm, maka batas pandangan ikan akan berkurang (Kordi, 2004).

e. Kekeruhan

Hasil pengukuran kekeruhan di lokasi penelitian berkisar antara 7,61-77. Stasiun 1 memiliki nilai kekeruhan terendah yaitu 7,61 disebabkan oleh rendahnya partikel terlarut dalam air sehingga nilai penetrasi cahaya pada stasiun 1 tinggi yang dipengaruhi oleh rendahnya nilai kekeruhan. Sedangkan nilai kekeruhan tertinggi terdapat pada stasiun 3 yaitu 77 yang dikarenakan stasiun 3 merupakan daerah pembuangan limbah domestik maupun industri yang mengakibatkan tingginya partikel terlarut sehingga air berwarna kecoklatan.

Banyaknya partikel terlarut dalam perairan akan menyebabkan kekeruhan yang tinggi (Abdunnur, 2002). Kekeruhan yang baik adalah kekeruhan yang disebabkan oleh jasad renik atau plankton seperti padatan terlarut dalam air umumnya terdiri dari fitoplankton, zooplankton, lumpur, sisa tanaman, hewan, dan limbah industri (Sastrawijaya, 1991).

Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus), maupun bahan organik dan anorganik yang berupa plankton dan mikroorganisme lain. Nilai kekeruhan di perairan alami merupakan salah satu faktor terpenting untuk mengontrol produktivitasnya. Kekeruhan yang tinggi akan mempengaruhi penetrasi cahaya matahari. Kekeruhan di suatu sungai tidak sama sepanjang tahun. Air akan sangat keruh pada musim penghujan karena aliran air maksimum dan adanya erosi dari daratan (Effendi, 2003).

f. Konduktivitas

Berdasarkan tabel 6, nilai konduktivitas di sungai Bah Bolon berada pada kisaran yang tidak jauh beda yaitu 81-94,7 p µhos/cm. Stasiun 3 memiliki nilai konduktivitas tertinggi yaitu 94,7 p µhos/cm, sedangkan stasiun 1 memiliki nilai konduktivitas terendah yaitu 81 p µhos/cm. Jumlah konduktivitas terlarut terkait dengan konsentrasi total padatan terlarut dan ion utama. Konduktivitas untuk air tawar berkisar antara 10 sampai 1000 µmhos/cm, tetapi dapat melebihi 1000 µmhos/cm, terutama di perairan tercemar, atau perairan yang menerima jumlah run offyang besar dari tanah (Tessema et al (2014) dalam Rizki et al, 2015). Jadi nilai konduktivitas sungai Bah Bolon tergolong masih baik untuk mendukung kelangsungan dan pertumbuhan ikan.

Nilai Konduktivitas erat kaitannya dengan TDS dan ion utama perairan, karena semakin tinggi TDS dan ion utama maka daya hantar listrik/konduktivitas dari air tersebut juga semakin tinggi (Rizki et al, 2015). Semakin banyak garam-garam yang terlarut maka semakin baik daya hantar listrik air tersebut (Barus, 2004).

g. DO (Dissolved oxygen)

Dari Tabel 6. Dapat dilihat bahwa nilai oksigen terlarut pada kempat stasiun penelitian berkisar antara 8,19-7,2 mg/L. Nilai oksigen terlarut tertinggi terdapat

pada stasiun 1 yaitu 8,19 mg/l yang dipengaruhi oleh suhu pada stasiun 1 lebih rendah, dan kecepatan arus yang tinggi. Sedangkan nilai oksigen terlarut terendah terdapat pada stasiun 2 yaitu 7,2 mg/l yang disebabkan suhu pada stasiun 2 memiliki nilai yang lebih tinggi diantara stasiun penelitian yang lain.

Sumber utama oksigen terlarut berasal dari atmosfer dan proses fotosintesis.

Oksigen dari udara diserap dengan difusi langsung di permukaan air oleh angin dan arus. Jumlah oksigen yang terkandung dalam air tergantung pada daerah permukaan yang terkena suhu dan konsentrasi garam (Michael, 1994).

Ikan merupakan mahluk air yang paling membutuhkan oksigen tertinggi. Biota di perairan tropis memerlukan oksigen terlarut minimal 5 ppm, sedangkan biota beriklim sedang memerlukan oksigen terlarut mendekati jenuh. Konsentrasi Oksigen terlalu rendah akan menyebabkan ikan-ikan dan biota lainnya akan mati (Fardiaz, 1992)

h. Kejenuhan Oksigen (O2)

Hasil pengukuran nilai kejenuhan oksigen dari keempat stasiun berada pada kisaran 98,79-91,25 %. Stasiun 1 memiliki nilai kejenuhan oksigen tertinggi yaitu 98,79%

yang disebabkan stasiun 1 memiliki nilai DO yang tinggi dan nilai suhu terendah (dapat dilihat pada tabel 6). Sedangkan nilai kejenuhan oksigen terendah terdapat pada stasiun 2 yaitu 91,25% yang disebabkan stasiun 2 memiliki nilai DO terendah dan nilai suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun penelitian yang lainnya.

Tinggi rendahnya kandungan oksigen terlarut dalam perairan juga dipengaruhi oleh faktor temperatur, tekanan dan berbagai konsentrasi ion yang terlarut dalam air pada perairan tersebut. Kandungan oksigen terlarut pada keempat stasiun masih tergolong sangat layak dalam mendukung kehidupan organisme sebab menurut Sastrawijaya (1991), kehidupan organisme akuatik berjalan dengan baik apabila kandungan oksigen terlarut minimal 5 mg/l.

i. Derajat Keasaman (pH)

Berdasarkan hasil pengukuran derajat keasaman dilokasi penelitian berkisar antara

stasiun 1 merupakan stasiun dengan nilai pH terendah yaitu 7,2. Kehidupan organisme aquatik sangat dipengaruhi oleh fluktuasi nilai pH. Pada umumnya organisme aquatik toleran pada kisaran nilai ph netral menyatakan pH yang ideal bagi organisme aquatik pada umumnya terdapat antara 7-8,5 (Odum, 1994). Jadi kisaran pH di sungai Bah Bolon tergolong baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.

