• Tidak ada hasil yang ditemukan

Setelah dilakukannya pengamatan lewat wawancara yang telah berlangsung, maka dapat disimpulkan beberapa alasan dari kelima fotografer dan seorang klien yang menjadi informan faktor-faktor yang menyebabkan disepakatinya “harga kawan”. Secara umum, alasan para fotografer menyepakati negosiasi “harga kawan” karena adalah karena suatu hal yang wajar, kedekatan dengan klien, menjaga citra baik, mengharapkan repeat order, dan promosi gratis. Sedangkan klien menganggap faktor kedekatan antara ia dengan fotografer yang membuat ia mengajukan negosiasi “harga kawan”

Fotografer yang masih merintis usaha mereka di fotografi memanfaatkan harga kawan sebagai sarana mereka untuk mulai mencari nama di Kota Medan. Mereka justru menawarkan diri dan jasa mereka untuk digunakan oleh teman-teman mereka, dengan harapan mereka mendapat promosi gratis untuk menambah klien ke depannya. Seperti yang dilakukan Informan Ihsan, seperti yang penuturannya berikut ini:

“Menambah klien next ke depan di otak minim gitu, jadi ngga penting duit

lebih mentingin nambah relasi karena setengah dari job kami, kebanyakan dari yang kek gitu. Yaa ngambil untung sikit yang penting nambah relasi. Karena namanya masih merintis kali. Kalo di kami, malah kami yang nawari karena kawan kan, jadi ya dia minta harga kawan kan ya langsung aja, misalnya untuk cetak kena delapan ratus ribu yaudah kami bilang aja sejuta, seratus seratus untung kami

bedua, tapi dia suruh promosiin kitalah. Kalo “harga kawan” tergantung klien

minta cetakan berapa baru bisa kita kasih harga, karena dicetakan ngga mungkin

kita yang nanggung”

Meskipun begitu, tidak semua klien yang menggunakan kata kunci negosiasi “harga kawan” langsung mendapat potongan harga yang sama. Jika klien tersebut merupakan teman dekat atau sahabat mereka rela tidak dibayar, karena faktor teman dekat, seperti informan Lana, Tama dan Irfan. Lana berpendapat bahwa menggratiskan jasanya kepada teman dekatnya sebagai salah satu cara memberikan hadiah agar temannya selalu ingat kepadanya, sekali seumur hidup. Tama percaya hal tersebut adalah “investasi akhirat”, ia juga percaya rezeki yang ia bagi karena menggratiskan jasanya kepada sahabatnya, akan ia dapatkan dari klien yang lain, mungkin klien yang lain tidak mengajukan negosiasi, atau negosiasinya tidak terlalu menjatuhkan harga. Sedangkan Irfan memiliki alasan karena ia juga pernah menggunakan jasa “harga kawan” dan karena yang meminta adalah teman dekat yang sudah sering saling membantu. Sedangkan informan Andru tetap menetapkan harga untuk negosaisi “harga kawan”, termasuk kepada teman dekat mereka. Informan Andru lebih tegas, sekalipun teman jika mengajukan negosiasi apalagi negosiasi “harga kawan” ia merasa mereka bukan teman, karena teman harusnya yang menghargai kerjanya. Menurutnya negosiasi itu wajar, akan tetapi seberapa besar harga negosiasi tersebut, jika ia merasa harganya terlalu rendah ia akan merekomendasikan fotografer lain kepada klien tersebut.

Veri dan Amalia sebagai klien yangmenikmati hasil negosiasi “harga kawan” merasa karena ia memiliki teman dekat fotografer maka wajar ia mengajukan negosiasi “harga kawan”. Ia justru tidak menyangka teman yang ia ajukan negosiasi kepada mereka justru memberikan jasanya secara cuma-cuma. Selain bersyukur ia jadi memiliki tanggung jawab untuk membalas kebaikan temannya tersebut, akan tetapi bukan dianggapnya sebagai beban, akan tetapi bentuk rasa terima kasihnya kepada teman dekatnya tersebut, jika mereka nanti akan menikah, ia juga akan memberikan apa yang bisa ia berikan seperti teman-temannya tersebut. Amalia merasa negosiasi “harga kawan” meskipun sedikit merugikan fotografer karena ia tidak mendapatkan keuntungan yang banyak, akan tetapi demi menjaga hubungan dengan teman memberikan “harga kawan” bukanlah sesuatu yang buruk karena

dengan begitu temannya sebagai klien pun akan memberikan promosi yang gratis kepada fotografer tersebut

Secara umum, kelima informan sebagai fotografer selektif memilih klien yang diberikan potongan negosiasi “harga kawan”. Perbedaan kedekatan hubungan menjadi alasan utamanya. Tidak akan sama harga sahabat ketika mengajukan negosiasi, dengan teman lain yang tidak terlalu dekat, apalagi orang awam yang mengajukan negosiasi.

