• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II URAIAN TEORITIS

2.3 Faktor Anak Yang Bekerja

Bila mana kita telah lebih jauh terhadap pekerja anak tersebut, sebab yang paling utama, mengapa anak masuk ke pasar kerja menjadi pekerja anak terkait dengan realitas kondisi ekonomi dan kemiskinan keluarga. Kemiskinan yang menjadi sebab utama mengapa anak masuk ke pasar kerja menjadi pekerja anak. Tentu saja keinginan anak menjadi pekerja anak tersebut sairing dengan dorongan dari kapital (modal) yang berkepentingan memperkerjakan anak-anak.Akan tetapi menurut laporan Internasional Labour Organization (ILO) yang berjudul “Child Labour in Indonesia” ada beberapa alasan mengapa anak-anak menjadi pekerja anak, antara lain seperti:

Untuk memperoleh pendapatan (To Get More Income)

Agar dapat belajar bekerja (To Learn To Work)

Anak-anak sebagai sumber daya manusia menarik untuk dibawa ke sektor publik, karena bagi pengusaha anak-anak rela di bayar dengan upah murah di bandingkan dengan orang dewasa. Dengan dalih membayar anak-anak di bayar dengan upah murah maka sejak itulah ekploitasi yang paling nyata tampak dari pembayaran upah yang murah tersebut.

Aspek-apek pekerja anak yang bekerja dalam kententuan yang dipertimbangkan sebagai eksploitatif adalak ketika pekerjaan yang dilakukan anak-anak dengan curahan waktu kerja yang penuh, anak-anak yang bekerja mulai usia dini membawa akibat kepada tekanan fisik, sosial, psikologis bagi anak dan menghalangi perkembangan fisik, sosial dan psikologis anak.

Dalam hal ini terhadap anak yang menjadi pekerja anak mengalami krisis yaitu apa yang dikatakan sebagai krisis anak, yang mana anak tidak lagi mempunyai waktu dan kesempatan yang cukup untuk keluar dari rutinitas kerja. Hidup mereka terpola dengan sedemikian rupa, bangun pagi bersiap untuk berangkat kerja, pulang sore ataupun malam hari begitu terus setiap harinya. Waktu istirahat mereka hanya hari minggu, tetapi ada sebagian anak tidak mengenal hari minggu, ia lebih memilih bekerja daripada beristirahat ataupun pergi bermain.

Berikut ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan anak bekerja sebagai buruh batu bata :

1. Faktor Lingkungan

Hal ini terjadi karena lingkungan tempat anak tersebut tinggal, anak-anak lainnya sudah terbiasa bekerja, sehingga bisa saja bukan dari kawan sebaya

juga mempengaruhi anak untuk bekerja. Demikian juga halnya yang terjadi pada anak yang bekerja sebagai buruh batu bata, apalagi yang tempat tinggal mereka di daerah pembuatan batu bata tersebut, sudah hal lumrah anak-anak melakukan pekerjaan mereka. Jadi dengan lingkungan yang dekat dengan tempat bekerja maka anak-anak yang bekerja sebagai buruh batu bata bisa bekerja sambil bermain di tempat mereka bekerja karena lingkungan tempat mereka bekerja dengan rumah mereka juga.

2. Kondisi ekonomi khususnya kemiskinan

Pada umunya, keikutsertaan anak-anak dalam dunia kerja, khususnya sebagai penyapu angkutan umum adalah karena masalah ekonomi keluarga yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini karena jumlah pendapatan orangtua yang tidak mencukupi, sehingga anknya harus membantu dengan cara bekerja. Disinilah anak sebagai aset ekonomi berfungsi.Dalam keluarga ekonomi yang kema sering ditandai dengan pendidikan dan keterampilan yang rendah pula, diamana orangtua tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan anggota keluarga, anak ikut membantu dengan bekerja. Keluarga dengan kondisi sosial yang pas-pasan apabila ditanamkan taraf kesadaran yang baik pada anak-anak, maka anak sering memiliki nilai kemandirian yang baik pula, sehingga mereka dengan sadar membantu meringankan beban ekonomi orangtuanya.

