TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN
B. Karet Sintetis
2. Faktor Ekonomi a.Luas Lahan
Ketersediaan lahan garapan yang dimiliki petani yang jauh dibawa skala usaha ekonomi menjadi salah satu penyebab yang membuat rendahnya pendapatan petani di Indonesia. Baik didaerah perkotaan maupun daerah pedesaan, jumlah petani miskin yang tidak memiliki lahan jauh lebih banyak dibandingkan dengan petani miskin yang memiliki lahan. (Tambunan, 2003).
Luas lahan yang selalu digunakan dalam skala usaha pertanian tradisional karena komunitas yang ditanam oleh petani tradisional selalu seragam yakni padi, kacang-kacangan dan tanaman keras yang sejenisnya. Dengan demikian pedoman luas lahan juga secara otomatis mengaju pada nilai modal, aset dan tenaga kerja. Kebun kelapa sawit, Karet, Kopi misalnya juga bisa menggunakan acuan luas lahan untuk menentukan skala usahanya.(Rahardi, 2003).
b. Jumlah Tanggungan Keluarga
Ada hubungan yang nyata yang dapat dilihat melalui keengganan petani terhadap resiko dengan jumlah anggota keluarga. Keadaan demikian sangat beralasan, karena tuntutan kebutuhan uang tunai rumah tangga yang besar, sehingga petani harus berhati-hati alam bertindak khususnya berkaitan dengan cara-cara baru yang riskan terhadap risiko. Kegagalan petani dalam berusaha tani akan sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga. Jumlah anggota keluarga yang besar seharusnya memberikan dorongan yang kuat untuk berusaha tani secara intensif dengan menerapkan teknologi baru sehingga akan
c. Curahan Tenaga Kerja
Faktor utama masalah ketenagakerjaan adalah produktivitas. Semakin produktif pekerja akan semakin besar pendapatan yang diperoleh. Jika seluruh tenaga kerja dalam satu unit kegiatan sangat produktif, maka unit kegiatan tersebut akan menjadi produktif. Jika produktivitas itu disertai dengan efesien, maka unit kegiatan tersebut akan memperoleh laba usaha yang sangat besar. (Rahardi, 2003).
Setiap usaha pertanian yang akan dilaksanakan pasti memerlukan tenaga kerja, oleh karena itu dalam analisa ketenagakerjaan di bidang pertanian, penggunaan tenaga kerja dinyatakan oleh besarnya curahan tenaga kerja. Curahan tenaga kerja yang dipakai adalah besarnya tenaga kerja efektif yang dipakai seperti yang telah diketahui bahwa skala usaha akan mempengaruhi besar kecilnya berapa tenaga kerja yang dibutuhkan dan juga menentukan macam tenaga kerja yang bagaimana yang diperlukan (Soekartawi, 2005).
Penerimaan usaha tani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Pernyataan ini dapat dituliskan sebagai berikut :
TR = Py. Y Dimana :
TR = Total Penerimaan Harga = Harga
Y = Produksi yang diperoleh dalam usahatani
Pendapatan usaha tani adalah antara penerimaan dan semua biaya, jadi : Pd = TR – TC Dimana : Pd = Pendapatan Usahatani TR = Total Penerimaan TC = Total biaya (Soekartawi, 1995)
Return on Investmen (ROI) merupakan analisa untuk mengetahui tingkat keuntungan usaha sehubungan dengan modal yang telah digunakan. Besar kecilnya nilai ROI ditentukan oleh tingkat tingkat perpuataran modal dan keuntungan bersih yang dicapai. Dengan kriteria sebagai berikut yaitu bila ROI lebih besar atau sama dengan satu artinya usahatani tersebut layak diusahakan, jika ROI lebih kecil dari satu maka usahatani tersebut tidak layak diusahakan. Pernyataan ini dapat dituliskan sebagai berikut :
ROI =
Modal Keuntungan
Faktor produksi mempunyai peranan penting dalam melaksanakan usahatani Pemilikan lahan yang semakin luas memberikan potensi yang besar dalam mengembangkan usahatani. Modal juga mempunyai peranan penting, digunakan untuk membeli sarana produksi seperti, bibit, pupuk, obat-obatan dan lain-lain. Faktor produksi ini sangat menentukan besar kecilnya produksi yang diperoleh. Dalam berbagai pengalaman menunjukkan bahwa faktor produksi lahan, tenaga kerja, modal, untuk membeli saprodi adalah faktor yang penting di antara faktor produksi lain (Soekartawi, 2005).