No Informan Faktor

1 Muhammad Ihsan

- suatu hal yang wajar,

- kedekatan hubungan dengan klien - masih merintis usaha fotografi, - mengharapkan promosi gratis, - menambah klien,

- menambah relasi.

2 Lana Priatna

- suatu hal yang wajar,

- kedekatan hubungan dengan klien,

- memberikan yang terbaik kepada teman dekatnya - tergantung harga,

- tidak ingin harga jasanya jatuh, tak jarang ia menggratiskan jasanya

3 Andru Kosti

- suatu hal yang wajar, - tergantung harga,

- ingin mendapatkanportofolio

4 Nurhadi Pratama

- suatu hal yang wajar, - investasi akhirat,

- kedekatan hubungan dengan klien,

- memiliki prinsip karena bisnis tidak selalu komersil terkadang harus memberi,

- percaya akan mendapat “ganti” klien yang lain

5 Irfan Maulana

- suatu hal yang wajar,

- kedekatan hubungan dengan klien,

- menjaga citra baik,

- mengharapkanrepeat order

6 Veri Ardian - merasa memiliki kedekatan hubungan dengan fotografer

7 Amalia Husna - merasa memiliki kedekatan hubungan dengan fotografer

Tabel 4.1.5 Faktor Disepakati Negosiasi “Harga Kawan”

4.2 Pembahasan

Berdasarkan analisis hasil wawancara dan pengamatan peneliti dari informan pertama hingga informan keenam, maka peneliti membuat pembahasan sesuai dengan tujuan penelitian sebagai berikut:

Fotorgrafer profesional adalah fotografer yang ahli dalam bidangnya. Mereka mengerti bagaimana mengoperasikan kamera, mengatur pencahayaan, menghasilkan foto yang bagus dengan kualitas yang bagus pula, yang tidak kalah penting mampu menunjukkan cara berkomuikasi yang baik dengan masyarakat terutama dengan klien.

Tujuan utama dari interaksi menurut teori interaksionisme simbolik adalah untuk menciptakan makna yang sama. Hal ini penting karena tanpa makna yang sama berkomunikasi akan menjadi sulit, atau bahkan tidak mungkin. Sehingga kesamaan makna menimbulkan kesepakatan dalam bernegosiasi.

Sebuah negosiasi hanya bisa berlangsung apabila masing-masing pelaku mampu menempatkan dirinya di tempat orang lain. Si fotografer yang dapat menempatkan diri menjadi seorang klien yang membutuhkan jasa maka akan membuka peluang untuk negosiasi. Si negosiator pun dalam hal ini klien, harus mampu menempatkan diri menjadi fotografer yang membutuhkan bayaran dari jasa yang ditawarkannya.

Mead mendeskripsikan, proses “pengambilan peran” menduduki tempat penting. Interaksi berarti bahwa para peserta masing-masing memindahkan diri mereka secara mental ke dalam posisi orang lain. Dengan berbuat demikian, mereka mencoba mencari arti maksud yang oleh pihak lain diberikan kepada aksinya,

sehingga komunikasi dan interaksi dimungkinkan. Jadi, interaksi tidak hanya berlangsung melalui gerak-gerak saja, melainkan terutama melalui simbol-simbol yang perlu dipahami dan dimengerti maknanya. (Sobur, 2009:195)

Pemikiran Blumer memiliki pengaruh cukup luas dalam berbagai riset sosiologi. Bahkan Blumer berhasil mengembangkan teori interaksionalisme simbolik sampai pada tingkat metode yang cukup rinci. Teori interaksionalisme simbolis yang dimaksud Blumer bertumpu pada premis utama (Suprapto, dalam Sobur, 2009: 199):

1. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna-makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka.

2. Makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan dengan orang lain.

3. Makna-makna tersebut disempurnakan di saat proses interaksi sosial sedang berlangsung.

(Poloma, dalam Sobur, 2009: 199) mencatat, perspektif interaksionalisme simbolik yang dikemukakan Blumer setidaknya mengandung beberapa ide dasar sebagai berikut:

1. Masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi. Kegiatan tersebut saling bersesuaian melalui tindakan bersama, membentuk struktur sosial.

2. Interaksi terdiri dari berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan kegiatan manusia lain. Interaksi nonsimbolik mencakup stimulus respon, sedangkan interaksi simbolik mencakup penafsiran tindakan.

3. Objek-objek tidak mempunyai makna yang intrinsik. Makna lebih merupakan produk interaksi simbolik. Objek-objek tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, (a) objek fisik; (b) objek sosial; (c) objek abstrak. 4. Manusia tidak hanya mengenal objek eksternal, mereka juga dapat melihat

dirinya sebagai objek.

