• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4. Faktor Biologis Mangrove

Pada ekosistem mangrove terdapat berbagai macam biota, baik itu infauna maupun epifauna. Pengambilan epifauna yang terdapat pada ekosistem mangrove dilakukan dengan pengamatan dalam transek. Epifauna yang terdapat pada ekosistem mangrove Desa Lubuk Kertang dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Epifauna yang Terdapat di Desa Lubuk Kertang

No Spesies Stasiun I Stasiun II Stasiun III

Organisme yang dijadikan faktor biologis mangrove di Desa Lubuk Kertang adalah epifauna, total spesies epifauna yang ditemukan di habitat

mangrove Desa Lubuk Kertang yang memiliki 6 famili dari 15 spesies yaitu (Achatina fulica), (Cerithidea alata), (Cerithidea cingulata), (Cerithidea obtusa), (Chicoreus capucinus), (Cymatium pileare, (Ellobium aurimisdae), (Ellobium aurisjudae), (Murex tribulus), (Pugilina cochlidium), (Stramonita gradata), (Telescopium telescopium), (Terebralia sulcata), (Ovatella myosoti), (Malampus coffeous).

Pada stasiun I ditemukan 13 spesies yaitu (A. fulica), (C. alata), (C.

cingulata), (C. obtusa), (C. capucinus), (C. capucinus), (E. aurimisdae), (E.

aurisjudae, (M. tribulus), (P. cochlidium), (S. gradata), (T. telescopium), (T.

sulcata), (O. myosoti). Kepadatan tertinggi terdapat pada jenis C. alata dengan nilai 9500 (ind/ha). Sedangkan terendah terdapat pada jenis M. tribulus dengan nilai 200 (ind/ha).

Stasiun II telah ditemukan 15 spesies yaitu(A. fulica), (C. alata), (C.

cingulata), (C. obtusa), (C. capucinus), (C. pileare, (E. aurimisdae), (E.

aurisjudae), (Murex tribulus), (Pugilina cochlidium), (Stramonita gradata), (T.

telescopium), (T. sulcata), (O. myosoti), (M. coffeous). Jenis C. alata merupakan kepadatan tertinggi pada stasiun ini dengan nilai 5800 (ind/ha) dan jenis terendah yaitu (E. aurisjudae) dan (M. tribulus) dengan nilai 100 (ind/ha).

Kepadatan epifauna yang terdapat pada stasiun III ada 13 spesies yaitu (A.

fulica), (C. alata), (C. cingulata), (C. obtusa), (C. capucinus), (E. aurimisdae), (P.

cochlidium), (S. gradata), (T. telescopium), (T. sulcata), (O. myosoti), (M.

coffeous). Kepadatan tertinggi terdapat pada jenis C. alata yaitu 4000 (ind/ha) dan terendah terdapat pada jenis A. fulica dengan nilai 600 (ind/ha). Kepadatan epifauna dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Kepadatan Epifauna di Desa Lubuk Kertang

No Spesies Kepadatan Epifauna (ind/ha)

Stasiun I Stasiun II StasiunIII

Indeks Keanekaragaman (H') dan Indeks Keseragaman (E')

Indeks Keanekaragaman epifauna pada setiap stasiun termasuk dalam kategori keanekaragaman sedang. Sedangkan indeks keseragaman setiap stasiun tergolong tinggi. Indek keanekaragaman dan Indeks keseragaman dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Indeks Keanekaragaman dan Indeks Keseragaman Jenis Epifauna

Indeks Indeks

Keanekaragaman Keseragaman

Stasiun I 1,94 0,75

Stasiun II 2,20 0,81

Stasiun III 2,38 0,93

Pola Sebaran

Pola penyebaran epifauna yang terdapat di Desa Lubuk Kertang berdasarkan indeks Morisita pola penyebaran yang ditemukan dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Sebaran Epifauna di Desa Lubuk Kertang

No. Spesies Id

Tipologi Mangrove Desa Lubuk Kertang

Vegetasi mangrove di Desa Lubuk Kertang terdiri dari bakau (Rhizophora stylosa, Brugueira sexangula, dan Rhizophora apiculata), Api-api (Avicennia alba, Avicennia marina, Avicennia lanata) dan tumbuhan mangrove lainnya (Sonneratia alba, Syphiphora hydrophylaceae, Acanthus ilicifolius dan Excoecaria agalloca. Kerapatan tertinggi pada kategori pohon dan semai terdapat pada stasiun I yaitu A. Alba, karena pada stasiun I merupakan daerah yang terhubung langsung laut sehingga memiliki salinitas tertinggi. Sedangkan yang terendah pada stasiun III terdapat jenis yang sama yaitu A. alba, hal ini dipengaruhi oleh muara sungai yang terdapat pada stasiun III tersebut sehingga salinitas yang lebih rendah dari stasiun I . Avicennia merupakan genus yang

memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan genus lainnya (Puspayanti dkk., 2013).