3. Masalah tingkat pendidikan

Salah satu trik yang sangat tajam terhadap pendidikan nasional adalah ketidakmampuannya membawa masyarakat untuk keluar dari lingkaran

kemiskinan. Antara pendidikan dan kemiskinan terbentuk “lingkaran setan”

karena miskin orang tidak bisa sekolah dan karena tidak sekolah orang lain keluar dari jembatan kemiskinan.

4. Desintegrasi kemiskinan

5. Perpindahan penduduk dari desa ke kota dan pertumbuhan pusat industri 6. Kondisi keluarga

Kondisi keluarga yang tidak harmonis mengakibatkan terjadinya perceraian, cara pengasuhan yang terlalu keras atau pernikahan dini, mengakibatkan kurang perawatan dan perhatian terhadap anak sehingga sebahagian anak yang merasa ditelantarkan, akibatnya anak mencari kehidupan mereka diluaran.

a. Partisipasi Anak Dalam Kegiatan Ekonomi Keluarga

keluarga dalam arti luas adalah suatu kesatuan kekeluargaan yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling berhubungan melalui perkawinan, hubungan darah, perjanjian atau adopsi, menurut UU. RI No.52 Tahun 2009, Bab 1 Pasal 1 Ayat 8 Ketentuan Umum, bahwa keluarga berencana adalah upaya mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Lebih lanjut (Jane Cary Peck,2007:13-15) menyatakan bahwa fungsi pokok keluarga adalah menciptakan kerukunan, mendidik, membina anak.Anggota keluarga memegang fungsi ekonomi, fungsi reproduksi dan sosialisasi.

1. Fungsi ekonomi: Menunjuk kata peranan apa yang diletakkan orang dalam proses atau pekerjaan pencarian nafkah.

2. Fungsi reproduksi/biologis: Membedakan posisi antara wanita dalam keluarga (perbedaan kondisi fisik).

3. Fungsi Sosialisasi: Merupakan sautu proses mempersiapkan individu untuk menjadi anggota masyarakat yang mampu berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Keluarga merupakan unit sosial terkecil di dalam sekelompok masyarakat, sehingga mengandung pengertian keluarga yaitu lemabaga sosial atau lembaga pranata sosial terkecil dalam susunan masyarakat yang terdiri dari sekelompok manusia (suami, istri, anak) yang hidup bersama berdasarkan ikatan perkawinan, hubungan darah atau adopsi. Apabila di dalam keluarga terdapat pribadi-pribadi sehat jasmani dan rohani akan terciptalah negara yang aman, tentram dan sejahtera, ia juga menyatakan fungsi keluarga disamping wadah ataupun harapan berkembang bagi semua anggota keluarga juga sebagai lingkungan primer yang merubah perkembangan pribadi-pribadi dalam keluarga.

Di dalam keluarga yang orangtuanya tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan anggota keluarga, sehingga anak tersebut ikut serta berpartisipasi membantu bekerja. Berbicara tentang partisipasi anak dalam bekerja, menurut Murbiyanto partisipasi merupakan kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai dengan kemampuan setiap orang tanpa mengorbankan kepentingan sendiri partisipasi berdiri keterlibatan individu dalam perencanaan,

pelaksanaan dan pengawasan dalam suatu kegiatan. Menurut (Nelson I,2006:20), jenis partisipasi ada dua yaitu:

 Partisipasi horizontal yaitu partisipasi sesama warga atau anggota dari suaut perkumpulan.

 Partisipasi verikal yaitu partisipasi yang dilakukan antara bawahan dengan atasan, antara rakyat dengan pemerintah, keikutsertaan anak dalam ekonomi keluraga penting artinya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya (Kusnadi,2010:45).