5. Tindakan manusia adalah tindakan interpretatif yang dibuat manusia itu sendiri.

6. Tindakan tersebut saling dikaitkan dan disesuaikan oleh anggota-anggota kelompok. Ini merupakan “tindakan bersama”. Sebagian besar “tindakan

bersama” tersebut dilakukan secara berulang-ulang, namun dalam kondisi yang stabil. Dan di saat lain ia bisa melahirkan suatu kebudayaan.

Penjelasan mengenai ide-ide dasar tersebut, bahwa manusia bertindak berdasarkan makna-makna, sementara makna tersebut adalah hasil proses dari interaksi manusia dengan manusia lain. Berbagai makna dipelajari melalui interaksi di antara orang-orang. Makna muncul dari adanya pertukaran simbol-simbol dalam kelompok-kelompok sosial. Seluruh struktur dan institusi sosial diciptakan dari adanya interaksi di antara orang-orang. Tingkah laku seseorang tidak mutlak ditentukan oleh kejadian-kejadian pada masa lampau saja, namun juga ditentukan secara sengaja.

Interaksi fotografer dalam negosiasi “harga kawan” dengan klien dapat menghasilkan makna-makna yang berbeda. Informan Lana menilai bahwa negosiasi “harga kawan” malah membunuh diri klien dihadapan fotografer, Informan Lana merasa jika saja klien tidak mengajukan negosiasi “harga kawan” maka kemungkinan untuk mendapatkan harga lebih murah terbuka lebar karena proses negosiasi bisa lebih panjang. Lain halnya dengan Informan Irfan yang menghindari negosiasi “harga kawan” yang bertele-tele, sehingga untuk mensiasati hal tersebut ia akan mempelajari apa yang dibutuhkan klien dan men-set harga seolah-olah klien mendapat penawaran spesial dari harga normal. Informan Tama malah akan melihat latar belakang klien yang mengajukan negosiasi “harga kawan”, ia akan melihat dimana ia mengadakan pesta, bagaimana pekerjaannya, bagaimana keuangannya, dan bagaimana perjuangan klien tersebut untuk sampai bisa menggunakan jasanya, jika menurut ia pantas untuk diberi harga yang agak tinggi maka ia akan memberinya, jika ternyata klien memang tidak memiliki dana yang cukup maka ia memberi harga yang lebih murah, terkadang ada juga klien yang mengadukan langsung nasib keuangannya namun ingin menggunakan jasa Tama, jika sudah seperti itu, Tama akan menerima berapapun yang bisa klien tersebut berikan.

(Mead, dalam Sobur, 2009: 204) menjelaskan kita melaksanakan serangkaian hubungan yang berbeda-beda dengan orang-orang yang berlainan. Kita meruapakan sesuatu bagi seseorang dan sesuatu yang lain lagi bagi orang lain. Dalam kaitannya dengan orang-orang yang kita kenal, kita membagi diri kita ke dalam bermacam-

macam diri. Kita dapati bermacam-macam diri yang memberikan tanggapan terhadap beraneka ragam reaksi sosial. Informan Ihsan, Tama, Irfan, dan Lana tidak menyamaratakan setiap orang dengan kata kunci negosiasi “harga kawan” maka mendapat potongan harga yang sama. Terhadap sahabat yang melakukan negosiasi, mereka siap menurunkan harga dan mengambil keuntungan sangat sedikit, bahkan rela tidak dibayar karena merasa hubungan mereka sudah sangat dekat. Sedangkan bagi mereka teman yang mereka kenal diluar lingkaran sahabat tetap akan mendapat potongan harga tetapi tidak akan sama dengan potongan yang didapat seperti dengan sahabat. Terkadang, ada klien yang merasa mereka adalah teman dari Ihsan, Tama, atau Irfan, akan tetapi Ihsan, Tama, maupun Irfan tidak merasa bahwa mereka berteman, dalam kasus ini klien tidak mungkin ditolak karena akan meninggalkan kesan buruk bagi mereka bertiga, cara terbaik menurut mereka adalah dengan mengurangi harga dari paket mereka, seperti harga orang biasa menawar, dan menyakinkan klien bahwa harga tersebut sudah “harga kawan”.

Trik khusus dilakukan informan Lana kepada klien yang tidak terlalu dekat dengannya namun mengajukan negosiasi “harga kawan”. Dimana ia telah memiliki pandangan bahwa klien yang mengajukan negosiasi “harga kawan” adalah membunuh diri sendiri, maka ia akan menunjukkan karya fotografer terkenal dengan mengatakan bahwa ia mampu membuat foto yang sama bagusnya, dan diberi harga sedikit murah, klien akan menerima. Sedangkan Informan Andru terkadang ia harus agak sedikit tega kepada temannya jika ia merasa harga yang ditawar oleh temannya terlalu rendah maka ia akan tetap meminta harga yang menurutnya pantas. Jika antara Andru dengan klien tidak menemukan kesepakatan harga, Andru akan merekomendasikan fotografer lain kepada klien tersebut.

