HASIL DAN PEMBAHASAN
3.4 Faktor Abiotik Lingkungan
Hasil pengukuran faktor fisik kimia lingkungan yang diperoleh pada setiap stasiun penelitian, seperti pada Tabel 3.4 berikut:
Tabel 3.4Faktor Fisik dan Kimia Perairan
No Parameter Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
1. Temperatur 22,5 22,75 23,25 2. Penetrasi Cahaya 6 6 6 3. pH Air 7,55 7,75 7,55 4. DO 6,1 6,2 5,725 5. BOD5 2,5 3,9 4,75 6. K. Oksigen 72,16 73,70 68,62 7. Intensitas cahaya 120 175 126 8. Kadar Nitrat 0.085 0.093 0,115 9. Kadar Phospat 0.122 0.100 0.097 Keterangan:
Stasiun 1 : Daerah Kontrol di Desa Toweran Tua Stasiun 2 : Daerah Dermaga di Desa Toweran Uken
Stasiun 3 : Daerah Keluaran Air Danau di Desa Bale Bujang
Dari Tabel 3.4 di atas dapat dilihat dapat diketahui bahwa faktor fisik kimia setiap stasiun yang mempengaruhi suatu perairan sehingga sangat mempengaruhi kehidupan organisme suatu perairan. Dari data juga terlihat jumlah setiap faktor fisik kimia tidak jauh berbeda untuk setiap stasiun. Oleh karena itu perbedaaan faktor fisik kimia di setiap perairan juga akan mempengaruhi kehidupan organismenya.
3.4.1 Temperatur (oC)
Dari penelitian yang telah dilakukan nilai rata-rata suhu yang diperoleh berkisar antara 22,5-23,25oC, dan suhu tertinggi terdapat pada stasiun 3, yaitu dengan nilai 23,5 oC. Hal ini disebabkan karena pada stasiun 3 merupakan daerah keluaran air sungai yang langsung terkena panas matahari.
Menurut Odum, (1988, hlm: 371), bahwa faktor-faktor pembatas yang cukup penting pada air tawar antara lain suhu, kejernihan, arus, konsentrasi gas pernapasan dan konsentrasi garam biogenik. Suhu perairan dipengaruhi oleh intensitas cahaya yang masuk kedalam air. Suhu selain berpengaruh terhadap berat jenis, viskositas dan densitas air, juga berpengaruh terhadap kelarutan gas dan unsur-unsur dalam air. Sedangkan perubahan suhu dalam kolom air akan menimbulkan arus secara vertikal. Secara langsung maupun tidak langsung, suhu berperan dalam ekologi dan distribusi plankton baik fitoplankton maupun zooplankton (Subarijanti, 1994, hlm: 45).
3.4.2 pH Air
Dari penelitan yang telah dilakukan diperoleh nilai rata-rata pH berkisar antara 7,55-7,75, dan pH tertinngi terdapat pada stasiun 2 yakni dengan nilai 7,75. Hal ini terjadi karena pada stasiun 2 merupakan daerah dermaga, dimana daerah ini terdapat beberapa aktivitas masyarakat seperti pertanian, dan keramba. Dimana aktifitas dapat mempengaruhi nilai faktor fisik perairan terutama nilai pH.
Menurut Barus, (2004, hlm: 61), menjelaskan bahwa nilai pH yang ideal bagi kehidupan organisme air pada umumnya terdapat antara 7 sampai 8,5. Nilai pH sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Selain itu toksisitas logam-logam memperlihatkan peningkatan pada pH rendah. Derajat keasaman (pH) dipengaruhi oleh konsentrasi karbondioksida serta ion– ion bersifat asam atau basa. Fitoplankton dan tanaman air akan mengambil karbondioksida selama proses fotosintesis berlangsung, sehingga mengakibatkan pH
perairan menjadi meningkat pada siang hari dan menurun pada malam hari (Effendi, 2003, hlm: 5).
3.4.3 Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen)
Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh nilai rata-rata DO berkisar antara 5,725-6,2 mg/l, dan DO tertinggi terdapat pada stasiun 2 dengan nilai yaitu, 5,725-6,2 mg/l. Menurut Barus (2004, hlm. 56), oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting di dalam ekosistem air, terutama sekali dibutuhkan untuk proses respirasi bagi sebagian besar organisme air. Umumnya kelarutan oksigen dalam air sangat terbatas dibandingkan dengan kadar oksigen di udara yang mempunyai konsentrasi sebanyak 21% volum, air hanya mampu menyerap oksigen 1% volum saja.
Oksigen merupakan parameter yang penting di suatu perairan. Oksigen terlarut penting bagi organisme perairan yang bersifat aerobik, disamping menentukan kecepatan metabolisme dan respirasi dari keseluruhan ekosistem perairan, juga sangat penting bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan biota air. Keberadaan oksigen di perairan ditentukan oleh kemelimpahan fitoplankton. Hal ini erat kaitannya dengan kandungan klorofil pada fitoplankton yang menghasilkan oksigen pada proses fotosintesis (Subarijanti, 1990, hlm: 45).
3.4.4 BOD5
Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh nilai rata-rata BOD5 berkisar antara 2,5-4,75 mg/l, dan nilai BOD5 tertinggi terdapat pada stasiun 3 yaitu dengan nilai 4,7 mg/l. Hal ini terjadi karena pada stasiun 3 merupakan daerah keluaran aliran danau, pada sekitar daerah ini ditemukan adanya pemukiman dan keramba.