Dalam keluarga yang kondisi ekonominya masih rendah anak-anak yang sudah maupun belum remaja mempunyai kesadaran uuntuk membantu perekonomian keluarga, partisipasi mereka secara tidak langsung merupakan sumbangan yang besar bagi kehidupan keluarga.

Adapun hal-hal pokok penyebab anak bekerja adalah adanya pengaruh struktur ekonomi tingkatan ekonomi dalam rumah tangga. Keadaan ekonomi orangtua mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarga sehingga anak ikut mencari nafkah. (Rodger & Standing,2007:12) mengatakan anak-anak yang bekerja dibagi menjadi empat dimensi kerja yaitu:

 Kerja atas usaha sendiri versus pihak lain

 Untuk “reproduksi” versus kerja “produksi”  Kerja yang dibayar versus kerja yang tidak dibayar

 Dalam kasus kerja pihak untuk siapa anak bekerja (orangtua, kerabat, pihak lain)

Diseluruh dunia banyak anak yang bekerja pada usia yang relatif muda yaitu pada usia enam dan tujuh tahun, mereka membantu di rumah atau membantu aktifitas orangtuanya di luar. Aktifitas tersebut sering di dukung oleh orang-orang dewasa dalam keluarga, karena hal itu dianggap akan bermanfaat bagi tumbuh kembang anak. Anak-anak akan belajar bertanggung jawab dan merasa bangga dapat mengerjakan tugas-tugas orang dewasa dalam mempertahankan hidup keluarganya.Kenyataannya, pekerjaan yang mereka lakukan sering tidak seusai dengan apa yang diharapkan, karena ternyata pekerjaan yang mereka lakukan justru menghambat tumbuh kembang mereka dan tidak memberikan dampak positif bagi kehidupan mereka.

Sampai saat sekarang ini jumlah pekerja anak belum terdata secara pasti. Pekerja anak tesebar baik di pedesaan maupun di perkotaan, pekerja anak daerah pedesaan lebih banyak melakukan pekerjaan di bidang pertanian, perkebunan, buruh, pertambangan maupun kegiatan ekonomi di lingkungan ekonomi keluarga, sedangkan pekerja anak di daerah perkotaan dapat ditemukan di perusahaan, rumah tangga (sebagai pembantu rumah tangga atau sebagai pekerja industri keluarga), maupun di jalanan seperti penjual koran, penyemir sepatu, penjual makanan, pemulun dan sebagainya. Saat ini hampir setiap perempatan jalan, terminal, pelabuhan, stasiun, bahkan tempat-tempat lokalisasipun banyak ditemukan pekerja anak. Beberapa diantara pekerjaan yang dilakukan anak tertentu dapat dikategorikan sebagai bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak.Walaupun belum ada data yang pasti namun diperkirakan tingginya persentase anak yang bekerja, dijumpai pada

negara-negara dengan tingkat pendapatan perkapita rendah serta distribusi pendapatan yang sangat timpang seperti Indonesia.

Banyak hasil penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang bekerja ternyata beukan untuk memnuhi kebutuhan sendiri, melainkan justru untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga seperti penelitian yang pernah dilakukan Irwanto (2009,23) diperoleh data bahwa kontribusi penghasilan anak dalam membantu pendapatan rumah tangga orangtuanya menunjukkan hampir 94 % dari anak yang bekerja memberikan kontribusi sebesar 20-75 %, pada pendapatan rumah tangga prangtuanya, 16,6%, diantaranya mampu menopang 75% lebih pendapatan orang tuanya.

Bahkan sebuah servei yang pernah dilakukan terhadap pekerja anak, menemukan fakta bahwa lebih dari 25% respon menyatakan mendapat tambahan penghasilan kalau anaknya bekerja, hampir semua orangtua yang disurvei mengemukakan bahwa anak-anak mereka yang bekerja setidaknya menyumbang 20% terhadap total pendapatan keluarga. Studi ysng tergolong baru yang dilakukan pusat studi ketenagakerjaan Universitas Airlangga menemukan akibat tekanan kebutuhan hidup yang makin berat apalagi ditemui anak-anak di dalam usia di bawah 10 tahun atau bahkan baru berusia 6-7 tahun terpaksa bekerja membantu orangtua dalam pekerjaan produktif yang menghasilkan uang.