Informan Veri dan Amalia menjelaskan bahwa ia sebagai klien kenapa mengajukan negosiasi “harga kawan” karena ia mengajukannya kepada sahabat yang sudah ia kenal baik. Mereka sudah sejak lama saling bantu, apabila sahabatnya membutuhkannya ia hadir begitu juga sebaliknya. Oleh sebab itu, ia merasa boleh saja ia mengajukan penawaran “harga kawan” kepada sahabatnya yang fotografer tersebut, dan jika suatu saat sahabatnya yang akan menikah maka ia akan memberikan apa yang dibutuhkan sahabatnya yang mampu ia berikan. Melalui

penjelasan Bang Veri dan Amalia tersebut telah terpenuhi bahwa manusia tidak hanya melihat objek eksternal, namun melihat dirinya juga sebagai objek.

Kemampuan untuk menyesuaikan perilaku seseorang sebagai tanggapan terhadap situasi-situasi sosial tertentu ini oleh George Herbert Mead disebut pengambilan peranan (role-taking). Dari perspektif interaksi simbolik, pembentukan diri terjalin secara terpisah dengan kemampuan untuk mengambil peran orang lain. Menurut Karp dan Yoels, dalam Sobur (2009:204), setiap tindakan pengambilan peranan secara serentak melibatkan (1) dugaan orang sebelumnya terhadap tanggapan yang akan diberikan oleh orang lain kepada mereka, dan (2) pemikiran atau pandangan orang mengenai perilaku mereka sendiri dengan mengingat tafsiran mereka terhadap tanggapan orang lain.

Kelima informan menunjukkan bahwa mereka paham bahwa negosiasi “harga kawan” tersebut bisa terjadi, kebanyakan mereka menjadi fotografer saat ini juga melalui teman. Meskipun ada beberapa kelas fotografi dibuka di Medan, namun banyak diantara mereka belajar melalui orang-orang yang lebih dulu mengenal fotografi, atau mereka masuk, membentuk komunitas fotografi yang rutin mengadakan pertemuan dan pembelajaran sehingga terjalin ikatan bahwa mereka sama-sama belajar. Informan Lana menuturkan, bahwa fotografi di Kota Medan memiliki singgungan yang tidak akan jauh dari teman-teman sesama fotografer. Kadang kliennya adalah teman sendiri, temannya teman sesama fotografer, teman dari temannya sesama fotografer, atau malah kliennya adalah temannya sesama fotografer. Hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi. Kegiatan tersebut saling besusaian melalui tindakan bersama, membentuk struktur sosial.

Hasil dari sebuah komunikasi adalah efek, termasuk negosiasi juga menghasilkan efek. Penelitian ini setidaknya merangkum beberapa efek yang dihasilkan oleh negosiasi “harga kawan” diantaranya:

1. Promosi produk jasa fotografi secara cuma-cuma atau gratis, efek ini adalah efek paling mudah untuk terjadi berdasarkan pengkuan dari Informan Lana yang mengatakan “fotografi ini cong to cong alias mulut ke mulut”. Sekali saja fotografer berhasil mengambil hati klien, klien selanjutnya telah menanti.

2. Hubungan baik dengan klien, hal ini tentu diharapkan oleh kedua belah pihak. Bagi fotografer merupakan investasi klien untuk kedepannya, sedangkan bagi klien menjadi rujukan untuk menggunakan jasa selanjutnya.

3. Repeatorder, adalah orderan jasa fotografi dari klien yang sama. Hal ini tentu ditentukan dari kualitas hubungan antara fotografer dengan klien.

4. Investasi akhirat, balasan yang diharapkan oleh seorang hamba kepada Rabb- Nya nanti di akhirat. Hanya bisa didapatkan jika disertai dengan keikhlasan. Selama manusia masih menikah, maka jasa fotografi akan tetap dibutuhkan, ungkapan anonim tersebut penulis dapatkan dari mulut ke mulut dari fotografer yang ada di lapangan ketika mereka bekerja. Artinya, industri fotografi tidak akan mati selama manusia itu sendiri tidak habis. Selama itu pula negosiasi “harga kawan” akan tetap ada, karena “tindakan bersama” yang diulang-ulang, namun dalam kondisi yang stabil. Dan di saat lain ia bisa melahirkan suatu kebudayaan (Sobur, 2009: 200)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait