• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Bahaya Ergonomi

Dalam dokumen Buku pedoman praktik Dasar K3.pdf (Halaman 23-42)

1. Dasar Teori

Untuk merencanakan tempat kerja dan perlengkapannya (meja, kursi, dan perlengkapan lainnya) diperlukan ukuran-ukuran tubuh yang menjamin sikap tubuh paling alamiah dan memungkinkan dilakukan gerak-gerakan yang dibutuhkan. Dimensi tubuh manusia sangat bervariasi antara satu orang dengan orang lainnya, antara laki-laki dan perempuan dan beberapa suku bangsa.

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 21

1. Tujuan

Beberapa ukuran tubuh yang penting untuk penerapan ergonomi ditempat kerja  Posisi Berdiri

Pada posisi berdiri, ukuran-ukuran tubuh yang paling penting adalah tinggi badan berdiri, tinggi bahu, tinggi siku, tinggi pinggul, depa dan panjang lengan.

 Posisi Duduk

Pada posisi duduk, ukuran-ukuran tubuh yang penting adalah tinggi duduk, panjang lengan atas, panjang lengan bawah dan tangan, jarak lekuk lutut dan garis punggung, serta jarak lekuk lutut dan telapak kaki.

2. Alat

 Alat ukur tinggi  Meteran kain  Pengaris segitiga  Busur

 Lembar pengamatan 3. Cara Kerja

Langkah-langkah dalam melakukan praktikum pengukuran Antropometri adalah sebagai berikut :

 Dengan menggunakan alat-alat yang telah disediakan, ukurlah dimensi-dimensi tubuh manusia.

 Untuk memudahkan pengamatan, gambar antropometri bisa dilihat di lampiran dengan keterangan sebagai berikut :

4. Pedoman Pengukuran A. Tinggi tempat duduk

a) Tinggi tempat duduk

 Tinggi tempat duduk diukur dari lantai sampai pada permukaan atas bagian depat alas duduk.

 Tinggi alas duduk harus sedikit lebih pendek dari panjang lekuk lutut

sampai ke telapak kaki (tinggi belakang lutut sampai telapak kaki).

 Ukuran yang disarankan adalah 38 - 48 cm (tergantung ukuran antropometri pekerja).

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 22

b) Panjang alas duduk

 Diukur dari garis proyeksi permukaan sedepan sandaran duduk permukaan atas alas duduk.

 Harus lebih pendek dari jarak lekuk lutut sampai garis punggung

(jarak dari belakang lutut sampai pantat/tulang ekor).

 Ukuran yang disarankan adalah 36cm. c) Lebar tempat duduk

 Diukur pad garis tengah alas duduk melintang.  Harus lebih besar dari lebar pinggul.

 Ukuran yang disarankan 40-45cm (Australia) d) Sandaran pinggang

 Bagian atas sandaran pinggang tidak melebihi tepi bawah ujung

tulang belikat dan bagan bawahnya setinggi garis pinggul.

 Sandaran pinggang dapat disetel ke atas dan ke bawah dan bergerak

8 - 12 cm di atas alas duduk.

 Dalamnya sadaran pinggang adalah 35-38cm dari ujung depan epan alas duduk

e) Sandaran tangan(bila ada)

 Jarak antara tepi dalam kedua sandaran lebih lebar dari lebar

pinggul dan tidak melebihi lebar bahu.

 Tinggi sandaran tangan adalah setinggi siku (dalam keadaan duduk).  Panjang sandaran tangan adalah sepanjang lengan bawah.

 Ukuran yang di perkenakan adalah:

‡ Jarak antara tepi dalam kedua sandaran tangan adalah 46-48 cm ‡ Tinggi sandaran tangan adalah 20 cm dari alas duduk.

‡ Panjang sandaran tangan adalah 21 cm. f) Sudut alas duduk

 Alas duduk harus sedemikian rupa sehingga memberikan

kemudahan pada pekerjaan untuk melaksanakan pemilihan-pemilihan gerakan dan posisi.

 Alas duduk adalah horisontal.

 Sudut kemiringan yang disarankan adalah 3 - 5 derajat. g) Tinggi meja

 Tinggi meja dan bagian bawah alas meja (kolong) harus melebihi dari

tinggi lutut depan.

 Tinggi meja tidak melebihi tinggi dada dan tidak lebih rendah dari

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 23

B. Komputer

 Lokasi peralatan kontrol dan display harus mudah diraih.

 Pekerjaan harus memiliki kebebasan bergerak atau merubah posisi.  Gerakan yang repetitif ,sering berlebihan dengan rotasi badan atau

pinggang yang ekstrim harus dihindari.

 Posisi layar adalah sedikit di bawah level mata pengguna komputer  Keyboard dan layar terpisah.

 Layar dapat diubah sudutnya.

 Warna huruf /obyek gelap dengan latar belakang bewarna lebih

terang/kontras.

 Jarak mata ke layar sebaiknya sekitar 50 cm - 70 cm.  Jarak mata ke keyboad adalah sekitar 45 cm - 50 cm.

 Apabila sudut antar pinggul dan paha lebih dari 90 maka perlu diberikan penyanggan kaki bagi pekerja.

OSHA (2000) dalam Health & Safety Guidelines For Video Diaplay Terminal in Workplace, juga menetapkan beberapa kriteria ,antara lain

sebagai berikut :

a. Layar display (monitor)

 Karakter (huruf ) tidak boleh berkedip-kedip.

 Tulisan dan simbol-simbol tidak boleh kelihatan pecah atau buyar.  Ukuran karakter harus cukup untuk jarak pandang

(ANSI/HFS-100,1988)

 Pekerja harus dapat mengatur program untuk meningkatkan ukuran karakter sehingga mudah dibaca.

 Layar harus mempunyai pengatur tingkat keterangan (brightness) dan kontras dan operator harus mengetahui cara mengaturnya.  Warna background harus kontras dengan warna karakter.

 Sisi atas layar tepat atau seikit dibawah posisi pandangan operator.  Jarak pandang adalah 16-29 inch.

b. Keyboards

 Harus terlepas dari monitor untuk mendapatkan posisi dan sudut yang dapat diatur sesuai kebutuhan.

 Keyboard harus tipis untuk meminimalkan masalah pada pergelangan tangan (pegal).

 Tuts harus cukup sensitif dan mengeluarkan suara yang tida terlalu keras.

 Permukaan keyboard tumpul.

 Keyboard mempunyai alas pergelangan tangan yang tingginya tidak melebihi tuts baris pertama.

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 24

c. Mouse

 Tinggi mouse sama dengan tinggi keyboard.  Letak mouse adalah di samping keyboard.

 Pada saat meggunakan mouse, lengan harus selalu berada dekat dengan tubuh.

 Lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan usahakan berada pada satu garis lurus,sedikit tinggi di atas mouse.

d. Document holder

 Documen holder harus stabil dan dapat diatur tinggi,jarak dan sudut pandangnya.

 Document holder dapat diletakan disamping layar/monitor atau antara monitor dan keyboard,sehingga meminimalkan gerakan kepala dan leher operator.

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 25

PENGUKURAN ANTROPOMETRI STATIS/DIMENSI TUBUH

Nama : ……… Jenis olahraga yang dilakukan : ………

Umur : ……… Jumlah jam/minggu : ………

Jenis Kelamin : ………

Suku Bangsa : ………

Berat badan : ………..

Tanggal ukur : ………..

ANTROPOMETRI STATIS No Data Yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)

1. Tinggi badan tegak.

(Tinggi tubuh posisi tegak

berdiri yaitu : dari lantai s/d ujung kepala)

tbt

2. Tinggi mata berdiri.

(Eye height, Tinggi mata

dalam posisi berdiri tegak)

tmb

3. Tinggi bahu berdiri tbhb 4. Tinggi siku berdiri tsb 5. Tinggi panggul berdiri ,

Hip height

tpgb

6. Tinggi buku tangan berdiri (Knuckle height, Tinggi

buku tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak)

tbtgb

7. Tinggi kepalan tangan berdiri

(Fingertip height, Tinggi kepalan tangan yang terjulur lepas dalam posisi berdiri tegak)