Kerapatan tertinggi pada kategori pancang terdapat pada stasiun I yaitu Avicennia Alba (2000 ind/ha), sedangkan yang terendah pada stasiun II yaitu Acanthus illicifolius (266,66 ind/ha). A. illicifolius lebih memilih daerah dengan masukan air tawar yang tinggi dan jarang terendam air pasang , tersebar luas, umum dan daerah berlumpur ditepi sungai (Irawanto dkk., 2015). Dimana hal ini diduga karena pada stasiun ini pasokan air tawar tidak setinggi stasiun III dan pada saat pasang akan terendam, memiliki salinitas 25 dan memiliki tipe substrat berupa lempung liat berpasir.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pada kategori pohon setiap stasiun kerapatan tertinggi dimiliki jenis A. alba yaitu 9116,66 ind/ha karena A. alba lebih banyak tumbuh pada daerah dekat dengan laut atau paling depan.

Seperti yang dinyatakan Laremba (2014) bahwa A. alba dapat tumbuh dengan baik karena tempat tumbuh mangrove jenis A. alba adalah pada daerah yang dekat dengan laut. Stasiun II tidak ditemukan Avicennia marina pada tahap pohon karena pada stasiun tersebut terjadi penebangan pada tahap pohon oleh warga setempat yang dimanfaatkan sebagai bahan kayu bakar. Petra dkk (2012) untuk tegakan tingkat pohon, sedikitnya jumlah tegakan yang ditemukan disebabkan oleh berbagai faktor seperti penebangan oleh warga dimanfaatkan oleh warga setempat.

Frekuensi

Frekuensi pada stasiun I Rhizophora sp dan Avicennia sp memiliki nilai tertinggi pada kategori semai, pancang, dan pohon. Kedua jenis mangrove ini tergolong toleran terhadap kadar garam yang tinggi yang terdapat pada stasiun I yang berhubungan langsung dengan laut. Hal ini sesuai dengan Trialfhianty (2014) yang menyatakan bahwa Avicennia sp bertoleransi tinggi pada salinitas sehingga memungkinkannya untuk hidup di zona mana saja. Sedangkan Rhizophora sp ditemukan juga di semua stasiun karena spesies ini juga toleran dengan salinitas.

Pada stasiun II jenis Rhizophora apiculata dan Rhizophora stylosa ditemukan pada setiap plot pengamatan dengan nilai frekuensi tertinggi pada kategori semai, pancang, dan pohon. Hal ini diduga karena jenis ini mampu beradaptasi dengan baik pada habitatnya dan juga karena adanya penyebaran bibit secara alami. Hal ini sesuai dengan Kapludin (2012) yang menyatakan bahwa penyebaran bibit Rhizophora sp. biasanya terbawa oleh arus air.

Banyaknya sebaran mangrove jenis R. stylosa yang berarti habitat tersebut cocok untuk perkembangan dan pertumbuhannya.

Jenis R. apiculata dan Sonneratia alba pada stasiun III memiliki nilai frekuensi tertinggi pada tingkat semai, pancang dan pohon yaitu dengan nilai frekuensi 1 dimana jenis ini ditemukan pada seluruh plot pengamatan.

Kedua jenis mangrove ini memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan. Hal ini sesuai dengan Yuningsih, dkk., (2013), yang menyatakan bahwa jenis yang memiliki frekuensi tinggi merupakan kategori jenis yang memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan.