2.4. Kerangka Pemikiran
Petani sebagai individu mempunyai karakteristik yang berbeda-beda satu sama lain baik secara sosial maupun ekonomi. Dimana kedua faktor tersebut berpengaruh besar terhadap kegiatan petaniannya serta keuntungan yang akan diperoleh dari usaha tani tersebut. Adapun faktor-faktor sosial petani dalam hal ini adalah umur, tingkat pendidikan, pengalaman bertani pada usahatani karet rakyat dan status kepemilikan lahan. Sedangkan faktor-aktor ekonomi adalah menyangkut luas lahan, jumlah tanggungan keluarga, dan curahan tenaga kerja.
Dalam usaha petanian produksi diperoleh melalui suatu proses yang panjang dan penuh resiko. Tidak hanya waktu, kecukupan faktor produksi juga ikut sebagai faktor penentu pencapaian produktivitas. Dalam segi waktu tanaman perkebunan membutuhkan periode yang lebih panjang dibanding dengan tanaman lainnya. Input produksi yang dibutuhkan antara lain adalah modal, lahan, tenaga kerja, bibit, pupuk, dan lain-lain.
Modal merupakan biaya yang harus dimiliki petani dalam menjalankan usahataninya. Digunakan untuk membeli sarana produksi seperti bibit, pupuk, biaya tenaga kerja, alat dan lain-lan.
Lahan merupakan media tanam yang harus di milki oleh petani untuk melakukan usahatani diukur dengan satuan (ha). Semakin luas lahan yang dimiliki semakin besar pula hasil yang didapat dengan memperhatikan faktor-faktor produksi seperti penggunaan bibit, jarak tanam, pemupukkan dan juga obat-obatan yang digunakan.
Tenaga kerja adalah orang yang bekerja dalam melakukan proses usaha tani, dari pembukaan lahan sampai kepada proses pemanenan. Bibit adalah
tanaman yang dipakai dalam usahatani yaitu bibit tanaman karet dan obat-obatan digunakan untuk memberantas dan menanggulangi hama penyakit tanaman karet dengan menggunakan anjuran dan dosis yang baik dan benar.
Produktivitas merupakan suatu perbandingan antara sejumlah output dengan beberapa input. Produktivitas merupakan suatu ukuran seberapa baik suatu sumber kekayaan yang dikombinasikan dan digunakan untuk mencapai suatu hasil. (hasil yang dicapai : sumber daya yang digunakan). Semakin baik produktivitas dilakukan semakin baik pula hasil yang dicapai dan sebaliknya. Pendapatan bersih usahatani perkebunan karet rakyat dapat dengan mengurangi semua nilai produksi dengan seluruh pengeluaran selama proses produksi berlangsung. Dimana nilai produksi dari karet basah yang dijual berdasarkan harga jual yang bersaing di pasar lelang yang nantinya pendapatan ini sebagian digunakan petani untuk melanjutkan usahataninya dan sebagian lagi untuk kegiatan usahataninya. Skema kerangka pemikiran dapat dirumuskan seperti pada gambar berikut :
Skema Kerangka Pemikiran Gambar 1 :
Usahatani Karet Rakyat
Desa Sialang Kec. Bangun Purba Desa Jaharun B Kec. Galang Pendi- dikan Pengalaman Bertani Luas Lahan Jumlah tanggungan Curahan Tenaga Kerja Umur Pendi- dikan Pengalaman Bertani Luas Lahan Jumlah tanggungan Produksi Penerimaan Pendapatan Bersih Produktivitas Harga Biaya Produksi
2.5. Hipotesis
1. Ada perbedaan produktivitas usahatani karet rakyat antar dua daerah penelitian.
2. Ada perbedaan biaya produksi usahatani karet rakyat antar dua daerah penelitian
3. Ada perbedaan pendapatan bersih usahatani karet rakyat antar dua daerah penelitian.
4. Ada perbedaan tingkat efisiensi usahatani karet rakyat antar dua daerah penelitian.
5. Ada perbedaan karakteristik sosial ekonomi petani karet (umur, tingkat pendidikan, pengalaman petani, luas lahan, curahan tenaga kerja jumlah tanggungan antar dua daerah penelitian.
BAB III