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 26

ANTROPOMETRI STATIS No Data Yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)

8. Tinggi duduk tegak

(Tinggi tubuh dalam posisi duduk : dukur dari atas tempat duduk/pantat sampai dengan kepala)

tdt

9. Tinggi mata duduk. (Tinggi

mata dalam posisi duduk)

tmd

10. Tinggi bahu duduk . (Tinggi

bahu dalam posisi duduk)

tbd

11. Tinggi siku duduk (Tinggi

siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus)

tsd

12. Tebal paha tp 15. Tinggi lutut berdiri. (Tinggi

lutut yang bisa diukur baik dalam posisi berdiri

ataupun duduk)

tlb

16. Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantai sampai dengan paha

20. Tebal dada berdiri tdb

ANTROPOMETRI STATIS No Data Yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)

13. Pantat ke lutut

(panjang paha yang diukur dari pantat sampai dengan ujung lutut)

pkl

14. panjang paha yang diukur dari pantat sampai dengan bagian belakang dari lutut/betis

pkb

20 Lebar dari dada dalam keadaan membusung

ldbng 21 Tebal perut duduk tpd 26 Panjang kepala Pk

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 27

ANTROPOMETRI STATIS No Data Yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)

17. Lebar lengan llgn

18. Lebar bahu

Lebar dari bahu (bisa diukur dalam posisi berdiri ataupun duduk)

lb

19. Lebar pinggul lp

27 Lebar kepala lk

ANTROPOMETRI STATIS No Data Yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)

22 Tinggi siku sampai dengan bahu

23 Siku ke siku

Panjang siku yang diukur dari siku sampai dengan ujung jari – jari dalam posisi siku tegak lurus

sks

35 Jangkauan tangan ke atas

Tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak, diukur dari pantat sampai dengan telapak tangan yang terjangkau lurus keatas (vertikal tetapi dalam posisi duduk)

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 28

ANTROPOMETRI STATIS No Data Yang Diukur Simbol Hasil Pengukuran (cm)

24 Jangkauan tangan ke depan

Panjang jangkauan tangan diukur dari bahu sampai dengan ujung jari tangan

jtd

25 Panjang jangkauan tangan, diukur dari bahu sampai dengan ujung ibu jari 34 Jangkauan tangan ke atas

Tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak, diukur dari lantai sampai dengan telapak tangan yang terjangkau lurus keatas (vertikal)

jta

36 Panjang jangkauan tangan diukur dari tebal bahu sampai dengan ujung ibu jari

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 29 3.3 Faktor Bahaya Kimia

3.3.1 Pengukuran Kadar Debu Total di Udara Tempat Kerja. 1. Dasar Teori

Analisa bahan kimia dalam udara memerlukan beberapa langkah diantaranya pengukuran kadar debu total di udara tempat kerja secara gravimetri yang meliputi tahap persiapan, pengambilan contoh, penimbangan dan perhitungan kadar debu total.

2. Tujuan

Mengidentifikasi sumber-sumber pencemaran debu di ruang kerja, mengetahui kadar debu di udara ruang kerja, membandingkan kadar debu dengan standar / peraturan perundangan dan membuat rencana pengendalian debu di ruang kerja.

3. Alat

 LVS (Low Volume Sampler) atau HVS (High Volume Sample)  Timbangan Analitik  Oven  Pinset  Desikator  Thermohygrometer 4. Cara Kerja

 Timbang Kertas saring dengan Analitic Balance (timbangan elektrik)

 Keringkan filter dengan menggunakan oven temperature 1000C selama 30 menit, kemudian didinginkan dalam eksikator selama 15 menit.