Secara sederhana partisipasi anak dalam bekerja dapat diartikan sebagai keikutsertaan anak dalam menyumbangkan penghasilan atau pendapatan keluarga yang diperolehnya dari upah kerja, baik secara langsung maupun

tidak langsung. Pengertian ekonomi keluarga secara sederhana adalah seluruh penghasilan yang diterima oleh keluarga baik berupa uang maupun barang. Penghasilan keluarga disini artinya seluruh penerimaan pendapatan yang diterima oleh keluarga ditambah dengan penghasilan anak. Pengjasilan anak disini diperoleh dari upah bekerja dari berbagai jenis pekerjaan.

Selain teori-teori yang dikemukakan di atas, banyak para ilmuan yang tertarik pada gejala anak-anak yang bekerja, misalnya karena budaya masyarakat setempat, karena kemiskinan, pendidikan yang kurang, perubahan yang relatif cepat serta gesekan-gesekan sosial berikut ini beberapa pendapat mengenai faktor-faktor anak terlibat dalam kegiatan ekonomi rumah tangga.

Kondisi masyarkat miskin di kehidupan sosial ialah sperti yang dimana anak-anak dibesarkan tidak mendukung atau membantu terbentuknya watak atau sifat-sifat pribadi yang dapat mendobrak kemiskinan. Hal ini berhubungan dengan beberapa kondisi keluarga miskin bahwa pola sosialisasi dimana seseorang dibimbing khusus untuk mencari pekerjaan yang layak, karena cara-cara mencari nafkah dari keluarga msikin ditandai ketidakpastian dan ketidak mantapan dalam memenuhi kebutuhan sehari-sehari.

Menurut laporan UNICEF (2006), anak-anak sering terdorong untuk bekerja pada bidang kerja yang menggangu tumbuh kembangnya, karena tiga faktor yaitu: eksploitasi yang lahir dari kemiskinan, kurangnya pendidikan yang relevan, serta tradisi dan pola sosial yang menempatkan anak pada posisi yang rentan. Kemiskinan akan mendorong anak-anak masuk bidang pekerjaan yang membahayakan. Orangtua sering sekali menganggur dan dalam usaha

mencari nafkah anak-anak disuruh bekerja, karena mereka lebih mudah di eksploitasi. Situasi ini sebenarnya juga berkaitan dengan struktur pasar kerja, faktor pentin yang mempengaruhi tingkat upah kerja anak, situasi ekonomi yang mempengaruhi kalau lapangan kerja untuk orang dewasa ditutup, karena situasi ekonomi yang tidak kondusif, anak-anak akan segera masuk kerja yang eksploitatif.

Menurut (Irwanto,2009:26) yang mengutip pendapat Talcott menyebutkan banyak anak bekerja karena alasan ekonomi bukan karena budaya. Pernyataan Talcott ini diperkuat lagi di Sumatera Utara yang menunjukkan kesusahan ekonomi merupakan faktor pendorong utama anak bekerja, namun demikian penelitian Irwanto juga menunjukkan faktor pendorong lain anak-anak bekerja yaitu:

a. Wanita sebagai kepala rumah tangga

Hal ini terjadi karena ibu yang bekerja sebagai pencari nafkah utama keluarga. Terjadinya hal tersebut disebabkan karena terjadinya penceraian orangtua, atau suami yang tidak pernah memberikan belanja kepada istri. Maka hal ini akan memicu orang tua untuk menyuruh anaknya bekerja untuk menghasilkan uang, dan tidak mempedulikan apakah pekerjaan si anak tersebut aman atau tidak.

