HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Faktor Abiotik Lingkungan Perairan
Faktor fisika-kimia perairan di Sungai Alas dapat dilihat pada Tabel 4.8.
Tabel 4.8 Parameter fisika-kimia perairan pada setiap stasiun penelitian di Sungai Alas.
Stasiun 1 = Anak sungai Lawe Pakam (Pembuangan limbah rumah tangga) Stasiun 2 = Pertemuan 2 sungai (Pengerukan pasir)
Stasiun 3 = Induk sungai (Pariwisata)
Stasiun 4 = Aliran sungai pegunungan (Bebas aktivitas)
4.2.1 Parameter Fisika-Kimia lebih kecil sehingga daya serap panas matahari lebih sedikit. Meskipun demikian suhu dari empat stasiun tersebut merupakan suhu yang baik bagi ikan, karena masih tergolong suhu optimal suatu perairan.
Menurut Effendi (2003) kisaran suhu optimal bagi kehidupan organisme di perairan tropis adalah 20oC-30oC. Menurut Ira (2014) suhu merupakan faktor langsung yang mempengaruhi laju pertumbuhan, kelangsungan hidup dan meningkatkan laju metabolisme organisme. Peningkatan suhu perairan secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan organisme suatu perairan.
4.2.1.2 Intensitas Cahaya
Intensitas cahaya adalah salah satu faktor yang mempengaruhi penyebaran ikan. Intensitas cahaya yang diukur berada pada kisaran 368,5-427,75 candela. Nilai
tertinggi terdapat pada stasiun 1 sedangkan terendah pada stasiun 4. Hal ini disebabkan pada stasiun 1 pepohonan hanya sedikit, sedangkan stasiun 4 terdapat banyak pepohonan disekitar stasiun serta kondisi lingkungan lebih sejuk sehingga intensitas cahaya lebih rendah.
Menurut Haryono et al., (2017) terbatasnya cahaya yang masuk ke dalam badan air mengganggu proses fotosintesis yang berdampak pada penurunan kandungan oksigen terlarut. Menurut Barus (2004) intensitas cahaya sangat mempengaruhi fitoplankton dan perifiton dalam suatu perairan, besarnya intensitas cahaya berpengaruh besar dalam proses fotosintesis.
4.2.1.3 Penetrasi Cahaya
Nilai penetrasi cahaya yang diperoleh pada setiap stasiun berkisar antara 30,5 cm-75,5cm. Nilai tertinggi terdapat pada stasiun 4 dan yang terendah terdapat pada stasiun 3, hal ini disebabkan karena pada stasiun 4 warna air yang tergolong jernih dan bersih sehingga memudahkan cahaya menembus air, sedangkan pada stasiun 3 kondisi air yang berwarna kecoklatan dan keruh sehingga menghambat masuknya cahaya masuk kebadan sungai.
Menurut Odum (1993) kekeruhan dapat mempengaruhi habitat organisme perairan. Tingginya tingkat kekeruhan dapat menyebabkan stres bahkan kematian pada ikan. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem osmoregulasi, misalnya, pernafasan dan daya lihat organisme akuatik, serta dapat menghambat penetrasi cahaya kedalaman air.
Menurut Haryono et al., (2017) tingkat kekeruhan yang tinggi tersebut dapat mengganggu kehidupan ikan dalam mencari makanan, penglihatan, dan pernafasan.
Semakin tinggi tingkat kekeruhan maka cahaya yang masuk ke dalam badan air juga akan berkurang, akibatnya mengganggu proses penglihatan terhadap mangsa/makanan.
4.2.1.4 Derajat Keasaman (pH)
Derajat Keasaman (pH) disetiap stasiun berkisar antara 5,97-9,02. Nilai derajat keasaman tertinggi terdapat pada stasiun 1 dan yang terendah terdapat pada
stasiun 3, dimana pada stasiun 1 pH bersifat basa, pada stasiun 2 dan 3 pH bersifat asam , sedangkan pada stasiun 4 pH bersifat netral.
Menurut Sastrawijaya (1991) kondisi perairan yang sangat asam atau basa dapat menyebabkan terganggunya metabolisme dan respirasi sehingga secara tidak langsung dapat mempengaruhi keanekaragaman jenis ikan di sungai tersebut.
Kondisi perairan yang bersifat sangat asam atau basa akan membahayakan kelangsungan hidup organisme, karena akan mengakibatkan terjadinya gangguan metabolisme dan respirasi. Batas toleransi organisme terhadap pH bervariasi dan sebagian besar organisme akuatik sensitif terhadap perubahan pH (Ira, 2014).
4.2.1.5 DO (Dissolved Oxygen)
Nilai oksigen terlarut disetiap stasiun berada pada kisaran 6,9 mg/L – 9,3 mg/L, dengan nilai tertinggi terdapat pada stasiun 4 dan yang terendah pada stasiun 1. Hal ini disebabkan karena suhu pada stasiun 4 lebih rendah dan juga aliran sungai yang deras mengakibatkan semakin tingginya sirkulasi udara yang menyebabkan oksigen yang dihasilkan semakin tinggi pula, sedangkan pada stasiun 1 suhu lebih tinggi dan lebih banyak aktivitas sehingga kandungan oksigennya lebih rendah.