 Timbang filter kering dengan menggunakan timbangan elektrik dengan teliti (A)

 Masukkan filter kedalam filter holder, rangkaian dengan pompa hisap  Nyalakan pompa dan atur volume udara yang akan dihisap (Flow Rate)

selama 1 jam

 Matikan alat, lepas filter holder dan dengan hati-hati keluarkan filter  Keringkan kembali lakukan seperti sebelum ditimbang

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 30

5. Pengolahan data pengukuran kadar debu

Pengolahan data di dalam pengukuran kadar debu total menggunakan rumus perhitungan sebagai berikut :

Kadar Debu Total = W2 – W1

Q x t Keterangan :

W2 = Berat kertas saring setelah pengukuran W1 = Berat kertas saring sebelum pengukuran t = Lamanya waktu pengukuran yang digunakan Q = Tekanan (daya hisap) pompa yang digunakan Catatan :

1. Lamanya waktu pengukuran yang digunakan berbeda tergantung dari alat ukur yang digunakan, HVS (High Volume Sample) atau LVS (Low Volume Sample). Untuk pengukuran yang menggunakan alat HVS lamanya waktu pengukuran adalah 30 menit, sedangkan

pengukuran yang menggunakan alat LVS lama waktu pengukuran adalah 60 menit.

2. Tekanan (daya hisap) pompa yang digunakan berbeda tergantung dari alat ukur yang digunakan, HVS (High Volume Sample) atau LVS (Low Volume Sample). Untuk pengukuran yang menggunakan alat HVS tekanan yang digunakan dalam satuan m3/menit, sedangkan

pengukuran yang menggunakan alat LVS tekanan yang digunakan dalam satuan liter/menit.

3. Lakukan konversi hasil dari berat kertas saring dari gram (g) menjadi miligram (mg) dan konversikan juga tekanan (daya hisap) alat LVS

dari liter/menit menjadi m3/menit terlebih dahulu, karena satuan

yang dipakai pada NAB adalah mg/m3.

 1 gram = 1000 mg

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 31 RUMUS PERHITUNGAN KADAR DEBU BERDASARKAN SNI 16-7058-2004

(W2 - W1) - (B2 - B1) C = --- (mg/l) V Atau ( W2 - W1 ) - ( B2 - B1 ) C = --- x 103 (mg/m3) V Keterangan :

C = kadar debu total (mg/l) atau (mg/ m3);

W2 = berat filter contoh setelah pengambilan contoh (mg); W1 = berat filter contoh sebelum pengambilan contoh (mg); B2 = berat filter blanko setelah pengambilan contoh (mg); B1 = berat filter blanko sebelum pengambilan contoh (mg);

V = volume udara pada waktu pengambilan contoh (l) atau (m3).

Formulir pengukuran kadar debu total di udara tempat kerja

Nama perusahaan : . . .

Alamat perusahaan : . . .

Jenis perusahaan : . . .

Tanggal pengukuran : . . .

Data pengukuran kadar debu total di udara tempat kerja No Pengukuran Lokasi Nomor Filter Pengukuran Waktu (menit) Flowrate (l/menit) (ºC) SK (%) RH Keterangan

CATATAN Pengukuran suhu dan kelembaban adalah untuk mengetahui kondisi lingkungan saat pengambilan contoh.

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 32 3.4Faktor Bahaya Psikososial

3.4.1 Kelelahan Kerja di tempat kerja 1. Dasar Teori

Kata Kelelahan menunjukkan keadaan yang berbeda-beda, tetapi semuanya berakibat kepada pengurangan kapasitas kerja dan ketahanan tubuh. Terdapat dua jenis kelelahan yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum. Kelelahan otot merupakan tremor pada otot atau perasaan nyeri yang terdapat pada otot.

Kelelahan umum ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja yang

sebabnya adalah persyaratan atau psikis (Suma’mur). 2. Tujuaan

Tujuan ada dua yaitu :

 Kerja otot dinamis, yaitu kerja otot yang rythmis dan berirama, dimana pengerutan dan pengendoran terjadi silih berganti, bekerja sebagai pompa peredaran darah, berjalan sesuai dengan tingkat kontraksi otot.

 Kerja otot statis, yaitu kerja otot yang menetap untuk periode tertentu secara kontinyu, dimana pembuluh darah akan tertekan dan peredaran darah berkurang, sehingga otot tubuh merasa sakit dan mudah lelah. 3. Permeriksaan kelelahan secara subyektif

a). Penilaian secara subyektif (Industrial Fatique Research Committee/IFRC : dari Jepang)

 Kuesioner kelelahan 30 item/daftar pertanyaan  Pertanyaan :

 No Urut 1 s/d 10 = Pertanyaan tentang pelemahan kegiatan  No Urut 11 s/d 20 = Pertanyaan tentang pelemahan motivasi  No Urut 21 s/d 30 = Pertanyaan tentang pelemahan fisik  Cara pengisian

Contoh desain penilaian kelelahan kerja subyektif dengan 4 skala likert,dimana :

Skor – 1 = tidak pernah merasakan Skor – 2 = kadang-kadang merasakan Skor – 3 = sering merasakan

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 33

b). Klasifikasi tingkat kelelahan subyektif berdasarkan total skor individu  Penentuan Interval

C = Xn – Xi K Keterangan:

K(kelas) = 4 (rendah,sedang,tinggi, dan sangat tinggi) Xn = 4 x 30 Xi = 1 x 30 Interval = (4 x 30) – (1 x 30) 4 = 120 – 30 4 = 22 Tingkat

Kelelahan Total Skor Individu Kelelahan Klasifikasi Tindakan Perbaikan

1 30 – 52 Rendah Belum diperlukan tindakan perbaikan

2 53 – 75 Sedang Mungkin diperlukan tindakan kemudian hari 3 76 – 98 Tinggi Diperlukan tindakan segera 4 99 – 120 Sangat Tinggi menyeluruh sesegera mungkin Diperlukan tindakan

Pedoman diatas merupakan pedoman sederhana untuk menentukan klasifikasi kelelahan subyektif

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 34

Nama tenaga kerja Tanggal tes

Bagian Jenis kelamin L/P

Shift kerja Umur Tahun

Masa kerja Bulan/tahun Berat badan Kg

Petugas/paraf Tinggi badan Cm

No Pertanyaan tentang pelemahan Kegiatan, Motivasai, dan Fisik

Skoring 1 2 3 4

1 Perasaan berat di kepala 2 Menjadi Lelah seluruh badan 3 Kaki merasa berat

4 Menguap

5 Merasa kacau pikiran 6 Menjadi mengantuk

7 Merasakan beban pada mata 8 Kaku dan canggung dalam gerakan 9 Tidak seimbang dalam berdiri 10 Mau berbaring

11 Merasa susah berpikir 12 Lelah untuk berbicara 13 Menjadi gugup

14 Tidak dapat berkonsentrasi 15 Sulit memusatkan perhatian 16 Mudah Lupa

17 Kurang Kepercahaya diri 18 Merasa Cemas

19 Sulit mengontrol sikap 20 Tidak tekun dalam kerja

21 Tidak dapat tekun dalam pekerjaan 22 Sakit di kepala 23 Kaku di bahu 24 Nyeri di punggung 25 Sesak napas 26 Haus 27 Suara serak 28 Merasa pening

29 Tremor pada anggota badan 30 Merasa Kurang sehat

Jumlah skor pada kolom 1,2,3,dan 4

Total skor strees individu

Langkah:

1. Hitunglah jumlah skor pada masing-masing kolom(1,2,3 dan 4) dari 30 pernyataan di atas.

2. Kemudian Jumlahkan masing-masing hasil jumlah skor kolom 1,2,3, dan 4. 3. Kemudian hasil penjumlahan tersebut dimasukan kedalam klasifikasi

kelelahan yang ada yaitu termasuk kelelahan rendah,sedang,tinggi dan sangat tinggi(skor terendah 30 dan skor tertingi 120).

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 35

3.4.2 Stress Kerja 1. Dasar Teori

Stress akibat kerja merupakan gangguan fisik dan emosional sebagai akibat ketidak sesuaian antara kapabilitas, sumber daya atau kebutuhan pekerja yang berasal dari lingkungan pekerjaan. Kondisi tersebut dapat memicu terjadinya stress karena beban kerja yang tidak sesuai, buruknya lingkungan sosial, konflik yang terjadi, lingkungan kerja yang berbahaya. Kondisi tempat kerja yang tidak nyaman tersebut menjadi peranan yang penting dalam menyebabkan terjadinya stress kerja. Padahal stress kerja secara langsung dapat mempengaruhi keselamatan dan kesehatan pekerja. Hal ini dikarenakan stress kerja dapat memicu terjadinya gangguan kesehatan bahkan terjadinya kecelakaan kerja. 2. Tujuan

Mengidentifikasi faktor – faktor stress kerja : lingkungan organisasi ( TuntutanTugas, tuntutan Peran, tuntutan sosial, struktur organisasi, Kepemimpinan, dan pengembangan organisasi ), Individu (masalah dalam keluarga,masalah ekonomi keluarga)

Cara cepat untuk mendeteksi stress kerja

Nama tenaga kerja Tanggal tes

Bagian Jenis kelamin L/P

Shift kerja Umur Tahun

Masa kerja Bulan/tahun Pendidikan

Petugas/paraf Jabatan

NO PERTANYAAN YA TIDAK

1 Saya tidak mempunyai waktu untuk melakukan hobi atau kegiatan lain di luar pekerjaan

2 Saya sering membawa pekerjaan ke rumah dan mengerjakannya pada malam hari

3 Saya tidak dapat melakukan pekerjaan atau tugas sebaik biasanya . Kadang-kadang saya merasa penilaian saya kabur dan tidak sebaik biasanya

4 Kelihatannya pada hari kerja saya tidak tersedia cukup waktu untuk mengerjakan semua hal yang harus saya kerjakan

5 Saya sering merasa tidak sabar dengan kecepatan kerja yang ada 6 Kadang-kadang saya sangat enggan pergi kerja

7 Saya coba menyelesaikan tugas banyak dalam waktu yang lebih sedikit. Hal ini kadang-kadang mengakibatkan saya tidak mempunyai waktu lagi untuk mengatasi masalah – masalah yang timbul tak terduga

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 36

NO PERTANYAAN YA TIDAK

8 Nafsu makan saya berubah.Kadang-kadang saya ingin kudapan/ngemil terutama makan yang manis-manis, atau kadang-kadang saya malah kehilangan nafsu makan

9 Saya merasa terlalu banyak tenggang waktu yang harus dipenuhi baik dalam pekerjaan ataupun dalam hidup saya,yang sulit untuk dipenuhi.

10 Kadang – kadang saya merasa marah dan kesal pada sesuatu yang tidak jelas atau merasa bahwa ada sesuatu yang hilang, tetapi saya tidak tahu apa yang hilang itu

11 Rasa percaya diri fan kepuasan diri saya lebih rendah dari biasanya. 12 Saya sering kali mempunyai sedikit perasaan bersalah jika saya

relaks dan tidak mengerjakan sesuatu meskipun dalam waktu sebentar saja

13 Saya sering berfikir tentang masalah pribadi,bisnis atau kehidupan professional saya yang harus saya kerjakan.Masalah-masalah tersebut seringkali mengganggu pikiran saya pada saat saya sedang menikmati aktivitas rekreasi

14 Kadang-kadang saya merasa sangat kelelahan.Saya juga meraskan kelelahan itu disaaat saya bangun tidur

15 Saya mencoba mengajak orang lain untuk cepat-cepat mengerjakan tugasnya. Semua orang kelihataannya bergerak terlalu lamban.

16 Kadang –kadang saya menyela dan menyelesaikan kalimat orang lain

17 Walau saya kelihatan sedang mendengarkan pembicaraan orang lain,tapi sebenernya saya sedang sibuk dengan pikiran saya sendiri 18 Saya mempunyai kecenderungan untuk makan,

berbicara,bergerak,berjalan dan mengerjakan hamper segala sesuatunya dengan cepat

19 Saya merasa sangat sakit dan nyeri, terutama pada leher atau kepala,dada,punggung bawah, bahu dan rahang.(pada wanita: siklus menstruasi seringakali tidak teratur)

20 Saya menja marah dan meradang jika mobil atau lalu lintas didepan saya bergerak terlalu lambat. Saya merasa perustasi jika sedang mengantri.

21 Kadang – kadang saya merasa desfresi, mudah tersinggung,mudah terluka, cepat marah, tegang, ceroboh,daya ingat dan konsentrasi terganggu. Kadang- kadang saya berkeringat berlebihan .

22 Gairah sex yang menurun , atau saya merasa tihdak puas pada kehidupan sexual saya.

23 Saat mengerjakan tugas rutin, saya menjadi tidak sabar.

24 Saya menggertakan gigi saya , terutama jika saya merasa stress atau tidak sabar.

25 Saya mempunyai ketergantungan yang besar pada alcohol,rokok,kopi,atau obat-obatan (baik obat resep atau obat bebas).

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 37

3. Interprestasi hasil tes

a) Nilai 4

Anda tidak dalam keadaan stress akibat kerja dan tidak mudah dan kemungkinan kecil untuk menjadi stress akibat kerja.

b) Nilai 5 – 13

Anda cenderung untuk mendapat stress akibat kerja dan menderita efek negative dan stress kerja. Anda sebaiknya melakukan pengendalian tergadap stress dan mengikuti konseling.

c) Nilai

14

Anda sangat mudah kena stress akibat kerja dan dampak negatifnya. Dan harus secepatnya mengatasi hal tersebut segera konsultasi ke dokter dan mencari konselor yang ahli dalam manajemen stress.

Keterangan :

Bila jawaban responden “ya” bernilai 1 sedangkan jawaban responden “tidak” bernilai 0

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 38

Daftar Pustaka

1. SNI (Standar Nasional Indonesia) 16-7061-2004 Pengukuran Iklim Kerja (panas) dengan parameter Indeks Suhu Basah dan Bola. (ICS 17.200.10 Badan Standar Nasional / BSN)

2. SNI (Standar Nasional Indonesia) 16-7058-2004 Pengukuran kadar debu total di udara tempat kerja. (ICS 17.060 Badan Standar Nasional / BSN)

3. SNI (Standar Nasional Indonesia) 16-7062-2004 Pengukuran intensitas penerangan di tempat kerja (ICS 17.180.20 Badan Standar Nasional / BSN)

4. SNI (Standar Nasional Indonesia) 16-7231-2009 Metode pengukuran intensitas kebisingan di tempat kerja (ICS 13.140 Badan Standar Nasional / BSN)

5. SNI (Standar Nasional Indonesia) 7269-2009 Penilaioan beban kerja berdasarkan tingkat kebutuhan kalori menurut pengeluaran energi (ICS 13.100 Badan Standar Nasional / BSN)

6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia (Permenakertrans) Nomor Per.13.MEN/X/2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia Di Tempat Kerja.

7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes) Nomor : 1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.

8. Sumadi, SKM.,MM, Laboratorium Keselamatan dan Kesehatan KerJa (K3)

9. Kuat Prabowo, SKM.,M.Kes, Mata Kuliah IKL 3901 Hyperkes II , Ergonomi dan Biomekanika .

10. Nurmianto, Eko, 1996, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya Edisi Pertama, Jurusan Teknik Industri ITS, PT. Candimas Metropole, Jakarta.

11. Suma’mur PK, Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, PT Gunung Agung, Jakarta. 12. Rachman A, dkk, Pedoman Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, Depkes RI

Jakarta, 1990

13. Harrington & Gill F.S, Buku Saku Kesehatan Kerja, EGC,2005

14. OSHA (2000), Health & Safety Guidelines For Video Diaplay Terminal in Workplace. 15. National Institute Ocupational Safety and Health (NIOSH) U.S Department of Health,

Education, and welfare Public Health Service.Center for Disease Control, 1977.

16. Subjective Self Rating Test dari Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) Jepang 17. Suicide and Material Health Association International 2004-2006

Buku Pedoman Praktik Dasar-dasar K3 Jurusan Kesehatan Lingkungan 39 FORMAT LAPORAN PRAKTIKUM

1. Judul

 Jenis pengukuran yang dilakukan.

2. Tujuan

 Tujuan dari dilakukannya pengukuran tersebut.

Dalam dokumen Buku pedoman praktik Dasar K3.pdf (Halaman 23-42)

Dokumen terkait