Dominansi

Menurut Umami (2016) bahwa semakin banyak Jumlah pohon jumlah pohon yang ditemukan dan semakin besar diameter batang pohon maka semakin besar pula dominansi atau penutupan mangrove. Pada stiap stasiun menunjukan bahwa jenis mangrove Bruguiera sexangula yang memiliki jenis tertinggi terdapat pada stasiun III yaitu 18 %. Hal dapat diketahui dari pengamatan bahwa B. sexangula besarnya diameter batang pohon tersebut sehingga dominansinya lebih tinggi.

Indek Nilai Penting (INP)

Mangrove jenis Avicennia alba memiliki indeks nilai penting tertinggi sebesar 57,22% untuk kategori semai, pancang dan pohon pada stasiun I. Pada stasiun II, mangrove jenis Rhizophora apiculata memiliki indeks nilai penting tertinggi untuk kategori semai, pancang, dan pohon sebesar 69,64%. Jenis Sonneratia alba pada stasiun III memiliki indeks nilai penting tertinggi sebesar 78,28% untuk kategori semai, pancang, dan pohon. Perbedaan nilai INP setiap jenis mangrove tergantung pada lingkungannya. Besarnya nilai INP ditentukan oleh kerapatan, frekuensi, dan dominansi mangrove serta daya dukung lingkungan kawasan tersebut. Hal Ini sesuai dengan Parmadi, dkk (2016) yang menyatakan bahwa tingginya Indeks Nilai Penting ini tidak terlepas dari daya dukung lingkungan di lokasi penelitian, dimana pada lokasi penelitian jenis substrat adalah lumpur berpasir dan jenis substrat ini menyebar hampir di seluruh stasiun penelitian.

Indeks Keanekaragaman dan Indeks Keseragaman

Setiap stasiun diperoleh nilai Indeks keanekaragaman (H’) berkisar antara 1,21-1,89 yang tergolong sedang. Akan tetapi nilai tertinggi pada kategori pohon yaitu pada stasiun I yaitu 1,89, pada kategori pancang terdapat pada stasiun I yaitu 1,84 dan pada kategori semai terdapat pada stasiun I juga yaitu 1,54. Dari hasil pengamatan keanekaragamn tergolong sedang karena kondisi lingkungan pada stasiun ini masih tergolong baik dilihat dari suhu, DO, maupun salinitas. Suwardi dkk (2014) berpendapat bahwa ekosistem mangrove tersebut memiliki kondisi yang cukup seimbang dan kondisi perairan masih stabil.

Pada hasil pengukuran diketahui bahwa indeks keseragaman paling tinggi pada kategori pohon terdapat pada stasiun I yaitu 0,97 (keseragaman tinggi), pada kategori pancang juga terdapat pada stasiun I yaitu 0,94 (Keseragaman tinggi) dan kategori semai pada stasiun I yaitu 0,95 (keseragaman tinggi). Apabila keseragaman tinggi berarti kemerataan jenisnya besar dan tidak ada jenis yang mendominasi. Perhitungan indeks keseragaman dilakukan untuk mengatahui seberapa besar kemerataan dari spesies mangrove dan seberapa besar mendominasi suatu wilayah (Prasetio dkk., 2014).

Kondisi Lingkungan Mangrove di Desa Lubuk Kertang

Pada Tabel 6, menunjukkan hasil pengukuran karakteristik fisika dan kimia perairan mangrove di Desa Lubuk kertang masih dalam keadaan normal.

Suhu setiap stasiun masih batasan toleransi terhadap pertumbuhan mangrove dan kehidupan biota karena tidak melebihi baku mutu air laut yaitu 28-30 oC. Ulqodry

dkk (2010),Suhu ini masih dalam batasan toleransi kehidupan mangrove. Suhu yang baik untuk mangrove tidak kurang dari 20 oC, serta penyebaran organisme banyak dipengaruhi oleh suhu air.

Menurut Bonita (2016), vegetasi mangrove dapat tumbuh subur di lokasi dengan kisaran salinitas 10-30%o, sedangkan setiap jenis biota perairan mempunyai ambang batas toleransi yang berbeda-beda terhadap salinitas.

Salinitas yang diperoleh dari pengamatan setiap stasiun berbeda-beda yaitu pada stasiun I 26 ppt, stasiun II yakni 25 ppt dan pada stasiun III 22 ppt. Pertumbuhan mangrove masih sesuai dengan kadar salinitas tersebut untuk mendukung pertumbuhan mangrove maupun pertumbuhan epifauna pada lingkungan mangrove tersebut.