Nilai pH menunjukkan derajat keasaman atau kebebasan suatu perairan. Pescod (1973), menyatakan bahwa toleransi organisme air terhadap pH bervariasi. Hal ini tergantung pada suhu air, oksigen terlarut dan adanya berbagai anion dan kation serta jenis dan stadium organisme. Kondisi perairan yang bersifat sangat asam maupun sangat basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme karena akan menyebabkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi.

j. BOD (Biochemical Oxygen Demand)

Hasil pengukuran nilai BOD pada keempat stasiun penelitian berada pada kisaran 0,9-1,5 mg/l. Nilai BOD tertinggi terdapat pada stasiun 3 yaitu 1,5 mg/l yang disebabkan tingginya partikel terlarut didalam air (dapat dilihat pada tabel 6) karena stasiun 3 merupakan daerah pembuangan limbah domestik dan industri yang mengandung kandungan organic yang tinggi. Sedangkan pada stasiun 1 memiliki nilai BOD terendah yaitu 0,9 mg/l disebabkan oleh kondisi air pada stasiun 1 lebih jernih dapat dilihat dari nilai kekeruhan yang rendah.

Kebutuhan oksigen biologis adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme di dalam air lingkungan untuk memecah (mendegradasi) bahan buangan organik yang ada di dalam air lingkungan tersebut. Jumlah mikroorganisme tergantung pada tingkat kebersihan air. Air yang jernih biasanya mengandung mikroorganisme yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan air yang telah tercemar oleh bahan buangan (Wardhana, 2004).

k. TDS (Total Dissolved Solid)

Hasil pengukuran nilai TDS pada keempat stasiun penelitian berada pada kisaran 52,65-60,45 mg/l. Nilai TDS tertinggi terdapat pada stasiun 3 yaitu 60,45 mg/l sedangkan nilai TDS terendah terdapat pada stasiun 1 yaitu 52,65 mg/l.

Tingginya padatan terlarut pada suatu perairan dikarenakan area tersebut dekat dengan aktivitas manusia sehingga banyak menghasilkan limbah yang masuk ke dalam badan perairan dan akhirnya menambah jumlah partikel terlarut. Sedangkan rendahnya nilai TDS pada suatu perairan dikarenakan perairan tersebut jauh dari segala aktivitas manusia dan tidak adanya limbah yang masuk ke perairan (Yazwar, 2008).

l. TSS (Total Suspended Solid)

Hasil pengukuran TSS di laboratorium lingkungan Shafera Enviro, Provinsi Sumatera Utara berkisar antara 40,19-54,22 mg/l. Nilai TSS tertinggi terdapat pada stasiun 3 yaitu 54,22 mg/l yang disebabkan tingginya nilai kekeruhan pada stasiun 3, sedangkan nilai TSS terendah terdapat pada stasiun 4 yaitu 40,19 mg/l.

TSS merupakan faktor utama yang menyebabkan tinggi atau rendahnya kecerahan dari suatu perairan. Peningkatan nilai TSS ini dapat disebabkan oleh naiknya kadar bahan organik yang bersifat koloid. Peningkatan TSS akan menyebabkan meningkatnya penyakit dan menurunkan tingkat pertumbuhan ikan (Rizki, et al. 2015).

Peningkatan padatan tersuspensi dapat membunuh ikan secara langsung, meningkatkan penyakit dan menurunkan tingkat pertumbuhan ikan serta perubahan tingkah laku dan penurunan reproduksi ikan (Aisyah & Luki, 2012).

m. Kadar Nitrat (NO2)

Berdasarkan hasil pengukuran nilai kadar nitrat pada lokasi penilitian berkisar antara 0,5-1,82 mg/l. Stasiun 1 memiliki nilai kadar nitrat tertinggi yaitu 1,82 mg/l.

Sedangkan nilai kadar nitrat terendah terdapat pada stasiun 3 dan 4 yaitu 0,5 mg/l.

Nitrat dapat digunakan untuk mengelompokkan tingkat kesuburan perairan.

Perairan oligotrofik memiliki kadar nitrat antara 0-1 mg/L, perairan mesotrofik memiliki kadar nitrat antara 1-5 mg/L, dan perairan eutrofik memiliki kadar nitrat

berkisar antara 5-50 mg/L (Effendi, 2003). Jadi kadar nitrat pada sungai Bah Bolon masih tergolong baik untuk mendukung pertumbuhan ikan.

n. Kadar Fosfat (PO4)

Hasil pengukuran kadar Fosfat di laboratorium Lingkungan Shafera Enviro, Provinsi Sumatera Utara, menunjukkan bahwa kadar fosfat berada pada kisaran 0,023-0,092 mg/l. Berdasarkan kadar fosfor total, perairan diklasifikasikan menjadi tiga yaitu, perairan dengan tingkat kesuburan rendah memiliki kadar fosfat total berkisar antara 0-0,02 mg/l. Perairan dengan tingkat kesuburan sedang memiliki kadar fosfat total berkisar antara 0,02-0,05 mg/l. Perairan yang dengan tingkat kesuburan tinggi memiliki kadar fosfat total berkisar antara 0,051-0,1 mg/l.

Dokumen terkait