Menurut Brower et al., (1990) nilai konsentrasi BOD menunjukkan kualitas perairan yang masih tergolong baik dimana apabila konsumsi oksigen selama periode 5 hari berkisar sampai 5 mg/l O2, maka perairan tersebut tergolong baik, dan apabila konsumsi oksigen berkisar antara 10 mg/l O2-20 mg/l O2 akan menunjukkan tingkat pencemaran oleh materi orgaik yang tinggi dan untuk air limbah nilai BOD umumnya lebih besar dari 100 mg/l.
3.4.5 Kejenuhan Oksigen
Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh nilai rata-rata kejenuhan oksigen berkisar antara 68,62%-73,7%, dan nilai kejenuhan oksigen tertinggi terdapat pada stasiun 2 yaitu dengan nilai 73,7%.
Nilai kejenuhan air menggambarkan keadaan oksigen yang terdapat di dalam badan air. Semakin tinggi nilai kelarutan oksigen maka semakin besar pula nilai kejenuhannya. Semakin tinggi nilai nilai kejenuhan oksigennya maka semakin kecil defisit oksigen yang terdapat di dalam badan air tersebut dan sebaliknya. Menurut Barus (2004, hlm: 60) bahwa kehadiran senyawa organik akan menyebabkan terjadinya proses penguraian yang dilakukan oleh mikroorganisme dan berlangsung secara aerob artinya membutuhkan oksigen.
3.4.6 Intensitas Cahaya dan Penetrasi Cahaya
Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh nilai intensitas cahaya berkisar antara 120-175 candela, dan nilai tertinggi terdapat pada stasiun 2 yaitu dengan nilai 175 candela. Hal ini terjadi karena pada daerah stasiun 2 merupakan daerah dermaga yang terbuka yang memiliki sedikit vegetasi disekitar dermaga, sehingga matahari langsung masuk ke badan perairan tanpa adanya penghalang. Dan nilai penetrasi cahaya yang diperoleh adalah 6 m.
Antara penetrasi cahaya dan intensitas cahaya saling mempengaruhi. Semakin maksimal intensitas cahaya, maka semakin tinggi penetrasi cahaya. Jumlah radiasi yang mencapai permukaan perairan sangat dipengaruhi oleh awan, ketinggian dari permukaan air laut, letak geografis dan musiman (Tarumingkeng, 2001, hlm: 37).
Menurut Suin (2002, hlm: 40), prinsip penentuan kecerahan air dengan menggunakan keping sechii adalah berdasarkan batas pandangan kedalaman air untuk melihat warna putih yang berada dalam air. Semakin keruh suatu perairan, akan semakin dekat batas pandangan, sebaliknya kalau air jernih, akan jauh batas pandangan tersebut.
3.4.7 Kadar Nitrat
Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh nilai rata-rata kadar nitrat berkisar antara 0,085-0,115 mg/l, dan nilai kadar nitrat tertinggi tedapat pada stasiun 3. Dari kadar nitrat yang diperoleh, berdasarkan tingkat kesuburan maka perairan Danau Lut Tawar masih merupakan danau oligotropik. Menurut Effendi (2003, hlm:155) bahwa perairan oligotropik memiliki kadar nitrat antara 0-1 mg/l, perairan mesotropik memiliki kadar nitar antara 1-5 mg/l dan perairan eutropik memiliki kadar nitrat yang berkisar antara 5-50 mg/l.
Nitrat adalah sumber nitrogen dalam air laut maupun air tawar. Bentuk kombinasi lain dari elemen ini bisa tersedia dalam bentuk amonia, nitrit dan komponen organik. Kombinasi elemen ini sering dimanfaatkan oleh fitoplankton terutama kalau unsur nitrat terbatas. Nitrogen terlarut juga bisa dimanfaatkan oleh jenis blue-green algae dengan cara fiksasi nitrogen (Herawati,1989, hlm: 45).
3.4.8 Kadar Phospat
Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh nilai rata-rata kadar phospat berkisar antara 0,097-0,122 mg/l, dan nilai kadar phospat tertinggi terdapat pada stasiun 1. Hal ini terjadi karena pada stasiun 1 merupakan daerah kontrol (tidak ada aktivitas) sehingga tidak ada masukan nutrisi dari luar yang dapat mempengaruhi kadar phospat pada stasiun ini.
Menurut Barus (2004, hlm: 70), fosfor merupakan unsur penting lainnya dalam suatu ekosistem perairan. Zat-zat organik terutama protein mengandung gugus fosfor, misalnya ATP, yang terdapat didalam sel makhluk hidup dan berperan penting dalam penyediaan energi. Untuk mencapai pertumbuhan plankton yang optimal, diperlukan konsentrasi posfat pada kisaran 0,27 mg/l-5,51 mg/l dan akan menjadi faktor pembatas apabila kurang dari 0,02 mg/l. Bila kadar posfat pada air alam sangat rendah (< 0,01 mg/l), maka pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang, keadaan inilah yang dinamakan oligotrop. Sedangkan bila kadar posfat dan nutriennya tinggi, maka pertumbuhan tanaman dan ganggang tidak terbatas lagi. Keadaan inilah yang
dinamakan eutotrop sehingga tanaman tersebut akan dapat menghabiskan oksigen dalam sungai atau kolam pada malam hari (Alaert dan Sri, 1984, hlm: 231).
3.5Analisis Korelasi Pearson Untuk Nilai Faktor Fisik-Kimia dan Nilai