Menurut Mahyudin et al., (2015) suatu perairan dapat dikatakan baik dan mempunyai tingkat pencemaran yang rendah jika kadar oksigen terlarutnya (DO) lebih besar dari 5 mg/L, sedangkan konsentrasi oksigen terlarut (DO) pada perairan yang masih alami memiliki nilai DO kurang dari 10 mg/L.
Menurut Ira (2014) oksigen terlarut merupakan faktor pembatas bagi kehidupan organisme karena dapat menimbulkan efek langsung yang berakibat pada kematian organisme dan efek tidak langsung meningkatkan toksisitas bahan pencemar yang pada akhirnya dapat membahayakan organisme itu sendiri.
Kandungan DO sangat berhubungan dengan tingkat pencemaran, jenis limbah dan banyaknya bahan organik di suatu perairan. Selain itu, kemampuan air untuk membersihkan pencemaran secara alamiah tergantung pada kadar DO dan banyaknya organisme pengurai.
Menurut Ridwan et al (2016) kandungan oksigen terlarut mempengaruhi jumlah dan jenis organisme perairan. Tingginya nilai DO merupakan adanya pengaruh dari penggolakan massa air yang diakibatkan oleh arus.
4.2.1.6 BOD5 (Biochemical Oxygen Demand)
Nilai BOD5 merupakan salah satu indikator untuk menentukan kecemaran suatu perairan. Nilai BOD5 pada setiap stasiun berada pada kisaran 2,9 mg/L- 5,0 mg/L. Menurut Mahyudin et al., (2015) semakin besarnya konsentrasi BOD mengindikasikan bahwa peraian tersebut telah tercemar, konsentrasi BOD yang tingkat pencemarannya masih rendah dan dapat dikatagorikan sebagai perairan yang baik memiliki kadar BOD berkisar antara 0 - 10 mg/L, sedangkan perairan yang memiliki konsentrasi BOD lebih dari 10 mg/L dianggap telah tercemar. Menurut Haryono et al., (2017) tingginya partikel terlarut akan berdampak pada penurunan kinerja insang sehingga pernafasan ikan terganggu.
4.2.1.7 Nilai Kejenuhan Oksigen
Nilai kejenuhan oksigen berkisar antara 86,03% - 96,08%, dimana nilai kejenuhan oksigen tertinggi terdapat pada stasiun 4 dan yang terendah pada stasiun 1.
Hal ini disebabkan stasiun 4 suhu yang lebih rendah sedangkan oksigen yang diukur lebih tinggi, sedangkan pada stasiun 1 suhu lebih tinggi dan oksigen yang diukur lebih rendah. Semakin tinggi nilai kejenuhan oksigennya maka semakin kecil defisit oksigen yang terdapat didalam badan air tersebut begitu juga sebaliknya.
Menurut Salmin (2005) oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukankan biologis yang dilakukan oleh organisme aerobik atau anaerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan.
4.2.1.8 Nitrat
Nitrat memiliki peranan penting bagi kehidupan ikan. Nitrat yang diukur pada pada setiap stasiun yaitu berkisar antara o,6 mg/L- 12,9 mg/L. Nilai tertinggi terdapat pada stasiun 2 dan yang terendah terdapat pada stasiun 3. Adapun faktor yang mempengaruhi yaitu sekitar perairan yang merupakan lahan pertanian masyarakat dan perairan yang digunakan untuk mendukung aktivitas masyarakat. Menurut
Effendi (2003), kadar nitrat-nitrogen pada perairan alami hampir tidak pernah lebih dari 0,1 mg/liter.
Menurut Ira (2014) nitrat adalah bentuk nitrogen utama di perairan alami.
Nitrat merupakan salah satu nutrien senyawa yang penting dalam sintesa protein hewan dan tumbuhan. Konsentrasi nitrat yang tinggi di perairan dapat menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme perairan apabila didukung oleh ketersediaan nutrien.
4.2.1.9 Fosfat
Fosfat yang diukur pada setiap stasiun berkisar antara <0,001 mg/L- 0,05 mg/L. Nilai tertinggi terdapat pada stasiun 4 dan yang terendah terdapat pada stasiun 3. Dengan demikian nilai fosfat tersebut dikategorikan baik karena memenuhi nilai standar. Menurut Ira (2014) berdasarkan KepMen LH No. 51 Tahun 2004 nilai baku mutu fosfat adalah 0.015 mg/L. Fosfat dalam suatu perairan bersumber dari diantaranya limbah industri, domestik dan pertanian, serta hancuran bahan organik.
Menurut Effendi (2003) kandungan fosfor total dalam perairan alamiah jarang melebihi 1 mg/L. Sedangkan kadar fosfor yang diperkenankan bagi kepentingan air minum adalah 0,2 mg/L dalam bentuk Phospat (PO4).