Berdasarkan pengamatan dilapangan diperoleh nilai pH pada stasiun I yaitu 6,5, pada stasiun II yaitu 6,6 dan pada stasiun III yaitu 6,8. Pada lokasi tersebut masih tergolong produktif dan masih cocok untuk pertumbuhan mangrove. Mardi (2014) yang menyatakan bahwa pH 6,5-7,5 termasuk perairan yang produktif yang sangat cocok untuk pertumbuhan mangrove.

Hasil analisis tekstur substrat menunjukkan bahwa pada setiap stasiun memiliki komposisi fraksi debu, liat dan pasir yang jauh berbeda. Ketiga stasiun memiliki fraksi yang relative sama yaitu di stasiun I pasir sebesar 55 %, debu 19

% dan liat 26 %, pada stasiun II pasir sebesar 63 %, debu 13 % dan liat 24 %, stasiun III pasir sebesar 55 %, debu 23 % dan liat 22 %. Menurut Darmadi dkk (2012) bahwa karakteristik substrat diketahui juga menentukan kehidupan komunitas mangrove.

Adapun hasil pengukuran c-organik substrat berbeda setiap stasiun yaitu 1,89 ,4,15 dan 7,43 disebabkan adanya perbedaan struktur vegetasi mangrove dan sirkulasi air. Pada stasiun III memiliki kandungan C-oragnik lebih tinggi karena daerah ini merupakan daerah muara sehingga sirkulasi air lebih tinggi. Hal ini sesuai literatur menururt Jesus (2010) bahwa kandungan C-organik pada ketiga stasiun pengamatan ini disebabkan oleh adanya perbedaan struktur komunitas vegetasi mangrove di ketiga stasiun pengamatan.

Pengamatan DO dilapangan diperoleh nilai pada stasiun I yaitu 6,34 mg/l, stasiun II 6,26 mg/l dan stasiun III 6,28 mg/l. DO yang diperoleh pada setiap stasiun masih dalam keadaan normal dan masih sesuai dengan kehidupan biota laut. Menurut Kepmen LH No.51 Tahun 2004, bahwa nilai DO untuk biota laut sekitar >5. Pada setiap stasiun nilai DO untuk daerah mangrove masih dalam keadaan normal. Marpaung (2013) menyatakan bahwa pada daerah mangrove nilai DO berkisar antara 5,28-6,40 mg/l.

Parameter biologi yang diamati pada penelitian ini adalah komunitas epifauna. Epifauna yang ditemukan pada permukaan substrat, karena pada ekosistem mangrove epifauna memanfaatkannya sebagai habitat hidup, mencari makan maupun tempat memijah. Ekosistem hutan mangrove dapat menyediakan habitat yang baik bagi berbagai fauna yaitu dengan adanya naungan, substrat dasar yang lembab, pohon sebagai tempat menempel dan yang terpenting yaitu kelimpahan detritus organic sebagai makanan . Fauna yang hidup di atas permukaan tanah (epifauna) (Rangan,2010)

Organisme yang dijadikan faktor biologis mangrove di Desa Lubuk Kertang adalah epifauna, total spesies epifauna yang ditemukan di habitat

mangrove Desa Lubuk Kertang yang memiliki 6 famili dari 15 spesies yaitu familli Achatinidae (Achatina fulica), Potamididae (Cerithidea alata, Cerithidea cingulata, Cerithidea obtusa, Telescopium telescopium, Terebralia sulcata), Muricidae (Chicoreus capucinus, (Murex tribulus, Stramonita gradata), Rannelidae (Cymatium pileare), Ellobidae (Ellobium aurimisdae, Ellobium aurisjudae, Ovatella myosotis, Malampus coffeous), Melongenidae (Pugilina cochlidium). Pada setiap stasiun yang paling banyak ditemukan adalah dari famili Potamididae yaitu sebanyak 5 spesies, hal ini diduga karena pada famili tersebut menyukai substrat berlumpur dan jenis yang ditemukan organisme penghuni asli pada daerah mangrove. (Rangan,2010) mengemukakan bahwa potamididae merupakan penghuni asli hutan mangrove dan hidup di daerah yang menyukai areal berlumpur.