b. Situasi keluarga bermasalah

Situasi keluarga yang bermasalah, kejadian ini biasa disebabkan oleh adanya pertentangan orang tua, orang tua dengan anaknya atau antara anak dengan anak. Biasanya hal yang sering terjadi antara pertentangan oleh

keuda orang tua mereka, lalu lam kelamaan para orang tua tidak peduli lagi dengan anaknya dan kemdian si anak keluar dari rumah dan mencari nafkah sendiri untuk memenui kebutuhan hidupnya sehari-hari.

c. Jumlah anggota keluarga yang besar

Jumlah anggota keluarga yang besar juga menjadi pemicu para orang tua untuk menyuruh anak mereka untuk bekerja, karena dengan orangtuanya saja yang bekerja mungkin tidak cukup memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga maka para orang tua membiarkan para anak-anaknya untuk bekerja agar bisa membantu perekonomian keluarga mereka. Dengan begitu maka anak-anak mereka akan putus sekolah dan lebih memfokuskan diri mencari uang saja dan tidak mempedulikan masa depan mereka bagaiaman kedepannya.

d. Pandangan masyarakat mengenai kesiapan anak untuk bekerja. Hal ini terjadi terutama pada pandangan orang tua meningkatkan dan menentukan kapan seorang anak sudah layak bekerja.

Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor ekonomi merupakan alasan utama seorang anak terpaksa bekerja, tetapi terdapat faktor lainnya yang turut mendorong meningkatnya jumlah pekerja anak anatara lain faktor budaya dan kebiasaan masyarakat setempat yang melatih anak bekerja secara dini, minimnya tingkat pengetahuan, kesadaran dan kepedulian tentang hak-hak anak oleh orangtua dan masyarakat, sehingga keberadaan anak yang dipaksakan bekerja dianggap sesuatu yang taken for granted.Adapun latar belakang yang menyebabkan mereka menjadi pekerja anak, yang pasti dalam

bekerja mereka mempunyai motivasi masing-masing. Motivasi erat kaitannya dengan kebutuhannya, bahkan motivasi timbul karena adanya kebutuhan.

Secara umum, motivasi sering diartikan sebagai faktor yang mendoeong atau menggerakkan seorang untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau tujuan tertentu. Hal ini sejalan dengan pendapat Terry (2010:132) yang mengatakan bahwa motivasi adalah keinginan-keinginan yang terdapat pada diri individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan-tindakan.Hal ini juga dialami oleh pekerja anak, adanya berbagai masalah-masalah yang berkaitan dengan kebutuhan tersebut memunculkan dorongan dalam diri anak untuk memuaskan kebutuhan tersebut. kebutuhan dan dorongan tadi sebenarnya merangsang anak untuk berbuat atau bertingkah laku yaitu dengan bekerja.Dalam menjalankan pekerjaan tersebut, tentunya anak tidak terlepas dari motivasinya. Diamana motivasi anak dalam bekerja dapat di pengaruhi dari dalam keluarga, dari anak itu sendiri maupun dari pihak lain. Beberapa dalam studi mengungkapkan bahwa mereka tentang pekerja anak di Indonesia secara lengkap menyimpulkan sejumlah hal yang kontradiktif yang menjadi dilema anak di Indonesia, khusunya anak-anak yang dilahrikan dalam tekanan kemiskinan.

Pertama: Diakalangan anak-anak dari keluarga miskin, bekerja adalah salah satu cara untuk tetap bersekolah.

Kedua: Globalisasi ide tentang gaya hidup menyebarnya budaya konsumen menyebabkan pentingnya dimulai akses terhadap uang bagi anak.Ketiga:

Kenyataan yang menunjukkan begitu banyak pengangguran di kalangan orangtua menyebabkan anak segera turun kedunia kerja.

Keempat: khususnya anak perempuan, tekanan dari orangtua agar tetap tinggal dirumah untuk melakukan pekerjaan domestik dan tak perlu sekolah atau memasuki pasar tenaga kerja menimbulkan persoalan khusus yang sering kali justru mendorong lahirnya keputusan yang diambil oleh anak perempuan itu sendiri untuk masuk ke pasar tenaga kerja.

Dokumen terkait