Berdasarkan indeks morisita, pola sebaran epifauna yang terdapat pada kawasan mangrove Desa Lubuk Kertang umumnya adalah mengelompok. Hal ini diduga karena adanya persaingan terhadap habitat sehingga setiap spesies harus mengelompok. Dengan mengelompok biota akan lebih mudah dalam mencari makan. Abbas dkk (2015), berpendapat bahwa terjadinya persaingan individu sehingga mendorong pembagian ruang secara mengelompk.

Berdasarkan perhitungan kepadatan epifauna yang ditemukan bahwa setiap stasiun jenis C. alata memiliki kepadatan tertinggi. Hal ini diduga karena jenis C. alata merupakan penghuni asli mangrove dan jenis ini termasuk jenis predator. Nurrudin dkk (2015), menyatakan bahwa yang tergolong asli mangrove adalah C. alata merupakan pemakan serasah mangrove dan yang tergolong

predator. Kepadatan terendah terdapat pada jenis M. tribulus pada banyak dimangsa oleh predator.

Menurut Fitriana (2006) berpendapat bahwa semua jenis sampel yang ada memiliki jumlah jenis organisme yang sama. Indeks keanekaragaman termasuk dalam kategori sedeng (1<H’<3,32). Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi ekosistem seimbang. Indeks Keanekaragaman epifauna pada setiap stasiun termasuk dalam kategori keanekaragaman sedang. Sedangkan indeks keseragaman setiap stasiun tergolong tinggi. Pada stasiun I H’ yaitu 1,94 dan E yaitu 0,74, pada stasiun II H’ yaitu 2,20 dan E yaitu 0,81, sedangkan pada stasiun III yaitu H’ yaitu 2,38 dan E’ yaitu 0,93. Indeks keanekaragaman sedang, diduga karena ekosistem mangrove di Desa Lubuk Kertang masih seimbang. Indeks keseragaman tinggi karena pada setiap stasiun jenis epifaunanya sama.

Keterkaitan Faktor Lingkungan dengan Tipologi Mangrove

Keterkaitan faktor lingkungan dengan tipologi mangrove di Desa Lubuk Kertang diuraikan secara deskriptif yaitu Kerapatan total vegetasi mangrove pada tahap pohon menunjukkan bahwa pada stasiun I memiliki kerapatan tertingi, lalu stasiun II dan terakhir stasiun III. Pada stasiun I memiliki parameter yang sesuai kehidupan mangrove dan biota yang hidup distasiun ini memliki kepadatan yang tinggi, sehingga kerapatan tertinggi terdapat pada jenis Avicennia, jenis Avicennia memiliki kerapatan tertinggi daripada jenis lain seperti Rhizophora diduga karena habitatnya berada paling depan dan tolesi terhadap salinitas tinggi karena stasiun I merupakan daerah paling dekat dengan laut sehingga salinitasnya tinggi. Fadli dkk (2015) menyatakan bahwa jenis-jenis Avicennia sp. umumnya ditemui hidup

di daerah pesisir dengan salinitas air laut yang tinggi. Pada stasiun I yang paling dominan ditumbuhi oleh jenis Avicennia dipengaruhi oleh jenis substrat juga karena tekstur substra pada stasiun ini lempung liat berpasir. Menurut selain salinitas, substrat juga mendukung bagi Avicennia sp. tumbuh pada lokasi ini dimana substratnya lumpur berpasir (Kamalia dkk., 2013).

Pada stasiun I, II dan III indeks nilai penting tertinggi terdapat pada kategori pohon, karena frekuensi tertinggi juga terdapat pada kategori pohon.

Semakin besar diameter batangnya semakin besar pula nilai INP. Pada ketiga stasiun terdapat keanekaragaman epifauna dan kepadatan epifauna yang tinggi, yang memanfaatkn tumbuhan tersebut untuk memijah, mencari makan dan tempat memijah karena semakin besar nilai INP maka semakin tinggi sumberdaya yang dapat dimanfaatkan epifauna pada mangrove, jadi apabila kepadatan epifauna tinggi pada stasiun tersebut maka tinggi pula tumbuhan mangrove tahap pohon.

Hal ini sesuai literatur Osmar (2016) menyatakan bahwa semakin besar nilai indeks nilai penting suatu jenis memberikan gambaran bahwa semakin besarnya sumberdaya lingkungan yang dimanfaatkan jenis tersebut dalam pertumbuhannya.

Dokumen terkait